
*****
"Bunda, seminggu lagi ada acara perpisahan loh di sekolah dan semua orang tua diundang buat datang ke sekolah," ujar ku pada bunda.
"Oh ya? Oke Sayang, nanti bunda datang sama ayah ke sekolah,"
"Tapi kan … Bunda emang nya kuat?"
"Kuat Sayang, Bunda udah sehat kok, itu kan acara penting kamu Nak, masa Bunda nggak datang,"
"Tapi nggak apa-apa kok Bunda, kalau Bunda nggak kuat jangan dipaksain ya?"
"Bunda kuat Sayang, kamu kok manjain Bunda banget sih?"
"Ya habis, Bunda bikin aku khawatir terus,"
"Hmm ya udah, nanti Bunda kasih tau ayah, biar nanti pas acara kamu bisa datang,"
"Iya Bunda makasih banyak ya …,"
Saat sedang asyik berbincang dengan bunda di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
Tok tok tok
Aku pun segera membuka pintu dan ternyata yang datang itu Tante Isma, aku pun waspada terhadap nya.
"Eh Sherin, selamat pagi ... bunda kamu ada?" Sapa Tante Isma, dengan raut wajah dibuat seramah mungkin.
"Ada di dalam," sahutku. Sambil berusaha menahan rasa kesal ku saat melihat wajah munafik itu.
"Oh, apa Tante boleh masuk?"
"Iya boleh, masuk aja," jawabku. Masih dengan emosi yang sama dan aku berusaha agar tetap bersikap baik apalagi pada orang yang lebih tua.
Kemudian Tante Isma masuk dan menemui bunda, aku memberikan kode pada bunda agar bunda lebih waspada terhadap temannya itu.
Aku sengaja duduk bersama bunda dan mendengarkan percakapan mereka, karena khawatir Tante Isma berbuat macam-macam pada bunda tanpa sepengetahuanku.
"Pagi Mbak Rahma, gimana kabar Mbak, sehat?" sapa Tante Isma pada bunda.
"Eh iya, pagi juga Mbak Isma, alhamdulillah baik Mbak, silahkan duduk," Bunda pun dengan sikapnya yang ramah mempersilahkan tamunya untuk segera duduk.
"Makasih, syukur deh kalau Mbak Rahma baik-baik saja, kemarin aku dengar Mbak Rahma dan Sherin di serang kalajengking ya?"
"Iya, tiba-tiba saja ada banyak kalajengking sama ulat bulu di sini Mbak,"
"Ya ampun kok bisa ya, tapi Mbak nggak kenapa-kenapa kan?"
"Aku baik-baik saja, tapi Sherin kakinya disengat kalajengking,"
"Ya ampun yang sabar ya, makanya hari ini aku mau nengok Mbak Rahma sama Sherin, oh iya, ini Mbak aku bawain sedikit makanan buat Mbak sama Sherin, di makan ya?"
"Eh makasih Mbak Isma, jadi ngerepotin. Oh iya, Mbak Isma mau minum apa?"
"Nggak usah repot-repot Mbak, aku nggak lama kok, cuma mau nengok keadaan Mbak aja, aku ada urusan Mbak sekalian mau pamit aja,"
"Loh kok cuma sebentar, nggak santai dulu aja disini?"
"Makasih Mbak Rahma, aku masih ada urusan lain, lain kali aja aku mampir lagi ya? Kalau gitu, aku permisi ya Mbak Rahma,"
"Oh gitu … ya udah, makasih banyak loh udah repot-repot bawain makanan segala,"
"Sama-sama, ah nggak repot kok Mbak Rahma, kalau gitu aku pamit ya Mbak, Sherin …"
__ADS_1
Bunda hanya mengangguk setuju mempersilahkannya, sementara aku hanya diam saja tak meresponnya.
Tante Isma kemudian pergi, rasa nya aku ingin muntah mendengar ucapan Tante Isma yang seakan tidak bersalah itu.
Apalagi jika teringat apa yang aku lihat di rekaman CCTV itu saat dirinya sedang bersama ayah, jijik rasanya melihat orang yang munafik seperti itu.
Aku meminta bunda agar tidak memakan makanan pemberian Tante Isma dan ternyata bunda pun berpikiran sama.
Aku berniat untuk membawa sup itu ke apotek
untuk dilakukan pemeriksaan Lab.
Dan benar saja sesuai dugaan, ada sesuatu di dalam makanan pemberian Tante Isma, namun itu bukan lah racun, melainkan hanya obat tidur.
Entah apa yang direncanakan Tante Isma dengan obat tidur itu, aku yakin sekali Tante Isma memiliki rencana lain atau berniat buruk terhadap bunda.
Sejauh ini aku terus memantau CCTV, tidak ada aktivitas yang mencurigakan di rumah, tapi aku melihat kejadian serupa di rumah kelam itu, mereka kembali melakukan perbuatan tak senonoh di rumah itu, bahkan sampai berkali-kali layak nya pasutri, Tante Isma memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah, seperti nya ayah pun tinggal disana saat ini, sudah seperti layaknya keluarga saja.
******
1 minggu berlalu.
Selama seminggu ini bunda tak sedikitpun luput dari pengawasanku dan Tante Isma pun tak melakukan hal-hal buruk pada bunda, mungkin karena dia sibuk mengurusi ayah di rumah kelam itu.
Hari ini adalah hari perpisahan ku di sekolah, aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama bunda, karena katanya ayah tidak bisa datang.
Jelas saja ayah tak mungkin datang, ayah sedang sibuk menikmati kebersamaannya dengan teman bunda yang munafik itu.
Tapi jika ayah benar-benar peduli terhadapku ayah tinggal meluncur saja ke sekolahku, karena lokasi rumah kelam dan sekolahan tak begitu jauh, bahkan ayah bisa berjalan kaki dari sana.
Tapi aku pun tak ingin peduli dengan kehadiran ayah di sisi ku, hari ini aku ingin menjalani hariku tanpa beban.
Aku segera memesan taxi on-line karena khawatir pada bunda jika harus memakai angkutan umum.
Sesampainya di sekolah, kami mengikuti acara yang diselenggarakan, hingga sesi pengumuman sang juara dari mulai juara kelas 10 dan 11, dan terakhir kelas 12.
Aku mendengar guru menyebutkan nama Zena sebagai juara umum ke-2 tingkat sekolah. Semua orang pun sontak berdiri dan bersorak-sorai dengan girang mendengar sang idola sekolah menjadi juara umum tingkat sekolah, aku dan bunda pun ikut merayakan kebahagiaan Zena dengan bertepuk tangan.
Zena menerima penghargaan berupa piala besar tingkat 2 dan sebuah medali, juga diberikan hadiah berupa kotak kado berukuran besar dengan ikat pita yang indah menghiasinya.
Usai memberikan hadiah pada juara 2, guru pun melanjutkan kembali acara.
Kemudian pengumuman selanjut nya, Juri menyebutkan juara umum ke-1 tingkat sekolah, dan ternyata guru menyebutkan namaku sebagai juara umum ke-1 tingkat sekolah.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan untuk ku, bunda pun menangis haru lalu memelukku, kemudian aku dipersilahkan menaiki panggung untuk menerima penghargaan.
Kepala sekolah memberikan aku hadiah berupa Piala paling besar tingkat 1, Sertifikat juara, satu buah medali, satu kotak kado yang sangat besar, lebih besar daripada milik Zen dan juga surat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Kemudian guru mempersilahkan ku untuk menyampaikan pesan-pesan pada seluruh siswa dan siswi yang tengah menyaksikan acara.
Dengan rasa gugup, aku pun maju untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
"Assalamualaikum Wr. Wb. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Kepala Sekolah yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menerima penghargaan yang luar biasa ini, juga terima kasih kepada semua Guru yang sudah membimbing saya, hingga saya mampu mencapai prestasi sebesar ini, untuk teman-teman juga terimakasih, karena sudah memberikan support dan selalu mendukung saya selama ini, kalian teruslah semangat belajar dan meraih prestasi, saya yakin kalian pasti bisa dan juga terima kasih kepada kedua orang tua saya, khususnya untuk bunda yang sudah memberikan segalanya untuk saya, Terima kasih banyak Bunda. Hanya itu yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Assalamualaikum Wr.Wb."
Semua orang pun bertepuk tangan, bunda pun menaiki panggung dan memberiku selamat sembari memeluk ku.
"Selamat ya Sayang, Bunda sangat Bangga sama Kamu Nak, Bunda sangat Bangga," ucap bunda, terharu.
Aku hanya bisa membalas pelukan bunda dan tak dapat berkata-kata karena aku pun merasa terharu.
Lalu, Zena pun mengucapkan selamat, juga semua guru memberikan selamat untuk ku sambil memberikan ku hadiah kado.
Aku menerima banyak sekali hadiah dari guru-guru dan beberapa dari teman-teman ku. Kemudian orang yang terakhir adalah Zena, yang memberikan aku hadiah berupa kotak kado paling terkecil dari ukuran lainnya, semua orang menyoraki aku agar aku membuka kado pemberian Zen, aku pun hanya bisa menuruti keinginan mereka dan segera membuka nya di hadapan semua orang.
__ADS_1
Suasana pun menjadi hening.
Setelah kulihat, ternyata itu adalah sebuah kunci mobil, di depan aula ternyata sudah terpangpang satu unit mobil BMW 8S berwarna putih dengan dihiasi bunga di atas nya dan tiba-tiba saja alarm mobil itu berbunyi sangat nyaring saat ku tekan salah satu tombol remote yang tergantung bersamaan dengan kunci mobil itu.
Klik klik,
Sontak semua orang kaget dan langsung bersorak-sorai, mereka begitu heboh berteriak sambil bertepuk tangan dengan keras, ada juga yang mengangkat-angkat tangan nya dan ada juga yang meneriaki (peluk, peluk, peluk).
Ya Tuhan aku tak dapat berkata apa-apa, mulutku seakan terkunci, tubuhku rasa nya kaku dan jantung ku berdetak kencang tak karuan, sungguh hari ini menjadi hari bahagia ku, hari yang begitu spesial untuk aku, betapa banyak hadiah yang ku dapat kan dari semua guru-guru, teman-teman dan juga hadiah yang diberikan oleh Zena adalah hadiah perpisahan paling indah yang pernah kuterima selama ini.
Zena lalu tersenyum dan memelukku di hadapan semua orang termasuk bunda, sambil berkata. "Selamat ya atas prestasi yang kamu dapatkan, aku sangat bangga dapat mengenal mu, hadiah ini tak seberapa untuk orang sepertimu Sherin,"
Semua orang pun kembali bersorak-sorai hingga suasana sangat ramai dan gaduh oleh hiruk pikuk semua orang yang ada di sekolah.
Aku hanya diam terpaku, tak terasa air mata bahagia pun berjatuhan tak terbendung lagi. "Terimakasih banyak Zen, aku bahagia ..." aku tak dapat melanjutkan ucapan ku, Zena pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mata ku.
"Jangan pernah menangis lagi ya? Aku cuma mau kamu selalu tersenyum," ucap Zen.
Akhirnya kami pun turun dari panggung dan acara pun dilanjutkan. Rupanya para guru sengaja memberikan moment untuk diriku, mungkin saja hal itu atas permohonan Zena.
Aku kembali duduk bersama bunda dan Zena, semua kado sudah di antarkan ke dalam mobil baru ku.
Saat pengumuman juara antar kelas, aku dan Zena pun kembali naik ke atas panggung karena kembali mendapatkan juara, kali ini aku dan Zena sama-sama mendapatkan juara 1 antar kelas dan mendapatkan hadiah yang sama, berupa piala dan beberapa hadiah dari guru.
Setelah selesai acara, Zena mengajak aku dan bunda untuk makan siang bersama.
Sepanjang perjalanan bunda dan Zena terus mengobrol dan bercanda, sementara aku hanya tersenyum saja sesekali dan tidak banyak bicara, entah kenapa aku masih tak percaya dengan apa yang aku alami hari ini, semua terasa bagaikan mimpi.
Sampai akhirnya Zena menyapa ku.
"Hei … Sherin, kenapa kamu bengong saja dari tadi?" cetus Zena padaku.
"Eh emm ... nggak apa-apa kok Zen,"
"Apa kamu sakit?"
"Nggak kok, aku baik-baik saja,"
"Kalau kamu sakit biar aku antar pulang, kamu kelihatan pucat soalnya," Zena terlihat khawatir padaku.
"Nggak kok, aku baik-baik aja. Zen ... kenapa kamu baik banget sama aku Zen?" Tanya ku. Aku benar-benar penasaran dengan jawaban Zen atas pertanyaan ku itu.
"Karena kamu teman aku Sher, kamu juga baik, sudah sepantas nya kamu diperlakukan dengan baik oleh siapapun," sahut Zen, seraya tersenyum padaku.
"Tapi, hadiah mobil itu terlalu besar buat aku Zen, aku nggak pantas menerima nya,"
"Kamu pantas Sher, tidak semua orang bisa seperti kamu bisa mendapatkan prestasi luar biasa, itu nggak mudah kan? Perjuangan kamu pantas dihargai, bahkan hadiah itu tidak seberapa buat kamu," tutur Zen masih dengan senyuman yang sama.
"Zen, entah aku harus bilang apa sama kamu, terima kasih aja mungkin nggak cukup, tapi aku nggak punya hadiah apa-apa buat kamu,"
"Udah Sher, aku cuma minta 1 hal sama kamu,"
"Apa?"
"Bahagia, aku cuma mau lihat kamu bahagia, itu aja, sekarang senyum dong, cemberut mulu dari tadi," Zena seperti tak merasa malu mengucapkan hal itu di hadapan bunda.
"Ayo dong senyum Sayang …" timpal bunda.
Tiba-tiba saja bunda pun ikut menggoda ku, seolah mendukung Zena.
"Bunda ...." tutur ku.
Bunda pun terkekeh, aku pun akhir nya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Zena dan juga bunda.
__ADS_1
Setelah Sore hari, acara sekolah pun akhirnya selesai, aku dan bunda memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Zena mengantarkan aku dan bunda sampai rumah, sementara mobil baru ku diantar oleh supir sewaan Zen ke rumah ku.