
*****
Setelah libur kuliah selama 2 hari, aku mulai kembali beraktivitas lagi seperti biasa.
Pukul 6.30 pagi.
Usai sarapan, aku pun pamit pada bunda dan Alfin untuk pergi kuliah.
Sesampainya di kampus, seperti biasanya aku pun mengikuti mata kuliah hingga waktu break,
Pada jam makan siang, aku dan juga teman-teman yang lain pergi ke kantin bersama.
Seperti biasa banyak sekali topik yang dibahas oleh teman-teman, mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka semasa SMA, ada juga yang menceritakan soal pasangan dan banyak lagi.
Sementara aku hanya menyimak dan merespon seadanya saja.
Saat aku sedang menikmati makanan yang tersaji di atas meja, secara tak sengaja aku melirik ke arah samping, ku lihat ada seseorang yang diam-diam memperhatikan ku, tak jauh dari meja makan tempat aku makan bersama teman-teman.
Dia sedang duduk sendirian di meja itu, aku jadi merasa tidak nyaman jika ada orang yang sedang memperhatikan, apa lagi saat sedang makan.
Aku dengan cepat segera menghabiskan makananku. Kemudian aku pamit ke toilet sebentar pada teman-teman karena merasa tak nyaman dengan tatapan dari laki-laki itu.
Tak lama setelah aku keluar dari toilet, tiba-tiba seseorang menyapaku dari arah belakang.
"Hai ... kamu mahasiswi baru ya disini?" sapa nya.
Akupun reflek memutar badanku untuk melihat siapa kiranya yang berbicara itu, ternyata orang itu yang tadi memperhatikan ku saat sedang makan di kantin.
Aku pun segera meresponnya. "Iya, maaf kamu siapa ya?" tanya ku.
"Kenalin, namaku Juna. Aku mahasiswa disini juga, kakak kelas kamu!" Jawabnya, sambil menyodorkan tangan mengajakku berkenalan.
"Oh iya, namaku Sherin," ucapku, sambil ku respon jabatan tangannya. "Kalau gitu, aku permisi dulu ya, maaf aku lagi buru-buru." tegasku.
"Tunggu dulu Sherin, aku mau kenal sama kamu, biar menambah teman." Juna menahan ku. "Boleh nggak aku minta nomor handphone atau apa saja yang bisa dihubungi?" pintanya.
"Emm ... Kak Juna silahkan minta aja sama teman-teman, aku gak hafal nomornya, handphone aku ketinggalan di tas." sahutku.
"Oh kalau gitu, nanti aku minta ya sama teman-teman kamu Sher? Ya buat berteman aja, kalau kamu nanti butuh bantuan kan enak banyak teman, kebetulan aku satu jurusan sama kamu," kata Juna.
"Iya. Oh gitu ya! Ya udah kalau gitu, maaf ya Kak Juna aku lagi buru-buru, nanti aja lanjut ngobrolnya ya?" pungkas ku.
"Oke deh, makasih ya!" ucapnya.
Aku hanya mengangguk, kemudian aku segera bergegas melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa dan kembali ke kantin menghampiri teman-teman.
"Sher, ke toilet kok lama banget sih?" tanya Rita.
"Hihi, masa sih aku lama?" sahutku, sambil menyeringai.
"Iya nih, ini kita udah selesai makan nungguin kamu dari tadi tau!" jawab Rita.
"Maaf ya kalau gitu, aku udah bikin kalian nunggu," ucapku.
"Ya udah, kita balik ke kelas yuk?" ajak Zaky.
Akhirnya, aku dan teman-teman ku sepakat untuk kembali ke kelas.
Sambil menunggu jam mata kuliah berikutnya, aku pun membuka ponsel ku. Ku lihat ada notifikasi pesan WhatsApp dari Zena.
[Hai Sher, lagi sibuk ya?]
Aku pun segera membalasnya. [Hai Zen, enggak kok, baru aja selesai makan,]
[Emm ... Aku ganggu nggak?] tanya Zena.
[Nggak Zen, aku lagi santai! Kamu lagi di kampus?]
[Syukur deh. Iya Sher, tapi aku lagi gabut nih!]
[mm ... emang nggak ngobrol-ngobrol gitu sama teman-teman kamu?]
[Nggak ah! Oh iya, kamu bawa mobil ya?]
[Kenapa? Iya Zen tadi aku bawa mobil sendiri ke kampus,]
[Nggak apa-apa, mending chat sama kamu, wk wk. Emm ...]
[Huh bisa aja kamu! :p emang kenapa Zen?]
[Ck ck nggak apa-apa tadinya aku mau jemput kamu, biar pulang bareng,]
[Yah ... besok-besok lagi aja ya Zen!]
__ADS_1
[Ya udah deh, nanti kamu kabarin aja oke?]
Saat sedang asyik chattingan bersama Zena, Dosen tiba-tiba datang, aku segera membalas pesan Zena dengan tergesa-gesa. [Oke! Zen udah dulu ya, aku masuk kelas! Bye.]
[Oke deh, semangat ya belajarnya? Bye Sherin!]
Aku simpan kembali ponselku ke dalam tas. Kemudian seperti biasanya aku pun mengikuti mata kuliah hingga jam pulang kuliah sore hari.
Pukul 15.30 sore.
Sepulangnya kuliah, aku langsung saja masuk ke kamar dan segera membersihkan diri, kemudian bermain dengan Alfin di ruang family hingga menjelang Maghrib.
Usai menunaikan ibadah sholat Maghrib aku langsung mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Selesai dengan tugas-tugas ku, aku akhirnya dapat merebahkan diri di atas tempat tidur ku sambil meregangkan otot-otot tangan dan punggung ku yang terasa kaku. Tapi tiba-tiba ku dengar ada suara notifikasi pesan WhatsApp dari ponsel ku, saat ku lihat ternyata ada beberapa pesan chat dari seseorang yang tidak terdaftar dalam kontak.
[Hai ...]
[Hai Sherin, ini aku Juna.]
[Save ya nomor aku!]
Aku hanya membaca nya sekilas saja pesan dari Juna dan menyimpan nomor teleponnya dalam kontak ponselku, aku tak sempat membalas pesan Juna karena mataku sudah terasa lelah dan berat, setelah memejamkan mata kemudian aku pun tertidur.
*****
Pukul 05.30 pagi.
Kriing kriing ponselku berdering.
Setelah ku lihat, ternyata itu panggilan dari Zaky.
Aku pun segera menerima telepon darinya. [Halo ...]
[Pagi Sher, kamu ngampus nggak hari ini?] tanya Zaki.
[Pagi juga Zaky,] jawabku. [Iya Zak, nanti aku ngampus kok, ada apa Zak?] Aku pun bertanya kembali tujuan Zaky menghubungi ku.
[Sorry ya Sher aku ganggu kamu pagi-pagi buta gini, kamu bisa pagian nggak ke kampus? Ini Sher … aku lupa ngerjain tugas, jadi aku mau pinjam buku materi, soalnya waktu itu buku catatan ku hilang! Mau pinjam ke yang lain katanya catatan nya gak lengkap!] Zaky pun menjelaskan tujuannya itu.
[Oh gitu, boleh Zak! Tapi aku berangkat 20 menit lagi ya? Soalnya aku belum siap-siap.] sahut ku.
[Iya nggak apa-apa kok Sher, makasih ya Sher? Sorry aku ngerepotin kamu?] ucap Zaky.
[Iya Zak nggak apa-apa kok, aku nggak repot! Ya udah, kalau gitu aku siap-siap dulu ya Zak?] Aku pamit pada Zaky untuk segera bersiap pergi ke kampus.
Setelah panggilan diakhiri, aku pun segera bergegas mempersiapkan diri, kemudian sarapan terlebih dahulu seperti biasanya dan berpamitan pada bunda.
"Bunda aku pamit ya?" ucapku.
"Loh … ini kan masih pagi Sayang, kok pagi-pagi banget berangkatnya?" Tanya bunda, sambil mengernyitkan dahinya dan menatap heran padaku.
"Iya Bunda, Itu teman aku katanya mau pinjam buku, lupa ngerjain tugas!" sahutku.
"Emm ... gitu, ya udah tapi kamu hati-hati ya dijalan? Jangan ngebut!" pesan bunda padaku.
"Oke Bunda."
Ku lihat Alfin masih tertidur pulas, jadi aku langsung saja bergegas pergi setelah pamit pada bunda.
Sesampainya di kampus, ternyata Zaky sudah lebih dulu tiba dan menunggu ku di depan perpustakaan.
Suasana kampus masih terasa sunyi dan sepi, hanya ada beberapa satpam dan penjaga kantin saja.
Aku pun langsung saja menghampiri Zaky yang sedang menunggu ku sendirian.
"Hai, Zak?" sapaku.
"Eh … hai Sher, akhirnya datang juga!" sahut Zaky, sambil tersenyum hangat padaku.
"Kamu nunggu lama ya? Sorry ya?"
"Nggak sih, belum lama kok! Cuma aku sendirian aja gitu, sepi banget disini hihi." sahutnya, sambil terkekeh.
"Ah dasar, penakut banget! Oh iya Zak, nih buku yang mau kamu pinjam," Aku pun menyodorkan buku catatan ku pada Zaky.
Zaky pun segera mengambil nya dari tangan ku. "Thanks banget ya Sher? Sorry banget ya aku jadi nyusahin kamu! Kamu jadi pagi-pagi gini dateng nya!" ucap Zaky.
"Nggak apa-apa kok Zak, santai aja lagi! Ya udah, kerjain dulu gih tugas nya ntar keburu pada datang lagi teman-teman yang lain!" tutur ku, sambil ku lempar senyum hangat padanya.
"Oke deh, kerjain disana aja yuk?" ajak Zaky, sambil menunjuk ke arah Masjid umum Fakultas.
"Oke deh, yuk!" Aku pun menyetujui ajakannya, karena di halaman Masjid itu sepertinya cukup nyaman dan lebih leluasa.
__ADS_1
Aku dan Zaky pun lalu berpindah tempat ke halaman Masjid. Zaky segera mengerjakan tugasnya di teras halaman, sambil berbagi gagasan dengan ku.
Setelah selesai, teman-teman sudah ada yang datang sebagian, kulihat jam ternyata sudah jam 06.55.
"Sher?" panggil Zaky yang memecah keheningan.
"Iya Zak, kenapa? tanya ku.
"Nggak sih aku cuma kepo aja, kamu kok sendirian terus gak pernah di anterin pacar nya?" cetus Zaky.
"Emm ... pacar? Gak ada Zak!" jawabku.
"Hmm ... jadi kamu jomblo dong? Hihi,"
"Ya, bisa dibilang begitu, hihi. Nggak ada pacar-pacaran di kamus aku mah Zak!"
"Oh ... gitu, pantesan! Padahal kamu itu udah cantik, pinter, baik lagi, pokoknya perfect deh, gak nyesel aku punya teman kayak kamu Sher,"
"Ah bisa aja kamu Zak, udah ah nggak usah muji-muji kayak gitu, nanti hidungku bisa hilang lama-lama hihi!" Aku pun terkekeh mendengar gombalan Zaky.
"Iya kan emang fakta kok Sher! Kalau bisa, aku mau banget kok jadi cowok kamu Sher?" cetus Zaky.
Aku reflek mengernyitkan dahi. "Ah kamu udah ngawur aja deh Zak! Ini kan masih pagi Zak!"
Zaky pun terkekeh. "Hihi canda Sher, abis nya nih kampus kok sepi amat ya pagi-pagi? Orang masih pada tidur kali ya?"
"Hmm … kamu bercandanya gak lucu deh … ya biarin Zak, pada kecapean kali! Hihi," aku pun akhirnya ikut terkekeh mendengar candaan Zaky.
Tak lama, Rita dan yang lainnya datang menyapa. Aku, Zaky dan teman-teman yang lain pun akhirnya memasuki kelas.
Sampai pada waktu break, seperti biasa aku dan teman-teman pergi ke kantin, tapi tiba-tiba aku mendapat pesan dari Juna.
[Hai Sher?]
Awalnya aku hiraukan saja pesan darinya, tapi Juna terus saja mengirimku pesan.
[Sher, bales dong! Aku kan cuma mau belajar bareng sama kamu!]
Aku pun akhirnya membalas pesan Juna. [Iya, mau belajar apa Kak Juna?] tanyaku.
[Ya ... belajar soal materi kuliah aja, mau nggak nanti habis selesai kelas kita mampir dulu ke perpus?] Juna mengajakku pergi ke perpustakaan setelah selesai jam mata kuliah terakhir.
Jika urusan belajar, aku sama sekali tak merasa keberatan dengan ajakan Juna dan akhirnya aku pun menyetujui ajakannya. [Oh, ya udah deh Kak!]
[Eh, serius nih?] tanya Juna, tampak ragu dengan jawaban ku.
[Iya kak, kalau soal belajar aku mau!] balas ku.
[Bener ya? Aku tunggu loh nanti di perpus oke?]
[Oke!]
Setelah selesai kelas, aku pun pergi ke perpustakaan bersama Kak Juna.
Aku pun akhirnya mengobrol banyak dan mulai mengenal sifat dan karakternya.
Aku sedikit menyukainya, karena Juna orang yang suka belajar.
Setelah belajar bersama, aku merasa senang berteman dengan Juna, karena pertemanan kita lebih fokus pada hal yang bermanfaat, saling berbagi wawasan dan pengetahuan daripada membahas masalah pribadi.
Juna pun bukan tipe laki-laki yang selalu ingin tahu tentang bagaimana kehidupan pribadi orang lain.
Dia memberiku pengetahuan baru tentang materi-materi mata kuliah jurusan ku yang pernah dia pelajari sebelumnya.
Juna juga memiliki paras yang tampan dan tajir, walaupun tidak setampan dan setajir Zena.
Jika dibandingkan, Zena memang hampir sempurna jika soal fisik dan materi, sepertinya di kampus ku tidak ada yang mengalahkan Zena soal fisik dan materi.
Selain bersama Juna, setiap hari seringkali aku pun banyak belajar bersama dengan Zaky.
Zaky orang yang pintar, baik dan tak kalah tampan, walaupun Zaky memang standar saja jika dalam persoalan materi. Tapi jika persoalan fisik, Zaky pun tidak kalah dengan Juna.
Sesekali aku pun bertemu Zena dan jalan bersama atau Zena datang ke rumahku untuk bermain dengan Alfin di saat libur kuliah.
Zena benar-benar sudah seperti keluarga ku sendiri, dia selalu baik, perhatian, peduli dan selalu melindungi ku. Tak jarang Zena memberikan apa yang aku butuhkan tanpa aku memintanya sedikitpun.
Selain bunda, ada Zena yang selalu memenuhi kebutuhan finansial ku, walaupun seperti yang ku katakan, aku tidak sedikitpun pernah memintanya, tapi Zena selalu memaksaku untuk menerima pemberiannya.
Sebenarnya aku tidak ingin banyak mengandalkan bunda, apalagi Zena.
Tapi memang saat ini aku masih dalam proses merintis dari nol.
Aku pun bermimpi, suatu hari nanti aku ingin seperti bunda dan Zena, menjadi pengusaha yang sukses di masa depan.
__ADS_1
*****
Tak terasa hari demi hari ku jalani, waktu begitu cepat berlalu. Aku menjalani semua nya dengan baik, tidak ada masalah apapun yang terjadi padaku pada saat ini.