Life After Forty

Life After Forty
Episode 5 Memori dan adaptasi


__ADS_3

Salah


satu tujuan Amanda untuk ada di Brisbane adalah mencoba bangkit dari


keterpurukan hatinya akibat disia-siakan Fauzan.  Tapi ketika dia ada di kota ini justru


kenangan manis bersama Fauzan delapan tahun yang lalu yang justru mengisi


hatinya.  Ah… sepertinya ia salah memilih


kota kalau memang niatnya menghapus memorinya tentang Fauzan. Tapi ini kan masalah


kesempatan, she doesn’t have many choices.


            Saat ini, di akhir minggu, Amanda


sedang ada di South Bank bersama Bimo


dan Citra.  Mereka sedang berenang di


kolam renang yang ada di sana.  Amanda


hanya menemani mereka dengan duduk di pinggir kolam sambil sesekali


memperhatikan Citra.  Walaupun Bimo


menjaganya sih, tapi tetaplah Amanda mengawasi si bungsu.


            Januari itu bulan yang panas banget


di Brisbane, ya nggak cuma Brisbane sih Australia pada umumnya lah.  Makanya berenang merupakan keputusan yang


tepat.  Hari ini sebenarnya suhunya 34


derajat.  Yah, beda tipis lah sama


Jakarta.  Jakarta juga kalau lagi kemarau


sama juga panas bingit.


            Amanda duduk di pinggir kolam


renang, berlindung dari teriknya matahari di bawah pohon flamboyan yang cukup


rindang.  Sedikit melamun mengenang dulu


Fauzan juga sering berenang bersama Bimo di sini.  Ya lumayan lah… kolam renang ini gratis,


hiburan murah di tengah kota yang selalu diminati para mahasiswa dan


keluarganya yang berkantong pas-pasan.  Rencananya setelah berenang mereka akan tetap di sini karena nanti malam


akan ada kembang api. Hari ini ulang tahun Australia. Wah pasti rame banget


lah.  Makanya berenangnya agak sore,


setelahnya makan, dan bersiap-siap nonton kembang api.


            Pukul 4.30 sore ada pertunjukan


kemiliteran terlebih dahulu.  Ada pesawat


tempur terbang rendah, dan beberapa helikopter pasang aksi di atas sungai


Brisbane, berbagai atraksi mereka pamerkan.  Kalau begini yang senang ya Bimo lah, dia pun bercerita dengan sang adik


jenis pesawat tempur yang baru saja melitas, dan helikopter yang sedang terbang


rendah.  Sepintas Amanda mendengar


desahan pelan Bimo.


            “Andai ayah di sini, ayah pasti akan


cerita lebih detail.”


            Amanda jadi tersenyum tipis, dia


pura-pura tidak mendengar keluhan Bimo.  Dia yakin Bimo berharap ia tidak mendengar.  Karena selama ini terlihat Bimo ingin sekali


tidak membuat sang ibu sedih.  Tapi


bagaimana pun anak ini punya kegalauan sendiri.  Amanda tahu itu tapi dia pun tak tahu harus bagaimana.


            Amanda memandang ke dua anaknya.


Kita sama-sama belajar hidup yang sayang, ibu akan berusaha keras kalian tidak


kekurangan apapun.  Janjinya dalam hati.  Amanda pun merangkul ke dua anaknya.  Mereka duduk di padang rumput.  Masih menikmati pertunjukan pesawat tempur


yang melintas dengan begitu gagah.


            Tepat pukul delapan malam,

__ADS_1


pertunjukan kembang api di mulai.  Seketika langit menjadi terang dengan percikan indah kembang api yang


bertubi-tubi.  Amanda kembali merasakan


perasaan kehilangan.  Dia mellow banget,


ingat bagaimana delapan tahun yang lalu, Fauzan mendekapnya dari belakang, dan


Amanda memeluk Bimo.  Ketiganya merasakan


kehangatan cinta keluarga kecil itu.  Amanda masih bisa mengingat kenyamanan itu.  Hari ini, dengan segala kegalauannya, dia


memeluk Bimo dan Citra, berusaha keras memberikan kehangatan yang sama bagi


kedua anaknya.  Mereka dan ribuan orang


di sana memandang ke atas, menikmati pertunjukan kembang api, dengan berbagai


formasi dan warna.  Seakan Amanda pun


membagi kegalauan dan kerinduannya pada Fauzan pada anak-anaknya, di saat yang


sama mereka saling menguatkan. We wish you


were here, Dad….


**


Amanda


kaget setengah mati ketika ia baru saja mendapatkan telepon dari sekolah


Bimo.  Ia diminta untuk datang ke sekolah


sekarang juga, karena Bimo baru saja berkelahi.  Astaga ada apa ini?  Dari


ruangannya di Social sciences building,


dia langsung berlari menuju halte bus, dia bermaksud naik bus ke sekolah Bimo.  Di dalam bus 432 Amanda begitu gelisah. Dia


bingung banget, apa yang telah terjadi? Bimo anak baik. Lebih dari satu tahun


mereka di Brisbane, Bimo nggak pernah punya masalah, kenapa sekarang dia berkelahi?  Amanda curiga sepertinya Bimo dibully.  Hadeuh, paniknya bukan kepalang Amanda sempat


memanjatkan doa semoga anaknya baik-baik saja.  Tapi sepertinya memang baik-baik saja kok, karena kalau Bimo celaka pasti


dia akan di telepon untuk datang ke rumah sakit, bukan sekolah.


            Sesampainya di sekolah Bimo,


cukup kusut dan kotor, wajahnya pun tidak karuan.  Sepertinya Bimo masih memendam emosi.  Amanda memeluk Bimo.


            “Ada yang luka?”  Amanda berusaha menahan emosinya, berusaha


menunjukkan dia tidak marah, hanya khawatir.


            Bimo menggeleng.  Terlihat cukup merasa bersalah karena membuat


sang ibu di panggil ke sekolah.


            Amanda pun diminta untuk masuk ke


ruangan sekolah. Seorang guru dan kepala sekolah pun menceritakan permasalahan


yang terjadi.  Dalam penjelasan mereka


terlihat mereka mencoba netral, tapi memang menyatakan bahwa bukan Bimo yang


memulai perkelahian.  Ternyata seorang


temannya cemburu karena pacarnya sibuk grup


work dengan Bimo dalam rangka menyelesaikan projek penelitian kecil untuk


salah satu mata pelajarannya.  Anak itu


pun menegur Bimo untuk mengurangi waktu kerja kelompoknya karena ia ingin


kencan.  Tapi Bimo memberi jawaban yang


tidak menyenangkannya.


            “Talk


to your girl, mate! She is the one who decide our meeting.”


            Jawaban


itu dianggap nyolot, maka terjadilah pertikaian ini.


            Mendengar cerita dari para guru


membuat Amanda hanya bisa geleng-geleng, hadeuh… para remaja ini emosinya nggak

__ADS_1


ada remnya ya.  Gitu aja nge-gas.  Akhirnya Amanda hanya bisa minta maaf atas nama Bimo.  Kepala sekolah juga mengatakan bahwa masalah


ini sudah dianggap selesai, mereka sudah saling minta maaf.  Tapi memang untuk meredam suasana, hari ini keduanya


tidak boleh masuk sekolah dulu.  Mereka


baru akan bisa masuk lagi besok.  Amanda


pun membawa pulang Bimo yang terlihat masih cukup emosi.  Mereka duduk berdampingan di dalam bus.  Keduanya hanya terdiam.  Amanda berusaha menenangkan anaknya dengan


mengusap-usap punggung sang anak.  Dengan


tersenyum, gesture itu seakan


menyatakan I am on your side son!


            “I


am sorry mom.” Ketika mereka sampai di rumah, terlihat Bimo sudah bisa


menyesali perbuatannya.


            Amanda duduk dan tersenyum mendengar


penyesalah Bimo. “Apa sih yang membuat mas sampe nge-gas gitu, principal bilang


kamu lho yang mulai mukul.”


            “He


was crossing the line mom; he was crossing my private zone.”


            Sebenarnya Amanda kurang paham


dengan maksud Bimo private zone.  Tapi dia ingat, di sini memang ada pemahaman


batas-batas yang disebut bully disosialisasikan dengan tegas pada anak-anak di sekolah.  Amanda berfikir, mungkin ini yang dimaksud


kepala sekolah tadi bahwa walaupun Bimo yang mulai mukul tapi tidak ada


indikasi bully, hanya pertikaian biasa.


            Amanda tersenyum dan masih berusaha


menenangkan sang anak. “Mas duduk deh, cerita sama ibu ada apa!”


            Bimo pun duduk di samping Amanda. “Dari


tadi pagi, si Randy ngoceh-ngoceh terus ke aku.  Kata Jasmine mereka sudah dua hari ini berantem Randy nggak mau ngerti


kalau aku dan Jasmine ngebut ngerjain projek, karena deadlinenya besok.  Lha


mereka yang berantem aku yang kena.”


            “Terus?”


            “Tadi pas lunch break, dia nyenggol aku pas aku minum di tap water.  Aku udah bilang stop it dude! Tapi dia malah ngegas.


Ngoceh-ngoceh depan mukaku banget.  Banyak omong, aku langsung tonjok aja.”


            Mendengar Bimo yang berapi-api,


Amanda jadi ingin tertawa, berusaha keras ia tahan.  Hadeuh bocah, yang seperti itu bisa jadi


masalah ya.  Dia hanya bisa mengelus-elus


punggung sang anak.  Hingga anak itu bisa


tenang.


            “Mas harus belajar nahan emosi ya


dari sekarang!” pinta Amanda.


            Bimo mendesah kesal.  “Ah ibu nggak paham, bukan aku yang mulai


bu.”


            “Ibu tahu kok, anak ibu nggak


mungkin cari masalah duluan.  Ibu cuma


bilang kamu harus belajar untuk nahan emosi kamu.”


            “Iya bu.”  Bimo masih nggak terima sepertinya, dia pun


mendesah pelan.  Kemudian meninggalkan


sang ibu menuju kamar.  “Kalau ayah di


sini, dia pasti lebih paham, pasti belain aku.”  Bimo mengeluh dengan nada yang begitu pelan.


            Amanda hanya bisa menghela nafas

__ADS_1


panjang.  Dia hanya bisa diam.  Sekeras apapun dia mencoba menjadi orang tua


tunggal, ya memang nggak pernah mudah.


__ADS_2