
Bisa dikatakan misi
mereka di Brisbane telah tuntas. Mereka
bisa bersantai sejenak sebelum besok pagi kembali ke Jakarta. Amanda mengeluarkan ide untuk ke DFO hari
ini. Semuanya sepakat, karena Mas Derry
yang setiap malam ber video call dengan anak istrinya bercerita kalau dia hari pertama ke DFO menemukan banyak
barang branded dengan harga yang
lebih murah, mendengar hal itu, tentu saja putrinya yang masih remaja langsung
memberikan list pada sang bapak untuk
dibelikan oleh-oleh. Amanda berencana
membeli oleh-oleh untuk kedua anaknya dan juga Fauzan, karena bersedia menjaga
anak-anak mereka di saat dia harus pergi. Apa yang mau dibeli? Amanda juga masih berfikir. Tapi yang pastinya dia berharap cincin
berlian yang dia lihat masih ada di sana.
Begitu
sampai DFO, Amanda langsung memandang kepada kedua laki-laki itu. “Kita ketemu
3 jam lagi di sini ya?” Naluri perempuan ingin belanjanya langsung terlihat
tidak terkendali.
Derry
dan Monrue langsung tersenyum dan mengangguk.
Amanda
pun meninggalkan mereka. Dia langsung
berkeliling. Setelah cukup lama masuk
satu toko ke toko lainnya, akhirnya ia membeli sepasang sepatu untuk Bimo, tiga
baju cantik untuk Citra dan sebuah jaket untuk Fauzan. Dan sekarang saatnya ia memikirkan dirinya
sendiri, dia pun pergi ke toko yang menjadi tujuan utamanya. Betapa bahagianya Amanda ketika melihat
cincin yang dia idam-idamkan masih terpajang manis di sana. Tapi dia tak mau buru-buru Amanda pun
berkeliling toko itu lagi untuk melihat-lihat. Dan benar ternyata, ada satu cincin cantik lagi yang menggoda. Amanda jadi kesal, anggarannya hanya ingin
membeli satu cincin, tapi kenapa sekarang ada dua yang cantik, diakan jadi
galau.
Masih
dalam kondisi galau ketika Monrue datang menyapa. “Kenapa kok suntuk?”
“Galau
nih mau beli yang mana, dua-duanya bagus.” Amanda cemberut.
Monrue
tersenyum. “Segitunya.”
Seorang
pramuniaga pun menghampiri mereka dan bertanya apakah mereka membutuhkan
bantuan. Monrue meminta sang pramuniaga
mengambil dua cincin itu untuk Amanda coba. Dan sang pramuniaga pun mengikuti kemauan Monrue. Terlihat sekali Amanda menginginkan keduanya,
tapi dia mendisiplinkan diri untuk hanya membeli satu. Walaupun kedua-duanya cantik dan pas di
jarinya.
Setelah
beberapa menit ragu, akhirnya Amanda memilih satu di antara dua cincin
itu. Sang pramuniaga pun kemudian,
mempersiapkan cincin yang dibeli Amanda untuk siap dibawa pulang. Dengan menyiapkan sertifikatnya, kemasan
cantiknya dan lain sebagainya. Setelah
diberikan kepadanya, Amanda pun menerima dan membayarnya dengan hati gembira,
ia meninggalkan toko itu dengan wajah berseri-seri. Monrue sampai geli melihatnya. Segitunya ya perempuan kalau mendapatkan yang
diinginkan. Berjalan beriringan,
tiba-tiba Monrue teringat sesuatu.
“Elo
duluan deh.” Pintanya.
Amanda
pun hanya tersenyum dan berjalan perlahan menyusuri toko-toko.
Setelah puas dengan agenda shopping, Amanda pun kembali ke food court tempat ia janjian dengan
kedua rekannya. Ternyata dua laki-laki
itu telah duduk manis menantinya. Mereka
sedang ngobrol serius sepertinya. Amanda
pun menghampirinya, dan berusaha mendengar percakapan mereka. Yang didengar
Amanda hanya…
“Nggak akan tahu kalau nggak tanya.
Jangan menduga-duga...” Mas Derry bicara begitu serius pada Monrue.
“Nanya apa?” Amanda langsung
nimbrung.
Keduanya terkejut.
“Halah mau tahu saja.”
Amanda tersenyum. “Sudah semua?”
Kedua laki-laki itu mengangguk, dan
bergerak bangun. Dan mereka bertiga pun
bergerak meninggalkan DFO.
Subuh,
ketika Amanda ke kamar mandi, didapatinya Monrue sedang duduk sendirian di
ruang tengah. Amanda agak kaget ada
orang dalam kegelapan.
“Ih, ngapain di situ?” Amanda kaget.
Monrue cemberut dan suntuk.
“Nungguin anugrah.”
“Maksudnya apaan sih?”
Monrue cuma bangkit berjalan ke
kamar.
“Hei, sudah sholat belom? Mau ke mana?”
“Sudah. Mau packing.” Dia berlalu begitu saja meninggalkan Amanda yang masih
keheranan.
Mereka
meninggalkan apartmen pukul 5 pagi, setelah sholat subuh, langsung berangkat,
karena mereka harus mengembalikan mobil sewaan dulu sebelum ke airport. Pesawat mereka pukul tujuh pagi. Perjalanan pulang akan cukup lama transit di Sydney kira-kira lima jam
lah.
Amanda
agak bingung dengan Monrue pagi ini, moodnya jelek banget, lebih banyak diam
dan cemberut. Tapi di satu sisi, dia
sangat penolong. Sibuk banget dari tadi
membawakan barang bagasi Amanda. Dengan
cekatan dia selalu menolong Amanda dengan membawakan kopernya tanpa diminta.
Ketika turun dari bus dan memasukkannya ke bagasi.
Ketika landing di Sydney juga masih sama,
Monrue lebih banyak diam dan cemberut. Hadeuh… perjalanan jadi nggak nyaman nih kalau ada yang bad mood begini.
“Elo
kenapa?” akhirnya Amanda pun memberanikan diri bertanya.
Monrue
malah bingung ditanya. “Nggak kenapa-napa, kenapa memangnya?”
“Dari
tadi cembetut terus.”
Monrue
tersenyum dipaksakan. “Sekarang nggakkan?”
__ADS_1
“Halah…”
Amanda tertawa melihat pemaksaan yang terjadi. Dia melihat sekeliling, mereka lagi duduk-duduk saja sih. Mas Derry kok nggak ada. “Mas Derry kemana?”
“Lagi
muter-muter liat-liat.” Jawab Monrue. Dia sedang melihat-lihat telepon
genggamnya. “Aku sudah punya nomer kamu belom sih?”
Amanda
heran sekaligus geli. “Aku? Kamu?”
Monrue
tersenyum malu. “Kenapa sih?”
“Aneh
banget sih.”
Monrue
tersenyum. “Lagi sedih nih.” Dia bicara
agak serius.
“Kenapa?”
“Jalan-jalan
serunya berakhir.”
Amanda
tersenyum. “Back to life dong. Masa
liburan terus.”
“Aku
takut kangen kamu.” Jawab Monrue pelan.
Ih
apaan sih. Amanda bingung. “Elo kenapa sih?”
“Serius. I miss you already.”
Amanda
tertawa. “Bercanda yang garing.”
Monrue
sama sekali nggak tertawa. “Jalan bareng yuk Man?” pintanya.
Amanda
bingung.”Maksudnya?”
“Dating. Aku sayang kamu.”
Sumpah
kaget. “Elo lagi nembak gue?”
Monrue
menghela nafas. “Menurut lo? Ya iyalah.”
serius?”
Hadeuh
Monrue emosi jadinya. “Emang ada nembak bercanda?”
“Siapa
tahu elo lagi bikin gue GR, abis itu ngakak puas gitu.”
“Menurut
kamu sekarang aku lagi ngakak nggak?”
Amanda
berhenti bercanda. Ini beneran Monrue
nembak gitu. Amanda melihat
sekeliling. “Ini sebabnya Mas Derry
ilang gitu?”
“Tuh
Mas Derry di depan tuh, lagi lihat-lihat pesawat.” Monrue menunjuk dengan
tangannya.
“Dia
nggak di sini biar elo bisa ngomong gitu?”
Monrue
tersenyum.
elo lagi serius?”
“Muka
aku bercanda ya?” Monrue super serius.
Amanda
salah tingkah. “Harus dijawab sekarang?”
“Ya
nggak sih.” Jawabnya pelan. Tapi besar
harapannya nggak lama-lama.
“Gue
jawabnya di pesawat ya.”
Monrue
kaget. “Serius?” Secepat itu? Takut juga
langsung ditolak.
“Sekarang
gue mau GR dulu ya, ih… artis ganteng nembak gue.” Amanda menggoda Monrue.
Monrue
tersenyum sebel. “Apaan sih?”
Selanjutnya
suasana jadi hening, Monrue yang deg-degan, Amanda yang ke GR an. Tiga jam lagi mereka baru akan naik ke
pesawat untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta. Kok rasanya lama banget ya?
Akhirnya
mereka boarding juga untuk menuju ke
Jakarta. Seneng juga sih, ternyata
pesawatnya nggak terlalu penuh. Ketika
pesawat sudah stabil di udara, mas Derry langsung pindah cari posisi enak.
Mereka memang naik kelas ekonomi, jadi penuh tidaknya pesawat berpengaruh
banget terhadap kenyamanan penumpang berkantong pas-pasan. Monrue tetap
bertahan di samping Amanda, dia menanti jawaban Amanda.
“Man… ayo dong!” Monrue menagih
janji.
Amanda yang sedang menonton film
membuka earphonenya. “Apaan?”
tanyanya bercanda.
Monrue tidak menjawab, ia hanya
menunjukan expresi kalau tidak ingin bercanda.
Amanda tersenyum. “Satu film ya,
masih deg-degan nih, abis ditembak.” Amanda menggoda.
Monrue hanya cemberut, tapi setuju,
akhirnya ia pun menyalakan layar yang ada di hadapannya untuk nonton juga.
Amanda tersenyum melihatnya, dia pun
melanjutkan menonton. Sebenarnya agak grogi sih, makanya dia menunda.
Dilihatnya Monrue yang ada di sampingnya, tapi dia nggak tega juga membuat
Monrue menunggu. Dia bukan type orang
yang suka membuat orang lain menunggunya. Akhirnya dibukanya earphonenya,
dicoleknya Monrue.
Monrue pun menoleh.
Amanda memberi kode agar ia membuka earphonenya. “Sekarang saja ya, biar cepet beres.”
Waduh dengar itu Monrue jadi gugup,
__ADS_1
sepertinya bakal ditolak nih.
“Gue sudah tua, nggak mungkin nambah
dosa. Kalau elo mau, kita pacaran halal saja
mau nggak? Tapi serius, sama sekali gue nggak maksa.”
“Maksudnya?”
“Intinya adalah gue nggak mau nambah
dosa, tapi gue juga nggak akan buru-buru membebani elo dengan tanggung
jawab. Gue ngajak elo nikah bawah tangan.”
Monrue kaget.
“Itu kalau elo mau. Karena gue yakin, seusia kita nggak mungkin
pacaran cuma main catur. Gue juga nggak
mau kali.”
Monrue paham sih, tapi masa iya
secepat itu.
“Jadi intinya gue balikin ke
elo. Kalau elo mau ya sudah kita
jalanin, kalau elo nggak mau nggak papa. Gue akan menganggap kalau elo nggak pernah nembak gue. Ya biasa-biasa saja.”
Monrue diam dengan jawaban Amanda.
Amanda tersenyum, dia paham sih
pasti Monrue kaget. “Ya sudah ya, itu
jawaban gue. Sekarang gue mau tidur. Elo
geseran dong!”
Monrue masih kaget dengan jawaban
Amanda yang santai, akhirnya dia bergeser memberikan Amanda ruang untuk bisa
tidur lebih nyaman. Dan benar saja,
seperti tanpa beban Amanda pun tertidur, meninggalkan Monrue yang bingung harus
berbuat apa.
Amanda
terbangun, ternyata sudah ada makanan di sampingnya. Sepertinya Monrue meminta pramugari
meninggalkan makanan untuk Amanda hingga tidak perlu membangunkan Amanda.
“Gue tidur lama ya?”
“Satu film aku habis.”
Oh berarti dua jam kurang. “Elo sudah
makan?” Amanda sambil membuka
makanannya, dan mulai mencoba.
Monrue mengangguk. “Aku cuma pesenin juice saja buat minum
kamu.”
Ih Amanda masih geli dengan gaya’aku
kamu’nya Monrue, selama dua minggu ini mereka berinteraksi jauh dari resmi, kok
sekarang jadi kaku gitu sih.
“Aku bener-bener sayang kamu Man.”
Amanda tersenyum. “Terlalu cepat, Casanova…” Goda Amanda. “Apa
sih yang bisa dirasa cuma dalam dua minggu.”
“Buktinya aku bisa.”
“Ya sudah, kalau merasa nggak
terlalu cepat, pertimbangkan ajakan gue ya.” Jawab Amanda santai. “Gue kasih elo waktu satu minggu. Kalau nggak ada jawaban dalam seminggu itu
artinya gue anggap elo nggak pernah nembak.”
“Kok sekarang malah jawaban ada di
aku?” Monrue heran, jago juga ya Amanda memutar kondisi malah sekarang dia yang
harus berfikir.
Amanda tersenyum santai dan
menggoda. “Enakkan? Elo yang bikin
masalah, elo yang harus menyelesaikannya dong.”
Monrue tersenyum. Begini ya kalau bicara dengan orang
cerdas. Dia makin kagum.
**
Hampir pukul
tujuh malam ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Soekarno-Hatta.
“Aku kayaknya dijemput. Mau bareng?”
Monrue menawarkan tumpangan pada Amanda.
Amanda tersenyum dan menggeleng.
“Makasih, kayaknya Fauzan dan anak-anak jemput.”
“Mas Derry pulang gimana?” Tanya
Monrue kemudian.
“Dijemput anak lanangku.”
“Oh.” Kala itu semua bagasi sudah didapat, mereka
pun sudah siap untuk pulang ke rumah masing-masing. “Ya sudah aku duluan ya.”
Monrue langsung menutupi bagian belakang tubuhnya dengan jumper biar aman. “Aku akan hubungi kamu secepatnya.” Janji Monrue
pada Amanda.
Amanda tersenyum. “Nggak menghubungi
juga nggak papa kok. Jangan jadi beban ya!” Amanda pesimis pastinya.
Monrue pun tersenyum dan
meninggalkan Amanda.
Amanda hanya memandangnya dari
kejauhan. Dia yakin pasti Monrue tidak
akan menghubungi. Kemarin itu dia hanya
terbawa suasana. Tapi Amanda cukup
bahagia kok. Sudah cukup baginya untuk
tersanjung karena seorang artis ganteng, usianya di bawah dirinya, menyatakan
cinta padanya.
Sambil berjalan menggeret kopernya,
Amanda jadi senyum-senyum sendiri deh.
[I’ll take it.]Tiba-tiba ada pesan online dari Monrue tiga hari berselang
di telepon genggam Amanda. Amanda sampai
kaget membacanya. Hari itu sudah pukul
delapan malam. Dia baru saja menutup
pintu karena Fauzan baru saja meninggalkan rumahnya. Ini dia nggak salah baca nih? Amanda masih
terheran-heran.
[Seriously?]
[Ya. Kangen sama kamu lebih berat dari pada keraguanku.] Wuidiiihhh rayuan
macam apa ini? Amanda tersenyum. Amanda
masih tidak percaya dengan jawaban Monrue.
[What’s
next?]
[Elo, ehm… kamu ngapelin aku ya,
sekalian kita bicarain selanjutnya apa.] Amanda geli sendiri, dia merasa
seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
[Saturday
night?]
[Afternoon
is better.]
[Ok.
See you. I miss you already.]
__ADS_1
Halah, sabtu tuh besok. Nggak usah
lebay deh.