Life After Forty

Life After Forty
Season 1 part 1 Awal kehancuran


__ADS_3

Ketika


telepon berdering ketiga kalinya, Amanda pun mengangkatnya.


            “Selamat pagi, apakah ini kediaman


rumah Pak Fauzan?”  Seorang laki-laki di


seberang suara bertanya.


            “Iya benar.”


            “Boleh saya tahu, saya bicara dengan


siapa?”


            “Istrinya.”


            “Oh Bu Elly. Apa kabar bu? Saya mau


konfirmasi untuk pengiriman mobilnya, apa betul dikirim ke apartment Kuningan?”


            Amanda kaget, kok Elly? Mobil? Apartemen?


Berusaha untuk tenang, Amanda berusaha untuk mengorek informasi sebanyak


mungkin.


            “Oh begitu, kira-kira jam berapa mas


mau dikirimnya, biar saya siap?”


            “Sore bu, sekitar pukul 4.  Tapi sebelumnya saya mau konfirmasi sedikit


dulu ya bu.  Nanti pembayaran cicilannya auto debet ke rekening Pak Fauzan ya


bu?”


            Semakin bingung Amanda mencoba untuk


tenang. “Iya dong. Sesuai aplikasinya yang kemarin itu mas.”


            “Iya bu. Auto debetnya akan setiap tanggal lima ya bu, sejumlah lima belas


juta.”


            “Ok. Untuk berapa tahun ya mas?”


            “Dua tahun ya bu?”


            “Ok.”


            “Baik bu, saya kembali konfirmasi


alamat ya bu…” sang sales pun terus bicara, Amanda masih berusaha menenangkan


diri dengan informasi yang memperkuat kecurigaannya selama ini.  Siapakah perempuan yang bernama Elly ini?


Sebegitu besarnyakah cinta Fauzan hingga membelikannya sebuah mobil dan mampu


berbohong pada Amanda bahwa sementara ini Fauzan tidak bisa menafkahi


keluarganya karena gaji yang tertunda akibat kondisi keuangan kantor yang tidak


baik? Fauzan telah menabrak aturan di rumah tangganya bahwa selama ini mereka


anti utang.  Ada apa dengan Fauzan?


Amanda benar-benar syok mendengar informasi yang baru ia dapatkan.  Sulit untuknya mencerna. Masih berusaha


menenangkan diri, bahwa informasi yang didapat barusan hanyalah sebuah


prasangka buruk pada suami.


            Awalnya, tanpa ada kecurigaan sama


sekali Amanda pun berusaha memaklumi, ketika Fauzan minta maaf karena kondisi


keuangan kantor yang tidak baik.  Dia pun


mulai menggunakan tabungan mereka dan gajinya sebagai dosen di universitas


negeri untuk kelangsungan rumah tangga mereka.  Tapi ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, keikhlasannya


menjadi berkurang, dan lama-kelamaan Amanda agak kewalahan.  Tabungan mereka mulai menipis, mengandalkan gajinya


sebagai pegawai negeri yang tidak banyak itu sebenernya tidak cukup.  Dan Amanda juga semakin curiga dengan Fauzan,


mengaku belum digaji selama 6 bulan, kok sepertinya dia betah-betah saja


bekerja, tidak ada tanda-tanda akan mencari pekerjaan lain.  Amanda pun semakin heran, karena melihat


penampilan Fauzan belakangan ini yang justru mengenakan banyak pakaian baru tanpa


tahu kapan ia membelinya.  Bukannya


kelangsungan kondisi keuangan perusahaan sedang tidak baik?  Dan yang paling membuatnya resah adalah


Fauzan semakin sering ijin keluar kota.  Amanda sangat tahu pekerjaan Fauzan sebagai senior manager biasanya ia


hanya akan keluar kota di awal dan di akhir tahun, selebihnya stafnya yang akan


banyak keluar kota, tapi sekarang hampir setiap bulan ia ijin untuk pergi


keluar kota.  Amanda khawatir, apabila


dia terus berpura-pura tidak tahu terlalu lama, Fauzan akan melangkah terlalu


jauh, tapi kalau ia bertanya ia pun masih merasa kurang bukti.  Amanda kebingungan ia sangat ingin


mempertahankan keluarganya, kecurigaannya tentang mobil yang dibeli Fauzan, dan


permasalahan keuangan pun dirasa semakin mengganggu.


            Hanya ingin membahas masalah


keuangan, Amanda berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyinggung


kecurigaannya tentang orang ketiga.


            “Nonton apa Yang?” Amanda menyapa


Fauzan yang sedang menonton TV


            Fauzan menoleh sejenak. “HBO-nya


lagi seru.”


            Amanda agak takut untuk memulai, dia


duduk di samping Fauzan mau mulai agak ragu.


            Fauzan sepertinya mulai menyadari.


“Kamu kenapa?”


            “Nggak… ini aku cuma mau nanya, kamu


kira-kira kapan gajian, tabungan kita sudah mulai tipis nih.” Amanda merasa


bersalah ketika mulai langsung pada intinya.


            Fauzan langsung tersinggung


mendengar itu. “Kamu fikir aku suka dengan kondisi ini?” Mulai meninggi.


            Amanda menghela nafas, dia tahu akan


begini jadinya. “Maaf, bukan maksud aku…”


            “Aku baru tahu ya, ternyata kamu


bukan perempuan yang bisa diajak susah.”


            Amanda bingung.


            “Kamukan punya penghasilan, apa


nggak bisa pakai itu dulu, kita jugakan punya tabungan?”


            “Bukan begitu, tapi tabungan itukan


untuk kuliah Bimo dan Citra, nggak mungkin kita pakai terus.”


            “Tabungan itu untuk kondisi seperti ini.  Kita bisa nabung lagi nanti.”  Fauzan semakin meninggi.


            Amanda diam dia berusaha untuk tetap


tenang. “Ya sudah, maaf ya.”  Amanda


berusaha menyudahi pertengkaran ini.


            Fauzan bangkit dari duduknya. “Aku


nggak bisa begini.”


            Amanda heran, maksudnya apa?


            “Kamu pergi deh dari rumah ini!”


            Amanda kaget setengah mati. Haruskah


dia diusir? “Fauzan aku minta maaf.”


            Fauzan menggeleng. “Aku nggak


sanggup hidup dengan orang yang nggak bisa diajak susah!”


            Amanda mulai menangis, ternyata


keputusannya untuk bicara berdampak demikian buruk.


            “Kamu lebih baik pergi, dari pada


aku tambah emosi!”


            “Tega ya kamu.  Selama ini aku berusaha keras untuk menunggu


kamu tobat.  Ternyata aku salah.  Sebegitunya cinta kamu buat si Elly itu sampai


mampu mengusir aku dari sini.”


            Fauzan kaget.  “Kamu jangan sembarangan nuduh ya!”


            “Oh ya, Honda Jazz warna oranye udah


sampaikan?”  Tanyanya sinis.


            Fauzan makin kaget.


            “Kenapa, kaget aku tahu? Kamu fikir


aku bodoh percaya begitu saja, kalau kamu nggak digaji enam bulan?”  Amanda merasa di atas angin, “Ok aku pergi


sekarang, tapi bukan karena aku merasa salah nggak bisa kamu ajak susah.  Tapi karena aku merasa percuma bicara dengan


orang yang sedang jatuh cinta. Aku bawa anak-anak ya.”


            “Bawa saja, di saat aku susah begini,


memang saatnya ditinggal anak istri.”


“Logika macam apa ini?  Masih saja ngaku susah.  Susah karena sibuk nafkahi simpenan jadi


merasa beban nafkahin anak istri?”  Benar-benar muak dengan segala kebohongan Fauzan sudah.  Beraninya laki-laki itu mengusirnya demi


perempuan lain.


            Amanda pergi ke kamar Bimo, dia


sedang belajar di ruangannya.


            “Mas, kamu benahi pakaian kamu ya,


masukin ke koper.  Kita harus pergi!”


            Anak sulung itu kebingungan.


“Semua?”


            Amanda mengangguk.


            “Sekarang?”


            Amanda mengangguk lagi. “Jangan lupa


buku-buku untuk kamu sekolah.”  Amanda


pun meninggalkan Bimo yang masih keheranan, dia pun menjalankan perintah sang


ibu tanpa bertanya lagi.


            Amanda kemudian menuju kamarnya,


yang dilihat Fauzan telah mengeluarkan baju-bajunya yang ada di lemari ke atas


tempat tidur, hati Amanda makin hancur. Airmata itu semakin berlinang, dia


menghapusnya dengan punggung tangannya.  Tanpa bicara lagi, diapun memasukan baju-bajunya ke dalam tas besar yang


sudah disediakan Fauzan.  Kemudian,


diapun ke kamar Citra si bungsu yang sedang tidur, memasukkan pakaian anaknya


ke dalam tas koper yang ada di sana.  Sepintas mengingat beberapa arsip yang menurutnya penting untuk dia


bawa.  Selain itu, ia hanya membawa


barang-barang seperlunya.  Sebenarnya dia


kebingungan tujuannya, mengingat dia bukan asli Jakarta.


            Bimo telah siap, begitu pun Amanda,


walau hatinya hancur, dia tetap meminta Bimo untuk pamit dengan sang ayah.  Setelahnya, sambil menggendong Citra yang


masih tertidur, Amanda dan Bimo keluar rumah dengan beberapa koper mereka,


menanti taksi yang baru saja Amanda pesan secara online.  Fauzan hanya menutup


dan mengunci pintu tanpa sama sekali membantu mereka.  Amanda begitu terluka, Bimo yang kebingungan


sepertinya mengerti dengan apa yang terjadi dengan orang tuanya, dia tidak


banyak bertanya.  Usia Bimo memang 14


tahun, sebentar lagi dia lulus sekolah menengah pertama.


            Ketika taksi yang dipesan datang,


mereka bertiga pun masuk ke dalamnya, sang pengemudi telah tahu tujuan mereka,


hanya mempersilahkan mereka masuk, dan membantu mereka memasukan


barang-barangnya ke bagasi.


            “Malam ini kita tinggal di hotel


bu?” Bimo hanya memastikan.


            Amanda mengangguk. “Kalau ade besok


bangun, bilang kita jalan-jalan ke hotel dulu ya.”


            “Setelah itu?”

__ADS_1


            “Ibu akan mencoba hubungi teman ibu


ya, semoga ada jalan.”


            Bimo hanya mengangguk setuju.  Dan dia kembali terdiam.  Dia tahu sang ibu sedang terluka.  Semakin banyak bertanya akan semakin membuat


sang ibu menderita.


Mereka


tinggal di hotel berbintang yang terletak di kawasan Kelapa Gading.  Mereka telah memasuki ruangan kamar mereka.  Setelah kembali menidurkan Citra, Amanda pun


duduk termenung di pojokan kamar, walaupun TV sedang menyala tapi fikirannya


tidak mampu menikmati acara yang sedang tayang.  Amanda khawatir, apakah ini artinya perkawinannya yang telah mereka


bangun selama 15 tahun kandas?  Benar-benar pedih memikirkan hal ini.


Bimo kembali memasuki kamar,


setelah cukup lama ada di teras, menikmati pemandangan malam dari ketinggian


lantai 12.


“Bu, ayah selingkuh ya?”


Amanda terkejut mendengar


pertanyaan Bimo.


“Mas, kok ngomong begitu?”


Bimo menyerahkan telepon genggamnya,


ternyata ia menunjukan beberapa photo. “Ini temen aku yang ngambil, dia ketemu


ayah minggu kemarin di Senayan City, ayah bilang dia tugas ke Ambonkan?”


Amanda kaget melihat photo itu,


Fauzan sedang berpegangan tangan erat dengan seorang perempuan, photo lainnya


memperlihatkan Fauzan mencium tangan perempuan itu dengan mesra sambil


berjalan.


“Raihan padahal papasan sama ayah,


tapi kayaknya ayah lupa sama dia.  Itu


lho bu, temen SD ku.”


Amanda mengangguk.  Dia kenal betul Raihan, anak itu memang


sahabat Bimo sejak taman kanak-kanak.


“Mas jangan marah sama ayah


ya.  Ayah sayang kalian, dia cuma sedang


marah sama ibu!”


Bimo hanya tersenyum, dia tidak


setuju dengan perkataan sang bunda, tapi anak ini cukup mengerti untuk


menghindari argument di saat sang ibu sedang sedih.  Ia hanya duduk di samping sang bunda dan


memeluknya.


“Ibu jangan sedih ya, mas sama ade


akan temenin ibu.”


Mendengar itu, Amanda hanya


mengangguk, dia berusaha untuk kuat di depan anaknya, tapi mendengar dan


mendapatkan setuhan dari sang anak, pertahanannya pun runtuh, dia justru


menangis sejadi-jadinya.  Amanda masih


berusaha keras untuk menahan diri agar si bungsu tidak terbangun dari


tidurnya.  Tapi dia pun merasa begitu


beruntung, karena anak sulungnya sangat mengerti perasaannya saat ini.


“Maafin ibu ya mas, maafin ibu


bikin ayah kamu marah.”


“Kok ibu yang salah…”


“Kita harus kuat ya sayang.  Tuhan sayang kita, makanya kita diuji.”


Bimo hanya mengangguk, dan masih


terus memeluk sang ibu.


Kekuatan Amanda begitu


bertambah.  Di sisi lain sebenarnya ia


sedih, seakan dia memaksa sang anak untuk dewasa sebelum waktunya.


Citra masih cukup kecil untuk


memahami apa yang terjadi.  Usianya


memang baru empat tahun.  Gadis cilik itu


hanya bingung ketika ia terbangun dia ada di hotel.  Sang bunda dan kakak hanya mengatakan bahwa


mereka sedang rekreasi di sana, dan berenang.  Permainan kesukaan Citra.


Keesokan


paginya, ketika Bimo sedang menemani Citra berenang, Amanda mendapat telepon


bahwa sahabatnya akan menemuinya di lobi hotel. Ia pun pergi ke lobi hotel


menunggu.  Begitu sahabatnya datang,


serta merta Amanda memeluk Nisa sambil menangis.


            Nisa yang semalam sudah sedikit


diceritakan oleh Amanda membiarkan Amanda mengungkapkan perasaannya dengan


menangis di pelukannya.


            Ketika Amanda tenang, mereka pun


duduk di sudut lobi hotel itu.  Walaupun


mereka bersahabat tapi keduanya memiliki gaya yang berbeda, Nisa yang memang


berasal dari kalangan Elites Jakarta bergaya sangat glamor.  Yakin banget, sepertinya Nisa nggak menyadari


kok.  Sedangkan Amanda memang selalu


sederhana.


            “Gimana kabar lo?” Nisa begitu


prihatin.


            “Gue harus kuat, demi Bimo dan


Citra.”


            “Itu maksud gue.”  Nisa pun memberikan kunci apartemennya lokasi


bayar!”


            “Eh jangan gitu! Gue nggak enak sama


Mas Rudi.”


            “Kok elo kayak nggak kenal gue, Mas


Rudi nggak papa. Gue udah minta ijin sama dia kok, kebetulan bulan kemarin yang


nyewa selesai.”


            “Gue nggak enaklah, ini kan


investasi kalian.”


            “Hei, gue nggak semiskin itu.  Investasi gue nggak cuma satu. Lagi juga elo


dulu banyak bantu gue saat gue pusing sama apa tuh, assignment waktu kita kuliah, sekarang gantian dong!”


            Amanda ragu.


            “Kok elo sekarang jadi gengsian gini


sih sama gue?”


            “Gue bener-bener nggak enak Sa.”


            “Gini deh, elo boleh bayar.  Tapi nggak sekarang, nanti kalau semua


masalah elo udah beres.  Ok?”


            Amanda ragu, tapi nggak menapikan


dia memang butuh bantuan sahabatnya itu.  “Serius gue nggak enak sama Mas Rudi.”


            Nisa hanya diam menatap Amanda


dengan serius.


            “Tapi ini utang ya, gue nggak mau


gratis.”


            “Terserah. Nanti siang elo pindah


dari sini!  Bangkrut ****** kalau elo


kelamaan di sini.”


            Amanda tersenyum mendengar


permintaan Nisa, tapi diapun begitu berterima kasih pada Nisa.  Sudah lebih dari lima belas tahun memang


mereka bersahabat.  Sejak mereka berdua


bertemu di Amsterdam ketika menempuh pendidikan master.  Kala itu, Amanda seringkali membantu Nisa


mengerjakan tugas-tugas kampusnya.  Karena Amanda memang berotak encer.  Sedangkan Nisa saat itu sekolah lagi atas paksaan keluarganya dan daripada


bengong menemani Mas Rudi yang mengambil program doctor di universitas yang sama.  Sangat beruntung buat Nisa pada saat itu berteman dengan Amanda yang


mampu membantunya. Dengan motivasi yang lemah dan kemampuan kognitif yang


terbatas, ya memang cukup beruntung Nisa bisa meraih gelar master.  Tapi Nisa itu memang teman yang baik


banget.  Dari itu Amanda bertahan


bersahabat dengan Nisa begitu lama.  Amanda tidak mempunyai banyak teman di Jakarta ini, mungkin hanya teman kantor


dan tetangga rumah.  Makanya bersahabat


dengan Nisa yang telah terjalin cukup lama sangat membantunya bertahan hidup


melawan kerasnya keindividuan Jakarta.  Dan


dengan masalahnya dengan Fauzan saat ini, Amanda begitu berterima kasih dan


merasa beruntung punya sahabat seperti Nisa.  Contohnya seperti hari ini ketika mereka ada di supermarket yang


terletak di lantai dasar apartemen yang sedang ditempati oleh Amanda dan


anak-anaknya.


Amanda kebingungan mendorong


trolly, dari tadi Nisa memasukkan begitu banyak barang-barang ke dalam trolly


ini sambil banyak bertanya pada Amanda.  Setelahnya


mereka ke kasir.  Nisa menghabiskan lebih


dari dua juta rupiah untuk semua belanjaannya.  Setelahnya, ia pun menyuruh drivernya


untuk membawa semua belanjaan itu apartemen Amanda.


            Tentu saja Amanda terbengong-bengong


mengetahui bahwa semua barang yang dibeli Nisa untuknya.


            “Elo apa-apaan sih?”  Amanda kaget banget.


            “Bo... ini bukan buat elo ya, buat


anak-anak elo.” Nisa menekankan.


            “Ya nggak gini juga Sa.”


            Nisa memperlihatkan wajah


memelasnya. “Terima ya, Please…! gue


tahu banget elo butuh. “


            Amanda nggak bisa berbuat apa-apa


lagi.  Tahu banget sih niat sahabatnya


baik, ya tapi… “Elo manusia apa malaikat sih?”


            Nisa langsung memeluk Amanda.  “Pokoknya gue pengen elo dan anak-anak elo


nyaman.”


            “Makasih ya.”  Cuma itu yang diucapkan Amanda. “Tapi jangan


sering-sering, nanti gue manja!”


**


Sejak


awal Bimo mulai sekolah, memang Amanda sengaja memasukkannya ke sekolah yang


dekat dengan ia bekerja, begitu juga Citra yang sekarang mulai sekolah walau


baru di kelompok bermain.  Dan benar saja,


ketika sekarang mereka harus berangkat tanpa Fauzan semua menjadi mudah,


ternyata tinggal di Kelapa Gading membuat jarak tempat kerja dan sekolah ke


tempat tinggal lebih dekat dan cepat.  Semula mereka memang tinggal di kawasan Pondok Bambu.  Itu juga yang membuat Amanda lebih mudah


membuat alasan pada Citra, mereka pindah untuk bisa berangkat ke sekolah lebih


dekat.


            Tetapi masalah keuangan justru


semakin tidak ada jalan keluar.  Walaupun

__ADS_1


Nisa sangat membantu mereka dengan membiarkan mereka tinggal di apartemennya


dan sesekali membantu mereka untuk kebutuhan sehari-hari, tapi masih banyak


pengeluaran lainnya. Karena tidak lagi memiliki kendaraan mereka harus tiap


hari menggunakan taksi online untuk


aktivitas mobilitas mereka.  Belum lagi


sekolah anak-anaknya yang memang sekolah swasta sehingga mengeluarkan biaya


yang cukup besar.  Amanda benar-benar


harus mengencangkan ikat pinggang.  Penghasilannya sebagai dosen di perguruan tinggi negeri ini, sebenarnya


tidak kecil, tapi karena sekarang ia menjadi orang tua tunggal perbedaannya


menjadi sangat signifikan.


            “Bu, apa mas nggak pindah ke sekolah


negeri saja?”


            Amanda terpana dengan permintaan


Bimo, anak yang dulunya begitu cuek, menjadi sangat dewasa dan perasa.  Amanda sepertinya menyadari anaknya ikut


khawatir dengan keuangan mereka ketika melihat Amanda yang sibuk menghitung


pengeluarannya di meja makan.


            “Kok mas ngomong gitu?”


            “Nggak, sekolah mas mahal bu, kalau


sekolah negeri kan gratis.” Sepertinya Bimo bicara sambil takut sang ibu sedih.


            Amanda tersenyum, berusaha


mengatakan bahwa Bimo nggak perlu khawatir. “Tanggung mas, enam bulan lagi kamu


lulus.  Nanti saja SMA nya mas harus bisa


masuk negeri ya.”


            Bimo pun tersenyum mengangguk.


            Amanda benar-benar terharu tapi juga


sedih, dia merasa anak sulungnya mendadak dewasa.  Well, tapi ini jauh lebih baik, dari pada pelarian anak itu menjadi anak nakal.  Kondisi ini memang tak pernah mudah untuk


semua.


Enam


bulan telah berlalu.  Semua menjadi


terbiasa, begitu juga masalah keuangan, pelan-pelan adaptasi membuat


permasalahan pelan-perlan terurai.  Bersyukur, Bimo berhasil masuk SMA Negeri yang berkualitas baik, dan


letaknyapun tak jauh dari kawasan mereka tinggal.  Citra yang semula rewel terus menerus


menanyakan kapan ayahnya pulang tidak lagi bertanya, sepertinya gadis kecil ini


pun menjadi tumbuh lebih cepat dari seharusnya, dia lebih banyak menyimpan


perasaannya di hati, kala sang kakak dan ibunya tidak mampu memberikan jawaban


yang memuaskan.  Dalam hati. Amanda


sebenarnya juga bingung, Fauzan sama sekali tidak mencari anak-anaknya.  Padahal dulu Fauzan dan Citra seperti tidak


bisa terpisahkan. Apakah benar-benar mereka telah terlupakan?


Sore


itu, ketiganya sedang makan di Mc café yang terletak tak jauh dari mereka tinggal.  Mereka memang harus berhemat, tapi sekali-kali memenuhi keinginan si


cilik Citra boleh lah.


            “Ayaaaaaaahh…” Tiba-tiba saja Citra


berlari menuju seorang laki-laki yang baru saja memasuki restoran itu.


            Amanda dan Bimo begitu kaget melihat


Citra yang spontan berlari.  Laki-laki


yang dihampiri Citra pun begitu kaget.  Citra memang tidak salah laki-laki itu memang Fauzan, dia sedang dengan


seorang wanita.  Citra pun memeluk kaki


hingga pinggang Fauzan, karena hanya bagian itu yang mampu ia raih.  Terlihat Fauzan pun begitu bahagia melihat


putrinya.  Tapi hanya sepintas.


            “Anak siapa sih nih, main


nempel-nempel ke kamu gini?”  Perempuan


di samping Fauzan sepertinya terganggu dengan pelukan Citra untuk Fauzan.


            “Ini anak aku.” Fauzan heran dengan


reaksi perempuan di sampingnya.


            Perempuan itupun melihat ke segala


arah, mencari-cari seseorang. “Ini ibunya mana sih?”  dia begitu merasa terganggu.


            Melihat pemandangan itu spontan Bimo


bangkit dari duduknya, menghampiri Citra dan Fauzan.  Dia pun meraih Citra untuk kembali ke


bangkunya tanpa banyak bicara.  Ia hanya


tersenyum penuh hormat pada sang ayah.


            Fauzan hanya terpana melihat reaksi


Bimo.


            Citra sepertinya syok melihat reaksi


Fauzan yang hanya diam.  Dia mengharapkan


pelukan dan senyum sang ayah untuknya.  Dia pun akhirnya hanya menurut ketika sang kakak membawanya kembali ke


sang bunda.


            “Kita nggak usah makan di sini


yuk.  Kayak anak kecil saja makan


ginian.”  Sang perempuan pun kembali


menarik Fauzan untuk keluar dari restoran itu.


            Lha tadi siapa yang merengek minta


apple pie? Fauzan jadi bingung.


            Amanda, Bimo dan Citra hanya mampu


memperhatikan mereka keluar hingga ke parkiran.  Pantas saja tadi Bimo dan Amanda tidak memperhatikan kedatangan Fauzan,


karena memang ternyata mereka menggunakan mobil yang sebelumnya tidak mereka


kenal.  Mereka menggunakan Honda Jazz


terbaru berwarna oranye.  Mobil ini


ternyata yang dibeli Fauzan dengan cara mencicil untuk perempuan itu, guman


Amanda dalam hati.


            “Ayah nggak sayang aku lagi ya bu?”


Citra begitu kecewa, diungkapkannya begitu sang ayah pergi begitu saja.


            “Tahu nggak, ayah seperti itu karena


temen ayah yang tadi itu galak.  Ayah


takut kamu dimarahin, makanya ayah pergi.”  Bimo berusaha menghibur sang adik.


            Amanda tersenyum, dia begitu


berterima kasih Bimo memiliki spontanitas yang tinggi menghibur sang adik.  Amanda sebenarnya sama kecewanya dengan Citra


hingga dia tak bisa berkata apa-apa ketika Citra bertanya.


Sesampai


di apartmen mereka, Amanda kembali termenung.  Ia menyesal kenapa harus bertemu dengan Fauzan, peristiwa yang hanya


sekian detik itu membuat Citra terluka.  Mungkin memang ada hikmahnya, Citra sedikit memahami apa yang terjadi


sebenarnya.  Sedih rasanya melihat putri


kecilnya harus demikian terluka.  Seperti


luka yang ia miliki yang masih juga belum sembuh, walau beberapa purnama telah


berlalu.  Sepertinya mereka memang harus


keluar dari kondisi ini sesaat. Entah bagai mana caranya.  Berhayal sedikit solusi sepertinya hanya akan


sia-sia.  Amanda hanya ingin ia dan


anak-anaknya bertahan hidup.


Mengenal


sepintas tentang Elly.  Dia adalah


perempuan muda, cantik dan segar berusia 27 tahun. Elly berprofesi sebagai


sekertaris di kantor yang berlokasi di gedung yang sama di salah satu gedung


pencakar langit di jalan Soedirman.  Kantor Fauzan ada di lantai 15-19 sedangkan kantor Elly ada di lantai


12.  Awalnya Elly adalah incaran dari


beberapa anak buah Fauzan, makanya Fauzan sering mendengar nama Elly di setiap


perbincangan para staf laki-laki muda di kantornya.  Fauzan hanya mendengar pembicaraan dan lelucon


kotor ala anak-anak muda itu di setiap makan siang mereka.   Tapi ternyata Elly lebih memilih lelaki


dewasa seperti Fauzan untuk menjadi pendampingnya.  Dari itulah Fauzan dan Elly kemudian


menjalani hubungan rahasia.  Tidak banyak


yang tahu tentang hubungan ini, hanya beberapa staf laki-laki Fauzan yang


karena memang semula mereka lah yang mengincar Elly.  Apa daya ternyata Elly menyukai laki-laki


mapan yang mampu mencukupi kebutuhannya.  Tentu saja para staf muda yang masih berpenghasilan menengah itu mundur


teratur ketika mengetahui apa yang diharapkan Elly dari seorang laki-laki.


            Mengenal Elly membuat Fauzan begitu


tersanjung.  Bayangkan saja dia yang


dipilih Elly padahal banyak sekali laki-laki muda yang mengincarnya.  Menurut Elly, di usia Fauzan yang matang ini,


membuatnya jauh lebih gagah dan menarik.  Cukup membuat wajah Fauzan memerah mendengar pujian awal itu.  Selain itu, menurut Elly, Fauzan sangat tahu


bagaimana memperlakukan perempuan sehingga membuatnya makin merasa aman dan


nyaman di dekatnya.  Tuh… dengar


laki-laki muda! Anda tidak tahu cara membuat perempuan merasa nyaman dekat


kalian.


            Makanya Fauzan berusaha keras


membuat Elly nyaman di dekatnya.  Ketika


dia mengeluh tentang kamar kostnya yang kebanjiran, dengan sigap Fauzan langsung


mengontrakkan Elly sebuah apartemen di bilangan Kuningan, agar dekat dengan


kantornya.  Dia langsung membayar di muka


kontrakan itu untuk dua tahun lamanya.  Dan ketika Elly mulai mengeluh tentang dia kerepotannya mendapatkan ojek online di kala pagi hari untuk pergi


ke kantor, atau kesulitan mencari travel untuk pulang kampung ke Bandung di saat weekend, Fauzan langsung mengkreditkan sebuah Honda Jazz terbaru untuk dirinya.  Semua itu untuk perempuan yang disayanginya


merasa nyaman.


            Well, tentunya semua itu ada konsekwensinyalah.  Fauzan harus meminjam uang di bank dengan cara kredit tanpa anggunan


untuk membayar kontrakan apartemen dan down


payment mobil untuk Elly.  Selain itu


mobil yang dibelinya untuk Elly harus dicicil selama dua tahun.  Ternyata mengajukan kredit itu mudah sekali,


mengingat selama ini ia tidak pernah melakukan itu.  Sekarang dia merasa heran, kenapa selama ini


Amanda anti banget sama namanya kredit, padahal itukan mempermudah hidup.


Daripada selama ini ia dan keluarga selalu harus menabung untuk membeli


sesuatu, sangat merepotkan.  Akibatnya


memang dia tidak bisa menafkahi keluarganya sementara ini.  Tapi nggak papalah, mereka kan masih punya


tabungan ya gunakan itu dululah.  Bukannya tabungan itu digunakan untuk masa paceklik?  Ya…. anggap saja ini masa paceklik untuk


keluarganya. Nggak ada yang salah kan, sebagai laki-laki boleh dong punya


pengalaman nakal? Semua masih terkontrol kok.


            Ketika Fauzan mengusir Amanda dan


anak-anak dari rumah, sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh kok.  Fauzan berjanji suatu saat dia akan mencari


anak dan istrinya lagi.  Saat ini dia


hanya ingin bersenang-senang tanpa merasa terganggu.  Bercerai? Ya nggak mungkinlah, dia masih


sayang anak-anaknya kok.  Dia memang


sedang merasa bosan saja dengan Amanda.  Amanda itu orangnya mudah ditebak, dia lembut tapi juga tegas, mencintai


ilmu pengetahuan begitu dalam makanya dia seorang dosen, logikanya sangat


jelas.  Kadang Fauzan bingung, jalan


fikiran Amanda sangat laki-laki menurutnya.  Amanda juga sangat hemat, benci dengan utang.  Dia selalu berfikir kalau suatu saat dia


meninggal dunia, dia tidak ingin meninggalkan orang-orang yang dicintainya


sebuah beban.  Dulu Fauzan menghormati


prinsip hidup Amanda, tapi kalau melihat apa yang dijalaninya sekarang, nggak


ada yang salah dengan punya kredit?

__ADS_1


__ADS_2