
Monrue
adalah seorang penyanyi laki-laki Indonesia yang sangat terkenal karena
lagu-lagunya yang romantis, berparas tampan (banget), dengan badan yang atletis,
tinggi yang seimbang, dan kulit yang terang dan bersih. Rahangnya yang keras dipadukan dengan matanya
yang teduh merupakan kombinasi extrim yang membuat apabila perempuan ditatap
oleh dirinya langsung luluh. Ditambah hidungnya yang jauh dari pesek, dan bibir
tebalnya membuat ideal untuk mendapat predikat sebagai cowok sexy.
Sayangnya, diusianya ke 38 tahun, di
mana orang bilang usia matangnya seorang laki-laki, dia harus mengalami dua
kali kegagalan dalam rumah tangganya. Pernikahan pertamanya yang hanya seumur jagung dengan seorang artis
cantik berakhir ketika di usianya belum genap 30 tahun. Mereka menghasilkan seorang anak laki-laki
yang kini ikut sang ibu. Pernikahannya
yang kedua baru saja berakhir setelah berlangsung selama enam tahun, di pernikahan
keduanya Monrue menikah dengan pengusaha tajir banget asal negeri Jiran.
Menghasilkan satu orang putri cantik. Ketika mereka bercerai, pengusaha negeri Jiran itu langsung menutup semua
akses Monrue untuk bertemu dengan putri kesayangannya itu, bahkan kabar burung
mengatakan sang pengusaha itu mampu merekayasa kondisi yang membuat Monrue di black list di Malaysia sehingga dia
tidak boleh menginjakan kakinya di negeri itu. Monrue sangat terluka dengan kondisinya itu, kehancuran pernikahan
keduanya membuat dia benar-benar gagal moves
on.
Hampir satu setengah tahun
sebenarnya, tapi Monrue masih sangat patah hati. Dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi
pada kariernya. Hingga pada keputusan
untuk sementara waktu dia menarik diri, tidak mau menerima tawaran konser baik off air maupun on air. Benar-benar tidak
produktif, bahkan untuk menciptakan satu lagu atau masuk studio pun ia tak
mampu. Akhirnya pada manajemennya dia
minta untuk break sesaat, menenangkan
dirinya, dan ia benar-benar ingin sendiri. Terdamparlah ia saat ini di Bandar udara Soekarno-Hatta terminal
international tanpa tujuan. Sendirian,
ditemani sebuah koper kecil dan sebuah ransel, Monrue menggenggam passportnya
tanpa tahu ia hendak ke mana. Ia duduk
termenung di salah satu restoran di airport.
“Mon, ngapain bengong?” Sapa Derry
sang sutradara.
Monrue kaget disapa. Diliriknya orang yang menyapanya, ternyata
Derry Darman, sutradara terkenal. Ia pernah
sekali bekerja dengan sang sutradara tersebut. “Mas, mau ke mana?”
Derry duduk di hadapan Monrue.
“Brisbane.” Jawabnya singkat. Dia lupa
kalau Amanda sedari tadi di sampingnya hanya bingung berdiri. “Eh.. lupa, duduk
Man, Mon, ini Amanda, Novelis.”
Amanda memberi tangannya untuk
dijabat Monrue, diapun tersenyum ramah.
Monrue menerima jabatan tangan itu,
dan tersenyum hangat. Tanpa bicara
bahasa tubuhnya mempersilahkan Amanda untuk duduk di depannya.
Amanda pun duduk. “Kita pernah
bertemu, mas Monrue, lebih tepatnya dua tahun yang lalu saya nonton konser mas
Monrue di Brisbane.”
“Oh ya, pantes kok kayaknya pernah
lihat.” Monroe basa-basi.
“Nggak inget juga nggak papa mas,
mana perhatian dengan segitu banyak penonton.” Amanda pun menggoda basa-basi
Monroe.
Monrue tertawa malu. “Eh bener lho,
biasanya perempuan secantik mbak Amanda ini, nggak mudah saya lupakan.” Monrue
sedikit merayu dalam candanya.
“Amanda saja mas, Nggak usah pakai
mbak.”
“Ya kalau gitu, jangan panggil gue
mas...” Pinta Monrue.
Mereka tersenyum.
“Mau ke mana?” Tanya Derry pada Monrue.
Monrue menggeleng. “Nggak tahu.”
Amanda dan Derry bingung.
“Lagi suntuk gue, pengen kabur tapi
nggak tahu ke mana.”
“Punya Visa Australia?” Tiba-tiba
Amanda bertanya.
Derry bingung, Monrue juga.
“Hm… ada sih, masih ada setahun
kayaknya, kan dua tahun yang lalu itu baru bikin.”
“Ya sudah, ikut kita saja yuk! Tiba-tiba Pak Handi, produser kita nggak bisa
ikut. Saya sudah terlanjur pesen apartment tiga kamar.”
Derry masih bingung, tapi paham sih
maksud Amanda, memang sayang satu kamar yang sudah dipesan, karena tiba-tiba
sang produser nggak bisa ikut mereka.
Monrue kebingungan, tapi boleh juga
idenya.
Derry langsung menyerahkan tiketnya,
“Mumpung kita belum check in nih,
sana ke travel itu, siapa tahu masih bisa beli tiket. Samain saja
penerbangannya sama kita!”
Monrue pun mengikuti saran
keduanya. Dan ternyata dia berhasil
mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang sama dengan keduanya. Alhasil,
berangkatlah mereka bertiga ke Brisbane.
“Jadi Novel
elo mau dibikin film?” Tanya Monrue ketika mereka sudah ada di udara.
Amanda mengangguk. “Begitulah
rencananya.”
“Berarti novel elo laku dong?”
Amanda hanya tersenyum.
“Settingnya
di Brisbane gitu?”
Amanda mengangguk lagi.
“Jakarta-Brisbane sih.”
Monrue mengangguk mengerti. “Eh ngomong-ngomong, kok bisa punya ide sih
ngajak gue ikutan, elo kan nggak kenal gue?”
Amanda tersenyum. “Well, seharusnya kan kita berangkat bertiga, the
last minute pak Handi nggak bisa, ya sebenernya canggung saja kalau cuma
berdua. Makanya ngeliat elo hilang akal
gitu gue ajak saja. Toh sebenarnya gue
sama nggak kenalnya kok dengan Elo dan mas Derry.”
Monrue heran. “Oh belum kenal Mas
Derry?”
“Baru dikenalin sama Pak Handi tadi
di Airport, terus pak Handi langsung
meninggalkan kita setelah ngasih tiket dan uang transport untuk di sana.”
“Oooo…” Monrue paham. “Beneran mas,
elo nggak kenal Amanda sebelumnya?” Monrue konfirmasi ke orang yang duduk di
sebelah kirinya, Amanda ada di sebelah kanannya.
Derry mengangguk.
Hm… perjalanan yang aneh, pikir
Monrue. Tapi entah kenapa kok rasanya ia
percaya-percaya saja kalau perjalanan ini akan membuatnya nyaman.
Mereka tiba ke esokan pagi di
Sydney, mereka akan transit sebentar. Ketika di airport Sydney ternyata ada beberapa orang Indonesia yang
mengenal Monrue, mereka banyak yang menyapa dan meminta photo bersama. Monrue menanggapinya dengan ramah, walaupun
sebenarnya dia agak jetlag. Tapi sepertinya dia sudah sangat mengerti
resiko kerjanya. Amanda hanya
memperhatikannya sambil tersenyum, angin apa yang membuatnya tiba-tiba mengajak
artis ikut serta dalam perjalanan kerjanya kali ini. Nggak lama di Sydney hanya satu setengah jam,
mereka pun kemudian harus terbang lagi menuju Brisbane.
Sesampainya di Brisbane, Amanda
langsung mengambil perannya. Walaupun
mungkin mas Derry dan Monrue pernah beberapa kali ke Brisbane tapi dia yakin
mereka tidak mengenal Brisbane, seperti dirinya. Selain itu, kedatangannya Derry ke sini untuk
diperkenalkan kondisi lokasi oleh Amanda, sehingga ketika mereka harus syuting
nanti, Amanda tidak perlu ikut lagi. Yang pertama Amanda lakukan adalah menyewa mobil untuk mereka selama dua
minggu.
“Mas Derry apa Monrue yang akan bawa
mobil di sini?” Tanya Amanda.
Derry dan Monrue saling
berpandangan.
“Gue saja deh, gue nggak
ngapa-ngapain kan di sini, ya gue jadi supir saja deh.” Monrue menawarkan diri.
Ih lucu banget disupirin
selebriti. Amanda geli sendiri. “Ya sudah
pinjem SIM nya dong untuk di data.”
“SIM Indonesia?” Monrue bertanya sambil
mengambilnya dari dompet.
Amanda mengangguk. “Heeh, nggak papa
kok, asal masih berlaku.”
Monrue menyerahkan SIMnya yang
kemudian di bawa Amanda ke loket rental mobil.
Derry dan Monrue hanya duduk saja
melihat Amanda sibuk bulak-balik ke loket dan kembali ke mereka.
Setelah urusan administrasi selesai,
dan bagasi mereka juga sudah ada di tangan, Amanda mengajak mereka bangkit
menuju tempat rental mobil menyimpan mobil mereka. “Kita akan diantar bus, untuk ngambil mobilnya.” Amanda memberikan keterangan.
Derry dan Monrue mengangguk sambil
bangkit untuk bergerak.
Ketika mereka keluar dari airport.
“Anjrit, dingin ternyata.” Mendadak Monrue kedinginan.
Derry dan Amanda baru sadar, kalau
sedari tadi Monrue memang hanya menggunakan rompi yang sama sekali tidak tebal.
“Eh ya inikan winter.” Amanda bingung, Monrue kedinginan. Tapi Amanda baru sadar,
kalau Monrue kan memang tidak siap untuk ke Bribane.
Derry juga baru ngeh. “Elo bawa
jaket nggak?”
“Lupa.” Monrue baru sadar, bahkan di
kopernya pun dia memang tidak siap jaket.
“Ya sudah, abis ini kita ke DFO[1]deh.”
“Sementara ini, elo pakai jaket gue
deh.” Derry kebetulan memang memakai dua jaket, dia memberikannya satu pada
Monrue.
“Elo kedinginan dong mas?” Monrue merasa
bersalah.
“Jangan lama-lama, DFO nggak jauh
kan Man?”
Amanda menggeleng, “Masih sekitaran airport kok. Setelah ambil mobil kita langsung ke sana.”
Mereka pun bergerak cepat. Proses administrasi peminjaman mobil juga
nggak lama kok. Petugas menjelaskan
peraturannya dan kapan mereka harus mengembalikan. Selain itu juga petugasnya meminjamkan GPS
untuk mereka. Lumayan jadi nggak perlu pakai map yang ada di HP jadinya. Setelahnya mereka langsung bergerak ke DFO
untuk menemani Monrue membeli jaket.
Sambil menunggu Monrue memilih
jaket, Amanda window-shopping berhenti di satu toko jam dan perhiasan. Ada perhiasan yang cukup menyita perhatiannya. Dia jatuh cinta dengan sebuah cincin berlian
yang menurutnya simple dan cantik. Karena ini DFO harganya juga harga diskon. Tidak terlalu mahal, Amanda berjanji pada
dirinya sendiri, menjelang pulang nanti dia akan kembali ke sini untuk membeli
cincin itu. Ia jadi tersenyum ingat
ketika dengan wajah yang begitu bersalah, Fauzan minta maaf karena dia harus
kehilangan dua cincinnya. Ya sudahlah,
InshaAllah kalau dia ikhlas akan ada penggantinya. Pikirnya dalam hati.
Monroe membutuhkan dua jam untuk
mendapatkan jaket yang diinginkan. Ketika kembali bertemu Amanda yang menjaga koper Monrue dan mas Derry.
Tangan Monrue begitu penuh dengan kantong belanjaan. Di belakangnya, ternyata Mas Derry juga ikut membawa
beberapa belanjaan.
“Beli jaketnya banyak amat?” Amanda
heran.
__ADS_1
Monrue jadi nyengir, “Nggak cuma
jaket, gue jadi banyak belanja ini, murah-murah.” Kelihatan sih, dia juga beli
sepatu olah raga, dan nggak cuma satu jaket yang dia beli.
“Mas Derry belanja juga?”
Derry senyum malu-malu, “Iya, abis
lebih murah dari Jakarta.”
“Ya sudah yuk, jalan!” Ajak Amanda
pada keduanya.
“Kamu nggak belanja?”
“Ntar saja pas mau pulang. Kalau sekarang mah, malah ribet berat.”
Derry dan Monrue jadi saling
pandang. Iya ya, kenapa nggak nanti saja pas mau balik ke Jakarta? Ah mereka sudah
terbawa nafsu. Alhasil mereka pun
kerepotan menuju parkiran dengan banyaknya belanjaan dan koper mereka.
Amanda menyewa sebuah mobil yang
tidak besar untuk mereka. Cuma bertiga
juga sih, jadi Amanda menyewa mobil yang paling murah. Tapi dengan adanya tambahan belanjaan para
bapak-bapak ini, mobil menjadi penuh sesak karena bagasinya cuma bisa menampung
tiga koper mereka dan beberapa jinjing belanjaan. Sisanya harus duduk manis di samping Amanda.
Hanya butuh tiga puluh menit (itu
juga dengan sedikit nyasar cari pintu masuk) untuk sampai ke apartment sewaan
mereka di Toowong. Sudah cukup sore
ketika mereka sampai di sana. Tanpa
mereka sadari mereka belum makan sejak siang. Alhasil mereka cukup lapar
deh. Akhirnya mereka sepakat untuk jalan
kaki ke mall terdekat untuk makan setelah mereka memasuki barang-barang mereka
ke apartmen sewaan itu.
Amanda mengajak mereka untuk makan
di Nandos di Toowong.
“Ini makanan dari mana? “ Derry agak
kebingungan dengan rasa ayam bakar Nandos, rasanya asem-asem sedikit pedas
gimana gitu.
Amanda memang memesan dengan saus hot.
“Makanan Portugal tapi asal restoran
ini Afrika Selatan, atau sebaliknya ya? Lupa.” Amanda berusaha mengingat sambil
memberikan keterangan. “Tapi restoran ini justru berkembang di Australia dan
New Zaeland.”
Derry dan Monrue manggut-manggut
menyimak.
“Setelah ini kita ke Supermarket
sebentar ya, cari cemilan, karena kita makannya nanggung nih. Takutnya ntar malem laper, males keluar
lagi.”
Sekali lagi Derry dan Monrue cuma
manggut-manggut setuju.
Sesuai rencana mereka pun memasuki
restoran setelah makan. Derry dan Monrue
hanya mengikuti Amanda yang dengan cekatan belanja groceries. Tak lupa ia juga
memasukan mie instans produk Indonesia. Selain itu juga ia membeli roti, margarine, sedikit beras, sayuran, buah
dan ayam halal. Sesekali Derry dan
Monrue memasukan cemilan seperti keripik kentang, coklat dan minuman ringan.
Setelah membayar di kasir, para
laki-laki mulai mengangkut belanjaan itu dari kasir, dan ternyata banyak dan
berat.
“Tahu gitu bawa mobil tadi.” Derry
dan Monrue ngedumel sambil membawa belanjaan itu. Merekakan harus berjalan kaki kurang lebih
dua kilometer ke apartemen.
Amanda cuma nyengir, nggak ada
maksud ngerjain sih.
Sesampai di apartmen, Amanda
langsung menata belanjaan mereka di dapur, pada laki-laki itu hanya duduk di ruang
tengah sambil menonton TV, mereka lelah karena berjalan kaki dengan membawa
beban yang lumayan. Hingga, menyerahkan
penataan pada Amanda. Tadi sebenarnya
Amanda menawarkan untuk membawa sebagian barang, tapi para lelaki itu
menolak. Amanda nggak enak dengan Derry,
dia yang paling senior di antara mereka bertiga.
Setelahnya mereka ngobrol ringan,
dan membicarakan rencana besok. Amanda
mengabarkan bahwa ia telah menghubungi ketua UQISA[2] sehingga mereka bisa ketemu dengannya di
kampus besok siang. Maka rencana besok,
mereka akan seharian ada di kampus UQ untuk survey lokasi dan membicarakan
kemungkinan pengurusan perijinan syuting di kampus itu.
Setelah ngobrol ringan, akhirnya
mereka memutuskan untuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Mereka cukup lelah dengan perjalanan panjang
sejak kemarin. Untuk itu, mereka
memutuskan untuk tidur lebih cepat. Ketiganya mudah sekali untuk akrab satu sama lain, walaupun mereka baru
saling mengenal kurang dari 48 jam.
Baru
setelah masuk ke kamar, Amanda melepas kerudungnya dan mencoba menghubungi
Jakarta, untuk mengabarkan keadaannya di Brisbane. Fauzan akan menginap selama dua minggu untuk
menjaga kedua anak mereka selama Amanda ke Brisbane.
Keesokan
paginya Amanda telah masak untuk makan pagi mereka. Monrue baru saja memasuki apartmen itu
setelah ia lari pagi ketika makanan telah dihidangkan di meja makan. Amanda memang hanya memasak makanan yang
sederhana, karena bahan makanannya juga yang tersedia di supermarket saja. Ia hanya memasak nasi dan membuat sup ayam.
“Wow, sudah ada makanan nih.” Monrue menghampiri meja makan memperhatikan
hasil karya Amanda.
“Jangan ragukan the power of emak-emak ya.” Amanda bercanda.
“Oh elo sudah punya anak?”
“Jangan salah, anak pertama gue sudah
kuliah. Anak gue dua nih gini-gini.”
Monrue heran. “Umur elo berapa?”
Amanda tersenyum. “41”
“Oh elo lebih tua dari gue?”
“Well, sudah seribu orang sih yang
kaget, elo bukan orang yang pertama kok.” Amanda bercanda, dia pura-pura GR.
“Divorce.” Amanda menjawab dengan pelan kali ini. Nggak
enak banget ngomongin status.
Monrue hanya mengangguk. Dia tidak bertanya lagi, langsung ke kamarnya
untuk bersiap mandi.
Setelah
sarapan bersama, mereka pun bersiap untuk berangkat ke kampus UQ, sebelumnya
Amanda telah me-download applikasi
untuk membayar parkir di UQ, mengingat besar kemungkinan mereka akan bulak-balik
ke UQ dalam beberapa hari ini. Ketika
sampai di kampus yang dimaksud, mereka memarkirkan mobil mereka di area parkir
dekat dengan sungai. Amanda memang sengaja
mengajak mereka memarkir di sana untuk bisa berjalan kaki melewati danau UQ,
karena bisa jadi itu spot yang bagus untuk syuting nanti.
Benar adanya, Derry senang dengan
pemandangan indah di danau UQ, dia mengamati spot-spot yang menurutnya
menarik. Derry berkali-kali berhenti
untuk mengambil video dan photo dengan kameranya. Mereka pun jadi ikut berhenti. Sesekali Monrue juga ikut mengabadikan tempat
itu dengan telepon genggamnya. Melihat
Monrue yang sibuk selfie, Amanda menawarkan diri untuk menjadi photographer-nya. Dengan senang hati Monrue menerima tawaran
itu. Cukup lama mereka habiskan waktu di UQ Lake, padahal Amanda sudah
berkali-kali memberi tahu bahwa akan ada spot bagus yang mereka harus
kunjungi. Tapi sepertinya kedua
laki-laki itu begitu sibuk. Setelah
kedua laki-laki itu puas mengabadikan lokasi danau, barulah mereka bersedia
untuk beranjak menuju lokasi selanjutnya. Amanda mengajak mereka menuju great
court, taman luas, yang dikelilingi oleh gedung tua mirip benteng, keduanya
pun kembali takjub kembali sibuk dengan mengabadikan wilayah itu. Amanda pun kembali menjadi photographer bagi Monrue. Kalau Derry langsung sibuk dengan spot-spot
untuk kerjanya sehingga selera sudut photo antara Monrue dan Derry tentu saja
banyak berbeda.
“Ini kampus elo? Keren banget
ya.” Monrue akhirnya bertanya juga
ketika ia telah puas mengabadikan dirinya di banyak pose.
Amanda mengangguk dan tersenyum.
“Oh elo S1 di sini?”
Amanda menggeleng. “Tiga” jawabnya
singkat.
“Ha, jauh-jauh ke sini elo cuma
ngambil D3?”
Amanda bingung dengan komentar
Monrue, dia cuma bisa tersenyum dan berlalu.
Mendengar itu Derry tertawa dan dia
langsung menghampiri Monrue dan merangkulnya. “S3 mon, S3 bukan D3.” Jawabnya terkekeh.
“Ha, ada orang yang sekolah sebanyak
itu?” dia bingung.
Amanda
dan Derry hanya tersenyum mendengar komentar Monrue, mereka pun berjalan ke coffee shop yang ada di sudut taman itu.
“S1
elo di Indonesia?” Monrue penasaran.
Amanda
mengangguk. “Semarang” jawabnya singkat.
“S2?”
Mulai seperti Intrograsi.
“Amsterdam.”
“S3
baru di sini?”
Amanda
mengangguk “S3 dan post doc di sini.”
“Astaga
apa menulis novel harus segitu lamanya kuliah?”
Ketiganya
duduk di coffee shop, yang berada di
luar ruangan.
“Gue
ini dosen. Menulis novel cuma bonus.”
Amanda menjelaskan.
“Ya
ampun, kok nggak ngomong dari dulu.” Terjawab sudah misteri kenapa harus
sekolah lama banget.
Derry
dan Amanda cuma bisa tertawa dengan komentar Monrue.
“Tadi
tuh gue hampir merasa jadi manusia paling bodoh sedunia lho. Nggak tahunya memang tuntutan kerja elo ya,
makanya sampe segitunya sekolah.”
“Ya
sudah,” Amanda bangkit mencoba mengalihkan pembicaraan. “Pada mau kopi apa nih,
biar gue yang pesen.”
“Saya Latte Man.” Mas Derry sepertinya
males gerak.
“Gue
nemenin elo deh.” Monrue pun bergerak menemani Amanda.
Amanda
dan Monrue pun bergerak untuk memesan kopi. Nggak lama kemudian mereka sudah
kembali duduk santai di pelataran café di bawah pohon rindang. Mereka ada di
sana memang ada maksudnya, mereka sedang menunggu Arifin presiden UQISA. Nggak lama kok, akhirnya Arifin datang. Dia adalah mahasiswa master, masih muda
usianya masih dua puluh lima. Awalnya
Arifin agak canggung bertemu dengan tiga orang yang sudah senior itu, tapi
Amanda sangat ramah dan santai membuat Arifin jadi nyaman ada di tengah-tengah
mereka.
Tujuan
mereka mengundang Arifin untuk meminta gambaran waktu yang tepat dan prosedur
perijinan agar bisa syuting di kampus. Anak muda itu menyarankan untuk melakukan syuting di waktu seperti
sekarang ini, saat libur semester, jadi memang tidak banyak mahasiswa ada di
kampus. Hanya mereka yang sedang menulis
thesis atau ikut semester pendek. Arifin
juga menyarankan mereka ke student
__ADS_1
service untuk mengetahui prosedur perijinan.
Dalam pertemuan itu Monrue terus
menerus memperhatikan Amanda, bagaimana Amanda bisa ngobrol dengan Arifin tanpa
merasakan adanya jarak di antara mereka, padahal jelas gap usia mereka jauh banget. Tapi Amanda mampu membuat suasana nyaman untuk semua.
Akhirnya disepakati Arifin bersedia
menemani mereka ke student service,
melangkah lah mereka berempat ke tempat yang dimaksud. Beruntung, ternyata pihak yang berwenang
bersedia menemui mereka tanpa sebelumnya membuat janji. Memang lagi kosong saja. Pada intinya Michael, lelaki berkulit putih
dengan usia separuh baya tidak keberatan dengan pembuatan film di kampus itu,
tetapi memang banyak hal yang harus dipatuhi, seperti, tidak menggunakan toa
dengan suara besar bila dekat kelas atau kantor, tidak ada keramaian yang berlebihan. Sebaiknya pengambilan gambar di hari libur,
dan apabila harus ada syuting dalam perpustakaan atau ruangan belajar hanya
menggunakan kamera kecil sehingga tidak mengganggu aktivitas. Beliau pun menyatakan kesediaannya pihak
kampus menyediakan ruangan untuk syuting apabila diperlukan, jika hanya ruangan
itu tidak sedang digunakan.
Intinya adalah bisa dilaksanakan
syuting di kampus itu, tapi mereka berharap surat permohonannya diberikan
jauh-jauh hari. Setelah mendapat
tanggapan positif mereka pun minta diri. Pihak kampus pun mengijinkan apabila mereka juga ingin melihat-lihat
lokasi sejauh itu open access,
seperti perpustakaan dan study room selama tidak mengganggu.
Sekali lagi, dalam pertemuan itu,
Monrue hanya memperhatikan Amanda bagaimana proses lobby dilakukan oleh
Amanda. Bagaimana suasana menjadi cair
dengan candaan ringan Amanda pada Michael dan bagaimana Amanda menghargai
mereka semua termasuk Arifin dengan baik. Sekali lagi Monrue cukup kagum dengan ke flexible-an Amanda.
Setelah hampir dua jam menemani
rombongan, akhirnya Arifin minta diri, dia bermaksud kembali mengerjakan
thesisnya di perpustakaan. Setelah
berpisah Amanda pun mengajak keduanya untuk ke Multifaith untuk sholat sesaat. Setelahnya, Amanda minta ijin sebentar, ia ingin bertemu sebentar dengan
supervisornya. Akhirnya Derry dan Monrue
menantinya di kantin kampus. Derry dan
Monrue nongkrong di kantin dengan sekedar menikmati makanan kecil dan minuman
ringan. Mereka pun menikmati suasana
kampus sore hari. Amanda cukup lama
meninggalkan mereka hampir satu jam. Tapi nggak papa sih, suasananya cukup nyaman kok untuk nongkrong. Nggak terlalu ramai juga sore itu. Ya mungkin karena libur ya.
Ketika Amanda kembali, dia melihat
Derry dan Monrue masih ngobrol ringan. Di hadapan mereka ada sisa kentang goreng dan minuman soda.
“Maap ya, jamuran ya nunggu gue?”
“Nggak kok.”
“Ya sudah, jalan lagi? Mau ke mana
sekarang?”
“Hm… Masih kenyang ya kalau makan,
mau jalan saja?”
Mereka pun bergerak. Akhirnya diputuskan mereka bersantai sejenak
di south bank. Kota dengan pemandangan pinggir sungai. Mereka jalan sekedar berphoto-photo di
tulisan besar Brisbane, dan duduk-duduk untuk sekedar ngobrol akrab.
“Man, kayaknya besok kita nggak usah
keluar dulu ya, kita perbaiki skrip dulu.” Pinta mas Derry.
“Oh gitu?”
“Saya mau nambahin spot-spot yang
tadi saya lihat. Mumpung masih ingat.”
“Siap.”
Malam itu pun ditutup dengan makan
malam di restoran sekitar city, dan ketika pulang ke apartmen mereka sudah
cukup lelah.
Keesokan
harinya sesuai rencana semalam, Derry dan Amanda sibuk di ruang tengah untuk
memperbaiki skrip film mereka. Lama-lama
Monrue bosan karena tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba dia punya ide.
“Man, elo bawa novel elo nggak? Gue
mau baca dong.”
Amanda bingung. Bawa nggak ya?
Derry langsung bangkit. Dia ke kamar sebentar dan keluar dengan novel
Amanda di tangannya. Langsung ia
serahkan ke Monrue, paham sih Monrue pasti bosan.
Monrue menerimanya dan langsung
membacanya.
Tenang,
Derry dan Amanda bisa bekerja dengan tenang, Monrue tidak lagi rewel. Mereka benar-benar fokus, mereka hanya
berhenti sesaat untuk sholat dan makan, selebihnya benar-benar dihabiskan
dengan memperbaiki skrip tersebut. Setelah mendapatkan novel Monrue pun juga fokus, dia membawa ke mana-mana
novel itu. Bosan di ruang tengah dia
pergi ke teras dengan novel di tangannya. Makan pun sambil membaca, Derry dan
Amanda pun sampai senyum-senyum melihat Monrue yang begitu fokus membaca.
Satu hari setelahnya Derry dan
Amanda pun masih sibuk memperbaiki skrip. Tapi hanya setengah hari, bertepatan dengan Monrue yang selesai membaca
novel Amanda.
“Novel elo seru.” Komentarnya
singkat. “Gue ikut emosi bacanya.”
Amanda hanya tersenyum mendengar pujian
itu.
Hari-hari selanjutnya diwarnai
dengan kondisi yang sama, satu hari penuh kunjungan ke lokasi, keesokan harinya
mereka memperbaiki skrip. Dan untuk
membuat Monrue nggak rewel di saat Derry dan Amanda bekerja, Amanda memberikan
novelnya untuk dibaca. Amanda baru ingat
kalau dia menyimpan soft copy novel-novelnya
di laptopnya, jadi Amanda mengcopy novel itu dan ditransfer ke tablet Monrue.
Setelah sepuluh hari bekerja,
akhirnya mereka sepakat untuk selesai. Tapi memang mereka harus mengunjungi beberapa pantai, masih dalam rangka
mencari lokasi syuting. Di sepakati
mereka akan ke Byron bay, Surfer
paradise, Sunshine coast and Redclift. Besok mereka akan ke Byron bay dan Surfer Paradise karena satu arah. Maka, mereka sepakat
untuk tidur cepat malam ini.
Tengah malam, Monrue terbangun untuk
ke kamar mandi. Dia bangkit dengan malas
dan memang masih mengambang. Berjalan
pelan bagai orang mabuk di menuju toilet. Tapi kemudian wajahnya mengeluarkan expresi yang sangat kaget ketika memandang
sesuatu di luar dugaannya. Seketika
Monrue seakan terbangun. Dia terpaku di
depan toilet.
Amanda yang baru keluar dari toilet
bingung dengan Monrue yang sedang terpana memandangnya. Setelah beberapa detik dia baru sadar kalau
dia tidak mengenakan kerudung. Pantes
Monrue bengong gitu.
“Eh, apes ya, maap ya.” Amanda
nyengir.
“Nggak kok, anugrah.” Monrue jujur
dan terpana.
Amanda salah tingkah dia ngacir ke
kamarnya. “Dasar lo.”
Keesokan
paginya setelah sarapan, semua telah siap untuk ke pantai. Amanda pun telah menyiapkan bekal cemilan,
minuman ringan dan air putih untuk perjalanan. Dia pun meminta Monrue membawanya ke mobil.
Monrue menghampirinya untuk
menjalankan apa yang diminta Amanda, tapi ketika ia mendekati Amanda ternyata
ada yang disampaikan sepintas. “Elo cantik.” Kemudian pergi meninggalkan Amanda yang bingung.
Sepertinya yang dimaksud Monrue apa
yang dilihatnya semalam. Mendengar itu
Amanda tersenyum. Yah mau gimana lagi, sudah
kejadian, dia hanya berjanji kalau dia harus lebih hati-hati.
Australia memang surganya
pantai. Yang pastinya jauh dari
kotor. Ada pantai yang kualitas
interntional seperti Surfer Paradise,
ada juga pantai kualitas lokal seperti Sunshine
coast. Semua pantai yang ada
pastinya terjaga dan bersih. Di pantai-pantai yang mereka kunjungi mereka lebih
seperti jalan-jalan dari pada bekerja. Mereka amat menikmati kondisi pantai yang memang tidak terlalu
ramai. Mereka bertiga ngobrol banyak hal
sambil berjalan di pinggir pantai. Satu
sama lain makin saling akrab. Tidak
hanya pekerjaan dan ngobrol ringan, mereka pun sering kali melakukan pembicaraan
berat dan kadang-kadang juga curhat dengan hidup mereka masing-masing.
Monrue sama sekali tidak menyesal
dengan perjalanannya kali ini. Spontanitas yang melahirkan ketenangan dalam hidupnya. Suasana keakraban seperti ini yang ia
butuhkan saat ini. Sepertinya ia tidak
lagi merasakan gundah gulana. Kangen anaknya pasti, tapi dia berusaha bisa
melanjutkan hidupnya. Bahkan dia bisa
lho curhat dengan Derry dan Amanda. Saat
ini sih sebenarnya Monrue cuma butuh didengar, jadi Amanda dan Derry hanya
sesekali menanggapi curahan hatinya, tanpa menggurui. Hanya sebagai teman baik saja. Monrue pun sangat menghargai itu. Derry dan Amanda sudah seperti sahabat baru
baginya. Merasa sangat nyaman bersama
mereka. Sedikit banyak, mereka jadi
saling mengenal satu sama lain. Benar-benar kerja yang menyenangkan perjalanan kali ini.
Setelah
tiga hari bulak-balik ke pantai saat winter gini, akhirnya Mas Derry nyerah. ia masuk angin, makanya hari selanjutnya
hanya dihabiskan di apartmen. Amanda
agak panik sih melihat Mas Derry nggak enak badan, lusa mereka akan menempuh
perjalanan jauh untuk kembali ke Jakarta, jangan sampai sakitnya Mas Derry
berkepanjangan. Akhirnya ia membawa
mobil sewaan untuk ke apotik mencari obat atau vitamin memulihkan kondisi Mas
Derry, tidak ingin mengganggu Monrue karena sepertinya kondisi Monrue juga
tidak fit.
Ketika
ia kembali ke apartmen dilihatnya Monrue sedang memijit Mas Derry, Amanda pun
memberikan pil jamu Indonesia yang dibelinya di toko Indonesia untuk masuk
angin. Ia juga memberikan mas Derry
vitamin untuk meningkatkan daya tahan. Mas Derry pun ke kamar untuk tidur. Nggak sengaja menyentuh Monrue,
ternyata badan Monrue pun panas. Waduh
ada dua pasien. Amanda kebingungan. Dia pun memberikan obat yang sama untuk
Monrue. Tapi sebelumnya, Amanda
membuatkan teh hangat untuk Monrue.
Kondisi
Monrue memang lebih baik dari Mas Derry. Sambil menikmati teh hangatnya, Monrue ngobrol-ngobrol dengan
Amanda. Banyak yang mereka
obrolkan. Karena Monrue terus menerus
mendesah karena badannya yang nggak nyaman, akhirnya Amanda nggak tega, secara
spontan ia pun memijit kepala Monrue. Monrue pun sepertinya merasa nyaman, dia berbaring di samping Amanda
yang terus memijit kepalanya dan pada akhirnya tertidur di sofa panjang. Amanda pun ke kamar Monrue untuk mengambil
selimut dan menyelimuti Monrue. Sepertinya panas badannya sudah mulai turun sih. Cuma hangat, nggak panas kok.
Besar
harapan Amanda mereka lebih baik ke esokan paginya. Alhamdulilah, ternyata para laki-laki itu memang hanya perlu istirahat sejenak. Mereka terlihat cukup fit pagi itu. Amanda kembali memasak sup untuk sarapan pagi
mereka dan memaksa mereka tetap minum vitamin untuk meningkatkan daya tahan
mereka. Para lelaki itu pun hanya
menurut atas permintaan Amanda. Cukup
beryukur karena Amanda perhatian pada mereka.
[1]
direct
factory outlate
[2]
organisasi mahasiswa Indonesia di UQ
__ADS_1