Life After Forty

Life After Forty
Episode 8 melepasmu untuk bahagia


__ADS_3

Hampir


setiap sore, Fauzan melakukan video call dengan anak-anaknya.  Tapi dia sama


sekali belum melakukannya dengan Amanda.  Dia kangen sebenarnya untuk ngobrol dengan Amanda, tapi dia tidak pernah


punya alasan untuk bisa melakukannya.


            Pada sabtu sore, Fauzan ada di Plaza


Indonesia, bermaksud untuk reunian dengan teman-teman kuliahnya, tapi ternyata


dia datang terlalu cepat.  Akhirnya dia


memutuskan untuk jalan-jalan dulu ke toko buku yang ada di sana.  Fauzan berjalan pelan ketika dia melewati


novel bestseller Indonesia.  Ada satu novel yang menjadi perhatiannya.  Judul novel itu ‘Puber kedua’, Fauzan


tersenyum membacanya, apa yang bisa dibahas mengenai puber kedua? Aneh-aneh saja.  Tapi kemudian dia tertarik melihat


penulisnya: Amanda.  Kenapa seperti nama


istrinya? Jangan-jangan ini novelnya Amanda.  Ia tahu sih memang Amanda punya hobby menulis cerita, tapi apa mungkin


dia punya waktu dengan melihat padatnya jadwal kerjanya di sana?  Tergerak Fauzan untuk melihat novel itu lebih


teliti.  Diamati buku itu, dilihat kolom


komentarnya, bahwa novel ini layak dibaca.  Hm…. ok promosi yang baik.  Fauzan


membuka halaman pertama ada sinopsisnya, Fauzan makin penasaran settingnya Brisbane.  Akhirnya diputuskannya untuk membeli novel


itu.  Fauzan juga bingung sih dengan


keputusannya, diakan nggak terlalu suka membaca novel.  Tapi sudahlah, tiba-tiba saja tergerak ia


ingin memiliki buku itu.  Fauzan pun


pergi ke kasir untuk membayar novel itu.


            Ternyata terjadi kesalahpahaman di


grup WA teman-teman kuliahnya itu.  Waktu


mereka bertemu itu pukul tujuh bukan pukul lima.  Hadeuh… Fauzan bingung, mau ngapain dia dua


jam menunggu teman-temannya itu.  Mau


membatalkan kok sayang, jarang-jarang mereka bisa bertemu.


            Fauzan pun akhirnya memutuskan untuk


duduk manis di coffe shop yang ada di


dalam toko buku. Sepertinya coffe shop itu diperuntukkan untuk orang yang memang ingin membaca buku.  Setelah memesan secangkir kopi, Fauzan pun


memutuskan untuk membaca novel yang baru dibelinya.  Ketika membaca penulisnya adalah Amanda dan


settingnya di Brisbane, Fauzan agak gugup takutnya novel itu bercerita tentang


dirinya.  Ternyata nggak kok, tentang


laki-laki yang mengalami puber kedua memang, dan membuat sang istri harus


berjuang sendiri di Brisbane demi anak-anaknya.  Tetapi kasusnya sama sekali berbeda dengan apa yang dihadapinya.  Semakin lama, Fauzan makin tertarik untuk


membaca novel itu.  Walaupun kasusnya


berbeda dengan apa yang dihadapinya, tapi entah kenapa emosi yang disampaikan


penulis ini mampu sampai padanya.  Fauzan


seakan merasakan apa yang dirasakan oleh sang penulis, kekecewaannya,


kesepiannya, kesedihannya, juga kemarahannya.  Jelas sekali bahwa penulis ini wanita, ya dari nama saja juga sudah


terlihat, tapi tetap enak untuk dinikmati.  Fauzan benar-benar merasa bahwa ia sedang membaca isi hati sang


istri.  Lembar demi lembar ia baca dengan


tekun.  Semakin ia membaca semakin larut


ia dalam emosi sang penulis.  Benar-benar


ia merasakan kehadiran Amanda sang istri dalam novel ini.  Dia semakin penasaran. Apakah novel ini


benar-benar tulisan Amanda?


            “Kayak bini gue saja lu, baca novel


itu.” Tiba-tiba ada suara berat menyapanya. Spontan Fauzan mendongak.  Ternyata Donny salah satu teman kuliah


menyapanya.


            “Oh… bini lu, baca ini?”


            “Tuh novel beken lagi.  Best


seller gitu.”  Donny duduk di hadapannya


sudah dengan secangkir kopi hitam.


            “Oh ya?”


            “Gara-gara tuh novel, bini gue


baper, wanti-wanti banget jangan sampe gue puber kedua.”


            Fauzan tertawa. “Segitunya?”  Dia pun menutup buku itu, dilanjutkan nanti saja


membacanya.  “Pa kabar lu?”


            “Baik… baik.  Lu gimana?”


            Fauzan mengangguk.  “Ya gini-gini sajalah.”


            “Puber kedua nggak lu?”  Goda Donny


            “Reseh lu!” Fauzan tertawa. Nggak


tahu dia, pikirnya dalam hati.


            “Lagian, bacaannya novel perempuan


gitu.”


            Fauzan tertawa saja.  Dia juga bingung jawabnya.  Dia melihat WA nya.  “Anak-anak sudah pada datang nih.  Ngumpulnya di lantai 2.” Dia mengalihkan


pembicaraan.  “Jalan yuk!”


            Mereka pun bergerak menuju tempat


berkumpul yang dimaksud.


Fauzan


baru bisa kembali membaca novel itu pada minggu pagi.  Karena semalam dia pulang cukup malam.  Bertemu dengan 11 orang laki-laki teman–teman


kuliahnya dulu memang sangat menyenangkan. Jarang sekali, bisa terkumpul segitu


banyak.  Biasanya lima orang bisa ngumpul


saja sudah bagus. Sesekali berkumpul dengan teman lama memang menyenangkan, sebagai


pelepas kepenatan dan kejenuhan.  Tapi


Fauzan penasaran dengan novel itu, makanya begitu ada waktu kosong, langsung


dia manfaatkan dengan membaca novel yang dibelinya kemarin.  Di luar dari emosi dan kecurigaan akan sang


penulis, novel ini memang menarik.  Konflik yang bisa saja terjadi oleh siapa saja.  Bahasanya ringan tapi berkelas.  Fauzan menikmati membaca novel itu.  Tiga ratus halaman bisa ia tuntaskan hanya


dalam waktu dua jam.  Fixed…dia benar-benar merasakan kehadiran


Amanda dalam setiap kata di novel itu.  Maka ia mencoba untuk klarifikasi.  Novel ini agak sedikit misterius, tidak ada informasi tentang penulis


sama sekali selain disebutkan nama penulisnya.


            Fauzan me-photo novel itu, dan


dikirimnya photo itu ke Amanda via WA. [Manda, ini tulisan kamu?]


            Fauzan menanti dengan cemas.


            [Eh kamu dapat dari mana novel itu?]


Amanda menjawabnya 10 menit kemudian.


            Waduh jadi benar dugaannya. [Jadi


benar ini tulisan kamu?]


            [Iya.]


            [Kamu hebat.]


            [Kamu marah?]


            [Sama sekali nggak.  Aku cuma mau bilang kamu hebat.]


            [Oh. Terima kasih.]


            [Aku menemukan buku ini di bagian best seller.]


            [Alhamdulilah,


penerbitnya juga bilang, buku itu cukup laku.]


            [Selamat Amanda, aku bangga sama


kamu.]

__ADS_1


            [Makasih.]


            Pembicaraanpun selesai.  Fauzan tak habis pikir, setelah melihat


padatnya kerja Amanda, belum lagi diapun harus mengurus anak-anak mereka,


Amanda masih mampu menelurkan satu karya yang dinikmati banyak orang.  Fauzan benar-benar bangga, istrinya memang


perempuan yang hebat.  Selain itu dia juga


bahagia.  Akhirnya dia punya alasan untuk


bisa menyapa Amanda.


            Semakin dia melihat kehebatan


Amanda, semakin Fauzan menyadari bahwa Amanda adalah perempuan yang


mandiri.  Seakan-akan dia tidak


membutuhkan Fauzan dalam hidupnya.  Seperti sekarang contohnya, ketidak hadiran Fauzan seperti tidak terjadi


apa-apa dengan Amanda dan anak-anaknya.  Tidak terlihat sama sekali mereka menderita atau kekurang.  Fauzan bahagia bahwa anaknya tidak kekurangan


apapun, tapi di saat yang sama dia jadi kehilangan kepercayaan diri, bahwa


ternyata dia tidak dibutuhkan, terutama untuk Amanda.


Seperti


biasanya Fauzan sedang bervideo call dengan Citra pada minggu sore, anak itu makin cerewet bercerita bahwa ia baru saja


pulang dari pesta ulang tahun temannya.  Fauzan hanya tersenyum saja mendengar celoteh si bungsu.


            “Ayah sudah dulu ya, aku lagi


sibuk.” Sepertinya Citra sudah bingung mau cerita apa lagi dengan ayahnya.


            Tiba-tiba Fauzan ingat sesuatu.  “Ayah boleh ngomong dulu sama ibu?”


            “Oh Ok…” Citra pun bergerak mencari


sang ibu.  Telepon genggam pun pindah ke


tangan Amanda.


            “Ada apa?”  Tanya Amanda, tumben sih Fauzan mau bicara


dengannya.


            “Ini, aku kayaknya pengen jual Yarris


nya deh.  Menurut kamu gimana?”


            “Oh ya terserah saja.” Amanda agak


bingung kenapa Fauzan Tanya dia.


            “Masalahnya dua mobil buat apa


juga.” Fauzan memberikan alasan.


            “Terserah kamu saja.”  Dalam hati Amanda, apa Fauzan butuh uang


hingga harus menjual asset mereka?


            “Oh ok deh, makasih ya.”


            Amanda tersenyum. “Thanks for asking. Oh ya by the way, dua minggu lagi kita balik


ke Jakarta, back for good.  Nunggu ijasah Bimo


keluar saja.”


            “Oh ya? Nanti aku jemput ya!”


            “Ok. Nanti aku kabarin lagi


penerbangannya ya.”


            “Sip. Aku tunggu.”


Pertengahan


Desember, sesuai rencana, Amanda, Bimo dan Citra pulang ke Indonesia, Amanda


telah menyelesaikan program post-doc dengan dengan output melebih


target.  Membuat tim dan supervisornya


gembira.


            Fauzan menjemput mereka sore


itu.  Mereka makan malam dan sholat


magrib dulu di airport, khawatir di perjalanan akan macet.


berdua.  “Kita pulang ke rumah kan?”  Fauzan bertanya ragu-ragu.


            Amanda tersenyum dan


menggeleng.  “Aku sudah menghubungi Nisa,


dia setuju untuk menyewakan apartemennya lagi, aku dan anak-anak akan tinggal


di sana sampai aku menemukan rumah untuk dibeli.”


            Fauzan menghela nafas.  “Kamu berhak tinggal di rumah itu, itu rumah


kamu juga.  Kalau memang harus pergi,


biar aku saja.”


            Amanda tersenyum.  “Nggak usah dibahas ya, aku sudah terusir.  Nggak mungkin aku balik ke sana, terlalu


menyakitkan.”


            Fauzan hanya mengangguk menyerah


untuk setuju akan keputusan Amanda.


Ketika


mereka memasuki mobil.  Ketiganya


terheran-heran kok mereka naik mobil baru.


            “Mobil baru yah?” akhirnya Bimo bertanya


karena penasaran.


            “Gimana, bagus nggak?” Fauzan


tersenyum.  Mereka memasuki Rush hitam


keluaran terbaru.


            “Bagus sih…” Bimo mengamati.


            Citra dan Amanda hanya diam sambil


mengamati mobil baru Fauzan.


            “Kenapa beli mobil baru yah?” Bimo penasaran.


            “Karena mobil kitakan manual semua,


ini matik.”


            “Memang kenapa kalau manual?” Bimo


makin heran.


            “Ibu nanti nggak bisa pakai.  Ini kan mobil ibu.”  Jawab Fauzan mantap.


            “Kok mobil aku?” Amanda yang


bingung.


            Fauzan menatap Amanda dengan pandangan


teduh dan penuh harap Amanda mau menerimanya. “Iya, ini punya kamu, kamu dan


anak-anak butuh mobil.”


            Semua terdiam.  Fauzan pun mulai mengemudikan mobil baru itu,


perlahan membawa mereka meninggalkan bandara.


Apartment


milik Nisa memang fully furnished jadi memang mereka cukup membawa pakaian dan keperluan pribadi.  Mereka menempati apartemen yang sama sebelum


mereka meninggalkan Jakarta dua tahun yang lalu.  Sehingga, seperti Deja vu Citra dan Bimo sudah tahu di mana kamar mereka.  Maka begitu memasuki unit tersebut, mereka


langsung tahu apa yang mereka lakukan.  Bimo langsung sibuk menata pakaiannya di kamarnya, sedangkan Citra sibuk


dengan menata mainannya.


            Tinggal Fauzan dan Amanda duduk


berdua di ruang tengah.


            “Ini kunci mobilnya.” Fauzan menyerahkan


kunci mobil baru itu pada Amanda, diapun menyerahkan surat-surat penting


seperti STNK dan BPKB.  “Jangan khawatir,


aku beli mobil ini cash kok.  Dari bonus tahunan aku dan hasil jual Yarris.”

__ADS_1


Fauzan tersenyum.


            Amanda membalas senyuman itu, dan


membiarkan surat-surat itu tergeletak begitu saja di meja. “Terima kasih ya.”


            Fauzan mengangguk.  “Kamu nggak keberatankan kalau tiap hari aku


akan ke sini ketemu anak-anak?”


            “Sama sekali nggaklah.  Kita kan nggak musuhan.”


            Fauzan tersenyum. “Kita memang harus


bicara banyak.  Tapi nggak harus


sekarang.  Besok saja, kamu masih lelah.”


            Amanda hanya tersenyum.


            “Rencananya kamu mau beli rumah di


mana?”


            Amanda menggeleng.  “Kayaknya kebelinya cuma apartemen deh,


karena aku lebih mengutamakan yang deket-deket sini saja. Tapi lihat nantilah,


sesuai budget saja.  Aku nggak pengen


tergesa-gesa sih, makanya aku bilang sama Nisa, nyewa ini enam bulan.”


            Fauzan mengangguk mengerti. “Aku


pulang ya.” Dia pun beranjak.


            “Mobilnya nggak dibawa?”


            “Itu punya kamu.  Aku naik taksi saja.”  Fauzan bergerak pulang.


Keesokan


harinya Fauzan datang lagi ke unit itu.  Amanda membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.


            “Kok sepi?”


            “Bimo lagi pergi ketemu temen-temen


lamanya, Citra lagi tidur siang.”


            Fauzan pun duduk di ruang tengah.


            Amanda langsung ke dapur membuatkan


kopi untuk Fauzan, tak lama, dia kembali ke ruang tengah dan meletakkan


secangkir kopi di hadapan Fauzan.


            “Si Bimo sudah nggak sabar tuh


pengen punya SIM, gara-gara kamu beliin mobil baru.”


            “Ya bikinlah, mumpung dia juga masih


punya banyak waktukan, kamu juga belum punya SIM sini ya?”


            Amanda mengangguk.


            “Ya sudah kapan kalian mau bikin,


nanti aku antar, kamu belum aktif lagi ngajarkan?”


            Amanda menggeleng. “Istirahat dululah,


nanggung juga Desember gini.  Aku lapor


dirinya tahun depan saja.”


            “Ya lumayan bisa istirahat dua


minggu.”


            Amanda tersenyum setuju.


            Sepintas keduanya terdiam.  Tapi terlihat Fauzan ingin bicara


serius.  Amanda diam menanti kelanjutan


apa yang ingin di sampaikan Fauzan.


            “Manda, sebelumnya aku mau bilang


aku cinta kamu, sangat cinta kamu.  Ini


berat untuk aku, tapi aku harus ambil keputusan ini.”


            Mendengar itu, perasaan Amanda nggak


enak.  Sesuatu yang buruk akan terjadi.


            Benar saja, Fauzan mengeluarkan


sebuah dokumen.  Judul dokumen itu adalah


‘Akta Cerai’. Amanda syok membacanya.


            “Kamu mau nikah lagi?”


            Fauzan menggeleng mantap.  “Aku sudah putus sama Elly.”


            Amanda bingung, dia menunjukkan wajah


herannya.


            “Aku hanya merasa sangat bersalah


pada kamu.  Aku telah mengabaikan kamu


terlalu lama.  Semakin aku membuat kamu


terombang-ambing semakin tidak adil untuk kamu.”


            Amanda masih nggak paham maksud


Fauzan.


            Fauzan menghela nafas, matanya mulai


berkaca-kaca “Aku melepasmu untuk bahagia Manda, suatu saat kamu akan bertemu


laki-laki yang jauh lebih baik dari aku.”


            “Aku nggak berniat mencari laki-laki


lain.” Amanda benar-benar nggak paham dengan jalan fikiran Fauzan.


            “Aku tahu itu. Tapi nggak ada yang


pernah tahu kapan jodoh itu datang.  Kamu


berhak bahagia Manda.”


            “Aku nggak paham.  Tapi terserah kamulah.”  Amanda pasrah.


            “Kamu harus tahu, aku sangat cinta


kamu.”


            “Kalau kamu cinta aku, kenapa


ceraikan aku?”


            “Karena aku sudah nggak adil sama


kamu.”


            “Kamu cukup minta maaf Fauzan, bukan


ceraikan aku.” Amanda benar-benar menangis.


            Fauzan juga nangis. Dia menggeleng.


“Itu terlalu mudah.  Aku akan kembali


menyakiti kamu, kalau aku nggak tahu arti kehilangan.”


            Amanda paham.  Tapi dia masih menangis.  Kok gini amat ya, ternyata badai dalam


hidupnya masih belum berakhir.


            Fauzan memeluk Amanda. “Kalau nanti


kamu nggak menemukan laki-laki yang tepat, kamu kembali ke aku ya, aku akan


tunggu kamu!”


            Amanda hanya diam, dia masih


menangis. Mencoba sepelan mungkin agar Citra tidak terbangun.


            Bahasa tubuh Fauzan meminta ijin


Amanda agar dia boleh mencium bibir Amanda.  Amanda pun mengijinkannya.  Terakhir… untuk terakhir kalinya.  Setelahnya Fauzan pun kembali memeluknya.


            Dua tahun Manda, hanya dua tahun


yang aku berikan padamu untuk mencari cinta baru.  Apabila itu tidak terjadi, aku akan berjuang


membuatmu kembali.  Janji Fauzan dalam


hati.  Dia semakin mendekapkan pelukannya

__ADS_1


pada Amanda.


__ADS_2