
Dalam setiap
perpisahan, malam adalah neraka. Kesepian, kesendirian dan penyesalan selalu datang di saat itu. Amanda benar-benar tersiksa apabila malam
tiba. Menangis sendirian tanpa ada
satupun orang yang tahu dan berusaha keras untuk bisa tidur. Itupun bukan hal mudah. Sudah lebih dari satu bulan, tapi siksaan
kesendirian itu benar-benar menyakitkan dan belum mau pergi. Dia pernah merasakan hal ini sebelumnya, tapi
waktu dengan Fauzan memang ada proses panjang, tapi dengan Monrue kejadian satu
malam menyelesaikan segalanya. Apapun
prosesnya kehilangan nggak pernah mudah. Dalam hati Amanda bertekad, nggak perlu ada cinta baru lagi di
hati. Terlalu lelah menjadi orang
terbuang seperti ini.
Tertulis nama Fauzan di teleponnya,
ada apa Fauzan malam-malam meneleponnya. Dia langsung mengangkatnya, takut ada
yang penting.
“Ada apa?”
“Nggak papa, Cuma mau memastikan
kamu baik-baik saja?”
“Oh… Kok tanya begitu?”
“Sejak tadi Monrue pulang kamu
banyak diam. Kamu masih sedih Man?”
Amanda tersenyum. “Sedih iya, tapi
aku baik-baik saja kok. Thank for asking.”
“Hm… kamu pengen aku datang malam
ini?” Tanya Fauzan ragu.
Amanda tertawa dan melirik jam
dinding, pukul 1 malam. “Nggak segitunya juga kok. Makasih ya aku baik-baik saja.”
“Man, aku sayang kamu. Selalu sayang kamu. Aku sedih melihat kamu sedih begini.”
“Makasih.”
“Ada yang bisa aku bantu?”
“Dukung aku untuk kuat ya!” Pinta
Amanda tulus.
“Pasti.”
“Aku tidur ya.”
“Ok.
Good night.”
Sambungan pun tertutup. Amanda pun sedikit tenang dengan adanya
perhatian Fauzan untuknya. Mencoba untuk
tidur dan diapun berhasil.
Waktu memang
obat paling mujarab. Ketika telah dua
bulan, pelan-pelan luka itu membaik seiring dengan berjalannya waktu. Tangis Amanda tidak lagi terjadi dalam
malam. Hanya sesekali ia ingat Monrue
lagi kalau memang Monrue hadir di televisi. Ya itu mah nggak bisa dihindari profesinyakan penyanyi. Kalau dilarang wara-wiri di TV mah sama saja
tidak mengijinkan dia hidup. Pelan-pelan
pun Amanda bisa bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Fauzan nggak emosi kok, melihat
bagaimana Monrue juga menyesal dengan apa yang dilakukan, dan cara Amanda
menyelesaikan masalah, terlihat jelas Amanda mampu mengatasi masalahnya tanpa
campur tangan Fauzan. Saat ini yang
dibutuhkan Amanda hanya dukungan Fauzan sebagai teman. Citra pun juga berusaha keras menghibur sang
bunda. Sesekali Bimo pun video call dengannya sekedar menanyakan
kabarnya. Dukungan dari keluarga kecil
ini sangat berarti untuk Amanda. Dia
sangat menghargai itu. Buat Amanda sudah
cukuplah waktu untuknya mengasihi diri sendiri. Dia harus bisa kembali normal demi orang-orang di sekitarnya dan untuk
dirinya juga.
Di pertengahan
Oktober, Fauzan mendatangi Monrue. Monrue sebenarnya agak bertanya-tanya tujuan Fauzan menemui
dirinya. Ketika Fauzan menghubunginya,
Monrue bersedia bertemu di wilayah dekat dengan studionya. Akhirnya mereka janjian untuk bertemu di satu
restoran di bilangan Tebet.
Mereka datang hampir bersamaan. Bertemu di parkiran, mereka pun memasuki
restoran bersama. Mereka hanya berdua saja. Setelah memesan makanan mereka pun kemudian
ngobrol ringan.
“Gimana kabar lu?” Fauzan
berbasa-basi.
Monrue tersenyum. “Kabar Amanda
gimana mas?” dia lebih ingin tahu kabar perempuan itu.
Fauzan tersenyum tipis. “Hiduplah, sudah
jarang nangis lagi sekarang.”
Monrue langsung serius. “Dulu sedih
banget ya mas?”
“Depan orang kuat, tapi gue suka
lihat sih, sering bengong terus nangis sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang sudah nggak lagi kok.”
Monrue antara sedih dan bahagia
__ADS_1
mendengar keterangan itu. Sedih karena
ternyata dia menyakiti perempuan yang sayang dia. Bahagia ternyata dia tak mudah
dilupakan. Sesaat Monrue jadi termenung.
“Mon, gue ke sini mau ngomong. Gue akan mengajak Amanda rujuk.”
“Ya mas, jangan dong!” Monrue begitu
jujur. “Gue gimana kalau kalian rujuk.”
Fauzan kaget dengan permintaan jujur
Monrue. “Gue nunggu ini enam tahun Mon,
kurang sabar apa gue?” Fauzan jadi minta
pengertian Monrue. “Gue sama sekali
tidak melibatkan diri dengan hubungan kalian, elo yang nggak bersyukur dengan
itu.”
Monrue diam. Semua memang salahnya. Tapi dia nggak sanggup. “Gue salah mas, tapi
gue cinta Manda.”
“Menurut elo gue nggak?”
Monrue diam. “Kita serahkan ke
Amanda saja ya mas, kalau memang dia mau balik sama elo, gue janji gue nggak
akan ganggu kalian seperti elo dulu menghargai gue. Tapi kalau Amanda lebih pilih gue elo harus
ikhlas ya mas.”
“Ok.” Fauzan setuju.
“Kapan elo akan melamar dia?”
“Setelah tiga bulan kalian pisah.”
“Akhir bulan ini?”
Fauzan mengangguk.
Monrue menghela nafas. Dia ketakutan.
“Ok. Gue balik kantor ya. Cuma mau ngomong itu sama elo.”
Monrue mengangguk. “Makasih mas, elo
sudah ngasih tahu.”
Fauzan mengangguk dan berlalu.
Meninggalkan Monrue yang termenung
ketakutan.
Di penghujung
bulan Oktober, Fauzan sudah menyiapkan mentalnya untuk bicara serius pada
Amanda, tentang keinginannya bersama lagi. Minggu siang, ketika mereka memang
hanya berdua, karena Citra sibuk di kamarnya sendiri. Fauzan mendapatkan kesempatan untuk
mengungkapkan isi hatinya. Amanda
terkejut mendengar permintaan Fauzan. Bukan permintaannya sebenarnya, tapi waktunya yang baginya terlalu
cepat.
aku Manda.” Fauzan memohon. “Enam tahun aku nunggu kamu. Apa kamu nggak bisa
mempertimbangkan itu?”
Amanda jadi berfikir. Iya juga
ya. Tapikan dia nggak pernah minta
fauzan untuk menunggunya. Dia bisa saja
mencari wanita lain.
“Aku cuma mau kamu Manda, aku kangen
kamu.” Fauzan terus memohon.
Dari dulu Amanda memang tahu kalau
Fauzan tidak pernah berhenti mencintainya. Tapi tetap saja ini terlalu cepat. Bayangan Monrue masih ada jelas dalam hatinya. Ini nggak adil untuk semua. Masa sih dia bersama seorang laki-laki tapi
hatinya masih tersisa untuk laki-laki lainnya. Oh itu bukan dia banget.
“Apa nggak ada sisa cinta kamu untuk
aku?”
Amanda pusing. Hadeuh… kenapa harus
buru-buru begini sih? Di saat ia telah
bertekad untuk hidup tanpa cinta, kok malah cinta datang silih berganti
begini. Untuk apa? untuk menyakitinya
lagi? Cape deh. Tapi melihat wajah
Fauzan yang penuh harap, dan bagaimana laki-laki ini begitu setia
mendampinginya walau bukan menjadi cinta dalam hidupnya Amanda jadi nggak
tega. Dia memang masih sayang Fauzan.
“Kasih aku satu bulan untuk siap
menerima kamu ya. Aku minta satu bulan untuk sendiri.” Amanda mencoba mengulur waktu. Ini benar-benar terlalu cepat untuknya.
Fauzan mengangguk mengerti. Besar harapannya Amanda menerimanya kembali.
Selama satu
bulan Amanda tidak mengijinkan baik Fauzan maupun Monrue ke rumahnya. Kalau Fauzan kangen Citra, maka Amanda akan
minta Citra ke rumah Fauzan. Cuma
beberapa puluh meter sih, masih dalam komplek yang sama kok. Dia benar-benar pengen sendiri. Merasakan apakah dia benar-benar membutuhkan
pendamping dalam hidupnya. Dia jadi
sering menangis mengingat kembali bagaimana Fauzan memperlakukannya dan bagaimana
Monrue yang mengkhianatinya. Malam-malamnya dihabiskan dengan sholat. Menyerahkan pada yang kuasa, memasrahkan kehidupannya ke depan. Hari demi hari bayangan Fauzan demikian kuat,
tapi bayangan Monrue pun masih ada. Masih ragu, akhirnya ia memanggil Fauzan untuk bicara.
“Adakah perempuan lain yang kamu
tiduri selain Elly di saat kita masih bersama?”
Fauzan benar-benar kaget dengan
__ADS_1
pertanyaan itu. Dia benar-benar nggak
siap. Ragu, kalau dia bohong, masa
mengawali hidup baru dengan kebohongan. Tapi kalau dia jujur, ia takut Amanda akan mengurungkan niatnya untuk
kembali bersama. Akhirnya Fauzan mengangguk.
Amanda penasaran. “Siapa? Seseorang
yang aku kenal?”
“Aura.”
Amanda kaget. “Kamu berhubungan lagi
dengan Aura?”
“Kami cuma sahabat sekarang
Manda. Dia adalah tempat aku mencurahkan
kesedihanku kehilangan kamu. Akupun juga
tempat curhatnya karena pernikahannya nggak bahagia.”
“Kalian berhubungan sampai
sekarang?”
Fauzan mengangguk. “Kami cuma
sahabat Manda.”
“Sahabat tapi tidur?”
Fauzan diam.
“Buat apa kamu minta aku
kembali. Kalau kamu masih punya cinta
lain?”
“Aku nggak cinta dia Manda.”
Amanda mengangguk mengerti.
Bermaksud menyudahi pembicaraan ini. “Ok, aku paham.” Dia sangat kecewa.
“Manda aku janji, apapun yang kamu
minta aku penuhi. Kamu mau aku nggak
ketemu dia lagi, aku mau.” Fauzan masih
berusaha.
Amanda frustasi. “Aku sangat paham
dengan janji laki-laki. Nggak akan
mungkin ditepati.”
“Aku bukan Monrue Manda.”
Amanda langsung marah. “Jangan bawa
orang lain dalam pembicaraan ini! Dia nggak ada hubungannya dengan masalah
kita.”
Fauzan diam. Hampir putus asa. “Aku cuma cinta kamu Manda, aku mohon.”
Fauzan benar-benar mengiba.
Sebenarnya Amanda sama sekali tak
perduli dengan permohonan Fauzan. Tapi
dia ingat hari-harinya, bagaimana Fauzan sungguh-sungguh berada dalam hidupnya
tanpa diminta. Bagaimana enam tahun
lamanya Fauzan memang tidak memberikan ruang untuk wanita lain. “Sesering apa
kamu bertemu dia?”
Fauzan diam sesaat. “Setiap tiga bulan sekali dia ke Jakarta,
harus meeting di kantor pusat.”
Fauzan menghela nafas. “Itu pun kalau dia menghubungi aku, aku nggak pernah
mencari tahu kapan dia akan ke sini.” Fauzan membela diri.
“Dia tinggal di mana?”
“Bali.”
“Menjalankan usaha orang tuanya?”
Fauzan menggeleng, “Usaha orang
tuanya sudah lama bangkrut, sebelum kedua orang tuanya meninggal. Dia bekerja di perusahaan leasing sekarang.”
Amanda diam.
“Aku akan berhenti bertemu dia. Aku akan mengabaikan panggilan dia, telepon
dia, apapun tentang dia aku akan nggak perduli Manda. Aku janji. “
Amanda diam. “Aku mau ngomong sama
dia.” Janji Fauzan tidak cukup untuknya.
“Sekarang?” Fauzan bingung.
“Bisa video call kan?”
Fauzan menghubungi Aura melalui telepon
genggamnya, bertanya kemungkinan bisa untuk bicara panjang. Ternyata Aura pun menyanggupinya. Maka berhubunganlah kedua perempuan itu.
Amanda sih bicara baik-baik dengan
Aura, tentang kemungkinan ia kembali dengan Fauzan, dan berharap Aura bisa
menerima dan menyanggupi untuk tidak bertemu Fauzan lagi. Karena sebagai istri Fauzan nantinya nggak
mungkin menerima persahabatan yang aneh tersebut. Aura memang sempat terdiam sesaat. Tapi akhirnya dia menyanggupinya. Bagaimana pun kembali dengan Amanda adalah
impian Fauzan, nggak mungkin ia menghambatnya. Aura berjanji untuk tidak menghubungi Fauzan apapun yang terjadi. Pembicaraan pun berakhir. Amanda merasa menjadi perempuan paling egois
di dunia. Tapi dia terlalu lelah apabila
rumah tangganya harus hancur lagi. Ketika pembicaraannya dengan Aura selesai. Amanda pun mengambil nafas panjang. Dia pun bersedia menerima Fauzan kembali.
Fauzan lega banget. Bebannya lepas sudah. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih
pada Amanda. Sekarang tinggal
merencanakan bagaimana pernikahan itu dilaksanakan. Pernikahan yang sesungguhnya pastinya. Pernikahan yang sah di mata negara dan agama.
Ratusan kilometer dari mereka
__ADS_1
berada, seorang perempuan sedang menangis. Gagal sudah rencananya untuk bersama Fauzan. Bagaimanapun Aura mampu ikut bahagia dengan
terwujudnya impian Fauzan. Hatinya menangis dan mulai merindukan Fauzan.