
*****
Hari ini, seperti biasanya aku sudah mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Tak lupa aku meminta Mang Nanang dan Mang Barus untuk menjaga bunda, setelah aku ceritakan kejadian semalam pada mereka, tampaknya mereka lebih antusias untuk mengawasi bunda.
Sesampainya di sekolah, aku mengikuti rapat siswa dan mendapat beberapa informasi tentang Ujian Nasional yang akan dilaksanakan 2 hari lagi.
Usai mengikuti kegiatan, aku duduk sendirian di tangga menuju kelasku, aku mengecek semua CCTV tapi tidak ada aktivitas yang mencurigakan, termasuk di rumah Gang Cinta atau 'rumah kelam' versi ku.
Disana pun malah terlihat sangat sepi, tidak ada yang mengunjungi. Tapi aku lihat ada mobil yang masuk ke area rumah Tante Isma, dan ternyata itu suami nya, baru saja pulang dari luar kota.
Dan aku cek lagi di area rumah, sepertinya aman terkendali. Lalu aku cek GPS ayah, seperti nya ayah sedang dalam perjalanan pulang.
'Aneh sekali, kenapa tiba-tiba semuanya terlihat aman, tidak ada hal yang mencurigakan saat ayah pulang ke rumah. Tadinya hari ini aku ingin membongkar semua keanehan yang terjadi, tapi malah nggak ada lagi petunjuk sama sekali. Eh iya, sebaik nya aku telepon Mang Barus dan Mang Nanang deh, biar balik ke toko, soalnya takut ayah salah paham.' batin ku.
Kemudian aku segera menghubungi Mang Barus, memberitahunya agar mereka segera kembali bekerja.
Benar saja seperti dugaan ku, tak lama setelah mereka pergi, ku lihat ayah sudah sampai rumah dan menemui bunda, mereka terlihat sedang mengobrol dan saling melepas rindu. Aku segera menutup rekaman CCTV yang ada di ruang family, aku hanya memantau di area luar rumah dan tempat Tante Isma.
Ketika aku sedang asyik memantau keadaan, tiba-tiba saja salah satu teman ku datang menghampiri, lalu kami pun mengobrol.
"Hai, kamu lagi ngapain? Sendirian aja?" Sapa Zena.
"Eh, iya nih, aku lagi pengen duduk aja disini," sahutku, hanya merespon seadanya.
"Emm ... boleh aku temenin nggak?"
"Boleh kok, silahkan duduk aja,"
"Dari tadi aku perhatikan dari sana," sambil menunjuk ke arah aula. "Kamu asyik lihatin handphone terus,"
"Emm ... nggak kok, cuma gabut aja,"
"Masa, itu ... sampe gak nengok, pasti kamu nggak sadar ya ada yang lihatin dari tadi?"
"Hihi iya, aku tadi fokus gabut, jadi nggak sadar, maaf ya …"
"Gabut kok di fokusin, ada-ada aja. Emm ... kamu masih mau disini?"
"Hihi... nggak kok, aku baru aja kepikiran mau pulang,"
"Apa mau aku antar, pulang nya?"
"Nggak usah, makasih, aku naik ojek aja,"
"Emm ... gitu, oh iya, kamu lagi buru-buru nggak?"
"Nggak juga sih, aku santai banget hari ini!"
"Ya udah, jalan aja yuk, mau nggak?"
"Jalan kemana?"
"Ya ... kemana aja, terserah kamu, aku mah ngikut aja,"
"Ih aneh, orang kamu yang ajak,"
"Jadi gimana nih, mau nggak?"
"Ya udah deh, terserah,"
"Hmm, Ok deh, yuk?"
Tiba-tiba tangan ku ditarik oleh Zena, aku pun akhirnya berdiri, kemudian aku masuk ke mobil Zen dan Zen segera melajukan mobilnya.
"Hei, Sherin? Jangan bengong aja dong," cetus Zen.
"Nggak, siapa yang bengong, dari tadi aku fokus ke depan,"
"Bisa aja kamu, kita mau kemana?"
"Ya nggak tau, kemana aja deh,"
"Emm ... kamu suka belanja nggak?"
"Suka lah, tiap hari juga aku belanja!"
"Belanja apa?"
"Sayuran sama buah,"
"Hehehe," Zen terkekeh. Entah apa yang dia tertawakan, menurut ku tidak ada yang lucu.
"Kenapa kamu malah ketawa?"
"Nggak apa-apa, ternyata kamu lucu juga ya!"
"Apanya yang lucu?"
"Emm ... nggak kok, ternyata kamu juga galak, hihihi,"
"Hmm." aku mulai kesal pada Zen.
"Iya ... maaf, maaf, jangan kesal napa?"
"Nggak, siapa juga yang kesal?"
"Aku. Ya udah deh, kamu mau nggak temenin aku belanja?"
"Kamu kesel sama aku?" sambil ku tengok ke arah Zen. "Terserah deh!"
"Canda Sher, yaudah deh, maaf …"
Lalu Zen mengajakku belanja ke City mall, aku pun hanya mengikuti nya, dia juga menyuruhku belanja keperluan ku.
"Sherin, kamu belanja gih, mau apa pun terserah kamu, pokoknya ambil aja,"
"Nggak deh makasih, aku temenin kamu aja ya …"
__ADS_1
"Emm ... kalau gitu kamu bantu aku ya, mau nggak?"
"Bantu apa?"
"Aku mau beliin barang-barang, tas, baju, sepatu, dan yang lainnya buat seseorang, tapi kamu yang pilih atau nanti kamu cobain ya?"
"Loh kok jadi aku?"
"Iya kan kamu cewek, pasti seleranya sama kan?"
"Nggak semua selera cewek itu sama Zen,"
"Iya deh iya, jadi kamu mau nggak?"
"Hmm ... ya udah deh terserah kamu aja,"
Akhirnya aku turuti saja keinginan Zena.
Dia meminta ku mencoba berbagai model pakaian, tas, sepatu dan lainnya, aku pun menuruti keinginan nya.
Zen juga membelikan satu buah laptop untuk seseorang, mungkin itu kekasih nya.
"Sherin, kira-kira udah cukup belum ya? Atau tambah lagi, menurut kamu gimana?"
"Zen, emang ini buat siapa sih? Sorry aku kepo, soalnya kok kamu royal banget sih sama dia?"
"Ya nggak apa-apa, memangnya nggak boleh kalau aku royal?"
"Ya boleh-boleh aja sih terserah, itu kan hak kamu,"
"Emm ... ya udah, jadi gimana menurut kamu?"
"Kalau kata aku mah ya terserah kamu, tapi hidup nggak cuma butuh sekali Zen, maksud aku … lain kali lagi juga bisa belanja nya, ini juga sudah banyak kata aku mah,"
"Kamu, emang deh yang ter ..."
"Ter, apa Zen?"
"Terbaik, hihi, oke deh, jadi kita mau kemana lagi nih? Kamu udah makan belum?"
"Aku ikut kamu aja deh, kalau makan ... belum sih!"
"Ya udah kita makan dulu aja yuk? Aku juga lapar, nanti habis makan kamu temenin aku main game mau nggak?"
"Ya udah, main game apa?"
"Ya udah yuk kita cari makan dulu, game apa saja kita lihat ntar,"
"Oke deh."
Lalu Zen mengajakku makan di sebuah cafe.
"Kamu mau pesan apa sa' … eh, Sherin?" Zena seperti salah ucap.
"Samain aja deh sama kamu," aku tak banyak merespon Zen yang tingkahnya aneh itu.
"Eh, entar nggak suka loh?"
"Beneran ya?"
"Iya,"
"Ya udah deh."
Setelah pesanan datang, aku dan Zen pun segera melahap makanan yang baru saja disodorkan oleh pelayan itu, tanpa basa-basi lagi.
"Sherin, aku boleh tanya nggak?"
"Tanya apa?"
"Eh, itu di bibir kamu ..."
Tiba-tiba, Zen mengusap bibir ku dengan tangannya yang halus.
"Umm ... maaf ... itu, anu ... a' aku lupa ambil tisu, sini aku bersihin lagi?" Lanjut Zen. Tampak gugup dan gerakan nya seperti canggung.
"Emm ... nggak apa-apa, biar aku aja," sahut ku. Kemudian aku segera mengambil selembar tisu.
"Emm ... maaf ya?"
"Iya, nggak apa-apa, tadi katanya mau tanya, tanya apa?" Aku langsung saja alihkan topik bicara, agar suasana tidak menjadi canggung lagi.
"Eh iya, sorry ... jadi kepotong ya! Nggak apa-apa sih, aku cuma mau tanya ini' emm ... nanti habis lulus dari SMA, rencana mau kuliah dimana?" tuturnya. Masih tampak gugup.
"Oh ... belum tau sih, tapi kalau bisa aku pengen nya ngambil Ekonomi, tapi gimana bunda ku aja,"
"Emm ... gitu ya!"
"Iya, kamu sendiri, mau lanjut kemana?"
"Aku belum tau sih, tapi aku pasti ikut kemanapun seseorang yang ingin aku miliki," jawab nya dengan suara pelan.
"Pacar kamu maksudnya?"
"Emm ... ya gitu deh! Eh, kamu suka game apa?" Zen sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku mah game apa aja sih, yang penting gampang aja,"
"Oh ... ya udah, ntar kita cari, emm ... kamu suka boneka nggak?"
"Emm ... Suka-suka aja sih, emang nya kenapa? Kok jadi ngomongin boneka?"
"Nggak apa-apa atau kita naik Roller coaster, kamu pernah nggak?"
"Nggak pernah sih!"
"Mau nggak kita naik itu?"
"Emm ... aku mah terserah kamu aja deh,"
__ADS_1
"Terserah mulu kamu mah, kalau gitu kita nikah aja yuk, mau?"
"Hah, nikah apaan?"
"Haha becanda, abis kamu serius mulu sih,"
"Hmmm."
Zen mengajakku menguji adrenaline dengan menaiki kereta luncur, pertama kali nya aku memberanikan diri mencoba game extreme bersama Zena. Setelah itu zen juga mengajak ku main claw machine dan Zen sangat jago memainkan game itu, Zen mendapatkan banyak boneka, dari yang kecil hingga yang besar.
Setelah lelah seharian belanja dan main, aku dan Zen memutuskan untuk pulang, kami pun segera membawa semua barang-barang belanjaan yang segunung itu ke dalam mobil.
"Kamu mau langsung pulang Sher?"
"Iya Zen, soalnya udah sore, aku kan harus masak buat bunda,"
"Kok kamu yang masak? Emang nya bunda kamu kenapa?"
"Iya, bunda aku lagi hamil muda, jadi kata Dokter jangan capek-capek dulu,"
"Wah ... jadi sebentar lagi kamu punya adik dong?"
"Iya, doain ya semoga lancar sampai adikku lahir,"
"Iya, pasti aku doain yang terbaik,"
"Makasih iya,"
"Iya, sama-sama, Oh iya, pulang nya aku antar ya sampai rumah?"
"Nggak usah Zen makasih, aku pulang sendiri aja, kamu juga pasti capek kan?"
"Nggak kok tenang aja, aku nggak enak kalau nggak nganterin kamu pulang, aku kan udah ngajakin kamu jalan seharian, masa nggak aku anterin pulang,"
"Nggak apa-apa kok Zen, aku pulang sendiri aja!"
"Nggak boleh! Pokoknya aku antar kamu sampai rumah."
"Emm ... yaudah deh kalau gitu, terserah kamu aja!"
"Nah gitu dong."
Kami pun segera berangkat, di perjalanan Zena terus mengajakku ngobrol.
"Sherin, makasih ya kamu udah mau nemenin aku hari ini?"
"Iya Zen, sama-sama,"
"Kamu pasti capek ya seharian aku ajak jalan?"
"Nggak kok biasa aja, aku juga udah terbiasa kalau capek mah,"
"Emm ... oh iya, nanti belanjaan tadi kamu bawa ke rumah ya?"
"Hah, maksud kamu?"
"Iya, semua belanjaan tadi kamu bawa ke rumah kamu, itu semua buat kamu!"
"Maksud kamu apa Zen? Aku masih gak ngerti,"
"Pokoknya, nanti semua barang-barang ini kamu bawa pulang, itu buat kamu!"
"Bukan nya kamu bilang, itu buat seseorang?"
"Iya seseorang itu ... ya kamu Sher,"
"Maaf ya Zen, aku nggak bisa terima semua pemberianmu, soalnya aku ...."
"Loh kenapa?" Zen segera menimpali ucapan ku.
"Ya gimana ya, please Zen, aku nggak suka kamu kayak gini, semua ini kan buat pacar kamu, aku cuma bantu saran doang,"
"Sherin, please terima ya? Aku cuma mau traktir kamu aja kok, maaf aku bohong, itu memang sengaja buat kamu, habisnya kamu, aku tawarin ini nggak mau, itu nggak mau, jadi aku terpaksa bohong, maafin aku ya? Please jangan marah Oke? Anggap saja itu hadiah perpisahan sekolah ya? Kapan lagi coba aku bisa traktir kamu!"
"Tapi Zen ... kenapa cuma aku yang mau kamu traktir?"
"Emm ... itu, ya ... aku lihat kamu beda aja dari yang lain, jadi gimana? Please mau ya terima pemberian aku?" Zen memberiku alasan yang tidak jelas dan sedikit tak masuk akal.
"Zen, kamu jujur deh sama aku, kamu nggak ada maksud apa-apa kan?"
"Aku cuma mau temenan aja sama kamu Sherin, nggak ada maksud apa-apa kok, sungguh, terima ya? please?" Zen memohon agar aku menerima semua pemberian nya.
"Tapi Zen, maaf, bukan nya aku nggak mau terima, cuma ... barang sebanyak ini aku nggak bisa terima Zen, ini terlalu kebanyakan, nanti apa kata bunda ku kalau aku pulang bawa belanjaan sebanyak ini?"
"Biar nanti aku bantu jelasin sama bunda kamu ya?"
"Tapi Zen ... "
"Please? Ya? Kalau kamu nggak terima, aku juga nggak mungkin bawa barang-barang ini juga kan ke rumah ku?" timpal nya. Kembali memotong ucapanku.
"Hmm ... ya udah deh, terserah kamu aja!"
"Yes, nah gitu dong, makasih ya udah mau terima kenang-kenangan dari aku?" Zena sepertinya senang, sampai kegirangan.
"Emm ... aku yang harus nya bilang makasih sama kamu!"
"Iya, pokoknya sama-sama ya!"
Akhirnya aku mengalah dan menerima semua pemberian Zena.
Zena itu teman sekolah ku, hanya saja berbeda kelas, Zena ini seperti bintang sekolah, sudah seperti artis korea yang selalu di idolakan banyak wanita, Zena anak nya baik, sangat ganteng, pintar, juga pasti nya tajir, aku dengar Zen juga sudah memiliki bisnis nya sendiri sedari masih SMP.
Zena selalu menjadi bahan saingan para cewek di sekolah, mereka seakan berlomba untuk mendapatkan hati Zen atau bahkan hanya sekedar cari perhatian saja, tapi Zen nampak nya sering mengabaikan mereka, sifat Zen yang kalem, acuh dan jarang bicara selalu menjadi obrolan ter hot di sekolah, Zen terkenal juga karena prestasi nya yang memukau, dia selalu menjadi juara nya sekolah, walaupun kalau soal prestasi masih di bawahku.
Dari semenjak aku menduduki kelas 11, Zena memang sepertinya sering memperhatikan aku dari jauh, saat aku sedang sendiri ataupun dengan teman-teman ku yang lain.
Tapi aku selalu mengabaikan dia, aku tidak peduli dengan apapun tentang dia, apalagi saat ini pikiran ku hanya fokus pada masalah bunda.
Aku mengakui bahwa, fakta nya Zen ini ganteng, baik hati, perhatian, pintar, tajir dan spesial. Ya, itu memang benar.
__ADS_1
Wanita mana yang tidak tertarik pada Zen, tapi entah kenapa, aku merasa perasaan ku biasa saja saat ini.
Aku sama sekali tak tertarik untuk ikut berlomba mendapatkan hati Zena, aku menerima semua teman-teman ku sebatas teman biasa saja, termasuk Zena.