
Cinta
Amanda memang tidak pernah sepenuhnya hilang untuk Fauzan. Tapi bukannya dulu dia tidak pernah mencintai
Monrue. Ada suatu masa dia sangat
mencintai Monrue tapi masih memiliki sisa cinta untuk Fauzan. Hanya saja, selama lima tahun dia mendisiplinkan
dirinya untuk menyimpan perasaan untuk Fauzan di hati saja. Karena prinsipnya adalah menghormati dan
mencintai dengan layak siapapun pasangannya. Maka ketika dia kembali ke pelukan Fauzan, bukan hanya Fauzan yang lega,
Amanda pun juga bahagia. Rasanya keluarganya kembali sempurna. Hidup bersama kedua anaknya dan ayah mereka
rasanya luar biasa tenang.
Fauzan pun begitu bersyukur. Ia
begitu tenang dan nyaman. Begitu menjaga
Amanda bagaikan Amanda adalah mahluk yang rapuh. Begitu hati-hati. Fauzan sangat menjaga sikap dan tutur
katanya, sangat khawatir apapun yang dia lakukan bisa melukai Amanda. Amanda sebenarnya jengah dengan Fauzan yang
kini begitu berlebihan. Takut
kalau-kalau malah justru Fauzan lelah karena begitu berusaha keras
membahagiakannya. Santai sajalah. Semua juga ingin bahagia kok.
Tiap malam Fauzan punya kebiasaan
baru… ketika Amanda tertidur ia akan membelai rambut Amanda perlahan, menatap
Amanda dengan penuh sayang. Diakhiri
dengan memeluknya dari belakang hingga tertidur. Sering kali walaupun masih sadar Amanda pura-pura
tidur, khawatir saja Fauzan malu kalau Amanda menyadari apa yang dilakukannya. Amanda
tahu, Fauzan bukan laki-laki yang mudah untuk mengekspresikan rasa
sayangnya. Paling nggak dulu, waktu
mereka lima belas tahun bersama. Tapi lama kelamaan Amanda penasaran juga, kok
Fauzan sekarang punya kebiasaan baru…
“Kenapa?” Amanda tersenyum dan
membuka matanya.
Fauzan membalas senyuman itu, teduh
banget. “Kangen.”
“Kangen siapa?”
“Kamulah.” Fauzan mencium hidung
Amanda.
“Aku kan di sini?”
“Ingat dulu, aku kangen banget deket
kamu begini. Makanya seneng banget bisa
begini lagi.” Fauzan memeluk Amanda dalam posisi tidurnya. “Aku nggak akan
menyia-nyiakan kamu lagi Man… aku janji!”
Benar-benar Amanda merasakan
kehangatan yang diberikan Fauzan.
‘Mau
dibeliin oleh-oleh apa?’
Amanda tersenyum membaca pesan
singkat dari Fauzan. Sejak kemarin Fauzan
memang lagi tugas ke Singapura, GM meeting tingkat Asia Pacific. Sore ini rencananya ia pulang. Belasan tahun nikah sama Fauzan baru kali ini
ditanyain mau oleh-oleh apa. ‘Apa aja asal ikhlas.’ Amanda menjawab sambil tersenyum nakal.
‘Jangan gitu dong, bingung nih.’
‘Lihat temen-temen kamu aja, mereka
beliin apa untuk pasangannya.’
‘Oh gitu ya, ok.’
Chat selesai. Amanda jadi penasaran, kira-kira apa ya yang
__ADS_1
akan dibeli Fauzan untuknya?
Beberapa
jam kemudian.
Sebuah handbag berwarna hitam bermerk Channel telah tergeletak di meja
ruang tengah. Amanda benar-benar terpana
dengan benda mahal yang ada di hadapannya.
“Ini serius buat aku?” masih nggak
percaya.
Fauzan tersenyum malu-malu. Dia
mengangguk. “Suka nggak?” Khawatir juga
kalau pilihannya tidak disukai Amanda. Fauzan memilih tas yang modelnya paling simpel, Karena Fauzan tahu kalau
Amanda nggak suka dengan berbagai macam ornamen menurutnya nggak penting dan malah
justru mengganggu. Tapi walau simpel
terlihat banget kok mewahnya.
“Kamu nggak kena custom di airport?”
Fauzan menggeleng heran. “Kalau kena custom harus bayar berapa?”
“Ini harganya berapa?”
Fauzan garuk-garuk kepala. “Ya lumayan sih, delapan ribu gitu…”
“Delapan puluh juta untuk satu tas?”
Amanda terpana.
Fauzan panik. Mendadak merasa
bersalah. “Nggak suka ya?”
“Temen-temen kamu beli ini buat
istrinya?”
Fauzan mengangguk. “Hampir semua sih, tapi ya belinya beda-beda
Amanda tertawa kecil, lain ya kalau meeting para GM, belanja buat istrinya
barang mewah begini. Dia masih saja nggak percaya Fauzan membelikannya sebuah handbag, yang dia saja nggak habis fikir
apa istimewanya barang semahal ini. Bisa terbang gitu? Atau anti maling? Ada alarmnya? Tahan air? Anti banjir? Kalau
pakai langsung mendadak cantik banget gitu? Atau apa sih? Amanda pun mencium pipi Fauzan, dan
memeluknya. “Makasih ya sayang, makasih
banget. Aku suka kok, tapi lain kali
nggak usah beli barang semahal ini ya, aku nggak tahu mau dipakai ke
mana.” Jawabnya jujur. Paling tidak dia tahu kok kalau Fauzan
berusaha keras untuk menyenangkan hatinya.
Fauzan menerima pelukan Amanda, dia
sangat paham kalau Amanda adalah perempuan sederhana yang selalu berfikir
tentang fungsi dari pada gengsi. Akan
lain hanya kalau barang ini dia belikan pada Elly, eh kok jadi inget Elly. Fauzan hanya ingin menunjukan pada Amanda bahwa
Amanda adalah prioritas utamanya, Fauzan sangat tidak keberatan kalau Amanda
menuntutnya memberikan yang terbaik yang bisa ia berikan. Toh sekarang ia mampu kok memanjakan Amanda
dengan barang mewah. Asal jangan
sering-sering ya sayang!
“Sa,
elo lihat tas gue dong!” Amanda sedang pamer dengan sahabatnya itu. Mereka ada di salah satu coffe shop di Pasific place. Sudah lama mereka nggak bertemu, tahu
sendirikan hidup di Jakarta, kalau bukan teman kantor harus niat banget deh
untuk bisa bertemu.
Nisa tertawa. “Iye dari elo dateng
juga gue takjub tumben-tumbenan elo bawa tas ngehits. Bukan elo banget. Gono
gininya Monrue?”
__ADS_1
“Nggak dong, ini Fauzan yang beli.”
Nisa kaget dan tertawa. “Fauzan
beliin elo handbag? Kesambet apa dia
beliin elo begituan?”
Amanda tertawa. “Elo kagetkan? Gue aja kaget.”
“Ah tahu gue, dia pengen ngebuat elo
lebih ngehits dari simpenannya dulu.”
“Ya kalau itu jelas gue kalahlah,
jeritan guekan nggak senyaring dia.”
Amanda dan Nisa tertawa.
“Takut elo diangkut orang lagi kali?”
Amanda terkekeh. “Baraaaaang kali
gue diangkut.”
Setelahnya,
Fauzan menjemput Amanda, tapi mereka nggak langsung pulang. Fauzan mau membeli beberapa kemeja
kerja. Mereka berjalan pelan menyusuri
pertokoan. Fauzan senang ketika melihat ternyata Amanda menggunakan handbag yang dibelinya itu. Belakangan
ini mereka lebih sering jalan berdua saja. Anak-anak semakin sulit diajak jalan
bersama. Citra yang memang sudah remaja
punya banyak acara dengan teman-temannya. Bimo apalagi, pengacara muda itu semakin dewasa agendanya semakin padat.
Fauzan menggenggam tangan Amanda
ketika mereka menyusuri toko-toko di Pasific
place lantai tiga.
“Kamu sekarang beda.”
“Bedanya kenapa?”
Amanda tersenyum dan mengajak Fauzan
melihat tangan mereka yang bergandengan.
Fauzan tersenyum malu. “Bolehkan?”
Amanda tertawa kecil. “Aku kan cuma
bilang beda, bukannya nggak boleh.”
“Belajar dari Monrue.”
Amanda heran. “Maksudnya?”
“Monrue dulu selalu gandeng kamu
gini, aku perhatiin ternyata kamu menikmati sentuhan yang dulu aku anggap nggak
penting. Aku cemburu lihat kamu selalu
senyum buat dia.”
Amanda terpana, “Seorang Fauzan
mengaku cemburu?” Hal paling tabu yang pernah ia akui.
Wajah Fauzan memerah, “Kamukan
pernah diambil orang Man.” Fauzan
mencari alasan.
Amanda tersenyum “Nggak usah
cemburu lagi ya. Aku punya kamu sekarang!”
Pintanya lembut.
Fauzan tersenyum dan mengangguk.
“Mulai sekarang genggam tangan aku saja ya sampai kita tua, kamu nggak perlu
orang lain selain aku!”
Mendengar itu Amanda nggak cuma
menggandeng Fauzan, dia pun memeluk pinggang Fauzan. Perempuan mana yang menolak disayang suami?
__ADS_1