Life After Forty

Life After Forty
Episode 7 bubar


__ADS_3

Sudah


seminggu Fauzan kembali ke dunia nyata, kembali bekerja seperti biasa.  Dia masih berusaha keras menghindari


Elly.  Tapi sepertinya dia tidak perlu


lagi kucing-kucingan, karena memang empat minggu terakhir ketika Fauzan masih


di Brisbane pun, Elly sudah mulai berkurang menghubunginya, kalau dulu ia akan


menepon hampir 5 kali sehari, menghubungi via WA bisa puluhan kali, lama-lama


intensitas itu berkurang dengan sendirinya.  Mungkin dia lelah.  Bahkan dua minggu


terakhir ini Elly sama sekali tidak menghubunginya.  Bahkan ketika Fauzan pulang ke Jakarta, ia


bisa melenggang tenang.  Memang satpam


perumahan tempat ia tinggal melaporkan, tidak lama Fauzan berangkat ke


Australia ada perempuan muda berteriak-teriak di depan rumahnya dan melemparkan


rumahnya dengan telur.  Tapi setelah


kejadian itu, perempuan itu tidak pernah ada lagi di rumah Fauzan.  PR banget sih, begitu sampai rumah Fauzan


harus membersihkan halaman rumahnya karena bau telur busuk begitu menyengat.  Tapi sudahlah, semoga artinya ini semua sudah


berakhir.


            Berita terakhir dari satpam kantor


yang diam-diam mengamati, sepertinya sekarang Elly sudah punya pacar baru.  Tapi pacarnya tidak bekerja di gedung


ini.  Karena setiap sore ada Mercy S


class menjemputnya di halaman kantor.  Fauzan bahagia mendengar kabar burung itu.  Ditambah lagi, setelah dua bulan ia


menghabiskan waktu di Brisbane, artinya dua bulan penuh ia tidak menggunakan


gajinya selain membayar tagihan rutin seperti listrik, air dan telepon.  Dengan begitu, dia telah mampu membayar semua


tagihan kartu kreditnya, warisan yang ditinggalkan Elly.  Hadeuh… lega banget rasanya bebas dari utang.


            Dan sore ini, Fauzan kembali


mendapatkan satu berita baik. Sang atasan memanggilnya sore itu, menawarkan


satu jabatan penting yang berpengaruh baik dalam kariernya.  Salah satu anak perusahaan sedang membutuhkan


posisi General Manager (GM),


atasannya pun beranggapan Fauzan cocok dengan menerima jabatan itu.  Artinya memang dia tidak lagi bekerja di


induk perusahaan.  Dan diapun akan pindah

__ADS_1


kantor.  Hanya memang karena ini anak


perusahaan walaupun jabatannya GM, tapi kenaikan gajinya tidak akan terlalu


besar.  Bagaimanapun ini tantangan baru, sudah


cukup lama Fauzan tidak mendapatkan promosi karena memang jabatan baru belum


ada untuknya.  Tentu saja Fauzan menerima


tawaran ini.  Dan yang lebih menyenangkan


kantor barunya terletak di Pulo Gadung, jarak yang sangat menyenangkan dari


rumahnya di Pondok Bambu, dari pada saat ini ia harus ke Soedirman yang lokasi


terkenal macet, pindah ke kawasan industry Pulo Gadung tentu saja lebih efisien.  Terlebih lokasi itu dekat dengan tempat


Amanda bekerja di Rawamangun.  Kalau


semua lancar, Fauzan akan mulai pindah di awal tahun depan.  Maka, dalam tiga bulan ini dia diminta untuk


membenahi pekerjaannya, membantu merekrut penggantinya: merekomendasikan salah


satu anak buahnya untuk menggantikan posisinya, ataupun mencari penggantinya


dari luar, dan mendampingi penggantinya untuk bisa menyelesaikan pekerjaan.


            Setelah sholat Magrib, Fauzan baru


begitu bahagia.  Pelan-pelan permasalahannya


terurai dengan baik, ditambah dia akan mendapatkan jabatan baru di awal


tahun.  Membayangkannya saja sudah


membuat Fauzan bahagia.  Dia pun memasuki


lift dengan pikiran yang penuh di kepalanya, tapi dia sama sekali tidak


keberatan, karena penuhnya dengan berita bahagia kok.  Fauzan jadi senyum-senyum di lift.


            Dia tidak menyadari kalau dia satu


lift dengan Elly.  Tadinya Elly ingin


menghindar, tetapi ternyata Fauzan sudah terlanjur melihatnya.  Melihat gelagat Elly yang mengendap-ngendap


tapi ketahuan, Fauzan jadi bingung, kan selama ini ia yang menghindari Elly.


Kenapa sekarang sepertinya Elly menghindari dia ya?


            Begitu keluar lift bersamaan, Elly


menghampiri Fauzan, terlihat dia sangat terpaksa.  “Mas, aku merasa sebaiknya kita selesai saja.”

__ADS_1


            Fauzan sangat setuju dengan itu.


            “Tapi kamu jangan minta balik apa


yang sudah kamu kasih ke aku ya!”


            Oh ini yang menyebabkan Elly


menghindarinya. Fauzan mengerti.  “Aku


cuma minta satu El, tolong kembalikan yang bukan hak kamu.  Tolong kembalikan cincin istriku!” Cuma itu


yang diminta Fauzan.


            Elly menggelang. “Nggak bisa, sudah


aku jual, lagi juga cincin itu murah banget kok. Ternyata nggak sampai lima


puluh.” Elly pun berlari meninggalkan Fauzan yang bengong.


            “Berapun harganya itu bukan milik


kamu El.” Kali ini Fauzan yang berteriak.  Fauzan begitu emosi, Argggghhhh, apa yang harus ia katakan pada Amanda?


Fauzan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia begitu frustasi.  “Maaf Manda, maaf…” Dia bicara sendiri dengan


penuh penyesalan.


Satu


bulan telah berlalu, Fauzan telah mampu menata emosinya.  Setiap kali dia harus berpapasan dengan Elly,


mereka berdua seperti tidak saling mengenal.  Tapi kalau Elly lebih memperhatikan, ada tatapan kebencian dari Fauzan


untuknya.  Untuk itu Elly selalu


menghidar apabila tak sengaja mereka beradu mata.  Mata Fauzan kini begitu menakutkan. Tidak ada


lagi tatapan teduh penuh sayang dan pengertian untuknya.


Elly mengerti dia memang sudah


melewati batas.  Fauzan selalu memberikan


apa yang dia minta, tetapi dia justru bersikap serakah.  Apa daya, saat itu ia memang ingin sekali


dinikahi oleh Fauzan, tetapi tidak ada tanda-tanda Fauzan akan melamarnya.  Maka ketika ia menemukan dua cincin itu di


lemari pakaian di kamar Fauzan, dia langsung mengenakannya, dengan begitu dia


berharap Fauzan akan luluh dan mau menikahinya.  Tapi kenyataannya malah sebaliknya.  Cintanya dengan Fauzan harus kandas.  Tapi nggak papa, karena sekarang dia sudah punya pacar baru, lebih muda,


gagah dan jauh lebih mapan dari Fauzan.  Seorang pengusaha muda yang terlahir sudah tajir melintir.


**

__ADS_1


__ADS_2