Life After Forty

Life After Forty
Episode 16 Bergelut dengan masalah yang sama


__ADS_3

Setelah film


yang diadopsi dari novel Amanda laku keras di pasaran, Amanda jadi kecanduan


bekerja dalam dunia perfilman Indonesia karena ternyata bonusnya fantastis,


jauh lebih besar dari novelnya yang bestseller.  Maka, selain menulis skenario untuk kedua


novelnya yang lain, Amanda juga mengambil job untuk membuat skenario mini seri


untuk konsumsi TV.  Bukan cerita kejar


tayang sih, kalau itu ia nggak sanggup dengan tuntutan kerja cepat.  Karena bagaimanapun pekerjaan ini sifatnya


hanya hobby. Walaupun dengan membuat skenario film dan mini seri, apabila laku


atau ratingnya tinggi, rekeningnya menjadi begitu gendut. Anehnya, dewi fortuna


memang sedang berpihak padanya, hampir semua skenario film dan mini serinya


begitu diterima alias laku keras.  Produser rumah produksi tempat dia bernaung mengatakan bahwa Amanda


bertangan dingin dalam pekerjaan ini. Bayangkan saja, hanya dalam empat tahun


berkecimpung di pekerjaan ini, sudah bertambah beberapa miliyar lagi di


rekeningnya. Wah… nikmat Tuhan mana yang kau dustakan.  Tapi Amanda sudah punya target.  Setelah mini serinya yang selesai, dia


berniat untuk pensiun dari kehidupan perfilman.  Mungkin ia akan tetap menulis novel di waktu senggangnya, tapi kalau


menulis skenario, terlalu banyak tuntutan waktu, sering kali dia kurang fokus


dengan pekerjaan utamanya dan keluarga.  Terlalu besar pengorbanan yang dia lakukan walaupun kompensasinya memang


sangat menggiurkan.


            Nah kalau urusan percintaannya


nih.  Amanda merasa semua berjalan begitu


sempurna.  Tapi memang Monrue beberapa


kali mengeluh tentang statusnya.  Dia


menginginkan pernikahan ini dilegalkan secepatnya, dan mengijinkan dirinya


untuk mempublikasikan Amanda.  Ini kok


kebalik ya, bukannya biasanya perempuan yang menginginkan semua itu.  Kok malah Monrue yang ribeut.  Amanda sebenarnya sudah nyaman dengan kondisi


ini.  Sebenarnya menikah bawah tangan


itukan memang perempuan yang dirugikan.  Karena sulit akan menuntut hak gono gini atau misalnya ada anak akan


membingungkan status anak.  Tapi Amanda


nggak yakin akan terjadi kedua kasus itu padanya, dia tidak berniat membeli


asset bersama dengan Monrue.  Dan memang


dia hampir nggak mungkin memberikan keturunan pada Monrue mengingat rahimnya


telah diangkat akibat tumor yang dideritanya satu tahun setelah Citra


lahir.  Monrue tahu itu kok, tidak


masalah baginya karena memang diapun sudah punya dua anak dari istri-istrinya


terdahulu.  Tapi sepertinya Amanda memang


harus memikirkan apa yang diminta Monrue demi membuat Monrue tenang.


Pulang dari


Korea, Monrue tidak bisa berlama-lama di Jakarta, dia harus ke Bali untuk


menuntaskan pengambilan gambar untuk video klip single terbarunya.  Maka, setelah dua minggu di Jakarta, terbanglah


Monrue ke Bali untuk lima hari.  Pada


kesempatan ini akan ada model cantik yang berperan sebagai pasangannya nanti,


teman lama Monrue sih, memang domisilinya di Bali sekarang.  Sebenarnya Monrue minta Amanda untuk


menemaninya, karena pelan-pelan Monrue ingin memperkenalkan wanita terbaiknya


pada khalayak.  Justru itu membuat Amanda


enggan.  Dengan alasan baru saja pulang


dari Busan, Korea nggak mungkin baginya untuk bolos mengajar lagi.


            “Gue perhatiin, kok Caroline nempel saja


sih?” Firman sang manajer sedikit memperingati Monrue.  Mereka memang sudah tiga hari di Bali, banyak


pantai yang romantis menjadi lokasi syuting mereka.  Caroline, model cantik peranakan Perancis,


china dan Bali itu memang luar biasa menarik.


            Monrue tersenyum mendengar pertanyaan


Firman. “Reunian doang bos, temen lama nggak ketemu.”


            “Hati-hati lho ya!”


            Monrue tersenyum. “Gue nggak akan


mulai Man, tapi kalau dipaksa ya susah nolak.” Monrue nakal.


            “Hm. Kambuh, gue nggak tanggung


jawab ya.” Paling tidak sebagai teman Firman sudah mengingatkan.


Hari


keempat, Monrue dan Caroline bagai tak terpisahkan.  Mereka makin mesra dan selalu bersama.  Tentu saja Firman risih melihatnya.  Bagaimanapun Amanda telah menitipkan Monrue


padanya.  Tapi Monrue laki-laki dewasa,


sulit baginya untuk menjaga bagai anak kecil.  Firman hanya bisa berkali-kali memperingati Monrue, dan sesekali


menyindir Caroline bahwa Monrue bukan laki-laki available untuknya.


            “Malam terakhir Man, besok sudah


terbang ke Jakarta.”  Itu jawaban Monrue


ketika Firman agak keras memperingatinya.


“Firman.”


            Firman menoleh ketika ada yang


memanggilnya di Lobi hotel. Astaga Amanda ada di sini. “Hei, sudah lama nunggu


Man?”


            Amanda tersenyum. “Lumayan.”  Mata Amanda mencari-cari. “Monrue mana?”


            Mati gue.  Guman Firman dalam hati. “Monrue sudah duluan


ke kamar sih, enggak ketemu gitu?”


            Amanda menggeleng. “Kamarnya di


mana?”


            Pertanyaan ini yang tidak diharapkan


Firman. “Mau ke kamar? Yuk gue antar!”  Firman pun menuliskan pesan singkat melalui media online pada Monrue agar ia siap menyambut sang istri.


            Mereka pun berjalan menuju


lift.  Menuju lantai 5, Firman agak


gelisah.  Tapi dia nggak punya alasan


lain untuk menghambat Amanda menemui suaminya.  “Sudah makan Man?”


            Amanda mengangguk. “Di pesawat sih


tadi sudah makan, tapi nggak nendang, mau ajak Monrue dinner sih.”


            “Oh gitu.  Sudah selesai juga kok syutingnya.  Mungkin dia lagi siap-siap besok siang kan sudah


terbang.”


            Mereka pun keluar lift bersama.  Ketika Firman mengarahkan Amanda untuk belok


ke kiri, ternyata ada pemandangan yang mengagetkan.  Di depan salah satu kamar yang tak jauh dari


lift, terlihat begitu jelas Monrue dan Caroline berciuman dengan begitu mesra


dan Caroline membawa Monrue ke dalam kamar.


            Sial, niat mau mengulur waktu mengajak


Amanda mencari jalan berputar ke kamar Monrue, Firman justru lupa kalau kamar


Caroline ada di sebelah kiri lift.  Keduanya hanya bisa terpana melihat adegan tujuh belas tahun ke atas


itu.


            “Manda maaf ya.”


            “Kok jadi elo minta maaf.” Amanda


masih syok.


            “Gue gagal jaga Monrue.”


            “Bukan salah elo.” Amanda pun menekan


tombol lift untuk turun.


            “Elo mau ke mana?”


            “Pulanglah, yang mau gue temui lagi


sibuk.”


            “Sudah malem Man. Belom tentu ada


juga penerbangan ke Jakarta.”


            “Gue harus gimana?”


            “Check


in saja dulu deh.  Gue tahu elo


kaget.”


            Lift terbuka. Mereka kembali lagi ke


lobi.  Firman menemani Amanda untuk check in.  Firman benar-benar menemani Amanda sampai ia


mendapatkan kamar di hotel yang sama.  Amanda mendapatkan kamar di lantai tiga.  Firman pun menemani Amanda hingga depan kamarnya.


            “Bodoh kalau gue tanya elo nggak


apa-apa.”


            Amanda tersenyum.


            “Elo bisa kuatkan?”  entah kenapa insting Firman, Amanda perempuan

__ADS_1


yang tangguh.


            “Gue tahu resiko ini kok Man.  Elo nggak usah khawatir.”


            “Elo mau gue temenin atau gimana?”


            Amanda menggeleng. “Gue masih


sanggup kok. Santai saja.”


            Firman mengangguk. “Ya sudah, elo


istrirahat saja ya.  Besok pas sarapan


pagi kita ketemu ya?”  Firman pun hendak


meninggalkan Amanda.


            Amanda mengangguk. “Man, boleh minta


tolong? Kalau bisa elo ketok kamar itu deh.  Bagaimana pun kita wajib mencegah.”


            Firman menghela nafas.  Tapi ia mengangguk. “Gue coba ya.”  Cuma itu yang bisa ia janjikan.


            Amanda memasuki kamar hotelnya yang


hening.  Sendirian, ia melepaskan tas


yang sedari tadi ada di bahunya.  Kerena


memang cuma semalam, ia tidak membawa banyak perlengkapan.  Niat mau memberikan kejutan pada suami, malah


dia yang sekarang terkejut. Duduk dalam keremangan, Amanda terdiam, tidak


terlalu mengagetkan sebenarnya.  Dia sudah


sangat paham dalam resiko ini.  Inilah


sebabnya dia tidak mau ada publikasi tentang dirinya, takut kalau-kalau


hubungan ini hanya seumur jagung.  Ketika


dia merasa Monrue adalah laki-laki berbeda dari kerentanan profesinya. Ketika


dia mulai percaya bahwa Monrue adalah laki-laki yang bisa dipercaya. Ketika dia


telah memberikan sepenuhnya hatinya pada Monrue.  Ketika pelan-pelan ia mulai mau membuka


diri.  Di saat itulah ia justru mendapatkan


pemandangan yang kembali membuatnya mengurungkan niatnya. Berusaha keras


menenangkan diri, menguatkan dirinya bahwa dia bisa melaluinya tanpa


airmata.  Tapi ternyata hatinya tidak


terbuat dari baja, pelan-pelan tetes demi tetes airmatanya keluar malu-malu.


Monrue masih


belum menyadari kehadiran Amanda hingga keesokan paginya.  Seperti tidak ada masalah, dia sarapan di


restoran hotel masih bersama Caroline.  Mereka masih saja memamerkan kemesraannya.  Para kru yang memang nggak tahu kalau Monrue sudah


ada yang punya pasangan menganggap pemandangan yang dipertontonkan Monrue dan


Caroline biasa saja.  Amanda ada di


restoran yang sama, dia juga sedang sarapan.  Amanda hanya memperhatikan Monrue dari jauh, akhirnya dia hanya duduk di


sudut restoran, menikmati sarapannya sambil membaca Koran yang disediakan pihak


hotel sambil sesekali memperhatikan Monrue.


            Sebenarnya Caroline menyadari bahwa


sedari tadi ada perempuan yang memperhatikan Monrue dan dirinya.  Tapi dia tak tahu siapa Amanda, pikirnya


Amanda hanyalah satu dari puluhan mata perempuan yang iri dengannya saat ini.  Selain itu diakan juga model yang cukup


dikenal, jadi cukup terbiasalah diperhatikan orang.  Sehingga pandangan mata Amanda sama sekali


tidak mengganggu dirinya hingga tidak perlu mengatakannya pada Monrue.


            “Monrue masih belom tahu elo ada di


sini?” Firman tiba-tiba di hadapan Amanda, cukup membuat Amanda terkejut sih.


            Amanda menggeleng. “Masih sibuk


kayaknya.” Amanda menunjukan Firman pada pemandangan Monrue yang bersikap


sangat manis pada Caroline.


            Firman langsung meninggalkan Amanda


menuju Monrue.


            “Mata elo buta atau gimana sih?”


            Monrue kaget dengan serangan Firman.


            “Amanda dari tadi di belakang elo,


masa nggak lihat? Dari semalem gue telp, WA, HP elo kenapa?”


            Monrue kaget.  Dia menoleh ke belakang, dilihatnya Amanda


sedang membaca Koran sambil menikmati secangkir kopi. “Semaleman HP gue silent.”


            “Goblok lu. Semalem Amanda mergokin


elo, tahu?”


            Monrue makin pusing. “Gue harus


gimana?”


            Mendengar Monrue dan Firman yang bersitegang,


Caroline kebingungan. “Amanda siapa?”  Tanyanya pada Firman ketika Monrue meninggalkannya begitu saja menuju


Amanda.


            “Istrinya”


            Caroline kaget. “Kok Monrue nggak


bilang dia sudah nikah?”


            “Memangnya elo mau tahu? Elo nanya


nggak? Dari kemaren kan gue sudah bilang kalau dia nggak single.  Elo nggak mau denger


guekan?”


            Caroline cuma diam.


Monrue


bangkit dan mendekati Amanda.  Dia


berjalan dan kemudian berdiri di depan Amanda. Memperlihatkan rasa bersalahnya.


            Amanda mendongak ketika sinar matahari


tertutup oleh bayangan yang tiba-tiba datang. “Lho kok di sini?”  Amanda berusaha tersenyum.


            Monrue langsung duduk di


sampingnya.  Digenggamnya tangan Amanda


“Maafin aku!”


            Amanda hanya diam dan tersenyum.


            Monrue salah tingkah.  Dia masih saja menggenggam tangan Amanda,


bingung juga sih Amanda jadinya, satu tangan untuk membuka lembaran Koran,


niatnya satu tangan lainnya digunakan untuk minum kopinya.  Maka ia berusaha melepas genggaman Monrue


dengan perlahan, bukan menolak tapi kurang efisien apa yang dilakukan Monrue


untuknya.


            “Kamu makan deh, dari tadi aku


perhatiin kamu sibuk ngobrol, belum makan kan?”  Amanda berusaha mencairkan kekakuan. Jengah juga Monrue hanya diam di


sampingnya. Mau ngobrol serius juga ini tempat umum.


            “Kamu sudah makan, mau aku ambilin


apa?”  Monrue balik bertanya.


            “Tolong ambilin salad, sekalian kamu


ambil makan ya!”


            Monrue pun langsung bergerak


memenuhi permintaan Amanda.  Dia pun


mengambil beberapa Danish untuk


dirinya. Nggak yakin sih bisa kemakan, lagi grogi gini.  Ketika kembali ke meja Amanda, Monrue makin


kaget karena Caroline duduk di hadapan Amanda.  Amanda pun sebenarnya nggak kalah kaget.  Perempuan ini mau apa?


            Amanda sama sekali tidak menutupi


raut kebingungannya kenapa Caroline ada di hadapannya.


            “Tolong kamu jangan menyalahkan


saya! Saya benar-benar nggak tahu kalau Monrue sudah punya pasangan.  Dia sama sekali tidak bilang ke saya.”


            Amanda tersenyum singkat.  Dia paham sekarang kenapa perempuan ini


langsung duduk di hadapannya.


            Monrue yang kebingungan bersikap,


langsung duduk di samping Amanda. Dia masih berusaha memperbaiki diri dengan


menunjukan sikapnya memihak Amanda.  Walaupun… perkara ini dia yang buat sih.


            Amanda berusaha menujukan sikap


elegannya dengan berusaha tenang.  Dia


melipat Koran yang dia baca perlahan.  Sebenarnya isi beritanya dia juga kurang paham, nggak konsentrasi


bacanya.  “Tahu atau tidak, saya tidak


akan menyalahkan kamu.  Karena komitmen


saya dengan Monrue bukan dengan kamu.  Kamu bebas melakukan apapun.”


            Caroline sedikit lega mendengar


jawaban Amanda.


            Monrue yang makin ketakutan.


            “Urusan kamu cuma sama Tuhan kok.”

__ADS_1


Amanda mengingatkan.


            Caroline jadi kesal diingatkan


begitu. “Saya cuma mau ngomong itu.”


            Amanda mengangguk tersenyum.


            “Bagaimana pun saya salah, saya


minta maaf.” Caroline pun memberikan tangannya untuk dijabat.


            “Makasih, saya merasa dihargai.”


Amanda menjawab dengan tulus.


            “It


was only one-night stand, nothing more.” Caroline meyakinkan.


            Amanda tersenyum kering.


            Caroline pun meninggalkan mereka.


            Ada apa dengan pagi ini, kenapa kok


rasanya kacau banget.  Masih berusaha


keras untuk tenang.  Amanda berusaha


menelan salad yang disajikan Monrue untuknya.  Pelan-pelan, karena sebenarnya sulit sekali untuk menelan.


            Monrue juga begitu, seperti


narapidana yang menanti eksekusi mati, Monrue begitu gelisah dan ketakutan


menanti sikap dari Amanda. Hadeuh… kalau ini bukan tempat umum, mungkin sudah


lain ceritanya.


            Suasana menjadi begitu kaku.


Keheningan dari keduanya.  Sama sekali


nggak ada suara.  Akhirnya Amanda nggak


tahan juga.


            “Mau ke kamar saja?”


            Monrue pun mengangguk dan bangkit.


            “Ke kamar aku saja ya!” Pinta


Amanda.


            Merekapun melangkah menuju kamar


Amanda.


Begitu


Amanda dan Monrue masuk ke dalam kamar.  Monrue langsung memeluk Amanda.


            “Maaf.”  Dia pun memeluk begitu erat.  Amanda hampir sulit bernafas.  “Marah Manda, marah ke aku, pukul aku manda!”  Monrue mengambil tangan Amanda untuk


menamparnya.  “Tapi setelah itu maafin


aku!”  Monrue begitu memohon.


            Menganggap apa yang dilakukan Monrue


berlebihan, Amanda justru kebingungan dan hanya terdiam.


            Monrue makin ketakutan.  Monrue mulai menangis dan berlutut mencium


tangan Amanda.  “Maafin aku Amanda.”


            Amanda jadi berjongkok di hadapan


Monrue yang berlutut memohon maafnya.  “Kamu lagi acting untuk video


klip atau gimana?”


            Monrue sebenarnya tersinggung


mendengar itu, dia kecewa setiap sikap seriusnya selalu dianggap tidak


sungguh-sungguh oleh Amanda.  Bagaimanapun dia sedang memohon untuk dimaafkan.  Sikap Amanda yang tidak reaktif sebenarnya


membuat semua jadi tidak drama. “Aku cuma mau dimaafin kamu Manda, aku takut,


aku cinta kamu.”


            Amanda tersenyum pahit.  Dia duduk di lantai kayu, menyandarkan diri


pada tempat tidur.  “Memaafkan itu


ternyata susah ya.”  Jawabnya pelan.


            Monrue ikut duduk di samping Amanda,


meletakkan kepalanya di bahu Amanda.” Ini akan jadi yang pertama dan terakhir


Manda, aku janji.”


            Amanda masih diam. Cukup lama


terdiam “Nggak akan ada lagi kesempatan kedua ya.”


            Monrue lega banget


mendengarnya.  “Iya sayang, pasti.  Makasih ya.”


            Amanda tersenyum.  Kembali terdiam.  Monrue hanya bisa ikut terdiam di samping


Amanda.


            “Man,” sapa Monrue setelah sepuluh


menit Amanda hanya diam.


            “Hm?”


            “Kamu kok nggak nangis sih?”


            “Sudah semalem.”


            “Oh.”  Monrue pun bergerak, masih duduk di lantai,


dia memeluk Amanda dari samping, mencium kepalanya.  “Makasih ya Man, maafin aku ya.”


            Amanda jadi terbawa perasaan. “Yang


berat karena aku cinta kamu.  Aku sudah


menitipkan seluruh hatiku pada kamu.”  Amanda pun menangis lagi mengucapkan kata itu.  Pertahanannya runtuh sudah.


            Monrue semakin menyesal


mendengarnya. “Aku cinta kamu Amanda, maafin aku.”  Monrue mempererat pelukannya.  Hanya itu kata yang mampu mengungkapkan


penyesalannya.


Pulang dari


Bali, ada perubahan dalam diri Amanda.  Amanda mewajibkan Monrue untuk pulang ke rumahnya tiap hari.  Tidak ada lagi yang namanya tinggal di


apartmen sendiri.  Amanda pun akan ribut


kalau Monrue pulang terlalu malam. Ia akan sibuk menelepon.  Tidak ada lagi ijin bermalam di studio.  Semua kegiatan harus selesai jam 12


malam.  Monrue sama sekali tidak


keberatan dengan peraturan baru Amanda.  Dia paham itu semua luapan ekspresi kemarahan Amanda.  Masih untung dimaafkan.  Monrue sebenarnya malah bahagia, karena


menurutnya dulu Amanda terlalu membebaskannya sehingga seakan-akan Amanda


kurang mencintainya.


            Yang keheranan justru Fauzan dan


anak-anak.  Seumur hidup Amanda tidak


pernah begitu cerewet pada mereka.  Amanda sangat sabar dan tenang menghadapi apapun masalah anak-anak ataupun


dulu dengan Fauzan.


            “Kamu dari mana sih kok lama


banget?”


            “Kan dari Indomaret kamu suruh beli


gula.”


            Amanda jadi ingat. “Oh ya sudah,


maap aku lupa.” Jawabnya sambil mengambil kantong plastik belanjaan


Monrue.  Dia pun pergi ke dapur


meninggalkan Monrue yang bingung.


            “Elo selingkuh ya di Bali?” Fauzan


nuduh Monrue.


            Monrue kaget dengan pertanyaan itu.


“Ha?”


            “Manda aneh pulang dari Bali.”


            “Oh...” Monrue mengerti kecurigaan


Fauzan. Tapi…”Ah perasaan elo saja mas.”  Monrue mencoba ngeles, inget ancaman Fauzan dulu sebelum ia menikahi


Amanda.  Monrue pun langsung ngacir ke


dapur, berniat membantu Amanda ngapain kek.


“Cape juga


ya, cemburuan.”  Amanda mengeluh pada


Monrue ketika mereka menjelang tidur.


            Monrue tersenyum. “Baru dua


minggu.  Kok sudah ngeluh.”


            Amanda berbaring di samping Monrue.


“Kamu nggak pegel aku bawel gitu?”


            Monrue menggeleng. “Biasa saja


kok.  Yang penting kamu maafin aku.”  Monrue membelai rambut Amanda.


            “Aku pasrah sajalah.  Nggak bisa kayak gini.”


            Monrue masih membelai Amanda.


            “Jangan sakitin aku lagi ya.  Aku nggak sanggup kalau harus sedih lagi.”


            Monrue merangkul Amanda. “Janji

__ADS_1


sayang.  Aku juga sedih kok melihat kamu


terluka karena aku.”


__ADS_2