
Keputusan
Fauzan menceraikan Amanda lahir dari kegalauannya bagaimana dia merasa bersalah
akibat menyia-nyiakan Amanda, dan membuatnya terombang-ambing. Sebelum
melakukan keputusan ini dia juga berkonsultasi pada Aura, bagaimana sebenarnya
dia sangat mencintai Amanda. Fauzan pernah
dalam kondisi dilemma antara meminta maaf dan kemudian berusaha keras
mengembalikan kepercayaan Amanda, atau melepasnya pergi. Hingga pada keputusan, bahwa ia harus benar-benar
merasakan begitu kehilangan sehingga apabila ia kembali pada Amanda suatu saat
nanti ia akan merasakan bahwa Amanda begitu berharga. Semua itu hasil konsultasinya dengan Aura. Maka proses perceraian itu ia laksanakan pada
saat Amanda belum pulang ke Jakarta. Ketidak hadiran Amanda dalam persidangan membuat proses itu menjadi
sangat cepat.
Saat ini, memang benar adanya Fauzan
menjadi semakin mencintai Amanda, tapi juga dia menghargai perpisahannya. Sehingga setiap hari dia datang ke tempat tinggal
Amanda, dia hanya bisa memperhatikan Amanda dari jauh, dan menjadikannya
sebagai sahabat. Kedatangannya tiap hari
dengan alasan untuk bertemu dengan anak-anaknya. Fauzan pun sekarang kembali bertanggung
jawab, dia memberikan sebagian pendapatannya pada Amanda untuk anak-anaknya.
Bagi Amanda, keputusan Fauzan
menceraikannya adalah sesuatu yang sangat berat. Bukan ini yang Ia harapkan dari akhir badai
rumah tangganya. Tapi sudahlah, ia
menghargai keputusan Fauzan karena keputusan bercerai adalah hak seorang suami. Bukannya pasrah, tapi Amanda mengerti apa
maksud Fauzan. Dia pun melihat perubahan
Fauzan yang jauh lebih baik dibandingkan saat ia sedang jatuh cinta pada Elly.
Menjadi sendiri lagi, merasakan
kepedihannya membuat Amanda mencurahkan segala isi hatinya dalam tulisan. Imajinasinya menjadi semakin liar dan
dikendalikannya dalam novel. Setelah
‘Puber kedua’ novelnya yang meledak di pasaran, Amanda telah mampu menghasilkan
dua karya lagi. Dua novel itupun cukup
laku di pasaran, walaupun penjualannya belum mencapai angka fantastis seperti
novel pertamanya.
__ADS_1
Dari hasil bekerjanya di Brisbane,
sedikit warisan dari orang tua, gajinya sebagai dosen di Indonesia yang tidak
ia gunakan selama ia ada di Brisbane, dan hasil penjualan novel pertamanya,
telah terparkir manis miliyaran rupiah di rekeningnya. Amanda begitu penuh syukur atas limpahan
rejeki yang ia dapat. Dia tidak perlu
khawatir lagi dengan tabungan kuliah anak-anaknya, dan ia pun punya cukup uang
untuk bisa membeli sebuah rumah di Jakarta. Tadinya ia hendak membeli sebuah rumah di daerah Kelapa Gading. Tapi dengan harga beberapa miliyar saja,
artinya ia hanya mendapat rumah di daerah rawan banjir. Untuk mendapatkan wilayah yang tidak banjir
di Kelapa gading, di butuhkan belasan miliyar atau apartmen, tentu saja uang
Amanda tidak sebanyak itu. Dan dia pun masih berfikir untuk punya landed house dibandingkan dengan
apartmen. Akhirnya Fauzan berhasil
merayunya untuk membeli rumah dekat dengan rumahnya terdahulu, di daerah Pondok
Bambu, Amanda berhasil membeli rumah yang layak dari hasil kerja kerasnya untuk
dia dan anak-anaknya. Fauzan pun
bahagia, karena rumah itu dekat dengan tempat tinggalnya.
Setelah hampir satu tahun berlalu,
kehidupan kembali normal, walau masih ada proses penyesuaian. Seperti biasa menyesuaikan diri lagi tinggal
menghabiskan lima bulan pertama di Jakartanya dengan mengikuti bimbingan belajar
untuk masuk universitas favorit. Dan dia
pun bisa masuk Universitas Indonesia jurusan hukum. Saat ini, Bimo telah jadi mahasiswa, orang
tuanya bermaksud menyuruhnya untuk kost saja di Depok, tapi Bimo kurang suka
dia lebih memilih bulak-balik Jakarta-Depok dengan KRL setiap harinya.
***
Suatu siang,
Amanda mendapatkan telepon dari nomer yang tidak dikenalnya. Sebenarnya dia enggan menjawab, karena
biasanya nomer yang tidak ada di list phone
booknya, adalah sales, atau penipu. Tapi entah kenapa dia merasa dia harus menjawab deringan telepon itu,
akhirnya diangkatnya telepon itu. Ternyata dari sebuah production
house ternama. Mendapatkan nomer
telepon Amanda dari penerbitnya. Mereka
__ADS_1
menawarkan novel Amanda untuk mereka filmkan. Wow…ini serius? Rejeki apalagi
yang datang padanya. Mereka juga
menawarkan apakah Amanda akan menulis skenarionya atau menyerahkannya pada
mereka. Amanda kebingungan. Dia minta waktu untuk berfikir (sebenarnya
dia surprise saja sih), dalam
beberapa hari ia akan menghubungi rumah produksi itu. Amanda kebingungan dalam kebahagiaannya, dia
sendirian di ruangan kantornya. Novel
kemudian difilmkan merupakan impian banyak penulis, dan dia adalah salah
satunya.
Begitu ketemu Fauzan, ia langsung
menceritakan berita yang baru saja ia dapatkan. Fauzan ikut gembira mendengarnya. Amanda pun meminta pendapat fauzan apakah ia sebaiknya mengambil
kesempatan itu? Fauzan mendukungnya. Ini
satu tantangan baru, hanya saja Fauzan berpesan bahwa hal ini jangan sampai
mengorbankan pekerjaan utamanya dan perhatiannya pada keluarga. Wah kalau itu jangan sampailah.
Singkat cerita, Amanda memutuskan
untuk berkecimpung dalam perfilman Indonesia, dengan pendamping professional ia
pun turut dalam pembuatan skenario film. Dia melakukannya di sela-sela waktu mengajarnya yang sebenarnya cukup
padat. Karena pekerjaan seorang dosenkan
nggak cuma mengajar. Tapi pada akhirnya
ia mampu melakukan semua pekerjaan tanpa ada yang harus dikorbankan, selain
waktu untuk dirinya sendiri.
Setelah skenario fim siap dan telah
disetujui, waktunya melakukan survey untuk lokasi syuting, karena setting
lokasi banyak ada di Brisbane. Amanda
diminta untuk menemani sutradara dan produser ke Brisbane untuk mencari lokasi
yang tepat sesuai imajinasi Amanda. Selain itu mereka juga akan mengurus ijin dan perhitungan budget.
Disepakati, bahwa survey lokasi akan
memakan waktu dua minggu. Untuk itu
Amanda meminta agar keberangkatan ke Brisbane dilakukan saat semester break di saat dia tidak harus
mengajar. Paling yang dia korbankan
__ADS_1
adalah mahasiswa bimbingan skripsinya. Untuk menghemat budget yang
akan berangkat hanya dirinya, sutradara dan seorang produser.