
Hampir
setiap sore, Fauzan melakukan video call dengan anak-anaknya. Tapi dia sama
sekali belum melakukannya dengan Amanda. Dia kangen sebenarnya untuk ngobrol dengan Amanda, tapi dia tidak pernah
punya alasan untuk bisa melakukannya.
Pada sabtu sore, Fauzan ada di Plaza
Indonesia, bermaksud untuk reunian dengan teman-teman kuliahnya, tapi ternyata
dia datang terlalu cepat. Akhirnya dia
memutuskan untuk jalan-jalan dulu ke toko buku yang ada di sana. Fauzan berjalan pelan ketika dia melewati
novel bestseller Indonesia. Ada satu novel yang menjadi perhatiannya. Judul novel itu ‘Puber kedua’, Fauzan
tersenyum membacanya, apa yang bisa dibahas mengenai puber kedua? Aneh-aneh saja. Tapi kemudian dia tertarik melihat
penulisnya: Amanda. Kenapa seperti nama
istrinya? Jangan-jangan ini novelnya Amanda. Ia tahu sih memang Amanda punya hobby menulis cerita, tapi apa mungkin
dia punya waktu dengan melihat padatnya jadwal kerjanya di sana? Tergerak Fauzan untuk melihat novel itu lebih
teliti. Diamati buku itu, dilihat kolom
komentarnya, bahwa novel ini layak dibaca. Hm…. ok promosi yang baik. Fauzan
membuka halaman pertama ada sinopsisnya, Fauzan makin penasaran settingnya Brisbane. Akhirnya diputuskannya untuk membeli novel
itu. Fauzan juga bingung sih dengan
keputusannya, diakan nggak terlalu suka membaca novel. Tapi sudahlah, tiba-tiba saja tergerak ia
ingin memiliki buku itu. Fauzan pun
pergi ke kasir untuk membayar novel itu.
Ternyata terjadi kesalahpahaman di
grup WA teman-teman kuliahnya itu. Waktu
mereka bertemu itu pukul tujuh bukan pukul lima. Hadeuh… Fauzan bingung, mau ngapain dia dua
jam menunggu teman-temannya itu. Mau
membatalkan kok sayang, jarang-jarang mereka bisa bertemu.
Fauzan pun akhirnya memutuskan untuk
duduk manis di coffe shop yang ada di
dalam toko buku. Sepertinya coffe shop itu diperuntukkan untuk orang yang memang ingin membaca buku. Setelah memesan secangkir kopi, Fauzan pun
memutuskan untuk membaca novel yang baru dibelinya. Ketika membaca penulisnya adalah Amanda dan
settingnya di Brisbane, Fauzan agak gugup takutnya novel itu bercerita tentang
dirinya. Ternyata nggak kok, tentang
laki-laki yang mengalami puber kedua memang, dan membuat sang istri harus
berjuang sendiri di Brisbane demi anak-anaknya. Tetapi kasusnya sama sekali berbeda dengan apa yang dihadapinya. Semakin lama, Fauzan makin tertarik untuk
membaca novel itu. Walaupun kasusnya
berbeda dengan apa yang dihadapinya, tapi entah kenapa emosi yang disampaikan
penulis ini mampu sampai padanya. Fauzan
seakan merasakan apa yang dirasakan oleh sang penulis, kekecewaannya,
kesepiannya, kesedihannya, juga kemarahannya. Jelas sekali bahwa penulis ini wanita, ya dari nama saja juga sudah
terlihat, tapi tetap enak untuk dinikmati. Fauzan benar-benar merasa bahwa ia sedang membaca isi hati sang
istri. Lembar demi lembar ia baca dengan
tekun. Semakin ia membaca semakin larut
ia dalam emosi sang penulis. Benar-benar
ia merasakan kehadiran Amanda sang istri dalam novel ini. Dia semakin penasaran. Apakah novel ini
benar-benar tulisan Amanda?
“Kayak bini gue saja lu, baca novel
itu.” Tiba-tiba ada suara berat menyapanya. Spontan Fauzan mendongak. Ternyata Donny salah satu teman kuliah
menyapanya.
“Oh… bini lu, baca ini?”
“Tuh novel beken lagi. Best
seller gitu.” Donny duduk di hadapannya
sudah dengan secangkir kopi hitam.
“Oh ya?”
“Gara-gara tuh novel, bini gue
baper, wanti-wanti banget jangan sampe gue puber kedua.”
Fauzan tertawa. “Segitunya?” Dia pun menutup buku itu, dilanjutkan nanti saja
membacanya. “Pa kabar lu?”
“Baik… baik. Lu gimana?”
Fauzan mengangguk. “Ya gini-gini sajalah.”
“Puber kedua nggak lu?” Goda Donny
“Reseh lu!” Fauzan tertawa. Nggak
tahu dia, pikirnya dalam hati.
“Lagian, bacaannya novel perempuan
gitu.”
Fauzan tertawa saja. Dia juga bingung jawabnya. Dia melihat WA nya. “Anak-anak sudah pada datang nih. Ngumpulnya di lantai 2.” Dia mengalihkan
pembicaraan. “Jalan yuk!”
Mereka pun bergerak menuju tempat
berkumpul yang dimaksud.
Fauzan
baru bisa kembali membaca novel itu pada minggu pagi. Karena semalam dia pulang cukup malam. Bertemu dengan 11 orang laki-laki teman–teman
kuliahnya dulu memang sangat menyenangkan. Jarang sekali, bisa terkumpul segitu
banyak. Biasanya lima orang bisa ngumpul
saja sudah bagus. Sesekali berkumpul dengan teman lama memang menyenangkan, sebagai
pelepas kepenatan dan kejenuhan. Tapi
Fauzan penasaran dengan novel itu, makanya begitu ada waktu kosong, langsung
dia manfaatkan dengan membaca novel yang dibelinya kemarin. Di luar dari emosi dan kecurigaan akan sang
penulis, novel ini memang menarik. Konflik yang bisa saja terjadi oleh siapa saja. Bahasanya ringan tapi berkelas. Fauzan menikmati membaca novel itu. Tiga ratus halaman bisa ia tuntaskan hanya
dalam waktu dua jam. Fixed…dia benar-benar merasakan kehadiran
Amanda dalam setiap kata di novel itu. Maka ia mencoba untuk klarifikasi. Novel ini agak sedikit misterius, tidak ada informasi tentang penulis
sama sekali selain disebutkan nama penulisnya.
Fauzan me-photo novel itu, dan
dikirimnya photo itu ke Amanda via WA. [Manda, ini tulisan kamu?]
Fauzan menanti dengan cemas.
[Eh kamu dapat dari mana novel itu?]
Amanda menjawabnya 10 menit kemudian.
Waduh jadi benar dugaannya. [Jadi
benar ini tulisan kamu?]
[Iya.]
[Kamu hebat.]
[Kamu marah?]
[Sama sekali nggak. Aku cuma mau bilang kamu hebat.]
[Oh. Terima kasih.]
[Aku menemukan buku ini di bagian best seller.]
[Alhamdulilah,
penerbitnya juga bilang, buku itu cukup laku.]
[Selamat Amanda, aku bangga sama
kamu.]
__ADS_1
[Makasih.]
Pembicaraanpun selesai. Fauzan tak habis pikir, setelah melihat
padatnya kerja Amanda, belum lagi diapun harus mengurus anak-anak mereka,
Amanda masih mampu menelurkan satu karya yang dinikmati banyak orang. Fauzan benar-benar bangga, istrinya memang
perempuan yang hebat. Selain itu dia juga
bahagia. Akhirnya dia punya alasan untuk
bisa menyapa Amanda.
Semakin dia melihat kehebatan
Amanda, semakin Fauzan menyadari bahwa Amanda adalah perempuan yang
mandiri. Seakan-akan dia tidak
membutuhkan Fauzan dalam hidupnya. Seperti sekarang contohnya, ketidak hadiran Fauzan seperti tidak terjadi
apa-apa dengan Amanda dan anak-anaknya. Tidak terlihat sama sekali mereka menderita atau kekurang. Fauzan bahagia bahwa anaknya tidak kekurangan
apapun, tapi di saat yang sama dia jadi kehilangan kepercayaan diri, bahwa
ternyata dia tidak dibutuhkan, terutama untuk Amanda.
Seperti
biasanya Fauzan sedang bervideo call dengan Citra pada minggu sore, anak itu makin cerewet bercerita bahwa ia baru saja
pulang dari pesta ulang tahun temannya. Fauzan hanya tersenyum saja mendengar celoteh si bungsu.
“Ayah sudah dulu ya, aku lagi
sibuk.” Sepertinya Citra sudah bingung mau cerita apa lagi dengan ayahnya.
Tiba-tiba Fauzan ingat sesuatu. “Ayah boleh ngomong dulu sama ibu?”
“Oh Ok…” Citra pun bergerak mencari
sang ibu. Telepon genggam pun pindah ke
tangan Amanda.
“Ada apa?” Tanya Amanda, tumben sih Fauzan mau bicara
dengannya.
“Ini, aku kayaknya pengen jual Yarris
nya deh. Menurut kamu gimana?”
“Oh ya terserah saja.” Amanda agak
bingung kenapa Fauzan Tanya dia.
“Masalahnya dua mobil buat apa
juga.” Fauzan memberikan alasan.
“Terserah kamu saja.” Dalam hati Amanda, apa Fauzan butuh uang
hingga harus menjual asset mereka?
“Oh ok deh, makasih ya.”
Amanda tersenyum. “Thanks for asking. Oh ya by the way, dua minggu lagi kita balik
ke Jakarta, back for good. Nunggu ijasah Bimo
keluar saja.”
“Oh ya? Nanti aku jemput ya!”
“Ok. Nanti aku kabarin lagi
penerbangannya ya.”
“Sip. Aku tunggu.”
Pertengahan
Desember, sesuai rencana, Amanda, Bimo dan Citra pulang ke Indonesia, Amanda
telah menyelesaikan program post-doc dengan dengan output melebih
target. Membuat tim dan supervisornya
gembira.
Fauzan menjemput mereka sore
itu. Mereka makan malam dan sholat
magrib dulu di airport, khawatir di perjalanan akan macet.
berdua. “Kita pulang ke rumah kan?” Fauzan bertanya ragu-ragu.
Amanda tersenyum dan
menggeleng. “Aku sudah menghubungi Nisa,
dia setuju untuk menyewakan apartemennya lagi, aku dan anak-anak akan tinggal
di sana sampai aku menemukan rumah untuk dibeli.”
Fauzan menghela nafas. “Kamu berhak tinggal di rumah itu, itu rumah
kamu juga. Kalau memang harus pergi,
biar aku saja.”
Amanda tersenyum. “Nggak usah dibahas ya, aku sudah terusir. Nggak mungkin aku balik ke sana, terlalu
menyakitkan.”
Fauzan hanya mengangguk menyerah
untuk setuju akan keputusan Amanda.
Ketika
mereka memasuki mobil. Ketiganya
terheran-heran kok mereka naik mobil baru.
“Mobil baru yah?” akhirnya Bimo bertanya
karena penasaran.
“Gimana, bagus nggak?” Fauzan
tersenyum. Mereka memasuki Rush hitam
keluaran terbaru.
“Bagus sih…” Bimo mengamati.
Citra dan Amanda hanya diam sambil
mengamati mobil baru Fauzan.
“Kenapa beli mobil baru yah?” Bimo penasaran.
“Karena mobil kitakan manual semua,
ini matik.”
“Memang kenapa kalau manual?” Bimo
makin heran.
“Ibu nanti nggak bisa pakai. Ini kan mobil ibu.” Jawab Fauzan mantap.
“Kok mobil aku?” Amanda yang
bingung.
Fauzan menatap Amanda dengan pandangan
teduh dan penuh harap Amanda mau menerimanya. “Iya, ini punya kamu, kamu dan
anak-anak butuh mobil.”
Semua terdiam. Fauzan pun mulai mengemudikan mobil baru itu,
perlahan membawa mereka meninggalkan bandara.
Apartment
milik Nisa memang fully furnished jadi memang mereka cukup membawa pakaian dan keperluan pribadi. Mereka menempati apartemen yang sama sebelum
mereka meninggalkan Jakarta dua tahun yang lalu. Sehingga, seperti Deja vu Citra dan Bimo sudah tahu di mana kamar mereka. Maka begitu memasuki unit tersebut, mereka
langsung tahu apa yang mereka lakukan. Bimo langsung sibuk menata pakaiannya di kamarnya, sedangkan Citra sibuk
dengan menata mainannya.
Tinggal Fauzan dan Amanda duduk
berdua di ruang tengah.
“Ini kunci mobilnya.” Fauzan menyerahkan
kunci mobil baru itu pada Amanda, diapun menyerahkan surat-surat penting
seperti STNK dan BPKB. “Jangan khawatir,
aku beli mobil ini cash kok. Dari bonus tahunan aku dan hasil jual Yarris.”
__ADS_1
Fauzan tersenyum.
Amanda membalas senyuman itu, dan
membiarkan surat-surat itu tergeletak begitu saja di meja. “Terima kasih ya.”
Fauzan mengangguk. “Kamu nggak keberatankan kalau tiap hari aku
akan ke sini ketemu anak-anak?”
“Sama sekali nggaklah. Kita kan nggak musuhan.”
Fauzan tersenyum. “Kita memang harus
bicara banyak. Tapi nggak harus
sekarang. Besok saja, kamu masih lelah.”
Amanda hanya tersenyum.
“Rencananya kamu mau beli rumah di
mana?”
Amanda menggeleng. “Kayaknya kebelinya cuma apartemen deh,
karena aku lebih mengutamakan yang deket-deket sini saja. Tapi lihat nantilah,
sesuai budget saja. Aku nggak pengen
tergesa-gesa sih, makanya aku bilang sama Nisa, nyewa ini enam bulan.”
Fauzan mengangguk mengerti. “Aku
pulang ya.” Dia pun beranjak.
“Mobilnya nggak dibawa?”
“Itu punya kamu. Aku naik taksi saja.” Fauzan bergerak pulang.
Keesokan
harinya Fauzan datang lagi ke unit itu. Amanda membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Kok sepi?”
“Bimo lagi pergi ketemu temen-temen
lamanya, Citra lagi tidur siang.”
Fauzan pun duduk di ruang tengah.
Amanda langsung ke dapur membuatkan
kopi untuk Fauzan, tak lama, dia kembali ke ruang tengah dan meletakkan
secangkir kopi di hadapan Fauzan.
“Si Bimo sudah nggak sabar tuh
pengen punya SIM, gara-gara kamu beliin mobil baru.”
“Ya bikinlah, mumpung dia juga masih
punya banyak waktukan, kamu juga belum punya SIM sini ya?”
Amanda mengangguk.
“Ya sudah kapan kalian mau bikin,
nanti aku antar, kamu belum aktif lagi ngajarkan?”
Amanda menggeleng. “Istirahat dululah,
nanggung juga Desember gini. Aku lapor
dirinya tahun depan saja.”
“Ya lumayan bisa istirahat dua
minggu.”
Amanda tersenyum setuju.
Sepintas keduanya terdiam. Tapi terlihat Fauzan ingin bicara
serius. Amanda diam menanti kelanjutan
apa yang ingin di sampaikan Fauzan.
“Manda, sebelumnya aku mau bilang
aku cinta kamu, sangat cinta kamu. Ini
berat untuk aku, tapi aku harus ambil keputusan ini.”
Mendengar itu, perasaan Amanda nggak
enak. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Benar saja, Fauzan mengeluarkan
sebuah dokumen. Judul dokumen itu adalah
‘Akta Cerai’. Amanda syok membacanya.
“Kamu mau nikah lagi?”
Fauzan menggeleng mantap. “Aku sudah putus sama Elly.”
Amanda bingung, dia menunjukkan wajah
herannya.
“Aku hanya merasa sangat bersalah
pada kamu. Aku telah mengabaikan kamu
terlalu lama. Semakin aku membuat kamu
terombang-ambing semakin tidak adil untuk kamu.”
Amanda masih nggak paham maksud
Fauzan.
Fauzan menghela nafas, matanya mulai
berkaca-kaca “Aku melepasmu untuk bahagia Manda, suatu saat kamu akan bertemu
laki-laki yang jauh lebih baik dari aku.”
“Aku nggak berniat mencari laki-laki
lain.” Amanda benar-benar nggak paham dengan jalan fikiran Fauzan.
“Aku tahu itu. Tapi nggak ada yang
pernah tahu kapan jodoh itu datang. Kamu
berhak bahagia Manda.”
“Aku nggak paham. Tapi terserah kamulah.” Amanda pasrah.
“Kamu harus tahu, aku sangat cinta
kamu.”
“Kalau kamu cinta aku, kenapa
ceraikan aku?”
“Karena aku sudah nggak adil sama
kamu.”
“Kamu cukup minta maaf Fauzan, bukan
ceraikan aku.” Amanda benar-benar menangis.
Fauzan juga nangis. Dia menggeleng.
“Itu terlalu mudah. Aku akan kembali
menyakiti kamu, kalau aku nggak tahu arti kehilangan.”
Amanda paham. Tapi dia masih menangis. Kok gini amat ya, ternyata badai dalam
hidupnya masih belum berakhir.
Fauzan memeluk Amanda. “Kalau nanti
kamu nggak menemukan laki-laki yang tepat, kamu kembali ke aku ya, aku akan
tunggu kamu!”
Amanda hanya diam, dia masih
menangis. Mencoba sepelan mungkin agar Citra tidak terbangun.
Bahasa tubuh Fauzan meminta ijin
Amanda agar dia boleh mencium bibir Amanda. Amanda pun mengijinkannya. Terakhir… untuk terakhir kalinya. Setelahnya Fauzan pun kembali memeluknya.
Dua tahun Manda, hanya dua tahun
yang aku berikan padamu untuk mencari cinta baru. Apabila itu tidak terjadi, aku akan berjuang
membuatmu kembali. Janji Fauzan dalam
hati. Dia semakin mendekapkan pelukannya
__ADS_1
pada Amanda.