
Amanda,
Fauzan dan Citra sedang bersantai menikmati tayangan TV ketika Bimo datang
dengan wajah begitu suntuk. Ketiganya
heran melihat wajah Bimo yang tidak biasanya. Bimo duduk di Sofa panjang yang memang sedang diduduki oleh Fauzan dan
Amanda. Citra duduk di bawah di atas
karpet.
“Mas kenapa kok mukanya aneh gitu?”
Citra tidak bisa menahan keingin-tahuannya terhadap Bimo. Bukan cuma Citra sih yang penasaran.
Bimo nggak langsung menjawab
pertanyaan itu. Sepertinya masih emosi,
terlihat jelas dia sedang menenangkan diri.
Amanda jadi panik. “Mas nggak papa?
De ambilin mas minum dulu!”
Citra pun bangkit mengikuti perintah
sang ibu, sesaat kemudian ia pun menyerahkan segelas air putih dingin untuk
sang kakak.
Bimo menerimanya, meminumnya
sedikit, diletakkannya kembali gelas itu di meja di hadapannya. Sedikit lebih tenang.
Amanda mendekati diri Bimo, mencoba
menenangkan si sulung dengan mengelus-eluskan punggungnya. “Mas mau cerita?”
Sepintas Bimo melirik ke
Fauzan. Terlihat dia agak ragu. “Bu,
memaafkan itu sulit banget ya?”
Amanda tersenyum. “Yang pasti
memaafkan butuh waktu dan butuh tenang. Mas kenapa? Frida buat kesalahan
besar?” Mencoba menebak, sepertinya ini
tentang cinta.
Bimo menunduk dan mengangguk.
Semua mata tertuju pada Bimo. “Ade
nggak usah denger deh!” Bimo minta Citra untuk meninggalkan mereka sesaat.
“Ya ampun mas, aku sudah besar
kali. Udah ngerti cinta-cintaan doang
mah.” Citra sedikit tersinggung. Lebih
dari itu sudah mulai emosi juga sih abang kesayangannya disakiti orang lain.
Bimo masih ragu untuk
bercerita. Nggak yakin ceritanya cocok
untuk anak 15 tahun.
Amanda mengerti. “Ade ke kamar dulu ya, denger ceritanya kalau
sudah difilter!”
Sambil cemberut Citra bangkit dan
meninggalkan mereka. Diakan
penasaran. Tapi dia masih mau nurut
permintaan sang ibu. Mungkin ada bagian
__ADS_1
yang memang belum pantas ia dengar.
Setelah Citra meninggalkan mereka,
Baru terlihat Bimo ingin sekali curhat.
“Aku barusan mergokin Frida ciuman
di mobil bu, sama temen kuliahku juga.” Bimo bicara dengan begitu kecewa. “Ternyata mereka sudah lama berhubungan, sejak aku di Belanda.”
Fauzan dan Amanda saling
berpandangan, menyesal kenapa anak mereka harus tersakiti.
“Aku kaget banget bu, Niko itu temen
aku juga waktu kuliah. Kok mereka tega ya bohongi aku.”
“Mereka tahu kamu tahu?”
Bimo mengangguk. “Tadi aku langsung
putusin Frida, tapi Frida nangis-nangis minta maaf, dia nggak mau diputusin.”
“Nikonya?”
“Niko juga minta maaf. Dia bilang mereka nggak serius. Niko juga sudah mau nikah dua bulan lagi.”
Amanda dan Fauzan heran. Maksudnya apa?
“Aku nggak sanggup bu, aku mau putus
aja aku nggak sanggup maafin mereka.”
“Mas jangan terburu-buru ambil
keputusan. Tenangkan diri dulu ya!”
Bimo mengangguk setuju. “Andai aku
bisa seperti ibu, bagaimana ibu bisa maafin ayah dan daddy?”
Amanda melirik Fauzan sebelum
tidak selalu sama dengan memberikan kesempatan lagi. Maaf itu tentang bagaimana kita mampu tidak
menyimpan dendam dan sakit hati atas apa yang telah terjadi. Tentang bagaimana kita ikhlas menganggap
bahwa masalah telah selesai. Maaf itu
tentang bagaimana kita bisa melepas beban. Maaf itu tentang kita sendiri, karena menyimpan dendam itu bikin lelah
lho.”
Bimo mencoba memahami perkataan sang
ibu. Dia pun mencoba untuk tenang.
Tiba-tiba….”Bu aku boleh nanya nggak, lebih berat mana maafin ayah atau daddy?”
Amanda tersenyum. “Kok jadi bahas
ibu?”
“Jujur aku penasaran. Tapi aku
janji, aku nggak akan jadi seperti daddy, aku juga nggak akan melakukan
kesalahan seperti ayah. Tapi aku boleh
tahukan bu?”
Fauzan diam, dia deg-degan
sebenarnya, grogi banget mendengar pertanyaan sang anak. Aibnya diungkit lagi, tapi sebenarnya dia
juga penasaran dengan pengakuan Amanda.
Mau jawab nggak enak sama Fauzan, tapi
sebenarnya ini pun pembelajaran untuk Bimo yang beranjak dewasa. Semoga ia mampu menepati janjinya untuk tidak
menyakiti perempuan.
“Kalau sama daddy yang ibu rasa
__ADS_1
adalah ibu dipermainkan. Sebenarnya
mudah bagi ibu memaafkan daddy. Tapi ya
ibu merasa cukup untuk memberinya kesempatan. Nah kalau sama ayah…” Amanda ragu melanjutkan. Tapi melihat dua laki-laki dihadapannya
menanti jawabannya, dia jadi bingung. Mungkin memang sudah waktunya untuk jujur. “Hm… memang lebih
menyakitkan, karena ibu merasa terbuang. Bagaimanapun diusir tanpa kita merasa tidak berbuat salah itu
benar-benar menyakitkan.”
Mendengar pengakuan Amanda, Fauzan
memejamkan matanya. Rasanya nggak
karuan.
Amanda menggenggam tangan Fauzan
sebelum melanjutkan pembicaraannya. “Tapi melihat ayah berusaha memperbaiki
kesalahannya dengan sungguh-sungguh, dan ayah begitu sabar menunggu ibu, itu
yang mampu buat ibu maafin ayah dan menerima ayah lagi.”
Bimo tersenyum mengerti semua ucapan
sang ibu.
“Cukup yah, bahas tentang ibu dan
ayah! Ibu harap kamu cukup dewasa untuk
bisa bertindak tidak gegabah dengan masalah kamu. Kalau kamu merasa sebaiknya putus, ya nggak
apa-apa, kalau kamu mampu memberi Frida kesempatan lagi juga nggak papa. Tapi pertimbangkan semua dengan baik. Jangan buru-buru. Dan yang pasti memafkan Frida dan Niko jauh
lebih baik. Nggak mesti sekarang!”
Bimo mengangguk dan tersenyum
lagi. Dia jauh lebih tenang sekarang.
“Makasih ya bu, ibu memang selalu yang terbaik.” Bimo bangkit memeluk sang
ibu. Setelahnya dia pun memeluk sang
ayah. “Makasih ya yah, Ayah mau kembali bersama
kami lagi.” Dia pun meninggalkan kedua
orang tuanya menuju kamarnya. Malam ini
cukup melelahkan untuknya. Emosinya
begitu terkuras.
Amanda kembali menikmati tayangan TV
sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fauzan. Awalnya dia nggak sadar dengan
nafas Fauzan yang naik turun. Tapi lama
kelamaan nafas itu semakin berat, Amanda pun menoleh pada Fauzan. Amanda kaget ternyata Fauzan sedang menangis.
“Kamu kenapa?”
Fauzan langsung memeluknya. “Maafin
aku!” Pintanya dalam tangis yang sama sekali tidak ia sembunyikan. “Aku terlalu
bodoh untuk memahami bahwa aku begitu menyakiti kamu. Maafin aku Manda, aku nggak pernah minta maaf
sama kamu dengan layak. Maafin aku…”
cuma kata maaf yang mampu mengungkapkan segala penyesalan Fauzan di masa lalu.
Amanda benar-benar kaget dengan
reaksi Fauzan. “Hei, aku sudah maafin kamu dari dulu. Tanpa maaf, kita nggak
mungkin bersama lagi. Aku tahu kok bagaimana
kamu menyesali apa yang pernah kamu lakukan.”
__ADS_1