
Setelah film
yang diadopsi dari novel Amanda laku keras di pasaran, Amanda jadi kecanduan
bekerja dalam dunia perfilman Indonesia karena ternyata bonusnya fantastis,
jauh lebih besar dari novelnya yang bestseller. Maka, selain menulis skenario untuk kedua
novelnya yang lain, Amanda juga mengambil job untuk membuat skenario mini seri
untuk konsumsi TV. Bukan cerita kejar
tayang sih, kalau itu ia nggak sanggup dengan tuntutan kerja cepat. Karena bagaimanapun pekerjaan ini sifatnya
hanya hobby. Walaupun dengan membuat skenario film dan mini seri, apabila laku
atau ratingnya tinggi, rekeningnya menjadi begitu gendut. Anehnya, dewi fortuna
memang sedang berpihak padanya, hampir semua skenario film dan mini serinya
begitu diterima alias laku keras. Produser rumah produksi tempat dia bernaung mengatakan bahwa Amanda
bertangan dingin dalam pekerjaan ini. Bayangkan saja, hanya dalam empat tahun
berkecimpung di pekerjaan ini, sudah bertambah beberapa miliyar lagi di
rekeningnya. Wah… nikmat Tuhan mana yang kau dustakan. Tapi Amanda sudah punya target. Setelah mini serinya yang selesai, dia
berniat untuk pensiun dari kehidupan perfilman. Mungkin ia akan tetap menulis novel di waktu senggangnya, tapi kalau
menulis skenario, terlalu banyak tuntutan waktu, sering kali dia kurang fokus
dengan pekerjaan utamanya dan keluarga. Terlalu besar pengorbanan yang dia lakukan walaupun kompensasinya memang
sangat menggiurkan.
Nah kalau urusan percintaannya
nih. Amanda merasa semua berjalan begitu
sempurna. Tapi memang Monrue beberapa
kali mengeluh tentang statusnya. Dia
menginginkan pernikahan ini dilegalkan secepatnya, dan mengijinkan dirinya
untuk mempublikasikan Amanda. Ini kok
kebalik ya, bukannya biasanya perempuan yang menginginkan semua itu. Kok malah Monrue yang ribeut. Amanda sebenarnya sudah nyaman dengan kondisi
ini. Sebenarnya menikah bawah tangan
itukan memang perempuan yang dirugikan. Karena sulit akan menuntut hak gono gini atau misalnya ada anak akan
membingungkan status anak. Tapi Amanda
nggak yakin akan terjadi kedua kasus itu padanya, dia tidak berniat membeli
asset bersama dengan Monrue. Dan memang
dia hampir nggak mungkin memberikan keturunan pada Monrue mengingat rahimnya
telah diangkat akibat tumor yang dideritanya satu tahun setelah Citra
lahir. Monrue tahu itu kok, tidak
masalah baginya karena memang diapun sudah punya dua anak dari istri-istrinya
terdahulu. Tapi sepertinya Amanda memang
harus memikirkan apa yang diminta Monrue demi membuat Monrue tenang.
Pulang dari
Korea, Monrue tidak bisa berlama-lama di Jakarta, dia harus ke Bali untuk
menuntaskan pengambilan gambar untuk video klip single terbarunya. Maka, setelah dua minggu di Jakarta, terbanglah
Monrue ke Bali untuk lima hari. Pada
kesempatan ini akan ada model cantik yang berperan sebagai pasangannya nanti,
teman lama Monrue sih, memang domisilinya di Bali sekarang. Sebenarnya Monrue minta Amanda untuk
menemaninya, karena pelan-pelan Monrue ingin memperkenalkan wanita terbaiknya
pada khalayak. Justru itu membuat Amanda
enggan. Dengan alasan baru saja pulang
dari Busan, Korea nggak mungkin baginya untuk bolos mengajar lagi.
“Gue perhatiin, kok Caroline nempel saja
sih?” Firman sang manajer sedikit memperingati Monrue. Mereka memang sudah tiga hari di Bali, banyak
pantai yang romantis menjadi lokasi syuting mereka. Caroline, model cantik peranakan Perancis,
china dan Bali itu memang luar biasa menarik.
Monrue tersenyum mendengar pertanyaan
Firman. “Reunian doang bos, temen lama nggak ketemu.”
“Hati-hati lho ya!”
Monrue tersenyum. “Gue nggak akan
mulai Man, tapi kalau dipaksa ya susah nolak.” Monrue nakal.
“Hm. Kambuh, gue nggak tanggung
jawab ya.” Paling tidak sebagai teman Firman sudah mengingatkan.
Hari
keempat, Monrue dan Caroline bagai tak terpisahkan. Mereka makin mesra dan selalu bersama. Tentu saja Firman risih melihatnya. Bagaimanapun Amanda telah menitipkan Monrue
padanya. Tapi Monrue laki-laki dewasa,
sulit baginya untuk menjaga bagai anak kecil. Firman hanya bisa berkali-kali memperingati Monrue, dan sesekali
menyindir Caroline bahwa Monrue bukan laki-laki available untuknya.
“Malam terakhir Man, besok sudah
terbang ke Jakarta.” Itu jawaban Monrue
ketika Firman agak keras memperingatinya.
“Firman.”
Firman menoleh ketika ada yang
memanggilnya di Lobi hotel. Astaga Amanda ada di sini. “Hei, sudah lama nunggu
Man?”
Amanda tersenyum. “Lumayan.” Mata Amanda mencari-cari. “Monrue mana?”
Mati gue. Guman Firman dalam hati. “Monrue sudah duluan
ke kamar sih, enggak ketemu gitu?”
Amanda menggeleng. “Kamarnya di
mana?”
Pertanyaan ini yang tidak diharapkan
Firman. “Mau ke kamar? Yuk gue antar!” Firman pun menuliskan pesan singkat melalui media online pada Monrue agar ia siap menyambut sang istri.
Mereka pun berjalan menuju
lift. Menuju lantai 5, Firman agak
gelisah. Tapi dia nggak punya alasan
lain untuk menghambat Amanda menemui suaminya. “Sudah makan Man?”
Amanda mengangguk. “Di pesawat sih
tadi sudah makan, tapi nggak nendang, mau ajak Monrue dinner sih.”
“Oh gitu. Sudah selesai juga kok syutingnya. Mungkin dia lagi siap-siap besok siang kan sudah
terbang.”
Mereka pun keluar lift bersama. Ketika Firman mengarahkan Amanda untuk belok
ke kiri, ternyata ada pemandangan yang mengagetkan. Di depan salah satu kamar yang tak jauh dari
lift, terlihat begitu jelas Monrue dan Caroline berciuman dengan begitu mesra
dan Caroline membawa Monrue ke dalam kamar.
Sial, niat mau mengulur waktu mengajak
Amanda mencari jalan berputar ke kamar Monrue, Firman justru lupa kalau kamar
Caroline ada di sebelah kiri lift. Keduanya hanya bisa terpana melihat adegan tujuh belas tahun ke atas
itu.
“Manda maaf ya.”
“Kok jadi elo minta maaf.” Amanda
masih syok.
“Gue gagal jaga Monrue.”
“Bukan salah elo.” Amanda pun menekan
tombol lift untuk turun.
“Elo mau ke mana?”
“Pulanglah, yang mau gue temui lagi
sibuk.”
“Sudah malem Man. Belom tentu ada
juga penerbangan ke Jakarta.”
“Gue harus gimana?”
“Check
in saja dulu deh. Gue tahu elo
kaget.”
Lift terbuka. Mereka kembali lagi ke
lobi. Firman menemani Amanda untuk check in. Firman benar-benar menemani Amanda sampai ia
mendapatkan kamar di hotel yang sama. Amanda mendapatkan kamar di lantai tiga. Firman pun menemani Amanda hingga depan kamarnya.
“Bodoh kalau gue tanya elo nggak
apa-apa.”
Amanda tersenyum.
“Elo bisa kuatkan?” entah kenapa insting Firman, Amanda perempuan
__ADS_1
yang tangguh.
“Gue tahu resiko ini kok Man. Elo nggak usah khawatir.”
“Elo mau gue temenin atau gimana?”
Amanda menggeleng. “Gue masih
sanggup kok. Santai saja.”
Firman mengangguk. “Ya sudah, elo
istrirahat saja ya. Besok pas sarapan
pagi kita ketemu ya?” Firman pun hendak
meninggalkan Amanda.
Amanda mengangguk. “Man, boleh minta
tolong? Kalau bisa elo ketok kamar itu deh. Bagaimana pun kita wajib mencegah.”
Firman menghela nafas. Tapi ia mengangguk. “Gue coba ya.” Cuma itu yang bisa ia janjikan.
Amanda memasuki kamar hotelnya yang
hening. Sendirian, ia melepaskan tas
yang sedari tadi ada di bahunya. Kerena
memang cuma semalam, ia tidak membawa banyak perlengkapan. Niat mau memberikan kejutan pada suami, malah
dia yang sekarang terkejut. Duduk dalam keremangan, Amanda terdiam, tidak
terlalu mengagetkan sebenarnya. Dia sudah
sangat paham dalam resiko ini. Inilah
sebabnya dia tidak mau ada publikasi tentang dirinya, takut kalau-kalau
hubungan ini hanya seumur jagung. Ketika
dia merasa Monrue adalah laki-laki berbeda dari kerentanan profesinya. Ketika
dia mulai percaya bahwa Monrue adalah laki-laki yang bisa dipercaya. Ketika dia
telah memberikan sepenuhnya hatinya pada Monrue. Ketika pelan-pelan ia mulai mau membuka
diri. Di saat itulah ia justru mendapatkan
pemandangan yang kembali membuatnya mengurungkan niatnya. Berusaha keras
menenangkan diri, menguatkan dirinya bahwa dia bisa melaluinya tanpa
airmata. Tapi ternyata hatinya tidak
terbuat dari baja, pelan-pelan tetes demi tetes airmatanya keluar malu-malu.
Monrue masih
belum menyadari kehadiran Amanda hingga keesokan paginya. Seperti tidak ada masalah, dia sarapan di
restoran hotel masih bersama Caroline. Mereka masih saja memamerkan kemesraannya. Para kru yang memang nggak tahu kalau Monrue sudah
ada yang punya pasangan menganggap pemandangan yang dipertontonkan Monrue dan
Caroline biasa saja. Amanda ada di
restoran yang sama, dia juga sedang sarapan. Amanda hanya memperhatikan Monrue dari jauh, akhirnya dia hanya duduk di
sudut restoran, menikmati sarapannya sambil membaca Koran yang disediakan pihak
hotel sambil sesekali memperhatikan Monrue.
Sebenarnya Caroline menyadari bahwa
sedari tadi ada perempuan yang memperhatikan Monrue dan dirinya. Tapi dia tak tahu siapa Amanda, pikirnya
Amanda hanyalah satu dari puluhan mata perempuan yang iri dengannya saat ini. Selain itu diakan juga model yang cukup
dikenal, jadi cukup terbiasalah diperhatikan orang. Sehingga pandangan mata Amanda sama sekali
tidak mengganggu dirinya hingga tidak perlu mengatakannya pada Monrue.
“Monrue masih belom tahu elo ada di
sini?” Firman tiba-tiba di hadapan Amanda, cukup membuat Amanda terkejut sih.
Amanda menggeleng. “Masih sibuk
kayaknya.” Amanda menunjukan Firman pada pemandangan Monrue yang bersikap
sangat manis pada Caroline.
Firman langsung meninggalkan Amanda
menuju Monrue.
“Mata elo buta atau gimana sih?”
Monrue kaget dengan serangan Firman.
“Amanda dari tadi di belakang elo,
masa nggak lihat? Dari semalem gue telp, WA, HP elo kenapa?”
Monrue kaget. Dia menoleh ke belakang, dilihatnya Amanda
sedang membaca Koran sambil menikmati secangkir kopi. “Semaleman HP gue silent.”
“Goblok lu. Semalem Amanda mergokin
elo, tahu?”
Monrue makin pusing. “Gue harus
gimana?”
Mendengar Monrue dan Firman yang bersitegang,
Caroline kebingungan. “Amanda siapa?” Tanyanya pada Firman ketika Monrue meninggalkannya begitu saja menuju
Amanda.
“Istrinya”
Caroline kaget. “Kok Monrue nggak
bilang dia sudah nikah?”
“Memangnya elo mau tahu? Elo nanya
nggak? Dari kemaren kan gue sudah bilang kalau dia nggak single. Elo nggak mau denger
guekan?”
Caroline cuma diam.
Monrue
bangkit dan mendekati Amanda. Dia
berjalan dan kemudian berdiri di depan Amanda. Memperlihatkan rasa bersalahnya.
Amanda mendongak ketika sinar matahari
tertutup oleh bayangan yang tiba-tiba datang. “Lho kok di sini?” Amanda berusaha tersenyum.
Monrue langsung duduk di
sampingnya. Digenggamnya tangan Amanda
“Maafin aku!”
Amanda hanya diam dan tersenyum.
Monrue salah tingkah. Dia masih saja menggenggam tangan Amanda,
bingung juga sih Amanda jadinya, satu tangan untuk membuka lembaran Koran,
niatnya satu tangan lainnya digunakan untuk minum kopinya. Maka ia berusaha melepas genggaman Monrue
dengan perlahan, bukan menolak tapi kurang efisien apa yang dilakukan Monrue
untuknya.
“Kamu makan deh, dari tadi aku
perhatiin kamu sibuk ngobrol, belum makan kan?” Amanda berusaha mencairkan kekakuan. Jengah juga Monrue hanya diam di
sampingnya. Mau ngobrol serius juga ini tempat umum.
“Kamu sudah makan, mau aku ambilin
apa?” Monrue balik bertanya.
“Tolong ambilin salad, sekalian kamu
ambil makan ya!”
Monrue pun langsung bergerak
memenuhi permintaan Amanda. Dia pun
mengambil beberapa Danish untuk
dirinya. Nggak yakin sih bisa kemakan, lagi grogi gini. Ketika kembali ke meja Amanda, Monrue makin
kaget karena Caroline duduk di hadapan Amanda. Amanda pun sebenarnya nggak kalah kaget. Perempuan ini mau apa?
Amanda sama sekali tidak menutupi
raut kebingungannya kenapa Caroline ada di hadapannya.
“Tolong kamu jangan menyalahkan
saya! Saya benar-benar nggak tahu kalau Monrue sudah punya pasangan. Dia sama sekali tidak bilang ke saya.”
Amanda tersenyum singkat. Dia paham sekarang kenapa perempuan ini
langsung duduk di hadapannya.
Monrue yang kebingungan bersikap,
langsung duduk di samping Amanda. Dia masih berusaha memperbaiki diri dengan
menunjukan sikapnya memihak Amanda. Walaupun… perkara ini dia yang buat sih.
Amanda berusaha menujukan sikap
elegannya dengan berusaha tenang. Dia
melipat Koran yang dia baca perlahan. Sebenarnya isi beritanya dia juga kurang paham, nggak konsentrasi
bacanya. “Tahu atau tidak, saya tidak
akan menyalahkan kamu. Karena komitmen
saya dengan Monrue bukan dengan kamu. Kamu bebas melakukan apapun.”
Caroline sedikit lega mendengar
jawaban Amanda.
Monrue yang makin ketakutan.
“Urusan kamu cuma sama Tuhan kok.”
__ADS_1
Amanda mengingatkan.
Caroline jadi kesal diingatkan
begitu. “Saya cuma mau ngomong itu.”
Amanda mengangguk tersenyum.
“Bagaimana pun saya salah, saya
minta maaf.” Caroline pun memberikan tangannya untuk dijabat.
“Makasih, saya merasa dihargai.”
Amanda menjawab dengan tulus.
“It
was only one-night stand, nothing more.” Caroline meyakinkan.
Amanda tersenyum kering.
Caroline pun meninggalkan mereka.
Ada apa dengan pagi ini, kenapa kok
rasanya kacau banget. Masih berusaha
keras untuk tenang. Amanda berusaha
menelan salad yang disajikan Monrue untuknya. Pelan-pelan, karena sebenarnya sulit sekali untuk menelan.
Monrue juga begitu, seperti
narapidana yang menanti eksekusi mati, Monrue begitu gelisah dan ketakutan
menanti sikap dari Amanda. Hadeuh… kalau ini bukan tempat umum, mungkin sudah
lain ceritanya.
Suasana menjadi begitu kaku.
Keheningan dari keduanya. Sama sekali
nggak ada suara. Akhirnya Amanda nggak
tahan juga.
“Mau ke kamar saja?”
Monrue pun mengangguk dan bangkit.
“Ke kamar aku saja ya!” Pinta
Amanda.
Merekapun melangkah menuju kamar
Amanda.
Begitu
Amanda dan Monrue masuk ke dalam kamar. Monrue langsung memeluk Amanda.
“Maaf.” Dia pun memeluk begitu erat. Amanda hampir sulit bernafas. “Marah Manda, marah ke aku, pukul aku manda!” Monrue mengambil tangan Amanda untuk
menamparnya. “Tapi setelah itu maafin
aku!” Monrue begitu memohon.
Menganggap apa yang dilakukan Monrue
berlebihan, Amanda justru kebingungan dan hanya terdiam.
Monrue makin ketakutan. Monrue mulai menangis dan berlutut mencium
tangan Amanda. “Maafin aku Amanda.”
Amanda jadi berjongkok di hadapan
Monrue yang berlutut memohon maafnya. “Kamu lagi acting untuk video
klip atau gimana?”
Monrue sebenarnya tersinggung
mendengar itu, dia kecewa setiap sikap seriusnya selalu dianggap tidak
sungguh-sungguh oleh Amanda. Bagaimanapun dia sedang memohon untuk dimaafkan. Sikap Amanda yang tidak reaktif sebenarnya
membuat semua jadi tidak drama. “Aku cuma mau dimaafin kamu Manda, aku takut,
aku cinta kamu.”
Amanda tersenyum pahit. Dia duduk di lantai kayu, menyandarkan diri
pada tempat tidur. “Memaafkan itu
ternyata susah ya.” Jawabnya pelan.
Monrue ikut duduk di samping Amanda,
meletakkan kepalanya di bahu Amanda.” Ini akan jadi yang pertama dan terakhir
Manda, aku janji.”
Amanda masih diam. Cukup lama
terdiam “Nggak akan ada lagi kesempatan kedua ya.”
Monrue lega banget
mendengarnya. “Iya sayang, pasti. Makasih ya.”
Amanda tersenyum. Kembali terdiam. Monrue hanya bisa ikut terdiam di samping
Amanda.
“Man,” sapa Monrue setelah sepuluh
menit Amanda hanya diam.
“Hm?”
“Kamu kok nggak nangis sih?”
“Sudah semalem.”
“Oh.” Monrue pun bergerak, masih duduk di lantai,
dia memeluk Amanda dari samping, mencium kepalanya. “Makasih ya Man, maafin aku ya.”
Amanda jadi terbawa perasaan. “Yang
berat karena aku cinta kamu. Aku sudah
menitipkan seluruh hatiku pada kamu.” Amanda pun menangis lagi mengucapkan kata itu. Pertahanannya runtuh sudah.
Monrue semakin menyesal
mendengarnya. “Aku cinta kamu Amanda, maafin aku.” Monrue mempererat pelukannya. Hanya itu kata yang mampu mengungkapkan
penyesalannya.
Pulang dari
Bali, ada perubahan dalam diri Amanda. Amanda mewajibkan Monrue untuk pulang ke rumahnya tiap hari. Tidak ada lagi yang namanya tinggal di
apartmen sendiri. Amanda pun akan ribut
kalau Monrue pulang terlalu malam. Ia akan sibuk menelepon. Tidak ada lagi ijin bermalam di studio. Semua kegiatan harus selesai jam 12
malam. Monrue sama sekali tidak
keberatan dengan peraturan baru Amanda. Dia paham itu semua luapan ekspresi kemarahan Amanda. Masih untung dimaafkan. Monrue sebenarnya malah bahagia, karena
menurutnya dulu Amanda terlalu membebaskannya sehingga seakan-akan Amanda
kurang mencintainya.
Yang keheranan justru Fauzan dan
anak-anak. Seumur hidup Amanda tidak
pernah begitu cerewet pada mereka. Amanda sangat sabar dan tenang menghadapi apapun masalah anak-anak ataupun
dulu dengan Fauzan.
“Kamu dari mana sih kok lama
banget?”
“Kan dari Indomaret kamu suruh beli
gula.”
Amanda jadi ingat. “Oh ya sudah,
maap aku lupa.” Jawabnya sambil mengambil kantong plastik belanjaan
Monrue. Dia pun pergi ke dapur
meninggalkan Monrue yang bingung.
“Elo selingkuh ya di Bali?” Fauzan
nuduh Monrue.
Monrue kaget dengan pertanyaan itu.
“Ha?”
“Manda aneh pulang dari Bali.”
“Oh...” Monrue mengerti kecurigaan
Fauzan. Tapi…”Ah perasaan elo saja mas.” Monrue mencoba ngeles, inget ancaman Fauzan dulu sebelum ia menikahi
Amanda. Monrue pun langsung ngacir ke
dapur, berniat membantu Amanda ngapain kek.
“Cape juga
ya, cemburuan.” Amanda mengeluh pada
Monrue ketika mereka menjelang tidur.
Monrue tersenyum. “Baru dua
minggu. Kok sudah ngeluh.”
Amanda berbaring di samping Monrue.
“Kamu nggak pegel aku bawel gitu?”
Monrue menggeleng. “Biasa saja
kok. Yang penting kamu maafin aku.” Monrue membelai rambut Amanda.
“Aku pasrah sajalah. Nggak bisa kayak gini.”
Monrue masih membelai Amanda.
“Jangan sakitin aku lagi ya. Aku nggak sanggup kalau harus sedih lagi.”
Monrue merangkul Amanda. “Janji
__ADS_1
sayang. Aku juga sedih kok melihat kamu
terluka karena aku.”