Life After Forty

Life After Forty
Episode 3 Semesta mendukung


__ADS_3

Hampir


pukul empat sore ketika Amanda baru saja selesai mengajar kelas sore, duduk di


kursi kerjanya sekedar ingin membuka email sebelum ia hendak pulang.  Amanda mendapatkan email yang cukup menarik


sore itu.  Supervisornya ketika ia S3 dulu, menawarkan program post-doctoral untuknya.  Saat ini, sang supervisor sedang menjalankan satu projek besar di


universitasnya.  Membutuhkan banyak


peneliti untuk menganalisa data yang sudah ada.  Sebagai cendikiawan sosial, jasa Amanda dibutuhkan dalam projek


ini.  Dari itu sang supervisor menawarkan


program post-doc selama dua tahun


untuknya. Tuntutan kerjanya adalah Amanda harus menghasilkan minimal dua


artikel untuk edited book.  Seperti mendapatkan durian runtuh, Amanda


amat bersyukur dengan tawaran itu. Menjalani program post-doc tanpa mengikuti program seleksi, kesempatan itu hanya satu


kali dalam sejuta kemungkinan. Dia melihat tawaran allowancenya pun cukup menjanjikan.


            Amanda menjawab email itu dengan


begitu bersemangat.  Ia pun menjelaskan


permasalahan pribadinya saat ini, bagaimana ia kali ini harus membawa serta


kedua anak-anaknya dari awal apabila memang ia bisa mendapatkan tawaran kerja


itu.   Besar harapannya bahwa sang


supervisor tidak berubah fikiran ketika mengetahui kondisi keluarga Amanda saat


ini.  Selesai membalas email, Amanda


ingin sekali menghadap dekan untuk mendapatkan pencerahan atas kemungkinan akan


ijin untuk meninggalkan kerjanya sementara waktu.  Walaupun besar kemungkinan diijinkan tapi ia


tetap harus mengikuti prosedur yang ditentukan kantornya.  Hari sudah sore, kepala jurusan ataupun dekan


juga sudah tidak ada di ruangannya.  Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar ruangannya untuk menjemput Citra


di daycare after school dan kemudian


pulang.  Ia akan berusaha menyampaikan


dan ingin mengetahui pendapat Bimo tentang ide ini.


“Menurut


mas, kalau kita pindah ke Australia sebentar gimana?” Amanda bertanya pada Bimo


ketika makan malam.  Agak grogi juga dia


bertanya pada si sulung, rasanya kayak mau minta ijin sama orang tua gitu


groginya… inikan dia sedang bicara dengan anaknya.


            Nggak cuma Bimo, Citra yang


mendengar juga keheranan.


            “Seberapa bentar?”  Bimo agak curiga.


            “Dua tahun?” Grogi Amanda masih


belum hilang. Menanti jawaban Bimo.


            “Brisbane lagi?”  Bimo memang pernah sekolah saat SD beberapa


tahun, ketika Amanda sedang menjalankan S3 nya.  Citra belum lahir saat itu.  Mereka


hanya bertiga ketika itu.


            Amanda mengangguk.


            “Aku mau, akukan belum pernah ke


Brisbane.” Citra bersemangat.


            Amanda masih menunggu jawaban Bimo,


tapi dia tersenyum mendengar jawaban Citra, paling tidak satu anak telah


setuju.


            “Ibu sekolah lagi?”


            Amanda mengangguk. “Ada tawaran,


kalau memang berhasil masuk, ya kita bertiga ke sana.  Tapi itu kalau kamu mau.” Menjawab dengan


hati-hati.


            Bimo tersenyum.  “Boleh juga, kenapa nggak?”


            Amanda tersenyum lega. “Kalau gitu


kalian doain ibu ya, semoga ibu keterima.” Pinta Amanda pada anak-anaknya.


            Keduanya pun mengangguk bersemangat.  Citrapun langsung memejamkan matanya, dengan


bersungguh-sungguh ia memanjatkan doa.


Semesta


mendukung.  Dua hari berselang email


jawaban dari supervisor yang


menawarkan post-doc pun menyatakan


bahwa beliau sama sekali tidak keberatan dengan kondisi Amanda yang


mengharuskan ia membawa serta keluarganya bersamaan.  Kepala jurusan dan dekan pun sangat mendukung


program yang akan dijalankan Amanda mengingat proyek besar ini akan ada


dampaknya ke universitas tempatnya bekerja karena memang bagian dari kerja sama


antar dua universitas. Kalau semua berjalan lancar, Amanda dan kedua anaknya


harus tiba di Brisbane paling lambat pertengahan Januari tahun depan.  Itu artinya empat bulan dari sekarang. Saat


ini, Amanda hanya harus memutar otak untuk mencari biaya asuransi kedua anaknya


dan juga tiket pesawat, mengingat universitas tempatnya bekerja nanti di


Australia hanya akan membiayai dirinya.  Lagi-lagi financial lah yang


menjadi kendala.


Dua


bulan berlalu, surat sponsor dari Universitas di Brisbane sudah keluar, allowance (baca: tunjangan hidup) nya


baru akan keluar ketika ia sudah berada di sana, pihak universitas di Brisbane


menyatakan bahwa tiket akan mereka beli ketika visa telah siap, atau mereka


akan mengganti sesuai dengan biaya yang dikeluarkan Amanda apabila Amanda ingin


membeli tiket penerbangannya sendiri.  Semua dokumen yang dibutuhkan seperti passport biru, dan passport


anak-anak, serta dokumen-dokumen pendukung sebenarnya sudah lengkap.  Ia tinggal membuat visa untuk dirinya dan


anak-anak.  Surat keterangan dari sekolah


anaknya pun sudah ia dapatkan apabila sewaktu-waktu mereka pindah ke


Brisbane.  Satu hal yang membuat Amanda


resah, ia membutuhkan uang yang jumlahnya cukup besar untuk membayar asuransi


kesehatan anak-anaknya sebagai syarat pengajuan visa, karena asuransi kesehatan


untuk dirinya sudah ditanggung kampusnya di Brisbane.  Selain itu juga ia membutuhkan uang untuk


membeli tiket untuk anak-anaknya, tes kesehatan ia dan anak-anak, dan biaya bond (baca: uang jaminan) untuk kontrak


awal unit tempat tinggalnya nanti.  Ia


memang telah menghubungi kenalannya yang masih tinggal di Brisbane.  Diantara mereka ada yang akan menyelesaikan


studynya di sana, mereka menawarkan Amanda untuk melanjutkan kontrak unit


tempat tinggal mereka.  Sebenarnya itu


tawaran yang sangat membantu.  Tapi


sekali lagi, Amanda belum bisa menerima tawaran itu karena dia masih bingung dengan


masalah keuangannya.  Setelah ia


hitung-hitung, membutuhkan kurang lebih seratus juta untuk dia dan anak-anak


memulai hidup di Brisbane.  Kendala itu


karena ia membawa keluarganya dari awal.


            Amanda tergoda untuk meminjam uang


di bank dengan cara mengajukan kredit tanpa anggunan.  Cicilannya akan dibayar dengan gajinya


sebagai pegawai negeri karena memang status dia akan menjadi tugas belajar,


artinya dia akan tetap mendapatkan penghasilan dari kampusnya di


Indonesia.  Tapi Amanda berfikir keras,


bertentangan dengan prinsip hidupnya selama ini rasanya kok dijalani dengan tidak


nyaman.  Tapi dia tak punya pilihan


lain.  Masih dengan perasaan berat, dia


berfikir jalan terakhir akan dia tempuh kalau memang benar-benar tidak ada


pilihan.


            Jumat sore, ketika Amanda hendak


beranjak dari kursi kerjanya untuk menjemput Citra dan pulang. Telepon


genggamnya berdering mengabarkan bahwa sang abang menghubunginya.


            “Halo mas, apa kabar?”


            Dari seberang telepon Rino menjawab.


“De kamu lagi sibuk nggak? Aku bisa ngomong?”


            “Iya mas bisa kok.”


            “Tanah bapak yang di Magelang laku


de, Alhamdulilah harganya juga


bagus.”  Rino mengabarkan kabar baik.


            “Oh ya?” seperti mendapat siraman


air sejuk di tengah padang panas.


            “Kamu bisa besok ke Semarang, tanda


tangan depan notaris? Soalnya nggak boleh diwakilkan.”


            “Oh begitu. Ya sudah mas, aku besok


terbang deh sama anak-anak ke Semarang.  Mas bisa jemput ya?”


            “Di bandara? Jam berapa?”


            Amanda tertawa. “Ya belum tahu,


akukan belum punya tiket.”


            Rino pun tertawa. “Oh iya. Kabarin saja


kapan kamu landing ya.”

__ADS_1


            “Ok. Begitu dapet tiket aku kabarin


mas.”


            “Ya sudah, itu saja ya. Assalamualaikum.”


            “Waalaikumsalam.”


Begitu


sampai apartmen.  Amanda langsung online untuk membeli tiket ke


Semarang.  Beruntung dia masih bisa dapat


tiga tiket pulang pergi, walaupun harganya lumayanlah.


            Mas, Ade… besok pagi kita ke Semarang


ya?”


            Citra dan Bimo yang sedang nonton TV


kebingungan.


            “Besok banget?”


            “Heeh… pagi jam 7 kita berangkat ke


Halim ya.” Perintah sang bunda.


            “Hore aku bisa main sama mbak Adel.”


Citra bahagia akan ketemu dengan sepupunya.


            “Pak de sama bu de baik-baik saja


kan?” Bimo masih mencari alasan kenapa mereka tiba-tiba harus pergi ke


Semarang.


            “Baik. Ibu hanya ada perlu sedikit


dengan pak de.”


            “Oh.”


Ketika


semua urusan administrasi dan notaris telah selesai tadi siang, malam harinya


Amanda duduk termenung di teras rumah sang kakak, Letak rumah di Tembalang,


dengan pemandangan dari teras rumah adalah kota Semarang, memang sangat indah,


malam hari dengan lampu-lampu kota yang terang menambah keromantisan suasana


yang didapat.  Amanda sangat menikmati


pemandangan itu.


            “Bimo sudah cerita semua.” Tiba-tiba


sang kakak mengagetkannya.


            Amanda hanya menoleh kaget.


            “Fauzan sedang puber kedua


ternyata?” Rino duduk di samping sang adik.


            “Mungkin.”


            “Tapi kenapa kamu harus meninggalkan


rumah? Itu nggak baik.”


            Amanda terdiam, sepertinya memang


Bimo nggak terlalu tahu kalau malam itu bukan dia yang memutuskan meninggalkan


rumah, tapi dia diusir. “Nggak ada jalan lain mas.” Hanya itu yang bisa ia


sampaikan.


            Rino hanya berusaha maklum.  “Sekarang apa rencana kamu? Jangan dulu


buru-buru memutuskan pisah ya!” pinta sang kakak.


            Amanda mengangguk. “Aku dan


anak-anak akan ke Brisbane mas, mungkin ini jalan yang baik untuk saya dan


Fauzan menenangkan diri.”


            “Warisan bapak ini, apa kita bagi


rata saja?”


            Amanda menggeleng. “Cara Islam saja


mas, Biar berkah.”


            “Kamu sedang butuh uang banyak untuk


berangkat ke Brisbanekan?”


            Amanda tersenyum. “Aku memang butuh


uang, tapi bukan berarti harus melanggar aturan. InshaAllah dari apa yang jadi hak aku sudah lebih dari cukup kok


mas.”


            Rino mengalah. “Ya sudah, hari senin


aku transfer ya.”


            Amanda pun mengangguk dan


mengucapkan terima kasih.  Dia pun menyandarkan


kepalanya ke bahu sang abang.  Ah…


ternyata menyenangkan masih mempunyai kakak yang bisa diandalkan.  Lega rasanya setelah bisa membagi sedikit


bebannya.


menepati janjinya, senin siang tiga ratus lima puluh juta telah mendarat di rekening


Amanda.  Amanda pun mengucap syukur.  Apa yang dia dapat lebih dari cukup untuk


kebutuhan awal perjalanan dia dan anak-anak ke Brisbane.  Dia membagi uang itu menjadi tiga bagian yang


tidak sama rata. Pertama untuk zakat dan membayar utang, termasuk sewa apartemen


tentunya, walaupun Nisa tidak meminta, tapi Amanda merasa tetap harus membayarnya


begitu ia mendapatkan rejeki. Pos kedua untuk kebutuhan awal ke Brisbane, dari


pembayaran asuransi wajib, tes kesehatan, biaya visa, tiket, bond serta pegangan untuk beberapa


bulan, yang ketiga adalah mengisi pos tabungan yang selama ini terpakai.  Walaupun tidak terlalu banyak, paling tidak


ada tabungan untuk anak-anaknya kuliah.  Itu harapannya.  Sekali lagi,


Amanda begitu bersyukur.  Semua ada jalan


keluar tepat pada waktunya.


Setelah


membayar OCHC[1],


Amanda mulai mengisi form visa dengan begitu teliti.  Di akhir pengisian terhenti ketika ternyata


apabila ia membawa anak tanpa sang ayah, ia harus mendapat persetujuan sang


ayah.  Sesaat Amanda terdiam, itu artinya


ia harus bertemu dengan Fauzan, menjelaskan permasalahan ini, dan meminta


persetujuannya agar ia bisa membawa anak-anak ke Brisbane.  Enggan sebenarnya, tapi prosedur ini harus


dijalankan.  Bagaimanapun Bimo dan Citra


adalah anak-anak Fauzan juga.  Ia berhak


tahu kemana Amanda membawa anak-anak itu pergi.


            Akhirnya Amanda memutuskan untuk


menghubungi Fauzan melalui pesan singkat dengan media online.  Dia hanya mengatakan


bahwa ia ingin bertemu Fauzan untuk membicarakan hal penting. Ia pun menawarkan


diri untuk bertemu dekat dengan lokasi kerja Fauzan untuk mempermudah Fauzan, mengingat


besok dia hanya akan mengajar di pagi dan sore hari.  Maka saat jam makan siang dia punya cukup


waktu.  Fauzan pun menjawab positif permintaan


Amanda, dia besok bersedia bertemu Amanda. Mereka janji bertemu di FX.


            Fauzan agak kaget mendapatkan kabar


dari Amanda yang ingin bertemu dengannya. Amanda bilang dia ingin membicarakan


satu hal penting. Apakah gerangan hal itu? Apakah Amanda marah dengan


pertemuannya dengan Citra beberapa minggu yang lalu ya? Ah kalau memang ingin


membahas masalah itu pasti dari dulu-dulu Amanda sudah menghubunginya.  Fauzan tiba-tiba makin grogi apakah Amanda


ingin membahas tentang pernikahannya ya? Waduh… jangan sampai Amanda minta


pisah, Fauzan sama sekali nggak siap.  Dia tahu dirinya adalah pihak yang bersalah, tapi nggak segitu seriuslah


sampai harus pisah.  Tapi akhirnya Fauzan


menyetujui permintaan Amanda untuk bertemu dengannya, ada sedikit rasa kangen


sih ingin bertemu dengan Amanda.  Hampir


sepuluh bulan sudah mereka pisah rumah.


**


Amanda


sampai lebih dulu ternyata, dia kemudian memberitahu Fauzan bahwa ia menantinya


di sebuah coffee shop yang ada di


mall itu dengan pesan singkat online.  Kemudian dia mempersiapkan dokumen yang harus


ditanda tangani Fauzan.


            “Sudah lama nunggunya?”  Suara berat yang tidak asing tiba-tiba


menyapa Amanda ketika ia masih sibuk dengan berbagai dokumen.  Spontan Amanda langsung mendongak dan


tersenyum.


            “Belum kok.” Ketika menatap wajah


Fauzan, suasana malah justru kaku.


            Fauzan pun bersikap canggung,


akhirnya dia duduk di hadapan Amanda.


            “Pesan minum dulu deh, biar sah kita


ngobrol di sini.” Pinta Amanda dengan bercanda.


            “Kamu sudah pesan?”


            Amanda mengangguk sambil


memperlihatkan ice coffe latte nya.


            Fauzan pun meninggalkannya


sesaat.  Tak lama, ia sudah kembali lagi


duduk di hadapan Amanda dengan secangkir kopi hitam.  “Gimana kabar kamu?”

__ADS_1


            Amanda hanya tersenyum.  Sebenarnya dia malas basa-basi. “Baik,


anak-anak juga sehat kok.”


            Fauzan tersenyum.


            “Begini, aku mendapatkan beasiswa post-doc di kampus lamaku. Aku mau ngajak


anak-anak untuk tinggal di sana bareng aku.”


            Fauzan agak kaget mendengar berita


itu. “Kamu sama anak-anak mau ke Brisbane?”


            Amanda mengangguk.


            “Berapa lama?”


            “Dua tahun.”


            Fauzan kaget.


            “Nggak papa kan?” Amanda heran kok


Fauzan kelihatan syok. “Kita sudah 10 bulan pergi juga kamu nggak perduli.  Kenapa kaget?”


            Fauzan diam, agak tidak nyaman


dengan perkataan Amanda.


            “Aku butuh persetujuan kamu, aku


bawa anak-anak tanpa kamu. Untuk pembuatan visa.”  Amanda melanjutkan informasinya.  Dia pun membuka dokumen yang harus ditanda


tangani Fauzan.


Ketika


Amanda berusaha menunjukkan tempat di mana Fauzan harus tanda tangan…


            “Mas Fauzan lagi ngapain?”


            Amanda dan Fauzan kaget mendengar


ada suara perempuan yang demikian nyaring.


            “Ini siapa mas?”  Dengan nada penuh curiga.


            Amanda yang bingung. Kok jadi seakan


dia lagi selingkuh ya? Dia kan sedang bicara dengan suami yang masih sah untuknya.  Tapi tetap berusaha untuk tenang.  Ini perempuan muda yang cantik, kok jadi


terlihat bodoh ya dengan berteriak nyaring di depan umum.  Diakan yang selingkuhan.


            Fauzan juga sebenarnya bingung


dengan reaksi Elly.  Mall inikan dekat


dengan kantor mereka, artinya dengan dia menjerit, siapa tahu ada rekan sekerja


yang lagi makan siang di sekitar situ, jadi tahu dong kalau mereka lagi


selingkuh.


            Akhirnya Fauzan berinisiatif bicara.


“Mana yang harus aku tanda tangan?”  Dia


hanya ingin cepat selesai.


            Amanda dengan sigap menunjukan.


            Fauzan pun tanda tangan dengan


cepat.  “Tolong kasih tahu kapan kalian


pergi ya.  Aku mau ketemu anak-anak


sebelum pergi.”


            Amanda mengangguk setuju.


            Fauzan pun berlalu sambil menarik


Elly.  Tanpa memberi kesempatan untuk


Elly mengumandangkan suara nyaringnya lagi.


            Amanda menatap kepergian mereka


dengan rasa miris tapi juga lega.  Lega


karena tujuannya telah tercapai.  Miris


karena kasihan melihat Fauzan kebingungan menghadapi perempuan yang siap


berteriak mempermalukan dirinya sendiri.  Amanda hanya bisa menggeleng-geleng nggak habis fikir sambil merapikan


dokumennya dan bersiap untuk meninggalkan café itu.  Diakan harus kembali ke kampus untuk kembali mengajar.


**


Dengan


adanya pernyataan persetujuan dari Fauzan, semua menjadi beres.  Visa selesai hanya dalam waktu seminggu


setelah mereka tes kesehatan.  Semua


dokumen telah selesai di awal Desember.  Tiket pun sudah terbeli walaupun agak mahal karena awal tahun harga


tiket memang selangit.  Jika tak ada


halangan, mereka akan tiba di Brisbane tanggal 15 Januari.


Tanggal


14 Januari pukul tiga siang, Amanda memeluk sahabatnya sekali lagi.  Dia sedikit menitikan air mata terimakasihnya


untuk Nisa, apa jadinya mereka tanpa bantuan Nisa dan Rudi.


            “Makasih banyak.” Cuma itu yang bisa


mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sahabatnya.


            Nisa menyambut pelukan hangat itu,


dia bahagia atas kepergian mereka ke Brisbane.  Nisa yakin banget ini merupakan solusi terbaik untuk mereka.  “Nanti gue sama mas Rudi nengokin elo ke sana


ya.”


            “Gue tunggu.”


“Have fun di sana, jangan elo pikirin si Fauzan sableng itu.”


            Amanda kaget langsung menutup


telinga Citra. “Eh, ngomongin bapaknya depan anak-anak gue, Gitu-gitu masih


laki gue.”


            “Gue doain tuh manusia nyesel


guling-guling nyia-nyain kalian.”


            “Doain dia tobat ajalah!” Pinta


Amanda.


            Nisa tersenyum, sahabatnya ini


memang terlalu baik.  Terkadang ia gemes


banget.


“Maap


ya gue dan Mas Rudi nggak bisa nganter elo ke airport.”


            “Nggak papa, Taxi udah siap


kok.”  Amanda pun menyerahkan kunci


apartemen yang selama ini ia pinjem.


            Sekali lagi Amanda memeluk Nisa, dan


berjabat tangan dengan Mas Rudi suami Nisa.  Setelahnya, Bimo dan Citra pun berpamitan pada mereka berdua.


Beberapa


jam kemudian Amanda, Bimo dan Citra sudah ada di Bandara Soekarno Hatta


terminal keberangkatan International.  Mereka akan berangkat ke Brisbane pukul 6 sore melalui Sydney.  Amanda telah melakukan check in, dan menitipkan semua barang mereka ke bagasi.  Tapi mereka belum juga masuk ke bandara,


mereka menanti Fauzan.


            Sesuai janji Amanda pada Fauzan, ia


akan memberi tahu kapan mereka akan berangkat.  Semalam Amanda telah mengabari Fauzan. Mereka janjian untuk bertemu di


bandara, sebelum mereka masuk untuk boarding.  Amanda pun berpesan untuk tidak ada drama


lagi.  Lelah ia apabila harus bertemu


perempuan muda yang cantik bersuara nyaring itu.  Bisa-bisa telinganya sakit sebelum masuk


pesawat.  Fauzan pun menyanggupinya.


Tidak akan ada drama sore ini.


            Benar saja, Ketika Fauzan datang,


Citra bisa berlari memeluknya tanpa ada yang melarang, Fauzan pun bisa


tersenyum dan mencium kening Bimo dengan sayang.  Mereka pun bertemu dan mengobrol dengan


santai di salah satu restoran yang ada di sana.  Semuanya nyaman, walaupun kaku Amanda dan Fauzan berusaha menciptakan


suasana senyaman mungkin untuk anak-anak mereka. Amanda dan Fauzan pun bisa


merasakan kebahagiaan yang dirasa oleh anak-anak mereka.  Amanda sangat menyadari bagaimanapun


anak-anak itu sangat kangen dengan ayah mereka.  Mereka menghabiskan waktu dengan penuh makna selama satu jam penuh.


            Ketika pukul 5 sore, waktunya mereka


masuk untuk bersiap-siap boarding.  Seperti diduga ada sedikit drama antara Citra


dan Fauzan, mereka menangis berpelukan.  Fauzan yang menyadari entah kapan lagi ia bisa bertemu dengan


anak-anaknya akhirnya menitikkan sedikit air matanya.  Kalau Citra mah sudah menangis tersedu-sedu.  Diam-diam Bimo pun menangis, tapi karena dia


laki-laki dan sudah merasa besar segera menghapus titik air matanya.  Tak bisa dipungkiri Amanda pun terharu, dia


hanya bisa tersenyum tipis.  Berusaha


menghormati sang suami dengan mencium tangan Fauzan.  Fauzan dengan canggung menerima penghormatan


dari Amanda.  Ingin dia kecup kening sang


istri, tapi entah kenapa dia tak punya keberanian.


            Akhirnya Fauzan mencium kening Bimo sambil


menitipkan pesan. “Jaga ibu, jaga adikmu ya!” Ucapnya bersungguh-sungguh.


            Meninggalkan Fauzan yang termenung


sendirian, tak lama pesawat Qantas pun membawa ketiganya terbang meninggalkan


Jakarta.


 


 


 


 


 


 


[1]

__ADS_1


asuransi


kesehatan dasar sebagai syarat pembuatan visa


__ADS_2