
Hampir pukul
Sembilan malam ketika Monrue tiba di rumah Amanda. Rumah itu sepi. Karena memang Citra sedang liburan dengan
Fauzan ke Semarang, dan baru akan kembali hari minggu. Karena memang rencananya Amanda hanya ingin
berdua saja dengan Monrue dan sudah menyampaikan ke Fauzan jauh-jauh hari. Monrue mendapati Amanda sedang berbaring di
tempat tidurnya. Monrue pun menyentuh
bahu Amanda. Amanda terbangun dan
sepertinya sudah siap kalau Monrue akan datang padanya.
Amanda tersenyum singkat. “Sudah
datang?”
Monrue membalas dengan senyuman.
Amanda pun bangkit dari tidurnya dan
duduk di hadapan Monrue dengan begitu tegak. “Aku sudah menghubungi bang Haris (baca: pengacara mereka ketika mereka
membuat surat keterangan nikah), dia akan menyiapkan dokumen untuk kamu bacakan
sebagai ikrar talak. Semua dokumen akan
selesai hari senin siang.”
Amanda memberikan informasi yang
membuat Monrue syok.
“Kamu punya dua pilihan, kamu
tinggal di sini, atau kita jalan keluar merayakan hari pernikahan kita, dan
hari senin kamu bacakan talak, atau kita bisa pisah dari sekarang dan ketemu
lagi hari senin, untuk tanda tangan perceraian kita?” Amanda berkata dengan begitu tegas, sama
sekali tidak memberikan pilihan lain bagi Monrue.
Monrue masih diam kebingungan.
“Satu lagi, mungkin kita butuh
Firman sebagai saksi senin besok. Aku
juga akan jadikan Fauzan sebagai saksi.”
Semua seakan begitu terencana. Amanda benar-benar bicara tanpa perasaan.
“Apa keputusan kamu?”
Monrue kaget ketika dia harus
memutuskan. “Apa cuma itu pilihannya?”
“Sudah, nggak usah ada drama.
Pilihan kamu apa?”
“Ya sudah, kita pergi malam
ini. Kita pergi merayakan cinta kita.”
“Ini sudah malam, mau ke mana?”
“Ke mana saja, kita jalan malam
ini.” Tekad Monrue, dia harus merayakan yang harusnya mereka rayakan.
Amanda pun mengikuti permintaan
Monrue, karena memang sebenarnya dia sudah siap, jadi iapun hanya mengganti
pakaiannya untuk berangkat.
Monrue pun memesan taksi untuk membawa
mereka ke airport.
Mereka pun terbang ke Bali dengan
pesawat terakhir di malam itu. Mereka akan ada di sana hingga senin pagi. Hadeuh, belum juga selesai jetlag, harus terbang lagi. Sebenarnya Amanda benar-benar lelah. Rasanya kepalanya mau pecah.
Sesampainya
di kamar hotel di Hard Rock, Amanda
benar-benar lelah. Emosi dan tenaganya
terkuras habis malam itu. “Aku tidur
dulu ya, aku cape banget!” dia sangat
meminta pengertian Monrue.
Monrue hanya mengangguk.
Begitu melepas kerudungnya, Amanda pun
langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Tak lama ia pun tertidur.
Monrue benar-benar kalut dan
ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan
hidup sendiri tanpa Amanda. Semalaman ia
hanya bisa memeluk Amanda dari belakang. Membelai rambutnya. Bahkan Amanda
pun sama sekali tidak memberikan kesempatannya untuk minta maaf. Amanda sudah mati rasa. Dia benar-benar menepati janjinya. Tidak ada
kesempatan kedua.
Monrue baru saja
tertidur ketika Amanda membangunkannya untuk sholat Subuh. Tanpa banyak bicara Monrue pun bangun dan
sholat. Kemudian dia tidur lagi, Amanda
pun sepertinya begitu. Mereka terlalu
lelah semalam hingga butuh istirahat lebih lama. Dalam tidurnya pun Monrue masih berfikir
bagaimana cara untuk bisa membuat Amanda berubah fikiran.
Keduanya kembali terbangun pukul
delapan pagi. Mandi dan bersiap untuk
sarapan. Masih dalam suasana yang
hening. Monrue yang bingung bagaimana
cara mencairkan suasana, Amanda yang terlihat jelas dia begitu kecewa. Suasana sarapan pagi pun masih dalam sepi,
masih dalam fikiran masing-masing. Amanda berusaha keras menata emosinya untuk bisa ramah pada sang suami,
mengingat laki-laki ini tinggal satu hari lagi menjadi suaminya. Tapi bagaimanapun ia terluka, sekeras apapun
dia berusaha bersikap hasilnya menjadi tidak tulus. Monrue menghargai usaha Amanda untuk membuat
suasana menjadi lebih baik. Tapi dia pun
bingung untuk bersikap. Keduanya menjadi
sangat canggung.
Akhirnya mereka memutuskan untuk
kembali ke kamar, semewah dan seenak apapun sarapan yang disajikan, rasanya
menjadi hambar dalam kondisi seperti ini.
“Kita mau ke mana?” Amanda duduk di
satu-satunya tempat duduk di kamar itu.
Monrue juga sebenarnya tidak punya
rencana. Monrue menghampiri Amanda, dia
pun berlutut memeluk paha Amanda. “Maaf.” Pintanya dalam usaha terakhir.
“Damn
it Monrue, mau kamu apa?” Amanda begitu marah. “Dari awal aku sudah bilang,
kalau kamu bosan cukup bilang, nggak usah pecundangi aku seperti ini!”
“Maaf.” Monrue masih tidak bergerak.
“Nggak ada yang perlu
dimaafkan. Aku hanya nggak sanggup
dengan sifat kamu yang nggak bisa berubah.”
__ADS_1
“Aku akan berubah. Aku janji. Maaf…”
Amanda benar-benar sangat marah,
didorongnya Monrue sampai terjungkal. “Sekali lagi kamu bilang maaf, aku
kembali ke Jakarta saat ini juga.” Amanda bangkit dan bersiap untuk pergi.
Monrue langsung menangkapnya,
memeluk Amanda. “Ok Ok… jangan pergi!” Monrue menyerah. “Nggak ada lagi maaf,
kita nikmati saja hari ini ya.” Pinta Monrue sambil memeluk Amanda erat. Benar-benar ia merasakan pelukan itu. Pelukan yang mungkin hanya ia bisa rasakan
sekarang. Tidak ada lagi besok.
Monrue menyerah dengan vonis Amanda.
Hubungan mereka harus selesai besok. Maka ia berusaha keras agar hari ini indah untuk keduanya. Mereka menghabiskan waktu hanya sekitar
Kuta. Karena memang waktu mereka begitu
singkat. Berjalan-jalan di pantai,
menikmati sunset, dinner romantis di
restoran terbaik yang ada disana. Ada live music ketika mereka makan
malam. Sang penyanyi yang menyadari
kehadiran Monrue di situ mempersilahkan Monrue untuk menyumbangkan lagu. Sebenarnya Monrue enggan, tapi kenapa nggak
fikirnya? Siapa tahu setelah mendengarkan dirinya bernyanyi Amanda terbawa
suasana dan luluh? Kenapa nggak dicoba? Saat ini cara apapun ingin ia lakukan
agar Amanda berubah fikiran. Maka Monrue
pun mencoba merayu Amanda dengan lagu “You
are the reason”.
I’d climb every
mountain,
Swim every ocean
Just to be with you
To fix what I’ve
broken….
Amanda
menikmati suara merdu Monrue, hadeuh hatinya luluh lantah, dia benar-benar
terbuai dengan alunan lagu yang dinyanyikan Monrue, apa mampu membuatnya
berubah fikiran? Hm…nggak sih keputusannya begitu bulat. Monrue cuma bisa tersenyum pahit, yah…
namanya juga usaha, nggak ada salahnya di coba. Setelahnya, setiap saat Monrue memeluk Amanda, apapun kondisinya, Monrue
sama sekali tidak perduli dengan sekelilingnya, benar-benar tidak peduli adanya
kamera handphone yang diam-diam
merekam adegan itu, memphoto mereka, Monrue sangat sadar, tapi dia tidak
perduli. Karena ia tahu setelah ini semuanya akan berakhir. Malam itupun Monrue mengajak Amanda
bercinta. Sama sekali tidak ada
penolakan dari Amanda. Keduanya berusaha
keras menjadikan malam yang indah. Walau batin mereka tersiksa dengan bayangan
apa yang akan terjadi besok.
Mereka kembali ke Jakarta dengan
pesawat paling pagi pukul 6. Landing di Jakarta pukul 6.30. Karena
memang Bali satu jam lebih cepat dari Jakarta, seakan mereka hanya terbang 30
menit. Amanda mendapat kabar, bahwa staf
bang Haris yang merupakan juga pengacara muda akan datang ke rumah Amanda pukul
13.30. Bang Haris minta maaf nggak bisa
kisaran waktu yang sama, dia yang menghubungi Firman karena terlihat Monrue
masih enggan. Setelahnya dia pun
menghubungi Fauzan. Minta tolong untuk
datang ke rumahnya tanpa memberi tahu ada apa. Hanya minta tolong ada hal penting. Fauzan pun menyanggupinya walaupun sebenarnya sebagai GM dia cukup
sibuk. Tapi apa sih yang nggak buat
Amanda. Terlihat Monrue begitu gusar.
Tapi dia lebih memilih untuk diam. Semua
dilakukan Amanda dalam perjalanan pulangnya.
Mereka tiba di rumah pukul
sepuluh. Masih ada cukup waktu untuk
menyiapkan segala sesuatu. Amanda tidak
sempat memasak, dia memilih menelepon restoran untuk menyiapkan makan siang
untuk para tamu yang akan datang. Setelahnya pelan-pelan ia menyiapkan barang-barang Monrue karena ia akan
meninggalkan rumah ini selamanya. Amanda
begitu sibuk, sedangkan Monrue hanya duduk terdiam di ruang tengah. Memikirkan apa yang akan terjadi membuatnya
tidak punya energi untuk bergerak.
Firman dan Fauzan datang lebih dulu
dari pada para pengacara. Mereka agak
heran dengan raut wajah Monrue yang begitu suntuk. Amanda mempersilahkan mereka untuk makan
siang sambil menanti tamu yang lain. Baik Monrue maupun Amanda masih tidak bilang tujuan keduanya diundang
datang saat ini. Sama sekali tidak ada bayangan apa yang akan terjadi. Akhirnya ke empatnya makan siang
bersama. Tidak lama kemudian dua
pengacara dari biro pengacara Harris and co datang. Mereka pun langsung diminta Amanda untuk
bergabung makan siang. Melihat
kedatangan dua pengacara Monrue semakin tidak karuan. Firman kebingungan dengan kondisi
sahabatnya. Monrue begitu pucat, seperti
hampir pingsan.
Setelah makan siang selesai, kedua
pengacara mulai memimpin acara. Mereka
menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan, Monrue yang membacakan ikrar talak
di hadapan saksi, dan kemudian dia dan kedua saksi menanda tangani dokumen
tersebut. Pembacaan pun nanti akan
direkam sebagai bukti. Pengacara pun
menyarankan setelah ini sebaiknya dibawa ke pengadilan untuk mendapatkan surat
secara resmi. Saat itulah Firman dan
Fauzan menyadari apa yang terjadi dan kenapa Monrue begitu gusar. Terjawab sudah misteri siang yang kaku.
Tibalah saatnya Monrue membacakan
talak. Ia membacanya dengan begitu
terbata-bata, raut wajahnya nggak karuan. Dan akhirnya dia pun menangis diakhir pembacaannya. Setelahnya dia memeluk Amanda begitu
erat. Berkali-kali pun ia mengucapkan
maaf. Amanda pun sedikit menitikan air
matanya. Walaupun ini maunya, tapi tetap
berat untuk keduanya.
Setelah sedikit berbasa-basi kedua
pengacara itupun pamit pulang. Satu jam
__ADS_1
kemudian Firman pun membawa Monrue keluar dari rumah itu. Hadeh, Firman pusing
nih… Monruekan susah Moves on, bakal
repot nih urusannya. Sekali lagi Monrue memeluk Amanda dan mengucapkan
maaf. Amanda hanya bisa tersenyum
melepas kepergian mantan suaminya.
Tinggal berdua saja ia dan Fauzan di
rumah itu. Sebentar lagi Citra akan
pulang sekolah.
“Kamu baik-baik saja Man?” Fauzan bertanya hati-hati. Niatnya untuk kembali ke kantor diurungkan
ketika mengetahui apa yang terjadi.
Amanda tersenyum. “Nggak mungkinlah
aku baik-baik saja. Rasanya langit
runtuh tahu nggak.”
Fauzan bingung, sama sekali tidak
ada airmata ataupun raut wajah sedih. Dia sendiri juga bingung, dia bahagia dengan perpisahan Amanda, tapi kok
kayaknya nggak etis kalau dia bahagia. Tapi dia yakin Amanda perempuan kuat sih. Dan kayaknya terlalu cepat kalau dia banyak
tanya apa yang sebenarnya terjadi. Pasti pelan-pelan dia akan tahu.
Hari-hari
selanjutnya Amanda sering kali terlihat termenung. Tapi kalau ada orang lain di sekitarnya, dia
akan langsung terlihat baik-baik saja. Berusaha keras untuk tegar, sebenarnya Fauzan tahu kalau Amanda sedang
terluka. Tapi ia nggak mau buru-buru
memaksa Amanda untuk bercerita, membiarkan Amanda untuk sendiri tapi tetap
dalam pengawasannya dianggap adalah hal yang terbaik saat ini. Fauzan pun pelan-pelan memberi tahu Citra dan
Bimo tentang apa yang baru saja terjadi. Citra sedih sih, bagaimanapun dia juga sayang daddynya. Tapi sekali lagi
dia berusaha mengerti arti kata perpisahan. Seperti yang terjadi antara ayah dan ibunya dulu. Bimo yang di Belanda hanya berpesan pada
Citra untuk bisa menghibur ibu mereka.
Beberapa kali terlihat Monrue
berusaha menghubungi Amanda, terkadang Amanda menerima, terkadang ia
menolak. Dia hanya tidak ingin Monrue
terlalu sering menghubunginya, bagaimanapun mereka masing-masing harus
menjalani hidup sendiri-sendiri kini. Tapi ia juga berusaha membuat kondisi bahwa mereka tidak perlu
bermusuhan karena telah berpisah. Mencoba untuk menjadi dewasa, walaupun itu sulit.
Beberapa minggu setelah perpisahan
Monrue dan Amanda. Amanda kedatangan
Sean putra Monrue, ia datang dengan berlinangan airmata meminta Amanda kembali
pada ayahnya. Sean bilang dia sangat
sayang Amanda, sangat menyayangi Bimo dan Citra juga Fauzan. Saat itu ada Citra dan Fauzan yang bingung
dengan Sean yang terus memeluk Amanda. Fauzan berusaha menenangkan anak itu.
Meyakinkan bahwa mereka akan tetap sayang Sean, akan tetap memperlakukannya
sebagai bagian dari keluarga ini. Tapi
sepertinya Sean masih belum puas, akhirnya dia pun memeluk Citra, dan berjanji
lima tahun lagi dia akan datang untuk melamar Citra, agar ia bisa kembali
sebagai anggota keluarga ini.
Mendengar itu Citra jadi sumringah
bahagia. Amanda dan Fauzan langsung
panik. Hei boy, jangan buru-buru mengumbar janji! Kamu masih 20 tahun, dan
Citra masih 15 tahun. Fauzan pun
berusaha meyakinkan Sean untuk tidak perlu berjanji apa-apa. Keluarga ini akan
tetap menjadi keluarganya selamanya. Akhirnya
pun Sean bisa tenang. Dia pun setelah
dua jam diyakinkan pamit pulang. Tapi
dia tetap memberikan janjinya pada Citra. Fauzan dan Amanda hanya bisa geleng-gelang.
Setelah satu
bulan berpisah, Amanda menghubungi Monrue, memintanya untuk datang ke rumahnya,
mengambil barang-barangnya masih tertinggal. Ketika Monrue datang ke rumah itu, Amanda menyambutnya dengan
ramah. Ada Fauzan dan Citra di minggu
siang itu. Monrue sepertinya sudah jauh
lebih tenang, walaupun masih terlihat kalau dia masih belum ikhlas menerima
perpisahannya. Ya gimana, kan dia yang
buat masalah. Amanda pun sudah bisa
tersenyum tulus menyambut Monrue. Fauzan
diam-diam mengamati kedewasaan keduanya. Terlihat memang masih ada sisa cinta di keduanya tapi sepertinya hanya
sisa-sisa.
“Gimana kabar kamu?” Amanda bertanya
tulus ketika mereka duduk berdua di ruang tengah. Amanda memberikan secangkir kopi untuk
Monrue.
“Aku kangen kamu.” Rupanya Monrue masih mencari celah
kemungkinan untuk kembali.
Amanda hanya tersenyum mendengarnya.
“Kamu nggak kangen aku?” Monrue berharap. “Kita balik ya, tapi kali
ini aku akan sungguh-sungguh, aku menginginkannya semua resmi Manda.”
Amanda bingung. “Hei, yang mau balik
siapa, kenapa sudah ngomong resmi segala.”
Monrue kecewa. “Bener-bener nggak
ada harapan Man?”
Amanda tersenyum tipis.
“Bener-bener aku nggak dimaafin?”
“Maaf pasti diberi, kesempatan yang
nggak ada lagi.”
Sama juga bohong.
“Sudahlah, kamu akan dapat pengganti
aku yang lebih pengertian. Aku nggak
sanggup.”
“Aku cuma mau kamu Manda.”
Manda tersenyum lagi. Tapi berusaha untuk tegas. “Kalau kamu masih
bahas ini, kamu nggak usah datang lagi ke sini!”
Monrue diam.
“Kamu bisa, aku juga pasti
bisa. Kita akan tetap menjadi teman.”
Amanda berusaha menghibur. Tapi dia pun
masih berusaha menyembuhkan lukanya. Kehilangan itu nggak pernah enak.
__ADS_1