
“Neng,
kita boleh aja nggak punya uang, tapi jangan pernah nggak punya lipstick.” Sang ibu selalu menekankan pada dirinya,
bahwa perempuan bagaimanapun harus pintar dandan, karena menjadi cantik banyak
jalan akan terbuka.
Setiap kali Elly berdandan, ia
selalu teringat pesan ibunya dulu, ketika ia menginjak remaja, saat ia masih
dibangku sekolah menengah. Dan
menurutnya ibunya sangat benar. Sejak dibangku SMA ia sangat menikmati
perhatian banyak laki-laki untuknya. Bahkan waktu SMA, seorang guru honorer pun ada yang nekat menyatakan
cinta padanya. Ya semua itu karena dia
cantik, dan tahu bagaimana memelihara kecantikannya.
Latar belakang keluarga Elly memang
agak complicated. Dia anak pertama memiliki dua adik. Ayah dan ibunya berpisah sejak dirinya
berusia tiga tahun. Dia pun memiliki dua
adik dari dua ayah yang berbeda. Setelah
berpisah dengan sang ayah, ibunya menikah lagi, tapi Elly tidak mendapatkan figure ayah dari para ayah
sambungnya. Karena mereka tidak selalu
ada bersama mereka. Para laki-laki itu
hanya menjadi suami ibunya tapi tidak menjadi ayah bagi Elly dan adik-adiknya. Dan sekarang sang ibu pun telah berpisah lagi
dengan laki-laki yang memberinya seorang adik laki-laki setelah lima tahun
bersama.
Sejarah berulang, seorang perempuan
datang marah-marah, menampar sang ibu, dan menyeret ayah tirinya pergi dari
rumah itu. Elly nggak kaget, sudah
pernah terjadi sebelumnya. Yah beginilah
sang ibu bertahan hidup dan membiayai dirinya dan adik-adiknya. Menjadi istri kedua dari para laki-laki kaya
yang membutuhkan kasih sayang lebih dari seorang istri. Kali ini mereka lebih beruntung, karena istri
pertama dari ayah tirinya jauh lebih baik. Karena melihat bahwa sang suami memiliki seorang anak, maka ia bersedia
membagi sedikit hartanya dengan membelikan sang ibu sebuah rumah, dan
__ADS_1
memberikan sejumlah uang untuk tunjangan hidup Delvin, adik bungsunya. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dulu
ketika sang ibu bersiteru dengan istri pertama dari ayahnya Siska (adik
keduanya). Sudahlah perempuan itu
berteriak-teriak histeris, memaki-maki, memukul ibunya bertubi-tubi tapi
akhirnya mereka pun harus terusir dari rumah yang dibeli laki-laki itu untuk
mereka. Tunjangan hidup untuk Sisca? Lupakan!
Pernah di satu malam, dalam
tangisnya sang ibu pernah bercerita, dari tiga laki-laki yang pernah
menikahinya, dia hanya benar-benar mencintai Arif, ayah Elly. Sayangnya Pak Arif itu ternyata kurang arif. Mereka menikah terlalu muda, sehingga ketika
Arif kehilangan arah, dia lebih memilih meninggalkan anak dan istrinya. Sejak mereka bercerai, Arif tidak pernah
menampakan batang hidungnya.
Latar belakang kehidupannya inilah
yang membuat Elly lebih menyukai laki-laki yang usianya lebih jauh dari
dirinya. Karena ia merindukan kasih
sayang seorang ayah. Selain itu
laki-laki lebih tua cenderung lebih mapan. Dan itu ia dapatkan pada Fauzan. Elly sama sekali tidak perduli kalau Fauzan sudah menikah dan memiliki
dengan laki-laki bukan single.
Fauzan itu baik banget, penyayang
lagi, apa adanya dan tidak pernah membohonginya. Hati kecilnya sih ingin
memiliki Fauzan seutuhnya, tapi dia cukup nyaman kok dengan kondisinya
sekarang. Semua yang ia inginkan selalu dipenuhi Fauzan. Selain itu, Fauzan
penopang hidupnya, karena sekarang ia dan Sisca tulang punggung keluarga, maka
kehadiran Fauzan sangat membantu. Seluruh gajinya ia kirim ke ibunya dan hidupnya kini ditanggung Fauzan.
Makanya walaupun banyak senior di
kantor memperingati dirinya sih, dan sekarang hari-harinya pun menjadi topik gossip of the day, Elly nggak peduli. Memangnya mereka bersedia menopang hidupnya,
memberikan apa yang Fauzan berikan untuknya? Sudah banyak banget kok yang menyebut dirinya sebagai pelakor alias
perebut laki orang. Perempuan cantik itu
wajar jadi omongan, dari dulu pun dia punya banyak lovers and haters nggak usah terlalu dipikirinlah. Tapi mungkin,
kalau dulu ibunya selalu bilang bahwa perempuan harus tampil cantik, mungkin
__ADS_1
buat Elly perempuan juga harus lebih cerdas supaya bisa menjaga asset yang
sudah dimiliki dan dirinya sendiri juga. Fauzan telah membelikannya sebuah mobil, tentunya atas namanya. Kira-kira Fauzan mampu nggak ya membelikannya
sebuah apartment?
“Hei bengong lagi?” Ariana menegur Elly yang sedang
termenung. “Elo nggak denger ya gue
ngomong ama lo?”
“Eh sorry. Elo ngomong apa?”
“Elo nggak bosen jadi omongan orang
di kantor?”
Elly tersenyum sinis. “Sudah kebal
gue, sudah biasa banget kalo cuma jadi omongan mah nggak ada apa-apanya.” Resiko perempuan cantiklah. Dari SMP dia sudah sering banget dibully
kakak-kakak kelas yang sirik dengan kecantikannya. Kapan pun dan di manapun orang cantik pasti
ada hatersnya. Namanya juga pada sirik.
“Ly, elo nggak takut kalau tiba-tiba
istrinya Pak Fauzan tahu, terus elo dilabrak?”
“Tenang, gue udah siapin senjata kok
untuk urusan begituan. Kita main playing victimlah.”
Ariana cuma bisa geleng-geleng. “Apa
sih yang buat elo mau kayak gini?”
“Halo gue nggak ngejar dia lho, dia
yang datang ke gue, orangnya baik dan royal, gue salah apa?”
“Elo sayang dia?”
Elly cuma tersenyum.
“Elo nggak takut?”
“Takut apa?”
“Laki-laki yang elo sayang suatu
saat diambil perempuan lain?”
Elly tersenyum lagi.
“Nurani elo di mana?”
__ADS_1
Elly menujukkan kunci mobilnya. “Di
situ.” Jawabnya santai.