
Pukul
setengah enam sore, Amanda baru saja landing dari penerbangannya yang memakan waktu 21 jam. Pakai transit sih, nggak heran kepalanya pusing luar biasa akibat jetlag dan terlalu lama di udara. Dia memaksakan diri untuk pulang hari ini,
karena hari ini adalah hari yang cukup spesial. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Monrue, bayangkan sudah lima
tahun lho. Amanda bahagia sekali. Makanya ia ingin merayakannya, dia telah
menyiapkan sebuah kado mahal yang sengaja ia beli di Italia. Dia juga telah merencanakan kejutan untuk
suaminya. Beberapa hari yang lalu dia sudah
berkoordinasi dengan Firman manajer Monrue, untuk meluangkan waktu Monrue
selama tiga hari dua malam. Dia juga sudah
meminta Fauzan menjaga Citra. Karena dia
tidak akan pulang malam ini. Dia akan
membuat Monrue untuk tinggal di apartmentnya, Amanda ingin berdua saja
dengannya. Dua hari yang lalu Monrue
bilang kalau dia akan pulang tengah malam, karena masih akan ada syuting hingga sabtu sore. Maka, dengan perhitungan akurat, Amanda
memprediksi dia akan sampai duluan ke apartment Monrue. Mencoba menyiapkan kejutan untuk sang suami.
Rempong banget, menggeret-geret
kopernya yang cukup besar, karena memang dia cukup lama di Eropa, Amanda pergi
ke restoran dan supermarket demi menyiapkan kejutannya untuk Monrue. Dia pun masih harus menenteng sebuah kantong
hadiah yang begitu dia jaga dengan hati-hati karena itu adalah kadonya untuk
sang suami. Yang ngeliat saja
pusing. Tapi Amanda benar-benar
melakukannya dengan cinta, jadi dia sama sekali tidak keberatan.
Agak sedikit kaget ketika
didapatinya lampu apartment Monrue telah menyala, waduh Monrue ternyata telah
duluan datang, tapi sepertinya ia ada di kamar tidur, jadi masih belum
menyadari kedatangan Amanda. Maka Amanda
pun masuk dengan mengendap-ngendap. Langsung berusaha menyiapkan kejutan untuk Monrue. Dia pun menyiapkan steak yang dibelinya, sedikit menghangatkannya dalam oven. Kemudian Amanda meletakan kado yang dia bawa
dari jauh, dan menyusun mawar yang dia beli di ruang tengah. Menata meja makan dengan seksama. Dia pun duduk di meja dapur menanti steaknya siap.
Ketika pintu kamar dibuka Amanda
telah siap tersenyum, tapi yang keluar adalah Maharani Diva yang hanya berbalut
selimut. Amanda kaget, Diva pun juga
kaget karena ternyata ada orang lain di unit itu, dia agak malu karena hanya
berbalut selimut. Diva langsung masuk
lagi ke kamar. Amanda pun begitu syok
melihatnya. Ah… ternyata suaminya
__ADS_1
menghianatinya lagi. Jantungnya berdetak
begitu kencang hingga seakan mau keluar dari dada. Dia berusaha untuk tenang, sulit banget.
Berfikir keras apa yang harus ia lakukan, marah-marahkah? Diam saja kah? Atau
keluar dari apartment itu? Terus
berfikir dalam kekalutannya, Amanda akhirnya memutuskan mematikan ovennya,
mengeluarkan steaknya. Dan duduk di
meja makan sambil menikmati steaknya
seorang diri. Monrue harus tahu kalau
dia tahu. Itu tekadnya.
Monrue baru saja keluar dari kamar
mandi yang ada di dalam kamarnya ketika dia mencium bau makanan. Diva sedang duduk di tempat tidur ketika itu,
masih belum ada keinginan untuk mengenakan pakaiannya.
“Kok bau masakan ya?” Monrue heran.
“Oh, itu pembantu kamu lagi masak.”
Jawab Diva sambil memainkan telepon genggamnya.
“Pembantu? Aku nggak punya
pembantu.” Monrue bingung.
“Di dapur ada perempuan berkerudung
Monrue kaget. Seketika dia panik.
“Va, pakai baju deh!” Perintahnya sambil diapun segera keluar kamar menuju
dapur. Dan benar saja kekhawatirannya
benar-benar terjadi. Monrue mati kutu.
Ia hanya bisa terdiam melihat Amanda yang sedang menikmati steaknya.
‘Sudah selesai?” terlihat sekali
Amanda berusaha untuk tenang. Tapi nggak
bisa disembunyikan tangannya gemetar karena emosi. Berusaha keras ia tidak mengeluarkan
airmatanya sama sekali.
Monrue masih diam membeku. Dia benar-benar tidak tahu tentang apa yang
harus dilakukan.
Amanda menyudahi makannya. “Aku menyiapkan makan malam nih, kok ya feeling aku beli steaknya tiga porsi. Ya sudah dimakan ya, kalau nggak kemakan
jangan dibuang, kasih satpam saja di bawah! “
Monrue masih membatu.
Amanda bangkit, dan kembali menyeret
koper besarnya. “By the way, happy
__ADS_1
anniversary ya. Itu aku bawa kado
untuk kamu. Aku sengaja beli di Italia.
Kamu selesaiin dulu urusan kamu, nanti kita bicara ya!” Amanda pun melangkah meninggalkan ruangan
itu.
Monrue langsung berusaha mencegahnya
dengan berusaha memegang tangan Amanda. “Jangan pergi!” Pintanya pelan.
Amanda tersenyum kering. “Jadi
laki-laki baik Monrue, antar dia pulang, baru temui aku!” Amanda bicara dengan amat tegas.
Monrue melepaskan genggamannya,
membiarkan Amanda pergi.
Baru setelah Amanda benar-benar
pergi dari apartment itu, Diva keluar kamar. Dia mendengar semua percakapan Monrue dengan Amanda.
“Pacar kamu?” Tanyanya santai.
“Istri.”
“Konyol.” Diva memang memberlakukan open marriage dengan suaminya yang bule,
sang suami juga memang tugasnya di Singapura, jadi santai sih. Dia pun langsung melihat kado yang diletakan
Amanda di meja ruang tengah. “Boleh
dibuka?”
Monrue mengangguk tidak
perduli. Dia benar-benar sedang
kebingungan.
“Wow, Armani Mon, seleranya keren
juga.” Diva terkesan dengan jaket semi
formal yang dihadiahkan Amanda untuk Monrue.
“Setahu aku ini ribuan ribu Euro
lho.” Diva masih terkagum-kagum dengan
jaket hitam itu.
Monrue melihatnya, mengambil dan
memperhatikannya. Kalut, itu
perasaannya. Dia pun memeluk jaket itu,
seakan ia sedang memeluk Amanda. Kok
bisa-bisanya dia lupa kalau hari ini hari pernikahannya. Harusnya dia tahu, kalau Amanda selalu
memberikan ia kejutan kecil di hari-hari penting. “Aku antar kamu pulang sekarang ya.”
“Ok.”
__ADS_1