
Sudah
seminggu Fauzan kembali ke dunia nyata, kembali bekerja seperti biasa. Dia masih berusaha keras menghindari
Elly. Tapi sepertinya dia tidak perlu
lagi kucing-kucingan, karena memang empat minggu terakhir ketika Fauzan masih
di Brisbane pun, Elly sudah mulai berkurang menghubunginya, kalau dulu ia akan
menepon hampir 5 kali sehari, menghubungi via WA bisa puluhan kali, lama-lama
intensitas itu berkurang dengan sendirinya. Mungkin dia lelah. Bahkan dua minggu
terakhir ini Elly sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan ketika Fauzan pulang ke Jakarta, ia
bisa melenggang tenang. Memang satpam
perumahan tempat ia tinggal melaporkan, tidak lama Fauzan berangkat ke
Australia ada perempuan muda berteriak-teriak di depan rumahnya dan melemparkan
rumahnya dengan telur. Tapi setelah
kejadian itu, perempuan itu tidak pernah ada lagi di rumah Fauzan. PR banget sih, begitu sampai rumah Fauzan
harus membersihkan halaman rumahnya karena bau telur busuk begitu menyengat. Tapi sudahlah, semoga artinya ini semua sudah
berakhir.
Berita terakhir dari satpam kantor
yang diam-diam mengamati, sepertinya sekarang Elly sudah punya pacar baru. Tapi pacarnya tidak bekerja di gedung
ini. Karena setiap sore ada Mercy S
class menjemputnya di halaman kantor. Fauzan bahagia mendengar kabar burung itu. Ditambah lagi, setelah dua bulan ia
menghabiskan waktu di Brisbane, artinya dua bulan penuh ia tidak menggunakan
gajinya selain membayar tagihan rutin seperti listrik, air dan telepon. Dengan begitu, dia telah mampu membayar semua
tagihan kartu kreditnya, warisan yang ditinggalkan Elly. Hadeuh… lega banget rasanya bebas dari utang.
Dan sore ini, Fauzan kembali
mendapatkan satu berita baik. Sang atasan memanggilnya sore itu, menawarkan
satu jabatan penting yang berpengaruh baik dalam kariernya. Salah satu anak perusahaan sedang membutuhkan
posisi General Manager (GM),
atasannya pun beranggapan Fauzan cocok dengan menerima jabatan itu. Artinya memang dia tidak lagi bekerja di
induk perusahaan. Dan diapun akan pindah
__ADS_1
kantor. Hanya memang karena ini anak
perusahaan walaupun jabatannya GM, tapi kenaikan gajinya tidak akan terlalu
besar. Bagaimanapun ini tantangan baru, sudah
cukup lama Fauzan tidak mendapatkan promosi karena memang jabatan baru belum
ada untuknya. Tentu saja Fauzan menerima
tawaran ini. Dan yang lebih menyenangkan
kantor barunya terletak di Pulo Gadung, jarak yang sangat menyenangkan dari
rumahnya di Pondok Bambu, dari pada saat ini ia harus ke Soedirman yang lokasi
terkenal macet, pindah ke kawasan industry Pulo Gadung tentu saja lebih efisien. Terlebih lokasi itu dekat dengan tempat
Amanda bekerja di Rawamangun. Kalau
semua lancar, Fauzan akan mulai pindah di awal tahun depan. Maka, dalam tiga bulan ini dia diminta untuk
membenahi pekerjaannya, membantu merekrut penggantinya: merekomendasikan salah
satu anak buahnya untuk menggantikan posisinya, ataupun mencari penggantinya
dari luar, dan mendampingi penggantinya untuk bisa menyelesaikan pekerjaan.
Setelah sholat Magrib, Fauzan baru
begitu bahagia. Pelan-pelan permasalahannya
terurai dengan baik, ditambah dia akan mendapatkan jabatan baru di awal
tahun. Membayangkannya saja sudah
membuat Fauzan bahagia. Dia pun memasuki
lift dengan pikiran yang penuh di kepalanya, tapi dia sama sekali tidak
keberatan, karena penuhnya dengan berita bahagia kok. Fauzan jadi senyum-senyum di lift.
Dia tidak menyadari kalau dia satu
lift dengan Elly. Tadinya Elly ingin
menghindar, tetapi ternyata Fauzan sudah terlanjur melihatnya. Melihat gelagat Elly yang mengendap-ngendap
tapi ketahuan, Fauzan jadi bingung, kan selama ini ia yang menghindari Elly.
Kenapa sekarang sepertinya Elly menghindari dia ya?
Begitu keluar lift bersamaan, Elly
menghampiri Fauzan, terlihat dia sangat terpaksa. “Mas, aku merasa sebaiknya kita selesai saja.”
__ADS_1
Fauzan sangat setuju dengan itu.
“Tapi kamu jangan minta balik apa
yang sudah kamu kasih ke aku ya!”
Oh ini yang menyebabkan Elly
menghindarinya. Fauzan mengerti. “Aku
cuma minta satu El, tolong kembalikan yang bukan hak kamu. Tolong kembalikan cincin istriku!” Cuma itu
yang diminta Fauzan.
Elly menggelang. “Nggak bisa, sudah
aku jual, lagi juga cincin itu murah banget kok. Ternyata nggak sampai lima
puluh.” Elly pun berlari meninggalkan Fauzan yang bengong.
“Berapun harganya itu bukan milik
kamu El.” Kali ini Fauzan yang berteriak. Fauzan begitu emosi, Argggghhhh, apa yang harus ia katakan pada Amanda?
Fauzan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia begitu frustasi. “Maaf Manda, maaf…” Dia bicara sendiri dengan
penuh penyesalan.
Satu
bulan telah berlalu, Fauzan telah mampu menata emosinya. Setiap kali dia harus berpapasan dengan Elly,
mereka berdua seperti tidak saling mengenal. Tapi kalau Elly lebih memperhatikan, ada tatapan kebencian dari Fauzan
untuknya. Untuk itu Elly selalu
menghidar apabila tak sengaja mereka beradu mata. Mata Fauzan kini begitu menakutkan. Tidak ada
lagi tatapan teduh penuh sayang dan pengertian untuknya.
Elly mengerti dia memang sudah
melewati batas. Fauzan selalu memberikan
apa yang dia minta, tetapi dia justru bersikap serakah. Apa daya, saat itu ia memang ingin sekali
dinikahi oleh Fauzan, tetapi tidak ada tanda-tanda Fauzan akan melamarnya. Maka ketika ia menemukan dua cincin itu di
lemari pakaian di kamar Fauzan, dia langsung mengenakannya, dengan begitu dia
berharap Fauzan akan luluh dan mau menikahinya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Cintanya dengan Fauzan harus kandas. Tapi nggak papa, karena sekarang dia sudah punya pacar baru, lebih muda,
gagah dan jauh lebih mapan dari Fauzan. Seorang pengusaha muda yang terlahir sudah tajir melintir.
**
__ADS_1