Lentera Di Balik Jeruji

Lentera Di Balik Jeruji
Ulah jahat teman bunda


__ADS_3

****


Pukul 17.00 Sore hari


Sesampai nya di halaman rumah, sebelum masuk aku segera memakai kembali hijabku dan aku buka sweater ku lalu ku simpan dalam tas bersama topi dan kacamata, aku pakai rok hitam yang ku bawa sebelum pergi, juga ku lepas sepatuku sebelah karena kaki kanan ku sudah sangat bengkak dan rasanya sakit sekali.


Kemudian aku cek rekaman CCTV dari layar ponsel ku dan ku lihat ternyata bunda sudah kembali dari toko, ada juga Mang Nanang dan Mang Barus di ruang tamu, sepertinya mereka sedang asyik ngobrol sambil menikmati secangkir kopi.


Langsung saja aku buka pintu sambil mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum... "


"Waalaikumsalam... eh Neng Sherin baru pulang, itu kakinya kenapa Neng kok bengkak gitu?" Tanya Mang Nanang, sepertinya cemas melihat aku tak memakai sepatu sebelah dan kaki ku bengkak sudah mirip bolu kukus saja.


"Jatuh Mang tadi di sekolah," jawab ku, terpaksa aku harus berbohong.


"Aduh harus cepat diurut itu Neng, udah bengkak gitu, nanti sakitnya parah kalau kelamaan didiemin," timpal Mang Barus.


"Iya Mang sekarang udah mulai terasa ngilu, tadi mah belum kerasa. Mang aku permisi dulu ya, mau ke kamar ganti baju dulu," tutur ku pada Mang Barus dan Mang Nanang.


"Iya Neng, hati-hati jalan nya Neng," pesan Mang Barus sambil menatap iba padaku.


Kemudian perlahan-lahan aku berjalan menuju ke kamar ku, namun bunda melihatku.


"Sherin kaki kamu kenapa Sayang? Kok bengkak? Kamu habis jatuh ya?" Tanya bunda, dengan ekspresi panik.


"Iya Bunda, aku nggak sengaja tadi jatuh keseleo di jalan," aku pun terpaksa harus berbohong pada bunda.


"Ya ampun Sayang, kamu nggak hati-hati ya? Ya udah panggil tukang urut ya? Nanti Bunda minta panggilin sama Mang Barus," pungkas bunda sembari bergegas pergi ke ruang tamu menghampiri Mang Nanang dan Mang Barus.


Aku langsung saja berjalan ke kamarku, aku lelah setelah menyelesaikan urusanku, rasanya aku ingin segera merebahkan badanku diatas kasur.


Saat aku tengah asyik merentangkan badan di atas kasur, terdengar suara panggilan bunda disusul dengan ketukan pintu kamar ku.


Tok tok tok


"Masuk aja Bunda, nggak dikunci kok," aku meminta bunda agar segera masuk.


Bunda pun membuka pintu lalu masuk menghampiri ku.


"Sayang, kamu habis darimana sih? Kok pulangnya sore, terus kenapa kamu bisa sampai jatuh Nak?" Tanya bunda, sambil menatap kakiku yang sudah tak berbentuk.


"Jalan aja Bun ke Mall sama temen-temen, jadi tadi itu aku mau turun dari lantai 2 lewat tangga terus kepeleset Bunda," aku pun berusaha memberi alasan yang logis pada bunda..


"Loh kenapa nggak pake Lift aja Sayang, kenapa harus lewat tangga?" Bunda seperti nya penasaran.


"Penuh Bun, kelamaan nunggu, jadinya lewat tangga biar cepet." Aku tak terpikirkan dengan pertanyaan bunda soal itu dan aku hanya menjawab pertanyaan bunda spontan dengan apa yang terlintas di kepalaku.


"Emm... yaudah, lain kali kamu hati-hati ya, jangan teledor," Bunda sepertinya tak mencurigai ku dan hanya memberiku nasehat.


"Iya Bunda, lain kali aku hati-hati. Oh iya Bunda, ini kartu ATM Bunda aku kembalikan, takut lupa tapi maaf Bunda uangnya kepake banyak, aku janji nanti suatu saat aku ganti deh …." Sambil ku raih kartu ATM milik bunda di saku bajuku, kemudian segera memberikannya pada bunda.


"Oh iya deh, emangnya kamu beli apa sayang?" Tanya bunda, tampak penasaran.


"Emm... aku beli handphone," jawabku. "Gak apa-apa kan Bun?"


"Handphone buat apa Sayang? Bukannya kamu udah punya?" Bunda menatapku dengan tatapan heran.


"Emm itu Bun, di handphone lama aku nggak bisa banyak Aplikasi soalnya penyimpanan nya sedikit, nggak apa-apa kan Bunda aku beli handphone baru?" Aku berusaha meyakinkan bunda agar bunda tidak mengajukan pertanyaan lain.


"Nggak apa-apa Sayang, asal kamu gunakan baik-baik ya handphone nya, pakai buat belajar ya Nak!" tutur bunda. Ternyata bunda tak marah karena aku sembarang membeli barang.


"Makasih ya Bunda, emm tapi … uang Bunda habis banyak, Bunda jangan marah ya?" ucapku, sambil ku pasang ekspresi manja pada bunda.


"Emm.. memang kamu habis berapa Sayang uang nya?" Bunda kembali menatapku dengan tatapan penasaran.


"20 juta Bun," cetus ku. Langsung saja aku mengatakannya pada bunda tanpa basa-basi.


Bunda hanya mengernyitkan kening, belum sempat bunda merespon, Mang Barus mengetuk pintu, memberitahu kalau tukang urut sudah datang.


Akhirnya bunda pun teralihkan dan segera mengajakku keluar kamar untuk menemui tukang urut yang sudah menunggu di ruang tamu.


Kemudian kaki ku mulai diurut perlahan, semakin lama kakiku semakin terasa sakit karena sentuhan jari-jari tangan milik tukang urut itu semakin menekan kakiku, aku hanya bisa menggigit tanganku untuk menahan suara rintihan ku, namun tiba-tiba 'krek krek' suara sendi kaki ku terdengar sangat nyaring saat.


Sontak aku langsung menjerit, rasa sakitnya tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.


Bunda yang berada di sampingku hanya bisa memeluku. Mang Nanang dan Mang Barus pun tampak ngeri melihatku.


Usai di urut, Mang Barus dan Mang nanang pamit untuk pulang, aku pun segera masuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Setelah kakiku terasa lebih ringan, akupun memaksakan diri untuk segera membersihkan diri, walaupun kaki ku rasanya masih sakit.


Selepas membersihkan diri, aku segera bergegas pergi ke dapur untuk memasak, tapi ternyata bunda menghampiriku.


"Sayang, kamu makan dulu gih, Bunda udah masak," cetus bunda. Meminta ku untuk segera makan.


"Bunda masak? Bunda kan capek seharian di toko, Bunda kan harus nya banyak istirahat dulu Bunda …." Aku sedikit mengoceh pada bunda.


"Bunda udah baikan kok, lagian Bunda udah banyak istirahat, kamu juga kan capek Sayang, harus nya juga Bunda yang ngerjain pekerjaan rumah, kamu tugas nya belajar yang rajin Nak, bukan malah capek ngurusin kerjaan orang tua, apalagi kamu kan beberapa hari lagi mau Ujian dan kaki kamu juga kan belum sembuh,"


"Ya ampun Bunda, kok ngomong nya gitu, aku sama sekali nggak merasa terbebani kok Bun, aku nggak mau Bunda kecapean, Bunda dan calon adik aku harus sehat , aku juga masih sempat belajar kok malam, Bunda nggak tau aku sangat mengharapkan kehadiran adik, aku cuma mau Bunda dan adik aku sehat, lagian kaki aku udah baikan kok Bunda …"


"Emm... makasih banyak ya Sayang, Bunda bangga punya kamu Sayang …" ucap bunda. Kemudian memeluk ku, aku pun membalas pelukan bunda. "Pokoknya Bunda jaga kesehatan, jangan sampai bunda kecapean."


*****


Pukul 19.40 Malam hari.


Sambil rebahan di atas kasur, aku langsung saja melihat rekaman CCTV yang dipasang di beberapa tempat itu.


Ku lihat di rumah Gang Cinta Monyet itu ayah masuk ke dalam lalu pergi lagi. 'Aneh' memang bikin aku semakin curiga saja.


Lalu aku lanjut memantau aktivitas di sekitar rumah Tante Isma, ternyata Tante Isma sudah pulang entah darimana.


Dan tak lupa aku juga memantau aktivitas di sekitar rumah ku, ternyata ku lihat Tante Isma sedang mengendap-endap masuk ke halaman rumah, lalu berjalan menuju samping rumah sambil menenteng sesuatu, semacam karung kecil tapi bagian atasnya diikat dengan tali.


Aku terus mengawasi nya dengan seksama, ku lihat Tante Isma memasukan ujung karung itu ke dalam Roster jendela kamar bunda.


Jelas saja aku sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan nya.


Lalu segera ku lihat CCTV di kamar bunda, ternyata yang di keluarkan Tante Isma dari dalam karung itu adalah seekor ular sepertinya jenis Cobra.


Tanpa pikir panjang aku langsung saja lari ke ruang family untuk memberitahu bunda.


"Bunda... Bunda, ada ular di kamar, Bunda jangan masuk ke kamar ya?" bisik ku di telinga bunda. Segera ku beritahu bunda dengan apa yang aku lihat baru saja.


Aku yang tadinya panik menurunkan volume suara seperti berbisik, karena takut terdengar oleh Tante Isma di luar.


"Kamu kenapa bisik-bisik Sayang?" bunda tampak heran melihatku terengah-engah dan panik.


"Sstt... Bunda ngomong nya pelan-pelan, pokoknya Bunda jangan masuk kamar ya, ada ular Bun, di kamar Bunda!" pinta ku, sambil ku tutupi mulutku dengan jari telunjuk.


"Masa sih Sayang, nggak mungkin deh di kamar Bunda ada ular, kamu ini ngawur ah!" pungkas bunda, tak percaya.


"Kok bisa sih Sayang, kamu memang habis dari mana? Bukannya kamu tadi ke kamar ya?" Bunda sepertinya masih belum percaya.


Ku paksa saja bunda untuk percaya, agar bunda tidak masuk ke dalam kamarnya.


"Habis dari luar Bun, tadi kita kan belum kunci pintu, pokoknya Bunda nggak boleh buka pintu kamar Bunda, bahaya, Bunda pokoknya tunggu disini jangan kemana-kemana, aku mau intip dulu orang itu masih ada apa nggak, please Bunda tiduran aja disini, tunggu aku!" tegas ku pada bunda.


Aku langsung saja tinggalkan bunda di ruang family sendirian. Aku segera bergegas mengambil handphone, lalu ku putar ulang data rekaman CCTV dari waktu kejadian, kulihat ternyata Tante Isma sudah pergi dan langsung pulang ke rumahnya.


Aku pun segera keluar untuk mencari bantuan, kebetulan ada beberapa orang di Pos Kamling, aku segera meminta bantuan pada mereka untuk menangkap ular itu di kamar bunda. Sesampainya di rumah, mereka pun segera menangkap ular itu beramai-ramai.


Tak lama, ular itu akhirnya tertangkap oleh warga.


Benar saja, itu ular jenis Cobra seperti yang aku lihat di rekaman CCTV.


Bunda tampak terkejut melihat salah satu warga yang membawa satu ekor ular Cobra dari dalam kamar nya.


"Bu, ini ular nya sudah ditangkap. Ini kok bisa ya Bu, ada ular masuk ke kamar Ibu?" Tanya Pak Rudi, salah satu warga yang bertugas menjaga keamanan di sekitar komplek.


"Iya, makasih ya Pak, saya juga nggak tahu gimana kejadiannya, saya di kasih tahu sama anak saya Pak," jawab bunda. Tampaknya bunda masih syok dengan apa yang dilihatnya baru saja.


"Oh gitu ya Bu, ini bahaya Bu, untung saja Ibu tidak kenapa-kenapa," cetus salah satu warga yang aku tidak tau namanya.


"Iya Pak, untung nya ada anak saya yang kasih tau," jelas bunda.


"Ini bagaimana ceritanya, Neng?" Pak Rudi langsung bertanya padaku.


Akupun menjelaskan pada mereka cerita palsu, karena jika ku ceritakan sejujurnya, misiku untuk membongkar perbuatan ayah sudah pasti akan gagal.


"Jadi gini Pak, tadi aku mau kunci pintu, tapi nggak sengaja lihat ada orang di halaman, aku penasaran, terus aku ikuti pelan-pelan sampai ujung tembok sana," sambil ku tunjukan tempatnya. "Lalu aku intip diam-diam, orang itu bawa... kayak karung gitu, terus di masukin ke jendela kamar Bunda, aku lihat seperti ada tali yang masih tergantung di jendela. Setelah aku lihat-lihat ternyata itu ekor ular Pak, aku langsung aja kasih tau Bunda," paparku, panjang lebar.


"Kalau gitu berarti jelas ini ada kejahatan Bu. Sebaik nya Ibu lebih waspada, saya khawatir orang itu memang berniat mencelakai Ibu atau keluarga Ibu, memang nya suami Ibu kemana?" Tanya salah satu warga lainnya, yang juga aku tidak tau namanya.


"Iya Pak, saya pasti lebih hati-hati lain waktu, kebetulan suami saya lagi kerja di luar kota Pak, saya tinggal berdua sama anak saya," sahut bunda.


"Oh kalau begitu kami pamit ya Bu, kalau ada apa-apa jangan sungkan kasih tau kita, malam ini saya dan rekan-rekan giliran ngeronda, nanti saya bantu awasi rumah Ibu dari luar," Pak Rudi pun akhirnya pamit setelah urusannya selesai.

__ADS_1


"Makasih banyak ya Bapak-bapak, maaf saya sudah merepotkan, apa enggak ngopi-ngopi dulu pak, saya buatkan dulu kopi," tawar bunda.


"Sama-sama Bu, nggak Bu makasih, saya langsung pamit aja, takut mengganggu istirahat Ibu, ini ular nya saya bawa saja ya Bu?" tutur Pak Rudi. Tangannya mencengkram erat kepala ular cobra itu.


"Iya Pak silahkan, bawa aja. Kalau gitu tunggu sebentar ya, saya bawakan kopi nya Pak, buat nanti ngeronda," pungkas bunda.


"Aduh jadi merepotkan, makasih banyak ya Bu," ujar Pak Rudi.


"Nggak kok Pak, saya sama sekali nggak repot, justru saya yang merepotkan Bapak-bapak, kalau begitu tunggu sebentar ya!" Tutur bunda. Kemudian bunda segera bergegas pergi ke dapur dengan terburu-buru.


Aku pun segera membantu bunda mengemas kopi dan beberapa makanan, kemudian mereka pamit pergi.


Bunda sepertinya masih merasa syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Akhirnya Bunda pun memulai obrolan denganku.


"Sayang, untung saja ada kamu Nak, kalau seandainya Bunda sendirian, gak tau gimana kejadiannya," lirih bunda, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Bunda, ada hal yang mau aku bicarakan sama Bunda, tapi Bunda bakalan percaya nggak sama aku?"


"Hal apa Sayang? Kamu cerita sama Bunda, Bunda pasti dengerin kok," bunda tampak penasaran dengan apa yang akan aku sampaikan padanya.


"Jadi sebenarnya aku tau siapa orang yang mau celakain Bunda,"


"Hah, memangnya siapa Nak?"


"Tante Isma Bun,"


"Hah, Tante Isma? Tapi dia baik selama ini sama kita kan?"


"Nah itu, makanya aku tanya Bunda percaya apa nggak sama aku?"


"Emang nya kamu lihat sendiri kalau Tante Isma yang mau celakain Bunda?"


"Bunda, aku bisa jamin kalau orang itu Tante Isma, dia itu jahat Bun, ini bukan yang pertama kali, yang kemarin numpahin minyak di teras depan juga aku yakin itu Tante Isma," aku coba menjelaskan pada bunda. "waktu aku lagi masak, aku lihat ada orang di belakang rumah, sampai aku intip dari roster. Orang itu jelas Tante Isma, aku gak mungkin salah lihat makanya aku nyamperin Bunda mau ngasih tau, tapi Bunda malah jalan keluar sampe aku ikutin Bunda dari belakang dan ternyata ada minyak di teras depan, siapa coba Bun yang numpahin minyak, kita kan cuma berdua di rumah ini,"


Setelah aku ceritakan, bunda tampak nya masih bingung dan belum percaya.


"Apa kamu yakin Sayang, kalau itu Tante Isma? Tapi kenapa dia mau celakain Bunda? Apa Bunda ada salah sama dia?"


Aku pun berpikir sejenak, karena aku belum tahu apa sebenarnya motif Tante Isma sampai ingin mencelakai Bunda separah itu.


"Aku nggak tau Bun kalau soal itu, tapi aku bisa pastiin dan aku bisa jamin kalau itu Tante Isma, aku yakin 100%."


"Kalau gitu kita harus cari bukti Sayang, soalnya ini sudah termasuk kasus kejahatan, tapi kenapa ya Tante Isma sampai mau celakain Bunda? Bunda rasa Bunda nggak pernah bikin salah sama dia, apa karena dia iri sama Bunda karena Bunda lagi hamil?"


"Aku pasti bakalan dapat bukti nya Bun, mungkin aja gitu Bun, makanya kemarin aku sampe minta tolong sama Mang Nanang dan Mang Barus buat jagain Bunda,"


"Kamu kenapa baru cerita sekarang sama Bunda?"


"Karena aku ngerasa kita diawasi terus Bun, tiap kali kita lagi di luar, aku ngerasa ada orang yang lagi ngintip semenjak Bunda pergi sama Tante Isma, itu bukti nya dia kok bisa tau kalau bunda pesan makanan,"


"Ini harus diatasi Nak, kalau nggak Bunda khawatir dia celakain kamu juga, Bunda harus telepon ayah,"


"Eh jangan Bun, jangan kasih tau ayah dulu,"


"Loh, kenapa?"


"Maksudnya kita cari bukti dulu Bun, nanti yang ada ayah malah marah sama Bunda karena dikira Bunda mengada-ngada,"


"Tapi kita harus minta tolong sama siapa Nak? Kalau bukan sama ayah,"


"Pokoknya bunda jangan bilang dulu sama ayah, maaf ya Bunda bukan nya aku ngatur-ngatur Bunda, tapi biar aku nanti usahakan cari bukti dulu, baru kita bongkar semuanya sekalian depan polisi,"


"Ya udah deh, kali ini Bunda ikutin kamu aja Nak, Bunda percaya sama kamu, emang kita harus lapor polisi kalau gini cara nya!"


"Ok Bunda, makasih ya Bunda udah percaya sama aku,"


"Sama-sama Sayang, tapi ingat, kamu juga harus extra hati-hati, di luar sana Bunda juga kan nggak bisa ngawasin kamu atau nanti Bunda minta pegawai toko buat ngawasin kamu ya? Nganterin kamu kemanapun kamu pergi,"


"Emm nggak usah Bunda, aku bisa jaga diri kok, aku juga pasti hati-hati,"


"Tapi, Bunda khawatir sama kamu Nak …"


"Bunda tenang aja, aku pasti bakalan lebih hati-hati kok,"


"Ya udah deh kalau gitu, besok kamu mau kemana?"


"Emm... besok aku mau ke sekolah Bun, soal nya mau ada pengumuman katanya,"


"Ya udah, sekarang kita tidur aja kalau gitu, takut nya besok kamu kesiangan,"

__ADS_1


"Iya Bunda, Bunda juga tidur ya ...."


Usai berbincang-bincang, aku dan bunda pun segera beristirahat, karena sudah hampir larut malam.


__ADS_2