
*****
Pukul 7.30 pagi.
Semua calon Mahasiswa dan Mahasiswi pun berkumpul di Aula umum untuk menerima pengumuman hasil nilai calon mahasiswa/ mahasiswi terbaik selama masa Ospek dan juga menerima Sertifikat penghargaan.
Aku pun duduk bersama teman-teman baru ku, menyaksikan kegiatan yang sedang berlangsung.
Sambutan demi sambutan pun usai disampaikan, sekarang hanya menunggu pengumuman penghargaan untuk para calon mahasiswa yang mendapatkan nilai terbaik selama masa pengenalan.
Dari mulai peringkat 10 besar hingga peringkat yang pertama.
Satu persatu yang disebutkan namanya pun dipersilahkan untuk maju ke depan dan menerima penghargaan.
Peringkat ke-3 Amira dan peringkat pertama ternyata adalah Zaky, sementara aku mendapatkan peringkat ke-2.
Usai diumumkan masing-masing peringkat 1 sampai peringkat 10 besar mendapatkan Piagam penghargaan calon mahasiswa berprestasi, 1 buah medali, Sertifikat Ospek dan juga hadiah lainnya.
Akhirnya masa pengenalan pun berakhir. Setelah acara selesai dan semua calon mahasiswa diresmikan menjadi Mahasiswa di Universitas Indonesia, acara pun ditutup. Sekitar jam 10 pagi semua mahasiswa bubar dan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, karena besok semua mahasiswa baru akan mulai mengikuti kelas.
Sesampainya dirumah, aku pun segera menjatuhkan diri di atas kasur. Rasanya sangat melelahkan sekali menjalani masa pengenalan kampus selama 3 hari 1 malam.
Usai membersihkan diri aku pun tertidur pulas karena aku hanya tidur kurang lebih 2 jam pada malam pelantikan kemarin.
Pukul 16.00 sore hari.
Aku pun terbangun karena suara ponsel ku yang terus berdering. Ternyata ada panggilan masuk dari Zena.
[Halo …] sapa ku.
[Halo Sher, kamu baru bangun ya?]
[Kok kamu tau Zen?] Aku reflek mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Zena.
[Kedengeran dari suara kamu Sher hihi,] sahut Zena.
Aku hanya menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Zena, aku sempat berburuk sangka pada Zena karena aku pikir Zena seakan selalu mengetahui apapun yang aku lakukan.
[Oh ... tumben telepon, ada apa Zen?]
[Emm ... nanti malam kamu sibuk nggak?]
[Nggak sih, tapi sekarang aku mau ke rumah sakit jengukin bunda,]
[Ya udah, nanti ketemu di rumah sakit aja gimana? Atau mau aku jemput? Aku soalnya lagi gabut banget nih …]
[Nggak usah Zen, biar aku bawa mobil aja,]
[Emangnya kamu mau nginep di RS?]
[Nggak tau sih, kayaknya aku pulang,]
[Ya udah kalau gitu aku jemput aja ya sekarang?]
[Emm ... ya udah deh, tapi aku siap-siap dulu ya?]
[Oke deh, sampai ketemu ya?]
[Oke Zen.]
Aku segera bergegas menuju kamar mandi dan bersiap untuk pergi.
Tid … tid …
Terdengar suara klakson mobil Zena dari jauh, aku pun segera menghampirinya, kemudian pergi bersama Zena ke rumah sakit untuk menjenguk bunda dan adik bayi.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata ku lihat bunda sedang menggendong adik bayi dan menyusui nya.
"Bunda ..." sapa ku.
"Eh Sayang … gimana kabar kamu Nak?" Bunda pun meresponku dengan hangat.
"Aku baik Bunda, bunda gimana sehat?" sahutku.
__ADS_1
Kemudian aku langsung saja duduk di dekat bunda.
"Bunda udah mendingan Sayang, gimana kuliahnya? Lancar?" tanya bunda.
"Lancar Bunda, eh ada adik bayi … ya ampun gemes nya ... bunda boleh nggak aku mau gendong?" Aku merasa gemas ketika melihat wajah adikku yang imut dan mungil.
"Syukurlah kalau gitu, boleh dong Sayang, nih ... awas, hati-hati," Pesan bunda padaku, sambil memberikan adik bayi pada pangkuan ku.
"Wahh … adik aku ganteng banget ya Bun? Oh iya, adik bayi namanya siapa Bun?" tanyaku.
"Emm ... Bunda belum kasih nama Sayang, gimana kalau kamu aja yang kasih nama?" tawar bunda padaku.
"Emm ... Emang boleh Bun?"
"Boleh dong!"
"Emm ... Kalau gitu siapa ya?" aku berpikir sejenak. "Gimana kalau Alfin Bun?"
"Emm Alfin ya … bagus Sayang, ya udah sekarang bayi Bunda namanya Alfin,"
"Hai Alfin, pokoknya Kakak janji bakalan selalu jagain Alfin ya, Alfin cepet gede dong biar bisa main sama Kakak," ucap ku pada Alfin. "Oh iya Bunda, aku mau izin keluar ya sama Zen?" sambung ku.
"Loh, emang Zen dimana?"
"Ada Bun di luar, lagi nungguin,"
"Kenapa nggak di ajakin masuk aja Sayang?"
"Tadi kan nggak boleh masuk rame-rame Bun,"
"Oh gitu, ya udah tapi jangan pulang larut malam ya?"
"Nggak kok Bun, aku kan besok masuk kuliah jadi nanti mau langsung pulang ke rumah, gak apa-apa kan Bunda?"
"Ya nggak apa-apa dong Sayang, padahal kalau kamu capek, kamu di rumah aja istirahat Sayang,"
"Aku kan kangen sama Bunda dan Alfin, udah hampir seminggu nggak ketemu hihi,"
"Hmm ... dasar! Nanti kalau Bunda sudah diizinkan pulang, kamu kan bisa ketemu Bunda dan Alfin tiap hari!"
"Bisa aja alasannya ya! Katanya mau pergi, kasian tuh Zena nungguin Sayang,"
"Oh iya, hihi. Ya udah kalau gitu, aku pamit dulu ya Bunda,"
Kemudian aku pun memberikan Alfin pada bunda.
"Dadah Alfin, kakak pergi dulu oke?" pamitku pada Alfin kemudian ku cubit lembut pipinya yang cabi dan merah merona itu, membuatku gemas.
Bunda hanya mengangguk dan tersenyum. Aku pun bergegas pergi menemui Zena di luar.
Ku lihat Zena sedang duduk sendirian sambil memperhatikan para perawat yang lalu lalang membawa pasien. Kemudian langsung saja aku bergegas menghampirinya. "Maaf ya Zen, kamu nunggu lama ya?" tanyaku.
Zena langsung berbalik melihat ku yang tiba-tiba datang dari arah belakang. "Eh ya ampun Sher, ngagetin aja!" Zena mengelus dadanya. "Nggak apa-apa kok santai aja, gimana kabar bunda dan adik kamu Sher?"
"Hihi … ya maaf Zen, habisnya kamu anteng banget lihatin para suster itu, pada cantik-cantik banget ya?" goda ku pada Zena. "Emm … kabar bunda dan Alfin sehat kok Zen,"
"Iya sih tapi masih cantikan …" Zena tak melanjutkan ucapannya.
"Cantikan siapa Zen?" tanyaku, penasaran.
"Ah enggak, syukur lah kalau bunda sama adik kamu kabarnya baik, jadi nama adik kamu Alfin ya?" sahutnya, mengalihkan topik.
"Hmm … iya Zen, adik aku ganteng loh kayak ..." aku terdiam. Hampir saja ku sebutkan nama Zena.
"Kayak siapa Sher?" tanya Zena, tampak penasaran.
"Nggak, ya udah, jadi sekarang kita mau kemana nih?" Aku pun segera mengalihkan topik.
"Emm ... kita jalan aja sambil cari makan, mau nggak?" ajak Zena.
"Ya udah yuk …" Aku pun menyetujui ajakannya, karena memang perutku sudah terasa keroncongan.
Aku dan Zena pun langsung beranjak pergi, Zena membawaku ke sebuah cafe tak terlalu jauh dari rumah sakit.
__ADS_1
Usai mengisi amunisi, Zena kembali membawaku ke suatu tempat.
Aku sedikit menggigil karena angin malam yang berhembus kencang.
"Sherin?" panggil Zena.
"Iya Zen, kenapa?" sahutku.
Tiba-tiba Zena membuka jaketnya lalu memakaikannya padaku.
"Eh, nggak usah Zen, aku nggak dingin kok!" ucapku, aku menolak tawaran Zena.
Aku hendak melepas kembali jaket yang dipakaikan Zena padaku, tapi Zena menahanku.
"Pakai aja Sher gak apa-apa, banyak angin disini, nanti kamu sakit!" Zena menaruh perhatian padaku.
"Tapi kamu nggak pakai jaket Zen …" Aku sedikit salah tingkah ketika melihat tatapan hangat Zena padaku.
"Nggak apa-apa Sher, udah pake aja ya?" cetus Zena sambil melempar senyum menawannya itu.
"Emm … iya deh kalau gitu, thanks ya Zen?" ucapku. Akupun tersenyum hangat pada Zena.
"Sama-sama," Zena mengangguk. "Oh iya, gimana masa pengenalan kampus nya? Seru nggak Sher?" sambungnya.
Tiba-tiba Zena bertanya soal urusan kampus.
"Emm ... seru Zen, tapi capek juga ternyata ya jalani masa-masa ospek itu, kalau kamu gimana?" tanya ku.
"Pasti Sher kalau capek, namanya juga masa pengenalan … aku nggak ikut Ospek Sher." sahut Zena.
"Loh … kok bisa? Sebenarnya kamu kuliah dimana sih Zen?" Aku merasa penasaran dengan jawaban Zena.
"Bisa dong hihi, ntar aku ajak kamu main ke kampusku, mau?" Zena tak memberitahuku di Universitas mana dia kuliah, malah mengajakku untuk berkunjung secara langsung.
"Emm ... boleh, kapan?" tanyaku.
"Ya kalau ada waktu, kamu nggak sibuk, aku juga nggak sibuk," jawabnya.
"Hmm ... oke deh, emang nama kampus kamu apa sih Zen?" Aku kembali bertanya pada Zena karena merasa sangat penasaran.
"Ya ada deh rahasia, pokoknya nanti aku ajak kamu ke kampusku, kamu juga bakalan tau sendiri nanti," sahut Zena.
Zena tetap saja merahasiakannya dariku.
"Ih ada-ada aja, pake acara rahasiaan segala!" Aku menarik sudut bibir kanan ku mendengar jawaban Zena.
"Kan biar surprise hihi." Zena terkekeh.
"Hmmm ... iya deh, terserah kamu aja Zen!"
"Hihi, pokoknya kamu yang semangat ya belajarnya? Kalau kamu ada apa-apa di kampus atau dimana aja, kabarin aku oke?"
"Emm ... oke deh siap Bos Q, hihi."
"Huh, bisa aja kamu. Yaudah, sekarang kamu masih betah disini atau mau pulang?"
"Emm ... Pulang aja deh udah malem Zen,"
"Ya udah, kalau gitu kita pulang aja,"
"Ya udah, kalau gitu aku telepon bunda dulu ya?"
Zena pun mengangguk setuju. Aku segera menghubungi bunda untuk meminta izin langsung pulang ke rumah.
Zena mengantarku pulang hingga depan rumah kemudian pergi, tak mampir terlebih dahulu karena di rumah memang sedang tidak ada siapapun.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan rebahan. Tapi tiba-tiba aku teringat dengan Tante Isma, mungkin sekarang Tante Isma sedang hamil besar.
'Kalau anak yang dikandung tante Isma ternyata benar-benar anak ayah, berarti anak itu juga adik aku. Bayi yang dikandung tante Isma memang tidak bersalah, tapi ... apa aku bisa menerima nya selayaknya adik ku? Aku benci dengan tante Isma, karena akhlaknya yang bejat. Hampir saja, nyawa bunda dan aku melayang sewaktu kecelakaan dulu. Tapi Tuhan melindungiku dan bunda, hingga aku dan bunda selamat dari tragedi kecelakaan maut waktu itu. Aku penasaran deh gimana kabar tante Isma sekarang di dalam sel tahanan. Kalau libur kuliah, aku diam-diam akan menyempatkan waktu untuk melihat kondisinya. Dan aku dengar Om Aris juga sudah resmi menceraikan tante Isma, mudah-mudahan bayi yang di kandung tante Isma, sama sekali bukan anak ayah.' pikirku.
Setelah ku ingat kembali semua perbuatan tante Isma, aku rasa hukuman 20 tahun penjara tidaklah cukup. Tapi mungkin jika mengingat usianya, bisa dikatakan Tante Isma menghabiskan sisa usianya dalam sel tahanan.
'Aku khawatir setelah keluar dari penjara, Tante Isma malah membuat ulah lagi pada bunda. Tante Isma memang terlalu gila, sampai-sampai berani bertindak brutal seperti itu. Aku tak menyangka tante Isma sebodoh itu sampai melakukan hal yang mencelakai diri sendiri demi ingin memiliki ayah. Ah sudahlah, untuk apa juga aku memikirkan hal itu, sekarang itu bukan lagi jadi urusan ku, aku tak peduli, yang penting keluargaku baik-baik saja. Lebih baik sekarang aku tidur saja, daripada besok kesiangan masuk kuliah.' gumamku.
__ADS_1
Kemudian aku memejamkan mataku dan akhirnya tertidur.