
Fauzan
dan Amanda adalah adalah pasangan yang terbilang sukses dijodohkan oleh kedua
orang tua mereka. Ketika itu di usia 22 tahun, Amanda baru saja menyelesaikan
kuliah S1 nya ketika sang ayah memperkenalkan dirinya dengan Fauzan. Pada saat itu Fauzan berusia 24 tahun. Ayah Amanda adalah senior dari orang tua
Fauzan waktu kuliah dulu, ketika mereka sama-sama kuliah di Salemba.
Fauzan yang saat itu baru saja putus
cinta sangat terpana dengan kecantikan Amanda. Ditambah lagi ketika pada saat pertemuan pertama mereka Amanda sangat
enak diajak ngobrol. Tanpa canggung
mereka bicara banyak hal, apapun dibahas dengan cerdas dan menyenangkan. Semakin sering mereka berhubungan, semakin
Fauzan merasa nyaman di dekat Amanda. Maka, tidak ingin berlama-lama menjalani hubungan jarak jauh[1], Fauzan melamar Amanda di
bulan ke 6 mereka bersama, dan menikah ketika genap satu tahun dari pertemuan
pertama mereka.
Amanda menikah di usia 23 tahun,
terbilang cukup muda, tapi dia bahagia. Fauzan adalah laki-laki yang sangat mengerti dan mendukung
kemauannya. Termasuk kecintaannya pada
ilmu. Sebelum dengan Fauzan, Amanda
tidak pernah punya kekasih, prinsip hidupnya no time for love. Ia adalah perempuan yang senang belajar sejak
kecil. Hobinya membaca buku, buku apapun
ia baca, dari novel percintaan sampai buku politik habis dilibas. Walau begitu dia orang yang supel, temannya
banyak, aktif dalam banyak organisasi kepemudaan. Banyak sih laki-laki sedari dulu mendekati
tapi selalu dia tolak dengan halus. Karena yang ia tahu pacaran itu dilarang agama. Dia bukan orang yang fanatik dalam beragama,
hanya saja berusaha menghindari apa yang memang dilarang. Hanya ingin aman. Kembali pada awal pernikahannya, ada hal yang
sedikit menarik. Ketika Fauzan melamarnya,
dia mengajukan syarat untuk tidak melarangnya kembali ke bangku sekolah. Karena Fauzan menyukai kecerdasan Amanda
tentu saja syarat itu dengan mudah ia penuhi. Tapi sebenarnya berat juga untuk Fauzan melepas Amanda yang baru saja ia
nikahi ke Amsterdam untuk melanjutkan S2 karena sebenarnya ia ingin cepat
menikah karena tidak ingin terpisah terlalu lama, apalagi ketika Bimo harus
lahir di Amsterdam. Fauzan harus bulak-balik Jakarta-Amsterdam karena saat itu
ia baru saja beberapa tahun kerja, belum berani untuk meninggalkan karier yang
baru saja dia bangun. Baru setelah Amanda
selesai S2 mereka benar-benar tinggal bersama di Jakarta.
**
Setelah
sampai di Brisbane, Amanda, Bimo dan Citra harus menjalani serangkaian
adaptasi. Adaptasi memang bukan perkara mudah, tapi mampu dijalani oleh
ketiganya. Ketika mereka tiba di
Brisbane, Citra agak kebingungan karena dia harus menghadapi orang-orang yang
berbahasa ‘Dora’ sedikit banyak dia mengerti tapi dia terlalu pemalu untuk
__ADS_1
mempraktekannya. Tetapi ketika sang ibu
memasukkannya ke Kindie[2]yang artinya ia harus mau menggunakan Bahasa Doranya. Satu minggu pertama penuh drama, Citra selalu
menangis apabila harus sekolah, dan ketika harus ditinggal oleh Amanda. Tapi hanya satu minggu, setelahnya ia amat
mencintai sekolahnya. Lain halnya dengan
Bimo, dia begitu bahagia ketika hasil observasi mengatakan dia bisa langsung
masuk ke kelas 11. Itu artinya ia hanya
menghabiskan 6 bulan berada di kelas 10. Bimo langsung membayangkan bahwa ketika kembali ke Jakarta, itu artinya dia
sudah lulus dan memegang ijasah SMA.
Amanda kembali ke kampus lamanya. Pekerjaannya kali ini harus bersinggungan
dengan data besar. Data yang melibatkan
10 ribu respondents dari 10 kota
terbesar di Indonesia. Supervisornya
merekruitnya dalam pekerjaan ini karena Amanda terbiasa dengan data statistik,
dan terlebih issuenya tentang kelas menengah. Pekerjaan Amanda kali ini adalah mengukur kebutuhan kelas menengah di 10
kota besar di Indonesia. Belum banyak
peneliti yang memfokuskan diri tentang kelas menengah di Indonesia, padahal
kelas menengah adalah penggerak ekonomi suatu wilayah.
Setelah hampir dua bulan lamanya,
Amanda fokus pada pekerjaan utamanya, dia pun mulai mendapat pekerjaan
sampingan sebagai tutor. Kemudian dia
tergoda dengan pekerjaan fisik. Tiba-tiba seorang teman mengajaknya menjadi tenaga pembersih di pagi
pagi hingga 10 pagi menjadi tenaga pembersih di kampus. Setelah itu barulah ia bekerja sebagai
mahasiswi post-doc. Beberapa minggu setelah itu ada lowongan sebagai
tenaga pembersih juga di malam hari pukul 6-10 malam, Amanda pun mengambil lagi
kesempatan itu. Godaan untuk
mengumpulkan dollar menjadi issue kedua bagi Amanda. Alhasil senin sampai jumat dia begitu
sibuk. Harus bangun pukul 4.30 pagi,
setelah beribadah singkat sholat Subuh, dia
menyiapkan semua kebutuhan anak-anak. Dari sarapan pagi, hingga bekal makan
siang mereka. Kemudian berangkat menjadi
tenaga pembersih, berakhir pukul sepuluh, ia pun langsung menjadi mahasiswa post-doc, kadang-kadang melakukan tutor
di waktu itu, sore harinya, hanya ada waktu untuk menyiapkan makan malam, dan
pekerjaan rumah tangga lainnya. Ia pun
kemudian bekerja lagi sebagai tenaga pembersih malam. Luar biasa padat jadwal lima hari kerjanya
dalam seminggu. Maka weekend benar-benar dia gunakan untuk
istirahat dan memberi perhatian penuh pada anak-anaknya.
Sebenarnya Bimo kebingungan dengan
Amanda yang mendadak workaholic. Tapi sang ibu meminta pengertian Bimo. Disampaikannya bahwa ia harus mencari uang
__ADS_1
yang banyak untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka dan untuk tabungan mereka
setelah mereka kembali ke Jakarta. Amanda pun menyampaikan kemungkinan bahwa mereka harus membeli rumah
untuk tempat tinggal mereka ketika kembali ke Jakarta. Bimo menjadi paham, ibunya sedang menyiapkan
dirinya untuk kemungkinan terburuk bahwa ibunya akan benar-benar menjadi orang
tua tunggal untuknya dan sang adik.
Bimo berusaha membantu sang ibu
semampu yang ia bisa. Sebenarnya ia juga
ingin mencari uang. Tapi ibunya
melarang, karena ia lebih dibutuhkan untuk menjaga sang adik. Harapan Amanda bahwa Bimo mampu beradaptasi
dengan sekolahnya dengan baik, memiliki prestasi yang baik, menyerap ilmu di
sini sebaik-baiknya, hingga ketika lulus nanti ia bisa kuliah di tempat yang
baik di Indonesia.
Citra
dan Bimo tumbuh menjadi anak yang sangat pengertian. Setiap pulang sekolah Citra selalu ikut
dengan tetangganya yang memang juga keluarga Indonesia. Dia akan tinggal di situ dengan sabar hingga
Bimo pulang sekolah. Setelahnya, mereka
berdua akan tinggal di rumah dan menjalankan aktivitas seperti biasa hingga
sang ibu pulang. Sama sekali tidak ada
keluhan dari keduanya ketika sang ibu harus pulang di sore hari hanya sesaat
dan harus kembali lagi bekerja di malam hari. Terkadang, apabila Amanda dikejar deadline dan harus ke kampus saat weekend kedua
anak itu ikut ke kampus dan menemani Amanda bekerja. Mereka ikut, karena butuh suasana
berbeda. Setelah itu mereka akan pergi
jalan-jalan sore. Sekedar main di taman
atau pergi ke city. Meski berat untuk
semua. Tetapi mereka menjalaninya seakan
tanpa beban.
[1]
pada
saat itu Amanda tinggal di Semarang dan Fauzan di Jakarta
[2]
__ADS_1
Setara
taman kanak-kanak