
*****
Hari sudah menjelang malam, namun bunda tak kunjung datang, aku mulai merasa khawatir takut terjadi apa-apa pada bunda, lalu aku coba menelpon bunda namun Nomor Handphone nya tidak aktif.
Aku melihat jam ternyata sekarang sudah pukul 20.45 malam hari.
Bunda belum juga kembali. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk pergi mencari bunda, aku kunci semua pintu dan jendela agar aman, aku mulai berjalan keluar dari halaman rumah lalu aku berhenti sebentar, karena aku bingung harus mencari bunda kemana, aku ingat saat bunda mengajak aku belanja keperluan toko dan sempat membeli parfum di sebuah toko samping pasar.
Aku pikir mungkin itu toko parfum langganan bunda, kemudian aku memutuskan untuk mencari bunda kesana, karena aku rasa bunda tidak mungkin main di rumah tetangga hingga selarut ini.
Aku pun segera mencari ojek, berharap masih ada ojek atau pun angkutan umum di jam segini, namun belum sempat aku mendapatkan ojek, bunda dan Tante Isma datang dari arah jalan raya.
"Bunda ... Bunda," aku pun memanggil bunda dari kejauhan dan segera berlari menghampiri mereka.
"Loh, Sherin? Kamu mau kemana, Nak?" sahut bunda.
"Aku mau cari Bunda, habis nya Bunda lama pergi nya, aku kan sendirian di rumah, jadi nya aku takut," aku sengaja berbohong pada bunda, karena aku merasa Tante Isma sedikit mencurigakan.
Tiba-tiba Tante Isma menimpali ucapanku. "Maaf ya Sherin, tadi Tante ke asyikan ngajakin bundamu jalan," cetusnya. Akupun meresponnya.
"Iya nggak apa-apa kok tante"
"Yaudah, sekarang kita pulang yuk, udah malem," timpal bunda.
Akhir nya kita kembali ke rumah masing-masing, sampai ke depan pintu, aku mengambil kunci rumah di tempat biasa menyimpan kunci, sekilas aku melihat ada seseorang dari ujung mata ku di balik pagar besi halaman rumah, namun ketika aku lihat ternyata tidak ada siapa pun, aku pun segera membawa kunci dan masuk ke dalam rumah bersama bunda dan mengunci pintunya kembali.
Aku tak sempat bertanya apa-apa pada bunda, karena aku lihat bunda sudah lelah.
"Sherin, ini bunda bawain makanan buat kamu, kamu makan ya! Bunda mau bersih-bersih dulu, habis makan kamu tidur, istirahat, besok kan kamu harus sekolah," ujar bunda, sembari menyodorkan paper bag yang bunda bawa.
"Iya deh Bun, Bunda juga langsung istirahat aja, aku mau nonton TV dulu sambil makan, habis itu langsung tidur. Eh, emang bunda udah makan?" Aku ingat tadi sore bunda belum sempat makan.
"Bunda udah makan tadi sama Tante Isma,"
"Mmm ... iya deh, syukur kalau bunda udah makan,"
"Yaudah, Bunda ke kamar dulu ya?"
"Iya Bun."
Bunda pun segera pergi ke Kamar nya, aku pun menyalakan TV dan membuka paper bag lalu memakan cemilan sambil menonton TV kemudian setelah itu aku pun kembali ke kamar bersiap untuk tidur.
__ADS_1
****
Pagi hari, aku terbangun oleh suara berisik di kamar mandi, setelah kulihat, ternyata itu suara bunda yang sedang muntah-muntah, sebenarnya hari ini aku berencana untuk bangun siang, karena sekolah sedang bebas, namun melihat keadaan bunda, aku mengurungkan niatku dan segera menghampiri bunda .
"Bunda ... Bunda kenapa?" tanya ku.
"Bunda nggak tau, tiba-tiba saja kepala Bunda pusing, mungkin Bunda masuk angin," cetus bunda.
"Yaudah sini Bun, aku pijitin ya? Atau Bunda mau aku ambilin obat?"
"Iya, Bunda minta tolong ambilin Tolak Angin ya di toko, Bunda nggak kuat, perut Bunda mual,"
"Yaudah, Bunda istirahat dulu di kamar ya? Aku antar bunda ke kamar dulu."
Saat aku hendak mengantarkan bunda ke kamar, tiba-tiba saja bunda pingsan dan terhuyung ke arahku, aku kaget dan sedikit kewalahan menopang tubuh bunda yang berat nya sekitar 58 kg, sedangkan berat badan ku hanya 47 kg.
Untung saja aku berhasil menahan bunda, sehingga bunda tidak terjatuh ke lantai, perlahan aku baringkan bunda di lantai, namun aku pun panik melihat keadaan bunda seperti ini.
Akhir nya, terpaksa aku tinggalkan bunda sendirian dalam keadaan pingsan. Aku segera berlari ke toko untuk meminta tolong pada para pekerja toko milik bunda.
Tak lama, mereka datang ke rumah dan membawa bunda ke ruang family, aku bingung harus bagaimana, lalu Mang Barus salah satu pekerja toko menyuruhku mengambil minyak kayu putih, kemudian aku balurkan ke bagian-bagian tubuh bunda, lalu aku dekatkan ke hidung nya agar aroma kayu putih nya terhirup oleh bunda.
Tapi setelah beberapa jam, ternyata bunda masih belum sadar kan diri. Akhirnya aku membawa bunda ke klinik terdekat dengan di bantu oleh Mang Barus dan teman nya.
Dokter kemudian memeriksa keadaan bunda, dan mendapati ternyata ada darah yang mengalir dari bagian kewanitaan bunda, setelah melewati pemeriksaan, Dokter hanya memasang Infus di tangan bunda.
Dokter Klinik menyarankan agar bunda segera dibawa ke Spesialis Kandungan setelah sadar dari pingsannya. Aku yang tidak tahu apa-apa, hanya bingung dan panik, tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan bagaimana dengan biaya berobat bunda, sementara aku tidak membawa uang sepeser pun, aku hanya membawa Handphone saja di saku bajuku, untuk membawa bunda ke Klinik saja harus memakai TAXI Online. Itupun mang Barus yang membayarnya.
Kemudian aku menghampiri mang Barus dan menanyakan perihal ayah, ternyata kata Mang Barus Handphone ayah tidak aktif.
Mang Barus pun menanyakan keadaan bunda, aku hanya menceritakan bahwa bunda sedang di Infus dan belum siuman, lalu menceritakan soal biaya berobat bunda, beruntung mang Nanang, pegawai bunda yang satunya membawa uang, aku akhirnya merasa lega.
Aku segera kembali ke ruangan bunda dan menunggunya, aku merasa sedih dengan kondisi bunda, aku merasa ... hanya bunda yang aku miliki saat ini, ayah sepertinya sudah tak peduli padaku dan juga bunda, ayah juga tak jelas keberadaan nya.
"Sherin, kenapa kamu nangis, Nak?" tanya bunda.
"Bunda, akhirnya Bunda sadar juga, Bunda sakit ya?" Aku tersadar dari lamunan dan ku lihat ternyata bunda sudah sadar dari pingsannya.
"Bunda ada dimana ini? Kok Bunda di infus segala, Bunda kenapa?" Bunda tampak masih bingung dengan apa yang di alami nya.
"Bunda ada di Klinik, tadi Bunda pingsan, aku khawatir banget sama Bunda,"
__ADS_1
"Aduh kok Bunda bisa pingsan ya? Maaf ya Sayang, Bunda udah nyusahin kamu!"
"Bunda jangan bicara kayak gitu, Bunda gak pernah kok nyusahin aku, justru aku yang udah sering banget nyusahin Bunda, Bunda cepet sembuh ya? Bunda harus sehat pokoknya!"
"Iya, Nak! Bunda sehat kok, cuma kecapean aja, kamu tenang ya, jangan nangis." Bunda menenangkan aku agar tidak khawatir lagi.
Tak lama Dokter datang dan memeriksa kembali keadaan bunda dan bertanya apa yang terjadi hingga bunda pingsan.
"Syukurlah, Ibu sudah sadar, tekanan darah Ibu rendah dan Ibu mengalami pendarahan, sebenarnya apa yang terjadi kepada Ibu, sehingga Ibu jatuh pingsan?" tanya Dokter.
"Saya pendarahan Dok? Pendarahan bagaimana ya? Saya ingat tadi pagi tiba-tiba saya pusing dan mual-mual Dok, kemudian saya tidak ingat sudah ada disini," bunda menjawab seperti masih bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Mungkin itu tanda-tanda kehamilan Bu, namun saya belum bisa memastikan, sebaiknya Ibu melakukan tes urin."
"Tapi saya merasa tidak pernah terlambat datang bulan Dok, apa mungkin saya hamil?"
"Kalau begitu lebih baik Ibu melakukan Tes Urin terlebih dahulu, apa Ibu sudah kuat berdiri?"
Bunda pun mencoba untuk bangun.
"Ah ... perut saya sakit Dok," bunda meringis kesakitan. Lalu perawat datang dan membantu bunda untuk bangun dari tempat tidur.
"Ibu sebaiknya hati-hati, di khawatir kan Ibu memang sedang mengandung, mungkin pendarahan yang ibu alami itu merupakan tanda-tanda janin Ibu tidak sehat."
Kemudian, Dokter menyiapkan peralatan untuk bunda lalu perawat membantu bunda masuk ke toilet, aku hanya menunggu di ruang bunda dirawat.
Tak lama, bunda kembali dengan tertatih-tatih dan kembali tidur, ku lihat perawat membawa toples kecil berisi cairan kemudian membawanya ke ruang khusus.
Aku mulai menanyakan keadaan bunda.
"Bun, Bunda hamil lagi ya? Berarti aku bakalan punya adik dong?"
"Bunda belum tahu Sayang, kamu nggak apa-apa kan punya adik?"
"Ya nggak apa-apa lah Bun, aku malah berharap banget bisa punya adik,"
"Masa ... " bunda malah mencairkan suasana dengan memulai candaan nya pada ku.
"Iya Bunda, aku pasti seneng banget kalau aku beneran bakalan punya adik."
"Mmm ... kalau ternyata Bunda nggak hamil gimana?"
__ADS_1
"Ya ... Bunda harus hamil, nanti minta sama ayah," aku balas candaan bunda. Bunda pun akhir nya tertawa.
Saat kondisi bunda seperti ini, ayah malah pergi entah kemana, ayah tak bisa dihubungi sama sekali.