Life After Forty

Life After Forty
Episode 17 Galau


__ADS_3

Karier


Monrue di dunia enternainment Indonesia memang sudah lama establish.  Sehingga yang dilakukan hanya menjaga eksistensinya


saja. Tidak perlu lagi roadshow yang


panjang dan lama keliling Indonesia. Saat ini Monrue pekerjaan Monrue adalah


menelurkan single secara


berkesinambungan, kadang-kadang membantu artis baru membuat karya mereka, jadi


bintang tamu di TV dan menerima undangan off


air di berbagai daerah.  Beberapa


kali dia juga main film tapi itu bukan karier utamanya, sekali lagi hanya


berfungsi untuk menjaga eksistensinya saja.  Dari itu, setiap bulannya dia hanya akan keluar kota 4-5 kali,


kadang-kadang keluar negeri juga sih.  Tergantung undanganlah.  Biar


begitu ratusan juta masih masuk ke dalam rekeningnya secara rutin.  Monrue pun sudah mulai expand dengan belajar berbisnis dengan membuka dua restorant dan


satu fitness center.


            Ketika Monrue memang sudah tinggal


di rumah Amanda, sejak peristiwa Bali, Monrue berkeras menjadi suami yang


sesungguhnya.  Dia mulai rutin menafkahi


Amanda secara material, berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga


kecilnya.  Walaupun Amanda pun mengatakan


anak-anaknya adalah tanggung jawab Fauzan, tapi Monrue tetap ingin punya


kontribusi terhadap anak-anak Amanda, karena ia pun telah jatuh sayang pada


mereka.  Bimo memang lebih seperti teman


untuknya, tapi Citra bagai pelipur laranya yang begitu kangen Amira.  Sean pun cukup sering main bersama dengan


keluaga itu, karena memang Sean juga orang yang mudah beradaptasi, dia sangat


bahagia punya kakak dan adik, karena di tempat ibunya pun ia anak tunggal,


walaupun sang ibu juga telah nikah lagi.  Dan Sean memang belum sekalipun bertemu dengan Amira.


            Bimo telah lulus S1, dia mendapatkan


nilai yang membanggakan.  Jauh-jauh hari


sebelum dia wisuda dia menanyakan kemungkinan untuk bisa langsung mengambil


S2.  Amanda mendukungnya dan


menyatakannya kesanggupannya secara financial.  Karena memang dia sudah menyiapkan tabungan pendidikan untuk Bimo begitu


mendapatkan rejeki yang lancar.  Fauzan


sang ayah pun menyanggupi kalau memang Bimo ingin sekolah lagi.  Maka, tak lama ia wisuda, berangkatlah Bimo


ke Belanda seorang diri untuk melanjutkan pendidikannya.  Monrue salut dengan semangat keluarga ini


untuk sekolah.  Dibandingkan dirinya,


menyelesaikan S1 saja rasanya mau pecah kepalanya.


            Citra sekarang telah tumbuh menjadi


remaja yang cantik.  Dia sudah dibangku


SMP sekarang.  Cara Fauzan menyayangi


anak gadisnya sudah berbeda sekarang.  Tidak ada lagi pangkuan manja dari si cantik. Citra tumbuh menjadi anak


yang periang.  Agak berbeda dengan Bimo,


Citra sepertinya tidak terlalu suka bidang akademik.  Apalagi setelah ada Monrue di dalam


keluarganya, Citra jadi terinspirasi untuk jadi artis.  Sepertinya sang bunda kurang setuju dengan


keinginannya.  Bagi Amanda, pendidikan


dulu, setelah ia menempuh batas minimum, silahkan memutuskan ia mau jadi apa.


Tapi… Amanda masih berharap Citra akan berubah fikiran setelah nanti ia dewasa


sih. Saat ini Fauzan lebih extra ketat menjaga putri kesayangannya.  Jagain anak gadis euy… berat ini.


Amanda baru saja


mendapat kabar dari production house tempat dia bernaung, bahwa salah satu skenario filmnya akan mulai


produksi.  Monrue akan menjadi pemeran utama


laki-lakinya.  Amanda nggak terlalu kaget


sih, sebenarnya ketika dia berimaginasi tentang sosok laki-laki dalam skrip


itu, memang wujud fisiknya seperti Monrue, ya karena memang hari-harinya


bersama Monrue.  Walaupun dia sama sekali


tidak memberi clue pada pihak


produser siapa yang baik memerankan peran utama prianya.  Nah, yang bikin Amanda galau adalah pemeran

__ADS_1


utama wanitanya adalah Maharani Diva, artis cantik yang sudah lama wara-wiri di


kehidupan selebriti Indonesia.  Bukan itu


masalahnya, yang jadi masalah untuk Amanda adalah perempuan itu cinta pertama


Monrue.  Jauh sebelum Monrue menikah


dengan ibunya Sean.  Amanda kesel dan


cemburu.  Tapi dia nggak mungkin marah


dan meminta pihak rumah produksi untuk mengganti pemeran utama wanitanya.  Yah bukan wewenang dialah.


            Monrue jadi kebingungan, dulu memang


Amanda yang memintanya ikut casting.


Dia sih seneng-seneng saja, memainkan film buatan sang istri, dan nggak nyangka


dengan reaksi Amanda yang cemburu begitu tahu lawan mainnya.  Ya gimana dong, dia kan harus professional,


bukan dia kok yang merekomendasikan pemeran utama wanitanya.  Bahkan, Monrue sudah puluhan tahun nggak


ketemu dengan Maharani Diva itu, walau mereka berkecimpung dalam dunia yang


sama.


            Rumah produksi itu justru


memanfaatkan momen itu sebagai sarana promosi, di mana film ini merupakan wadah


mereka reuni.  Hadeuh… Amanda makin


emosi, karyanya dipakai untuk sang suami reuni sama mantan pacar coba? Amanda


sampai nangis karena begitu fustasi.


            Monrue berusaha menenangkan Amanda


dengan mengajaknya dalam setiap proses produksi film itu.  Misalnya saat reading dan syuting. Nah


itu masalahnya, jadwal sudah keluar, dan ternyata bersamaan dengan Amanda yang


harus ke Norwegia selama tiga bulan karena dia mendapatkan award sebagai visiting


lecture di salah satu Universitas di sana.  Hadeuh… pusingkan?


            Yang pusing Monrue.  Mencoba menenangkan sang istri dan juga


berusaha untuk professional.  Mumpung


produksi belum dimulai, apa dia mengundurkan diri saja ya dari film itu?  Akhirnya Amanda menyerah, dia memilih untuk


pasrah.  Tapi wanti-wanti banget pada


Monrue untuk tidak macam-macam.  Monrue pun


hubungannya.


            Dari kejauhan Fauzan memperhatikan


konflik itu.  Ada apa dengan Amanda,


kenapa sekarang dia menjadi begitu pecemburu?  Ini bukan Amanda yang dia kenal.  Fauzan jadi makin sedih, rupanya Amanda memang begitu mencintai Monrue.


Amanda nggak pernah cemburu terhadap dirinya ketika mereka masih bersama.  Tujuh belas tahun lho Amanda jadi miliknya,


nggak pernah sekalipun Amanda menunjukan kalau dia cemburu.  Walaupun dengannya Amanda pun hangat dan


penyayang.  Fauzan nggak sanggup, tidak


seperti biasanya dia selalu pamit apabila akan keluar rumah itu, Fauzan keluar


begitu saja, berjalan pelan menuju rumahnya yang memang hanya berjarak puluhan


meter saja.  Benar-benar sedih dan dia


makin kangen Amanda.  Pengen banget peluk


dia, kangen banget menciumnya.  Ah..


kalau nggak ingat ini di jalan sudah kayak apa dia meluapkan emosinya.  Well you don’t know what you got until it’s


gone.


            Seakan angin memberi kabar


kegalauannya pada Aura, di saat Fauzan begitu galau, Aura pun meneleponnya


mengabarkan kalau dia ada di Jakarta, pekerjaannya telah selesai dan siap


bertemu Fauzan.  Mendengar itu Fauzan


agak terhibur, dia memang membutuhkan orang saat ini untuk mampu menenangkan


kegelisahannya.  Aura hadir di waktu yang


tepat.


            Sesampainya di hotel tempat Aura


menginap, Fauzan langsung mencurahkan segala kegalauannya.  Dengan Aura memang tidak ada yang dia


sembunyikan.  Aura sampai memeluknya


ketika melihat Fauzan begitu emosi.  Fauzan


benar-benar kangen Amanda.

__ADS_1


            “Kamu terlalu menyiksa dirimu dengan


melihat mereka setiap saat Fauzan.”  Aura


mencoba memberikan pandangan.


            “Aku hanya ingin melindungi Amanda,


aku takut laki-laki itu menyakitinya.” Kenyataannya Fauzan hanya tidak mau jauh


dari Amanda.


            “Hampir lima tahun mereka menikah,


nyatanya tidak sekali pun Monrue menyakitinya.”


            Fauzan diam.  Kenyataan itu yang memang dia lihat.


            “Ikhlaskan mereka Fauzan.  Kamu harus cari cinta lain!”  Andai Fauzan bilang ia menginginkan dirinya,


Detik itu juga Aura akan minta cerai dengan Steven.  Tekadnya dalam hati.


            Fauzan menggeleng. “Sampai matipun


aku akan menanti Amanda.”


            Aura mendesah pelan mendengar


jawaban laki-laki yang ia cintai. “Kamu akan selalu dalam kondisi tersiksa


seperti ini.”


            “Nggak papa aku akan sabar


menanti.  Ini semua salahku.  Ini hukuman untukku.”


            “Ya sudah, terserah kamu.”  Aura menyerah.  Ia hanya tersenyum.  Bergerak memanaskan air dan kemudian


membuatkan Fauzan kopi instan. Kemudian memberikannya ke Fauzan.


            Fauzan berterima kasih dengan


pemberian Aura, segala pengertiannya, bersedia menjadi tempat curhatnya.


“Gimana kabarmu?”


            “Baik.”


            “Steven nggak menyakiti mu lagi?’


            Aura tersenyum. “Sepertinya dia


sedang sibuk selingkuh, jadinya nggak ada waktu untuk memukulku.” Dia tersenyum


miris.


            “Secepatnya tinggalkan dia Ra, ini


nggak sehat untukmu.”


            Kalau kamu menginginkan aku, pasti


aku tinggalkan dia. Jawab Aura dalam hati.  Tapi yang terlihat hanya tersenyum.  “Sebentar lagi Jason akan menikah.  Pelan-pelan aku akan meninggalkan Steven.”


            “Oh ya? Kapan?”


            “Bulan kemarin Jason lamaran.  Tahun depan rencananya dia akan menikah.”


            “Oh. Itu rencanamu?”


            Aura mengangguk. “Gimana kabar Bimo?


Betah dia di Belanda?”


            Fauzan mengangguk.  “Anak itu seperti Amanda, hidupnya begitu


terencana.  Kuliahnya belum selesai, sudah


ada kantor pengacara yang menantinya untuk bekerja. “


            “Oh ya?”


            “Kuliahnya masih 6 bulan lagi, tapi


dia sudah bilang setelah ini akan ikut ujian pengacara sambil dia magang di


kantor pengacara itu.” Fauzan menyebutkan sebuah biro bertaraf international


yang ada di Jakarta.  Terlihat sekali


kalau Fauzan begitu bangga dengan putra sulungnya.


            “Kalau Citra gimana?”


            “Ah anak itu terlalu manja, padahal


jauh lebih cerdas dari kakaknya saat di usianya.  Masa dia pengen jadi artis.”  Fauzan tertawa.


            “Masih ABG, masih galau dia.”


            “Iya sih.” Fauzan pun tersenyum


mengingat putri kesayangannya.


            Sepintas keduanya terdiam.  Nggak lama, Aura pun mendekati Fauzan,


menciumnya, memberi kode bahwa kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan bisa


dimulai sekarang.

__ADS_1


            Fauzan sama sekali tidak menolak


sentuhan Aura.  Diapun membutuhkannya.


__ADS_2