Life After Forty

Life After Forty
Episode 4 Kehidupan baru


__ADS_3

Fauzan


dan Amanda adalah adalah pasangan yang terbilang sukses dijodohkan oleh kedua


orang tua mereka. Ketika itu di usia 22 tahun, Amanda baru saja menyelesaikan


kuliah S1 nya ketika sang ayah memperkenalkan dirinya dengan Fauzan.  Pada saat itu Fauzan berusia 24 tahun.  Ayah Amanda adalah senior dari orang tua


Fauzan waktu kuliah dulu, ketika mereka sama-sama kuliah di Salemba.


            Fauzan yang saat itu baru saja putus


cinta sangat terpana dengan kecantikan Amanda.  Ditambah lagi ketika pada saat pertemuan pertama mereka Amanda sangat


enak diajak ngobrol.  Tanpa canggung


mereka bicara banyak hal, apapun dibahas dengan cerdas dan menyenangkan.  Semakin sering mereka berhubungan, semakin


Fauzan merasa nyaman di dekat Amanda.  Maka, tidak ingin berlama-lama menjalani hubungan jarak jauh[1], Fauzan melamar Amanda di


bulan ke 6 mereka bersama, dan menikah ketika genap satu tahun dari pertemuan


pertama mereka.


            Amanda menikah di usia 23 tahun,


terbilang cukup muda, tapi dia bahagia.  Fauzan adalah laki-laki yang sangat mengerti dan mendukung


kemauannya.  Termasuk kecintaannya pada


ilmu.  Sebelum dengan Fauzan, Amanda


tidak pernah punya kekasih, prinsip hidupnya no time for love. Ia adalah perempuan yang senang belajar sejak


kecil.  Hobinya membaca buku, buku apapun


ia baca, dari novel percintaan sampai buku politik habis dilibas.  Walau begitu dia orang yang supel, temannya


banyak, aktif dalam banyak organisasi kepemudaan.  Banyak sih laki-laki sedari dulu mendekati


tapi selalu dia tolak dengan halus.  Karena yang ia tahu pacaran itu dilarang agama.  Dia bukan orang yang fanatik dalam beragama,


hanya saja berusaha menghindari apa yang memang dilarang.  Hanya ingin aman.  Kembali pada awal pernikahannya, ada hal yang


sedikit menarik.  Ketika Fauzan melamarnya,


dia mengajukan syarat untuk tidak melarangnya kembali ke bangku sekolah.   Karena Fauzan menyukai kecerdasan Amanda


tentu saja syarat itu dengan mudah ia penuhi.  Tapi sebenarnya berat juga untuk Fauzan melepas Amanda yang baru saja ia


nikahi ke Amsterdam untuk melanjutkan S2 karena sebenarnya ia ingin cepat


menikah karena tidak ingin terpisah terlalu lama, apalagi ketika Bimo harus


lahir di Amsterdam. Fauzan harus bulak-balik Jakarta-Amsterdam karena saat itu


ia baru saja beberapa tahun kerja, belum berani untuk meninggalkan karier yang


baru saja dia bangun.  Baru setelah Amanda


selesai S2 mereka benar-benar tinggal bersama di Jakarta.


**


Setelah


sampai di Brisbane, Amanda, Bimo dan Citra harus menjalani serangkaian


adaptasi. Adaptasi memang bukan perkara mudah, tapi mampu dijalani oleh


ketiganya.  Ketika mereka tiba di


Brisbane, Citra agak kebingungan karena dia harus menghadapi orang-orang yang


berbahasa ‘Dora’ sedikit banyak dia mengerti tapi dia terlalu pemalu untuk

__ADS_1


mempraktekannya.  Tetapi ketika sang ibu


memasukkannya ke Kindie[2]yang artinya ia harus mau menggunakan Bahasa Doranya.  Satu minggu pertama penuh drama, Citra selalu


menangis apabila harus sekolah, dan ketika harus ditinggal oleh Amanda.  Tapi hanya satu minggu, setelahnya ia amat


mencintai sekolahnya.  Lain halnya dengan


Bimo, dia begitu bahagia ketika hasil observasi mengatakan dia bisa langsung


masuk ke kelas 11.  Itu artinya ia hanya


menghabiskan 6 bulan berada di kelas 10.  Bimo langsung membayangkan bahwa ketika kembali ke Jakarta, itu artinya dia


sudah lulus dan memegang ijasah SMA.


            Amanda kembali ke kampus lamanya.  Pekerjaannya kali ini harus bersinggungan


dengan data besar.  Data yang melibatkan


10 ribu respondents dari 10 kota


terbesar di Indonesia.  Supervisornya


merekruitnya dalam pekerjaan ini karena Amanda terbiasa dengan data statistik,


dan terlebih issuenya tentang kelas menengah.  Pekerjaan Amanda kali ini adalah mengukur kebutuhan kelas menengah di 10


kota besar di Indonesia.  Belum banyak


peneliti yang memfokuskan diri tentang kelas menengah di Indonesia, padahal


kelas menengah adalah penggerak ekonomi suatu wilayah.


            Setelah hampir dua bulan lamanya,


Amanda fokus pada pekerjaan utamanya, dia pun mulai mendapat pekerjaan


sampingan sebagai tutor.  Kemudian dia


tergoda dengan pekerjaan fisik.  Tiba-tiba seorang teman mengajaknya menjadi tenaga pembersih di pagi


pagi hingga 10 pagi menjadi tenaga pembersih di kampus.  Setelah itu barulah ia bekerja sebagai


mahasiswi post-doc.  Beberapa minggu setelah itu ada lowongan sebagai


tenaga pembersih juga di malam hari pukul 6-10 malam, Amanda pun mengambil lagi


kesempatan itu.  Godaan untuk


mengumpulkan dollar menjadi issue kedua bagi Amanda.  Alhasil senin sampai jumat dia begitu


sibuk.  Harus bangun pukul 4.30 pagi,


setelah beribadah singkat  sholat Subuh, dia


menyiapkan semua kebutuhan anak-anak. Dari sarapan pagi, hingga bekal makan


siang mereka.  Kemudian berangkat menjadi


tenaga pembersih, berakhir pukul sepuluh, ia pun langsung menjadi mahasiswa post-doc, kadang-kadang melakukan tutor


di waktu itu, sore harinya, hanya ada waktu untuk menyiapkan makan malam, dan


pekerjaan rumah tangga lainnya.  Ia pun


kemudian bekerja lagi sebagai tenaga pembersih malam.  Luar biasa padat jadwal lima hari kerjanya


dalam seminggu.  Maka weekend benar-benar dia gunakan untuk


istirahat dan memberi perhatian penuh pada anak-anaknya.


            Sebenarnya Bimo kebingungan dengan


Amanda yang mendadak workaholic.  Tapi sang ibu meminta pengertian Bimo.  Disampaikannya bahwa ia harus mencari uang

__ADS_1


yang banyak untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka dan untuk tabungan mereka


setelah mereka kembali ke Jakarta.  Amanda pun menyampaikan kemungkinan bahwa mereka harus membeli rumah


untuk tempat tinggal mereka ketika kembali ke Jakarta.  Bimo menjadi paham, ibunya sedang menyiapkan


dirinya untuk kemungkinan terburuk bahwa ibunya akan benar-benar menjadi orang


tua tunggal untuknya dan sang adik.


            Bimo berusaha membantu sang ibu


semampu yang ia bisa.  Sebenarnya ia juga


ingin mencari uang.  Tapi ibunya


melarang, karena ia lebih dibutuhkan untuk menjaga sang adik.  Harapan Amanda bahwa Bimo mampu beradaptasi


dengan sekolahnya dengan baik, memiliki prestasi yang baik, menyerap ilmu di


sini sebaik-baiknya, hingga ketika lulus nanti ia bisa kuliah di tempat yang


baik di Indonesia.


            Citra


dan Bimo tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian.  Setiap pulang sekolah Citra selalu ikut


dengan tetangganya yang memang juga keluarga Indonesia.  Dia akan tinggal di situ dengan sabar hingga


Bimo pulang sekolah.  Setelahnya, mereka


berdua akan tinggal di rumah dan menjalankan aktivitas seperti biasa hingga


sang ibu pulang.  Sama sekali tidak ada


keluhan dari keduanya ketika sang ibu harus pulang di sore hari hanya sesaat


dan harus kembali lagi bekerja di malam hari.  Terkadang, apabila Amanda dikejar deadline dan harus ke kampus saat weekend kedua


anak itu ikut ke kampus dan menemani Amanda bekerja.  Mereka ikut, karena butuh suasana


berbeda.  Setelah itu mereka akan pergi


jalan-jalan sore.  Sekedar main di taman


atau pergi ke city. Meski berat untuk


semua.  Tetapi mereka menjalaninya seakan


tanpa beban.


 


 


 


 


 


 


[1]


pada


saat itu Amanda tinggal di Semarang dan Fauzan di Jakarta


 


 


[2]

__ADS_1


Setara


taman kanak-kanak


__ADS_2