Life After Forty

Life After Forty
Episode 25 Aura dan Monrue


__ADS_3

Flashback, tiga bulan yang lalu.


            Monrue begitu syok, pertama kalinya


dia melihat sesosok wanita dengan luka yang demikian parah.  Perempuan itu terkapar lemah di tempat tidur


rumah sakit.  Karena terlalu kaget,


Monrue pun lemas, dia hampir tidak bisa mencerna penjelasan Jason pada Amanda.  Monrue hanya menatap iba perempuan yang


tergeletak di hadapannya.


            Ketika pulang pun ia masih


terbayang-bayang.  Membayangkan bagaimana


wanita itu dianiaya saja Monrue sudah ketakutan.  Kok ada ya, laki-laki yang harusnya mencintai


sang istri justru menganiaya dengan begitu sadis.  Monrue masih tidak bisa lepas dari bayangan Aura


walaupun dia sudah ada di rumah.


            Tiga hari setelahnya Monrue


benar-benar nggak enak makan.  Dia masih


teringat Aura.  Ternyata hati Monrue


begitu sensitive, dia benar-benar merasa iba pada Aura.  Akibatnya, setelah tiga hari membayangi,


Monrue datang sendiri ke rumah sakit di rabu siang, dan ternyata Aura sedang


sendiri karena Jason harus kembali ke Bali.  Satu jam lamanya Monrue hanya terdiam memandangi Aura yang sedang


tidur.  Dia benar-benar terpaku diam


menatap Aura.  Sesekali suster dan dokter


datang mengecek Aura, Monrue pun mundur memberikan ruang, setelah itu ia


kembali di samping Aura.  Nggak ada yang


menyuruhnya berlaku seperti itu.  Monrue


pun sebenar nggak mengerti kenapa ia melakukannya.  Ia hanya iba, itu saja yang bisa menjawab


pertanyaannya sendiri.


            Ketika Aura terbangun, dia kaget


kenapa ada laki-laki asing berada di kamar perawatannya.  Monrue pun memperkenalkan diri.  Tentu saja Aura tahu siapa Monrue, yang ia


tak tahu kenapa Monrue bisa ada di kamar ini.  Pelan-pelan Monrue menjelaskan kenapa ia bisa ada di sini.  Dia pun minta ijin untuk boleh menemani


Aura.  Dengan rasa curiga akhirnya Aura


pun mengijinkan Monrue ada di sampingnya.  Empat jam lamanya Monrue ada di rumah sakit siang itu menemani


Aura.  Dan itu terjadi pada siang-siang


berikutnya.  Dengan sabar Monrue merawat


Aura. Karena ia tahu pagi hingga sore Aura sendiri.  Amanda dan Fauzan baru akan datang setelah


mereka bekerja.  Aura masih bertanya-tanya


atas apa yang dilakukan Monrue untuknya, tapi dia menerimanya karena memang ia


membutuhkan pertolongan.  Monrue tidak


punya jawaban pasti, yang jelas hanya naluri kemanusiaan yang membawanya kerap


datang kemari.


            Hampir setiap hari Monrue datang


menjenguk Aura.  Tentu saja persabatan


mereka mulai terjalin.  Saling ngobrol ringan,


membahas acara dan berita yang ada di TV, dan terkadang saling bercanda dan


sedikit mengejek.  Sedikit banyak Monrue


tahu tentang perselingkuhan Aura dan Fauzan dulu, dia pun menggoda Aura tentang


itu.  Aura pun menggoda tentang video


viralnya Monrue yang memperlihatkan hobinya menangis.  Mereka saling nyaman satu sama lain.  Bahkan Monrue pun membawa gitarnya ke rumah


sakit. Bernyanyi pelan sekedar menghibur Aura, sesekali ia bekerja di kala Aura


tidur.  Beberapa kali Jason bertemu


dengan Monrue, tapi dia nggak curiga sama sekali.  Jason hanya berterima kasih karena sang ibu


tidak sendirian.  Memang agak aneh sih


ketika Monrue meninggalkan gitarnya di kamar Aura.  Aura hanya menjelaskan ada orang yang titip


gitar di situ.


Ketika


dua bulan Aura di rumah sakit. Monrue bertanya tentang satu hal.

__ADS_1


            “Ra, kamu mau tobat nggak?”


            Aura kaget dengan pertanyaan


itu.  Dia bingung maksudnya apa.


            “Kamu kan cukup lama selingkuh kamu


tahukan itu dosa, kamu mau tobat nggak?”


            Oh pembicaraan ke arah itu ternyata.


Aura tersenyum. “Tentu saja aku mau.  Aku


sudah minta maaf pada Amanda, dan mendapat ganjaran ini dari Steven.”


            “Kita tobat bareng yuk!” Ajak


Monrue.


            Aura nggak paham maksud Monrue.


            “Aku juga dulu nakal.  Bahkan pisah sama Amanda pun karena aku nggak


setia.”  Monrue melakukan pengakuan dosa.


“Kamu mau nggak nikah sama aku.  Kita


sama-sama tobat, sama-sama saling mengingatkan?”


            Aura kaget dengan ajakan Monrue yang


tiba-tiba. Hei kita baru kenal dua bulan lho. “Kita baru kenal lho.” Aura


mencoba mengingatkan.


            Monrue tersenyum. “Aku cuma kenal


Amanda dua minggu sebelum kita memutuskan menikah.”


            Aura bingung. Masa sih?


            “Toh aku nggak ngajak kamu menikah


detik ini juga.  Kita bisa menikah


setelah anak kamu menikah.”


            Aura berfikir. Oh berarti masih ada


waktu empat bulan.  Cukup waktu untuk


lebih saling mengenal. Well masuk


akal dengan rentan waktu segitu mah.


sekarang.  Paling tidak mau memikirkan ajakan


aku?”


            Aura tersenyum.  Ia pun mengangguk. “Aku minta waktu ya.”


Pintanya.


            Monrue mengangguk.  “Mulai besok, aku tiga hari nggak ke sini ya,


aku ada off air di Makasar.”


            Aura mengangguk paham.


            “Sekalian nguji.  Kamu kangen aku nggak kalau aku nggak ke


sini.”


            Aura tersenyum. “Aku pasti kangen


kamulah, aku nggak ngapa-ngapin di sini.  Kamu yang pasti lupa.”


            Monrue tersenyum. “Nggak lah. Nggak


mungkin lupa kamu cantik banget.”


Empat


hari kemudian, sesuai janji Monrue, Monrue datang lagi ke rumah sakit.  Aura menyambutnya dengan senyum


mengembang.  Langsung duduk di samping


Aura yang masih berbaring, Monrue mencium tangan Aura dan membelai


rambutnya.  Setelah menyampaikan isi hatinya


Monrue memang lebih berani.  Toh Aura


tidak keberatan dengan sentuhan mesra itu.


            “Kangen aku nggak?”


            Aura pun mengangguk malu-malu.


            Monrue tersenyum.  Aura memang jauh berbeda dengan Amanda, walau


mereka sama-sama cantik.  Amanda


perempuan yang kuat dan tegas.  Pancaran

__ADS_1


sinar matanya adalah semangat dalam hidupnya.  Kalau Aura adalah kelembutan, pancaran matanya begitu teduh tapi sekaligus


ia rapuh membuat laki-laki di dekatnya mengeluarkan seluruh kemampuan untuk


melindunginya.  Makanya Monrue tak habis


fikir, kok bisa-bisanya Steven menyakiti perempuan selembut ini?


            “Sudah ada jawaban?” Monrue penuh


harap.


            Aura menggeleng.  “Maaf ya, aku masih butuh waktu lagi.”


            Monrue mengangguk paham.  “Nggak papa kok. Aku nunggu kamu.”


Dua


minggu berselang, Aura pelan-pelan sudah bisa bangkit dari tempat


tidurnya.  Pelan-pelan dia belajar untuk


pergi ke kamar mandi walau masih butuh pengawalan.  Masih belum ada yang menyadari kalau Monrue


tiap siang ada di sini.  Hanya suster dan


dokter yang justru mengerti ada getaran cinta antara Monrue dan Aura.  Selebihnya, bahkan Jason pun tidak menyadarinya.


            Siang itu, Monrue meminta ijin pihak


rumah sakit untuk membawa Aura keluar kamar, hanya berjalan di sekitar rumah


sakit. Monrue hendak membawa Aura makan siang di restoran rumah sakit.  Sekedar membuat Aura tidak bosan.  Pihak rumah sakit mengijinkan, tapi memang


Aura harus dengan kursi roda karena Aura belum mampu untuk jalan jauh.


            Maka makan siang lah mereka berdua


di restoran yang berada di lantai bawah rumah sakit itu.  Monrue makan sop buntut, Aura makan soto


ayam.  Mereka menikmati makan siang


dengan santai.


            “Aku mau Rue.” Tiba-tiba Aura bicara.


            Monrue yang lagi makan kaget dengan


pembicaraan Aura. Sepintas ia nggak menyadari maksud Aura.


            “Bodoh apabila aku menolak lamaran


laki-laki baik seperti kamu.”


            Mendengar jawaban itu Monrue


bahagia.  Kalau mereka tidak berada di


tempat umum sudah dicium wanita di hadapannya ini.


            “Makasih ya.” Monrue tersenyum lebar


sambil menggenggam tangan Aura.


            Aura mengangguk tersenyum.  Dia juga amat bahagia.


            Tiba-tiba Monrue ingat sesuatu.


“Sebentar.”  Dia pun mencoba membuka


dompetnya, dia pun mengeluarkan sebentuk cincin berlian yang semula disimpan di


dompet itu. “Muat nggak ya? “Monrue menyematkan di jari manis kiri Aura sambil


deg-degan khawatir nggak muat.


            Ternyata muat.  Pas dan cantik di jari yang ramping dan indah


itu.


            Keduanya tersenyum bahagia. Aura


terharu ternyata Monrue telah menyiapkan sebuah cincin untuk dirinya.  Cincinnya cantik banget.  Aura menghabiskan waktu dengan menatap cincin


baru yang ada di jarinya.  Dia menangis


terharu. “Makasih.” Aura menatap haru Monrue.


            Monrue membalas tatapan itu dengan


sayang. “Aku yang makasih.”  Terus


menerus menggenggam tangan Aura.


            Keduanya begitu dimabuk cinta.


            “Sementara ini kita rahasiain dulu


ya.  Bikin kejutan ke mereka.” Tiba-tiba


Monrue punya ide. (baca: mereka yang dimaksud Fauzan, Amanda, dan Jason).


            Aura pun mengangguk bagaikan anak


kecil yang punya rahasia besar.

__ADS_1


            Keduanya pun tersenyum bahagia.


__ADS_2