Life After Forty

Life After Forty
Episode 18 Mati Rasa


__ADS_3

Pukul


setengah enam sore, Amanda baru saja landing dari penerbangannya yang memakan waktu 21 jam.  Pakai transit sih, nggak heran kepalanya pusing luar biasa akibat jetlag dan terlalu lama di udara.  Dia memaksakan diri untuk pulang hari ini,


karena hari ini adalah hari yang cukup spesial.  Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Monrue, bayangkan sudah lima


tahun lho.  Amanda bahagia sekali.  Makanya ia ingin merayakannya, dia telah


menyiapkan sebuah kado mahal yang sengaja ia beli di Italia.  Dia juga telah merencanakan kejutan untuk


suaminya.  Beberapa hari yang lalu dia sudah


berkoordinasi dengan Firman manajer Monrue, untuk meluangkan waktu Monrue


selama tiga hari dua malam.  Dia juga sudah


meminta Fauzan menjaga Citra.  Karena dia


tidak akan pulang malam ini.  Dia akan


membuat Monrue untuk tinggal di apartmentnya, Amanda ingin berdua saja


dengannya.  Dua hari yang lalu Monrue


bilang kalau dia akan pulang tengah malam, karena masih akan ada syuting hingga sabtu sore.  Maka, dengan perhitungan akurat, Amanda


memprediksi dia akan sampai duluan ke apartment Monrue.  Mencoba menyiapkan kejutan untuk sang suami.


            Rempong banget, menggeret-geret


kopernya yang cukup besar, karena memang dia cukup lama di Eropa, Amanda pergi


ke restoran dan supermarket demi menyiapkan kejutannya untuk Monrue.  Dia pun masih harus menenteng sebuah kantong


hadiah yang begitu dia jaga dengan hati-hati karena itu adalah kadonya untuk


sang suami.  Yang ngeliat saja


pusing.  Tapi Amanda benar-benar


melakukannya dengan cinta, jadi dia sama sekali tidak keberatan.


            Agak sedikit kaget ketika


didapatinya lampu apartment Monrue telah menyala, waduh Monrue ternyata telah


duluan datang, tapi sepertinya ia ada di kamar tidur, jadi masih belum


menyadari kedatangan Amanda.  Maka Amanda


pun masuk dengan mengendap-ngendap.  Langsung berusaha menyiapkan kejutan untuk Monrue.  Dia pun menyiapkan steak yang dibelinya, sedikit menghangatkannya dalam oven.  Kemudian Amanda meletakan kado yang dia bawa


dari jauh, dan menyusun mawar yang dia beli di ruang tengah.  Menata meja makan dengan seksama.  Dia pun duduk di meja dapur menanti steaknya siap.


            Ketika pintu kamar dibuka Amanda


telah siap tersenyum, tapi yang keluar adalah Maharani Diva yang hanya berbalut


selimut.  Amanda kaget, Diva pun juga


kaget karena ternyata ada orang lain di unit itu, dia agak malu karena hanya


berbalut selimut.  Diva langsung masuk


lagi ke kamar.  Amanda pun begitu syok


melihatnya.  Ah… ternyata suaminya

__ADS_1


menghianatinya lagi.  Jantungnya berdetak


begitu kencang hingga seakan mau keluar dari dada.  Dia berusaha untuk tenang, sulit banget.


Berfikir keras apa yang harus ia lakukan, marah-marahkah? Diam saja kah? Atau


keluar dari apartment itu?  Terus


berfikir dalam kekalutannya, Amanda akhirnya memutuskan mematikan ovennya,


mengeluarkan steaknya. Dan duduk di


meja makan sambil menikmati steaknya


seorang diri.  Monrue harus tahu kalau


dia tahu.  Itu tekadnya.


            Monrue baru saja keluar dari kamar


mandi yang ada di dalam kamarnya ketika dia mencium bau makanan.  Diva sedang duduk di tempat tidur ketika itu,


masih belum ada keinginan untuk mengenakan pakaiannya.


            “Kok bau masakan ya?” Monrue heran.


            “Oh, itu pembantu kamu lagi masak.”


Jawab Diva sambil memainkan telepon genggamnya.


            “Pembantu? Aku nggak punya


pembantu.” Monrue bingung.


            “Di dapur ada perempuan berkerudung


            Monrue kaget. Seketika dia panik.


“Va, pakai baju deh!” Perintahnya sambil diapun segera keluar kamar menuju


dapur.  Dan benar saja kekhawatirannya


benar-benar terjadi.  Monrue mati kutu.


Ia hanya bisa terdiam melihat Amanda yang sedang menikmati steaknya.


            ‘Sudah selesai?” terlihat sekali


Amanda berusaha untuk tenang.  Tapi nggak


bisa disembunyikan tangannya gemetar karena emosi.  Berusaha keras ia tidak mengeluarkan


airmatanya sama sekali.


            Monrue masih diam membeku.  Dia benar-benar tidak tahu tentang apa yang


harus dilakukan.


            Amanda menyudahi makannya.  “Aku menyiapkan makan malam nih, kok ya feeling aku beli steaknya tiga porsi. Ya sudah dimakan ya, kalau nggak kemakan


jangan dibuang, kasih satpam saja di bawah! “


            Monrue masih membatu.


            Amanda bangkit, dan kembali menyeret


koper besarnya. “By the way, happy

__ADS_1


anniversary ya.  Itu aku bawa kado


untuk kamu.  Aku sengaja beli di Italia.


Kamu selesaiin dulu urusan kamu, nanti kita bicara ya!”  Amanda pun melangkah meninggalkan ruangan


itu.


            Monrue langsung berusaha mencegahnya


dengan berusaha memegang tangan Amanda. “Jangan pergi!” Pintanya pelan.


            Amanda tersenyum kering. “Jadi


laki-laki baik Monrue, antar dia pulang, baru temui aku!”  Amanda bicara dengan amat tegas.


            Monrue melepaskan genggamannya,


membiarkan Amanda pergi.


            Baru setelah Amanda benar-benar


pergi dari apartment itu, Diva keluar kamar.  Dia mendengar semua percakapan Monrue dengan Amanda.


            “Pacar kamu?” Tanyanya santai.


            “Istri.”


            “Konyol.” Diva memang memberlakukan open marriage dengan suaminya yang bule,


sang suami juga memang tugasnya di Singapura, jadi santai sih.  Dia pun langsung melihat kado yang diletakan


Amanda di meja ruang tengah.  “Boleh


dibuka?”


            Monrue mengangguk tidak


perduli.  Dia benar-benar sedang


kebingungan.


            “Wow, Armani Mon, seleranya keren


juga.”  Diva terkesan dengan jaket semi


formal yang dihadiahkan Amanda untuk Monrue.


            “Setahu aku ini ribuan ribu Euro


lho.”  Diva masih terkagum-kagum dengan


jaket hitam itu.


            Monrue melihatnya, mengambil dan


memperhatikannya.  Kalut, itu


perasaannya.  Dia pun memeluk jaket itu,


seakan ia sedang memeluk Amanda.  Kok


bisa-bisanya dia lupa kalau hari ini hari pernikahannya.  Harusnya dia tahu, kalau Amanda selalu


memberikan ia kejutan kecil di hari-hari penting.  “Aku antar kamu pulang sekarang ya.”


            “Ok.”

__ADS_1


__ADS_2