Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Waspada


__ADS_3

****


Setelah 3 hari bunda dirawat, Dokter mengatakan kondisi janin bunda sudah stabil, bunda sudah tidak mengalami pendarahan lagi, dan Dokter mengizinkan bunda untuk pulang, namun bunda harus benar-benar beristirahat full di rumah, tidak boleh banyak bergerak dulu selama 1-2 minggu untuk menjaga kondisi janinnya tetap stabil.


Kami pun bersiap untuk pulang, Mang Nanang yang mengurus semuanya termasuk semua biaya berobat bunda selama 3 hari tentu nya atas perintah bunda.


Setelah semuanya selesai kami pun segera pulang, Mang Barus yang mengendarai mobil.


Sesampainya di rumah, aku langsung mempersiapkan tempat tidur bunda di ruang keluarga senyaman mungkin agar aku bisa lebih leluasa mengurus semua kebutuhan bunda.


Aku benar-benar melarang bunda melakukan aktivitas apapun yang akan mengganggu kesehatan calon adik ku.


Mandi pun aku awasi dan meminta bunda agar tidak mengunci pintu, aku khawatir bunda terjatuh di kamar mandi, jadi apapun aktivitas bunda pasti aku awasi.


Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan, dari mulai memasak, mencuci baju, mencuci piring, menyapu, dan lainnya.


Walaupun sudah 4 hari aku tidak sekolah aku tetap tidak akan meninggalkan bunda sendirian di rumah. Kebetulan sekolah sedang bebas untuk kelas 12 (Kelas 3 SMA) karena sedang mempersiapkan untuk pelaksanaan Ujian Semester untuk Kelas 10 dan 11.


Sebenarnya aku ingin sekali pergi sekolah, aku ingin mengawasi ayah, aku masih penasaran dengan apa yang ayah lakukan di rumah jalan Gang itu, namun aku tidak bisa meninggalkan bunda, aku takut terjadi hal yang tak diinginkan pada bunda dan calon adik ku.


****


Sore hari setelah aku selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, tiba-tiba ada yang datang menjenguk bunda, orang itu tak lain adalah Tante Isma, tetangga sebelah.


Tok tok tok


Aku pun segera membuka pintu, aku lihat Tante Isma membawa 1 keranjang buah-buahan, sepertinya itu buah tangan untuk bunda.


"Eh, Sherin, bunda kamu ada?" sapa Tante Isma.


"Ada Tan, silahkan masuk," aku mempersilahkan Tante Isma masuk dan kemudian menemui bunda.


"Bunda, ini ada Tante Isma," aku memberitahu bunda bahwa kita kedatangan tamu.


"Tante mau minum apa? Biar aku buatkan," tawar ku pada Tante Isma.


"Jangan repot-repot Sherin makasih, Tante minum air putih aja," sahut nya.


Kemudian aku segera pergi ke dapur untuk membawakan air putih dan beberapa cemilan untuk Tante Isma. Bunda dan Tante Isma pun lanjut mengobrol.

__ADS_1


Dari dapur aku menangkap obrolan mereka.


"Mbak silahkan duduk," ujar bunda.


"Makasih Mbak, Mbak Rahma sakit apa? Kemarin aku kesini, tapi nggak ada siapa-siapa di rumah, kebetulan ada pegawai Toko, aku tanya kata nya Mbak lagi di rawat di Rumah Sakit, sebenar nya Mbak sakit apa?" tanya Tante Isma. Dia tampaknya sangat penasaran dengan apa yang bunda alami.


Aku pun segera mengantarkan air dan beberapa makanan untuk Tante Isma.


"Ini Tante minum nya, sama ada sedikit cemilan," timpal ku.


"Makasih ya, Sherin,"


"Sama-sama Tante, di makan ya Tan."


Aku kemudian pergi ke dapur dan mengawasi bunda dari balik dinding.


"Oh Iya Mbak, ini aku bawain sedikit buah-buahan, semoga cepat sembuh ya Mbak," cetus Tante Isma.


"Makasih ya Mbak Isma, udah repot-repot bawain buah segala, aku nggak apa-apa kok, cuma sedikit ngedrop aja, mungkin karena bawaan hamil," sahut bunda.


"Wah Mbak Rahma ternyata hamil lagi, selamat ya Mbak, udah berapa bulan Mbak?"


"Oh, berarti udah mau masuk 2 bulan ya,"


"Iya Mbak, Mbak Isma di minum air nya, itu cemilan nya juga di makan Mbak,"


"Iya Mbak nanti aku makan, duh aku juga jadi pengen deh punya baby,"


"Semangat Mba, Mba Isma juga pasti bisa kok,"


"Suami aku kan jarang pulang Mbak, jadi aku jarang berhubungan badan sama suami, kalau gitu, gimana bisa coba aku hamil, Mbak!"


Mereka tengah asyik mengobrol, namun ku lihat dari ekspresi wajah nya, seperti nya Tante Isma tampak tak senang mendengar kabar bahwa bunda sedang hamil lagi anak ke-2 dan juga setelah aku perhatikan baik-baik seperti nya postur tubuh Tante Isma hampir sama dengan wanita yang bersama ayah waktu itu.


"Ah mungkin Tante Isma cuma merasa iri saja pada bunda, dan gak mungkin juga wanita yang bersama ayah waktu itu adalah Tante Isma, Tante Isma kan punya suami walaupun suami nya kerja di luar kota dan jarang pulang, tapi suami nya mapan, bahkan aku rasa jauh lebih baik daripada ayah, nggak mungkin Tante Isma mau sama ayah, mungkin postur tubuh Tante Isma cuma kebetulan mirip aja, tapi aku harus benar-benar mengawasi bunda, siapapun yang dekat dengan bunda harus di perhatikan dengan teliti, termasuk Tante Isma," suara Batin ku.


Aku tak ingin berburuk sangka pada orang lain, sebelum aku melihat sendiri fakta dan bukti nya.


"Coba aja kalau aku nggak lihat ayah kemarin, aku gak bakalan ikut campur masalah orang tua, sebenernya aku gak mau terlibat masalah orang tua kayak gini, tapi sikap ayah udah keterlaluan banget, bunda lagi sakit karena hamil anak ayah, ayah malah asyik keluyuran di luar sana, bawa-bawa wanita lain lagi. Pokoknya apa yang aku lakuin semuanya buat bunda, aku gak rela ada orang yang nyakitin bunda sekalipun itu ayah. Aku harus diam-diam cari bukti apa yang bikin ayah setega itu sama anak istri, dan ayah sekarang mulai nggak betah di rumah, hanya bunda yang aku miliki saat ini, aku gak akan biarin bunda di sakiti oleh siapa pun." batin ku bertekad mencari keadilan untuk bunda.

__ADS_1


Setelah bunda dan Tante Isma usai mengobrol, kemudian Tante Isma pamit untuk pulang.


Larut malam aku pun menemani bunda di ruang family, sembari nonton TV aku menanyakan tentang Tante Isma pada bunda.


"Bunda, Tante Isma kok tiba-tiba baik ya sama bunda, biasa nya kan Tante Isma udah kaya orang asing di kampung kita, semua orang juga udah tau, "


"Bunda juga nggak tau, waktu Bunda lagi di Toko, Tante Isma nyapa Bunda, Bunda akhir nya di ajakin ngobrol sama dia,"


"Oh gitu ya Bun, aneh aja gitu Bun sampe pengen couple lan parfum segala, padahal kan semenjak kita tinggal disini, Tante Isma agak sombong gitu sikap nya, kalau ketemu aku di jalan juga nggak pernah nyapa, waktu Bunda di ajak sama Tante Isma kok lama Bun pergi nya?"


"Mm... sebenarnya Bunda juga nggak enak mau nolak, takut Tante Isma nya ke singgung, tapi nggak ngapa-ngapain Sayang, cuma jalan aja biasa, makan, belanja, ngobrol, begitu aja sih,"


"Mm... Bunda, kalau bisa jangan pernah curhat apapun ya sama Tante Isma, maksudnya aku lihat Tante Isma agak kurang tulus aja gitu sama kita,"


"Kenapa Sayang? Kamu curiga ya sama Tante Isma? Dia baik kok orang nya Sayang, mungkin Tante Isma pengen deket aja sama Bunda, jadi teman Bunda, "


"Hm... nggak Bun bukan gitu, ya pokoknya dimanapun, sama siapapun, Bunda harus hati-hati, jangan mudah percaya sama orang lain termasuk sama orang rumah sendiri,"


"Maksud kamu gimana Sayang? Kok kamu bicara nya kayak gitu?"


"Nggak apa-apa Bun, ya pokoknya kita harus teliti aja gitu Bun kalau menilai orang, yang baik belum tentu juga baik buat kita, bukan berarti kita berburuk sangka sama orang, kata nenek gitu bun waktu kasih nasehat sama aku,"


"Hm... anak Bunda tersayang ini ternyata sekarang sudah mulai dewasa ya, Bunda bangga deh sama kamu Sayang, kamu tenang aja, Bunda pasti ingat terus nasehat kamu,"


"Hihi Bunda bisa aja deh, yaudah kita istirahat yuk Bunda, aku udah agak ngantuk,"


"Kamu pasti capek ya seharian ngurusin Bunda, yaudah, selamat istirahat Sayang,"


"Nggak Bunda, selagi bisa aku bakalan ada buat Bunda, Bunda juga pasti capek kan ngurusin aku dari bayi, pokoknya makasih ya Bun, selamat istirahat juga Bunda." ucap ku.


Aku pun tidur sambil memeluk bunda


****


Pagi hari, aku sibuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan kemudian menyiapkan sarapan pagi untuk bunda karena bunda harus rutin minum obat, tidak boleh terlambat.


Siang hari, aku pergi ke Toko sebentar untuk melihat keadaan disana sembari membeli kebutuhan dapur dan mengecek pembukuan kemudian aku melaporkan nya pada bunda.


Sore hari, aku kembali sibuk di rumah karena harus memasak dan menyiapkan makan malam untuk aku dan bunda.

__ADS_1


Setiap hari kegiatan itu aku lakukan menggantikan peran bunda, sampai kemudian tak terasa 2 minggu sudah berlalu, bunda sudah boleh keluar rumah dan berjalan-jalan di halaman, tapi tetap tidak boleh berjalan terlalu jauh.


__ADS_2