Life After Forty

Life After Forty
Episode 27 Un-success meeting


__ADS_3

Disepakati


mereka akan bertemu di daerah Kuta, di sebuah restoran seafood yang terkenal.  Sengaja


memilih tempat umum, untuk mencegah Steven berbuat yang bukan-bukan.


            Sabtu siang, restoran itu cukup


penuh, mereka berenam ada di tengah-tengah restoran dalam meja yang besar.  Mereka menanti Steven.  Setelah memesan makanan.  Para laki-laki sibuk merancang strategi apa


yang hendak mereka lakukan.  Amanda dan


Aura hanya menyimak pembicaraan serius itu.


            Amanda pun pamit sebentar untuk ke


toilet.  Hanya sebentar, dia pun hendak


kembali ke mejanya.  Dalam jalannya yang


perlahan, hanya berjarak dua meter Amanda melihat seorang laki-laki yang sedang


menatap Fauzan dari kejauhan dengan ekspresi begitu marah.  Amanda curiga sepertinya laki-laki itu


Steven.  Terlihat Steven membawa satu


botol kaca yang sudah pecah.  Terlihat


tangannya berdarah karena menggenggam botol yang pecah.  Hati kecil Amanda berkata keadaan ini begitu


berbahaya.  Benar saja, setengah berlari


laki-laki itu siap menusukan pecahan botol itu ke leher Fauzan.  Secepat kilat Amanda mencegahnya dia menepis


dengan kedua tangannya, karena tangan laki-laki itu begitu kuat, yang terjadi botol


yang ada di tangan itu berpindah arah ke perut Amanda.  Sedetik kemudian perut Amanda bersimbah


darah.


            “Kalau ini bisa menjadi penggugur


dosa-dosa Fauzan, saya ikhlas.  Semoga


kamu bisa memaafkan Fauzan.”  Amanda


bicara sambil menahan sakitnya.


            Semua kaget, nggak terkecuali


Steven.  Begitu menyadari ia salah


sasaran, dia pun langsung berlari keluar.


            Spontan Bimo dan Jason langsung


mengejarnya.


            Fauzan dan Monrue syok melihat


banyaknya darah yang ada di baju Amanda.


            “Jangan bengong, bawa saya ke rumah


sakit!” Perintah Amanda.


            Mereka pun langsung sadar.  Fauzan langsung mengangkat Amanda yang sudah


jatuh terkapar. Monrue langsung menyerahkan sejumlah uang ke kasir sambil


menarik Aura.  Merekapun langsung berlari


ke mobil.


            Di luar pun ternyata ada adegan yang


mencekam.  Ketika Steven berlari dengan


liarnya, dia tidak menyadari kalau dia berlari ke jalan besar.  Dia pun tertabrak truck yang melaju dengan kecepatan tinggi.  Steven tewas seketika.  Jason dan Bimo hanya bisa terpana dan


berhenti mengejar.


            Kelompok itu pun akhirnya terbagi


dua.  Aura, Fauzan dan Monrue yang


membawa Amanda ke rumah sakit.  Dan Bimo


dan Jason yang menanti polisi untuk mengurus jenazah Steven.  Kesemuanya dalam keadaan syok.  Semua orang yang ada di sana terperangah


dengan kejadian yang begitu cepat.  Ada


penusukan di restoran, dan ada yang tertabrak di jalan raya.


            Atas petunjuk Aura, mereka berhasil


membawa Amanda ke rumah sakit di Denpasar.  Amanda langsung mendapat penanganan di ruang UGD.  Para dokter dan suster membersihkan luka


Amanda dari pecahan kaca yang berkeping-keping.  Dibutuhkan dua jam untuk membuat Amanda benar-benar aman.


            Pukul tujuh Jason memberi kabar,


bahwa kondisi jenazah Steven yang hancur membuat ia harus dimakamkan


secepatnya.  Polisi memang datang juga ke


mereka menanyakan banyak pertanyaan, polisi juga melihat kondisi Amanda dan


menanyakan banyak saksi.  Mereka pun


dengan cepat menyatakan tidak ada yang bersalah dalam kasus kematian Steven.


            Setelah Amanda aman, akhirnya Monrue


dan Aura pergi ke tempat Steven.  Mereka

__ADS_1


berada di rumah sakit yang sama.  Monrue,


Aura, Jason dan Bimo menyiapkan upacara pemakaman untuk Steven dengan


sederhana.  Jason menghubungi keluarga


dan kerabat Steven.  Jason menghubungi


om-omnya yang merupakan sepupu sang ayah.  Orang tua Steven sudah lama meninggal.  Dan Steven anak tunggal.


            Setelah dimasukan ke dalam peti


mati, Steven disholatkan.  Beliau


langsung dimakamkan malam itu juga di pemakaman umum. Pukul sebelas malam


Steven di makamkan.  Setelah itu mereka


kembali ke rumah sakit untuk menemui Amanda dan Fauzan.


            Fauzan masih panik.  Setelah mendapatkan penanganan Amanda justru


demam.  Berkali-kali Amanda meyakinkan


bahwa ini proses normal.  Ia berusaha


tenang agar Fauzan juga tenang.  Fauzan


nggak bisa dibohongi orang tuanya kan dokter, sedikitnya dia paham bahwa ada


infeksi di tubuh Amanda.


            Pukul 12 mereka berenam ada di rumah


sakit.  Dokter menyarankan Amanda untuk


menginap, tapi Amanda memaksa kembali ke hotel.  Bisa-bisa nggak ada yang istirahat kalau dirinya ada di rumah


sakit.  Akhirnya Fauzan dipaksa Amanda


menanda tangani surat pulang paksa.  Kembalilah mereka ke hotel pukul satu pagi.  Amanda pun berpesan untuk mereka


istirahat.  Mereka akan kembali ke


Jakarta besok siang.


            Keesokan harinya entah berapa banyak


pil turun panas yang ditenggak Amanda.  Tapi panasnya hanya turun sesaat dan kembali muncul.  Amanda makin pucat.  Tapi dia selalu mengatakan kalau baik-baik saja.  Fauzan akhirnya menyerah, dia berusaha


tenang. Hanya bisa memegang dan menjaga Amanda.  Tidak ada keluhan sama sekali dari Amanda.  Amanda berusaha makan dengan baik, ketika


makan pagi dan makan siang sebelum mereka terbang ke Jakarta.


            Mendarat di Jakarta, Fauzan meminta


Amanda untuk ke rumah sakit lagi.  Amanda


menolak, dia berdalih kalau dia baik-baik saja.  Yang lain hanya bisa diam.  Semua


tahu betapa kerasnya Amanda. Di airport kelompok ini pun terbagi dua.  Monrue,


pulang ke rumah mereka.


Sebelum pulang Monrue mendekati


Fauzan. “Kabarin terus perkembangan Manda ya mas!” Bagaimanapun Monrue juga


khawatir.


Fauzan hanya mengangguk.


Sesampai


di apartment mereka, ternyata peristiwa Bali sudah menjadi berita.  Banyak sekali rekaman amatir ternyata dalam


dua peristiwa itu.  Monrue terlalu lelah


menanggapi kali ini, biarlah para saksi dan polisi saja yang memberi keterangan


para pencari berita.


            Didapatinya Aura sedang termenung setelah


menonton berita.  Monrue pun


menghampirinya.


            “Kamu nggak papa?”  Tanya Monrue hati-hati. Bagaimana pun yang


baru saja tewas adalah mantan suaminya, Monrue sangat maklum kalau Aura


bersedih.


            Aura memang menitikan airmata.  Tapi langsung ia hapus dengan penggung


tangannya.  “Wajar nggak sih perasaan


ini.  Kok aku malah lega ya? Aku jahat


banget ya?” Aura kebingungan dengan apa yang dirasa.


            Monrue memeluknya. “Nggak ada yang


bisa menyalahkan apa yang kamu rasa sayang.”


            “Harusnya aku sedihkan, bagaimanapun


kalau aku nggak kenal dia, nggak akan ada Jason.  Padahal jelas Jason adalah nyawaku.  Dia yang membuat aku bertahan sampai


sekarang.”


            Monrue masih saja memeluk Aura.  Dia hanya bisa menenangkannya apapun yang


dirasa Aura.  Dalam hati dia juga lega

__ADS_1


sih, tidak ada lagi yang mengancam ketenangan rumah tangganya.


            Jason keluar dari kamar mandi, dia


baru selesai mandi sepertinya.


            “Kamu sedih papi meninggal?” Monrue


bertanya pada Jason.


            Jason diam sesaat. “Sedikit.”  Jawabnya singkat, berlalu menuju meja makan


untuk makan malam.  Ia pun makan dengan


santai, seperti tidak ada masalah yang baru dihadapi.


            Monrue tersenyum melihat pemandangan


itu.  Masih memeluk istrinya.  Monrue hanya ingin menenangkan istrinya.  Dan menenangkan dirinya atas peristiwa baru


lalu yang begitu menguras tenaga dan emosinya.


Pukul


12 malam, telepon genggam Monrue berbunyi.  Ternyata ada pesan di Whats’app nya. Fauzan mengabarkan kalau akhirnya


ia membawa Amanda ke rumah sakit lagi karena Amanda panas tinggi hingga


mengigau.


            Setelah membaca pesan singkat itu,


Monrue pun bangun dan mencoba menelepon Fauzan.


            “Mas, gue butuh ke sana nggak?”


            Lawan bicaranya pun mengatakan nggak


perlu.  Dia masih bisa sendiri.


            “Ok kalau gitu, kabarin gue terus ya


mas!”


            Aura yang tidur di sebelah Monrue jadi


ikut terbangun. “Amanda dibawa ke rumah sakit?”


            Monrue mengangguk. “Panas tinggi dia


sampai mengigau.  Begitu di rumah sakit


jahitannya di bongkar lagi, ternyata masih banyak pecahan kaca yang belum


terangkat. Itu yang buat infeksi.”


            “Ya ampun.”


            Monrue duduk di samping Aura yang


masih berbaring.  “Aku masih boleh nggak


sih khawatir?”  dia takut kalau Aura


cemburu.


            Aura tersenyum. “Bolehlah, aku juga


khawatir kok.”


            “Aku takut banget.”


            “Nggak papa kok. Kamu mau kita


sekarang ke rumah sakit?”


            “Fauzan bilang nggak usah. Amanda sudah


stabil sekarang.  Tapi memang akhirnya di


opname.”


            “Kalau gitu, nanti pagi saja ya kita


ke sana?”


            Monrue mengangguk.


            Mereka pun kembali tidur.


Keesokan


paginya Monrue dan Aura telah ada di rumah sakit.  Fauzan ikut bermalam di sana.  Kondisi Amanda memang sudah jauh lebih


baik.  Sebenarnya dia sudah bisa pulang,


tapi karena menggunakan antibiotik dosis tinggi melalui infus, dokter


menyarankan untuk tinggal di rumah sakit hingga proses pengobatan antibiotiknya


selesai.  Jadilah Fauzan memaksa Amanda


untuk mau bertahan di sini hingga tiga hari ke depan.  Terlihat sekali Amanda kesal tapi pasrah.


            Amanda meminta Monrue untuk mengajak


Fauzan makan, karena dia belum makan sejak semalam.  Monrue pun menyeret Fauzan untuk ke restoran


yang ada di rumah sakit untuk makan pagi.  Dia pun meninggalkan Aura untuk menemani Amanda.  Jadilah dua perempuan itu mengobrol dengan


santai dan riang.


            Ah, lega rasanya semua permasalahan


telah terurai dengan baik.  Entah apa masalah

__ADS_1


yang akan mereka hadapi ke depannya.  Tapi mereka yakin, dengan cinta yang mereka punya sekarang, mereka akan


kuat menghadapi masalah apapun.


__ADS_2