Life After Forty

Life After Forty
Episode 13 Menikah


__ADS_3

Sabtu sore,


Amanda sudah bersiap.  Fauzan yang sedang


main dengan Citra bingung melihat Amanda tampil lebih beda dari biasanya.


            “Mau ke mana Man?” Tanya Fauzan.


            “Mau kencan.”


            Fauzan kaget. “Serius?”


            Amanda bingung. “Katanya aku disuruh


kencan?”  Amanda masih dalam kondisi


sedang merapihkan dirinya.


            Citra kebingungan dengan kata


‘kencan’.  “Kencan itu ke mana bu?”


            “Kencan itu artinya ibu punya temen


baru.” Jawab Fauzan.


            Bimo pun keluar kamar, bingung


dengan penampilan ibunya yang berbeda. “Ibu mau ke mana?”


            “Mau kencan katanya.” Fauzan yang


jawab.


            Bimo heran. “Bener bu?”


            Amanda menatap Bimo. “Boleh nggak?”


            Sejenak dia diam. “Boleh sih. Sama


siapa?”


            “Nanti ibu kenalin ya.”


            Tak lama berselang, seseorang


mengucap salam di depan rumah itu.  Amanda pun bergerak membukakan pintu.


            “Hei, nggak susahkan nyarinya?”


            “Nggak kok.”


            “Yuk masuk aku kenalin.”


            Monrue pun bergerak masuk. Amanda


pun mengenalkan anggota keluarganya pada Monrue.


            “Ini Fauzan, ayahnya Bimo dan


Citra.”


            Monrue tersenyum memberikan


tangannya untuk dijabat.  Sedikit banyak


Amanda sudah bercerita tentang Fauzan.


            “Ini anak sulungku Bimo.”


            Monrue kembali memberikan tangannya


dan tersenyum ramah.


            “Dan ini si kecil Citra.”


            Monrue pun melebarkan senyumnya


untuk seorang putri cantik.


            Fauzan, Bimo dan Citra hanya bisa


terpana.  Sepertinya mereka kok familiar


dengan wajah Monrue.


            Masih belum hilang senyumnya.


            “Mau jalan sekarang?”


            “Boleh.”


            “Ya sudah, jalan dulu ya.  Titip anak-anak ya Zan!” Pinta Amanda pada


Fauzan, sebelum ia bergerak pergi dengan Monrue.


Setelah


Amanda pergi.


            “Ayah, itu penyanyi terkenalkan?”


Bimo berusaha konfirmasi.


            “Iya kayaknya.”


            “Temen ibu penyanyi?” Citra begitu


gembira. Dia bisa kenal artis.


Ketika


Amanda dan Monrue sudah memasuki mobil, mobil itu pun berjalan pelan.


            “Kita mau ke mana?” Tanya Monrue.


            “Terserah sih. Intinya kita harus


ngobrol panjang.”


            “Man, kamu harus siap mental untuk


jalan sama aku.  Kamu tahukan siapa aku,


nggak mudah untuk kita jalan ke mall, ke restorant dan ngobrol panjang tanpa


orang mau tahu hubungan kita.”  Monrue


berusaha memberikan sedikit realita.


            Iya ya, Amanda jadi mikir. “Jadi


gimana dong?”


            “Kita mau ngomong serius?”


            Amanda mengangguk.


            “Ke apartmenku saja gimana?”


            Amanda berfikir.


            “Percaya akukan?”


            Amanda mengangguk.


            “Gimana?”


            “Ok, deh, “


            BMW seri 7 pun bergerak menuju


jantung kota Jakarta.


“Kira-kira


aku bisa nggak ya jadi ayah yang baik untuk Bimo dan Citra?” Monrue berhayal


sambil memberikan minuman ringan pada Amanda, mereka telah sampai di apartmen


Monrue yang terletak di Jakarta Selatan.


            Amanda heran mendengarnya. “Kamu

__ADS_1


nggak perlu jadi ayah buat mereka.  Mereka kan sudah punya ayah.”


            Monrue bingung. “Terus?”


            “Ya kamu suami aku nantinya, tapi


bukan ayah mereka, kamu cukup jadi teman mereka sajalah.”


            “Oh gitu ya?”


            “Akupun akan begitu ke anak-anak


kamu.”


            Monrue manggut-manggut mengerti


maksud Amanda.  “Jadi apa yang akan kita


bicarakan?”


            Amanda pun mulai membicarakan konsep


yang dimaksud dengan hubungan mereka dan rencananya.  Intinya mereka membutuhkan pengacara untuk


membuat surat pernikahan, membutuhkan ustad yang menikahkan, Amanda pun akan


menghubungi kakaknya untuk menjadi wali karena orang tuanya sudah lama wafat.


Amanda pun menyerahkan pada Monrue apakah ia akan menghubungi keluarganya atau


tidak.  Dan Amanda pun meminta kepastian


bahwa Monrue saat ini memang benar-benar single,


tidak menjadi suami orang ataupun pacar siapapun.


            Monrue pun berusaha meyakinkan bahwa


dia memang benar-benar single. Dia


pun memperlihatkan surat cerainya yang diterbitkan dari Malaysia.  Dan dia memastikan bahwa ia tidak sedang berhubungan


dengan siapa pun.  Sang bunda sudah


meninggal dunia dan sang ayah sudah sangat lama tidak bertemu sejak ayah dan


ibunya bercerai, ayah Monrue kembali ke negerinya di Belanda.  Monrue pun menyanggupi untuk mendatangkan


ustad sebagai orang yang akan menikahkan mereka dan mencarikan pengacara untuk


membuat surat pernikahan mereka.  Dan dia


akan meminta Firman manajernya untuk menjadi salah satu saksi pernikahannya.


            Amanda pun meminta ijin untuk


menjadikan Fauzan sebagai saksi dari pihaknya.  Monrue tidak keberatan.  dalam


hati ia cukup salut dengan hubungan baik keduanya. Disepakati bahwa mereka akan


menikah di hari jumat.  Masih ada waktu


satu minggu.  Pembicaraan diakhiri dengan


jabatan tangan karena telah melampaui kesepakatan dengan baik.  Keduanya tersenyum puas.


            “Boleh cium nggak?”


            Amanda melotot.


            “Ya kali, namanya juga usaha.”


Monrue nyengir.


            “Satu lagi, kalau bisa hubungan kita


nggak usah di publish ya.  Kalau orang terdekat sih wajib tahu.”


            “Yah kok gitu.” Monrue kurang


setuju.


            “Nggak sanggup dengar komentar


            “Gimana sih, ngajak nikah artis tapi


nggak kuat mental.”


            “Ya gimana dong, tapi kamu harus


kabarin kalau nggak available lagi


ya. Cuma nggak usah ngasih tahu sama siapa.” Amanda mendadak galak. Becanda sih


galaknya.


            “Aku nurut saja deh, demi dapetin


kamu.”


            “Hari gini masih gombal.”


            Monrue tersenyum.  Sesaat keduanya terdiam.


            Terlihat Amanda seperti berfikir.


            “Mikir apa lagi?”


            “PR yang berat adalah gimana aku


ngomong sama Fauzan, Bimo dan Citra ya?”


            Monrue tertawa. “Wah itu aku nggak


ikut-ikutan ah…” Tapi nggak tega juga melihat Amanda masih berfikir. “Mau aku


temenin?”


            Amanda menggeleng.  “Nggaklah. Bisa kok sendiri.”


Keesokan


paginya, Amanda mengumpulkan ketiganya.


            “Jadi gini, minggu depan ibu mau


menikah dengan om Monrue.”


            Ketiganya bengong karena sebegitu syoknya


mendengar pengumuman Amanda.


            “Ibu mau nikah dengan penyanyi itu?”


Bimo masih nggak percaya.


            “Well,


sebenarnya Monrue minta ibu jadi pacarnya sih, tapi ibu sudah tua nggak mungkin


pacaran.  Jadinya ibu minta untuk nikah


bawah tangan, supaya hubungan ibu nggak menjadi dosa.”  Amanda yakin Bimo cukup paham maksud sang


ibu.


            “Kenapa harus bawah tangan, kenapa


nggak resmi saja?” Fauzan yang kali ini bertanya.


            “Karena aku nggak mau buru-buru


memberikan dia tanggung jawab.  Intinya


aku cuma nggak pingin berdosa. Kamu kan tahu seumur hidupku aku nggak pernah


pacaran.”


            “Jadi om Monrue jadi ayah aku juga?”


Citra yang kali ini bertanya.  Dia sudah


kelas satu SD sih, sepertinya sudah tahu konsep pernikahan.

__ADS_1


            “Ya, mungkin nggak perlu buru-buru,


yang pastinya om Monrue mau jadi teman ade.  Karena kamu sudah punya ayah, dan nggak akan tergantikan.”  Amanda menegaskan bahwa ia sangat menghargai


Fauzan.


            “Setelah ibu menikah, om Monrue akan


tinggal di sini?”


            Amanda garuk-garuk kepala yang nggak


gatal sebetulnya.  Dia sudah duga sih


akan banyak pertanyaan. “Mungkin awalnya akan sering menginap di sini, tapi nggak


secepatnya tinggal bareng kita kok.”  Susah juga ya, sebenarnya Amanda hanya ingin pacaran halal saja


lho.  Nggak mau terburu-buru untuk


menuntut semua langsung berubah.


            Setelahnya, Amanda masih mendapatkan


banyak pertanyaan dari ketiganya.  Amanda


berusaha menjawab semua pertanyaan sampai mereka puas dan mampu menerima.  Mereka memang banyak bertanya, tapi tidak ada


ada penolakan dari kedua anaknya, mungkin karena mereka masih penasaran sih,


calon ayah tiri mereka seperti apa.  Apapun itu, Fauzan berusaha meyakinkan kepada kedua anaknya bahwa ia


akan selalui melindungi mereka dari apapun, sehingga mereka tidak perlu


khawatir akan adanya orang baru di tengah-tengah mereka.


            Setelah menyampaikan puluhan


pertanyaan. Sepertinya anak-anak itu sudah mulai menerima.  Mereka hanya bertanya-tanya apa yang akan


terjadi.  Setelah selesai dengan


pertemuan panjang itu, kedua anak itu kembali dengan aktivitas masing-masing


dan meninggalkan Amanda berdua dengan Fauzan.


            “Kamu yakin?” Fauzan masih bingung


sebenarnya.


            “Nggak sih, tapi aku mau coba.”


            “Sejauh mana kamu kenal dia?”


            Amanda bingung jawabnya. “Aku baru


kenal.”


            “Itu gila.” Fauzan emosi.


            “Kamu yang bilangkan, aku harus


mencoba cari cinta baru.”


            “Nggak segila ini juga Manda.”


            “Yang membuat aku yakin adalah dia


orang terkenal, nggak mungkin macam-macam.  Reputasinya bisa habis kalau dia bertindak bodoh.”


            “Menurut aku kamu yang bertindak


bodoh sekarang.”


            “Fauzan please dukung aku!”


            Fauzan cuma diam.


            “Mau ya, kamu sahabat aku sekarang.”


            Fauzan mulai luluh.


            “Bantu aku ya!  Tidak ada jaminan kalau aku akan baik-baik saja,


tapi paling tidak aku nggak takut untuk mencoba.”


            Fauzan menghela nafas. “Dia nyakitin


kamu, dia mati di tanganku.  Bilang sama


dia ya!”


            Amanda tersenyum, dia berterima


kasih atas dukungan Fauzan.  Fauzan pun


bersedia menjadi saksi pernikahannya.  Fauzan lebih memilih untuk terlibat dari pada pergi meninggalkan orang


yang dia cintai.  Berat memang cintanya


benar-benar pergi.


            Amanda pun mampu untuk meyakinkan


sang kakak dan bersedia menjadi wali nikahnya.  Sang kakak sebenarnya sama syoknya dengan ketiga orang terdekat Amanda,


tapi dia tidak punya pilihan selain menikahkan sang adik.


            Pernikahan pun akhirnya berlangsung


di kediaman Amanda, dihadiri oleh pengacara yang juga membuat surat pernikahan,


Nisa sahabat Amanda dengan Mas Rudi suaminya, tetangga terdekat dan kepala RT, dan


manajernya Monrue, Fauzan dan kedua anak Amanda tentunya, dan seperti rencana


wali nikahnya sang kakak yang sengaja datang dari semarang.  Monrue mendatangkan ustad yang cukup terkenal


untuk menikahkan mereka.  Pernikahan


mereka berlangsung penuh hikmad, tapi sangat tertutup.


            Kejutan kecil untuk Amanda, mas


kawin dalam pernikahannya adalah cincin yang tidak ia beli di Brisbane.  Melihat itu Amanda tersenyum bahagia, dia


mendapatkan kedua cincin yang dia inginkan.  Monrue pun bahagia melihat Amanda senang dengan kejutannya.  Dulu dia berfikir membelinya karena mau


menjadikannya hadiah kalau Amanda bersedia jadi pacarnya.  Tapi ternyata keputusannya itu memudahkannya


dalam proses pernikahan ini.


            Setelah menikah, Monrue mengajak


Amanda untuk tinggal di apartmen selama akhir pekan.  Fauzan pun maklum, dia berjanji untuk menjaga


anak-anak mereka.  Dan keluarga Mas Rino


pun masih tinggal beberapa hari di rumah itu.  Jadi nggak papa lah, kalau Amanda pergi beberapa hari saja.


            Sesampai di apartemen Amanda duduk


di ruang tamu, lelah juga dengan segala prosesi, padahal semuanya sangat simple.  Monrue kemudian duduk di hadapan Amanda, dia memandang Amanda begitu


dalam.  Kemudian dia membuka kerudung


Amanda.  Amanda heran dengan apa yang


dilakukan Monrue.


            “Mau ngapain?”


            “Mau lihat anugrahku.”  Monrue pun memandang Amanda semakin dalam.


“Cantik.”


            Amanda jadi ingat waktu di Brisbane,


Monrue bilang nungguin anugrah, oh dia maksud ini.  Amanda jadi tersenyum.  Amanda pun menggenggam tangan Monru.  “Kalau suatu saat kamu bosan sama aku, bilang


ya, jangan nyakitin aku!” Pintanya.


            Mendengar itu Monrue memeluk Amanda.

__ADS_1


“Aku cinta kamu, nggak mungkin nyakitin kamu.” Janjinya untuk Amanda.


__ADS_2