
*****
1 minggu berlalu.
Hari ini aku akan membongkar semua perbuatan Tante Isma dan juga ayah. Sekarang bunda sudah aman disini, kini saat nya aku membalas perbuatan jahat Tante Isma.
Akupun pamit pada bunda dengan alasan akan mengurus pendaftaran kuliah, sekalian mengecek Toko dan Perusahaan bunda, bunda pun memberiku izin.
Setelah berpamitan pada bunda, aku dan Zena segera kembali ke rumah lamaku.
Rumah bunda sudah kosong selama 1 minggu, tapi keadaan di rumahku tak pernah luput dari pengawasan.
Dalam satu minggu ini, ayah juga tidak pulang ke rumah sama sekali.
Sesampainya di kampung halamanku nanti, aku berencana untuk kursus mengemudi terlebih dahulu sebelum melabrak teman bunda itu.
Perjalanan jauh memang sangat melelahkan. Setelah sampai dirumah, aku hanya mampir sebentar mengambil laptopku lalu bergegas menuju rumah Zena.
Seperti biasa suasana rumah Zena memang selalu terlihat sepi, entah ayah dan ibu nya kapan pulang dan pergi dari kediamannya itu.
Karena aku sendiri di rumah, jadi Zena kukuh menyuruh ku tinggal di rumah nya untuk sementara waktu. Aku hanya berencana menginap semalam saja karena khawatir menjadi masalah jika aku tinggal di rumah Zena.
Pagi hari, aku sarapan bersama Zen dan beberapa asisten di rumah Zena. Ternyata, walaupun Zena itu sudah seperti Sultan, tapi dia menganggap para pegawai di sana seperti keluarganya sendiri, sehingga makan pun bersama-sama di meja yang sama, para pekerja di rumah Zen layak nya para nyonya dan tuan di dalam rumah mewah dan megah milik Zena itu.
Usai sarapan, aku berencana untuk mengunjungi kantor perusahaan bunda dan juga toko bunda terlebih dahulu sebelum aku mulai kursus mengemudi.
Zena selalu menemani kemana pun aku pergi. Sesampainya di Kantor Perusahaan bunda, Zena terlihat terkejut karena ternyata Perusahaan milik bunda adalah partner kerja sama Perusahaan milik Zena, itu berarti bunda sama sultan nya seperti Zen. Pantas saja aku lihat bunda tidak pernah kekurangan materi walaupun hidup dalam kesederhanaan.
Karena aku menggantikan bunda untuk sementara waktu, aku pun berusaha memahami sedikit demi sedikit tentang perusahaan bunda dengan dibantu oleh Zena dan orang kepercayaan bunda.
Aku jadi tahu, ternyata aset bunda sangat lah banyak, bunda punya rumah mewah, mobil mewah, bunda punya segalanya.
Tapi satu hal yang belum aku mengerti, kenapa bunda menyembunyikan semua ini selama ini.
Hanya setengah hari aku berkunjung ke Kantor Perusahaan bunda. Setelah itu, aku pergi ke tempat kursus dan mulai belajar mengemudi.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa dua minggu sudah berlalu, aku pun sudah bisa mengendarai mobil ku sendiri.
*****
Hari ini, aku dan Zena mulai menelusuri jejak ayah, aku membuntuti ayah sesuai arahan GPS di handphone ayah.
Ternyata ayah kerja di sebuah perusahaan, sepertinya itu perusahaan konveksi yang tak jauh dari terminal kota.
Ayah juga tinggal di kontrakan kecil sekitar area konveksi.
Pantas saja ayah tidak selalu ada di rumah kelam itu, ternyata ayah hanya sesekali saja kesana untuk menikmati perselingkuhan nya dengan Tante Isma.
Sekarang aku tahu ternyata rumah kelam itu milik Tante Isma, hadiah pernikahan dari suaminya, yaitu ayah tiri Zen.
Setelah aku mengetahui kegiatan ayah sehari-hari, aku pun mulai menyelidiki Tante Isma, aku juga mengamati kegiatan nya sehari-hari.
Akhirnya setelah 3 hari mengamati pergerakan Tante Isma, aku mendapati hasil.
Ternyata Tante Isma juga menjalankan bisnis gelap yaitu rumah Bordil.
Beberapa malam terakhir, Tante Isma lebih sering pergi keluar. Jika tidak pergi menemui ayah, Tante Isma pasti pergi ke rumah bordil miliknya.
Selain itu, Tante Isma juga sering sekali menjebak para wanita yang tengah kesulitan ekonomi, termasuk anak-anak sekolah yang terlihat nakal untuk di jual pada para laki-laki hidung belang.
Pantas saja dia bisa lolos dari jeratan polisi, ternyata dia sudah terbiasa dengan aksi kejahatan semacam itu, sehingga dia sudah tahu caranya menghindari jeratan polisi, menghilangkan bukti atau merekayasa keadaan.
Mobil agya warna merah itu pun sudah tidak ada lagi, entah kemana Tante Isma membuangnya.
Lalu apa sebenarnya motif Tante Isma melakukan perselingkuhan dengan ayah? Tante Isma tidak kekurangan materi, juga ada banyak laki-laki yang lebih tampan dan mapan dari ayah, banyak sekali laki-laki kaya yang datang ke rumah bordil nya itu.
Ayah tiri Zena pun yang tak lain adalah suaminya sendiri tidak kalah tampan dari ayah, sudah mapan dan juga orang baik, setahuku.
Hal apa sebenarnya yang Tante Isma lihat dari ayah? Yang pasti, mungkin bukan karena harta.
Aku pun mencari cara agar dapat memasang kamera CCTV di rumah bordil milik Tante Isma itu. Beruntung Zena bisa melakukan nya dengan baik, Zena membayar seseorang dengan upah yang besar untuk masuk ke dalam rumah bordil itu dan memasang CCTV di sana tanpa ada yang mengetahuinya.
Aku tidak tahu apa ayah tahu tentang kegiatan Tante Isma sebagai germo itu.
"Zen semua bukti sudah terkumpul, apa kita harus pergi ke kantor polisi sekarang?" Aku meminta saran pada Zena, setelah semua bukti yang sudah ada dalam genggaman.
"Tunggu dulu Sher sepertinya ada yang kurang, kita jangan gegabah!" Sahut Zena.
"Tapi kenapa Zen?" Aku refleks mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari Zena.
__ADS_1
"Coba deh kamu pikirin baik-baik, kalau Tante Isma di tangkap apa dia tidak akan bawa-bawa ayah kamu?" Tanya Zena.
Aku berpikir sejenak, benar apa yang dikatakan oleh Zena. Mungkin jika Tante Isma tertangkap, ayah kemungkinan besar akan terkena imbasnya.
Jika begitu, mungkin tetap saja pada akhirnya bunda pun akan mengetahui segalanya, bunda akan tahu jika ayah telah selingkuh dengan temannya sendiri dan hal itu yang membuatku merasa takut, aku hanya takut akan berpengaruh pada kesehatan bunda dan calon adik ku jika bunda mengetahui hal itu.
"Aduh kenapa jadi rumit gini sih! Aku pusing Zen, aku jadi serba salah," keluhku.
"Kamu yang sabar ya, semuanya pasti ada akhir yang baik, sabar ya?" Zena berusaha menenangkan aku, walaupun aku tahu Zena pun pasti sedang memikirkan cara lain untuk membongkar semua perbuatan bejat Tante Isma.
"Iya Zen, maaf aku jadi ngelibatin kamu dalam urusan keluarga ku," lirihku. Rasanya air mataku sudah hampir tak terbendung lagi.
"Nggak kok Sher, masalah ini juga ada sangkut paut nya juga sama keluarga ku, jadi aku pun harus cari bukti perselingkuhan ayah," ucap Zena.
"Tapi … bukan nya bukti udah ada ya Zen?"
"Iya Sher, tapi satu bukti aja nggak cukup Sher, ibuku orang yang nya acuh, kalau ayah cuma kelihatan ada di rumah wanita lain, ayah sering kayak gitu karena memang teman-teman ayah rata-rata wanita," Zena ternyata ingin membuktikan pada ibunya bahwa ayah tirinya itu bukan pria yang pantas untuk cintai.
"Oh gitu ya Zen?"
"Iya Sher, kalau bisa, harusnya dapetin bukti pernikahan ayah dan Tante Isma itu,"
"Kalau gitu, biar nanti aku bantu tanya sama bunda ya Zen? Siapa tau aja kan bunda bisa kasih petunjuk," aku baru teringat, mungkin saja bunda tahu bagaimana kehidupan Tante Isma karena mereka berteman.
"Makasih ya Sher, tapi sekarang lebih baik kita fokus dulu aja sama masalah kamu, biar selesai satu per satu,"
"Iya deh kalau gitu!"
Akhirnya aku dan Zena memutuskan untuk segera kembali ke rumah, rasa lelah karena beraktivitas full membuatku ingin segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
Sesampainya di rumah Zena aku tak banyak berbicara dengannya, usai membersihkan diri aku tak melakukan aktivitas lain, begitupun dengan Zena.
Sebenarnya aku tidak ingin tinggal satu atap dengan Zena, karena khawatir menimbulkan fitnah.
Tapi Zena kukuh melarang ku untuk pulang ke rumah bunda. Katanya khawatir ada orang yang berniat untuk mencelakai aku.
Sebenarnya aku tidak hanya tinggal berdua saja dengan Zena, ada juga beberapa orang asisten rumah tangga yang tinggal di sana.
*****
Pagi hari, usai sarapan.
Ku lihat ayah tengah asyik menikmati sarapan bersama selingkuhannya, rupanya Tante Isma sudah menginap sedari malam disana.
Hatiku terbakar emosi, aku benar-benar sangat kesal dengan perbuatan ayah. Aku sudah tak dapat mentolerir kegilaan ayah dan memutuskan untuk mengakhiri masalah itu detik ini juga.
Karena mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya.
Rasanya aku tak tahan ingin sekali aku menjambak rambut Tante Isma sambil ku cakar habis wajah munafik nya itu.
Kemudian aku segera menemui Zena dan menceritakan apa yang baru saja aku lihat, Zena pun bersedia menemaniku melabrak ayah dan Tante Isma di rumah ku.
Sesampainya di rumahku, aku langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu, kebetulan pintunya tidak di kunci.
Kucari-cari ternyata ayah dan Tante Isma tengah asyik bermesraan di ruang family.
"Ayah ... Tante Isma?" Panggil ku. Mereka berdua langsung terperanjat dari sofa dan tampak kaget melihat kedatangan ku.
Tante Isma langsung terburu-buru merapikan kancing bajunya yang setengah terbuka.
"Sherin? Kenapa kamu datang nggak ketuk pintu?" Tanya ayah dengan raut wajah yang kusut dan panik.
"Kenapa memang nya Yah? Ayah takut ketahuan karena lagi selingkuh ya sama Tante Isma?" Sindirku.
"Lancang kamu seenak nya bicara, kamu ngapain kesini bawa laki-laki?" Bentak ayah. Mengalihkan topik.
"Cukup Yah! Ayah nggak usah ngelak, Ayah benar-benar tega sama bunda. Kenapa Ayah selingkuh sama Tante Isma? Tante Isma itu bukan wanita baik-baik Yah, apa Ayah tau gimana bejat nya Tante Isma?" Aku tak segan-segan melawan ucapan ayah.
"Sherin, Ayah nggak pernah didik kamu bicara nggak sopan sama orang tua, kamu nggak usah ikut campur urusan Ayah," ayah tidak terima dengan ucapanku.
Akupun langsung saja merespon ucapan ayah. "Aku bakalan menghargai orang yang pantas untuk dihargai Yah. Ayah gak pantas dihargai sebagai orang tua,"
"Kurang ajar kamu ya," teriak ayah.
Tangannya mengayun tinggi hendak menamparku. Namun dengan tangkas Zen menahan tangan ayah, hingga tamparan ayah tak sempat mengenaiku.
"Cukup Om, jangan pernah sakitin Sherin! Om udah jelas ngelakuin hal yang salah, lebih baik Om akui saja kesalahan Om." timpal Zena sambil menghempaskan tangan ayah.
"Siapa kamu? Anak kecil aja berani-beraninya ikut campur urusan orang. Oh, jadi kamu yang ngajarin Sherin jadi kurang ajar sama saya?" Bentak ayah pada Zen.
__ADS_1
Aku segera menimpali ucapan ayah karena aku tak ingin Zena terkena sasaran amarah ayah.
"Cukup Yah, tolong jangan libatkan teman ku, lebih baik Ayah akui saja kesalahan Ayah, jelas-jelas Ayah selingkuh sama Wanita bejat itu," sambil ku tunjukan jari telunjukku ke arah wajah Tante Isma.
"Apa maksud kamu Sherin? Jangan kurang ajar ya kamu sama Saya!" Timpal Tante Isma, merasa tak terima dengan makian ku.
"Udahlah Tan, Aku udah tau kok kelakuan bejat kamu, siap-siap aja Tan sebentar lagi Tante bakalan kena Azab. Aku juga bakalan laporin Tante ke polisi." Aku tak segan-segan memakinya di hadapan ayah.
Rasanya aku ingin sekali menimpali wajah munafik itu dengan kotoran.
Apalagi saat teringat bagaimana Tante Isma menawarkan diri pada ayah di rumah kelam itu.
"Jangan kurang ajar ya kamu Sherin, awas aja kalau berani macam-macam sama saya," ancam nya.
Aku sedikitpun tidak merasa takut dengan ancamannya itu, entah darimana datangnya keberanian ku untuk menghadapi orang yang lebih tua.
"Nggak usah pura-pura lah Tan, aku muak lihat wanita berhati busuk kayak Tante, Munafik," hina ku. "Harusnya Tante mikir, Tante udah tua sebentar lagi mati, banyak-banyak tobat Tan. Lihat aja Tan, aku bakalan melaporkan kelakuan Tante sama suami Tante." Aku pun kembali mengancamnya.
"Kamu ...." Tante Isma hendak melayangkan tamparan ke wajah ku. Tapi, lagi-lagi Zena melindungi ku.
"Jangan pernah Tante sentuh Sherin seujung kuku pun, Sherin terlalu suci untuk tersentuh barang kotor seperti Tante, Sebaik nya Tante cepat bertaubat sebelum Tante di Azab." Bentak Zena.
Sungguh aku tak menyangka ternyata lidah Zena setajam itu, tapi apa yang dikatakan Zena memanglah benar.
Tante Isma harus mendapat pukulan keras di hatinya, agar dia segera menyadari perbuatan bejat nya itu.
"Dasar kurang ajar kalian, awas aja kalian ya, tunggu saja, saya akan balas perbuatan kalian." Tante Isma sangat marah, dia memberi ancaman sambil menunjuk ke arah Zena dan aku.
"Lebih baik Tante pergi dari sini sebelum terlambat, Tante gak pantes ada di sini, rumah ini terlalu suci buat Tante."
Aku segera menimpali ucapannya dan segera mengusirnya dari rumahku.
Kemudian Tante Isma pun bergegas pergi dengan raut wajah yang tak enak dipandang.
"Udah puas kamu Sherin? Sekarang Tante Isma udah pergi dari sini!" Bentak ayah.
"Kenapa? Ayah nggak rela ya selingkuhan Ayah pergi? Asal ayah tau, aku sama sekali gak puas kalau cuma sedikit memakinya kayak gitu, nanti ayah lihat aja aku bakal bikin selingkuhan ayah itu hidup menderita sampai liang lahat pun aku bakalan bikin dia sengsara." cibir ku pada ayah.
"Diam kamu! Dasar anak kurang ajar. Kamu nggak usah ikut campur urusan Ayah, lebih baik kamu urus saja diri kamu sendiri. Gara-gara ibu kamu nggak becus didik anak, kelakuannya jadi kayak gini." Ayah semakin marah dan membentak ku dengan suara tinggi.
"Ayah yang diam!" Aku pun balas membentak ayah. "Ayah nggak usah salahin bunda, kurang apa bunda sama Ayah? Selama ini Ayah numpang hidup sama bunda, tapi ini balasan Ayah?"
Ayah terdiam sejenak tak merespon ucapanku.
"Apa ayah tau, bunda berkali-kali hampir celaka akibat perbuatan selingkuhan Ayah. Bunda itu lagi hamil Yah, anak Ayah! Tapi Ayah malah tega khianati bunda kayak gini? Dimana hati nurani Ayah hah? Ayah gak segan-segan selingkuh sama germo itu dan lebih milih ninggalin bunda, apa yang Ayah lihat darinya Yah? Kurang cantik apa istri ayah? Apa Ayah gak bisa bedain mana wanita baik-baik dan serigala berbulu domba?" Akupun melanjutkan ucapanku yang selama ini selalu membuat dadaku sesak jika mengingatnya.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mencuat di benakku untuk ayah.
"Kamu sekarang mulai berani ya sama Ayah? Apa gara-gara laki-laki itu? Apapun yang Ayah lakukan nggak ada urusan nya sama kamu, Ayah nggak pernah ngerugiin kamu Sherin dan kamu jangan fitnah orang yang nggak tau apa-apa, jadi kamu nggak usah ikut campur," pekiknya.
"Ada Yah! Jelas ada urusan nya sama aku, aku hampir berkali-kali celaka demi ngelindungin bunda dari kejahatan selingkuhan Ayah. Aku kayak gini juga karena Ayah nggak bisa ngehargain diri sendiri. Aku nggak fitnah Yah, aku punya bukti kalau Tante Isma itu wanita bejat! Jelas aku harus ikut campur, karena masalah ini menyangkut keselamatan bunda,"
"Halahhh udah lah, terserah kamu aja mau ngomong apa Sherin, Ayah kecewa punya anak yang kurang ajar kayak kamu," tegas ayah.
Ayah hendak pergi dari rumah namun aku buru-buru menahan nya.
"Yah … tolong lah, jangan pergi dulu. Ayah harus selesaikan masalah ini, Ayah harus mempertanggungjawabkan perbuatan Ayah! Asal Ayah tau, aku lebih kecewa sama Ayah karena aku nggak beruntung punya Ayah kaya Ayah, Ayah bakalan menyesal kalau Ayah pergi sekarang," aku sengaja mengancamnya agar ayah tak pergi.
"Mau apa lagi kamu, hah? Ayah malas lama-lama disini, bikin emosi aja." Ketus nya.
"Aku mau Ayah lihat ini, semua bukti ucapan ku ada disini Yah!" Tutur ku dengan nada yang tenang.
"Halahhh, bodo amat! Ayah udah gak peduli sama anak durhaka kayak kamu!" Hardik nya.
"Terserah Ayah mau bilang apa! Tapi Ayah bakalan nyesel seumur hidup kalau Ayah nggak mau lihat apa yang mau aku tunjukan sama Ayah." Ancam ku. "Tolong Yah … sekali ini saja, ini permintaan ku yang pertama dan terakhir sama Ayah, kalau emang Ayah nggak pernah mengharapkan aku ada di hidup Ayah, setelah ini aku bakalan pergi."
Ayah beralih menatapku dengan tatapan marah.
Aku tak ingin banyak berbicara lagi, dengan segera ku sodor ponsel ku pada ayah yang sedang menunjukan rekaman video semua kejahatan Tante Isma, berikut rekaman tentang bisnis gelap Tante Isma.
Ayah sepertinya Syok setelah melihat video itu, dan hanya terdiam mematung, tak bicara sepatah katapun.
Aku pun tak melontarkan perkataan apapun lagi pada ayah, aku tahu ayah pasti sedang bergelut dengan dirinya sendiri setelah melihat sendiri bagaimana bejatnya perbuatan selingkuhannya itu.
Suasana menjadi hening seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Semua orang terdiam tanpa kata.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, setelah kulihat ternyata yang datang adalah bunda. Aku terkejut bukan main ketika melihat bunda sudah berdiri di ambang pintu, menatap semua orang terutama ayah.
Jantungku berdegup kencang seolah akan melompat keluar karena bunda tiba-tiba saja datang dalam keadaan yang tidak tepat.
__ADS_1