
Karier
Monrue di dunia enternainment Indonesia memang sudah lama establish. Sehingga yang dilakukan hanya menjaga eksistensinya
saja. Tidak perlu lagi roadshow yang
panjang dan lama keliling Indonesia. Saat ini Monrue pekerjaan Monrue adalah
menelurkan single secara
berkesinambungan, kadang-kadang membantu artis baru membuat karya mereka, jadi
bintang tamu di TV dan menerima undangan off
air di berbagai daerah. Beberapa
kali dia juga main film tapi itu bukan karier utamanya, sekali lagi hanya
berfungsi untuk menjaga eksistensinya saja. Dari itu, setiap bulannya dia hanya akan keluar kota 4-5 kali,
kadang-kadang keluar negeri juga sih. Tergantung undanganlah. Biar
begitu ratusan juta masih masuk ke dalam rekeningnya secara rutin. Monrue pun sudah mulai expand dengan belajar berbisnis dengan membuka dua restorant dan
satu fitness center.
Ketika Monrue memang sudah tinggal
di rumah Amanda, sejak peristiwa Bali, Monrue berkeras menjadi suami yang
sesungguhnya. Dia mulai rutin menafkahi
Amanda secara material, berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga
kecilnya. Walaupun Amanda pun mengatakan
anak-anaknya adalah tanggung jawab Fauzan, tapi Monrue tetap ingin punya
kontribusi terhadap anak-anak Amanda, karena ia pun telah jatuh sayang pada
mereka. Bimo memang lebih seperti teman
untuknya, tapi Citra bagai pelipur laranya yang begitu kangen Amira. Sean pun cukup sering main bersama dengan
keluaga itu, karena memang Sean juga orang yang mudah beradaptasi, dia sangat
bahagia punya kakak dan adik, karena di tempat ibunya pun ia anak tunggal,
walaupun sang ibu juga telah nikah lagi. Dan Sean memang belum sekalipun bertemu dengan Amira.
Bimo telah lulus S1, dia mendapatkan
nilai yang membanggakan. Jauh-jauh hari
sebelum dia wisuda dia menanyakan kemungkinan untuk bisa langsung mengambil
S2. Amanda mendukungnya dan
menyatakannya kesanggupannya secara financial. Karena memang dia sudah menyiapkan tabungan pendidikan untuk Bimo begitu
mendapatkan rejeki yang lancar. Fauzan
sang ayah pun menyanggupi kalau memang Bimo ingin sekolah lagi. Maka, tak lama ia wisuda, berangkatlah Bimo
ke Belanda seorang diri untuk melanjutkan pendidikannya. Monrue salut dengan semangat keluarga ini
untuk sekolah. Dibandingkan dirinya,
menyelesaikan S1 saja rasanya mau pecah kepalanya.
Citra sekarang telah tumbuh menjadi
remaja yang cantik. Dia sudah dibangku
SMP sekarang. Cara Fauzan menyayangi
anak gadisnya sudah berbeda sekarang. Tidak ada lagi pangkuan manja dari si cantik. Citra tumbuh menjadi anak
yang periang. Agak berbeda dengan Bimo,
Citra sepertinya tidak terlalu suka bidang akademik. Apalagi setelah ada Monrue di dalam
keluarganya, Citra jadi terinspirasi untuk jadi artis. Sepertinya sang bunda kurang setuju dengan
keinginannya. Bagi Amanda, pendidikan
dulu, setelah ia menempuh batas minimum, silahkan memutuskan ia mau jadi apa.
Tapi… Amanda masih berharap Citra akan berubah fikiran setelah nanti ia dewasa
sih. Saat ini Fauzan lebih extra ketat menjaga putri kesayangannya. Jagain anak gadis euy… berat ini.
Amanda baru saja
mendapat kabar dari production house tempat dia bernaung, bahwa salah satu skenario filmnya akan mulai
produksi. Monrue akan menjadi pemeran utama
laki-lakinya. Amanda nggak terlalu kaget
sih, sebenarnya ketika dia berimaginasi tentang sosok laki-laki dalam skrip
itu, memang wujud fisiknya seperti Monrue, ya karena memang hari-harinya
bersama Monrue. Walaupun dia sama sekali
tidak memberi clue pada pihak
produser siapa yang baik memerankan peran utama prianya. Nah, yang bikin Amanda galau adalah pemeran
__ADS_1
utama wanitanya adalah Maharani Diva, artis cantik yang sudah lama wara-wiri di
kehidupan selebriti Indonesia. Bukan itu
masalahnya, yang jadi masalah untuk Amanda adalah perempuan itu cinta pertama
Monrue. Jauh sebelum Monrue menikah
dengan ibunya Sean. Amanda kesel dan
cemburu. Tapi dia nggak mungkin marah
dan meminta pihak rumah produksi untuk mengganti pemeran utama wanitanya. Yah bukan wewenang dialah.
Monrue jadi kebingungan, dulu memang
Amanda yang memintanya ikut casting.
Dia sih seneng-seneng saja, memainkan film buatan sang istri, dan nggak nyangka
dengan reaksi Amanda yang cemburu begitu tahu lawan mainnya. Ya gimana dong, dia kan harus professional,
bukan dia kok yang merekomendasikan pemeran utama wanitanya. Bahkan, Monrue sudah puluhan tahun nggak
ketemu dengan Maharani Diva itu, walau mereka berkecimpung dalam dunia yang
sama.
Rumah produksi itu justru
memanfaatkan momen itu sebagai sarana promosi, di mana film ini merupakan wadah
mereka reuni. Hadeuh… Amanda makin
emosi, karyanya dipakai untuk sang suami reuni sama mantan pacar coba? Amanda
sampai nangis karena begitu fustasi.
Monrue berusaha menenangkan Amanda
dengan mengajaknya dalam setiap proses produksi film itu. Misalnya saat reading dan syuting. Nah
itu masalahnya, jadwal sudah keluar, dan ternyata bersamaan dengan Amanda yang
harus ke Norwegia selama tiga bulan karena dia mendapatkan award sebagai visiting
lecture di salah satu Universitas di sana. Hadeuh… pusingkan?
Yang pusing Monrue. Mencoba menenangkan sang istri dan juga
berusaha untuk professional. Mumpung
produksi belum dimulai, apa dia mengundurkan diri saja ya dari film itu? Akhirnya Amanda menyerah, dia memilih untuk
pasrah. Tapi wanti-wanti banget pada
Monrue untuk tidak macam-macam. Monrue pun
hubungannya.
Dari kejauhan Fauzan memperhatikan
konflik itu. Ada apa dengan Amanda,
kenapa sekarang dia menjadi begitu pecemburu? Ini bukan Amanda yang dia kenal. Fauzan jadi makin sedih, rupanya Amanda memang begitu mencintai Monrue.
Amanda nggak pernah cemburu terhadap dirinya ketika mereka masih bersama. Tujuh belas tahun lho Amanda jadi miliknya,
nggak pernah sekalipun Amanda menunjukan kalau dia cemburu. Walaupun dengannya Amanda pun hangat dan
penyayang. Fauzan nggak sanggup, tidak
seperti biasanya dia selalu pamit apabila akan keluar rumah itu, Fauzan keluar
begitu saja, berjalan pelan menuju rumahnya yang memang hanya berjarak puluhan
meter saja. Benar-benar sedih dan dia
makin kangen Amanda. Pengen banget peluk
dia, kangen banget menciumnya. Ah..
kalau nggak ingat ini di jalan sudah kayak apa dia meluapkan emosinya. Well you don’t know what you got until it’s
gone.
Seakan angin memberi kabar
kegalauannya pada Aura, di saat Fauzan begitu galau, Aura pun meneleponnya
mengabarkan kalau dia ada di Jakarta, pekerjaannya telah selesai dan siap
bertemu Fauzan. Mendengar itu Fauzan
agak terhibur, dia memang membutuhkan orang saat ini untuk mampu menenangkan
kegelisahannya. Aura hadir di waktu yang
tepat.
Sesampainya di hotel tempat Aura
menginap, Fauzan langsung mencurahkan segala kegalauannya. Dengan Aura memang tidak ada yang dia
sembunyikan. Aura sampai memeluknya
ketika melihat Fauzan begitu emosi. Fauzan
benar-benar kangen Amanda.
__ADS_1
“Kamu terlalu menyiksa dirimu dengan
melihat mereka setiap saat Fauzan.” Aura
mencoba memberikan pandangan.
“Aku hanya ingin melindungi Amanda,
aku takut laki-laki itu menyakitinya.” Kenyataannya Fauzan hanya tidak mau jauh
dari Amanda.
“Hampir lima tahun mereka menikah,
nyatanya tidak sekali pun Monrue menyakitinya.”
Fauzan diam. Kenyataan itu yang memang dia lihat.
“Ikhlaskan mereka Fauzan. Kamu harus cari cinta lain!” Andai Fauzan bilang ia menginginkan dirinya,
Detik itu juga Aura akan minta cerai dengan Steven. Tekadnya dalam hati.
Fauzan menggeleng. “Sampai matipun
aku akan menanti Amanda.”
Aura mendesah pelan mendengar
jawaban laki-laki yang ia cintai. “Kamu akan selalu dalam kondisi tersiksa
seperti ini.”
“Nggak papa aku akan sabar
menanti. Ini semua salahku. Ini hukuman untukku.”
“Ya sudah, terserah kamu.” Aura menyerah. Ia hanya tersenyum. Bergerak memanaskan air dan kemudian
membuatkan Fauzan kopi instan. Kemudian memberikannya ke Fauzan.
Fauzan berterima kasih dengan
pemberian Aura, segala pengertiannya, bersedia menjadi tempat curhatnya.
“Gimana kabarmu?”
“Baik.”
“Steven nggak menyakiti mu lagi?’
Aura tersenyum. “Sepertinya dia
sedang sibuk selingkuh, jadinya nggak ada waktu untuk memukulku.” Dia tersenyum
miris.
“Secepatnya tinggalkan dia Ra, ini
nggak sehat untukmu.”
Kalau kamu menginginkan aku, pasti
aku tinggalkan dia. Jawab Aura dalam hati. Tapi yang terlihat hanya tersenyum. “Sebentar lagi Jason akan menikah. Pelan-pelan aku akan meninggalkan Steven.”
“Oh ya? Kapan?”
“Bulan kemarin Jason lamaran. Tahun depan rencananya dia akan menikah.”
“Oh. Itu rencanamu?”
Aura mengangguk. “Gimana kabar Bimo?
Betah dia di Belanda?”
Fauzan mengangguk. “Anak itu seperti Amanda, hidupnya begitu
terencana. Kuliahnya belum selesai, sudah
ada kantor pengacara yang menantinya untuk bekerja. “
“Oh ya?”
“Kuliahnya masih 6 bulan lagi, tapi
dia sudah bilang setelah ini akan ikut ujian pengacara sambil dia magang di
kantor pengacara itu.” Fauzan menyebutkan sebuah biro bertaraf international
yang ada di Jakarta. Terlihat sekali
kalau Fauzan begitu bangga dengan putra sulungnya.
“Kalau Citra gimana?”
“Ah anak itu terlalu manja, padahal
jauh lebih cerdas dari kakaknya saat di usianya. Masa dia pengen jadi artis.” Fauzan tertawa.
“Masih ABG, masih galau dia.”
“Iya sih.” Fauzan pun tersenyum
mengingat putri kesayangannya.
Sepintas keduanya terdiam. Nggak lama, Aura pun mendekati Fauzan,
menciumnya, memberi kode bahwa kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan bisa
dimulai sekarang.
__ADS_1
Fauzan sama sekali tidak menolak
sentuhan Aura. Diapun membutuhkannya.