
Ketika
telepon berdering ketiga kalinya, Amanda pun mengangkatnya.
“Selamat pagi, apakah ini kediaman
rumah Pak Fauzan?” Seorang laki-laki di
seberang suara bertanya.
“Iya benar.”
“Boleh saya tahu, saya bicara dengan
siapa?”
“Istrinya.”
“Oh Bu Elly. Apa kabar bu? Saya mau
konfirmasi untuk pengiriman mobilnya, apa betul dikirim ke apartment Kuningan?”
Amanda kaget, kok Elly? Mobil? Apartemen?
Berusaha untuk tenang, Amanda berusaha untuk mengorek informasi sebanyak
mungkin.
“Oh begitu, kira-kira jam berapa mas
mau dikirimnya, biar saya siap?”
“Sore bu, sekitar pukul 4. Tapi sebelumnya saya mau konfirmasi sedikit
dulu ya bu. Nanti pembayaran cicilannya auto debet ke rekening Pak Fauzan ya
bu?”
Semakin bingung Amanda mencoba untuk
tenang. “Iya dong. Sesuai aplikasinya yang kemarin itu mas.”
“Iya bu. Auto debetnya akan setiap tanggal lima ya bu, sejumlah lima belas
juta.”
“Ok. Untuk berapa tahun ya mas?”
“Dua tahun ya bu?”
“Ok.”
“Baik bu, saya kembali konfirmasi
alamat ya bu…” sang sales pun terus bicara, Amanda masih berusaha menenangkan
diri dengan informasi yang memperkuat kecurigaannya selama ini. Siapakah perempuan yang bernama Elly ini?
Sebegitu besarnyakah cinta Fauzan hingga membelikannya sebuah mobil dan mampu
berbohong pada Amanda bahwa sementara ini Fauzan tidak bisa menafkahi
keluarganya karena gaji yang tertunda akibat kondisi keuangan kantor yang tidak
baik? Fauzan telah menabrak aturan di rumah tangganya bahwa selama ini mereka
anti utang. Ada apa dengan Fauzan?
Amanda benar-benar syok mendengar informasi yang baru ia dapatkan. Sulit untuknya mencerna. Masih berusaha
menenangkan diri, bahwa informasi yang didapat barusan hanyalah sebuah
prasangka buruk pada suami.
Awalnya, tanpa ada kecurigaan sama
sekali Amanda pun berusaha memaklumi, ketika Fauzan minta maaf karena kondisi
keuangan kantor yang tidak baik. Dia pun
mulai menggunakan tabungan mereka dan gajinya sebagai dosen di universitas
negeri untuk kelangsungan rumah tangga mereka. Tapi ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, keikhlasannya
menjadi berkurang, dan lama-kelamaan Amanda agak kewalahan. Tabungan mereka mulai menipis, mengandalkan gajinya
sebagai pegawai negeri yang tidak banyak itu sebenernya tidak cukup. Dan Amanda juga semakin curiga dengan Fauzan,
mengaku belum digaji selama 6 bulan, kok sepertinya dia betah-betah saja
bekerja, tidak ada tanda-tanda akan mencari pekerjaan lain. Amanda pun semakin heran, karena melihat
penampilan Fauzan belakangan ini yang justru mengenakan banyak pakaian baru tanpa
tahu kapan ia membelinya. Bukannya
kelangsungan kondisi keuangan perusahaan sedang tidak baik? Dan yang paling membuatnya resah adalah
Fauzan semakin sering ijin keluar kota. Amanda sangat tahu pekerjaan Fauzan sebagai senior manager biasanya ia
hanya akan keluar kota di awal dan di akhir tahun, selebihnya stafnya yang akan
banyak keluar kota, tapi sekarang hampir setiap bulan ia ijin untuk pergi
keluar kota. Amanda khawatir, apabila
dia terus berpura-pura tidak tahu terlalu lama, Fauzan akan melangkah terlalu
jauh, tapi kalau ia bertanya ia pun masih merasa kurang bukti. Amanda kebingungan ia sangat ingin
mempertahankan keluarganya, kecurigaannya tentang mobil yang dibeli Fauzan, dan
permasalahan keuangan pun dirasa semakin mengganggu.
Hanya ingin membahas masalah
keuangan, Amanda berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyinggung
kecurigaannya tentang orang ketiga.
“Nonton apa Yang?” Amanda menyapa
Fauzan yang sedang menonton TV
Fauzan menoleh sejenak. “HBO-nya
lagi seru.”
Amanda agak takut untuk memulai, dia
duduk di samping Fauzan mau mulai agak ragu.
Fauzan sepertinya mulai menyadari.
“Kamu kenapa?”
“Nggak… ini aku cuma mau nanya, kamu
kira-kira kapan gajian, tabungan kita sudah mulai tipis nih.” Amanda merasa
bersalah ketika mulai langsung pada intinya.
Fauzan langsung tersinggung
mendengar itu. “Kamu fikir aku suka dengan kondisi ini?” Mulai meninggi.
Amanda menghela nafas, dia tahu akan
begini jadinya. “Maaf, bukan maksud aku…”
“Aku baru tahu ya, ternyata kamu
bukan perempuan yang bisa diajak susah.”
Amanda bingung.
“Kamukan punya penghasilan, apa
nggak bisa pakai itu dulu, kita jugakan punya tabungan?”
“Bukan begitu, tapi tabungan itukan
untuk kuliah Bimo dan Citra, nggak mungkin kita pakai terus.”
“Tabungan itu untuk kondisi seperti ini. Kita bisa nabung lagi nanti.” Fauzan semakin meninggi.
Amanda diam dia berusaha untuk tetap
tenang. “Ya sudah, maaf ya.” Amanda
berusaha menyudahi pertengkaran ini.
Fauzan bangkit dari duduknya. “Aku
nggak bisa begini.”
Amanda heran, maksudnya apa?
“Kamu pergi deh dari rumah ini!”
Amanda kaget setengah mati. Haruskah
dia diusir? “Fauzan aku minta maaf.”
Fauzan menggeleng. “Aku nggak
sanggup hidup dengan orang yang nggak bisa diajak susah!”
Amanda mulai menangis, ternyata
keputusannya untuk bicara berdampak demikian buruk.
“Kamu lebih baik pergi, dari pada
aku tambah emosi!”
“Tega ya kamu. Selama ini aku berusaha keras untuk menunggu
kamu tobat. Ternyata aku salah. Sebegitunya cinta kamu buat si Elly itu sampai
mampu mengusir aku dari sini.”
Fauzan kaget. “Kamu jangan sembarangan nuduh ya!”
“Oh ya, Honda Jazz warna oranye udah
sampaikan?” Tanyanya sinis.
Fauzan makin kaget.
“Kenapa, kaget aku tahu? Kamu fikir
aku bodoh percaya begitu saja, kalau kamu nggak digaji enam bulan?” Amanda merasa di atas angin, “Ok aku pergi
sekarang, tapi bukan karena aku merasa salah nggak bisa kamu ajak susah. Tapi karena aku merasa percuma bicara dengan
orang yang sedang jatuh cinta. Aku bawa anak-anak ya.”
“Bawa saja, di saat aku susah begini,
memang saatnya ditinggal anak istri.”
“Logika macam apa ini? Masih saja ngaku susah. Susah karena sibuk nafkahi simpenan jadi
merasa beban nafkahin anak istri?” Benar-benar muak dengan segala kebohongan Fauzan sudah. Beraninya laki-laki itu mengusirnya demi
perempuan lain.
Amanda pergi ke kamar Bimo, dia
sedang belajar di ruangannya.
“Mas, kamu benahi pakaian kamu ya,
masukin ke koper. Kita harus pergi!”
Anak sulung itu kebingungan.
“Semua?”
Amanda mengangguk.
“Sekarang?”
Amanda mengangguk lagi. “Jangan lupa
buku-buku untuk kamu sekolah.” Amanda
pun meninggalkan Bimo yang masih keheranan, dia pun menjalankan perintah sang
ibu tanpa bertanya lagi.
Amanda kemudian menuju kamarnya,
yang dilihat Fauzan telah mengeluarkan baju-bajunya yang ada di lemari ke atas
tempat tidur, hati Amanda makin hancur. Airmata itu semakin berlinang, dia
menghapusnya dengan punggung tangannya. Tanpa bicara lagi, diapun memasukan baju-bajunya ke dalam tas besar yang
sudah disediakan Fauzan. Kemudian,
diapun ke kamar Citra si bungsu yang sedang tidur, memasukkan pakaian anaknya
ke dalam tas koper yang ada di sana. Sepintas mengingat beberapa arsip yang menurutnya penting untuk dia
bawa. Selain itu, ia hanya membawa
barang-barang seperlunya. Sebenarnya dia
kebingungan tujuannya, mengingat dia bukan asli Jakarta.
Bimo telah siap, begitu pun Amanda,
walau hatinya hancur, dia tetap meminta Bimo untuk pamit dengan sang ayah. Setelahnya, sambil menggendong Citra yang
masih tertidur, Amanda dan Bimo keluar rumah dengan beberapa koper mereka,
menanti taksi yang baru saja Amanda pesan secara online. Fauzan hanya menutup
dan mengunci pintu tanpa sama sekali membantu mereka. Amanda begitu terluka, Bimo yang kebingungan
sepertinya mengerti dengan apa yang terjadi dengan orang tuanya, dia tidak
banyak bertanya. Usia Bimo memang 14
tahun, sebentar lagi dia lulus sekolah menengah pertama.
Ketika taksi yang dipesan datang,
mereka bertiga pun masuk ke dalamnya, sang pengemudi telah tahu tujuan mereka,
hanya mempersilahkan mereka masuk, dan membantu mereka memasukan
barang-barangnya ke bagasi.
“Malam ini kita tinggal di hotel
bu?” Bimo hanya memastikan.
Amanda mengangguk. “Kalau ade besok
bangun, bilang kita jalan-jalan ke hotel dulu ya.”
“Setelah itu?”
__ADS_1
“Ibu akan mencoba hubungi teman ibu
ya, semoga ada jalan.”
Bimo hanya mengangguk setuju. Dan dia kembali terdiam. Dia tahu sang ibu sedang terluka. Semakin banyak bertanya akan semakin membuat
sang ibu menderita.
Mereka
tinggal di hotel berbintang yang terletak di kawasan Kelapa Gading. Mereka telah memasuki ruangan kamar mereka. Setelah kembali menidurkan Citra, Amanda pun
duduk termenung di pojokan kamar, walaupun TV sedang menyala tapi fikirannya
tidak mampu menikmati acara yang sedang tayang. Amanda khawatir, apakah ini artinya perkawinannya yang telah mereka
bangun selama 15 tahun kandas? Benar-benar pedih memikirkan hal ini.
Bimo kembali memasuki kamar,
setelah cukup lama ada di teras, menikmati pemandangan malam dari ketinggian
lantai 12.
“Bu, ayah selingkuh ya?”
Amanda terkejut mendengar
pertanyaan Bimo.
“Mas, kok ngomong begitu?”
Bimo menyerahkan telepon genggamnya,
ternyata ia menunjukan beberapa photo. “Ini temen aku yang ngambil, dia ketemu
ayah minggu kemarin di Senayan City, ayah bilang dia tugas ke Ambonkan?”
Amanda kaget melihat photo itu,
Fauzan sedang berpegangan tangan erat dengan seorang perempuan, photo lainnya
memperlihatkan Fauzan mencium tangan perempuan itu dengan mesra sambil
berjalan.
“Raihan padahal papasan sama ayah,
tapi kayaknya ayah lupa sama dia. Itu
lho bu, temen SD ku.”
Amanda mengangguk. Dia kenal betul Raihan, anak itu memang
sahabat Bimo sejak taman kanak-kanak.
“Mas jangan marah sama ayah
ya. Ayah sayang kalian, dia cuma sedang
marah sama ibu!”
Bimo hanya tersenyum, dia tidak
setuju dengan perkataan sang bunda, tapi anak ini cukup mengerti untuk
menghindari argument di saat sang ibu sedang sedih. Ia hanya duduk di samping sang bunda dan
memeluknya.
“Ibu jangan sedih ya, mas sama ade
akan temenin ibu.”
Mendengar itu, Amanda hanya
mengangguk, dia berusaha untuk kuat di depan anaknya, tapi mendengar dan
mendapatkan setuhan dari sang anak, pertahanannya pun runtuh, dia justru
menangis sejadi-jadinya. Amanda masih
berusaha keras untuk menahan diri agar si bungsu tidak terbangun dari
tidurnya. Tapi dia pun merasa begitu
beruntung, karena anak sulungnya sangat mengerti perasaannya saat ini.
“Maafin ibu ya mas, maafin ibu
bikin ayah kamu marah.”
“Kok ibu yang salah…”
“Kita harus kuat ya sayang. Tuhan sayang kita, makanya kita diuji.”
Bimo hanya mengangguk, dan masih
terus memeluk sang ibu.
Kekuatan Amanda begitu
bertambah. Di sisi lain sebenarnya ia
sedih, seakan dia memaksa sang anak untuk dewasa sebelum waktunya.
Citra masih cukup kecil untuk
memahami apa yang terjadi. Usianya
memang baru empat tahun. Gadis cilik itu
hanya bingung ketika ia terbangun dia ada di hotel. Sang bunda dan kakak hanya mengatakan bahwa
mereka sedang rekreasi di sana, dan berenang. Permainan kesukaan Citra.
Keesokan
paginya, ketika Bimo sedang menemani Citra berenang, Amanda mendapat telepon
bahwa sahabatnya akan menemuinya di lobi hotel. Ia pun pergi ke lobi hotel
menunggu. Begitu sahabatnya datang,
serta merta Amanda memeluk Nisa sambil menangis.
Nisa yang semalam sudah sedikit
diceritakan oleh Amanda membiarkan Amanda mengungkapkan perasaannya dengan
menangis di pelukannya.
Ketika Amanda tenang, mereka pun
duduk di sudut lobi hotel itu. Walaupun
mereka bersahabat tapi keduanya memiliki gaya yang berbeda, Nisa yang memang
berasal dari kalangan Elites Jakarta bergaya sangat glamor. Yakin banget, sepertinya Nisa nggak menyadari
kok. Sedangkan Amanda memang selalu
sederhana.
“Gimana kabar lo?” Nisa begitu
prihatin.
“Gue harus kuat, demi Bimo dan
Citra.”
“Itu maksud gue.” Nisa pun memberikan kunci apartemennya lokasi
bayar!”
“Eh jangan gitu! Gue nggak enak sama
Mas Rudi.”
“Kok elo kayak nggak kenal gue, Mas
Rudi nggak papa. Gue udah minta ijin sama dia kok, kebetulan bulan kemarin yang
nyewa selesai.”
“Gue nggak enaklah, ini kan
investasi kalian.”
“Hei, gue nggak semiskin itu. Investasi gue nggak cuma satu. Lagi juga elo
dulu banyak bantu gue saat gue pusing sama apa tuh, assignment waktu kita kuliah, sekarang gantian dong!”
Amanda ragu.
“Kok elo sekarang jadi gengsian gini
sih sama gue?”
“Gue bener-bener nggak enak Sa.”
“Gini deh, elo boleh bayar. Tapi nggak sekarang, nanti kalau semua
masalah elo udah beres. Ok?”
Amanda ragu, tapi nggak menapikan
dia memang butuh bantuan sahabatnya itu. “Serius gue nggak enak sama Mas Rudi.”
Nisa hanya diam menatap Amanda
dengan serius.
“Tapi ini utang ya, gue nggak mau
gratis.”
“Terserah. Nanti siang elo pindah
dari sini! Bangkrut ****** kalau elo
kelamaan di sini.”
Amanda tersenyum mendengar
permintaan Nisa, tapi diapun begitu berterima kasih pada Nisa. Sudah lebih dari lima belas tahun memang
mereka bersahabat. Sejak mereka berdua
bertemu di Amsterdam ketika menempuh pendidikan master. Kala itu, Amanda seringkali membantu Nisa
mengerjakan tugas-tugas kampusnya. Karena Amanda memang berotak encer. Sedangkan Nisa saat itu sekolah lagi atas paksaan keluarganya dan daripada
bengong menemani Mas Rudi yang mengambil program doctor di universitas yang sama. Sangat beruntung buat Nisa pada saat itu berteman dengan Amanda yang
mampu membantunya. Dengan motivasi yang lemah dan kemampuan kognitif yang
terbatas, ya memang cukup beruntung Nisa bisa meraih gelar master. Tapi Nisa itu memang teman yang baik
banget. Dari itu Amanda bertahan
bersahabat dengan Nisa begitu lama. Amanda tidak mempunyai banyak teman di Jakarta ini, mungkin hanya teman kantor
dan tetangga rumah. Makanya bersahabat
dengan Nisa yang telah terjalin cukup lama sangat membantunya bertahan hidup
melawan kerasnya keindividuan Jakarta. Dan
dengan masalahnya dengan Fauzan saat ini, Amanda begitu berterima kasih dan
merasa beruntung punya sahabat seperti Nisa. Contohnya seperti hari ini ketika mereka ada di supermarket yang
terletak di lantai dasar apartemen yang sedang ditempati oleh Amanda dan
anak-anaknya.
Amanda kebingungan mendorong
trolly, dari tadi Nisa memasukkan begitu banyak barang-barang ke dalam trolly
ini sambil banyak bertanya pada Amanda. Setelahnya
mereka ke kasir. Nisa menghabiskan lebih
dari dua juta rupiah untuk semua belanjaannya. Setelahnya, ia pun menyuruh drivernya
untuk membawa semua belanjaan itu apartemen Amanda.
Tentu saja Amanda terbengong-bengong
mengetahui bahwa semua barang yang dibeli Nisa untuknya.
“Elo apa-apaan sih?” Amanda kaget banget.
“Bo... ini bukan buat elo ya, buat
anak-anak elo.” Nisa menekankan.
“Ya nggak gini juga Sa.”
Nisa memperlihatkan wajah
memelasnya. “Terima ya, Please…! gue
tahu banget elo butuh. “
Amanda nggak bisa berbuat apa-apa
lagi. Tahu banget sih niat sahabatnya
baik, ya tapi… “Elo manusia apa malaikat sih?”
Nisa langsung memeluk Amanda. “Pokoknya gue pengen elo dan anak-anak elo
nyaman.”
“Makasih ya.” Cuma itu yang diucapkan Amanda. “Tapi jangan
sering-sering, nanti gue manja!”
**
Sejak
awal Bimo mulai sekolah, memang Amanda sengaja memasukkannya ke sekolah yang
dekat dengan ia bekerja, begitu juga Citra yang sekarang mulai sekolah walau
baru di kelompok bermain. Dan benar saja,
ketika sekarang mereka harus berangkat tanpa Fauzan semua menjadi mudah,
ternyata tinggal di Kelapa Gading membuat jarak tempat kerja dan sekolah ke
tempat tinggal lebih dekat dan cepat. Semula mereka memang tinggal di kawasan Pondok Bambu. Itu juga yang membuat Amanda lebih mudah
membuat alasan pada Citra, mereka pindah untuk bisa berangkat ke sekolah lebih
dekat.
Tetapi masalah keuangan justru
semakin tidak ada jalan keluar. Walaupun
__ADS_1
Nisa sangat membantu mereka dengan membiarkan mereka tinggal di apartemennya
dan sesekali membantu mereka untuk kebutuhan sehari-hari, tapi masih banyak
pengeluaran lainnya. Karena tidak lagi memiliki kendaraan mereka harus tiap
hari menggunakan taksi online untuk
aktivitas mobilitas mereka. Belum lagi
sekolah anak-anaknya yang memang sekolah swasta sehingga mengeluarkan biaya
yang cukup besar. Amanda benar-benar
harus mengencangkan ikat pinggang. Penghasilannya sebagai dosen di perguruan tinggi negeri ini, sebenarnya
tidak kecil, tapi karena sekarang ia menjadi orang tua tunggal perbedaannya
menjadi sangat signifikan.
“Bu, apa mas nggak pindah ke sekolah
negeri saja?”
Amanda terpana dengan permintaan
Bimo, anak yang dulunya begitu cuek, menjadi sangat dewasa dan perasa. Amanda sepertinya menyadari anaknya ikut
khawatir dengan keuangan mereka ketika melihat Amanda yang sibuk menghitung
pengeluarannya di meja makan.
“Kok mas ngomong gitu?”
“Nggak, sekolah mas mahal bu, kalau
sekolah negeri kan gratis.” Sepertinya Bimo bicara sambil takut sang ibu sedih.
Amanda tersenyum, berusaha
mengatakan bahwa Bimo nggak perlu khawatir. “Tanggung mas, enam bulan lagi kamu
lulus. Nanti saja SMA nya mas harus bisa
masuk negeri ya.”
Bimo pun tersenyum mengangguk.
Amanda benar-benar terharu tapi juga
sedih, dia merasa anak sulungnya mendadak dewasa. Well, tapi ini jauh lebih baik, dari pada pelarian anak itu menjadi anak nakal. Kondisi ini memang tak pernah mudah untuk
semua.
Enam
bulan telah berlalu. Semua menjadi
terbiasa, begitu juga masalah keuangan, pelan-pelan adaptasi membuat
permasalahan pelan-perlan terurai. Bersyukur, Bimo berhasil masuk SMA Negeri yang berkualitas baik, dan
letaknyapun tak jauh dari kawasan mereka tinggal. Citra yang semula rewel terus menerus
menanyakan kapan ayahnya pulang tidak lagi bertanya, sepertinya gadis kecil ini
pun menjadi tumbuh lebih cepat dari seharusnya, dia lebih banyak menyimpan
perasaannya di hati, kala sang kakak dan ibunya tidak mampu memberikan jawaban
yang memuaskan. Dalam hati. Amanda
sebenarnya juga bingung, Fauzan sama sekali tidak mencari anak-anaknya. Padahal dulu Fauzan dan Citra seperti tidak
bisa terpisahkan. Apakah benar-benar mereka telah terlupakan?
Sore
itu, ketiganya sedang makan di Mc café yang terletak tak jauh dari mereka tinggal. Mereka memang harus berhemat, tapi sekali-kali memenuhi keinginan si
cilik Citra boleh lah.
“Ayaaaaaaahh…” Tiba-tiba saja Citra
berlari menuju seorang laki-laki yang baru saja memasuki restoran itu.
Amanda dan Bimo begitu kaget melihat
Citra yang spontan berlari. Laki-laki
yang dihampiri Citra pun begitu kaget. Citra memang tidak salah laki-laki itu memang Fauzan, dia sedang dengan
seorang wanita. Citra pun memeluk kaki
hingga pinggang Fauzan, karena hanya bagian itu yang mampu ia raih. Terlihat Fauzan pun begitu bahagia melihat
putrinya. Tapi hanya sepintas.
“Anak siapa sih nih, main
nempel-nempel ke kamu gini?” Perempuan
di samping Fauzan sepertinya terganggu dengan pelukan Citra untuk Fauzan.
“Ini anak aku.” Fauzan heran dengan
reaksi perempuan di sampingnya.
Perempuan itupun melihat ke segala
arah, mencari-cari seseorang. “Ini ibunya mana sih?” dia begitu merasa terganggu.
Melihat pemandangan itu spontan Bimo
bangkit dari duduknya, menghampiri Citra dan Fauzan. Dia pun meraih Citra untuk kembali ke
bangkunya tanpa banyak bicara. Ia hanya
tersenyum penuh hormat pada sang ayah.
Fauzan hanya terpana melihat reaksi
Bimo.
Citra sepertinya syok melihat reaksi
Fauzan yang hanya diam. Dia mengharapkan
pelukan dan senyum sang ayah untuknya. Dia pun akhirnya hanya menurut ketika sang kakak membawanya kembali ke
sang bunda.
“Kita nggak usah makan di sini
yuk. Kayak anak kecil saja makan
ginian.” Sang perempuan pun kembali
menarik Fauzan untuk keluar dari restoran itu.
Lha tadi siapa yang merengek minta
apple pie? Fauzan jadi bingung.
Amanda, Bimo dan Citra hanya mampu
memperhatikan mereka keluar hingga ke parkiran. Pantas saja tadi Bimo dan Amanda tidak memperhatikan kedatangan Fauzan,
karena memang ternyata mereka menggunakan mobil yang sebelumnya tidak mereka
kenal. Mereka menggunakan Honda Jazz
terbaru berwarna oranye. Mobil ini
ternyata yang dibeli Fauzan dengan cara mencicil untuk perempuan itu, guman
Amanda dalam hati.
“Ayah nggak sayang aku lagi ya bu?”
Citra begitu kecewa, diungkapkannya begitu sang ayah pergi begitu saja.
“Tahu nggak, ayah seperti itu karena
temen ayah yang tadi itu galak. Ayah
takut kamu dimarahin, makanya ayah pergi.” Bimo berusaha menghibur sang adik.
Amanda tersenyum, dia begitu
berterima kasih Bimo memiliki spontanitas yang tinggi menghibur sang adik. Amanda sebenarnya sama kecewanya dengan Citra
hingga dia tak bisa berkata apa-apa ketika Citra bertanya.
Sesampai
di apartmen mereka, Amanda kembali termenung. Ia menyesal kenapa harus bertemu dengan Fauzan, peristiwa yang hanya
sekian detik itu membuat Citra terluka. Mungkin memang ada hikmahnya, Citra sedikit memahami apa yang terjadi
sebenarnya. Sedih rasanya melihat putri
kecilnya harus demikian terluka. Seperti
luka yang ia miliki yang masih juga belum sembuh, walau beberapa purnama telah
berlalu. Sepertinya mereka memang harus
keluar dari kondisi ini sesaat. Entah bagai mana caranya. Berhayal sedikit solusi sepertinya hanya akan
sia-sia. Amanda hanya ingin ia dan
anak-anaknya bertahan hidup.
Mengenal
sepintas tentang Elly. Dia adalah
perempuan muda, cantik dan segar berusia 27 tahun. Elly berprofesi sebagai
sekertaris di kantor yang berlokasi di gedung yang sama di salah satu gedung
pencakar langit di jalan Soedirman. Kantor Fauzan ada di lantai 15-19 sedangkan kantor Elly ada di lantai
12. Awalnya Elly adalah incaran dari
beberapa anak buah Fauzan, makanya Fauzan sering mendengar nama Elly di setiap
perbincangan para staf laki-laki muda di kantornya. Fauzan hanya mendengar pembicaraan dan lelucon
kotor ala anak-anak muda itu di setiap makan siang mereka. Tapi ternyata Elly lebih memilih lelaki
dewasa seperti Fauzan untuk menjadi pendampingnya. Dari itulah Fauzan dan Elly kemudian
menjalani hubungan rahasia. Tidak banyak
yang tahu tentang hubungan ini, hanya beberapa staf laki-laki Fauzan yang
karena memang semula mereka lah yang mengincar Elly. Apa daya ternyata Elly menyukai laki-laki
mapan yang mampu mencukupi kebutuhannya. Tentu saja para staf muda yang masih berpenghasilan menengah itu mundur
teratur ketika mengetahui apa yang diharapkan Elly dari seorang laki-laki.
Mengenal Elly membuat Fauzan begitu
tersanjung. Bayangkan saja dia yang
dipilih Elly padahal banyak sekali laki-laki muda yang mengincarnya. Menurut Elly, di usia Fauzan yang matang ini,
membuatnya jauh lebih gagah dan menarik. Cukup membuat wajah Fauzan memerah mendengar pujian awal itu. Selain itu, menurut Elly, Fauzan sangat tahu
bagaimana memperlakukan perempuan sehingga membuatnya makin merasa aman dan
nyaman di dekatnya. Tuh… dengar
laki-laki muda! Anda tidak tahu cara membuat perempuan merasa nyaman dekat
kalian.
Makanya Fauzan berusaha keras
membuat Elly nyaman di dekatnya. Ketika
dia mengeluh tentang kamar kostnya yang kebanjiran, dengan sigap Fauzan langsung
mengontrakkan Elly sebuah apartemen di bilangan Kuningan, agar dekat dengan
kantornya. Dia langsung membayar di muka
kontrakan itu untuk dua tahun lamanya. Dan ketika Elly mulai mengeluh tentang dia kerepotannya mendapatkan ojek online di kala pagi hari untuk pergi
ke kantor, atau kesulitan mencari travel untuk pulang kampung ke Bandung di saat weekend, Fauzan langsung mengkreditkan sebuah Honda Jazz terbaru untuk dirinya. Semua itu untuk perempuan yang disayanginya
merasa nyaman.
Well, tentunya semua itu ada konsekwensinyalah. Fauzan harus meminjam uang di bank dengan cara kredit tanpa anggunan
untuk membayar kontrakan apartemen dan down
payment mobil untuk Elly. Selain itu
mobil yang dibelinya untuk Elly harus dicicil selama dua tahun. Ternyata mengajukan kredit itu mudah sekali,
mengingat selama ini ia tidak pernah melakukan itu. Sekarang dia merasa heran, kenapa selama ini
Amanda anti banget sama namanya kredit, padahal itukan mempermudah hidup.
Daripada selama ini ia dan keluarga selalu harus menabung untuk membeli
sesuatu, sangat merepotkan. Akibatnya
memang dia tidak bisa menafkahi keluarganya sementara ini. Tapi nggak papalah, mereka kan masih punya
tabungan ya gunakan itu dululah. Bukannya tabungan itu digunakan untuk masa paceklik? Ya…. anggap saja ini masa paceklik untuk
keluarganya. Nggak ada yang salah kan, sebagai laki-laki boleh dong punya
pengalaman nakal? Semua masih terkontrol kok.
Ketika Fauzan mengusir Amanda dan
anak-anak dari rumah, sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh kok. Fauzan berjanji suatu saat dia akan mencari
anak dan istrinya lagi. Saat ini dia
hanya ingin bersenang-senang tanpa merasa terganggu. Bercerai? Ya nggak mungkinlah, dia masih
sayang anak-anaknya kok. Dia memang
sedang merasa bosan saja dengan Amanda. Amanda itu orangnya mudah ditebak, dia lembut tapi juga tegas, mencintai
ilmu pengetahuan begitu dalam makanya dia seorang dosen, logikanya sangat
jelas. Kadang Fauzan bingung, jalan
fikiran Amanda sangat laki-laki menurutnya. Amanda juga sangat hemat, benci dengan utang. Dia selalu berfikir kalau suatu saat dia
meninggal dunia, dia tidak ingin meninggalkan orang-orang yang dicintainya
sebuah beban. Dulu Fauzan menghormati
prinsip hidup Amanda, tapi kalau melihat apa yang dijalaninya sekarang, nggak
ada yang salah dengan punya kredit?
__ADS_1