
*****
Saat aku dan bunda sedang asik bercanda, Dokter akhirnya datang dan menghampiri kami.
"Gimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Dokter.
"Saya sudah merasa lebih baik Dok, kepala saya sudah tidak pusing lagi, gimana hasil pemeriksaan nya Dok?" sahut bunda. Dokter pun tersenyum.
"Selamat ya Bu, hasil nya Ibu Positif hamil," cetus Dokter. Aku begitu gembira mendengar kabar baik ini, lalu Dokter pun melanjutkan perkataan nya.
"Tapi saya sarankan agar Ibu dirujuk ke Rumah Sakit atau Dokter Spesialis Kandungan ya, agar Ibu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut terkait janin Ibu, apa Ibu setuju?" lanjut Dokter.
"Baik Dok, saya akan mengikuti apa yang Dokter anjurkan saja."
"Kalau begitu, silahkan dari pihak keluarga menemui bagian Administrasi terlebih dahulu dan mengurus pemberangkatannya untuk Ibu,"
"Mmm... tapi Dok, saya hanya ada anak saya ini, suami saya sudah berangkat kerja ke luar kota, apa tidak masalah kalau saya hanya didampingi oleh anak saya?"
"Oh, berapa usia anak Ibu?"
"19 tahun, Dok."
" Sudah punya KTP?"
"Belum, Dok."
"Kalau keluarga yang lain?"
"Keluarga saya yang lain jauh Dok, saya disini mengembara,"
"Kalau begitu sebaiknya Ibu diskusikan terlebih dahulu dengan anak Ibu, setelah memiliki keputusan, nanti Ibu bisa memberitahu kami kembali."
"Baik, Dok. Terima kasih,"
"Sama-sama Ibu, kalau begitu saya tinggal dulu ya."
Dokter pun pergi meninggalkan kami, kemudian aku dan bunda mulai berdiskusi.
"Sayang, kamu sebenarnya kesini bawa Bunda sama siapa, Nak?"
"Sama Mang Barus dan Mang Nanang Bun,"
"Oh ... terus mereka kemana sekarang?"
"Ada Bun, di luar lagi nunggu kita,"
__ADS_1
"Kalau gitu Bunda minta tolong panggilin Mang Barus sama Mang Nanang ya Sayang,"
"Yaudah Bun, Bunda tunggu sebentar ya, aku keluar dulu,"
Kemudian aku segera bergegas untuk memanggil Mang Barus dan Mang Nanang, tak butuh waktu lama aku pun kembali bersama mereka.
Setelah itu Mang Barus dan Mang Nanang membantu mempersiapkan kebutuhan dan keperluan bunda sesuai perintah bunda, serta mengurus semuanya.
Setelah semua persiapan sudah diatur dan bunda pun sudah mengganti pakaian, kami berangkat menuju Dokter Spesialis Kandungan yang dianjurkan oleh Dokter Klinik. Termasuk Mang Barus dan Mang Nanang pun ikut ke sana untuk membantu bunda.
Sesampainya disana, bunda pun segera mendapatkan penanganan, ku lihat bunda sedang di periksa oleh Dokter, aku bisa melihat janin di perut bunda melalui layar monitor.
Walaupun aku tidak mengerti tapi aku bisa melihat bentuk dari janin calon adik ku nanti, setelah selesai pemeriksaan, bunda dialihkan ke ruang perawatan untuk beristirahat, bunda juga diberikan banyak obat oleh perawat.
Malam hari kami pun beristirahat setelah seharian mengurus pengobatan bunda, Mang Barus dan Mang Nanang tidak ikut menginap karena mungkin merasa canggung, mereka akan kembali esok hari.
****
Keesokan pagi, ayah menghubungi bunda, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu.
Sekitar pukul 7.00 pagi hari, aku keluar untuk membeli sarapan, aku berjalan agak jauh dari tempat bunda dirawat dan menemukan penjual bubur ayam, aku pun memesan 2 porsi bubur ayam, namun saat aku sedang menunggu pesanan, aku melihat ayah sedang mengendarai motor dan membawa seorang penumpang wanita, ayah tampak nya tidak melihatku, aku tak jelas melihat rupa wanita itu karena dia memakai masker dan helm, namun terlihat wanita itu menempelkan badan nya pada punggung ayah.
Aku sedikit marah melihat ayah bersama seorang wanita saat bunda sedang sakit dan dirawat, aku penasaran siapa wanita yang bersama ayah itu, segera aku lari ke arah pangkalan ojek yang kebetulan tak jauh dari penjual bubur ayam ini, tak banyak bicara aku segera meminta tukang ojek mengikuti ayah, berharap aku masih bisa mengejar ayah.
Sekitar 15 menit aku mengikuti ayah, mereka berhenti di depan Alfamart dan masuk ke dalam, aku pun hanya memantau nya dari jauh, setelah menunggu akhirnya ku lihat mereka keluar dengan menenteng kantong belanjaan kemudian melanjutkan perjalanan, aku pun kembali mengikuti mereka.
Setelah berjalan kurang lebih 7 menit, ayah berbelok ke sebuah jalan Gang yang tak jauh dari tempat sekolahku, untuk sampai ke jalan Gang itu hanya sekitar 10 menit dari sekolahku jika dilihat dari arah rumah, jika dari arah tempat bunda dirawat, jalan Gang itu sebelum sekolahku.
Aku pun terus mengikuti nya dari jauh, kemudian aku lihat ayah berhenti di sebuah rumah, aku pun berhenti jauh dari tempat mereka dan segera bersembunyi di selah rumah orang, lalu mereka pun masuk ke rumah itu dan menutup pintu nya.
Aku berniat untuk mendekati rumah itu dan mendengar percakapan mereka,namun bunda menghubungi ku aku pun terpaksa harus membatalkan niat ku.
[Halo, Sherin, Sayang, kamu kemana dulu? Kok beli sarapan nya lama] tanya bunda.
[Halo Bun, Iya, maaf bunda, ini antri Bunda beli bubur nya, terus aku juga cari Toko makanan dulu, pengen beli cemilan biar nggak bosan disana, bunda sabar ya,] aku terpaksa harus bohong pada bunda, karena aku tak mungkin memberitahu bunda kalau aku sedang membuntuti ayah.
[Oh... kok kedengaran nya sepi banget disana? Yaudah, kamu cepat balik ya, Nak! Hati- hati di jalan] sahut bunda.
[Ini rame kok Bunda, yaudah deh, aku pulang sekarang ya Bun!]
Rasa nya jantung ku berdebar-debar karena takut ketahuan ayah, tapi aku penasaran kenapa ayah berbohong pada bunda, dan ini kesempatan ku untuk menguak rasa penasaran ku, namun tetap saja aku belum bisa menciduk ayah. Ya, setidaknya aku sudah mendapatkan petunjuk, walaupun kebenarannya belum jelas.
Dengan rasa kecewa aku pun terpaksa harus kembali, aku juga khawatir pada bunda karena bunda sendirian disana, entah Mang Barus dan Mang Nanang sudah datang atau belum.
Tak lupa aku berhenti sebentar untuk membeli cemilan dan mengambil 2 porsi bubur ayam yang sudah dipesan tadi, lalu aku segera kembali ke ruangan bunda dirawat, namun ku lihat bunda sedang dibantu perawat untuk mengganti pakaian dan membersihkan tubuh nya.
__ADS_1
Aku pun menunggunya di luar, setelah selesai, aku pun masuk dan ku sodorkan 1 porsi bubur ayam pada bunda.
"Bunda, maaf ya aku lama keluar nya? Ini bunda makan dulu ya, tadi nggak ada apa-apa kan waktu aku tinggal?" ucapku pada bunda. Lalu aku membuka kotak bubur dan memberikan nya pada bunda.
"Iya, nggak apa-apa kok sayang, tenang aja, tadi bunda cuma ganti baju sama bersih-bersih doang, emang jauh ya beli bubur nya?" ujar bunda.
"Mmm, syukur deh Bun kalau gitu, iya lumayan jauh kalau jalan kaki. Oh iya Bun, Mang Nanang sama Mang Barus udah kesini belum?"
"Yaudah, kamu makan dulu gih, habis makan mandi dulu biar rapi dan wangi, hihi. Mang Barus sama Mang Nanang udah kesini kok tadi waktu kamu pergi," cetus bunda. Emang bunda selalu bisa cairin suasana dengan candaannya.
"Iya Bunda, aku mah nggak mandi juga udah wangi kok, terus sekarang mereka kemana Bun?" aku pun membalas candaan nya seperti biasa.
"Hm dasar! Nggak tau tuh katanya mau keluar dulu cari warkop,"
"Kok tadi nggak ketemu sama aku ya di depan?"
"Mungkin arah nya beda kali,"
Kami menikmati sarapan pagi dengan obrolan panjang dan candaan kemudian aku menanyakan soal ayah pada bunda.
"Oh Iya Bun, emang nya ayah dimana sih sebenar nya?"
"Ayah kamu di luar kota sayang, tadi pagi kan telepone Bunda, katanya ayah minta maaf gak bisa nemenin Bunda, hari ini ayah baru di terima kerja di tempat teman nya, jadi belum bisa pulang."
Degh, amarah dalam hati ku tiba-tiba memuncak, namun aku berusaha menahan nya.
"Oh, ayah bilang begitu Bun? Terus ayah tahu nggak kalau aku sebentar lagi mau punya adik?"
"Iya Sayang, udah tau kok, Bunda udah kasih tahu ayah kamu, emang nya kenapa nanyain ayah sampai segitunya, kamu masih kesal ya sama ayah kamu?"
"Oh, syukur deh Bun kalau ayah sudah tahu, mmm... masih sedikit kesal aja Bun, sampai sekarang ayah nggak pernah minta maaf sama aku."
"Hmm gitu ya, pelan-pelan kamu maafin ayah kamu ya, Nak! Walau bagaimanapun itu tetap ayah kamu sampai kapanpun, mungkin ayah lagi khilaf waktu itu,"
"Iya Bunda, aku bakalan maafin ayah meskipun bekas pukulan ayah masih belum benar-benar sembuh sampai sekarang. Tapi kalau ayah nyakitin Bunda sampai mati aku bakalan balas perbuatan ayah." aku sampai bicara kelepasan karena emosi ku sedang memuncak saat ini.
"Sherin, kamu bicara nya jangan kayak gitu ah, gak baik Sayang kalau kamu kayak gitu, kamu yang sabar ya,"
"Iya Bun, maafin aku ya Bunda,"
"Yaudah, lain kali jangan kayak gitu lagi ya, sekarang mending kamu mandi dulu gih,"
"Iya Bunda."
Obrolan pun berakhir dan aku segera bergegas untuk mandi.
__ADS_1