Life After Forty

Life After Forty
Episode 10 Berhasil


__ADS_3

Keputusan


Fauzan menceraikan Amanda lahir dari kegalauannya bagaimana dia merasa bersalah


akibat menyia-nyiakan Amanda, dan membuatnya terombang-ambing. Sebelum


melakukan keputusan ini dia juga berkonsultasi pada Aura, bagaimana sebenarnya


dia sangat mencintai Amanda.  Fauzan pernah


dalam kondisi dilemma antara meminta maaf dan kemudian berusaha keras


mengembalikan kepercayaan Amanda, atau melepasnya pergi.  Hingga pada keputusan, bahwa ia harus benar-benar


merasakan begitu kehilangan sehingga apabila ia kembali pada Amanda suatu saat


nanti ia akan merasakan bahwa Amanda begitu berharga.  Semua itu hasil konsultasinya dengan Aura.  Maka proses perceraian itu ia laksanakan pada


saat Amanda belum pulang ke Jakarta.  Ketidak hadiran Amanda dalam persidangan membuat proses itu menjadi


sangat cepat.


            Saat ini, memang benar adanya Fauzan


menjadi semakin mencintai Amanda, tapi juga dia menghargai perpisahannya.  Sehingga setiap hari dia datang ke tempat tinggal


Amanda, dia hanya bisa memperhatikan Amanda dari jauh, dan menjadikannya


sebagai sahabat.  Kedatangannya tiap hari


dengan alasan untuk bertemu dengan anak-anaknya.  Fauzan pun sekarang kembali bertanggung


jawab, dia memberikan sebagian pendapatannya pada Amanda untuk anak-anaknya.


            Bagi Amanda, keputusan Fauzan


menceraikannya adalah sesuatu yang sangat berat.  Bukan ini yang Ia harapkan dari akhir badai


rumah tangganya.  Tapi sudahlah, ia


menghargai keputusan Fauzan karena keputusan bercerai adalah hak seorang suami.  Bukannya pasrah, tapi Amanda mengerti apa


maksud Fauzan.  Dia pun melihat perubahan


Fauzan yang jauh lebih baik dibandingkan saat ia sedang jatuh cinta pada Elly.


            Menjadi sendiri lagi, merasakan


kepedihannya membuat Amanda mencurahkan segala isi hatinya dalam tulisan.  Imajinasinya menjadi semakin liar dan


dikendalikannya dalam novel.  Setelah


‘Puber kedua’ novelnya yang meledak di pasaran, Amanda telah mampu menghasilkan


dua karya lagi.  Dua novel itupun cukup


laku di pasaran, walaupun penjualannya belum mencapai angka fantastis seperti


novel pertamanya.

__ADS_1


            Dari hasil bekerjanya di Brisbane,


sedikit warisan dari orang tua, gajinya sebagai dosen di Indonesia yang tidak


ia gunakan selama ia ada di Brisbane, dan hasil penjualan novel pertamanya,


telah terparkir manis miliyaran rupiah di rekeningnya.  Amanda begitu penuh syukur atas limpahan


rejeki yang ia dapat.  Dia tidak perlu


khawatir lagi dengan tabungan kuliah anak-anaknya, dan ia pun punya cukup uang


untuk bisa membeli sebuah rumah di Jakarta.  Tadinya ia hendak membeli sebuah rumah di daerah Kelapa Gading.  Tapi dengan harga beberapa miliyar saja,


artinya ia hanya mendapat rumah di daerah rawan banjir.  Untuk mendapatkan wilayah yang tidak banjir


di Kelapa gading, di butuhkan belasan miliyar atau apartmen, tentu saja uang


Amanda tidak sebanyak itu. Dan dia pun masih berfikir untuk punya landed house dibandingkan dengan


apartmen.  Akhirnya Fauzan berhasil


merayunya untuk membeli rumah dekat dengan rumahnya terdahulu, di daerah Pondok


Bambu, Amanda berhasil membeli rumah yang layak dari hasil kerja kerasnya untuk


dia dan anak-anaknya.  Fauzan pun


bahagia, karena rumah itu dekat dengan tempat tinggalnya.


            Setelah hampir satu tahun berlalu,


kehidupan kembali normal, walau masih ada proses penyesuaian.  Seperti biasa menyesuaikan diri lagi tinggal


menghabiskan lima bulan pertama di Jakartanya dengan mengikuti bimbingan belajar


untuk masuk universitas favorit.  Dan dia


pun bisa masuk Universitas Indonesia jurusan hukum.  Saat ini, Bimo telah jadi mahasiswa, orang


tuanya bermaksud menyuruhnya untuk kost saja di Depok, tapi Bimo kurang suka


dia lebih memilih bulak-balik Jakarta-Depok dengan KRL setiap harinya.


***


Suatu siang,


Amanda mendapatkan telepon dari nomer yang tidak dikenalnya.  Sebenarnya dia enggan menjawab, karena


biasanya nomer yang tidak ada di list phone


booknya, adalah sales, atau penipu.  Tapi entah kenapa dia merasa dia harus menjawab deringan telepon itu,


akhirnya diangkatnya telepon itu.  Ternyata dari sebuah production


house ternama.  Mendapatkan nomer


telepon Amanda dari penerbitnya.  Mereka

__ADS_1


menawarkan novel Amanda untuk mereka filmkan. Wow…ini serius? Rejeki apalagi


yang datang padanya.  Mereka juga


menawarkan apakah Amanda akan menulis skenarionya atau menyerahkannya pada


mereka.  Amanda kebingungan.  Dia minta waktu untuk berfikir (sebenarnya


dia surprise saja sih), dalam


beberapa hari ia akan menghubungi rumah produksi itu.  Amanda kebingungan dalam kebahagiaannya, dia


sendirian di ruangan kantornya.  Novel


kemudian difilmkan merupakan impian banyak penulis, dan dia adalah salah


satunya.


            Begitu ketemu Fauzan, ia langsung


menceritakan berita yang baru saja ia dapatkan.  Fauzan ikut gembira mendengarnya.  Amanda pun meminta pendapat fauzan apakah ia sebaiknya mengambil


kesempatan itu? Fauzan mendukungnya.  Ini


satu tantangan baru, hanya saja Fauzan berpesan bahwa hal ini jangan sampai


mengorbankan pekerjaan utamanya dan perhatiannya pada keluarga.  Wah kalau itu jangan sampailah.


            Singkat cerita, Amanda memutuskan


untuk berkecimpung dalam perfilman Indonesia, dengan pendamping professional ia


pun turut dalam pembuatan skenario film.  Dia melakukannya di sela-sela waktu mengajarnya yang sebenarnya cukup


padat.  Karena pekerjaan seorang dosenkan


nggak cuma mengajar.  Tapi pada akhirnya


ia mampu melakukan semua pekerjaan tanpa ada yang harus dikorbankan, selain


waktu untuk dirinya sendiri.


            Setelah skenario fim siap dan telah


disetujui, waktunya melakukan survey untuk lokasi syuting, karena setting


lokasi banyak ada di Brisbane.  Amanda


diminta untuk menemani sutradara dan produser ke Brisbane untuk mencari lokasi


yang tepat sesuai imajinasi Amanda.  Selain itu mereka juga akan mengurus ijin dan perhitungan budget.


            Disepakati, bahwa survey lokasi akan


memakan waktu dua minggu.  Untuk itu


Amanda meminta agar keberangkatan ke Brisbane dilakukan saat semester break di saat dia tidak harus


mengajar.  Paling yang dia korbankan

__ADS_1


adalah mahasiswa bimbingan skripsinya.  Untuk menghemat budget yang


akan berangkat hanya dirinya, sutradara dan seorang produser.


__ADS_2