Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Bunda lahiran


__ADS_3

PoV Sherin


*****


Tiba-tiba saja bunda jatuh pingsan, aku sangat panik melihat bunda tak sadarkan diri, begitu pun dengan Zena dan Om Aris, mereka sama panik nya denganku.


Kemudian Om Aris segera membawa bunda ke dalam mobil nya, aku dan Zena pun berjalan mengawalnya di belakang, kami segera bergegas membawa bunda ke Klinik.


Sesampainya di Klinik, Dokter segera memeriksa kondisi bunda.


Usai pemeriksaan, Dokter mengatakan bahwa bunda mengalami Hipertensi yang bisa membahayakan janin dalam kandungannya.


Aku khawatir dengan kondisi bunda dan calon adik ku.


Aku pun hanya bisa menangis, aku sudah melakukan apa yang mampu aku lakukan untuk melindungi bunda, namun tetap saja hasilnya seperti ini. Pada akhirnya apa yang aku takutkan selama ini terjadi.


Aku tak menyangka, ternyata alasan Tante Isma ingin mencelakai bunda sedemikian rupa itu karena Tante Isma hamil, yang kemungkinan itu anak ayah.


Ini benar-benar gila, masalah orang dewasa benar-benar sangat rumit, aku tak seharusnya ikut campur masalah ayah, tapi aku tak mungkin bisa tenang melihat bunda di sakiti apalagi hampir saja celaka beberapa kali.


Sebenarnya aku tak tega melihat ayah ku mendekam di penjara seberapa kecewa dan marah pun aku pada ayah, tapi aku tak mengharapkan ayah berada di balik jeruji besi tahanan penjara.


Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa mendoakan ayah dari jauh, semoga ayah sadar akan perbuatan nya, semoga ayah merubah dirinya menjadi jauh lebih baik, semoga ayah sehat selalu di sana.


Setelah mendapatkan rujukan, tak lama bunda pun sadarkan diri, lalu menjalani perawatan di Rumah Sakit selama beberapa hari.


Begitu pun setelah sidang Pengadilan Hukum ditetapkan, Tante Isma divonis dengan hukuman 20 tahun penjara atas beberapa kasus nya itu, dan ayah mendapatkan hukuman 1 tahun penjara.


Setelah bunda sehat, aku diam-diam curi-curi waktu menjenguk ayah di kantor polisi, aku membawakan ayah peralatan untuk beribadah, sajadah, sarung, baju koko dan juga peci serta beberapa porsi makanan.


"Ayah, gimana kabar Ayah, apa Ayah baik-baik saja?" Aku bertanya tentang kabar ayah.


"Sherin makasih banyak ya Nak kamu udah peduli sama Ayah, Ayah minta maaf selama ini Ayah gak bisa jadi Ayah yang baik buat kamu Nak! Ayah benar-benar menyesal, maafin Ayah … Nak?" Ucap ayah, kemudian memelukku.


Aku tak menyangka dengan apa yang ayah ucapkan, bahkan ayah sampai menekuk lututnya untuk meminta maaf padaku, ayah benar-benar menyesal dengan sikapnya terhadapku selama ini, ayah berjanji akan menebus kesalahan yang sudah di lakukan nya selama ini padaku.


Aku tak menyangka, ternyata di balik jeruji besi tersimpan sebuah lentera yang dapat menerangi hati dan jiwa yang gelap.


Aku bersyukur akhirnya ayah dapat menerima kehadiran ku dalam hidup nya, ayah juga memelukku untuk yang pertama kalinya dalam hidupku.


Akhirnya aku dapat merasakan bagaimana rasanya berada dalam dekapan kasih sayang dari seorang ayah, perasaan aman dan mendapatkan perlindungan dari seorang ayah, dapat aku rasakan dalam pelukan nya.


Aku tak dapat lagi membendung air mata ku dan akhirnya aku meluapkan semua yang menjadi beban di hatiku selama ini pada ayah.


"Jadi begini ya rasanya di peluk Ayah? Selama ini Ayah tidak pernah mengharapkan kehadiran ku," ungkap ku.


"Maafin Ayah Nak? Ayah benar-benar menyesal, setelah Ayah bebas, Ayah janji, Ayah akan tebus semua kesalahan Ayah sama kamu dan bunda mu, Ayah janji sama kamu Nak!" Ayah memberikan ku sebuah janji untuk menebus segala kesalahannya.


"Makasih Ayah … aku senang akhirnya Ayah bisa menerima aku, maafin aku juga ya, aku sudah bersikap nggak baik sama Ayah?" Aku pun memaafkan semua kesalahan ayah, karena akhirnya ayah mau menerima kehadiranku dalam hidupnya.


Waktu kunjungan akhirnya habis, ayah melepaskan pelukannya dan ayah pun akhirnya kembali ke dalam sel tahanan.


Aku merasa sangat bahagia, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku berharap di saat ini aku bisa merasakan kehangatan dalam keluarga ku, bersama ayah yang selalu melindungimu dan juga bunda yang selalu menyayangi ku.


Tapi kenyataan berkata lain, mungkin semuanya sudah terlambat.


*****


6 bulan berlalu.


Jam 01.30 tengah malam.


Tiba-tiba saja aku mendengar teriakan bunda dari dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar ku.


"Ahh... Sherin, Bi Isah, tolong … perut ku sakit sekali," teriak bunda.

__ADS_1


Aku pun dengan panik segera menghampiri bunda dan ku lihat bunda tengah meringis sambil menahan perutnya yang besar.


"Ada apa Bunda? Bunda kenapa?" Tanya ku dengan nafas terengah.


"Tolong Nak, perut Bunda sakit sekali, tolong panggilkan Bi Isah," desah bunda.


"Aduh gimana ini!" Aku panik sendiri. "I'iya Bunda, Bunda tunggu sebentar, Bunda sabar ya?" Dengan tergesa-gesa karena panik akupun segera memanggil Bi Isah.


Kemudian Bi Isah pun segera bergegas menemui bunda di kamar.


"Non Rahma kenapa?" Tanya Bi Isah.


"Bi perutku sakit sekali," rintih bunda.


"Mungkin Non Rahma mau melahirkan, kalau gitu Bibi panggilkan Bidan ya Non?" Kata Bi Isah.


"Iya Bi, cepat. Aku nggak kuat Bi!" Lirih bunda.


Kemudian Bi Isah segera bergegas pergi meninggalkan bunda.


Aku yang tidak tau harus berbuat apa, hanya panik sendiri melihat bunda merintih-rintih kesakitan. Kakiku terus bergerak tak bisa diam dan tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membantu bunda yang akan melahirkan.


"Bunda, Bunda yang kuat ya Bun," tutur ku. Hanya bisa memberi semangat untuk bunda.


"Iya Sayang Bunda kuat kok," jawab bunda sambil meringis kesakitan.


Tak lama, Bidan pun datang dan segera memeriksa keadaan bunda.


Aku segera bergegas keluar dari kamar dan menunggu di luar bersama Bi Isah.


Setelah beberapa jam, Bidan keluar memberitahu keadaan bunda, lalu memintaku agar segera mempersiapkan beberapa perlengkapan persalinan untuk bunda dan juga menghubungi ambulance untuk membawa bunda ke Rumah Sakit.


Bi Isah dengan cekatan segera mempersiapkan semua kebutuhan bunda dan aku pun segera menghubungi ambulan.


Bi Isah ikut bersama Bidan dan bunda di mobil ambulance, sementara aku mengendarai mobil sendiri dan mengawalnya dari belakang.


Sesampainya di Rumah sakit, bunda segera dibawa ke ruang IGD terlebih dahulu. Aku lihat bunda berteriak kesakitan, kemudian perawat memindahkan bunda ke ruang khusus melahirkan.


Aku tak tega melihat bunda menjerit-jerit kesakitan seperti itu, ku lihat sudah ada banyak darah di rok bunda.


Setelah Dokter memeriksa keadaan bunda, Dokter mengatakan bahwa bunda tak bisa melahirkan secara normal, karena kondisi janin yang tidak memungkinkan untuk dilahirkan secara normal.


Aku tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Dokter dan akhirnya Bi Isah yang berbicara dengan Dokter.


Tak lama, Bi Isah menceritakan apa yang dimaksud oleh Dokter, ternyata bunda harus melahirkan secara Sesar dan tindakan itu harus disetujui oleh pihak keluarga.


Aku tak mau mengambil keputusan yang salah, setelah bermusyawarah dengan Bi Isah yang tentunya lebih paham, akhirnya aku menyetujui agar bunda segera mendapatkan penanganan yang terbaik.


****


Pukul 7.00 pagi.


Setelah semuanya usai di urus, bunda pun dibawa ke ruang bedah. Aku hanya menunggu di luar, berharap semuanya berjalan dengan lancar.


Bi Isah tampak lelah karena semalaman tidak tidur, begitupun dengan ku. Aku menyuruh Bi Isah tidur sebentar sambil menunggu, sementara aku sama sekali tak bisa tidur karena khawatir pada bunda.


Aku terus berdoa agar bunda dan adik ku diberi keselamatan, agar Operasi Sesar nya berjalan lancar.


Setelah beberapa jam akhirnya Dokter pun keluar, aku segera bergegas menghampirinya dan menanyakan kabar bunda.


Dan syukur lah ternyata Operasi berjalan lancar. Sekarang adik kecilku sudah lahir ke dunia ini dan ternyata adikku seorang bayi laki-laki.


Aku begitu bahagia, aku tak sabar ingin segera menemui bunda dan adik kecil ku.


Setelah pindah ruangan bunda masih belum sadarkan diri, sementara aku segera melihat adik kecil ku, dia begitu mungil dan merah.

__ADS_1


Sayangnya aku hanya bisa melihatnya di balik kaca dengan beberapa selang yang terpasang dari mulut adikku, juga di beberapa bagian tubuh mungilnya dalam inkubator, aku sungguh tak tega.


Andaikan ayah ada disini saat ini, pasti ayah bahagia karena memiliki seorang putra. Tapi sayangnya ... ya sudah lah, suatu hari pasti ayah pun akan bertemu dengan adik ku.


Setelah beberapa jam, akhirnya bunda siuman. Bunda langsung menanyakan bayi nya, aku pun memberitahu bunda keadaannya.


Bunda harus menjalani masa pemulihan pasca Operasi selama beberapa minggu di Rumah Sakit, sebelum akhirnya diizinkan pulang ke rumah.


Sore hari.


Zena datang menjenguk bunda di Rumah Sakit. Kemudian aku meminta Bi Isah untuk menjaga bunda dan adik ku karena aku pun sudah merasa lelah, kini giliran ku untuk beristirahat.


Zena mengajakku ke suatu tempat yang tenang tak jauh dari Rumah Sakit. 


Akupun meminta izin pada bunda pergi sebentar untuk beristirahat.


Sesampainya di lokasi, karena tak tahan dengan rasa lelah aku tak sadar ternyata aku tertidur begitu saja di bahu Zena.


Entah bagaimana Zena memindahkan tubuhku hingga  akhirnya aku tidur di pangkuannya. Begitu nyaman, mungkin karena aku terlalu lelah.


Pukul 17.30


Setelah beberapa jam aku pun terbangun dari tidurku, kulihat Zena pun ternyata tertidur sambil menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.


Aku bergerak perlahan-lahan agar tak mengganggu Zena yang sedang tertidur pulas, tapi ternyata tetap saja Zena terbangun oleh gerakan ku.


"Sherin, kamu udah bangun?" Zena tersenyum hangat.


Aku sedikit tersipu malu oleh Zena. "Iya Zen, maaf aku ganggu tidur kamu ya?" Tanyaku.


"Enggak kok Sher," sahut Zena sambil merentangkan kedua tangannya.


"Maaf ya, aku ketiduran Zen!" Ucapku.


Suasana pun menjadi canggung.


"Nggak apa-apa kok, kamu lelah ya Sher, sampe nyenyak banget tidurnya?" Tanya Zena, dengan senyuman manis di bibirnya.


"Emm ... Iya Zen, aku belum tidur dari kemarin malam," sahutku.


"Ya ampun, ya udah kamu lanjut tidur aja lagi?"


"Nggak ah, aku mau balik ke RS aja Zen, takut bunda nungguin,"


Aku menolak tawaran Zena walaupun sebenarnya mataku masih ingin terpejam hingga esok pagi.


(Kruk kruk)


Tiba-tiba terdengar suara panggilan perutku yang sudah keroncongan!


"Kamu lapar ya Sher?" Zena terkekeh.


"Hihi, emm ... Iya Zen," sahutku sambil melebarkan senyum pada Zena.


'Memang ini perut bikin malu aja!' gumamku.


Aku memang belum sempat makan sedari pagi karena rasa panik dan bahagia atas kelahiran adik ku, aku sampai lupa makan dan minum.


Aku juga belum sempat mandi, karena aku tak membawa perbekalan apapun selain kebutuhan bunda.


"Ya udah kita makan dulu yuk? Kebetulan aku juga belum sempat makan!" Ajak Zena padaku.


"Emm ... Iya deh," aku pun menyetujui ajakannya.


Usai makan malam, aku dan Zena pun kembali ke Rumah Sakit menemui bunda dan Bi Isah disana.

__ADS_1


__ADS_2