Life After Forty

Life After Forty
Episode 22 Manis lagi


__ADS_3

Cinta


Amanda memang tidak pernah sepenuhnya hilang untuk Fauzan.  Tapi bukannya dulu dia tidak pernah mencintai


Monrue.  Ada suatu masa dia sangat


mencintai Monrue tapi masih memiliki sisa cinta untuk Fauzan.  Hanya saja, selama lima tahun dia mendisiplinkan


dirinya untuk menyimpan perasaan untuk Fauzan di hati saja.  Karena prinsipnya adalah menghormati dan


mencintai dengan layak siapapun pasangannya.  Maka ketika dia kembali ke pelukan Fauzan, bukan hanya Fauzan yang lega,


Amanda pun juga bahagia. Rasanya keluarganya kembali sempurna.  Hidup bersama kedua anaknya dan ayah mereka


rasanya luar biasa tenang.


            Fauzan pun begitu bersyukur. Ia


begitu tenang dan nyaman.  Begitu menjaga


Amanda bagaikan Amanda adalah mahluk yang rapuh.  Begitu hati-hati.  Fauzan sangat menjaga sikap dan tutur


katanya, sangat khawatir apapun yang dia lakukan bisa melukai Amanda.  Amanda sebenarnya jengah dengan Fauzan yang


kini begitu berlebihan.  Takut


kalau-kalau malah justru Fauzan lelah karena begitu berusaha keras


membahagiakannya.  Santai sajalah.  Semua juga ingin bahagia kok.


            Tiap malam Fauzan punya kebiasaan


baru… ketika Amanda tertidur ia akan membelai rambut Amanda perlahan, menatap


Amanda dengan penuh sayang.  Diakhiri


dengan memeluknya dari belakang hingga tertidur.  Sering kali walaupun masih sadar Amanda pura-pura


tidur, khawatir saja Fauzan malu kalau Amanda menyadari apa yang dilakukannya. Amanda


tahu, Fauzan bukan laki-laki yang mudah untuk mengekspresikan rasa


sayangnya.  Paling nggak dulu, waktu


mereka lima belas tahun bersama. Tapi lama kelamaan Amanda penasaran juga, kok


Fauzan sekarang punya kebiasaan baru…


            “Kenapa?” Amanda tersenyum dan


membuka matanya.


            Fauzan membalas senyuman itu, teduh


banget. “Kangen.”


            “Kangen siapa?”


            “Kamulah.” Fauzan mencium hidung


Amanda.


            “Aku kan di sini?”


            “Ingat dulu, aku kangen banget deket


kamu begini.  Makanya seneng banget bisa


begini lagi.” Fauzan memeluk Amanda dalam posisi tidurnya. “Aku nggak akan


menyia-nyiakan kamu lagi Man… aku janji!”


            Benar-benar Amanda merasakan


kehangatan yang diberikan Fauzan.


‘Mau


dibeliin oleh-oleh apa?’


            Amanda tersenyum membaca pesan


singkat dari Fauzan.  Sejak kemarin Fauzan


memang lagi tugas ke Singapura, GM meeting tingkat Asia Pacific. Sore ini rencananya ia pulang.  Belasan tahun nikah sama Fauzan baru kali ini


ditanyain mau oleh-oleh apa. ‘Apa aja asal ikhlas.’  Amanda menjawab sambil tersenyum nakal.


            ‘Jangan gitu dong, bingung nih.’


            ‘Lihat temen-temen kamu aja, mereka


beliin apa untuk pasangannya.’


            ‘Oh gitu ya, ok.’


            Chat selesai.  Amanda jadi penasaran, kira-kira apa ya yang

__ADS_1


akan dibeli Fauzan untuknya?


Beberapa


jam kemudian.


            Sebuah handbag berwarna hitam bermerk Channel telah tergeletak di meja


ruang tengah.  Amanda benar-benar terpana


dengan benda mahal yang ada di hadapannya.


            “Ini serius buat aku?” masih nggak


percaya.


            Fauzan tersenyum malu-malu. Dia


mengangguk. “Suka nggak?”  Khawatir juga


kalau pilihannya tidak disukai Amanda.  Fauzan memilih tas yang modelnya paling simpel, Karena Fauzan tahu kalau


Amanda nggak suka dengan berbagai macam ornamen menurutnya nggak penting dan malah


justru mengganggu.  Tapi walau simpel


terlihat banget kok mewahnya.


            “Kamu nggak kena custom di airport?”


            Fauzan menggeleng heran. “Kalau kena custom harus bayar berapa?”


            “Ini harganya berapa?”


            Fauzan garuk-garuk kepala.  “Ya lumayan sih, delapan ribu gitu…”


            “Delapan puluh juta untuk satu tas?”


Amanda terpana.


            Fauzan panik. Mendadak merasa


bersalah. “Nggak suka ya?”


            “Temen-temen kamu beli ini buat


istrinya?”


            Fauzan mengangguk.  “Hampir semua sih, tapi ya belinya beda-beda


            Amanda tertawa kecil, lain ya kalau meeting para GM, belanja buat istrinya


barang mewah begini. Dia masih saja nggak percaya Fauzan membelikannya sebuah handbag, yang dia saja nggak habis fikir


apa istimewanya barang semahal ini. Bisa terbang gitu? Atau anti maling?  Ada alarmnya? Tahan air? Anti banjir? Kalau


pakai langsung mendadak cantik banget gitu? Atau apa sih?  Amanda pun mencium pipi Fauzan, dan


memeluknya.  “Makasih ya sayang, makasih


banget.  Aku suka kok, tapi lain kali


nggak usah beli barang semahal ini ya, aku nggak tahu mau dipakai ke


mana.”  Jawabnya jujur.  Paling tidak dia tahu kok kalau Fauzan


berusaha keras untuk menyenangkan hatinya.


            Fauzan menerima pelukan Amanda, dia


sangat paham kalau Amanda adalah perempuan sederhana yang selalu berfikir


tentang fungsi dari pada gengsi.  Akan


lain hanya kalau barang ini dia belikan pada Elly, eh kok jadi inget Elly.  Fauzan hanya ingin menunjukan pada Amanda bahwa


Amanda adalah prioritas utamanya, Fauzan sangat tidak keberatan kalau Amanda


menuntutnya memberikan yang terbaik yang bisa ia berikan.  Toh sekarang ia mampu kok memanjakan Amanda


dengan barang mewah.  Asal jangan


sering-sering ya sayang!


“Sa,


elo lihat tas gue dong!” Amanda sedang pamer dengan sahabatnya itu.  Mereka ada di salah satu coffe shop di Pasific place.  Sudah lama mereka nggak bertemu, tahu


sendirikan hidup di Jakarta, kalau bukan teman kantor harus niat banget deh


untuk bisa bertemu.


            Nisa tertawa. “Iye dari elo dateng


juga gue takjub tumben-tumbenan elo bawa tas ngehits. Bukan elo banget. Gono


gininya Monrue?”

__ADS_1


            “Nggak dong, ini Fauzan yang beli.”


            Nisa kaget dan tertawa. “Fauzan


beliin elo handbag? Kesambet apa dia


beliin elo begituan?”


            Amanda tertawa.  “Elo kagetkan? Gue aja kaget.”


            “Ah tahu gue, dia pengen ngebuat elo


lebih ngehits dari simpenannya dulu.”


            “Ya kalau itu jelas gue kalahlah,


jeritan guekan nggak senyaring dia.”


            Amanda dan Nisa tertawa.


            “Takut elo diangkut orang lagi kali?”


            Amanda terkekeh. “Baraaaaang kali


gue diangkut.”


Setelahnya,


Fauzan menjemput Amanda, tapi mereka nggak langsung pulang.  Fauzan mau membeli beberapa kemeja


kerja.  Mereka berjalan pelan menyusuri


pertokoan. Fauzan senang ketika melihat ternyata Amanda menggunakan handbag yang dibelinya itu. Belakangan


ini mereka lebih sering jalan berdua saja. Anak-anak semakin sulit diajak jalan


bersama.  Citra yang memang sudah remaja


punya banyak acara dengan teman-temannya.  Bimo apalagi, pengacara muda itu semakin dewasa agendanya semakin padat.


Fauzan menggenggam tangan Amanda


ketika mereka menyusuri toko-toko di Pasific


place lantai tiga.


            “Kamu sekarang beda.”


            “Bedanya kenapa?”


            Amanda tersenyum dan mengajak Fauzan


melihat tangan mereka yang bergandengan.


            Fauzan tersenyum malu. “Bolehkan?”


            Amanda tertawa kecil. “Aku kan cuma


bilang beda, bukannya nggak boleh.”


            “Belajar dari Monrue.”


            Amanda heran. “Maksudnya?”


            “Monrue dulu selalu gandeng kamu


gini, aku perhatiin ternyata kamu menikmati sentuhan yang dulu aku anggap nggak


penting.  Aku cemburu lihat kamu selalu


senyum buat dia.”


            Amanda terpana, “Seorang Fauzan


mengaku cemburu?” Hal paling tabu yang pernah ia akui.


            Wajah Fauzan memerah, “Kamukan


pernah diambil orang Man.”  Fauzan


mencari alasan.


Amanda tersenyum “Nggak usah


cemburu lagi ya.  Aku punya kamu sekarang!”


Pintanya lembut.


            Fauzan tersenyum dan mengangguk.


“Mulai sekarang genggam tangan aku saja ya sampai kita tua, kamu nggak perlu


orang lain selain aku!”


            Mendengar itu Amanda nggak cuma


menggandeng Fauzan, dia pun memeluk pinggang Fauzan.  Perempuan mana yang menolak disayang suami?

__ADS_1


__ADS_2