
Salah
satu tujuan Amanda untuk ada di Brisbane adalah mencoba bangkit dari
keterpurukan hatinya akibat disia-siakan Fauzan. Tapi ketika dia ada di kota ini justru
kenangan manis bersama Fauzan delapan tahun yang lalu yang justru mengisi
hatinya. Ah… sepertinya ia salah memilih
kota kalau memang niatnya menghapus memorinya tentang Fauzan. Tapi ini kan masalah
kesempatan, she doesn’t have many choices.
Saat ini, di akhir minggu, Amanda
sedang ada di South Bank bersama Bimo
dan Citra. Mereka sedang berenang di
kolam renang yang ada di sana. Amanda
hanya menemani mereka dengan duduk di pinggir kolam sambil sesekali
memperhatikan Citra. Walaupun Bimo
menjaganya sih, tapi tetaplah Amanda mengawasi si bungsu.
Januari itu bulan yang panas banget
di Brisbane, ya nggak cuma Brisbane sih Australia pada umumnya lah. Makanya berenang merupakan keputusan yang
tepat. Hari ini sebenarnya suhunya 34
derajat. Yah, beda tipis lah sama
Jakarta. Jakarta juga kalau lagi kemarau
sama juga panas bingit.
Amanda duduk di pinggir kolam
renang, berlindung dari teriknya matahari di bawah pohon flamboyan yang cukup
rindang. Sedikit melamun mengenang dulu
Fauzan juga sering berenang bersama Bimo di sini. Ya lumayan lah… kolam renang ini gratis,
hiburan murah di tengah kota yang selalu diminati para mahasiswa dan
keluarganya yang berkantong pas-pasan. Rencananya setelah berenang mereka akan tetap di sini karena nanti malam
akan ada kembang api. Hari ini ulang tahun Australia. Wah pasti rame banget
lah. Makanya berenangnya agak sore,
setelahnya makan, dan bersiap-siap nonton kembang api.
Pukul 4.30 sore ada pertunjukan
kemiliteran terlebih dahulu. Ada pesawat
tempur terbang rendah, dan beberapa helikopter pasang aksi di atas sungai
Brisbane, berbagai atraksi mereka pamerkan. Kalau begini yang senang ya Bimo lah, dia pun bercerita dengan sang adik
jenis pesawat tempur yang baru saja melitas, dan helikopter yang sedang terbang
rendah. Sepintas Amanda mendengar
desahan pelan Bimo.
“Andai ayah di sini, ayah pasti akan
cerita lebih detail.”
Amanda jadi tersenyum tipis, dia
pura-pura tidak mendengar keluhan Bimo. Dia yakin Bimo berharap ia tidak mendengar. Karena selama ini terlihat Bimo ingin sekali
tidak membuat sang ibu sedih. Tapi
bagaimana pun anak ini punya kegalauan sendiri. Amanda tahu itu tapi dia pun tak tahu harus bagaimana.
Amanda memandang ke dua anaknya.
Kita sama-sama belajar hidup yang sayang, ibu akan berusaha keras kalian tidak
kekurangan apapun. Janjinya dalam hati. Amanda pun merangkul ke dua anaknya. Mereka duduk di padang rumput. Masih menikmati pertunjukan pesawat tempur
yang melintas dengan begitu gagah.
Tepat pukul delapan malam,
__ADS_1
pertunjukan kembang api di mulai. Seketika langit menjadi terang dengan percikan indah kembang api yang
bertubi-tubi. Amanda kembali merasakan
perasaan kehilangan. Dia mellow banget,
ingat bagaimana delapan tahun yang lalu, Fauzan mendekapnya dari belakang, dan
Amanda memeluk Bimo. Ketiganya merasakan
kehangatan cinta keluarga kecil itu. Amanda masih bisa mengingat kenyamanan itu. Hari ini, dengan segala kegalauannya, dia
memeluk Bimo dan Citra, berusaha keras memberikan kehangatan yang sama bagi
kedua anaknya. Mereka dan ribuan orang
di sana memandang ke atas, menikmati pertunjukan kembang api, dengan berbagai
formasi dan warna. Seakan Amanda pun
membagi kegalauan dan kerinduannya pada Fauzan pada anak-anaknya, di saat yang
sama mereka saling menguatkan. We wish you
were here, Dad….
**
Amanda
kaget setengah mati ketika ia baru saja mendapatkan telepon dari sekolah
Bimo. Ia diminta untuk datang ke sekolah
sekarang juga, karena Bimo baru saja berkelahi. Astaga ada apa ini? Dari
ruangannya di Social sciences building,
dia langsung berlari menuju halte bus, dia bermaksud naik bus ke sekolah Bimo. Di dalam bus 432 Amanda begitu gelisah. Dia
bingung banget, apa yang telah terjadi? Bimo anak baik. Lebih dari satu tahun
mereka di Brisbane, Bimo nggak pernah punya masalah, kenapa sekarang dia berkelahi? Amanda curiga sepertinya Bimo dibully. Hadeuh, paniknya bukan kepalang Amanda sempat
memanjatkan doa semoga anaknya baik-baik saja. Tapi sepertinya memang baik-baik saja kok, karena kalau Bimo celaka pasti
dia akan di telepon untuk datang ke rumah sakit, bukan sekolah.
Sesampainya di sekolah Bimo,
cukup kusut dan kotor, wajahnya pun tidak karuan. Sepertinya Bimo masih memendam emosi. Amanda memeluk Bimo.
“Ada yang luka?” Amanda berusaha menahan emosinya, berusaha
menunjukkan dia tidak marah, hanya khawatir.
Bimo menggeleng. Terlihat cukup merasa bersalah karena membuat
sang ibu di panggil ke sekolah.
Amanda pun diminta untuk masuk ke
ruangan sekolah. Seorang guru dan kepala sekolah pun menceritakan permasalahan
yang terjadi. Dalam penjelasan mereka
terlihat mereka mencoba netral, tapi memang menyatakan bahwa bukan Bimo yang
memulai perkelahian. Ternyata seorang
temannya cemburu karena pacarnya sibuk grup
work dengan Bimo dalam rangka menyelesaikan projek penelitian kecil untuk
salah satu mata pelajarannya. Anak itu
pun menegur Bimo untuk mengurangi waktu kerja kelompoknya karena ia ingin
kencan. Tapi Bimo memberi jawaban yang
tidak menyenangkannya.
“Talk
to your girl, mate! She is the one who decide our meeting.”
Jawaban
itu dianggap nyolot, maka terjadilah pertikaian ini.
Mendengar cerita dari para guru
membuat Amanda hanya bisa geleng-geleng, hadeuh… para remaja ini emosinya nggak
__ADS_1
ada remnya ya. Gitu aja nge-gas. Akhirnya Amanda hanya bisa minta maaf atas nama Bimo. Kepala sekolah juga mengatakan bahwa masalah
ini sudah dianggap selesai, mereka sudah saling minta maaf. Tapi memang untuk meredam suasana, hari ini keduanya
tidak boleh masuk sekolah dulu. Mereka
baru akan bisa masuk lagi besok. Amanda
pun membawa pulang Bimo yang terlihat masih cukup emosi. Mereka duduk berdampingan di dalam bus. Keduanya hanya terdiam. Amanda berusaha menenangkan anaknya dengan
mengusap-usap punggung sang anak. Dengan
tersenyum, gesture itu seakan
menyatakan I am on your side son!
“I
am sorry mom.” Ketika mereka sampai di rumah, terlihat Bimo sudah bisa
menyesali perbuatannya.
Amanda duduk dan tersenyum mendengar
penyesalah Bimo. “Apa sih yang membuat mas sampe nge-gas gitu, principal bilang
kamu lho yang mulai mukul.”
“He
was crossing the line mom; he was crossing my private zone.”
Sebenarnya Amanda kurang paham
dengan maksud Bimo private zone. Tapi dia ingat, di sini memang ada pemahaman
batas-batas yang disebut bully disosialisasikan dengan tegas pada anak-anak di sekolah. Amanda berfikir, mungkin ini yang dimaksud
kepala sekolah tadi bahwa walaupun Bimo yang mulai mukul tapi tidak ada
indikasi bully, hanya pertikaian biasa.
Amanda tersenyum dan masih berusaha
menenangkan sang anak. “Mas duduk deh, cerita sama ibu ada apa!”
Bimo pun duduk di samping Amanda. “Dari
tadi pagi, si Randy ngoceh-ngoceh terus ke aku. Kata Jasmine mereka sudah dua hari ini berantem Randy nggak mau ngerti
kalau aku dan Jasmine ngebut ngerjain projek, karena deadlinenya besok. Lha
mereka yang berantem aku yang kena.”
“Terus?”
“Tadi pas lunch break, dia nyenggol aku pas aku minum di tap water. Aku udah bilang stop it dude! Tapi dia malah ngegas.
Ngoceh-ngoceh depan mukaku banget. Banyak omong, aku langsung tonjok aja.”
Mendengar Bimo yang berapi-api,
Amanda jadi ingin tertawa, berusaha keras ia tahan. Hadeuh bocah, yang seperti itu bisa jadi
masalah ya. Dia hanya bisa mengelus-elus
punggung sang anak. Hingga anak itu bisa
tenang.
“Mas harus belajar nahan emosi ya
dari sekarang!” pinta Amanda.
Bimo mendesah kesal. “Ah ibu nggak paham, bukan aku yang mulai
bu.”
“Ibu tahu kok, anak ibu nggak
mungkin cari masalah duluan. Ibu cuma
bilang kamu harus belajar untuk nahan emosi kamu.”
“Iya bu.” Bimo masih nggak terima sepertinya, dia pun
mendesah pelan. Kemudian meninggalkan
sang ibu menuju kamar. “Kalau ayah di
sini, dia pasti lebih paham, pasti belain aku.” Bimo mengeluh dengan nada yang begitu pelan.
Amanda hanya bisa menghela nafas
__ADS_1
panjang. Dia hanya bisa diam. Sekeras apapun dia mencoba menjadi orang tua
tunggal, ya memang nggak pernah mudah.