
Sabtu sore,
Amanda sudah bersiap. Fauzan yang sedang
main dengan Citra bingung melihat Amanda tampil lebih beda dari biasanya.
“Mau ke mana Man?” Tanya Fauzan.
“Mau kencan.”
Fauzan kaget. “Serius?”
Amanda bingung. “Katanya aku disuruh
kencan?” Amanda masih dalam kondisi
sedang merapihkan dirinya.
Citra kebingungan dengan kata
‘kencan’. “Kencan itu ke mana bu?”
“Kencan itu artinya ibu punya temen
baru.” Jawab Fauzan.
Bimo pun keluar kamar, bingung
dengan penampilan ibunya yang berbeda. “Ibu mau ke mana?”
“Mau kencan katanya.” Fauzan yang
jawab.
Bimo heran. “Bener bu?”
Amanda menatap Bimo. “Boleh nggak?”
Sejenak dia diam. “Boleh sih. Sama
siapa?”
“Nanti ibu kenalin ya.”
Tak lama berselang, seseorang
mengucap salam di depan rumah itu. Amanda pun bergerak membukakan pintu.
“Hei, nggak susahkan nyarinya?”
“Nggak kok.”
“Yuk masuk aku kenalin.”
Monrue pun bergerak masuk. Amanda
pun mengenalkan anggota keluarganya pada Monrue.
“Ini Fauzan, ayahnya Bimo dan
Citra.”
Monrue tersenyum memberikan
tangannya untuk dijabat. Sedikit banyak
Amanda sudah bercerita tentang Fauzan.
“Ini anak sulungku Bimo.”
Monrue kembali memberikan tangannya
dan tersenyum ramah.
“Dan ini si kecil Citra.”
Monrue pun melebarkan senyumnya
untuk seorang putri cantik.
Fauzan, Bimo dan Citra hanya bisa
terpana. Sepertinya mereka kok familiar
dengan wajah Monrue.
Masih belum hilang senyumnya.
“Mau jalan sekarang?”
“Boleh.”
“Ya sudah, jalan dulu ya. Titip anak-anak ya Zan!” Pinta Amanda pada
Fauzan, sebelum ia bergerak pergi dengan Monrue.
Setelah
Amanda pergi.
“Ayah, itu penyanyi terkenalkan?”
Bimo berusaha konfirmasi.
“Iya kayaknya.”
“Temen ibu penyanyi?” Citra begitu
gembira. Dia bisa kenal artis.
Ketika
Amanda dan Monrue sudah memasuki mobil, mobil itu pun berjalan pelan.
“Kita mau ke mana?” Tanya Monrue.
“Terserah sih. Intinya kita harus
ngobrol panjang.”
“Man, kamu harus siap mental untuk
jalan sama aku. Kamu tahukan siapa aku,
nggak mudah untuk kita jalan ke mall, ke restorant dan ngobrol panjang tanpa
orang mau tahu hubungan kita.” Monrue
berusaha memberikan sedikit realita.
Iya ya, Amanda jadi mikir. “Jadi
gimana dong?”
“Kita mau ngomong serius?”
Amanda mengangguk.
“Ke apartmenku saja gimana?”
Amanda berfikir.
“Percaya akukan?”
Amanda mengangguk.
“Gimana?”
“Ok, deh, “
BMW seri 7 pun bergerak menuju
jantung kota Jakarta.
“Kira-kira
aku bisa nggak ya jadi ayah yang baik untuk Bimo dan Citra?” Monrue berhayal
sambil memberikan minuman ringan pada Amanda, mereka telah sampai di apartmen
Monrue yang terletak di Jakarta Selatan.
Amanda heran mendengarnya. “Kamu
__ADS_1
nggak perlu jadi ayah buat mereka. Mereka kan sudah punya ayah.”
Monrue bingung. “Terus?”
“Ya kamu suami aku nantinya, tapi
bukan ayah mereka, kamu cukup jadi teman mereka sajalah.”
“Oh gitu ya?”
“Akupun akan begitu ke anak-anak
kamu.”
Monrue manggut-manggut mengerti
maksud Amanda. “Jadi apa yang akan kita
bicarakan?”
Amanda pun mulai membicarakan konsep
yang dimaksud dengan hubungan mereka dan rencananya. Intinya mereka membutuhkan pengacara untuk
membuat surat pernikahan, membutuhkan ustad yang menikahkan, Amanda pun akan
menghubungi kakaknya untuk menjadi wali karena orang tuanya sudah lama wafat.
Amanda pun menyerahkan pada Monrue apakah ia akan menghubungi keluarganya atau
tidak. Dan Amanda pun meminta kepastian
bahwa Monrue saat ini memang benar-benar single,
tidak menjadi suami orang ataupun pacar siapapun.
Monrue pun berusaha meyakinkan bahwa
dia memang benar-benar single. Dia
pun memperlihatkan surat cerainya yang diterbitkan dari Malaysia. Dan dia memastikan bahwa ia tidak sedang berhubungan
dengan siapa pun. Sang bunda sudah
meninggal dunia dan sang ayah sudah sangat lama tidak bertemu sejak ayah dan
ibunya bercerai, ayah Monrue kembali ke negerinya di Belanda. Monrue pun menyanggupi untuk mendatangkan
ustad sebagai orang yang akan menikahkan mereka dan mencarikan pengacara untuk
membuat surat pernikahan mereka. Dan dia
akan meminta Firman manajernya untuk menjadi salah satu saksi pernikahannya.
Amanda pun meminta ijin untuk
menjadikan Fauzan sebagai saksi dari pihaknya. Monrue tidak keberatan. dalam
hati ia cukup salut dengan hubungan baik keduanya. Disepakati bahwa mereka akan
menikah di hari jumat. Masih ada waktu
satu minggu. Pembicaraan diakhiri dengan
jabatan tangan karena telah melampaui kesepakatan dengan baik. Keduanya tersenyum puas.
“Boleh cium nggak?”
Amanda melotot.
“Ya kali, namanya juga usaha.”
Monrue nyengir.
“Satu lagi, kalau bisa hubungan kita
nggak usah di publish ya. Kalau orang terdekat sih wajib tahu.”
“Yah kok gitu.” Monrue kurang
setuju.
“Nggak sanggup dengar komentar
“Gimana sih, ngajak nikah artis tapi
nggak kuat mental.”
“Ya gimana dong, tapi kamu harus
kabarin kalau nggak available lagi
ya. Cuma nggak usah ngasih tahu sama siapa.” Amanda mendadak galak. Becanda sih
galaknya.
“Aku nurut saja deh, demi dapetin
kamu.”
“Hari gini masih gombal.”
Monrue tersenyum. Sesaat keduanya terdiam.
Terlihat Amanda seperti berfikir.
“Mikir apa lagi?”
“PR yang berat adalah gimana aku
ngomong sama Fauzan, Bimo dan Citra ya?”
Monrue tertawa. “Wah itu aku nggak
ikut-ikutan ah…” Tapi nggak tega juga melihat Amanda masih berfikir. “Mau aku
temenin?”
Amanda menggeleng. “Nggaklah. Bisa kok sendiri.”
Keesokan
paginya, Amanda mengumpulkan ketiganya.
“Jadi gini, minggu depan ibu mau
menikah dengan om Monrue.”
Ketiganya bengong karena sebegitu syoknya
mendengar pengumuman Amanda.
“Ibu mau nikah dengan penyanyi itu?”
Bimo masih nggak percaya.
“Well,
sebenarnya Monrue minta ibu jadi pacarnya sih, tapi ibu sudah tua nggak mungkin
pacaran. Jadinya ibu minta untuk nikah
bawah tangan, supaya hubungan ibu nggak menjadi dosa.” Amanda yakin Bimo cukup paham maksud sang
ibu.
“Kenapa harus bawah tangan, kenapa
nggak resmi saja?” Fauzan yang kali ini bertanya.
“Karena aku nggak mau buru-buru
memberikan dia tanggung jawab. Intinya
aku cuma nggak pingin berdosa. Kamu kan tahu seumur hidupku aku nggak pernah
pacaran.”
“Jadi om Monrue jadi ayah aku juga?”
Citra yang kali ini bertanya. Dia sudah
kelas satu SD sih, sepertinya sudah tahu konsep pernikahan.
__ADS_1
“Ya, mungkin nggak perlu buru-buru,
yang pastinya om Monrue mau jadi teman ade. Karena kamu sudah punya ayah, dan nggak akan tergantikan.” Amanda menegaskan bahwa ia sangat menghargai
Fauzan.
“Setelah ibu menikah, om Monrue akan
tinggal di sini?”
Amanda garuk-garuk kepala yang nggak
gatal sebetulnya. Dia sudah duga sih
akan banyak pertanyaan. “Mungkin awalnya akan sering menginap di sini, tapi nggak
secepatnya tinggal bareng kita kok.” Susah juga ya, sebenarnya Amanda hanya ingin pacaran halal saja
lho. Nggak mau terburu-buru untuk
menuntut semua langsung berubah.
Setelahnya, Amanda masih mendapatkan
banyak pertanyaan dari ketiganya. Amanda
berusaha menjawab semua pertanyaan sampai mereka puas dan mampu menerima. Mereka memang banyak bertanya, tapi tidak ada
ada penolakan dari kedua anaknya, mungkin karena mereka masih penasaran sih,
calon ayah tiri mereka seperti apa. Apapun itu, Fauzan berusaha meyakinkan kepada kedua anaknya bahwa ia
akan selalui melindungi mereka dari apapun, sehingga mereka tidak perlu
khawatir akan adanya orang baru di tengah-tengah mereka.
Setelah menyampaikan puluhan
pertanyaan. Sepertinya anak-anak itu sudah mulai menerima. Mereka hanya bertanya-tanya apa yang akan
terjadi. Setelah selesai dengan
pertemuan panjang itu, kedua anak itu kembali dengan aktivitas masing-masing
dan meninggalkan Amanda berdua dengan Fauzan.
“Kamu yakin?” Fauzan masih bingung
sebenarnya.
“Nggak sih, tapi aku mau coba.”
“Sejauh mana kamu kenal dia?”
Amanda bingung jawabnya. “Aku baru
kenal.”
“Itu gila.” Fauzan emosi.
“Kamu yang bilangkan, aku harus
mencoba cari cinta baru.”
“Nggak segila ini juga Manda.”
“Yang membuat aku yakin adalah dia
orang terkenal, nggak mungkin macam-macam. Reputasinya bisa habis kalau dia bertindak bodoh.”
“Menurut aku kamu yang bertindak
bodoh sekarang.”
“Fauzan please dukung aku!”
Fauzan cuma diam.
“Mau ya, kamu sahabat aku sekarang.”
Fauzan mulai luluh.
“Bantu aku ya! Tidak ada jaminan kalau aku akan baik-baik saja,
tapi paling tidak aku nggak takut untuk mencoba.”
Fauzan menghela nafas. “Dia nyakitin
kamu, dia mati di tanganku. Bilang sama
dia ya!”
Amanda tersenyum, dia berterima
kasih atas dukungan Fauzan. Fauzan pun
bersedia menjadi saksi pernikahannya. Fauzan lebih memilih untuk terlibat dari pada pergi meninggalkan orang
yang dia cintai. Berat memang cintanya
benar-benar pergi.
Amanda pun mampu untuk meyakinkan
sang kakak dan bersedia menjadi wali nikahnya. Sang kakak sebenarnya sama syoknya dengan ketiga orang terdekat Amanda,
tapi dia tidak punya pilihan selain menikahkan sang adik.
Pernikahan pun akhirnya berlangsung
di kediaman Amanda, dihadiri oleh pengacara yang juga membuat surat pernikahan,
Nisa sahabat Amanda dengan Mas Rudi suaminya, tetangga terdekat dan kepala RT, dan
manajernya Monrue, Fauzan dan kedua anak Amanda tentunya, dan seperti rencana
wali nikahnya sang kakak yang sengaja datang dari semarang. Monrue mendatangkan ustad yang cukup terkenal
untuk menikahkan mereka. Pernikahan
mereka berlangsung penuh hikmad, tapi sangat tertutup.
Kejutan kecil untuk Amanda, mas
kawin dalam pernikahannya adalah cincin yang tidak ia beli di Brisbane. Melihat itu Amanda tersenyum bahagia, dia
mendapatkan kedua cincin yang dia inginkan. Monrue pun bahagia melihat Amanda senang dengan kejutannya. Dulu dia berfikir membelinya karena mau
menjadikannya hadiah kalau Amanda bersedia jadi pacarnya. Tapi ternyata keputusannya itu memudahkannya
dalam proses pernikahan ini.
Setelah menikah, Monrue mengajak
Amanda untuk tinggal di apartmen selama akhir pekan. Fauzan pun maklum, dia berjanji untuk menjaga
anak-anak mereka. Dan keluarga Mas Rino
pun masih tinggal beberapa hari di rumah itu. Jadi nggak papa lah, kalau Amanda pergi beberapa hari saja.
Sesampai di apartemen Amanda duduk
di ruang tamu, lelah juga dengan segala prosesi, padahal semuanya sangat simple. Monrue kemudian duduk di hadapan Amanda, dia memandang Amanda begitu
dalam. Kemudian dia membuka kerudung
Amanda. Amanda heran dengan apa yang
dilakukan Monrue.
“Mau ngapain?”
“Mau lihat anugrahku.” Monrue pun memandang Amanda semakin dalam.
“Cantik.”
Amanda jadi ingat waktu di Brisbane,
Monrue bilang nungguin anugrah, oh dia maksud ini. Amanda jadi tersenyum. Amanda pun menggenggam tangan Monru. “Kalau suatu saat kamu bosan sama aku, bilang
ya, jangan nyakitin aku!” Pintanya.
Mendengar itu Monrue memeluk Amanda.
__ADS_1
“Aku cinta kamu, nggak mungkin nyakitin kamu.” Janjinya untuk Amanda.