
Hampir
pukul empat sore ketika Amanda baru saja selesai mengajar kelas sore, duduk di
kursi kerjanya sekedar ingin membuka email sebelum ia hendak pulang. Amanda mendapatkan email yang cukup menarik
sore itu. Supervisornya ketika ia S3 dulu, menawarkan program post-doctoral untuknya. Saat ini, sang supervisor sedang menjalankan satu projek besar di
universitasnya. Membutuhkan banyak
peneliti untuk menganalisa data yang sudah ada. Sebagai cendikiawan sosial, jasa Amanda dibutuhkan dalam projek
ini. Dari itu sang supervisor menawarkan
program post-doc selama dua tahun
untuknya. Tuntutan kerjanya adalah Amanda harus menghasilkan minimal dua
artikel untuk edited book. Seperti mendapatkan durian runtuh, Amanda
amat bersyukur dengan tawaran itu. Menjalani program post-doc tanpa mengikuti program seleksi, kesempatan itu hanya satu
kali dalam sejuta kemungkinan. Dia melihat tawaran allowancenya pun cukup menjanjikan.
Amanda menjawab email itu dengan
begitu bersemangat. Ia pun menjelaskan
permasalahan pribadinya saat ini, bagaimana ia kali ini harus membawa serta
kedua anak-anaknya dari awal apabila memang ia bisa mendapatkan tawaran kerja
itu. Besar harapannya bahwa sang
supervisor tidak berubah fikiran ketika mengetahui kondisi keluarga Amanda saat
ini. Selesai membalas email, Amanda
ingin sekali menghadap dekan untuk mendapatkan pencerahan atas kemungkinan akan
ijin untuk meninggalkan kerjanya sementara waktu. Walaupun besar kemungkinan diijinkan tapi ia
tetap harus mengikuti prosedur yang ditentukan kantornya. Hari sudah sore, kepala jurusan ataupun dekan
juga sudah tidak ada di ruangannya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar ruangannya untuk menjemput Citra
di daycare after school dan kemudian
pulang. Ia akan berusaha menyampaikan
dan ingin mengetahui pendapat Bimo tentang ide ini.
“Menurut
mas, kalau kita pindah ke Australia sebentar gimana?” Amanda bertanya pada Bimo
ketika makan malam. Agak grogi juga dia
bertanya pada si sulung, rasanya kayak mau minta ijin sama orang tua gitu
groginya… inikan dia sedang bicara dengan anaknya.
Nggak cuma Bimo, Citra yang
mendengar juga keheranan.
“Seberapa bentar?” Bimo agak curiga.
“Dua tahun?” Grogi Amanda masih
belum hilang. Menanti jawaban Bimo.
“Brisbane lagi?” Bimo memang pernah sekolah saat SD beberapa
tahun, ketika Amanda sedang menjalankan S3 nya. Citra belum lahir saat itu. Mereka
hanya bertiga ketika itu.
Amanda mengangguk.
“Aku mau, akukan belum pernah ke
Brisbane.” Citra bersemangat.
Amanda masih menunggu jawaban Bimo,
tapi dia tersenyum mendengar jawaban Citra, paling tidak satu anak telah
setuju.
“Ibu sekolah lagi?”
Amanda mengangguk. “Ada tawaran,
kalau memang berhasil masuk, ya kita bertiga ke sana. Tapi itu kalau kamu mau.” Menjawab dengan
hati-hati.
Bimo tersenyum. “Boleh juga, kenapa nggak?”
Amanda tersenyum lega. “Kalau gitu
kalian doain ibu ya, semoga ibu keterima.” Pinta Amanda pada anak-anaknya.
Keduanya pun mengangguk bersemangat. Citrapun langsung memejamkan matanya, dengan
bersungguh-sungguh ia memanjatkan doa.
Semesta
mendukung. Dua hari berselang email
jawaban dari supervisor yang
menawarkan post-doc pun menyatakan
bahwa beliau sama sekali tidak keberatan dengan kondisi Amanda yang
mengharuskan ia membawa serta keluarganya bersamaan. Kepala jurusan dan dekan pun sangat mendukung
program yang akan dijalankan Amanda mengingat proyek besar ini akan ada
dampaknya ke universitas tempatnya bekerja karena memang bagian dari kerja sama
antar dua universitas. Kalau semua berjalan lancar, Amanda dan kedua anaknya
harus tiba di Brisbane paling lambat pertengahan Januari tahun depan. Itu artinya empat bulan dari sekarang. Saat
ini, Amanda hanya harus memutar otak untuk mencari biaya asuransi kedua anaknya
dan juga tiket pesawat, mengingat universitas tempatnya bekerja nanti di
Australia hanya akan membiayai dirinya. Lagi-lagi financial lah yang
menjadi kendala.
Dua
bulan berlalu, surat sponsor dari Universitas di Brisbane sudah keluar, allowance (baca: tunjangan hidup) nya
baru akan keluar ketika ia sudah berada di sana, pihak universitas di Brisbane
menyatakan bahwa tiket akan mereka beli ketika visa telah siap, atau mereka
akan mengganti sesuai dengan biaya yang dikeluarkan Amanda apabila Amanda ingin
membeli tiket penerbangannya sendiri. Semua dokumen yang dibutuhkan seperti passport biru, dan passport
anak-anak, serta dokumen-dokumen pendukung sebenarnya sudah lengkap. Ia tinggal membuat visa untuk dirinya dan
anak-anak. Surat keterangan dari sekolah
anaknya pun sudah ia dapatkan apabila sewaktu-waktu mereka pindah ke
Brisbane. Satu hal yang membuat Amanda
resah, ia membutuhkan uang yang jumlahnya cukup besar untuk membayar asuransi
kesehatan anak-anaknya sebagai syarat pengajuan visa, karena asuransi kesehatan
untuk dirinya sudah ditanggung kampusnya di Brisbane. Selain itu juga ia membutuhkan uang untuk
membeli tiket untuk anak-anaknya, tes kesehatan ia dan anak-anak, dan biaya bond (baca: uang jaminan) untuk kontrak
awal unit tempat tinggalnya nanti. Ia
memang telah menghubungi kenalannya yang masih tinggal di Brisbane. Diantara mereka ada yang akan menyelesaikan
studynya di sana, mereka menawarkan Amanda untuk melanjutkan kontrak unit
tempat tinggal mereka. Sebenarnya itu
tawaran yang sangat membantu. Tapi
sekali lagi, Amanda belum bisa menerima tawaran itu karena dia masih bingung dengan
masalah keuangannya. Setelah ia
hitung-hitung, membutuhkan kurang lebih seratus juta untuk dia dan anak-anak
memulai hidup di Brisbane. Kendala itu
karena ia membawa keluarganya dari awal.
Amanda tergoda untuk meminjam uang
di bank dengan cara mengajukan kredit tanpa anggunan. Cicilannya akan dibayar dengan gajinya
sebagai pegawai negeri karena memang status dia akan menjadi tugas belajar,
artinya dia akan tetap mendapatkan penghasilan dari kampusnya di
Indonesia. Tapi Amanda berfikir keras,
bertentangan dengan prinsip hidupnya selama ini rasanya kok dijalani dengan tidak
nyaman. Tapi dia tak punya pilihan
lain. Masih dengan perasaan berat, dia
berfikir jalan terakhir akan dia tempuh kalau memang benar-benar tidak ada
pilihan.
Jumat sore, ketika Amanda hendak
beranjak dari kursi kerjanya untuk menjemput Citra dan pulang. Telepon
genggamnya berdering mengabarkan bahwa sang abang menghubunginya.
“Halo mas, apa kabar?”
Dari seberang telepon Rino menjawab.
“De kamu lagi sibuk nggak? Aku bisa ngomong?”
“Iya mas bisa kok.”
“Tanah bapak yang di Magelang laku
de, Alhamdulilah harganya juga
bagus.” Rino mengabarkan kabar baik.
“Oh ya?” seperti mendapat siraman
air sejuk di tengah padang panas.
“Kamu bisa besok ke Semarang, tanda
tangan depan notaris? Soalnya nggak boleh diwakilkan.”
“Oh begitu. Ya sudah mas, aku besok
terbang deh sama anak-anak ke Semarang. Mas bisa jemput ya?”
“Di bandara? Jam berapa?”
Amanda tertawa. “Ya belum tahu,
akukan belum punya tiket.”
Rino pun tertawa. “Oh iya. Kabarin saja
kapan kamu landing ya.”
__ADS_1
“Ok. Begitu dapet tiket aku kabarin
mas.”
“Ya sudah, itu saja ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Begitu
sampai apartmen. Amanda langsung online untuk membeli tiket ke
Semarang. Beruntung dia masih bisa dapat
tiga tiket pulang pergi, walaupun harganya lumayanlah.
Mas, Ade… besok pagi kita ke Semarang
ya?”
Citra dan Bimo yang sedang nonton TV
kebingungan.
“Besok banget?”
“Heeh… pagi jam 7 kita berangkat ke
Halim ya.” Perintah sang bunda.
“Hore aku bisa main sama mbak Adel.”
Citra bahagia akan ketemu dengan sepupunya.
“Pak de sama bu de baik-baik saja
kan?” Bimo masih mencari alasan kenapa mereka tiba-tiba harus pergi ke
Semarang.
“Baik. Ibu hanya ada perlu sedikit
dengan pak de.”
“Oh.”
Ketika
semua urusan administrasi dan notaris telah selesai tadi siang, malam harinya
Amanda duduk termenung di teras rumah sang kakak, Letak rumah di Tembalang,
dengan pemandangan dari teras rumah adalah kota Semarang, memang sangat indah,
malam hari dengan lampu-lampu kota yang terang menambah keromantisan suasana
yang didapat. Amanda sangat menikmati
pemandangan itu.
“Bimo sudah cerita semua.” Tiba-tiba
sang kakak mengagetkannya.
Amanda hanya menoleh kaget.
“Fauzan sedang puber kedua
ternyata?” Rino duduk di samping sang adik.
“Mungkin.”
“Tapi kenapa kamu harus meninggalkan
rumah? Itu nggak baik.”
Amanda terdiam, sepertinya memang
Bimo nggak terlalu tahu kalau malam itu bukan dia yang memutuskan meninggalkan
rumah, tapi dia diusir. “Nggak ada jalan lain mas.” Hanya itu yang bisa ia
sampaikan.
Rino hanya berusaha maklum. “Sekarang apa rencana kamu? Jangan dulu
buru-buru memutuskan pisah ya!” pinta sang kakak.
Amanda mengangguk. “Aku dan
anak-anak akan ke Brisbane mas, mungkin ini jalan yang baik untuk saya dan
Fauzan menenangkan diri.”
“Warisan bapak ini, apa kita bagi
rata saja?”
Amanda menggeleng. “Cara Islam saja
mas, Biar berkah.”
“Kamu sedang butuh uang banyak untuk
berangkat ke Brisbanekan?”
Amanda tersenyum. “Aku memang butuh
uang, tapi bukan berarti harus melanggar aturan. InshaAllah dari apa yang jadi hak aku sudah lebih dari cukup kok
mas.”
Rino mengalah. “Ya sudah, hari senin
aku transfer ya.”
Amanda pun mengangguk dan
mengucapkan terima kasih. Dia pun menyandarkan
kepalanya ke bahu sang abang. Ah…
ternyata menyenangkan masih mempunyai kakak yang bisa diandalkan. Lega rasanya setelah bisa membagi sedikit
bebannya.
menepati janjinya, senin siang tiga ratus lima puluh juta telah mendarat di rekening
Amanda. Amanda pun mengucap syukur. Apa yang dia dapat lebih dari cukup untuk
kebutuhan awal perjalanan dia dan anak-anak ke Brisbane. Dia membagi uang itu menjadi tiga bagian yang
tidak sama rata. Pertama untuk zakat dan membayar utang, termasuk sewa apartemen
tentunya, walaupun Nisa tidak meminta, tapi Amanda merasa tetap harus membayarnya
begitu ia mendapatkan rejeki. Pos kedua untuk kebutuhan awal ke Brisbane, dari
pembayaran asuransi wajib, tes kesehatan, biaya visa, tiket, bond serta pegangan untuk beberapa
bulan, yang ketiga adalah mengisi pos tabungan yang selama ini terpakai. Walaupun tidak terlalu banyak, paling tidak
ada tabungan untuk anak-anaknya kuliah. Itu harapannya. Sekali lagi,
Amanda begitu bersyukur. Semua ada jalan
keluar tepat pada waktunya.
Setelah
membayar OCHC[1],
Amanda mulai mengisi form visa dengan begitu teliti. Di akhir pengisian terhenti ketika ternyata
apabila ia membawa anak tanpa sang ayah, ia harus mendapat persetujuan sang
ayah. Sesaat Amanda terdiam, itu artinya
ia harus bertemu dengan Fauzan, menjelaskan permasalahan ini, dan meminta
persetujuannya agar ia bisa membawa anak-anak ke Brisbane. Enggan sebenarnya, tapi prosedur ini harus
dijalankan. Bagaimanapun Bimo dan Citra
adalah anak-anak Fauzan juga. Ia berhak
tahu kemana Amanda membawa anak-anak itu pergi.
Akhirnya Amanda memutuskan untuk
menghubungi Fauzan melalui pesan singkat dengan media online. Dia hanya mengatakan
bahwa ia ingin bertemu Fauzan untuk membicarakan hal penting. Ia pun menawarkan
diri untuk bertemu dekat dengan lokasi kerja Fauzan untuk mempermudah Fauzan, mengingat
besok dia hanya akan mengajar di pagi dan sore hari. Maka saat jam makan siang dia punya cukup
waktu. Fauzan pun menjawab positif permintaan
Amanda, dia besok bersedia bertemu Amanda. Mereka janji bertemu di FX.
Fauzan agak kaget mendapatkan kabar
dari Amanda yang ingin bertemu dengannya. Amanda bilang dia ingin membicarakan
satu hal penting. Apakah gerangan hal itu? Apakah Amanda marah dengan
pertemuannya dengan Citra beberapa minggu yang lalu ya? Ah kalau memang ingin
membahas masalah itu pasti dari dulu-dulu Amanda sudah menghubunginya. Fauzan tiba-tiba makin grogi apakah Amanda
ingin membahas tentang pernikahannya ya? Waduh… jangan sampai Amanda minta
pisah, Fauzan sama sekali nggak siap. Dia tahu dirinya adalah pihak yang bersalah, tapi nggak segitu seriuslah
sampai harus pisah. Tapi akhirnya Fauzan
menyetujui permintaan Amanda untuk bertemu dengannya, ada sedikit rasa kangen
sih ingin bertemu dengan Amanda. Hampir
sepuluh bulan sudah mereka pisah rumah.
**
Amanda
sampai lebih dulu ternyata, dia kemudian memberitahu Fauzan bahwa ia menantinya
di sebuah coffee shop yang ada di
mall itu dengan pesan singkat online. Kemudian dia mempersiapkan dokumen yang harus
ditanda tangani Fauzan.
“Sudah lama nunggunya?” Suara berat yang tidak asing tiba-tiba
menyapa Amanda ketika ia masih sibuk dengan berbagai dokumen. Spontan Amanda langsung mendongak dan
tersenyum.
“Belum kok.” Ketika menatap wajah
Fauzan, suasana malah justru kaku.
Fauzan pun bersikap canggung,
akhirnya dia duduk di hadapan Amanda.
“Pesan minum dulu deh, biar sah kita
ngobrol di sini.” Pinta Amanda dengan bercanda.
“Kamu sudah pesan?”
Amanda mengangguk sambil
memperlihatkan ice coffe latte nya.
Fauzan pun meninggalkannya
sesaat. Tak lama, ia sudah kembali lagi
duduk di hadapan Amanda dengan secangkir kopi hitam. “Gimana kabar kamu?”
__ADS_1
Amanda hanya tersenyum. Sebenarnya dia malas basa-basi. “Baik,
anak-anak juga sehat kok.”
Fauzan tersenyum.
“Begini, aku mendapatkan beasiswa post-doc di kampus lamaku. Aku mau ngajak
anak-anak untuk tinggal di sana bareng aku.”
Fauzan agak kaget mendengar berita
itu. “Kamu sama anak-anak mau ke Brisbane?”
Amanda mengangguk.
“Berapa lama?”
“Dua tahun.”
Fauzan kaget.
“Nggak papa kan?” Amanda heran kok
Fauzan kelihatan syok. “Kita sudah 10 bulan pergi juga kamu nggak perduli. Kenapa kaget?”
Fauzan diam, agak tidak nyaman
dengan perkataan Amanda.
“Aku butuh persetujuan kamu, aku
bawa anak-anak tanpa kamu. Untuk pembuatan visa.” Amanda melanjutkan informasinya. Dia pun membuka dokumen yang harus ditanda
tangani Fauzan.
Ketika
Amanda berusaha menunjukkan tempat di mana Fauzan harus tanda tangan…
“Mas Fauzan lagi ngapain?”
Amanda dan Fauzan kaget mendengar
ada suara perempuan yang demikian nyaring.
“Ini siapa mas?” Dengan nada penuh curiga.
Amanda yang bingung. Kok jadi seakan
dia lagi selingkuh ya? Dia kan sedang bicara dengan suami yang masih sah untuknya. Tapi tetap berusaha untuk tenang. Ini perempuan muda yang cantik, kok jadi
terlihat bodoh ya dengan berteriak nyaring di depan umum. Diakan yang selingkuhan.
Fauzan juga sebenarnya bingung
dengan reaksi Elly. Mall inikan dekat
dengan kantor mereka, artinya dengan dia menjerit, siapa tahu ada rekan sekerja
yang lagi makan siang di sekitar situ, jadi tahu dong kalau mereka lagi
selingkuh.
Akhirnya Fauzan berinisiatif bicara.
“Mana yang harus aku tanda tangan?” Dia
hanya ingin cepat selesai.
Amanda dengan sigap menunjukan.
Fauzan pun tanda tangan dengan
cepat. “Tolong kasih tahu kapan kalian
pergi ya. Aku mau ketemu anak-anak
sebelum pergi.”
Amanda mengangguk setuju.
Fauzan pun berlalu sambil menarik
Elly. Tanpa memberi kesempatan untuk
Elly mengumandangkan suara nyaringnya lagi.
Amanda menatap kepergian mereka
dengan rasa miris tapi juga lega. Lega
karena tujuannya telah tercapai. Miris
karena kasihan melihat Fauzan kebingungan menghadapi perempuan yang siap
berteriak mempermalukan dirinya sendiri. Amanda hanya bisa menggeleng-geleng nggak habis fikir sambil merapikan
dokumennya dan bersiap untuk meninggalkan café itu. Diakan harus kembali ke kampus untuk kembali mengajar.
**
Dengan
adanya pernyataan persetujuan dari Fauzan, semua menjadi beres. Visa selesai hanya dalam waktu seminggu
setelah mereka tes kesehatan. Semua
dokumen telah selesai di awal Desember. Tiket pun sudah terbeli walaupun agak mahal karena awal tahun harga
tiket memang selangit. Jika tak ada
halangan, mereka akan tiba di Brisbane tanggal 15 Januari.
Tanggal
14 Januari pukul tiga siang, Amanda memeluk sahabatnya sekali lagi. Dia sedikit menitikan air mata terimakasihnya
untuk Nisa, apa jadinya mereka tanpa bantuan Nisa dan Rudi.
“Makasih banyak.” Cuma itu yang bisa
mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sahabatnya.
Nisa menyambut pelukan hangat itu,
dia bahagia atas kepergian mereka ke Brisbane. Nisa yakin banget ini merupakan solusi terbaik untuk mereka. “Nanti gue sama mas Rudi nengokin elo ke sana
ya.”
“Gue tunggu.”
“Have fun di sana, jangan elo pikirin si Fauzan sableng itu.”
Amanda kaget langsung menutup
telinga Citra. “Eh, ngomongin bapaknya depan anak-anak gue, Gitu-gitu masih
laki gue.”
“Gue doain tuh manusia nyesel
guling-guling nyia-nyain kalian.”
“Doain dia tobat ajalah!” Pinta
Amanda.
Nisa tersenyum, sahabatnya ini
memang terlalu baik. Terkadang ia gemes
banget.
“Maap
ya gue dan Mas Rudi nggak bisa nganter elo ke airport.”
“Nggak papa, Taxi udah siap
kok.” Amanda pun menyerahkan kunci
apartemen yang selama ini ia pinjem.
Sekali lagi Amanda memeluk Nisa, dan
berjabat tangan dengan Mas Rudi suami Nisa. Setelahnya, Bimo dan Citra pun berpamitan pada mereka berdua.
Beberapa
jam kemudian Amanda, Bimo dan Citra sudah ada di Bandara Soekarno Hatta
terminal keberangkatan International. Mereka akan berangkat ke Brisbane pukul 6 sore melalui Sydney. Amanda telah melakukan check in, dan menitipkan semua barang mereka ke bagasi. Tapi mereka belum juga masuk ke bandara,
mereka menanti Fauzan.
Sesuai janji Amanda pada Fauzan, ia
akan memberi tahu kapan mereka akan berangkat. Semalam Amanda telah mengabari Fauzan. Mereka janjian untuk bertemu di
bandara, sebelum mereka masuk untuk boarding. Amanda pun berpesan untuk tidak ada drama
lagi. Lelah ia apabila harus bertemu
perempuan muda yang cantik bersuara nyaring itu. Bisa-bisa telinganya sakit sebelum masuk
pesawat. Fauzan pun menyanggupinya.
Tidak akan ada drama sore ini.
Benar saja, Ketika Fauzan datang,
Citra bisa berlari memeluknya tanpa ada yang melarang, Fauzan pun bisa
tersenyum dan mencium kening Bimo dengan sayang. Mereka pun bertemu dan mengobrol dengan
santai di salah satu restoran yang ada di sana. Semuanya nyaman, walaupun kaku Amanda dan Fauzan berusaha menciptakan
suasana senyaman mungkin untuk anak-anak mereka. Amanda dan Fauzan pun bisa
merasakan kebahagiaan yang dirasa oleh anak-anak mereka. Amanda sangat menyadari bagaimanapun
anak-anak itu sangat kangen dengan ayah mereka. Mereka menghabiskan waktu dengan penuh makna selama satu jam penuh.
Ketika pukul 5 sore, waktunya mereka
masuk untuk bersiap-siap boarding. Seperti diduga ada sedikit drama antara Citra
dan Fauzan, mereka menangis berpelukan. Fauzan yang menyadari entah kapan lagi ia bisa bertemu dengan
anak-anaknya akhirnya menitikkan sedikit air matanya. Kalau Citra mah sudah menangis tersedu-sedu. Diam-diam Bimo pun menangis, tapi karena dia
laki-laki dan sudah merasa besar segera menghapus titik air matanya. Tak bisa dipungkiri Amanda pun terharu, dia
hanya bisa tersenyum tipis. Berusaha
menghormati sang suami dengan mencium tangan Fauzan. Fauzan dengan canggung menerima penghormatan
dari Amanda. Ingin dia kecup kening sang
istri, tapi entah kenapa dia tak punya keberanian.
Akhirnya Fauzan mencium kening Bimo sambil
menitipkan pesan. “Jaga ibu, jaga adikmu ya!” Ucapnya bersungguh-sungguh.
Meninggalkan Fauzan yang termenung
sendirian, tak lama pesawat Qantas pun membawa ketiganya terbang meninggalkan
Jakarta.
[1]
__ADS_1
asuransi
kesehatan dasar sebagai syarat pembuatan visa