Life After Forty

Life After Forty
Episode 12 Ada yang nembak


__ADS_3

Bisa dikatakan misi


mereka di Brisbane telah tuntas.  Mereka


bisa bersantai sejenak sebelum besok pagi kembali ke Jakarta.  Amanda mengeluarkan ide untuk ke DFO hari


ini.  Semuanya sepakat, karena Mas Derry


yang setiap malam ber video call dengan anak istrinya bercerita kalau dia hari pertama ke DFO menemukan banyak


barang branded dengan harga yang


lebih murah, mendengar hal itu, tentu saja putrinya yang masih remaja langsung


memberikan list pada sang bapak untuk


dibelikan oleh-oleh.  Amanda berencana


membeli oleh-oleh untuk kedua anaknya dan juga Fauzan, karena bersedia menjaga


anak-anak mereka di saat dia harus pergi.  Apa yang mau dibeli? Amanda juga masih berfikir.  Tapi yang pastinya dia berharap cincin


berlian yang dia lihat masih ada di sana.


Begitu


sampai DFO, Amanda langsung memandang kepada kedua laki-laki itu. “Kita ketemu


3 jam lagi di sini ya?” Naluri perempuan ingin belanjanya langsung terlihat


tidak terkendali.


Derry


dan Monrue langsung tersenyum dan mengangguk.


Amanda


pun meninggalkan mereka.  Dia langsung


berkeliling.  Setelah cukup lama masuk


satu toko ke toko lainnya, akhirnya ia membeli sepasang sepatu untuk Bimo, tiga


baju cantik untuk Citra dan sebuah jaket untuk Fauzan.  Dan sekarang saatnya ia memikirkan dirinya


sendiri, dia pun pergi ke toko yang menjadi tujuan utamanya.  Betapa bahagianya Amanda ketika melihat


cincin yang dia idam-idamkan masih terpajang manis di sana.  Tapi dia tak mau buru-buru Amanda pun


berkeliling toko itu lagi untuk melihat-lihat.  Dan benar ternyata, ada satu cincin cantik lagi yang menggoda.  Amanda jadi kesal, anggarannya hanya ingin


membeli satu cincin, tapi kenapa sekarang ada dua yang cantik, diakan jadi


galau.


Masih


dalam kondisi galau ketika Monrue datang menyapa. “Kenapa kok suntuk?”


“Galau


nih mau beli yang mana, dua-duanya bagus.”  Amanda cemberut.


Monrue


tersenyum. “Segitunya.”


Seorang


pramuniaga pun menghampiri mereka dan bertanya apakah mereka membutuhkan


bantuan.  Monrue meminta sang pramuniaga


mengambil dua cincin itu untuk Amanda coba.  Dan sang pramuniaga pun mengikuti kemauan Monrue.  Terlihat sekali Amanda menginginkan keduanya,


tapi dia mendisiplinkan diri untuk hanya membeli satu.  Walaupun kedua-duanya cantik dan pas di


jarinya.


Setelah


beberapa menit ragu, akhirnya Amanda memilih satu di antara dua cincin


itu.  Sang pramuniaga pun kemudian,


mempersiapkan cincin yang dibeli Amanda untuk siap dibawa pulang.  Dengan menyiapkan sertifikatnya, kemasan


cantiknya dan lain sebagainya.  Setelah


diberikan kepadanya, Amanda pun menerima dan membayarnya dengan hati gembira,


ia meninggalkan toko itu dengan wajah berseri-seri.  Monrue sampai geli melihatnya.  Segitunya ya perempuan kalau mendapatkan yang


diinginkan.  Berjalan beriringan,


tiba-tiba Monrue teringat sesuatu.


“Elo


duluan deh.”  Pintanya.


Amanda


pun hanya tersenyum dan berjalan perlahan menyusuri toko-toko.


            Setelah puas dengan agenda shopping, Amanda pun kembali ke food court tempat ia janjian dengan


kedua rekannya.  Ternyata dua laki-laki


itu telah duduk manis menantinya.  Mereka


sedang ngobrol serius sepertinya.  Amanda


pun menghampirinya, dan berusaha mendengar percakapan mereka. Yang didengar


Amanda hanya…


            “Nggak akan tahu kalau nggak tanya.


Jangan menduga-duga...” Mas Derry bicara begitu serius pada Monrue.


            “Nanya apa?” Amanda langsung


nimbrung.


            Keduanya terkejut.


            “Halah mau tahu saja.”


            Amanda tersenyum. “Sudah semua?”


            Kedua laki-laki itu mengangguk, dan


bergerak bangun.  Dan mereka bertiga pun


bergerak meninggalkan DFO.


Subuh,


ketika Amanda ke kamar mandi, didapatinya Monrue sedang duduk sendirian di


ruang tengah.  Amanda agak kaget ada


orang dalam kegelapan.


            “Ih, ngapain di situ?” Amanda kaget.


            Monrue cemberut dan suntuk.


“Nungguin anugrah.”


            “Maksudnya apaan sih?”


            Monrue cuma bangkit berjalan ke


kamar.


            “Hei, sudah sholat belom? Mau ke mana?”


            “Sudah. Mau packing.” Dia berlalu begitu saja meninggalkan Amanda yang masih


keheranan.


Mereka


meninggalkan apartmen pukul 5 pagi, setelah sholat subuh, langsung berangkat,


karena mereka harus mengembalikan mobil sewaan dulu sebelum ke airport.  Pesawat mereka pukul tujuh pagi.  Perjalanan pulang akan cukup lama transit di Sydney kira-kira lima jam


lah.


Amanda


agak bingung dengan Monrue pagi ini, moodnya jelek banget, lebih banyak diam


dan cemberut.  Tapi di satu sisi, dia


sangat penolong.  Sibuk banget dari tadi


membawakan barang bagasi Amanda.  Dengan


cekatan dia selalu menolong Amanda dengan membawakan kopernya tanpa diminta.


Ketika turun dari bus dan memasukkannya ke bagasi.


Ketika landing di Sydney juga masih sama,


Monrue lebih banyak diam dan cemberut.  Hadeuh… perjalanan jadi nggak nyaman nih kalau ada yang bad mood begini.


“Elo


kenapa?” akhirnya Amanda pun memberanikan diri bertanya.


Monrue


malah bingung ditanya. “Nggak kenapa-napa, kenapa memangnya?”


“Dari


tadi cembetut terus.”


Monrue


tersenyum dipaksakan. “Sekarang nggakkan?”

__ADS_1


“Halah…”


Amanda tertawa melihat pemaksaan yang terjadi.  Dia melihat sekeliling, mereka lagi duduk-duduk saja sih.  Mas Derry kok nggak ada. “Mas Derry kemana?”


“Lagi


muter-muter liat-liat.” Jawab Monrue. Dia sedang melihat-lihat telepon


genggamnya. “Aku sudah punya nomer kamu belom sih?”


Amanda


heran sekaligus geli. “Aku? Kamu?”


Monrue


tersenyum malu. “Kenapa sih?”


“Aneh


banget sih.”


Monrue


tersenyum. “Lagi sedih nih.”  Dia bicara


agak serius.


“Kenapa?”


“Jalan-jalan


serunya berakhir.”


Amanda


tersenyum. “Back to life dong. Masa


liburan terus.”


“Aku


takut kangen kamu.”  Jawab Monrue pelan.


Ih


apaan sih. Amanda bingung. “Elo kenapa sih?”


“Serius. I miss you already.”


Amanda


tertawa.  “Bercanda yang garing.”


Monrue


sama sekali nggak tertawa. “Jalan bareng yuk Man?” pintanya.


Amanda


bingung.”Maksudnya?”


“Dating. Aku sayang kamu.”


Sumpah


kaget. “Elo lagi nembak gue?”


Monrue


menghela nafas. “Menurut lo? Ya iyalah.”


serius?”


Hadeuh


Monrue emosi jadinya. “Emang ada nembak bercanda?”


“Siapa


tahu elo lagi bikin gue GR, abis itu ngakak puas gitu.”


“Menurut


kamu sekarang aku lagi ngakak nggak?”


Amanda


berhenti bercanda.  Ini beneran Monrue


nembak gitu.  Amanda melihat


sekeliling.  “Ini sebabnya Mas Derry


ilang gitu?”


“Tuh


Mas Derry di depan tuh, lagi lihat-lihat pesawat.” Monrue menunjuk dengan


tangannya.


“Dia


nggak di sini biar elo bisa ngomong gitu?”


Monrue


tersenyum.


elo lagi serius?”


“Muka


aku bercanda ya?”  Monrue super serius.


Amanda


salah tingkah. “Harus dijawab sekarang?”


“Ya


nggak sih.” Jawabnya pelan.  Tapi besar


harapannya nggak lama-lama.


“Gue


jawabnya di pesawat ya.”


Monrue


kaget. “Serius?”  Secepat itu? Takut juga


langsung ditolak.


“Sekarang


gue mau GR dulu ya, ih… artis ganteng nembak gue.” Amanda menggoda Monrue.


Monrue


tersenyum sebel. “Apaan sih?”


Selanjutnya


suasana jadi hening, Monrue yang deg-degan, Amanda yang ke GR an.  Tiga jam lagi mereka baru akan naik ke


pesawat untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta.  Kok rasanya lama banget ya?


Akhirnya


mereka boarding juga untuk menuju ke


Jakarta.  Seneng juga sih, ternyata


pesawatnya nggak terlalu penuh.  Ketika


pesawat sudah stabil di udara, mas Derry langsung pindah cari posisi enak.


Mereka memang naik kelas ekonomi, jadi penuh tidaknya pesawat berpengaruh


banget terhadap kenyamanan penumpang berkantong pas-pasan. Monrue tetap


bertahan di samping Amanda, dia menanti jawaban Amanda.


            “Man… ayo dong!” Monrue menagih


janji.


            Amanda yang sedang menonton film


membuka earphonenya. “Apaan?”


tanyanya bercanda.


            Monrue tidak menjawab, ia hanya


menunjukan expresi kalau tidak ingin bercanda.


            Amanda tersenyum. “Satu film ya,


masih deg-degan nih, abis ditembak.”  Amanda menggoda.


            Monrue hanya cemberut, tapi setuju,


akhirnya ia pun menyalakan layar yang ada di hadapannya untuk nonton juga.


            Amanda tersenyum melihatnya, dia pun


melanjutkan menonton. Sebenarnya agak grogi sih, makanya dia menunda.


Dilihatnya Monrue yang ada di sampingnya, tapi dia nggak tega juga membuat


Monrue menunggu.  Dia bukan type orang


yang suka membuat orang lain menunggunya.  Akhirnya dibukanya earphonenya,


dicoleknya Monrue.


            Monrue pun menoleh.


            Amanda memberi kode agar ia membuka earphonenya.  “Sekarang saja ya, biar cepet beres.”


            Waduh dengar itu Monrue jadi gugup,

__ADS_1


sepertinya bakal ditolak nih.


            “Gue sudah tua, nggak mungkin nambah


dosa.  Kalau elo mau, kita pacaran halal saja


mau nggak? Tapi serius, sama sekali gue nggak maksa.”


            “Maksudnya?”


            “Intinya adalah gue nggak mau nambah


dosa, tapi gue juga nggak akan buru-buru membebani elo dengan tanggung


jawab.  Gue ngajak elo nikah bawah tangan.”


            Monrue kaget.


            “Itu kalau elo mau.  Karena gue yakin, seusia kita nggak mungkin


pacaran cuma main catur.  Gue juga nggak


mau kali.”


            Monrue paham sih, tapi masa iya


secepat itu.


            “Jadi intinya gue balikin ke


elo.  Kalau elo mau ya sudah kita


jalanin, kalau elo nggak mau nggak papa.  Gue akan menganggap kalau elo nggak pernah nembak gue. Ya biasa-biasa saja.”


            Monrue diam dengan jawaban Amanda.


            Amanda tersenyum, dia paham sih


pasti Monrue kaget.  “Ya sudah ya, itu


jawaban gue.  Sekarang gue mau tidur. Elo


geseran dong!”


            Monrue masih kaget dengan jawaban


Amanda yang santai, akhirnya dia bergeser memberikan Amanda ruang untuk bisa


tidur lebih nyaman.  Dan benar saja,


seperti tanpa beban Amanda pun tertidur, meninggalkan Monrue yang bingung harus


berbuat apa.


Amanda


terbangun, ternyata sudah ada makanan di sampingnya.  Sepertinya Monrue meminta pramugari


meninggalkan makanan untuk Amanda hingga tidak perlu membangunkan Amanda.


            “Gue tidur lama ya?”


            “Satu film aku habis.”


            Oh berarti dua jam kurang. “Elo sudah


makan?”  Amanda sambil membuka


makanannya, dan mulai mencoba.


            Monrue mengangguk.  “Aku cuma pesenin juice saja buat minum


kamu.”


            Ih Amanda masih geli dengan gaya’aku


kamu’nya Monrue, selama dua minggu ini mereka berinteraksi jauh dari resmi, kok


sekarang jadi kaku gitu sih.


            “Aku bener-bener sayang kamu Man.”


            Amanda tersenyum.  “Terlalu cepat, Casanova…” Goda Amanda. “Apa


sih yang bisa dirasa cuma dalam dua minggu.”


            “Buktinya aku bisa.”


            “Ya sudah, kalau merasa nggak


terlalu cepat, pertimbangkan ajakan gue ya.” Jawab Amanda santai.  “Gue kasih elo waktu satu minggu.  Kalau nggak ada jawaban dalam seminggu itu


artinya gue anggap elo nggak pernah nembak.”


            “Kok sekarang malah jawaban ada di


aku?” Monrue heran, jago juga ya Amanda memutar kondisi malah sekarang dia yang


harus berfikir.


            Amanda tersenyum santai dan


menggoda.  “Enakkan? Elo yang bikin


masalah, elo yang harus menyelesaikannya dong.”


            Monrue tersenyum.  Begini ya kalau bicara dengan orang


cerdas.  Dia makin kagum.


**


Hampir pukul


tujuh malam ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Soekarno-Hatta.


            “Aku kayaknya dijemput. Mau bareng?”


Monrue menawarkan tumpangan pada Amanda.


            Amanda tersenyum dan menggeleng.


“Makasih, kayaknya Fauzan dan anak-anak jemput.”


            “Mas Derry pulang gimana?” Tanya


Monrue kemudian.


            “Dijemput anak lanangku.”


            “Oh.”  Kala itu semua bagasi sudah didapat, mereka


pun sudah siap untuk pulang ke rumah masing-masing. “Ya sudah aku duluan ya.”


Monrue langsung menutupi bagian belakang tubuhnya dengan jumper biar aman. “Aku akan hubungi kamu secepatnya.” Janji Monrue


pada Amanda.


            Amanda tersenyum. “Nggak menghubungi


juga nggak papa kok. Jangan jadi beban ya!”  Amanda pesimis pastinya.


            Monrue pun tersenyum dan


meninggalkan Amanda.


            Amanda hanya memandangnya dari


kejauhan.  Dia yakin pasti Monrue tidak


akan menghubungi.  Kemarin itu dia hanya


terbawa suasana.  Tapi Amanda cukup


bahagia kok.  Sudah cukup baginya untuk


tersanjung karena seorang artis ganteng, usianya di bawah dirinya, menyatakan


cinta padanya.


            Sambil berjalan menggeret kopernya,


Amanda jadi senyum-senyum sendiri deh.


[I’ll take it.]Tiba-tiba ada pesan online dari Monrue tiga hari berselang


di telepon genggam Amanda.  Amanda sampai


kaget membacanya.  Hari itu sudah pukul


delapan malam.  Dia baru saja menutup


pintu karena Fauzan baru saja meninggalkan rumahnya.  Ini dia nggak salah baca nih? Amanda masih


terheran-heran.


            [Seriously?]


            [Ya.  Kangen sama kamu lebih berat dari pada keraguanku.] Wuidiiihhh rayuan


macam apa ini? Amanda tersenyum.   Amanda


masih tidak percaya dengan jawaban Monrue.


            [What’s


next?]


            [Elo, ehm… kamu ngapelin aku ya,


sekalian kita bicarain selanjutnya apa.] Amanda geli sendiri, dia merasa


seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


            [Saturday


night?]


            [Afternoon


is better.]


            [Ok.


See you. I miss you already.]

__ADS_1


            Halah, sabtu tuh besok. Nggak usah


lebay deh.


__ADS_2