
*****
2 bulan kemudian.
Dret ... Dret … Suara ponsel ku bergetar.
Sengaja ku silent, karena aku sedang berada di dalam kelas.
Kemudian diam-diam ku intip, ternyata panggilan dari nomor tak dikenal. Tapi kulihat nomor itu sepertinya nomor telepon kantor.
Akupun segera meminta izin pergi ke toilet sebentar pada dosen, kemudian aku segera menerima panggilan itu.
[Halo ... dengan siapa?] sapa ku.
[Halo … selamat siang Bu Sherin? Kami dari kantor polisi ingin memberitahukan bahwa Ibu Isma akan segera melahirkan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit terdekat.] sahutnya.
[Siang Pak! Oh... baik Pak, saya segera ke sana. Terima kasih banyak ya Pak atas informasi nya?]
[Baik Bu Sherin, sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu ya Bu Sherin, selamat siang!"
[Baik Pak, selamat siang!]
Aku terdiam sesaat. Tak ku sangka, ternyata Tante Isma akan melahirkan hari ini.
Aku merasa bingung karena tak mungkin aku meninggalkan jam mata kuliah ku saat ini juga. Kemudian aku pun segera mengirim pesan pada Zena untuk memberitahu informasi yang ku dapatkan dari kantor polisi.
[Hai Zen? Kamu pasti lagi belajar ya?]
Zena tidak membalas pesan ku. Mungkin Zena memang sedang masuk kelas.
Aku simpan kembali ponsel ku ke dalam saku. Tapi, tiba-tiba ponselku kembali bergetar, setelah kulihat ternyata itu pesan balasan dari Zena.
[Hai juga Sherin, tumben kamu chat aku nih! Kenapa Sher?] tanya Zena.
[Zen, aku barusan dapat telpon dari kantor polisi!] jawabku.
[Kantor polisi? Emang kamu nggak masuk kelas?] Zena tampaknya merasa heran padaku karena tak biasanya aku menghubunginya pada saat jam belajar.
[Iya Zen, aku tadi izin ke toilet pas lagi di kelas!]
[Oh gitu, emang nya ada apa Sher?] Zena tampak penasaran.
[Iya, katanya tante Isma hari akan melahirkan Zen!] sahutku.
[Aduh gimana ya? Apa kita izin pulang aja hari ini?]
[Tanggung tau Zen, udah setengah jalan!]
[Ya udah, kalau gitu nanti selesai kuliah kita langsung saja ke sana, gimana?]
[Ya udah deh, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya?]
[Oke deh, semangat ya?]
[Oke! Bye.]
Kemudian aku pun segera kembali ke dalam kelas.
*****
Pukul 15.00 sore.
Usai mengikuti jam mata kuliah terakhir, aku pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit terdekat bersama Zena.
Sesampainya di rumah sakit yang tak jauh dari kantor polisi tempat Tante Isma di tahan, aku segera menghubungi bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan pasien atas nama Isma dan benar saja, ternyata memang ada di ruang khusus ibu melahirkan. Aku dan Zena segera bergegas pergi menuju ke sana.
__ADS_1
Sesampainya di tujuan, ternyata bayi tante Isma belum lahir dan Tante Isma sedang diperiksa oleh Dokter sambil menjerit-jerit kesakitan.
Aku pun diizinkan masuk kedalam ruangan tempat tante Isma dirawat, sementara Zena hanya bisa menunggu di luar.
Saat dokter melihat kedatangan ku, ternyata dokter mengira aku adalah keluarga pasien.
Pada awalnya aku tak mengatakan iya, tapi ternyata dokter memang perlu persetujuan dari pihak keluarga untuk segera dilakukan tindakan medis jika diperlukan, terhadap kondisi kesehatan tante Isma.
Aku pun dengan berat hati terpaksa mengangguk setuju saja, karena sepertinya tidak ada satupun dari keluarga tante Isma yang datang menjenguknya.
Melihat kedatanganku, Tante Isma hanya menatapku sinis.
"Kenapa Tan, sinis banget?" tanya ku.
"Ngapain kamu kesini?" Tante Isma bertanya kembali padaku dengan sinis.
"Menjenguk Tante yang akan melahirkan, ngapain lagi!" jawabku dengan nada yang datar.
"Gak usah sok perhatian kamu sama saya! Saya gak butuh." bentak nya dengan nada tercekat.
Sepertinya Tante Isma sedang berusaha menahan rasa sakit dengan sisa tenaganya.
"Kalau gitu, aku akan pergi saja! Selamat menikmati." pungkas ku.
Saat aku akan melangkah pergi, tiba-tiba tante Isma mencengkeram lenganku. "Tolong, tolong saya Sherin! Sakit!" Tante Isma memohon padaku sambil meringis.
"Makanya Tan, aku kesini berniat baik, nggak ada sedikitpun niat buruk sama Tante, tapi Tante selalu sinis sama aku!" ucapku.
"Iya saya salah, tolong saya! Ahhhh ..."
Tiba-tiba tante Isma menjerit kencang seperti sedang mengejan, aku pun panik dan segera memanggil dokter. Dokter pun datang dengan tergesa-gesa bersama para suster.
Saat perawat akan membawa tante Isma ke ruang khusus melahirkan, tante Isma malah menjerit semakin keras.
Ku lihat ada cairan berlendir di sertai darah membasahi sprei di atas hospital bed yang ditempati oleh Tante Isma, hingga berceceran ke lantai.
Akhirnya dokter dengan terpaksa segera bertindak di tempat, tak sempat membawa tante Isma ke ruang khusus melahirkan karena jaraknya memang sedikit jauh dari ruang perawatan ibu hamil dan melahirkan.
Salah satu perawat terlihat terburu-buru mengambil peralatan berupa kotak yang terbuat dari stainless dan beberapa peralatan rumah sakit.
Salah satu perawat memberi arahan pada Tante Isma, memintanya untuk membuka lebar kedua kakinya dan kedua tangannya mencengkram erat side rails.
Kemudian menyuruhnya mengambil nafas dalam dan mengejan secara teratur.
Setelah beberapa saat Tante Isma tampaknya sudah mulai kelelahan, nafasnya terengah-engah dan tenaganya sepertinya sudah habis, tapi bayinya masih tak kunjung keluar.
Akhirnya dokter pun mengeluarkan peralatannya dari dalam kotak yang terbuat dari stainless itu, salah satunya adalah gunting.
Saat yang paling membuatku bergidik ngeri setengah mati, ku lihat dokter menyobek jalan lahir bayi tante Isma dengan gunting itu tanpa rasa ragu sedikitpun. Suaranya pun terdengar jelas di telinga ku.
Teeek … Diiringi dengan teriakan tante Isma. Ah sungguh membuat lututku seakan tiba-tiba tak memiliki tenaga untuk berdiri.
Tapi aku tetap memaksakan diri untuk berdiri sambil ku genggam erat side rails yang ditempati tante Isma.
'Astagfirullah' aku pun memelas.
Ah ... sungguh aku menyesal karena sudah datang menjenguk tante Isma. Jika saja aku tahu kejadiannya akan seperti itu, aku tak akan pernah datang.
Keringatku pun mulai bercucuran, berkali-kali ku telan kasar Saliva ku.
Setelah Tante Isma terus mengejan sesuai arahan dokter dan perawat, akhirnya kepala bayi pun semakin terlihat perlahan-lahan keluar hingga bayi pun akhirnya terlahir disertai dengan keluarnya cairan dan darah dari sana juga terdengar suara tangisan bayi yang masih dilumuri darah dan lendir.
Dokter mengambil bayi itu dan menelungkupkan nya di atas tubuh Tante Isma.
Beberapa perawat membersihkan sisa darah dan cairan, juga ada yang mengambil perlengkapan bayi. Sementara dokter mengeluarkan plasenta dan memotong tali pusar nya.
__ADS_1
Perawat membersihkan tubuh bayi dan memberi suntikan obat kemudian memakaikannya kain sebagai bedong. Sementara dokter melanjutkan tindakan medis pada tante Isma.
Setelah mengganti cairan infus, dokter memasukan hampir satu seperempat lengannya ke dalam jalan lahir bayi tante Isma seperti mengambil sesuatu dari dalam sana, kemudian dokter membersihkannya dan menjahit area luka yang sengaja di robek saat Tante Isma melahirkan.
Ku lihat Tante Isma hanya terkulai lemah tak berdaya, wajahnya terlihat pucat dan dibanjiri oleh keringat selama proses melahirkan.
Usai proses penjahitan, dokter memberikan suntikan pada Tante Isma, kemudian perawat mengganti pakaian Tante Isma.
Setelah semuanya selesai, aku hanya membantu Tante Isma untuk minum saja, tak sempat berbicara apapun.
Kemudian aku segera bergegas keluar dari ruangan itu karena merasa tak tahan, rasanya tubuhku sudah semakin kehabisan tenaga menyaksikan hal semacam itu.
Aku segera menghampiri Zena yang tengah duduk menungguku di luar. Kedua kaki ku terasa bergetar hebat dan hampir saja ambruk, beruntung Zena segera memapahku dan membawa ku duduk.
Aku langsung merangkul Zena, kemudian menumpahkan isak tangis sejadinya dalam rangkulanku.
Setelah melihat bagaimana proses melahirkan dengan mata kepala ku sendiri, aku jadi teringat bagaimana rasanya saat bunda melahirkan aku.
Tapi aku sebagai seorang anak, belum mampu membuat bunda bahagia.
Aku tak akan mampu membalas semua pengorbanan bunda untuk ku.
Zena yang tidak tahu menahu hanya panik sendiri melihatku dan membiarkan aku menangis hingga merasa puas dalam pelukannya.
"Sher udah dong … kamu kenapa Sher? Cerita sama aku?" Akhirnya Zena membuka suara memecah keheningan.
"Zen aku mau pulang aja!" jawabku.
"Tapi kenapa Sher? Ada apa sebenarnya?" tanya Zena yang tampak merasa heran padaku.
"Gak apa-apa, aku mau pulang aja Zen!" sahutku.
"Ya udah oke kita pulang ya, tapi kamu tunggu dulu disini, aku mau ketemu sama dokter dulu!" pungkas Zena.
"Ya udah cepetan, aku mau pulang!" ucapku sambil terisak.
"Ya udah, kamu tunggu disini sebentar oke?"
Aku hanya mengangguk setuju, kemudian Zena pergi entah kemana.
Kemudian aku masuk kembali ke dalam dan melihat bayi tante Isma.
Setelah kuperhatikan, wajahnya entah mirip dengan siapa.
Saat aku tengah menatap bayi tak berdosa itu, aku hanya bisa merenung sendiri.
'Bagaimana jika bayi itu benar-benar anak ayah? Bagaimana dengan nasib bayi yang tak berdosa ini? Siapa yang akan mengurusnya? Sementara, tante Isma harus hidup dalam penjara. Aku jadi merasa iba walau bagaimanapun bayi ini sama sekali tidak bersalah, bayi ini tak pantas diperlakukan tidak adil, apalagi hidup nya harus berantakan hanya karena ulah kedua orang tua nya.' pikir ku.
Tak lama, Zena pun kembali ke ruang tunggu. Melihat aku tidak ada di sana, Zena mencariku hingga ke tempat aku melamun di samping bayi itu.
"Sher?" sapa nya, dengan lembut.
Aku pun tersadar dari lamunan.
"Eh, iya Zen …" sahutku. Jari jemari Zena mengusap lembut pipiku yang sudah dibasahi oleh air mataku dengan lembut.
"Udah ya, jangan nangis lagi! Aku paham kok apa yang kamu rasain Sher, aku udah ngomong sama pihak rumah sakit, kalau emang hasil tes DNA nya cocok sama ayah kamu, aku siap kok Sher mengurus bayi itu." cetus nya.
Pupil mata ku spontan berpaling ke arah Zena memastikan kembali apa yang baru saja kudengar dari mulutnya. "Zen apa kamu serius?" tanya ku, sungguh-sungguh.
"Iya Sher, bayi itu gak ada sangkut pautnya dengan masalah kita, bayi ini suci Sher, sama sekali gak berdosa! Kasihan kan kalau dia harus hidup di dalam penjara?" sahut Zena dengan tulus.
"Zen ... kamu?" aku tak tahu apalagi yang harus aku katakan pada Zena.
Sungguh aku tak menyangka Zena memiliki yang hati sebaik itu.
__ADS_1
"Jadi kamu jangan nangis lagi oke? Sekarang kita pulang yuk? Udah sore, nanti bunda nyariin loh!" Zena pun menenangkan ku dan mengajakku pulang.
Aku pun mengangguk setuju, kemudian Zena mengantarkan aku pulang.