Life After Forty

Life After Forty
Episode 2 Elliana


__ADS_3

“Neng,


kita boleh aja nggak punya uang, tapi jangan pernah nggak punya lipstick.”  Sang ibu selalu menekankan pada dirinya,


bahwa perempuan bagaimanapun harus pintar dandan, karena menjadi cantik banyak


jalan akan terbuka.


            Setiap kali Elly berdandan, ia


selalu teringat pesan ibunya dulu, ketika ia menginjak remaja, saat ia masih


dibangku sekolah menengah.  Dan


menurutnya ibunya sangat benar. Sejak dibangku SMA ia sangat menikmati


perhatian banyak laki-laki untuknya.  Bahkan waktu SMA, seorang guru honorer pun ada yang nekat menyatakan


cinta padanya.  Ya semua itu karena dia


cantik, dan tahu bagaimana memelihara kecantikannya.


            Latar belakang keluarga Elly memang


agak complicated.  Dia anak pertama memiliki dua adik.  Ayah dan ibunya berpisah sejak dirinya


berusia tiga tahun.  Dia pun memiliki dua


adik dari dua ayah yang berbeda.  Setelah


berpisah dengan sang ayah, ibunya menikah lagi, tapi Elly tidak mendapatkan figure ayah dari para ayah


sambungnya.  Karena mereka tidak selalu


ada bersama mereka.  Para laki-laki itu


hanya menjadi suami ibunya tapi tidak menjadi ayah bagi Elly dan adik-adiknya.  Dan sekarang sang ibu pun telah berpisah lagi


dengan laki-laki yang memberinya seorang adik laki-laki setelah lima tahun


bersama.


            Sejarah berulang, seorang perempuan


datang marah-marah, menampar sang ibu, dan menyeret ayah tirinya pergi dari


rumah itu.  Elly nggak kaget, sudah


pernah terjadi sebelumnya.  Yah beginilah


sang ibu bertahan hidup dan membiayai dirinya dan adik-adiknya.  Menjadi istri kedua dari para laki-laki kaya


yang membutuhkan kasih sayang lebih dari seorang istri.  Kali ini mereka lebih beruntung, karena istri


pertama dari ayah tirinya jauh lebih baik.  Karena melihat bahwa sang suami memiliki seorang anak, maka ia bersedia


membagi sedikit hartanya dengan membelikan sang ibu sebuah rumah, dan

__ADS_1


memberikan sejumlah uang untuk tunjangan hidup Delvin, adik bungsunya.  Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dulu


ketika sang ibu bersiteru dengan istri pertama dari ayahnya Siska (adik


keduanya).  Sudahlah perempuan itu


berteriak-teriak histeris, memaki-maki, memukul ibunya bertubi-tubi tapi


akhirnya mereka pun harus terusir dari rumah yang dibeli laki-laki itu untuk


mereka. Tunjangan hidup untuk Sisca? Lupakan!


            Pernah di satu malam, dalam


tangisnya sang ibu pernah bercerita, dari tiga laki-laki yang pernah


menikahinya, dia hanya benar-benar mencintai Arif, ayah Elly.  Sayangnya Pak Arif itu ternyata kurang arif.  Mereka menikah terlalu muda, sehingga ketika


Arif kehilangan arah, dia lebih memilih meninggalkan anak dan istrinya.  Sejak mereka bercerai, Arif tidak pernah


menampakan batang hidungnya.


            Latar belakang kehidupannya inilah


yang membuat Elly lebih menyukai laki-laki yang usianya lebih jauh dari


dirinya.  Karena ia merindukan kasih


sayang seorang ayah.  Selain itu


laki-laki lebih tua cenderung lebih mapan.  Dan itu ia dapatkan pada Fauzan.  Elly sama sekali tidak perduli kalau Fauzan sudah menikah dan memiliki


dengan laki-laki bukan single.


            Fauzan itu baik banget, penyayang


lagi, apa adanya dan tidak pernah membohonginya. Hati kecilnya sih ingin


memiliki Fauzan seutuhnya, tapi dia cukup nyaman kok dengan kondisinya


sekarang. Semua yang ia inginkan selalu dipenuhi Fauzan. Selain itu, Fauzan


penopang hidupnya, karena sekarang ia dan Sisca tulang punggung keluarga, maka


kehadiran Fauzan sangat membantu.  Seluruh gajinya ia kirim ke ibunya dan hidupnya kini ditanggung Fauzan.


Makanya walaupun banyak senior di


kantor memperingati dirinya sih, dan sekarang hari-harinya pun menjadi topik gossip of the day, Elly nggak peduli.  Memangnya mereka bersedia menopang hidupnya,


memberikan apa yang Fauzan berikan untuknya?  Sudah banyak banget kok yang menyebut dirinya sebagai pelakor alias


perebut laki orang.  Perempuan cantik itu


wajar jadi omongan, dari dulu pun dia punya banyak lovers and haters nggak usah terlalu dipikirinlah. Tapi mungkin,


kalau dulu ibunya selalu bilang bahwa perempuan harus tampil cantik, mungkin

__ADS_1


buat Elly perempuan juga harus lebih cerdas supaya bisa menjaga asset yang


sudah dimiliki dan dirinya sendiri juga.  Fauzan telah membelikannya sebuah mobil, tentunya atas namanya.  Kira-kira Fauzan mampu nggak ya membelikannya


sebuah apartment?


“Hei bengong lagi?”  Ariana menegur Elly yang sedang


termenung.  “Elo nggak denger ya gue


ngomong ama lo?”


            “Eh sorry.  Elo ngomong apa?”


            “Elo nggak bosen jadi omongan orang


di kantor?”


            Elly tersenyum sinis. “Sudah kebal


gue, sudah biasa banget kalo cuma jadi omongan mah nggak ada apa-apanya.”  Resiko perempuan cantiklah.  Dari SMP dia sudah sering banget dibully


kakak-kakak kelas yang sirik dengan kecantikannya.  Kapan pun dan di manapun orang cantik pasti


ada hatersnya.  Namanya juga pada sirik.


            “Ly, elo nggak takut kalau tiba-tiba


istrinya Pak Fauzan tahu, terus elo dilabrak?”


            “Tenang, gue udah siapin senjata kok


untuk urusan begituan.  Kita main playing victimlah.”


            Ariana cuma bisa geleng-geleng. “Apa


sih yang buat elo mau kayak gini?”


            “Halo gue nggak ngejar dia lho, dia


yang datang ke gue, orangnya baik dan royal, gue salah apa?”


            “Elo sayang dia?”


            Elly cuma tersenyum.


            “Elo nggak takut?”


            “Takut apa?”


            “Laki-laki yang elo sayang suatu


saat diambil perempuan lain?”


            Elly tersenyum lagi.


            “Nurani elo di mana?”

__ADS_1


            Elly menujukkan kunci mobilnya. “Di


situ.” Jawabnya santai.


__ADS_2