Life After Forty

Life After Forty
Episode 24 Kerikil yang terlalu tajam


__ADS_3

Enam


bulan telah berjalan.   Fauzan dan Amanda


bahagia menjalani rumah tangga yang telah mereka perbaiki.  Monrue semakin sering ke rumah mereka.  Amanda sering kali menegur padahal, bagaimana


ia bisa dapat pengganti kalau mainnya ke sini terus.  Monrue hanya tertawa dan berdalih bahwa


kondisinya jauh lebih baik dibandingkan ketika dulu ia patah hati bercerai


dengan pengusaha cantik asal negeri Jiran.  Ah kalau itu sih Amanda tahu.  Kan


dia yang bawa Monrue ke Brisbane saat hilang akal.


Jumat


malam, malam banget, Fauzan belum juga pulang.  Amanda gelisah karena khawatir.  Tidak biasanya Fauzan begini.  Ia


selalu memberi tahu kalau dia harus pulang malam.  Saat ini boro-boro memberi tahu, ditelepon saja


nggak diangkat.


            Pukul 12 malam Bimo pulang diantar


Monrue, ternyata mereka habis nonton.  Tadinya Monrue hendak pamit pulang, tapi dia justru melihat Amanda ke luar


rumah.  Bimo dan Monrue heran.


            “Kenapa bu?”


            “Ayah belum pulang dan nggak bisa


dihubungi. Ibu kira ikut kalian nonton.”


            Bimo heran, Monrue pun menggeleng.


            “Ibu mau ke mana?”


            “Mau ke kantor ayah.”


            “Malem-malem begini?”


            “Ibu bingung ayah ke mana?”


            “Ya sudah aku antar bu, aku ambil


mobil dulu.” Bimopun bergerak ke garasi yang langsung dicegah Monrue.


            “Sudah naik mobilku saja!” pintanya.


            Mereka bertiga pun langsung masuk ke


mobil Monrue.


            Mereka pun pergi ke kantor Fauzan di


kawasan Pulo Gadung.  Sesampainya di sana


tentu saja yang mereka temui hanya satpam. Dan para satpam pun bingung karena


semua pekerja memang sudah pulang.  Seorang satpam pun meyakinkan mereka kalau Pak Fauzan sudah keluar


kantor jauh sebelum jam kerja usai. Lha informasi ini semakin membuat mereka


bingung.  Akhirnya Amanda tetap meminta satpam


mengijinkan mereka memasuki ruangan kantor Fauzan.  Dengan banyak pertimbangan akhirnya seorang


satpam mengantarkan mereka ke ruangan GM.  Ruangan Fauzan.  Dan benar saja,


telepon genggam Fauzan tergeletak di Meja kerjanya.  Dan baterenya hampir habis karena Amanda yang


puluhan kali menelepon.  Terjawab sudah


misteri tidak diangkatnya telepon.  Teleponnya ketinggalan.


            Telepon Fauzan ketemu, tapi orangnya


belum ketemu.  Masalah ini belum selesai.


Akhirnya Bimo, Monrue dan Amanda kembali ke rumah.  Setelah mengantar mereka pulang Amanda


meminta Monrue pulang dan mengucapkan terima kasih.  Melihat Amanda yang kebingungan Monrue berjanji


akan datang besok pagi, membantu Amanda mencari Fauzan.  Dia pun meminta Amanda untuk tenang dan


istirahat.  Yang dilakukan Amanda


kemudian me-charge telepon genggam Fauzan.  Dia pun memaksakan diri untuk istirahat.  Sudah pukul 3 pagi.


            Pukul tujuh Amanda sudah


melihat-lihat telepon genggam Fauzan, kalau-kalau mendapat clue.  Panggilan terakhir


pukul tiga sore kemarin dari seorang bernama Jason.  Memberanikan diri akhirnya Amanda menelepon seseorang


yang bernama Jason.  Telepon itu


tersambung dan nggak lama seorang laki-laki di seberang sana mengangkat telepon


Amanda.


            “Halo?”


            “Halo ini pak Jason?”


            “Saya Amanda istri pak Fauzan, hanya


sekedar bertanya apakah Pak Jason bersama suami saya?” Amanda ragu, apakah


orang ini menyangka dia istri posesif?


            “Oh, sebentar tante.”


            Ha kok manggil tante? Ini siapa?


            Tak lama Fauzan pun menjawab telepon


Amanda.


            “Halo Amanda?”


            “Fauzan kamu di mana?” Amanda begitu


lega mendengar suara Fauzan.


            “Aku di Bali.”


            “What?”


            “Ini


nggak seperti yang kamu bayangkan Manda.  Aku mohon maaf.”


            “Paling tidak kamu bisa kasih kabar


Fauzan.” Amanda marah campur bingung. “Kamu ngapain di Bali.”


            “Aura koma, Jason anaknya mengabari


aku.  Jadi aku langsung ke sini.  Ini nggak seperti yang kamu bayangkan Manda.


Aku bisa menjelaskan nanti.”


            “Ok. Tapi kenapa hp kamu tinggal di kantor?”


            “Oh ketinggalan di kantor? Aku


sangka hilang. Aku benar-benar nggak kepikiran.”


            “Apa yang akan kamu lakukan?”


            “Saat ini kita lagi nunggu Aura


stabil, mudah-mudahan bisa cepet siuman, setelah itu akan di bawa ke


Jakarta.  Untuk keselamatannya.  Kondisinya parah banget Manda.”


            Mendengar itu Amanda mau marah juga


nggak tega. “Ya sudah, kamu baik-baik saja?”


            “Iya.”


            “Secepatnya pulang ya!” Pinta Amanda


            “Pasti.”  Sepintas ada pembicaraan kecil. “Kamu bisa


hubungi saya di nomer ini.”


            Amanda pun menutup percakapan.  Ada sedikit lega sang suami ketemu.  Tapi jelas dia bertanya-tanya ada apa gerangan


hingga Fauzan begitu panik dan memutuskan terbang ke Bali.


            Monrue datang pukul Sembilan.  Siap mengantar Amanda mencari Fauzan.


            “Nggak perlu orangnya sudah ketemu.”


Amanda pun berlalu masuk kamar meninggalkan Monrue yang keheranan.


            “Ayah di Bali Dad.” Bimo


menjelaskan.


            “Ooo.”


            Ya sudah terlanjur ada di sini, main


PS saja deh sama Bimo.

__ADS_1


Baru


minggu sore Fauzan pulang ke rumah.  Wajahnya


terlihat dia belum mandi sejak hari Jumat.  Begitu bertemu Amanda, Fauzan buru-buru ingin menjelaskan apa yang


terjadi.  Tapi dicegah oleh Amanda.  Amanda minta Fauzan mandi dan makan dulu.


Penjelasan bisa belakangan.  Tapi melihat


Fauzan kucel dan terlihat pucat meyakinkan Amanda kalau Fauzan tidak perduli untuk


makan.  Maka dipaksanya suaminya


melakukan dua kegiatan itu.  Setelah mandi,


Amanda pun menemani Fauzan makan.  Dia tidak


bertanya apa-apa, hanya ingin Fauzan makan dulu dengan tenang.  Terlihat jelas suaminya kurang makan dan


kurang istirahat selama tiga hari ia menghilang.


            “Yang penting kamu baik-baik saja.”


Amanda mengelus-eluskan punggung Fauzan di kala ia makan.


            Fauzan pun tersenyum bahagia melihat


pengertian Amanda padanya.


            Setelah semuanya tenang, akhirnya


Fauzan bercerita pada Amanda dan Bimo.  Bahwa Steven suaminya Aura marah besar ketika mengetahui bahwa Aura


selingkuh dengan Fauzan.  Dia


mengetahuinya dari membongkar file telepon genggam Aura yang masih merekam


percakapan Fauzan dan Aura setahun yang lalu.  Maka ia pun memukul Aura dengan membabi buta.  Membeturkan Aura ke tembok, memukulnya


bertubi-tubi dan tidak hanya itu Aura pun dipukul dengan benda keras dan


tumpul.  Akibatnya Aura menderita gegar


otak dan patah di beberapa bagian tubuhnya.  Hal itulah yang membuat Aura koma beberapa hari.  Jason yang mendapati ibunya hampir tidak


bernyawa panik dan tidak tahu harus berbuat apa.  Dalam kalapnya ia hanya bisa menghubungi


ambulan, polisi dan Fauzan.  Fauzan yang


merasa berkontribusi terhadap penyikasaan Steven terhadap Aura langsung terbang


ke Bali begitu mendapat kabar dari Jason.  Diputuskanlah untuk membawa Aura ke Jakarta untuk keamanan dan mendapat


penanganan lebih optimum.  Kini Aura


telah sadar dari komanya dan dia sudah ada di salah satu rumah sakit di


Jakarta.  Dan Steven baru saja ditangkap


polisi.


            Amanda terpana mendengar cerita


Fauzan.  Fauzan berusaha keras meyakinkan


Amanda bahwa dia sama sekali tidak ada hubungan lagi dengan Aura sejak mereka


menikah.  Apa yang dibaca Steven murni


masa lalu, yang belum dihapus oleh Aura.  Amanda percaya itu, karena memang suaminya selama enam bulan sangat


terkonsentrasi pada dirinya dan keluarganya.


            Sore menjelang malam, Amanda


bermaksud menjenguk Aura.  Tapi dia minta


Fauzan untuk istirahat di rumah.  Dia


pergi ditemani Bimo dan Monrue lagi.  Karena Monrue dua hari ini terus-menerus main ke rumah.  Fauzan setuju dia memang butuh istirahat


akibat tiga hari yang menguras tenaganya.  Dia pun ada di rumah bersama Citra.  Fauzan hanya menginformasikan rumah sakit dan nomer kamar Aura.


            Di rumah sakit, hanya ada Jason yang


menunggu sang ibu.  Melihat kondisi Aura


yang demikian hancur, Amanda jadi menangis.  Ia benar-benar prihatin dengan Aura.  Kok ada ya laki-laki demikian sadisnya.  Aura hanya sesaat menyapanya, dan kemudian pun ia tertidur.  Akhirnya mereka bertiga berbicara panjang


dengan Jason.  Jason bicara tentang kegalauannya.  Dia begitu marah dengan sang ayah.  Dia berencana untuk mendaftarkan perceraian


ibunya secepatnya.  Ia tak ingin ibunya


berhubungan dengan laki-laki gila itu lagi.  Tapi ia juga khawatir dengan kondisi sang ibu.  Ada banyak hal yang ia harus kerjakan di


Bali.  Dia bingung siapa yang akan


Amanda dan Bimo berjanji pada Jason bahwa mereka akan menjaga sang ibu kala


Jason harus pergi ke Bali.  Meminta untuk


Jason tenang dan selalu menghubungi mereka.  Tidak ada cemburu di hati Amanda, hanya ada rasa iba dengan ibu dan anak


yang ada di hadapannya.  Melihat kondisi


ini, Monrue hanya diam.  Diam tanpa


komentar, dia sesekali memandang Aura dengan begitu dalam, dan mendengar


percakapan ketiganya tanpa sama sekali ikut terlibat.


            Amanda dan Fauzan bulak-balik ke


rumah sakit setelahnya.  Mereka ada di


rumah sakit setiap sore setelah mereka selesai kerja.  Jason memutuskan kembali ke Bali di hari


rabu, setelah kondisi sang ibu jauh lebih stabil.  Pada akhirnya memang pagi hingga sore hari,


tidak ada yang menemani Aura.  Tapi ini


rumah sakit bagus kok, dan mereka memang memasukan Aura di kelas VIP membuat


Aura mendapat penanganan baik.  Biaya


rumah sakit ditanggung bersama.  Asuransi


dari kantor Aura, Jason juga sudah kerja, sedikit warisan orang tua Aura,


Amanda dan Fauzan pun juga ikut membantu.  Yang penting Aura pulih secara fisik dulu deh.  Nggak tega banget lihatnya.  Dokter memprediksi Aura akan tinggal di rumah


sakit menimal dua bulan.


            Jason mendaftarkan perceraian ibunya


di pengadilan agama Bali.  Dalam dua


minggu persidangan itu dimulai.  Ini


kasus aneh memang.  Jason memohon hakim


untuk mengabulkannya demi keselamatan sang ibu.  Steven hadir di persidangan itu dengan ijin dari penjara.  Dia marah besar dan mengatakan hal ini


terjadi karena dia mendapati istrinya telah selingkuh bertahun-tahun.  Jason tak kalah akal, dia mampu membuktikan


bahwa Steven pun selingkuh.  Dia juga memberikan


bukti visum dan surat keterangan polisi, serta memberikan bukti-bukti berupa


photo tentang kondisi sang ibu sekarang.  Akhirnya hakim langsung memutuskan bahwa terjadi perceraian demi


keselamatan nyawa Aura.  Tidak


tanggung-tanggung hakim pun memutuskan pernikahan ini berakhir dengan talak


tiga.


Jason benar-benar lega ibunya tidak


perlu berhubungan dengan laki-laki itu lagi.  Walaupun laki-laki itu ayah kandungnya, Jason benar-benar tidak peduli


lagi.  Setelah urusan pengadilan


selesai.  Diapun kemudian mengurus


pengunduran dirinya di kantor tempat ia bekerja, konsentrasinya saat ini hanya


ingin mengurus sang ibu.  Rejeki akan


datang lagi nanti pikirnya.  Dia pun


meminta pengertian pada sang tunangan tentang kondisinya.  Semula memang ia akan pindah ke Bandung


tempat di mana tunangannya tinggal setelah menikah nanti.  Tapi Jason agak ragu bisa melangsungkan


pernikahannya sesuai rencana karena semua anggarannya akan habis untuk biaya


rumah sakit sang ibu, dan ia yang akan tinggal sementara di Jakarta.


            Aura tinggal di rumah sakit selama


tiga bulan, lebih lama dari perkiraan dokter.  Kondisi Aura yang rentan dan tidak lagi muda membuat Aura membutuhkan


waktu lebih lama untuk pemulihan.  Tapi


pelan-pelan memang Aura berangsur-angsur sembuh.  Kantor Aura membayar semua tagihan rumah


sakit, tetapi sesudahnya Aura diminta untuk mengundurkan diri karena dianggap

__ADS_1


tidak produktif.  Ini hal yang memang


biasa terjadi di kantor-kantor swasta.  Akhirnya Aura pun mengundurkan diri dari tempat ia bekerja.


            Diputuskan setelah keluar dari rumah


sakit Aura dan Jason tinggal di rumah Fauzan terdahulu yang memang sekarang


kosong.  Niatnya memang dikontrakan tapi


masih belum ada peminatnya.  Ibu dan anak


itu memang tidak punya siapa-siapa di Jakarta.  Selama Jason menjaga sang ibu di rumah sakit, dia memang melamar kerja


di Jakarta secara online.  Kadang-kadang memang dia meninggalkan sang


ibu sesaat apabila ada panggilan wawancara atau ujian.  Keikhlasannya pun berbuah manis, Jason


mendapatkan pekerjaan tak lama setelah Amanda keluar dari rumah sakit.


            Setelah semua tenang, kondisi Aura


yang sudah bisa dikatakan 90% pulih, Jason sudah bekerja, mereka telah tenang


tinggal sementara di rumah Fauzan.  Perlahan semua berjalan normal.  Amanda dan Fauzan masih secara rutin menjenguk Aura dan memastikan dia


tidak kekurangan apapun.  Tidak tiap hari


sih, mereka kan punya kegiatan lain.  Hingga suatu hari, di minggu sore Amanda mengumpulkan mereka semua di


tempat tinggal Aura.  Semua telah


berkumpul, Aura, Jason, Fauzan, Amanda, Bimo dan Citra.  Yang anehnya ada Monrue di situ.  Amanda tidak merasa mengundang Monrue sih,


dan aneh saja laki-laki itu selalu ada di setiap peristiwa penting dalam


hidupnya.  Amanda ingin bicara pada


semuanya.


            “Saya merasa Fauzan harus


bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Aura.”


            Fauzan bingung dengan awal


pembicaraan Amanda. Mau ke mana ini?


            “Karena bagaimanapun apa yang


terjadi di masa lalu berdampak pada keselamatan Aura saat ini.”


            Nggak cuma Fauzan.  Semua juga bingung mau Amanda apa.


            Amanda menghela nafas sebelum


melanjutkan. “Maka saya putuskan, Fauzan harus menikahi Aura.”


            Fauzan kaget setengah mati. “Manda


kamu mau kita bercerai lagi?” Fauzan syok banget.  Semua juga kaget mendengarnya.


            Amanda menggeleng. “Saya mengijinkan


kamu untuk poligami.”


            Hadeuh… apalagi ini?


            Mendadak Fauzan suntuk, dia menutupi


wajahnya dengan kedua tangannya.  Dia


benar-benar serba salah.  Ini banyak


orang dia harus menjaga ucapannya.  Akhirnya dia menggeleng.  “Terima


kasih atas pengertian kamu Amanda, tapi saya nggak sanggup adil.  Saya nggak sanggup poligami.”


            Amanda memandang Aura. “Aura, kamu


masih cinta Fauzankan?”


            Aura diam, dia masih kaget dengan


apa yang diucapkan Amanda.


            “Masa kamu tega Aura sekarang harus


sendiri?” Amanda meminta pengertian Fauzan.


            “Tante nggak usah khawatir.  Saya yang jaga mami.” Jason mengerti maksud


baik Amanda.  Tapi itu semua nggak perlu.


            Aura kemudian menatap Monrue.  Monrue pun tersenyum.


            “Hei, kalau bikin keputusan tanya


dulu sama orangnya mau apa nggak?” Monrue dengan santai menegur Amanda.


            Amanda bingung. Ini kenapa Monrue


jadi ikut-ikut?


            “Tunangan orang elo suruh kawin sama


laki lu.”  Monrue pun menegaskan.


            Semua masih nggak paham.


            “Sebenarnya saya ada di sini untuk


memberi pengumuman ini.”  Monrue pun


mendekati Aura, mengambil tangan kirinya dan memamerkan sebuah cincin berlian


yang tersemat manis.


            Semuanya bengong termasuk


Jason.  Aura tersenyum malu-malu.


            “Nggak ada yang sadar? Ini dua


minggu lho ada di tangan ini.”


            Semua masih kaget. Nggak ada yang


komentar.


            “Serius?” akhirnya ada juga yang


bertanya.


            “Amanda kamu biasa banget sih,


selalu menganggap aku nggak serius.” Monrue pun kesal.


            Akhirnya semua sadar, semua bahagia


termasuk Jason.  Satu-satu pun


mengucapkan selamat kepada keduanya. Masih nggak percaya sih.  Amanda mencium Aura dan mengucapkan selamat,


memeluk Monrue karena turut bahagia.


            Fauzan mengucapkan selamat pada


Monrue dengan memeluknya dan membisikan. “Kok elo doyan mantan-mantan gue sih


Mon?” Tanyanya bercanda.


            Monrue tertawa mendengarnya. “Sialan


lu mas. Mantan elo cantik-cantik.” Jawaban sekenanya.


            “Jadi kapan rencananya?”  Tanya Amanda penasaran.


            “Ya tadinya aku mau ngomong sama


Jason dulu sih, belom dapet ijinkan.  Rencananya sesudah Jason nikah. Toh Jason nikahnya dua bulan lagikan?”


            Jason tersenyum dan mengangguk.


“Boleh kok om, asal janji jangan sakitin mami.”  Jason menjawab sambil merangkul sang bunda, dia bahagia sang bunda ada


pendamping lagi.


            “Janji ya, kali ini harus bisa


setia!” Pinta Amanda.


            “Iya, aku juga sudah tua. Mau


ngapain lagi sih.”


            “Kali ini sah di mata negarakan?”


            “Pastilah, yang dulu nggak mau kan


kamu.”


            Semua yang ada di ruangan ini begitu


bahagia. Yang paling lega sebenarnya Fauzan.  Hadeuh hampir saja dia dipaksa beristri dua.  Fauzan ketakutan, dia sadar diri dia nggak


mampu.  Nggak akan deh… dia pun berdoa


semoga hal itu tidak pernah terjadi dalam dirinya.  Dia pun berdoa semoga Amanda tidak pernah

__ADS_1


lagi mengeluarkan ide gila itu


__ADS_2