Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Ayah ketahuan


__ADS_3

*****


Akhirnya tekanan pikiran ku sedikit berkurang setelah selesai Ujian Sekolah.


Kini aku bisa fokus menyelidiki kejahatan Tante Isma, aku juga bisa tenang jika ayah ada di rumah, karena ada yang menjaga bunda di rumah.


Aku selalu memantau kamera CCTV, kulihat 2 minggu ini suami Tante Isma masih ada di rumah, namun hari ini seperti nya suami Tante Isma akan berangkat kerja lagi ke luar kota, terlihat dari CCTV, Tante Isma seperti berpamitan dan mengantar suami nya hingga ke depan gerbang rumah nya.


Saat bersamaan, keesokan hari nya ayah pun pamit pergi. Aku benar-benar heran, kenapa secara kebetulan bisa terjadi hal yang sama. Saat suami Tante Isma pergi, suami Ibuku juga pergi.


'Kok bisa kebetulan ya? Ah sudah lah mungkin memang kebetulan aja, bodo amat deh.' pikir ku. Tak ingin membuat kepala ku sendiri menjadi pusing karena memikirkan hal-hal aneh.


Setelah ayah pergi, Tante Isma juga sepertinya lebih sering keluar, terkadang 2 hari tidak pulang, 1 hari pulang.


Juga masih terjadi hal yang sama, ayah datang dan pergi ke rumah kelam itu, namun sejauh ini aku tidak melihat ayah membawa siapapun ke rumah itu. Tante Isma juga tidak membuat ulah lagi terhadap bunda.


Hari ini aku berencana untuk memata-matai ayah, lalu seperti biasa aku titipkan bunda pada pegawai toko, yaitu Mang Barus dan Mang Nanang, aku percaya pada mereka karena mereka sudah mengikuti bunda sejak bunda masih merintis usaha.


Mang Nanang dan Mang Barus merupakan pegawai bunda yang paling setia dan tidak pernah membuat kesalahan yang fatal ataupun merugikan bunda selama ini.


Setelah keamanan bunda sudah kupastikan aman, aku pun pergi mengikuti ayah sesuai arahan GPS yang aktif di ponsel milik ayahku.


Ku lihat ayah pergi ke rumah kelam itu, lalu aku segera menyusulnya kesana, tapi aku berhenti terlebih dulu di masjid tak jauh dari pintu masuk Gang itu, untuk berganti pakaian agar penyamaran ku lebih sempurna.


Lalu aku duduk di trotoar pinggir masjid menunggu angkutan umum, sambil aku mengecek CCTV di layar ponselku.


Namun ternyata aku disuguhkan dengan pemandangan yang mengejutkan.


Kulihat ayah datang bersama seorang wanita ke dalam rumah itu dan wanita itu tak lain adalah Tante Isma.


Mereka terlihat bermesraan di ruang tamu sembari mengobrol dan memakan beberapa cemilan, lalu masuk ke dalam kamar dan mereka mulai saling melepaskan satu persatu pakaian mereka lalu melakukan hubungan suami istri di sana.


Aku reflek menutup mulutku sendiri dengan telapak tanganku.


Hubungan mereka terlihat jelas terekam oleh kamera CCTV yang dipasang  di celah roster pintu kamar.


Dengan cepat segera ku matikan layar handphoneku.


Sungguh bagaikan tersambar petir di siang hari, aku benar-benar terkejut dan juga kecewa, rasanya aku ingin marah membabi buta. 


Ternyata selama ini ayah dan Tante Isma saling menjalin hubungan gelap, aku sekarang mengerti kenapa ayah pergi bersamaan dengan suami Tante Isma dan di saat itu juga Tante Isma pergi dari rumah nya, namun entah selalu pergi kemana selama itu, karena kejadian memalukan ini baru 1 kali terekspos  dan apa mungkin alasan Tante Isma mencelakai bunda juga berkaitan dengan masalah ini, hal ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.


Aku benar-benar merasa sedih, aku pun akhirnya tak tahan dan menangis saat itu juga, terbayang bagaimana jika bunda mengetahui perbuatan ayah, bagaimana rasa sakit bunda saat mengetahui kenyataan ini.


Kepedulian dan rasa sayang ku terhadap bunda sudah membawaku ikut campur tangan sejauh ini.


Ada perasaan bersalah di hati ku, tapi karena itu pula sebuah kejahatan perlahan-lahan akan terkuak.

__ADS_1


Aku terpuruk dan kaki ku terasa lemas seperti kehilangan tenaga secara tiba-tiba, aku pun hanya bisa termenung sendiri mengingat apa yang beberapa saat lalu aku lihat dari layar ponsel ku.


Namun di tengah-tengah pikiran ku yang sedang kacau, seseorang menghampiriku dari arah belakang lalu menepuk pundak ku, aku pun segera menoleh dan ku lihat itu ternyata Zena.


"Sherin, loh kenapa kamu sendirian disini dan kamu nangis?" tanya Zen, menatap aneh padaku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, rasanya sulit membuka mulut ku sendiri untuk berbicara, dada ku pun terasa sangat sesak.


"Sherin kamu kenapa? Ikut aku yuk?" Zena tiba-tiba mengajakku pergi entah kemana.


Lalu Zen menarik ku, namun karena kaki ku terasa sangat lemas aku pun terjatuh, kemudian Zen menggendongku dan membawaku ke dalam mobil nya.


Tiba-tiba saja, entah kenapa kepala ku terasa berat dan akhirnya aku tak bisa mengingat apapun lagi.


******


Aku mulai bisa membuka mataku kembali, namun ku lihat sekeliling ternyata aku sudah berada di dalam sebuah ruangan yang tampak asing bagiku.


"Sherin … kamu akhirnya sadar juga?" Tiba-tiba Zen datang menghampiri ku dengan raut wajah khawatir. 


"Zena? Aku ada dimana ini?" Langsung saja kutanyakan pada Zen dimana aku berada saat ini, aku pun mulai merasa takut.


"Tenang Sherin, ini kamu di rumah ku tadi kamu pingsan di jalan, kamu sebenarnya kenapa?" tuturnya.


Aku pun teringat kejadian terakhir kali, Zen menarikku dan membawa ku masuk ke dalam mobil nya. 


Aku pun terperanjat, saat ingat bahwa penampilanku  sedang dalam mode penyamaran dan aku tidak dalam keadaan memakai masker, aku tak memakai kacamata dan hoodie ku juga terlepas dari kepala ku.


"Tenang dulu Sher, ini ada kok nggak kemana-mana?" Sahut Zen, berusaha menenangkan aku. 


Tangannya menunjuk kursi sebelah yang ternyata memang tasku berada disana.


"Aku mau ganti baju dulu Zen, apa boleh aku numpang ke toilet?" Tanyaku pada Zen.


"Minum dulu air nya Sherin, biar kamu nggak dehidrasi lagi, ayo nih …" Zen menyodorkan segelas air. "Nggak aku racuni kok, kalau kamu mau ganti pakaian, kamu ganti aja di kamar ku, biar aku antar sampai ke depan pintu ya?"


Akupun segera menerima segelas air dari tangan Zen kemudian meneguknya hingga tersisa setengah lagi, pasalnya tenggorokan ku memang terasa sangat kering, aku sangat haus.


"Makasih ya, ya udah yuk!"


Aku pun segera bergegas ke kamar Zen dan buru-buru mengganti pakaian ku seperti semula, aku sekilas melihat kamar Zena begitu luas dan mewah, saat sudah selesai dan aku akan keluar dari kamar, tak sengaja ku lihat ada foto-foto yang terpajang di dinding kamar Zen, terlihat seperti mirip dengan ku, saat akan ku lihat dari dekat, Zena tiba-tiba saja mengetuk pintu, akhir nya aku tak sempat melihat foto itu dan segera kembali ke ruang tamu bersama Zen.


"Udah ganti baju nya?" Tanya Zen, sekedar basa-basi, padahal dia melihatnya sendiri kalau aku sudah memakai pakaian yang berbeda.


"Seperti yang kamu lihat, makasih Zen," sahutku. Berusaha tersenyum pada Zen.


Zen menganggukan kepalanya. "Sher, boleh aku tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Boleh, tanya apa?"


"Kenapa kamu pakai baju kayak laki-laki? Dan tadi kenapa kamu nangis sendirian di trotoar pinggir masjid dekat sekolah?"


"Itu ... anu, maaf Zen, aku nggak bisa bilang sama kamu, aku nggak mau bohong,"


"Hmm ... yaudah nggak apa-apa kok, tapi Sher kalau kamu ada masalah kamu bisa bilang sama aku, siapa tau aku bisa bantu dan aku juga janji sama kamu, aku nggak bakalan mungkin mengatakan masalah kamu sama orang lain, masalah kamu masalah aku juga, mmm ... maksudnya kita kan temen gitu, kamu percaya kan sama aku?" ujar Zen. Terlihat gugup.


"Emm iya Zen, maaf ya Zen aku bukan nya nggak percaya, aku percaya kok sama kamu, tapi ini soal privacy keluarga ku,


 aku mau bilang juga nggak boleh,"


"Emm ya udah kalau gitu nggak apa-apa kok, kamu udah makan belum?" Zen ternyata tidak memaksa ku agar aku menjawab pertanyaannya itu dan segera mengalihkan topik agar aku tak merasa terbebani.


"Aku sudah makan tadi, Zen boleh aku numpang ke toilet?"


"Boleh kok, yuk aku anter …"


Aku pergi ke toilet sebentar karena mataku terasa tidak nyaman sehabis menangis tadi, Zen ternyata pergi lagi dan tidak menunggu ku. Setelah selesai, aku berniat untuk kembali, namun aku melihat sebuah foto keluarga yang terpampang di atas lemari TV dan setelah ku lihat dengan seksama ternyata laki-laki yang ada di dalam foto itu mirip dengan suami Tante Isma, aku pun akhirnya hanya berdiri kaku disana dan tak percaya dengan apa yang ku lihat, berkali-kali ku usap-usap mata untuk memastikan dan hasilnya pun tetap sama.


Saat aku tengah melamun Zen ternyata sudah berada di belakangku. "Itu foto keluarga ku Sher, yang ini ibuku dan ini ayah tiri ku, ini aku juga yang ini adikku," Zen tiba-tiba memperkenalkan keluarganya padaku, sambil menunjukkan satu persatu orang yang ada didalam foto itu.


"Eh Zena, maaf ya aku nggak ada maksud lancang, tadi aku melihat seperti pernah bertemu seseorang yang mirip sama yang ada di foto ini," ucapku. Tanganku reflek terulur di atas dada, karena jujur saja aku benar-benar kaget dengan kedatangan Zena yang muncul tiba-tiba saja.


"Nggak apa-apa kok Sher, kalau kamu mau lihat-lihat boleh," 


"Ah nggak Zen, oh iya Zen, kok di rumah ini sepi emang nya ayah, Ibu atau adik kamu kemana?"


"Iya Sher aku sendirian di rumah ini ayah kerja di luar kota, ibu juga lagi ke luar negeri kalau adik aku udah nggak ada, udah meninggal," sahut Zen dengan nada sedikit rendah.


"Ya ampun … maaf ya Zen aku nggak tau, aku nggak ada maksud ngingetin kamu sama masa lalu,"


"Nggak apa-apa kok, kamu baper banget hehe, aku aja nggak kenapa-kenapa biasa aja, itu kan sudah berlalu aku juga sudah terbiasa hidup sendiri,"


"Emm gitu ya …, di rumah segede ini kamu sendirian? Emang nya nggak ada asisten?"


"Iya Sher makanya mau nggak kamu tinggal disini sama aku? Ada sih Bi Enung sama Mang Ojan, juga ada satpam di depan,"


"Hah? Ah kamu ngaco deh, mana bisa aku tinggal disini Zen, kamu ada-ada aja deh!"


"Hehe bercanda Sher serius amat sih, tapi kalau mau sih aku juga senang hehe,"


"Dasar ya kamu,"


Tanpa sadar aku melupakan kesedihan ku, bercanda dan tertawa, berlarian, bermain kejar-kejaran dengan Zen, sudah seperti di dalam film-film drama atau sinetron saja.


Setelah lelah aku pun ingin pulang ke rumah, karena khawatir pada bunda, Zen pun mengantarku pulang.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Zen hanya fokus menyetir, sikap nya menjadi aneh seperti tampak gugup. Hingga aku sampai di rumah, Zen pun tidak mampir dan langsung pamit untuk pulang.


Sesampainya di rumah aku tidak banyak berbicara dengan bunda, tapi aku tetap mengerjakan pekerjaan ku di rumah seperti biasanya, keadaan pun masih aman terkendali.


__ADS_2