
Enam
bulan telah berjalan. Fauzan dan Amanda
bahagia menjalani rumah tangga yang telah mereka perbaiki. Monrue semakin sering ke rumah mereka. Amanda sering kali menegur padahal, bagaimana
ia bisa dapat pengganti kalau mainnya ke sini terus. Monrue hanya tertawa dan berdalih bahwa
kondisinya jauh lebih baik dibandingkan ketika dulu ia patah hati bercerai
dengan pengusaha cantik asal negeri Jiran. Ah kalau itu sih Amanda tahu. Kan
dia yang bawa Monrue ke Brisbane saat hilang akal.
Jumat
malam, malam banget, Fauzan belum juga pulang. Amanda gelisah karena khawatir. Tidak biasanya Fauzan begini. Ia
selalu memberi tahu kalau dia harus pulang malam. Saat ini boro-boro memberi tahu, ditelepon saja
nggak diangkat.
Pukul 12 malam Bimo pulang diantar
Monrue, ternyata mereka habis nonton. Tadinya Monrue hendak pamit pulang, tapi dia justru melihat Amanda ke luar
rumah. Bimo dan Monrue heran.
“Kenapa bu?”
“Ayah belum pulang dan nggak bisa
dihubungi. Ibu kira ikut kalian nonton.”
Bimo heran, Monrue pun menggeleng.
“Ibu mau ke mana?”
“Mau ke kantor ayah.”
“Malem-malem begini?”
“Ibu bingung ayah ke mana?”
“Ya sudah aku antar bu, aku ambil
mobil dulu.” Bimopun bergerak ke garasi yang langsung dicegah Monrue.
“Sudah naik mobilku saja!” pintanya.
Mereka bertiga pun langsung masuk ke
mobil Monrue.
Mereka pun pergi ke kantor Fauzan di
kawasan Pulo Gadung. Sesampainya di sana
tentu saja yang mereka temui hanya satpam. Dan para satpam pun bingung karena
semua pekerja memang sudah pulang. Seorang satpam pun meyakinkan mereka kalau Pak Fauzan sudah keluar
kantor jauh sebelum jam kerja usai. Lha informasi ini semakin membuat mereka
bingung. Akhirnya Amanda tetap meminta satpam
mengijinkan mereka memasuki ruangan kantor Fauzan. Dengan banyak pertimbangan akhirnya seorang
satpam mengantarkan mereka ke ruangan GM. Ruangan Fauzan. Dan benar saja,
telepon genggam Fauzan tergeletak di Meja kerjanya. Dan baterenya hampir habis karena Amanda yang
puluhan kali menelepon. Terjawab sudah
misteri tidak diangkatnya telepon. Teleponnya ketinggalan.
Telepon Fauzan ketemu, tapi orangnya
belum ketemu. Masalah ini belum selesai.
Akhirnya Bimo, Monrue dan Amanda kembali ke rumah. Setelah mengantar mereka pulang Amanda
meminta Monrue pulang dan mengucapkan terima kasih. Melihat Amanda yang kebingungan Monrue berjanji
akan datang besok pagi, membantu Amanda mencari Fauzan. Dia pun meminta Amanda untuk tenang dan
istirahat. Yang dilakukan Amanda
kemudian me-charge telepon genggam Fauzan. Dia pun memaksakan diri untuk istirahat. Sudah pukul 3 pagi.
Pukul tujuh Amanda sudah
melihat-lihat telepon genggam Fauzan, kalau-kalau mendapat clue. Panggilan terakhir
pukul tiga sore kemarin dari seorang bernama Jason. Memberanikan diri akhirnya Amanda menelepon seseorang
yang bernama Jason. Telepon itu
tersambung dan nggak lama seorang laki-laki di seberang sana mengangkat telepon
Amanda.
“Halo?”
“Halo ini pak Jason?”
“Saya Amanda istri pak Fauzan, hanya
sekedar bertanya apakah Pak Jason bersama suami saya?” Amanda ragu, apakah
orang ini menyangka dia istri posesif?
“Oh, sebentar tante.”
Ha kok manggil tante? Ini siapa?
Tak lama Fauzan pun menjawab telepon
Amanda.
“Halo Amanda?”
“Fauzan kamu di mana?” Amanda begitu
lega mendengar suara Fauzan.
“Aku di Bali.”
“What?”
“Ini
nggak seperti yang kamu bayangkan Manda. Aku mohon maaf.”
“Paling tidak kamu bisa kasih kabar
Fauzan.” Amanda marah campur bingung. “Kamu ngapain di Bali.”
“Aura koma, Jason anaknya mengabari
aku. Jadi aku langsung ke sini. Ini nggak seperti yang kamu bayangkan Manda.
Aku bisa menjelaskan nanti.”
“Ok. Tapi kenapa hp kamu tinggal di kantor?”
“Oh ketinggalan di kantor? Aku
sangka hilang. Aku benar-benar nggak kepikiran.”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Saat ini kita lagi nunggu Aura
stabil, mudah-mudahan bisa cepet siuman, setelah itu akan di bawa ke
Jakarta. Untuk keselamatannya. Kondisinya parah banget Manda.”
Mendengar itu Amanda mau marah juga
nggak tega. “Ya sudah, kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
“Secepatnya pulang ya!” Pinta Amanda
“Pasti.” Sepintas ada pembicaraan kecil. “Kamu bisa
hubungi saya di nomer ini.”
Amanda pun menutup percakapan. Ada sedikit lega sang suami ketemu. Tapi jelas dia bertanya-tanya ada apa gerangan
hingga Fauzan begitu panik dan memutuskan terbang ke Bali.
Monrue datang pukul Sembilan. Siap mengantar Amanda mencari Fauzan.
“Nggak perlu orangnya sudah ketemu.”
Amanda pun berlalu masuk kamar meninggalkan Monrue yang keheranan.
“Ayah di Bali Dad.” Bimo
menjelaskan.
“Ooo.”
Ya sudah terlanjur ada di sini, main
PS saja deh sama Bimo.
__ADS_1
Baru
minggu sore Fauzan pulang ke rumah. Wajahnya
terlihat dia belum mandi sejak hari Jumat. Begitu bertemu Amanda, Fauzan buru-buru ingin menjelaskan apa yang
terjadi. Tapi dicegah oleh Amanda. Amanda minta Fauzan mandi dan makan dulu.
Penjelasan bisa belakangan. Tapi melihat
Fauzan kucel dan terlihat pucat meyakinkan Amanda kalau Fauzan tidak perduli untuk
makan. Maka dipaksanya suaminya
melakukan dua kegiatan itu. Setelah mandi,
Amanda pun menemani Fauzan makan. Dia tidak
bertanya apa-apa, hanya ingin Fauzan makan dulu dengan tenang. Terlihat jelas suaminya kurang makan dan
kurang istirahat selama tiga hari ia menghilang.
“Yang penting kamu baik-baik saja.”
Amanda mengelus-eluskan punggung Fauzan di kala ia makan.
Fauzan pun tersenyum bahagia melihat
pengertian Amanda padanya.
Setelah semuanya tenang, akhirnya
Fauzan bercerita pada Amanda dan Bimo. Bahwa Steven suaminya Aura marah besar ketika mengetahui bahwa Aura
selingkuh dengan Fauzan. Dia
mengetahuinya dari membongkar file telepon genggam Aura yang masih merekam
percakapan Fauzan dan Aura setahun yang lalu. Maka ia pun memukul Aura dengan membabi buta. Membeturkan Aura ke tembok, memukulnya
bertubi-tubi dan tidak hanya itu Aura pun dipukul dengan benda keras dan
tumpul. Akibatnya Aura menderita gegar
otak dan patah di beberapa bagian tubuhnya. Hal itulah yang membuat Aura koma beberapa hari. Jason yang mendapati ibunya hampir tidak
bernyawa panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kalapnya ia hanya bisa menghubungi
ambulan, polisi dan Fauzan. Fauzan yang
merasa berkontribusi terhadap penyikasaan Steven terhadap Aura langsung terbang
ke Bali begitu mendapat kabar dari Jason. Diputuskanlah untuk membawa Aura ke Jakarta untuk keamanan dan mendapat
penanganan lebih optimum. Kini Aura
telah sadar dari komanya dan dia sudah ada di salah satu rumah sakit di
Jakarta. Dan Steven baru saja ditangkap
polisi.
Amanda terpana mendengar cerita
Fauzan. Fauzan berusaha keras meyakinkan
Amanda bahwa dia sama sekali tidak ada hubungan lagi dengan Aura sejak mereka
menikah. Apa yang dibaca Steven murni
masa lalu, yang belum dihapus oleh Aura. Amanda percaya itu, karena memang suaminya selama enam bulan sangat
terkonsentrasi pada dirinya dan keluarganya.
Sore menjelang malam, Amanda
bermaksud menjenguk Aura. Tapi dia minta
Fauzan untuk istirahat di rumah. Dia
pergi ditemani Bimo dan Monrue lagi. Karena Monrue dua hari ini terus-menerus main ke rumah. Fauzan setuju dia memang butuh istirahat
akibat tiga hari yang menguras tenaganya. Dia pun ada di rumah bersama Citra. Fauzan hanya menginformasikan rumah sakit dan nomer kamar Aura.
Di rumah sakit, hanya ada Jason yang
menunggu sang ibu. Melihat kondisi Aura
yang demikian hancur, Amanda jadi menangis. Ia benar-benar prihatin dengan Aura. Kok ada ya laki-laki demikian sadisnya. Aura hanya sesaat menyapanya, dan kemudian pun ia tertidur. Akhirnya mereka bertiga berbicara panjang
dengan Jason. Jason bicara tentang kegalauannya. Dia begitu marah dengan sang ayah. Dia berencana untuk mendaftarkan perceraian
ibunya secepatnya. Ia tak ingin ibunya
berhubungan dengan laki-laki gila itu lagi. Tapi ia juga khawatir dengan kondisi sang ibu. Ada banyak hal yang ia harus kerjakan di
Bali. Dia bingung siapa yang akan
Amanda dan Bimo berjanji pada Jason bahwa mereka akan menjaga sang ibu kala
Jason harus pergi ke Bali. Meminta untuk
Jason tenang dan selalu menghubungi mereka. Tidak ada cemburu di hati Amanda, hanya ada rasa iba dengan ibu dan anak
yang ada di hadapannya. Melihat kondisi
ini, Monrue hanya diam. Diam tanpa
komentar, dia sesekali memandang Aura dengan begitu dalam, dan mendengar
percakapan ketiganya tanpa sama sekali ikut terlibat.
Amanda dan Fauzan bulak-balik ke
rumah sakit setelahnya. Mereka ada di
rumah sakit setiap sore setelah mereka selesai kerja. Jason memutuskan kembali ke Bali di hari
rabu, setelah kondisi sang ibu jauh lebih stabil. Pada akhirnya memang pagi hingga sore hari,
tidak ada yang menemani Aura. Tapi ini
rumah sakit bagus kok, dan mereka memang memasukan Aura di kelas VIP membuat
Aura mendapat penanganan baik. Biaya
rumah sakit ditanggung bersama. Asuransi
dari kantor Aura, Jason juga sudah kerja, sedikit warisan orang tua Aura,
Amanda dan Fauzan pun juga ikut membantu. Yang penting Aura pulih secara fisik dulu deh. Nggak tega banget lihatnya. Dokter memprediksi Aura akan tinggal di rumah
sakit menimal dua bulan.
Jason mendaftarkan perceraian ibunya
di pengadilan agama Bali. Dalam dua
minggu persidangan itu dimulai. Ini
kasus aneh memang. Jason memohon hakim
untuk mengabulkannya demi keselamatan sang ibu. Steven hadir di persidangan itu dengan ijin dari penjara. Dia marah besar dan mengatakan hal ini
terjadi karena dia mendapati istrinya telah selingkuh bertahun-tahun. Jason tak kalah akal, dia mampu membuktikan
bahwa Steven pun selingkuh. Dia juga memberikan
bukti visum dan surat keterangan polisi, serta memberikan bukti-bukti berupa
photo tentang kondisi sang ibu sekarang. Akhirnya hakim langsung memutuskan bahwa terjadi perceraian demi
keselamatan nyawa Aura. Tidak
tanggung-tanggung hakim pun memutuskan pernikahan ini berakhir dengan talak
tiga.
Jason benar-benar lega ibunya tidak
perlu berhubungan dengan laki-laki itu lagi. Walaupun laki-laki itu ayah kandungnya, Jason benar-benar tidak peduli
lagi. Setelah urusan pengadilan
selesai. Diapun kemudian mengurus
pengunduran dirinya di kantor tempat ia bekerja, konsentrasinya saat ini hanya
ingin mengurus sang ibu. Rejeki akan
datang lagi nanti pikirnya. Dia pun
meminta pengertian pada sang tunangan tentang kondisinya. Semula memang ia akan pindah ke Bandung
tempat di mana tunangannya tinggal setelah menikah nanti. Tapi Jason agak ragu bisa melangsungkan
pernikahannya sesuai rencana karena semua anggarannya akan habis untuk biaya
rumah sakit sang ibu, dan ia yang akan tinggal sementara di Jakarta.
Aura tinggal di rumah sakit selama
tiga bulan, lebih lama dari perkiraan dokter. Kondisi Aura yang rentan dan tidak lagi muda membuat Aura membutuhkan
waktu lebih lama untuk pemulihan. Tapi
pelan-pelan memang Aura berangsur-angsur sembuh. Kantor Aura membayar semua tagihan rumah
sakit, tetapi sesudahnya Aura diminta untuk mengundurkan diri karena dianggap
__ADS_1
tidak produktif. Ini hal yang memang
biasa terjadi di kantor-kantor swasta. Akhirnya Aura pun mengundurkan diri dari tempat ia bekerja.
Diputuskan setelah keluar dari rumah
sakit Aura dan Jason tinggal di rumah Fauzan terdahulu yang memang sekarang
kosong. Niatnya memang dikontrakan tapi
masih belum ada peminatnya. Ibu dan anak
itu memang tidak punya siapa-siapa di Jakarta. Selama Jason menjaga sang ibu di rumah sakit, dia memang melamar kerja
di Jakarta secara online. Kadang-kadang memang dia meninggalkan sang
ibu sesaat apabila ada panggilan wawancara atau ujian. Keikhlasannya pun berbuah manis, Jason
mendapatkan pekerjaan tak lama setelah Amanda keluar dari rumah sakit.
Setelah semua tenang, kondisi Aura
yang sudah bisa dikatakan 90% pulih, Jason sudah bekerja, mereka telah tenang
tinggal sementara di rumah Fauzan. Perlahan semua berjalan normal. Amanda dan Fauzan masih secara rutin menjenguk Aura dan memastikan dia
tidak kekurangan apapun. Tidak tiap hari
sih, mereka kan punya kegiatan lain. Hingga suatu hari, di minggu sore Amanda mengumpulkan mereka semua di
tempat tinggal Aura. Semua telah
berkumpul, Aura, Jason, Fauzan, Amanda, Bimo dan Citra. Yang anehnya ada Monrue di situ. Amanda tidak merasa mengundang Monrue sih,
dan aneh saja laki-laki itu selalu ada di setiap peristiwa penting dalam
hidupnya. Amanda ingin bicara pada
semuanya.
“Saya merasa Fauzan harus
bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Aura.”
Fauzan bingung dengan awal
pembicaraan Amanda. Mau ke mana ini?
“Karena bagaimanapun apa yang
terjadi di masa lalu berdampak pada keselamatan Aura saat ini.”
Nggak cuma Fauzan. Semua juga bingung mau Amanda apa.
Amanda menghela nafas sebelum
melanjutkan. “Maka saya putuskan, Fauzan harus menikahi Aura.”
Fauzan kaget setengah mati. “Manda
kamu mau kita bercerai lagi?” Fauzan syok banget. Semua juga kaget mendengarnya.
Amanda menggeleng. “Saya mengijinkan
kamu untuk poligami.”
Hadeuh… apalagi ini?
Mendadak Fauzan suntuk, dia menutupi
wajahnya dengan kedua tangannya. Dia
benar-benar serba salah. Ini banyak
orang dia harus menjaga ucapannya. Akhirnya dia menggeleng. “Terima
kasih atas pengertian kamu Amanda, tapi saya nggak sanggup adil. Saya nggak sanggup poligami.”
Amanda memandang Aura. “Aura, kamu
masih cinta Fauzankan?”
Aura diam, dia masih kaget dengan
apa yang diucapkan Amanda.
“Masa kamu tega Aura sekarang harus
sendiri?” Amanda meminta pengertian Fauzan.
“Tante nggak usah khawatir. Saya yang jaga mami.” Jason mengerti maksud
baik Amanda. Tapi itu semua nggak perlu.
Aura kemudian menatap Monrue. Monrue pun tersenyum.
“Hei, kalau bikin keputusan tanya
dulu sama orangnya mau apa nggak?” Monrue dengan santai menegur Amanda.
Amanda bingung. Ini kenapa Monrue
jadi ikut-ikut?
“Tunangan orang elo suruh kawin sama
laki lu.” Monrue pun menegaskan.
Semua masih nggak paham.
“Sebenarnya saya ada di sini untuk
memberi pengumuman ini.” Monrue pun
mendekati Aura, mengambil tangan kirinya dan memamerkan sebuah cincin berlian
yang tersemat manis.
Semuanya bengong termasuk
Jason. Aura tersenyum malu-malu.
“Nggak ada yang sadar? Ini dua
minggu lho ada di tangan ini.”
Semua masih kaget. Nggak ada yang
komentar.
“Serius?” akhirnya ada juga yang
bertanya.
“Amanda kamu biasa banget sih,
selalu menganggap aku nggak serius.” Monrue pun kesal.
Akhirnya semua sadar, semua bahagia
termasuk Jason. Satu-satu pun
mengucapkan selamat kepada keduanya. Masih nggak percaya sih. Amanda mencium Aura dan mengucapkan selamat,
memeluk Monrue karena turut bahagia.
Fauzan mengucapkan selamat pada
Monrue dengan memeluknya dan membisikan. “Kok elo doyan mantan-mantan gue sih
Mon?” Tanyanya bercanda.
Monrue tertawa mendengarnya. “Sialan
lu mas. Mantan elo cantik-cantik.” Jawaban sekenanya.
“Jadi kapan rencananya?” Tanya Amanda penasaran.
“Ya tadinya aku mau ngomong sama
Jason dulu sih, belom dapet ijinkan. Rencananya sesudah Jason nikah. Toh Jason nikahnya dua bulan lagikan?”
Jason tersenyum dan mengangguk.
“Boleh kok om, asal janji jangan sakitin mami.” Jason menjawab sambil merangkul sang bunda, dia bahagia sang bunda ada
pendamping lagi.
“Janji ya, kali ini harus bisa
setia!” Pinta Amanda.
“Iya, aku juga sudah tua. Mau
ngapain lagi sih.”
“Kali ini sah di mata negarakan?”
“Pastilah, yang dulu nggak mau kan
kamu.”
Semua yang ada di ruangan ini begitu
bahagia. Yang paling lega sebenarnya Fauzan. Hadeuh hampir saja dia dipaksa beristri dua. Fauzan ketakutan, dia sadar diri dia nggak
mampu. Nggak akan deh… dia pun berdoa
semoga hal itu tidak pernah terjadi dalam dirinya. Dia pun berdoa semoga Amanda tidak pernah
__ADS_1
lagi mengeluarkan ide gila itu