Life After Forty

Life After Forty
Episode 20 lagi dan lagi


__ADS_3

Dalam setiap


perpisahan, malam adalah neraka.  Kesepian, kesendirian dan penyesalan selalu datang di saat itu.  Amanda benar-benar tersiksa apabila malam


tiba.  Menangis sendirian tanpa ada


satupun orang yang tahu dan berusaha keras untuk bisa tidur.  Itupun bukan hal mudah.  Sudah lebih dari satu bulan, tapi siksaan


kesendirian itu benar-benar menyakitkan dan belum mau pergi.  Dia pernah merasakan hal ini sebelumnya, tapi


waktu dengan Fauzan memang ada proses panjang, tapi dengan Monrue kejadian satu


malam menyelesaikan segalanya.  Apapun


prosesnya kehilangan nggak pernah mudah.  Dalam hati Amanda bertekad, nggak perlu ada cinta baru lagi di


hati.  Terlalu lelah menjadi orang


terbuang seperti ini.


            Tertulis nama Fauzan di teleponnya,


ada apa Fauzan malam-malam meneleponnya. Dia langsung mengangkatnya, takut ada


yang penting.


            “Ada apa?”


            “Nggak papa, Cuma mau memastikan


kamu baik-baik saja?”


            “Oh… Kok tanya begitu?”


            “Sejak tadi Monrue pulang kamu


banyak diam. Kamu masih sedih Man?”


            Amanda tersenyum. “Sedih iya, tapi


aku baik-baik saja kok. Thank for asking.”


            “Hm… kamu pengen aku datang malam


ini?”  Tanya Fauzan ragu.


            Amanda tertawa dan melirik jam


dinding, pukul 1 malam. “Nggak segitunya juga kok.  Makasih ya aku baik-baik saja.”


            “Man, aku sayang kamu.  Selalu sayang kamu.  Aku sedih melihat kamu sedih begini.”


            “Makasih.”


            “Ada yang bisa aku bantu?”


            “Dukung aku untuk kuat ya!” Pinta


Amanda tulus.


            “Pasti.”


            “Aku tidur ya.”


            “Ok.


Good night.”


            Sambungan pun tertutup.  Amanda pun sedikit tenang dengan adanya


perhatian Fauzan untuknya.  Mencoba untuk


tidur dan diapun berhasil.


Waktu memang


obat paling mujarab.  Ketika telah dua


bulan, pelan-pelan luka itu membaik seiring dengan berjalannya waktu.  Tangis Amanda tidak lagi terjadi dalam


malam.  Hanya sesekali ia ingat Monrue


lagi kalau memang Monrue hadir di televisi.  Ya itu mah nggak bisa dihindari profesinyakan penyanyi.  Kalau dilarang wara-wiri di TV mah sama saja


tidak mengijinkan dia hidup.  Pelan-pelan


pun Amanda bisa bercerita apa yang sebenarnya terjadi.  Tapi Fauzan nggak emosi kok, melihat


bagaimana Monrue juga menyesal dengan apa yang dilakukan, dan cara Amanda


menyelesaikan masalah, terlihat jelas Amanda mampu mengatasi masalahnya tanpa


campur tangan Fauzan.  Saat ini yang


dibutuhkan Amanda hanya dukungan Fauzan sebagai teman.  Citra pun juga berusaha keras menghibur sang


bunda.  Sesekali Bimo pun video call dengannya sekedar menanyakan


kabarnya.  Dukungan dari keluarga kecil


ini sangat berarti untuk Amanda.  Dia


sangat menghargai itu.  Buat Amanda sudah


cukuplah waktu untuknya mengasihi diri sendiri.  Dia harus bisa kembali normal demi orang-orang di sekitarnya dan untuk


dirinya juga.


Di pertengahan


Oktober, Fauzan mendatangi Monrue.  Monrue sebenarnya agak bertanya-tanya tujuan Fauzan menemui


dirinya.  Ketika Fauzan menghubunginya,


Monrue bersedia bertemu di wilayah dekat dengan studionya.  Akhirnya mereka janjian untuk bertemu di satu


restoran di bilangan Tebet.


            Mereka datang hampir bersamaan.  Bertemu di parkiran, mereka pun memasuki


restoran bersama.  Mereka hanya berdua saja.  Setelah memesan makanan mereka pun kemudian


ngobrol ringan.


            “Gimana kabar lu?” Fauzan


berbasa-basi.


            Monrue tersenyum. “Kabar Amanda


gimana mas?” dia lebih ingin tahu kabar perempuan itu.


            Fauzan tersenyum tipis. “Hiduplah, sudah


jarang nangis lagi sekarang.”


            Monrue langsung serius. “Dulu sedih


banget ya mas?”


            “Depan orang kuat, tapi gue suka


lihat sih, sering bengong terus nangis sembunyi-sembunyi.  Tapi sekarang sudah nggak lagi kok.”


            Monrue antara sedih dan bahagia

__ADS_1


mendengar keterangan itu.  Sedih karena


ternyata dia menyakiti perempuan yang sayang dia.  Bahagia ternyata dia tak mudah


dilupakan.  Sesaat Monrue jadi termenung.


            “Mon, gue ke sini mau ngomong.  Gue akan mengajak Amanda rujuk.”


            “Ya mas, jangan dong!” Monrue begitu


jujur. “Gue gimana kalau kalian rujuk.”


            Fauzan kaget dengan permintaan jujur


Monrue.  “Gue nunggu ini enam tahun Mon,


kurang sabar apa gue?”  Fauzan jadi minta


pengertian Monrue.  “Gue sama sekali


tidak melibatkan diri dengan hubungan kalian, elo yang nggak bersyukur dengan


itu.”


            Monrue diam.  Semua memang salahnya.  Tapi dia nggak sanggup. “Gue salah mas, tapi


gue cinta Manda.”


            “Menurut elo gue nggak?”


            Monrue diam. “Kita serahkan ke


Amanda saja ya mas, kalau memang dia mau balik sama elo, gue janji gue nggak


akan ganggu kalian seperti elo dulu menghargai gue.  Tapi kalau Amanda lebih pilih gue elo harus


ikhlas ya mas.”


            “Ok.” Fauzan setuju.


            “Kapan elo akan melamar dia?”


            “Setelah tiga bulan kalian pisah.”


            “Akhir bulan ini?”


            Fauzan mengangguk.


            Monrue menghela nafas.  Dia ketakutan.


            “Ok. Gue balik kantor ya.  Cuma mau ngomong itu sama elo.”


            Monrue mengangguk. “Makasih mas, elo


sudah ngasih tahu.”


            Fauzan mengangguk dan berlalu.


            Meninggalkan Monrue yang termenung


ketakutan.


Di penghujung


bulan Oktober, Fauzan sudah menyiapkan mentalnya untuk bicara serius pada


Amanda, tentang keinginannya bersama lagi. Minggu siang, ketika mereka memang


hanya berdua, karena Citra sibuk di kamarnya sendiri.  Fauzan mendapatkan kesempatan untuk


mengungkapkan isi hatinya.  Amanda


terkejut mendengar permintaan Fauzan.  Bukan permintaannya sebenarnya, tapi waktunya yang baginya terlalu


cepat.


aku Manda.” Fauzan memohon. “Enam tahun aku nunggu kamu. Apa kamu nggak bisa


mempertimbangkan itu?”


            Amanda jadi berfikir. Iya juga


ya.  Tapikan dia nggak pernah minta


fauzan untuk menunggunya.  Dia bisa saja


mencari wanita lain.


            “Aku cuma mau kamu Manda, aku kangen


kamu.” Fauzan terus memohon.


            Dari dulu Amanda memang tahu kalau


Fauzan tidak pernah berhenti mencintainya.  Tapi tetap saja ini terlalu cepat.  Bayangan Monrue masih ada jelas dalam hatinya.  Ini nggak adil untuk semua.  Masa sih dia bersama seorang laki-laki tapi


hatinya masih tersisa untuk laki-laki lainnya.  Oh itu bukan dia banget.


            “Apa nggak ada sisa cinta kamu untuk


aku?”


            Amanda pusing. Hadeuh… kenapa harus


buru-buru begini sih?  Di saat ia telah


bertekad untuk hidup tanpa cinta, kok malah cinta datang silih berganti


begini.  Untuk apa? untuk menyakitinya


lagi? Cape deh.  Tapi melihat wajah


Fauzan yang penuh harap, dan bagaimana laki-laki ini begitu setia


mendampinginya walau bukan menjadi cinta dalam hidupnya Amanda jadi nggak


tega.  Dia memang masih sayang Fauzan.


            “Kasih aku satu bulan untuk siap


menerima kamu ya. Aku minta satu bulan untuk sendiri.”  Amanda mencoba mengulur waktu.  Ini benar-benar terlalu cepat untuknya.


            Fauzan mengangguk mengerti.  Besar harapannya Amanda menerimanya kembali.


Selama satu


bulan Amanda tidak mengijinkan baik Fauzan maupun Monrue ke rumahnya.  Kalau Fauzan kangen Citra, maka Amanda akan


minta Citra ke rumah Fauzan.  Cuma


beberapa puluh meter sih, masih dalam komplek yang sama kok.  Dia benar-benar pengen sendiri.  Merasakan apakah dia benar-benar membutuhkan


pendamping dalam hidupnya.  Dia jadi


sering menangis mengingat kembali bagaimana Fauzan memperlakukannya dan bagaimana


Monrue yang mengkhianatinya.  Malam-malamnya dihabiskan dengan sholat.  Menyerahkan pada yang kuasa, memasrahkan kehidupannya ke depan.  Hari demi hari bayangan Fauzan demikian kuat,


tapi bayangan Monrue pun masih ada.  Masih ragu, akhirnya ia memanggil Fauzan untuk bicara.


            “Adakah perempuan lain yang kamu


tiduri selain Elly di saat kita masih bersama?”


            Fauzan benar-benar kaget dengan

__ADS_1


pertanyaan itu.  Dia benar-benar nggak


siap.  Ragu, kalau dia bohong, masa


mengawali hidup baru dengan kebohongan.  Tapi kalau dia jujur, ia takut Amanda akan mengurungkan niatnya untuk


kembali bersama. Akhirnya Fauzan mengangguk.


            Amanda penasaran. “Siapa? Seseorang


yang aku kenal?”


            “Aura.”


            Amanda kaget. “Kamu berhubungan lagi


dengan Aura?”


            “Kami cuma sahabat sekarang


Manda.  Dia adalah tempat aku mencurahkan


kesedihanku kehilangan kamu.  Akupun juga


tempat curhatnya karena pernikahannya nggak bahagia.”


            “Kalian berhubungan sampai


sekarang?”


            Fauzan mengangguk. “Kami cuma


sahabat Manda.”


            “Sahabat tapi tidur?”


            Fauzan diam.


            “Buat apa kamu minta aku


kembali.  Kalau kamu masih punya cinta


lain?”


            “Aku nggak cinta dia Manda.”


            Amanda mengangguk mengerti.


Bermaksud menyudahi pembicaraan ini. “Ok, aku paham.” Dia sangat kecewa.


            “Manda aku janji, apapun yang kamu


minta aku penuhi.  Kamu mau aku nggak


ketemu dia lagi, aku mau.”  Fauzan masih


berusaha.


            Amanda frustasi. “Aku sangat paham


dengan janji laki-laki.  Nggak akan


mungkin ditepati.”


            “Aku bukan Monrue Manda.”


            Amanda langsung marah. “Jangan bawa


orang lain dalam pembicaraan ini! Dia nggak ada hubungannya dengan masalah


kita.”


            Fauzan diam.  Hampir putus asa.  “Aku cuma cinta kamu Manda, aku mohon.”


Fauzan benar-benar mengiba.


            Sebenarnya Amanda sama sekali tak


perduli dengan permohonan Fauzan.  Tapi


dia ingat hari-harinya, bagaimana Fauzan sungguh-sungguh berada dalam hidupnya


tanpa diminta.  Bagaimana enam tahun


lamanya Fauzan memang tidak memberikan ruang untuk wanita lain. “Sesering apa


kamu bertemu dia?”


            Fauzan diam sesaat.  “Setiap tiga bulan sekali dia ke Jakarta,


harus meeting di kantor pusat.”


Fauzan menghela nafas. “Itu pun kalau dia menghubungi aku, aku nggak pernah


mencari tahu kapan dia akan ke sini.”  Fauzan membela diri.


            “Dia tinggal di mana?”


            “Bali.”


            “Menjalankan usaha orang tuanya?”


            Fauzan menggeleng, “Usaha orang


tuanya sudah lama bangkrut, sebelum kedua orang tuanya meninggal.  Dia bekerja di perusahaan leasing sekarang.”


            Amanda diam.


            “Aku akan berhenti bertemu dia.  Aku akan mengabaikan panggilan dia, telepon


dia, apapun tentang dia aku akan nggak perduli Manda.  Aku janji. “


            Amanda diam. “Aku mau ngomong sama


dia.”  Janji Fauzan tidak cukup untuknya.


            “Sekarang?” Fauzan bingung.


            “Bisa video call kan?”


            Fauzan menghubungi Aura melalui telepon


genggamnya, bertanya kemungkinan bisa untuk bicara panjang.  Ternyata Aura pun menyanggupinya.  Maka berhubunganlah kedua perempuan itu.


            Amanda sih bicara baik-baik dengan


Aura, tentang kemungkinan ia kembali dengan Fauzan, dan berharap Aura bisa


menerima dan menyanggupi untuk tidak bertemu Fauzan lagi.  Karena sebagai istri Fauzan nantinya nggak


mungkin menerima persahabatan yang aneh tersebut.  Aura memang sempat terdiam sesaat.  Tapi akhirnya dia menyanggupinya.  Bagaimana pun kembali dengan Amanda adalah


impian Fauzan, nggak mungkin ia menghambatnya.  Aura berjanji untuk tidak menghubungi Fauzan apapun yang terjadi.  Pembicaraan pun berakhir.  Amanda merasa menjadi perempuan paling egois


di dunia.  Tapi dia terlalu lelah apabila


rumah tangganya harus hancur lagi.  Ketika pembicaraannya dengan Aura selesai.  Amanda pun mengambil nafas panjang.  Dia pun bersedia menerima Fauzan kembali.


            Fauzan lega banget.  Bebannya lepas sudah.  Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih


pada Amanda.  Sekarang tinggal


merencanakan bagaimana pernikahan itu dilaksanakan.  Pernikahan yang sesungguhnya pastinya.  Pernikahan yang sah di mata negara dan agama.


            Ratusan kilometer dari mereka

__ADS_1


berada, seorang perempuan sedang menangis.  Gagal sudah rencananya untuk bersama Fauzan.  Bagaimanapun Aura mampu ikut bahagia dengan


terwujudnya impian Fauzan. Hatinya menangis dan mulai merindukan Fauzan.


__ADS_2