
Flashback, tiga bulan yang lalu.
Monrue begitu syok, pertama kalinya
dia melihat sesosok wanita dengan luka yang demikian parah. Perempuan itu terkapar lemah di tempat tidur
rumah sakit. Karena terlalu kaget,
Monrue pun lemas, dia hampir tidak bisa mencerna penjelasan Jason pada Amanda. Monrue hanya menatap iba perempuan yang
tergeletak di hadapannya.
Ketika pulang pun ia masih
terbayang-bayang. Membayangkan bagaimana
wanita itu dianiaya saja Monrue sudah ketakutan. Kok ada ya, laki-laki yang harusnya mencintai
sang istri justru menganiaya dengan begitu sadis. Monrue masih tidak bisa lepas dari bayangan Aura
walaupun dia sudah ada di rumah.
Tiga hari setelahnya Monrue
benar-benar nggak enak makan. Dia masih
teringat Aura. Ternyata hati Monrue
begitu sensitive, dia benar-benar merasa iba pada Aura. Akibatnya, setelah tiga hari membayangi,
Monrue datang sendiri ke rumah sakit di rabu siang, dan ternyata Aura sedang
sendiri karena Jason harus kembali ke Bali. Satu jam lamanya Monrue hanya terdiam memandangi Aura yang sedang
tidur. Dia benar-benar terpaku diam
menatap Aura. Sesekali suster dan dokter
datang mengecek Aura, Monrue pun mundur memberikan ruang, setelah itu ia
kembali di samping Aura. Nggak ada yang
menyuruhnya berlaku seperti itu. Monrue
pun sebenar nggak mengerti kenapa ia melakukannya. Ia hanya iba, itu saja yang bisa menjawab
pertanyaannya sendiri.
Ketika Aura terbangun, dia kaget
kenapa ada laki-laki asing berada di kamar perawatannya. Monrue pun memperkenalkan diri. Tentu saja Aura tahu siapa Monrue, yang ia
tak tahu kenapa Monrue bisa ada di kamar ini. Pelan-pelan Monrue menjelaskan kenapa ia bisa ada di sini. Dia pun minta ijin untuk boleh menemani
Aura. Dengan rasa curiga akhirnya Aura
pun mengijinkan Monrue ada di sampingnya. Empat jam lamanya Monrue ada di rumah sakit siang itu menemani
Aura. Dan itu terjadi pada siang-siang
berikutnya. Dengan sabar Monrue merawat
Aura. Karena ia tahu pagi hingga sore Aura sendiri. Amanda dan Fauzan baru akan datang setelah
mereka bekerja. Aura masih bertanya-tanya
atas apa yang dilakukan Monrue untuknya, tapi dia menerimanya karena memang ia
membutuhkan pertolongan. Monrue tidak
punya jawaban pasti, yang jelas hanya naluri kemanusiaan yang membawanya kerap
datang kemari.
Hampir setiap hari Monrue datang
menjenguk Aura. Tentu saja persabatan
mereka mulai terjalin. Saling ngobrol ringan,
membahas acara dan berita yang ada di TV, dan terkadang saling bercanda dan
sedikit mengejek. Sedikit banyak Monrue
tahu tentang perselingkuhan Aura dan Fauzan dulu, dia pun menggoda Aura tentang
itu. Aura pun menggoda tentang video
viralnya Monrue yang memperlihatkan hobinya menangis. Mereka saling nyaman satu sama lain. Bahkan Monrue pun membawa gitarnya ke rumah
sakit. Bernyanyi pelan sekedar menghibur Aura, sesekali ia bekerja di kala Aura
tidur. Beberapa kali Jason bertemu
dengan Monrue, tapi dia nggak curiga sama sekali. Jason hanya berterima kasih karena sang ibu
tidak sendirian. Memang agak aneh sih
ketika Monrue meninggalkan gitarnya di kamar Aura. Aura hanya menjelaskan ada orang yang titip
gitar di situ.
Ketika
dua bulan Aura di rumah sakit. Monrue bertanya tentang satu hal.
__ADS_1
“Ra, kamu mau tobat nggak?”
Aura kaget dengan pertanyaan
itu. Dia bingung maksudnya apa.
“Kamu kan cukup lama selingkuh kamu
tahukan itu dosa, kamu mau tobat nggak?”
Oh pembicaraan ke arah itu ternyata.
Aura tersenyum. “Tentu saja aku mau. Aku
sudah minta maaf pada Amanda, dan mendapat ganjaran ini dari Steven.”
“Kita tobat bareng yuk!” Ajak
Monrue.
Aura nggak paham maksud Monrue.
“Aku juga dulu nakal. Bahkan pisah sama Amanda pun karena aku nggak
setia.” Monrue melakukan pengakuan dosa.
“Kamu mau nggak nikah sama aku. Kita
sama-sama tobat, sama-sama saling mengingatkan?”
Aura kaget dengan ajakan Monrue yang
tiba-tiba. Hei kita baru kenal dua bulan lho. “Kita baru kenal lho.” Aura
mencoba mengingatkan.
Monrue tersenyum. “Aku cuma kenal
Amanda dua minggu sebelum kita memutuskan menikah.”
Aura bingung. Masa sih?
“Toh aku nggak ngajak kamu menikah
detik ini juga. Kita bisa menikah
setelah anak kamu menikah.”
Aura berfikir. Oh berarti masih ada
waktu empat bulan. Cukup waktu untuk
lebih saling mengenal. Well masuk
akal dengan rentan waktu segitu mah.
sekarang. Paling tidak mau memikirkan ajakan
aku?”
Aura tersenyum. Ia pun mengangguk. “Aku minta waktu ya.”
Pintanya.
Monrue mengangguk. “Mulai besok, aku tiga hari nggak ke sini ya,
aku ada off air di Makasar.”
Aura mengangguk paham.
“Sekalian nguji. Kamu kangen aku nggak kalau aku nggak ke
sini.”
Aura tersenyum. “Aku pasti kangen
kamulah, aku nggak ngapa-ngapin di sini. Kamu yang pasti lupa.”
Monrue tersenyum. “Nggak lah. Nggak
mungkin lupa kamu cantik banget.”
Empat
hari kemudian, sesuai janji Monrue, Monrue datang lagi ke rumah sakit. Aura menyambutnya dengan senyum
mengembang. Langsung duduk di samping
Aura yang masih berbaring, Monrue mencium tangan Aura dan membelai
rambutnya. Setelah menyampaikan isi hatinya
Monrue memang lebih berani. Toh Aura
tidak keberatan dengan sentuhan mesra itu.
“Kangen aku nggak?”
Aura pun mengangguk malu-malu.
Monrue tersenyum. Aura memang jauh berbeda dengan Amanda, walau
mereka sama-sama cantik. Amanda
perempuan yang kuat dan tegas. Pancaran
__ADS_1
sinar matanya adalah semangat dalam hidupnya. Kalau Aura adalah kelembutan, pancaran matanya begitu teduh tapi sekaligus
ia rapuh membuat laki-laki di dekatnya mengeluarkan seluruh kemampuan untuk
melindunginya. Makanya Monrue tak habis
fikir, kok bisa-bisanya Steven menyakiti perempuan selembut ini?
“Sudah ada jawaban?” Monrue penuh
harap.
Aura menggeleng. “Maaf ya, aku masih butuh waktu lagi.”
Monrue mengangguk paham. “Nggak papa kok. Aku nunggu kamu.”
Dua
minggu berselang, Aura pelan-pelan sudah bisa bangkit dari tempat
tidurnya. Pelan-pelan dia belajar untuk
pergi ke kamar mandi walau masih butuh pengawalan. Masih belum ada yang menyadari kalau Monrue
tiap siang ada di sini. Hanya suster dan
dokter yang justru mengerti ada getaran cinta antara Monrue dan Aura. Selebihnya, bahkan Jason pun tidak menyadarinya.
Siang itu, Monrue meminta ijin pihak
rumah sakit untuk membawa Aura keluar kamar, hanya berjalan di sekitar rumah
sakit. Monrue hendak membawa Aura makan siang di restoran rumah sakit. Sekedar membuat Aura tidak bosan. Pihak rumah sakit mengijinkan, tapi memang
Aura harus dengan kursi roda karena Aura belum mampu untuk jalan jauh.
Maka makan siang lah mereka berdua
di restoran yang berada di lantai bawah rumah sakit itu. Monrue makan sop buntut, Aura makan soto
ayam. Mereka menikmati makan siang
dengan santai.
“Aku mau Rue.” Tiba-tiba Aura bicara.
Monrue yang lagi makan kaget dengan
pembicaraan Aura. Sepintas ia nggak menyadari maksud Aura.
“Bodoh apabila aku menolak lamaran
laki-laki baik seperti kamu.”
Mendengar jawaban itu Monrue
bahagia. Kalau mereka tidak berada di
tempat umum sudah dicium wanita di hadapannya ini.
“Makasih ya.” Monrue tersenyum lebar
sambil menggenggam tangan Aura.
Aura mengangguk tersenyum. Dia juga amat bahagia.
Tiba-tiba Monrue ingat sesuatu.
“Sebentar.” Dia pun mencoba membuka
dompetnya, dia pun mengeluarkan sebentuk cincin berlian yang semula disimpan di
dompet itu. “Muat nggak ya? “Monrue menyematkan di jari manis kiri Aura sambil
deg-degan khawatir nggak muat.
Ternyata muat. Pas dan cantik di jari yang ramping dan indah
itu.
Keduanya tersenyum bahagia. Aura
terharu ternyata Monrue telah menyiapkan sebuah cincin untuk dirinya. Cincinnya cantik banget. Aura menghabiskan waktu dengan menatap cincin
baru yang ada di jarinya. Dia menangis
terharu. “Makasih.” Aura menatap haru Monrue.
Monrue membalas tatapan itu dengan
sayang. “Aku yang makasih.” Terus
menerus menggenggam tangan Aura.
Keduanya begitu dimabuk cinta.
“Sementara ini kita rahasiain dulu
ya. Bikin kejutan ke mereka.” Tiba-tiba
Monrue punya ide. (baca: mereka yang dimaksud Fauzan, Amanda, dan Jason).
Aura pun mengangguk bagaikan anak
kecil yang punya rahasia besar.
__ADS_1
Keduanya pun tersenyum bahagia.