
****
1 minggu lagi aku akan menghadapi ujian, aku harus mempersiapkan semuanya, mulai dari membaca buku pelajaran sampai menghafal beberapa rumus matematika.
Di sela kesibukanmu mengerjakan semua pekerjaan rumah dan belajar, aku juga tidak lupa menyempatkan waktu pergi ke sekolah, dengan harapan aku bisa mendapatkan bukti atau pun petunjuk yang lebih jelas tentang ayah.
Aku mencoba mencari informasi dan bertanya pada orang-orang yang tinggal di sekitar jalan Gang itu, tentang siapa pemilik rumah yang waktu itu ayah singgahi.
Tapi hanya sedikit petunjuk yang aku dapatkan, rumah itu milik seseorang yang tidak diketahui namanya, rumah itu tidak pernah ditempati, hanya sesekali ada orang yang mengurusnya, dan pemilik rumah itu kabarnya tinggal di luar kota.
Aku tidak putus semangat, aku terus mengawasi tempat itu saat sekolah, sampai pada suatu hari, saat itu tiba-tiba turun hujan di siang hari, aku berniat akan pulang dari tempat pemantauan ayah, namun karena turun hujan, aku terpaksa berteduh di sebuah warung tak jauh dari Gerbang jalan Gang itu.
Kebetulan aku mendengar percakapan ibu warung dan orang yang juga berteduh disana, kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah itu.
"Neng, itu yang tinggal di sebelah rumah kamu, yang punya rumah bukan?" tanya ibu warung.
"Katanya sih iya, Bu! Emang kenapa?" sahut Bu Neng. Aku mendengar ibu warung memanggil nya dengan sebutan Neng.
"Nggak apa-apa Neng, emang orang mana?"
"Katanya sih orang Sukaramai Bu,"
Aku reflek langsung melihat ke arah Bu Neng karena nama tempat yang disebutkan Bu Neng adalah nama daerah tempat tinggal ku.
"Oh, tapi kok kalau siang jarang ada orang nya ya?" cetus ibu warung.
"Iya Bu, katanya sih kerja, pulang nya suka sore, tapi kadang siang juga suka pulang, berdua sama suami nya, cuma sebenarnya aku juga kadang merasa aneh sama mereka."
"Oh gitu ya, aneh gimana Neng?" ibu warung tampak penasaran.
"Ya aneh, gimana ya Bu saya jelasin nya!"
"Ya cerita aja Neng, santai sama Ibu mah," ujar ibu warung sambil mendekat pada Bu Neng lalu duduk di samping nya.
"Jadi gini Bu, ibu yang punya rumah itu bilang, katanya suami nya kerja di luar kota, jarang pulang, tapi itu sering saya lihat pulang pergi sama suami nya,"
"Mungkin suami nya emang lagi pulang Neng,"
"Iya mungkin gitu Bu, cuma saya heran nya... kan katanya ibu yang punya rumah itu emang punya juga rumah di kampung nya, makanya rumah yang disini gak pernah ditempati,"
"Emm... gitu ya, tapi Pak RT tau nggak Neng kalau rumah itu sekarang di tempatin?"
"Kalau itu, saya nggak tau Bu, soal nya emang kan orang nya juga kadang ada, kadang nggak ada,"
Perasaan ku semakin curiga terhadap ayah, dimana ayah tinggal, kenapa ayah tidak mau pulang ke rumah dan tinggal bersama bunda, aku juga semakin penasaran siapa sebenarnya wanita itu.
__ADS_1
Aku harus mencari kesempatan lain untuk memantau rumah itu.
Setelah hujan reda, aku tidak melanjutkan misi ku lagi, aku segera bergegas untuk pulang karena aku harus memasak untuk bunda, jangan sampai bunda mengerjakan pekerjaan rumah.
*****
Sesampainya dirumah, aku segera mengerjakan aktivitasku seperti biasa nya, namun ketika aku sedang memasak di dapur, tak sengaja aku melihat dari sela-sela pintu seperti ada orang di belakang rumah.
"Kok kayak ada orang ya di belakang? Eh, itu kok kayak nya Tante Isma ya! Coba deh aku intip dari ventilasi udara biar lebih jelas." gumamku dalam hati.
Lalu aku ambil kursi dan aku panjat untuk mengintip orang yang ada di belakang rumah, benar saja ternyata itu memang Tante Isma, ku lihat dia membawa kantong plastik hitam kecil, entah apa yang dilakukannya, aku semakin merasa banyak sekali keanehan.
Aku segera menemui bunda untuk menceritakan apa yang aku lihat, namun seperti nya bunda sedang menerima telepon entah dari siapa, bunda berjalan keluar rumah seperti nya akan menemui seseorang.
Kemudian aku mengikutinya dari belakang, setelah sampai di teras depan rumah, tiba-tiba bunda terpeleset dan berteriak, aku pun reflek berlari ke arah bunda dan sekuat tenaga aku menahan tubuh bunda agar tidak terjatuh ke lantai, bersyukur bunda tertahan dan berakhir dengan posisi duduk di lahunan ku.
Jantung ku terasa akan melompat keluar saat itu juga. Aku benar-benar kaget setengah mati, dada ku rasanya berdebar-debar tak karuan, jika saja bunda sampai terjatuh, entah apa yang akan terjadi pada bunda.
"Ya ampun Bunda, Bunda baik-baik saja kan? Bunda nggak apa-apa kan? Bunda ada yang sakit nggak?" aku segera menanyakan keadaan bunda.
"Ahhh... Bunda nggak apa-apa kok Sayang, bantu bunda berdiri dulu Nak," sahut bunda.
Aku pun membantunya untuk berdiri.
"Pelan-pelan Bun, Bunda sakit ya perut nya? Bunda duduk aja, jangan berdiri dulu ya,"
"Aku nggak apa-apa Bun, ya udah Bunda duduk dulu aja disini, aku ambilkan minum ya Bun,"
"Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa Sayang, yaudah Bunda duduk dulu disini,"
Aku pun segera bergegas mengambil air minum untuk bunda.
"Ini Bun, di minum dulu,"
"Makasih ya Sayang, kalau nggak ada kamu, mungkin Bunda udah jatuh tadi," ucap bunda lalu meneguk air dalam gelas itu dengan tergesa-gesa, sepertinya bunda syok.
"Bunda tadi mau kemana sih?" tanya ku, penasaran.
"Bunda mau mengambil pesanan di depan,"
"Pesanan apa Bun?"
"Tadi Bunda pesan GrabFood, katanya gak tau rumah nya yang mana, jadi Bunda mau ke depan,"
"Ya ampun Bunda, Bunda kan bisa minta tolong sama aku, Bunda kalau mau apa-apa Bunda bisa suruh aku Bun,"
__ADS_1
"Tadi kan kamu lagi masak, Bunda gak enak mau bilang, kamu kan udah cape seharian belum sempat istirahat,"
"Ya nggak apa-apa Bun, kan bisa ditinggal sebentar, Bunda kok ngomong nya gitu, capek aku nggak sebanding sama capek nya Bunda, kalau terjadi apa-apa sama Bunda dan calon adik aku, aku gimana Bun?"
"Maaf ya Sayang, kamu jangan panik lagi ya, kan Bunda nggak apa-apa, sekarang Bunda minta tolong ambilin dulu pesanan Bunda ya, kasihan dari tadi sudah telepon terus,"
"Yaudah, Bunda tunggu sebentar disini ya, jangan kemana-mana,"
Aku pun segera bergegas untuk mengambil pesanan bunda di luar halaman dan cepat kembali.
Setelah sampai depan rumah, ku lihat banyak air di lantai, kemudian aku kembali menghampiri bunda.
"Bunda, ini pesanan nya,"
"Iya Sayang, makasih ya,"
"Bun, lantai di sini kok bisa basah ya, siapa sih yang buang air disini, perasaan aku udah pel,"
"Ini minyak Nak! Bukan air,"
"Hah, minyak? Kerjaan siapa sih buang minyak disini?"
Setelah aku raba ternyata itu memang minyak, minyak bening seperti Baby Oil, aku sama sekali tidak mengira bahwa yang ku lihat seperti air itu adalah minyak.
"Bunda juga heran Sayang, kenapa bisa ada minyak disini," bunda sepertinya tidak terlalu menghiraukan nya.
"Ya udah yuk Bun, kita masuk aja ke rumah ini kan juga udah sore, takut Bunda masuk angin …" aku segera mengajak bunda untuk masuk ke dalam khawatir ada orang yang jahat.
"Iya, ayo Sayang …"
"Bunda kuat jalan nggak? Sini Bun aku bantu Bunda berdiri,"
"Kuat kok Sayang, yaudah yuk!"
"Hati-hati Bun, pelan-pelan aja jalan nya …"
Aku pun memapah bunda untuk masuk ke dalam. Tapi sekilas dari ujung mata ku, aku kembali melihat ada seseorang yang sedang memperhatikan dari luar halaman, aku sempat melihat sekeliling namun tidak ada siapapun.
Aku ingat saat di dapur aku melihat Tante Isma di halaman belakang, kecurigaan ku semakin bertambah besar, aku yakin ada sesuatu yang janggal dan aku yakin ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai bunda.
Setelah aku mengantarkan bunda ke dalam, aku kembali lagi ke luar untuk membersihkan minyak yang berserakan di lantai, aku khawatir bunda terpeleset lagi.
Aku berpikir sejenak di luar.
'Sepertinya rumah ini ada yang mengawasi, apa mungkin itu Tante Isma? Setelah aku pikir-pikir … tadi ada Tante Isma di belakang membawa plastik hitam, apa mungkin Tante Isma yang menumpahkan minyak? Tapi kok bisa Tante Isma tahu kalau Bunda pesan makanan? Aduh bener-bener deh bikin pusing. Aku harus secepatnya cari tahu sebenarnya ada apa, aku nggak mau Bunda sampai celaka.' aku bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
'Besok aku harus benar-benar cari tahu, tapi kalau aku ninggalin Bunda, aku takut terjadi apa-apa sama Bunda... Eh tapi aku punya ide!' gumamku dalam hati.
Tia-tiba saja aku memiliki ide, semoga saja rencana ku berhasil, besok aku harus jalankan misi ku.