Life After Forty

Life After Forty
Episode 19 Merancang Perpisahan yang Indah


__ADS_3

Hampir pukul


Sembilan malam ketika Monrue tiba di rumah Amanda. Rumah itu sepi.  Karena memang Citra sedang liburan dengan


Fauzan ke Semarang, dan baru akan kembali hari minggu.  Karena memang rencananya Amanda hanya ingin


berdua saja dengan Monrue dan sudah menyampaikan ke Fauzan jauh-jauh hari.  Monrue mendapati Amanda sedang berbaring di


tempat tidurnya.  Monrue pun menyentuh


bahu Amanda.  Amanda terbangun dan


sepertinya sudah siap kalau Monrue akan datang padanya.


            Amanda tersenyum singkat. “Sudah


datang?”


            Monrue membalas dengan senyuman.


            Amanda pun bangkit dari tidurnya dan


duduk di hadapan Monrue dengan begitu tegak.  “Aku sudah menghubungi bang Haris (baca: pengacara mereka ketika mereka


membuat surat keterangan nikah), dia akan menyiapkan dokumen untuk kamu bacakan


sebagai ikrar talak.  Semua dokumen akan


selesai hari senin siang.”


            Amanda memberikan informasi yang


membuat Monrue syok.


            “Kamu punya dua pilihan, kamu


tinggal di sini, atau kita jalan keluar merayakan hari pernikahan kita, dan


hari senin kamu bacakan talak, atau kita bisa pisah dari sekarang dan ketemu


lagi hari senin, untuk tanda tangan perceraian kita?”  Amanda berkata dengan begitu tegas, sama


sekali tidak memberikan pilihan lain bagi Monrue.


            Monrue masih diam kebingungan.


            “Satu lagi, mungkin kita butuh


Firman sebagai saksi senin besok.  Aku


juga akan jadikan Fauzan sebagai saksi.”


            Semua seakan begitu terencana.  Amanda benar-benar bicara tanpa perasaan.


            “Apa keputusan kamu?”


            Monrue kaget ketika dia harus


memutuskan.  “Apa cuma itu pilihannya?”


            “Sudah, nggak usah ada drama.


Pilihan kamu apa?”


            “Ya sudah, kita pergi malam


ini.  Kita pergi merayakan cinta kita.”


            “Ini sudah malam, mau ke mana?”


            “Ke mana saja, kita jalan malam


ini.” Tekad Monrue, dia harus merayakan yang harusnya mereka rayakan.


            Amanda pun mengikuti permintaan


Monrue, karena memang sebenarnya dia sudah siap, jadi iapun hanya mengganti


pakaiannya untuk berangkat.


            Monrue pun memesan taksi untuk membawa


mereka ke airport.


            Mereka pun terbang ke Bali dengan


pesawat terakhir di malam itu. Mereka akan ada di sana hingga senin pagi.  Hadeuh, belum juga selesai jetlag, harus terbang lagi.  Sebenarnya Amanda benar-benar lelah.  Rasanya kepalanya mau pecah.


Sesampainya


di kamar hotel di Hard Rock, Amanda


benar-benar lelah.  Emosi dan tenaganya


terkuras habis malam itu.  “Aku tidur


dulu ya, aku cape banget!”  dia sangat


meminta pengertian Monrue.


            Monrue hanya mengangguk.


            Begitu melepas kerudungnya, Amanda pun


langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.  Tak lama ia pun tertidur.


            Monrue benar-benar kalut dan


ketakutan.  Ia tidak bisa membayangkan


hidup sendiri tanpa Amanda.  Semalaman ia


hanya bisa memeluk Amanda dari belakang.  Membelai rambutnya.  Bahkan Amanda


pun sama sekali tidak memberikan kesempatannya untuk minta maaf.  Amanda sudah mati rasa.  Dia benar-benar menepati janjinya. Tidak ada


kesempatan kedua.


Monrue baru saja


tertidur ketika Amanda membangunkannya untuk sholat Subuh.  Tanpa banyak bicara Monrue pun bangun dan


sholat.  Kemudian dia tidur lagi, Amanda


pun sepertinya begitu.  Mereka terlalu


lelah semalam hingga butuh istirahat lebih lama.  Dalam tidurnya pun Monrue masih berfikir


bagaimana cara untuk bisa membuat Amanda berubah fikiran.


            Keduanya kembali terbangun pukul


delapan pagi.  Mandi dan bersiap untuk


sarapan.  Masih dalam suasana yang


hening.  Monrue yang bingung bagaimana


cara mencairkan suasana, Amanda yang terlihat jelas dia begitu kecewa.  Suasana sarapan pagi pun masih dalam sepi,


masih dalam fikiran masing-masing.  Amanda berusaha keras menata emosinya untuk bisa ramah pada sang suami,


mengingat laki-laki ini tinggal satu hari lagi menjadi suaminya.  Tapi bagaimanapun ia terluka, sekeras apapun


dia berusaha bersikap hasilnya menjadi tidak tulus.  Monrue menghargai usaha Amanda untuk membuat


suasana menjadi lebih baik.  Tapi dia pun


bingung untuk bersikap.  Keduanya menjadi


sangat canggung.


            Akhirnya mereka memutuskan untuk


kembali ke kamar, semewah dan seenak apapun sarapan yang disajikan, rasanya


menjadi hambar dalam kondisi seperti ini.


            “Kita mau ke mana?” Amanda duduk di


satu-satunya tempat duduk di kamar itu.


            Monrue juga sebenarnya tidak punya


rencana.  Monrue menghampiri Amanda, dia


pun berlutut memeluk paha Amanda. “Maaf.”  Pintanya dalam usaha terakhir.


            “Damn


it Monrue, mau kamu apa?” Amanda begitu marah. “Dari awal aku sudah bilang,


kalau kamu bosan cukup bilang, nggak usah pecundangi aku seperti ini!”


            “Maaf.” Monrue masih tidak bergerak.


            “Nggak ada yang perlu


dimaafkan.  Aku hanya nggak sanggup


dengan sifat kamu yang nggak bisa berubah.”

__ADS_1


            “Aku akan berubah.  Aku janji. Maaf…”


            Amanda benar-benar sangat marah,


didorongnya Monrue sampai terjungkal. “Sekali lagi kamu bilang maaf, aku


kembali ke Jakarta saat ini juga.” Amanda bangkit dan bersiap untuk pergi.


            Monrue langsung menangkapnya,


memeluk Amanda. “Ok Ok… jangan pergi!” Monrue menyerah. “Nggak ada lagi maaf,


kita nikmati saja hari ini ya.” Pinta Monrue sambil memeluk Amanda erat.  Benar-benar ia merasakan pelukan itu.  Pelukan yang mungkin hanya ia bisa rasakan


sekarang.  Tidak ada lagi besok.


            Monrue menyerah dengan vonis Amanda.


Hubungan mereka harus selesai besok.  Maka ia berusaha keras agar hari ini indah untuk keduanya.  Mereka menghabiskan waktu hanya sekitar


Kuta.  Karena memang waktu mereka begitu


singkat.  Berjalan-jalan di pantai,


menikmati sunset, dinner romantis di


restoran terbaik yang ada disana.  Ada live music ketika mereka makan


malam.  Sang penyanyi yang menyadari


kehadiran Monrue di situ mempersilahkan Monrue untuk menyumbangkan lagu.  Sebenarnya Monrue enggan, tapi kenapa nggak


fikirnya? Siapa tahu setelah mendengarkan dirinya bernyanyi Amanda terbawa


suasana dan luluh? Kenapa nggak dicoba? Saat ini cara apapun ingin ia lakukan


agar Amanda berubah fikiran.  Maka Monrue


pun mencoba merayu Amanda dengan lagu “You


are the reason”.


I’d climb every


mountain,


Swim every ocean


Just to be with you


To fix what I’ve


broken….


Amanda


menikmati suara merdu Monrue, hadeuh hatinya luluh lantah, dia benar-benar


terbuai dengan alunan lagu yang dinyanyikan Monrue, apa mampu membuatnya


berubah fikiran? Hm…nggak sih keputusannya begitu bulat.  Monrue cuma bisa tersenyum pahit, yah…


namanya juga usaha, nggak ada salahnya di coba.  Setelahnya, setiap saat Monrue memeluk Amanda, apapun kondisinya, Monrue


sama sekali tidak perduli dengan sekelilingnya, benar-benar tidak peduli adanya


kamera handphone yang diam-diam


merekam adegan itu, memphoto mereka, Monrue sangat sadar, tapi dia tidak


perduli. Karena ia tahu setelah ini semuanya akan berakhir.  Malam itupun Monrue mengajak Amanda


bercinta.  Sama sekali tidak ada


penolakan dari Amanda.  Keduanya berusaha


keras menjadikan malam yang indah. Walau batin mereka tersiksa dengan bayangan


apa yang akan terjadi besok.


            Mereka kembali ke Jakarta dengan


pesawat paling pagi pukul 6.  Landing di Jakarta pukul 6.30. Karena


memang Bali satu jam lebih cepat dari Jakarta, seakan mereka hanya terbang 30


menit.  Amanda mendapat kabar, bahwa staf


bang Haris yang merupakan juga pengacara muda akan datang ke rumah Amanda pukul


13.30.  Bang Haris minta maaf nggak bisa


kisaran waktu yang sama, dia yang menghubungi Firman karena terlihat Monrue


masih enggan.  Setelahnya dia pun


menghubungi Fauzan.  Minta tolong untuk


datang ke rumahnya tanpa memberi tahu ada apa.  Hanya minta tolong ada hal penting.  Fauzan pun menyanggupinya walaupun sebenarnya sebagai GM dia cukup


sibuk.  Tapi apa sih yang nggak buat


Amanda.  Terlihat Monrue begitu gusar.


Tapi dia lebih memilih untuk diam.  Semua


dilakukan Amanda dalam perjalanan pulangnya.


            Mereka tiba di rumah pukul


sepuluh.  Masih ada cukup waktu untuk


menyiapkan segala sesuatu.  Amanda tidak


sempat memasak, dia memilih menelepon restoran untuk menyiapkan makan siang


untuk para tamu yang akan datang.  Setelahnya pelan-pelan ia menyiapkan barang-barang Monrue karena ia akan


meninggalkan rumah ini selamanya.  Amanda


begitu sibuk, sedangkan Monrue hanya duduk terdiam di ruang tengah.  Memikirkan apa yang akan terjadi membuatnya


tidak punya energi untuk bergerak.


            Firman dan Fauzan datang lebih dulu


dari pada para pengacara.  Mereka agak


heran dengan raut wajah Monrue yang begitu suntuk.  Amanda mempersilahkan mereka untuk makan


siang sambil menanti tamu yang lain.  Baik Monrue maupun Amanda masih tidak bilang tujuan keduanya diundang


datang saat ini. Sama sekali tidak ada bayangan apa yang akan terjadi.  Akhirnya ke empatnya makan siang


bersama.  Tidak lama kemudian dua


pengacara dari biro pengacara Harris and co datang.  Mereka pun langsung diminta Amanda untuk


bergabung makan siang.  Melihat


kedatangan dua pengacara Monrue semakin tidak karuan.  Firman kebingungan dengan kondisi


sahabatnya.  Monrue begitu pucat, seperti


hampir pingsan.


            Setelah makan siang selesai, kedua


pengacara mulai memimpin acara.  Mereka


menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan, Monrue yang membacakan ikrar talak


di hadapan saksi, dan kemudian dia dan kedua saksi menanda tangani dokumen


tersebut.  Pembacaan pun nanti akan


direkam sebagai bukti.  Pengacara pun


menyarankan setelah ini sebaiknya dibawa ke pengadilan untuk mendapatkan surat


secara resmi.  Saat itulah Firman dan


Fauzan menyadari apa yang terjadi dan kenapa Monrue begitu gusar.  Terjawab sudah misteri siang yang kaku.


            Tibalah saatnya Monrue membacakan


talak.  Ia membacanya dengan begitu


terbata-bata, raut wajahnya nggak karuan.  Dan akhirnya dia pun menangis diakhir pembacaannya.  Setelahnya dia memeluk Amanda begitu


erat.  Berkali-kali pun ia mengucapkan


maaf.  Amanda pun sedikit menitikan air


matanya.  Walaupun ini maunya, tapi tetap


berat untuk keduanya.


            Setelah sedikit berbasa-basi kedua


pengacara itupun pamit pulang.  Satu jam

__ADS_1


kemudian Firman pun membawa Monrue keluar dari rumah itu. Hadeh, Firman pusing


nih… Monruekan susah Moves on, bakal


repot nih urusannya. Sekali lagi Monrue memeluk Amanda dan mengucapkan


maaf.  Amanda hanya bisa tersenyum


melepas kepergian mantan suaminya.


            Tinggal berdua saja ia dan Fauzan di


rumah itu.  Sebentar lagi Citra akan


pulang sekolah.


            “Kamu baik-baik saja Man?”  Fauzan bertanya hati-hati.  Niatnya untuk kembali ke kantor diurungkan


ketika mengetahui apa yang terjadi.


            Amanda tersenyum. “Nggak mungkinlah


aku baik-baik saja.  Rasanya langit


runtuh tahu nggak.”


            Fauzan bingung, sama sekali tidak


ada airmata ataupun raut wajah sedih.  Dia sendiri juga bingung, dia bahagia dengan perpisahan Amanda, tapi kok


kayaknya nggak etis kalau dia bahagia.  Tapi dia yakin Amanda perempuan kuat sih.  Dan kayaknya terlalu cepat kalau dia banyak


tanya apa yang sebenarnya terjadi. Pasti pelan-pelan dia akan tahu.


Hari-hari


selanjutnya Amanda sering kali terlihat termenung.  Tapi kalau ada orang lain di sekitarnya, dia


akan langsung terlihat baik-baik saja.  Berusaha keras untuk tegar, sebenarnya Fauzan tahu kalau Amanda sedang


terluka.  Tapi ia nggak mau buru-buru


memaksa Amanda untuk bercerita, membiarkan Amanda untuk sendiri tapi tetap


dalam pengawasannya dianggap adalah hal yang terbaik saat ini.  Fauzan pun pelan-pelan memberi tahu Citra dan


Bimo tentang apa yang baru saja terjadi.  Citra sedih sih, bagaimanapun dia juga sayang daddynya.  Tapi sekali lagi


dia berusaha mengerti arti kata perpisahan.  Seperti yang terjadi antara ayah dan ibunya dulu.  Bimo yang di Belanda hanya berpesan pada


Citra untuk bisa menghibur ibu mereka.


            Beberapa kali terlihat Monrue


berusaha menghubungi Amanda, terkadang Amanda menerima, terkadang ia


menolak.  Dia hanya tidak ingin Monrue


terlalu sering menghubunginya, bagaimanapun mereka masing-masing harus


menjalani hidup sendiri-sendiri kini.  Tapi ia juga berusaha membuat kondisi bahwa mereka tidak perlu


bermusuhan karena telah berpisah.  Mencoba untuk menjadi dewasa, walaupun itu sulit.


            Beberapa minggu setelah perpisahan


Monrue dan Amanda.  Amanda kedatangan


Sean putra Monrue, ia datang dengan berlinangan airmata meminta Amanda kembali


pada ayahnya.  Sean bilang dia sangat


sayang Amanda, sangat menyayangi Bimo dan Citra juga Fauzan.  Saat itu ada Citra dan Fauzan yang bingung


dengan Sean yang terus memeluk Amanda. Fauzan berusaha menenangkan anak itu.


Meyakinkan bahwa mereka akan tetap sayang Sean, akan tetap memperlakukannya


sebagai bagian dari keluarga ini.  Tapi


sepertinya Sean masih belum puas, akhirnya dia pun memeluk Citra, dan berjanji


lima tahun lagi dia akan datang untuk melamar Citra, agar ia bisa kembali


sebagai anggota keluarga ini.


            Mendengar itu Citra jadi sumringah


bahagia.  Amanda dan Fauzan langsung


panik. Hei boy, jangan buru-buru mengumbar janji! Kamu masih 20 tahun, dan


Citra masih 15 tahun.  Fauzan pun


berusaha meyakinkan Sean untuk tidak perlu berjanji apa-apa. Keluarga ini akan


tetap menjadi keluarganya selamanya.  Akhirnya


pun Sean bisa tenang.  Dia pun setelah


dua jam diyakinkan pamit pulang.  Tapi


dia tetap memberikan janjinya pada Citra.  Fauzan dan Amanda hanya bisa geleng-gelang.


Setelah satu


bulan berpisah, Amanda menghubungi Monrue, memintanya untuk datang ke rumahnya,


mengambil barang-barangnya masih tertinggal.  Ketika Monrue datang ke rumah itu, Amanda menyambutnya dengan


ramah.  Ada Fauzan dan Citra di minggu


siang itu.  Monrue sepertinya sudah jauh


lebih tenang, walaupun masih terlihat kalau dia masih belum ikhlas menerima


perpisahannya.  Ya gimana, kan dia yang


buat masalah.  Amanda pun sudah bisa


tersenyum tulus menyambut Monrue.  Fauzan


diam-diam mengamati kedewasaan keduanya.  Terlihat memang masih ada sisa cinta di keduanya tapi sepertinya hanya


sisa-sisa.


            “Gimana kabar kamu?” Amanda bertanya


tulus ketika mereka duduk berdua di ruang tengah.  Amanda memberikan secangkir kopi untuk


Monrue.


            “Aku kangen kamu.”  Rupanya Monrue masih mencari celah


kemungkinan untuk kembali.


            Amanda hanya tersenyum mendengarnya.


            “Kamu nggak kangen aku?”  Monrue berharap. “Kita balik ya, tapi kali


ini aku akan sungguh-sungguh, aku menginginkannya semua resmi Manda.”


            Amanda bingung. “Hei, yang mau balik


siapa, kenapa sudah ngomong resmi segala.”


            Monrue kecewa. “Bener-bener nggak


ada harapan Man?”


            Amanda tersenyum tipis.


            “Bener-bener aku nggak dimaafin?”


            “Maaf pasti diberi, kesempatan yang


nggak ada lagi.”


            Sama juga bohong.


            “Sudahlah, kamu akan dapat pengganti


aku yang lebih pengertian.  Aku nggak


sanggup.”


            “Aku cuma mau kamu Manda.”


            Manda tersenyum lagi.  Tapi berusaha untuk tegas. “Kalau kamu masih


bahas ini, kamu nggak usah datang lagi ke sini!”


            Monrue diam.


            “Kamu bisa, aku juga pasti


bisa.  Kita akan tetap menjadi teman.”


Amanda berusaha menghibur.  Tapi dia pun


masih berusaha menyembuhkan lukanya.  Kehilangan itu nggak pernah enak.

__ADS_1


__ADS_2