Life After Forty

Life After Forty
Episode 23 Tentang maaf


__ADS_3

Amanda,


Fauzan dan Citra sedang bersantai menikmati tayangan TV ketika Bimo datang


dengan wajah begitu suntuk.  Ketiganya


heran melihat wajah Bimo yang tidak biasanya.  Bimo duduk di Sofa panjang yang memang sedang diduduki oleh Fauzan dan


Amanda.  Citra duduk di bawah di atas


karpet.


            “Mas kenapa kok mukanya aneh gitu?”


Citra tidak bisa menahan keingin-tahuannya terhadap Bimo.  Bukan cuma Citra sih yang penasaran.


            Bimo nggak langsung menjawab


pertanyaan itu.  Sepertinya masih emosi,


terlihat jelas dia sedang menenangkan diri.


            Amanda jadi panik. “Mas nggak papa?


De ambilin mas minum dulu!”


            Citra pun bangkit mengikuti perintah


sang ibu, sesaat kemudian ia pun menyerahkan segelas air putih dingin untuk


sang kakak.


            Bimo menerimanya, meminumnya


sedikit, diletakkannya kembali gelas itu di meja di hadapannya.  Sedikit lebih tenang.


            Amanda mendekati diri Bimo, mencoba


menenangkan si sulung dengan mengelus-eluskan punggungnya. “Mas mau cerita?”


            Sepintas Bimo melirik ke


Fauzan.  Terlihat dia agak ragu. “Bu,


memaafkan itu sulit banget ya?”


            Amanda tersenyum. “Yang pasti


memaafkan butuh waktu dan butuh tenang. Mas kenapa? Frida buat kesalahan


besar?”  Mencoba menebak, sepertinya ini


tentang cinta.


            Bimo menunduk dan mengangguk.


            Semua mata tertuju pada Bimo. “Ade


nggak usah denger deh!” Bimo minta Citra untuk meninggalkan mereka sesaat.


            “Ya ampun mas, aku sudah besar


kali.  Udah ngerti cinta-cintaan doang


mah.” Citra sedikit tersinggung.  Lebih


dari itu sudah mulai emosi juga sih abang kesayangannya disakiti orang lain.


            Bimo masih ragu untuk


bercerita.  Nggak yakin ceritanya cocok


untuk anak 15 tahun.


            Amanda mengerti.  “Ade ke kamar dulu ya, denger ceritanya kalau


sudah difilter!”


            Sambil cemberut Citra bangkit dan


meninggalkan mereka.  Diakan


penasaran.  Tapi dia masih mau nurut


permintaan sang ibu.  Mungkin ada bagian

__ADS_1


yang memang belum pantas ia dengar.


            Setelah Citra meninggalkan mereka,


Baru terlihat Bimo ingin sekali curhat.


            “Aku barusan mergokin Frida ciuman


di mobil bu, sama temen kuliahku juga.”  Bimo bicara dengan begitu kecewa.  “Ternyata mereka sudah lama berhubungan, sejak aku di Belanda.”


            Fauzan dan Amanda saling


berpandangan, menyesal kenapa anak mereka harus tersakiti.


            “Aku kaget banget bu, Niko itu temen


aku juga waktu kuliah. Kok mereka tega ya bohongi aku.”


            “Mereka tahu kamu tahu?”


            Bimo mengangguk. “Tadi aku langsung


putusin Frida, tapi Frida nangis-nangis minta maaf, dia nggak mau diputusin.”


            “Nikonya?”


            “Niko juga minta maaf.  Dia bilang mereka nggak serius.  Niko juga sudah mau nikah dua bulan lagi.”


            Amanda dan Fauzan heran.  Maksudnya apa?


            “Aku nggak sanggup bu, aku mau putus


aja aku nggak sanggup maafin mereka.”


            “Mas jangan terburu-buru ambil


keputusan.  Tenangkan diri dulu ya!”


            Bimo mengangguk setuju. “Andai aku


bisa seperti ibu, bagaimana ibu bisa maafin ayah dan daddy?”


            Amanda melirik Fauzan sebelum


tidak selalu sama dengan memberikan kesempatan lagi.  Maaf itu tentang bagaimana kita mampu tidak


menyimpan dendam dan sakit hati atas apa yang telah terjadi.  Tentang bagaimana kita ikhlas menganggap


bahwa masalah telah selesai.  Maaf itu


tentang bagaimana kita bisa melepas beban.  Maaf itu tentang kita sendiri, karena menyimpan dendam itu bikin lelah


lho.”


            Bimo mencoba memahami perkataan sang


ibu.  Dia pun mencoba untuk tenang.


Tiba-tiba….”Bu aku boleh nanya nggak, lebih berat mana maafin ayah atau daddy?”


            Amanda tersenyum. “Kok jadi bahas


ibu?”


            “Jujur aku penasaran. Tapi aku


janji, aku nggak akan jadi seperti daddy, aku juga nggak akan melakukan


kesalahan seperti ayah.  Tapi aku boleh


tahukan bu?”


            Fauzan diam, dia deg-degan


sebenarnya, grogi banget mendengar pertanyaan sang anak.  Aibnya diungkit lagi, tapi sebenarnya dia


juga penasaran dengan pengakuan Amanda.


            Mau jawab nggak enak sama Fauzan, tapi


sebenarnya ini pun pembelajaran untuk Bimo yang beranjak dewasa.  Semoga ia mampu menepati janjinya untuk tidak


menyakiti perempuan.


            “Kalau sama daddy yang ibu rasa

__ADS_1


adalah ibu dipermainkan.  Sebenarnya


mudah bagi ibu memaafkan daddy.  Tapi ya


ibu merasa cukup untuk memberinya kesempatan.  Nah kalau sama ayah…” Amanda ragu melanjutkan.  Tapi melihat dua laki-laki dihadapannya


menanti jawabannya, dia jadi bingung.  Mungkin memang sudah waktunya untuk jujur. “Hm… memang lebih


menyakitkan, karena ibu merasa terbuang.  Bagaimanapun diusir tanpa kita merasa tidak berbuat salah itu


benar-benar menyakitkan.”


            Mendengar pengakuan Amanda, Fauzan


memejamkan matanya.  Rasanya nggak


karuan.


            Amanda menggenggam tangan Fauzan


sebelum melanjutkan pembicaraannya. “Tapi melihat ayah berusaha memperbaiki


kesalahannya dengan sungguh-sungguh, dan ayah begitu sabar menunggu ibu, itu


yang mampu buat ibu maafin ayah dan menerima ayah lagi.”


            Bimo tersenyum mengerti semua ucapan


sang ibu.


            “Cukup yah, bahas tentang ibu dan


ayah!  Ibu harap kamu cukup dewasa untuk


bisa bertindak tidak gegabah dengan masalah kamu.  Kalau kamu merasa sebaiknya putus, ya nggak


apa-apa, kalau kamu mampu memberi Frida kesempatan lagi juga nggak papa.  Tapi pertimbangkan semua dengan baik.  Jangan buru-buru.  Dan yang pasti memafkan Frida dan Niko jauh


lebih baik.  Nggak mesti sekarang!”


            Bimo mengangguk dan tersenyum


lagi.  Dia jauh lebih tenang sekarang.


“Makasih ya bu, ibu memang selalu yang terbaik.” Bimo bangkit memeluk sang


ibu.  Setelahnya dia pun memeluk sang


ayah.  “Makasih ya yah, Ayah mau kembali bersama


kami lagi.”  Dia pun meninggalkan kedua


orang tuanya menuju kamarnya.  Malam ini


cukup melelahkan untuknya.  Emosinya


begitu terkuras.


            Amanda kembali menikmati tayangan TV


sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fauzan. Awalnya dia nggak sadar dengan


nafas Fauzan yang naik turun.  Tapi lama


kelamaan nafas itu semakin berat, Amanda pun menoleh pada Fauzan.  Amanda kaget ternyata Fauzan sedang menangis.


“Kamu kenapa?”


            Fauzan langsung memeluknya. “Maafin


aku!” Pintanya dalam tangis yang sama sekali tidak ia sembunyikan. “Aku terlalu


bodoh untuk memahami bahwa aku begitu menyakiti kamu.  Maafin aku Manda, aku nggak pernah minta maaf


sama kamu dengan layak.  Maafin aku…”


cuma kata maaf yang mampu mengungkapkan segala penyesalan Fauzan di masa lalu.


            Amanda benar-benar kaget dengan


reaksi Fauzan. “Hei, aku sudah maafin kamu dari dulu. Tanpa maaf, kita nggak


mungkin bersama lagi.  Aku tahu kok bagaimana


kamu menyesali apa yang pernah kamu lakukan.”

__ADS_1


__ADS_2