
Disepakati
mereka akan bertemu di daerah Kuta, di sebuah restoran seafood yang terkenal. Sengaja
memilih tempat umum, untuk mencegah Steven berbuat yang bukan-bukan.
Sabtu siang, restoran itu cukup
penuh, mereka berenam ada di tengah-tengah restoran dalam meja yang besar. Mereka menanti Steven. Setelah memesan makanan. Para laki-laki sibuk merancang strategi apa
yang hendak mereka lakukan. Amanda dan
Aura hanya menyimak pembicaraan serius itu.
Amanda pun pamit sebentar untuk ke
toilet. Hanya sebentar, dia pun hendak
kembali ke mejanya. Dalam jalannya yang
perlahan, hanya berjarak dua meter Amanda melihat seorang laki-laki yang sedang
menatap Fauzan dari kejauhan dengan ekspresi begitu marah. Amanda curiga sepertinya laki-laki itu
Steven. Terlihat Steven membawa satu
botol kaca yang sudah pecah. Terlihat
tangannya berdarah karena menggenggam botol yang pecah. Hati kecil Amanda berkata keadaan ini begitu
berbahaya. Benar saja, setengah berlari
laki-laki itu siap menusukan pecahan botol itu ke leher Fauzan. Secepat kilat Amanda mencegahnya dia menepis
dengan kedua tangannya, karena tangan laki-laki itu begitu kuat, yang terjadi botol
yang ada di tangan itu berpindah arah ke perut Amanda. Sedetik kemudian perut Amanda bersimbah
darah.
“Kalau ini bisa menjadi penggugur
dosa-dosa Fauzan, saya ikhlas. Semoga
kamu bisa memaafkan Fauzan.” Amanda
bicara sambil menahan sakitnya.
Semua kaget, nggak terkecuali
Steven. Begitu menyadari ia salah
sasaran, dia pun langsung berlari keluar.
Spontan Bimo dan Jason langsung
mengejarnya.
Fauzan dan Monrue syok melihat
banyaknya darah yang ada di baju Amanda.
“Jangan bengong, bawa saya ke rumah
sakit!” Perintah Amanda.
Mereka pun langsung sadar. Fauzan langsung mengangkat Amanda yang sudah
jatuh terkapar. Monrue langsung menyerahkan sejumlah uang ke kasir sambil
menarik Aura. Merekapun langsung berlari
ke mobil.
Di luar pun ternyata ada adegan yang
mencekam. Ketika Steven berlari dengan
liarnya, dia tidak menyadari kalau dia berlari ke jalan besar. Dia pun tertabrak truck yang melaju dengan kecepatan tinggi. Steven tewas seketika. Jason dan Bimo hanya bisa terpana dan
berhenti mengejar.
Kelompok itu pun akhirnya terbagi
dua. Aura, Fauzan dan Monrue yang
membawa Amanda ke rumah sakit. Dan Bimo
dan Jason yang menanti polisi untuk mengurus jenazah Steven. Kesemuanya dalam keadaan syok. Semua orang yang ada di sana terperangah
dengan kejadian yang begitu cepat. Ada
penusukan di restoran, dan ada yang tertabrak di jalan raya.
Atas petunjuk Aura, mereka berhasil
membawa Amanda ke rumah sakit di Denpasar. Amanda langsung mendapat penanganan di ruang UGD. Para dokter dan suster membersihkan luka
Amanda dari pecahan kaca yang berkeping-keping. Dibutuhkan dua jam untuk membuat Amanda benar-benar aman.
Pukul tujuh Jason memberi kabar,
bahwa kondisi jenazah Steven yang hancur membuat ia harus dimakamkan
secepatnya. Polisi memang datang juga ke
mereka menanyakan banyak pertanyaan, polisi juga melihat kondisi Amanda dan
menanyakan banyak saksi. Mereka pun
dengan cepat menyatakan tidak ada yang bersalah dalam kasus kematian Steven.
Setelah Amanda aman, akhirnya Monrue
dan Aura pergi ke tempat Steven. Mereka
__ADS_1
berada di rumah sakit yang sama. Monrue,
Aura, Jason dan Bimo menyiapkan upacara pemakaman untuk Steven dengan
sederhana. Jason menghubungi keluarga
dan kerabat Steven. Jason menghubungi
om-omnya yang merupakan sepupu sang ayah. Orang tua Steven sudah lama meninggal. Dan Steven anak tunggal.
Setelah dimasukan ke dalam peti
mati, Steven disholatkan. Beliau
langsung dimakamkan malam itu juga di pemakaman umum. Pukul sebelas malam
Steven di makamkan. Setelah itu mereka
kembali ke rumah sakit untuk menemui Amanda dan Fauzan.
Fauzan masih panik. Setelah mendapatkan penanganan Amanda justru
demam. Berkali-kali Amanda meyakinkan
bahwa ini proses normal. Ia berusaha
tenang agar Fauzan juga tenang. Fauzan
nggak bisa dibohongi orang tuanya kan dokter, sedikitnya dia paham bahwa ada
infeksi di tubuh Amanda.
Pukul 12 mereka berenam ada di rumah
sakit. Dokter menyarankan Amanda untuk
menginap, tapi Amanda memaksa kembali ke hotel. Bisa-bisa nggak ada yang istirahat kalau dirinya ada di rumah
sakit. Akhirnya Fauzan dipaksa Amanda
menanda tangani surat pulang paksa. Kembalilah mereka ke hotel pukul satu pagi. Amanda pun berpesan untuk mereka
istirahat. Mereka akan kembali ke
Jakarta besok siang.
Keesokan harinya entah berapa banyak
pil turun panas yang ditenggak Amanda. Tapi panasnya hanya turun sesaat dan kembali muncul. Amanda makin pucat. Tapi dia selalu mengatakan kalau baik-baik saja. Fauzan akhirnya menyerah, dia berusaha
tenang. Hanya bisa memegang dan menjaga Amanda. Tidak ada keluhan sama sekali dari Amanda. Amanda berusaha makan dengan baik, ketika
makan pagi dan makan siang sebelum mereka terbang ke Jakarta.
Mendarat di Jakarta, Fauzan meminta
Amanda untuk ke rumah sakit lagi. Amanda
menolak, dia berdalih kalau dia baik-baik saja. Yang lain hanya bisa diam. Semua
tahu betapa kerasnya Amanda. Di airport kelompok ini pun terbagi dua. Monrue,
pulang ke rumah mereka.
Sebelum pulang Monrue mendekati
Fauzan. “Kabarin terus perkembangan Manda ya mas!” Bagaimanapun Monrue juga
khawatir.
Fauzan hanya mengangguk.
Sesampai
di apartment mereka, ternyata peristiwa Bali sudah menjadi berita. Banyak sekali rekaman amatir ternyata dalam
dua peristiwa itu. Monrue terlalu lelah
menanggapi kali ini, biarlah para saksi dan polisi saja yang memberi keterangan
para pencari berita.
Didapatinya Aura sedang termenung setelah
menonton berita. Monrue pun
menghampirinya.
“Kamu nggak papa?” Tanya Monrue hati-hati. Bagaimana pun yang
baru saja tewas adalah mantan suaminya, Monrue sangat maklum kalau Aura
bersedih.
Aura memang menitikan airmata. Tapi langsung ia hapus dengan penggung
tangannya. “Wajar nggak sih perasaan
ini. Kok aku malah lega ya? Aku jahat
banget ya?” Aura kebingungan dengan apa yang dirasa.
Monrue memeluknya. “Nggak ada yang
bisa menyalahkan apa yang kamu rasa sayang.”
“Harusnya aku sedihkan, bagaimanapun
kalau aku nggak kenal dia, nggak akan ada Jason. Padahal jelas Jason adalah nyawaku. Dia yang membuat aku bertahan sampai
sekarang.”
Monrue masih saja memeluk Aura. Dia hanya bisa menenangkannya apapun yang
dirasa Aura. Dalam hati dia juga lega
__ADS_1
sih, tidak ada lagi yang mengancam ketenangan rumah tangganya.
Jason keluar dari kamar mandi, dia
baru selesai mandi sepertinya.
“Kamu sedih papi meninggal?” Monrue
bertanya pada Jason.
Jason diam sesaat. “Sedikit.” Jawabnya singkat, berlalu menuju meja makan
untuk makan malam. Ia pun makan dengan
santai, seperti tidak ada masalah yang baru dihadapi.
Monrue tersenyum melihat pemandangan
itu. Masih memeluk istrinya. Monrue hanya ingin menenangkan istrinya. Dan menenangkan dirinya atas peristiwa baru
lalu yang begitu menguras tenaga dan emosinya.
Pukul
12 malam, telepon genggam Monrue berbunyi. Ternyata ada pesan di Whats’app nya. Fauzan mengabarkan kalau akhirnya
ia membawa Amanda ke rumah sakit lagi karena Amanda panas tinggi hingga
mengigau.
Setelah membaca pesan singkat itu,
Monrue pun bangun dan mencoba menelepon Fauzan.
“Mas, gue butuh ke sana nggak?”
Lawan bicaranya pun mengatakan nggak
perlu. Dia masih bisa sendiri.
“Ok kalau gitu, kabarin gue terus ya
mas!”
Aura yang tidur di sebelah Monrue jadi
ikut terbangun. “Amanda dibawa ke rumah sakit?”
Monrue mengangguk. “Panas tinggi dia
sampai mengigau. Begitu di rumah sakit
jahitannya di bongkar lagi, ternyata masih banyak pecahan kaca yang belum
terangkat. Itu yang buat infeksi.”
“Ya ampun.”
Monrue duduk di samping Aura yang
masih berbaring. “Aku masih boleh nggak
sih khawatir?” dia takut kalau Aura
cemburu.
Aura tersenyum. “Bolehlah, aku juga
khawatir kok.”
“Aku takut banget.”
“Nggak papa kok. Kamu mau kita
sekarang ke rumah sakit?”
“Fauzan bilang nggak usah. Amanda sudah
stabil sekarang. Tapi memang akhirnya di
opname.”
“Kalau gitu, nanti pagi saja ya kita
ke sana?”
Monrue mengangguk.
Mereka pun kembali tidur.
Keesokan
paginya Monrue dan Aura telah ada di rumah sakit. Fauzan ikut bermalam di sana. Kondisi Amanda memang sudah jauh lebih
baik. Sebenarnya dia sudah bisa pulang,
tapi karena menggunakan antibiotik dosis tinggi melalui infus, dokter
menyarankan untuk tinggal di rumah sakit hingga proses pengobatan antibiotiknya
selesai. Jadilah Fauzan memaksa Amanda
untuk mau bertahan di sini hingga tiga hari ke depan. Terlihat sekali Amanda kesal tapi pasrah.
Amanda meminta Monrue untuk mengajak
Fauzan makan, karena dia belum makan sejak semalam. Monrue pun menyeret Fauzan untuk ke restoran
yang ada di rumah sakit untuk makan pagi. Dia pun meninggalkan Aura untuk menemani Amanda. Jadilah dua perempuan itu mengobrol dengan
santai dan riang.
Ah, lega rasanya semua permasalahan
telah terurai dengan baik. Entah apa masalah
__ADS_1
yang akan mereka hadapi ke depannya. Tapi mereka yakin, dengan cinta yang mereka punya sekarang, mereka akan
kuat menghadapi masalah apapun.