Life After Forty

Life After Forty
Episode 11 Mendadak Cinta


__ADS_3

Monrue


adalah seorang penyanyi laki-laki Indonesia yang sangat terkenal karena


lagu-lagunya yang romantis, berparas tampan (banget), dengan badan yang atletis,


tinggi yang seimbang, dan kulit yang terang dan bersih.  Rahangnya yang keras dipadukan dengan matanya


yang teduh merupakan kombinasi extrim yang membuat apabila perempuan ditatap


oleh dirinya langsung luluh. Ditambah hidungnya yang jauh dari pesek, dan bibir


tebalnya membuat ideal untuk mendapat predikat sebagai cowok sexy.


            Sayangnya, diusianya ke 38 tahun, di


mana orang bilang usia matangnya seorang laki-laki, dia harus mengalami dua


kali kegagalan dalam rumah tangganya.  Pernikahan pertamanya yang hanya seumur jagung dengan seorang artis


cantik berakhir ketika di usianya belum genap 30 tahun.  Mereka menghasilkan seorang anak laki-laki


yang kini ikut sang ibu.  Pernikahannya


yang kedua baru saja berakhir setelah berlangsung selama enam tahun, di pernikahan


keduanya Monrue menikah dengan pengusaha tajir banget asal negeri Jiran.


Menghasilkan satu orang putri cantik.  Ketika mereka bercerai, pengusaha negeri Jiran itu langsung menutup semua


akses Monrue untuk bertemu dengan putri kesayangannya itu, bahkan kabar burung


mengatakan sang pengusaha itu mampu merekayasa kondisi yang membuat Monrue di black list di Malaysia sehingga dia


tidak boleh menginjakan kakinya di negeri itu.  Monrue sangat terluka dengan kondisinya itu, kehancuran pernikahan


keduanya membuat dia benar-benar gagal moves


on.


            Hampir satu setengah tahun


sebenarnya, tapi Monrue masih sangat patah hati.  Dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi


pada kariernya.  Hingga pada keputusan


untuk sementara waktu dia menarik diri, tidak mau menerima tawaran konser baik off air maupun on air.  Benar-benar tidak


produktif, bahkan untuk menciptakan satu lagu atau masuk studio pun ia tak


mampu.  Akhirnya pada manajemennya dia


minta untuk break sesaat, menenangkan


dirinya, dan ia benar-benar ingin sendiri.  Terdamparlah ia saat ini di Bandar udara Soekarno-Hatta terminal


international tanpa tujuan.  Sendirian,


ditemani sebuah koper kecil dan sebuah ransel, Monrue menggenggam passportnya


tanpa tahu ia hendak ke mana.  Ia duduk


termenung di salah satu restoran di airport.


            “Mon, ngapain bengong?” Sapa Derry


sang sutradara.


            Monrue kaget disapa.  Diliriknya orang yang menyapanya, ternyata


Derry Darman, sutradara terkenal.  Ia pernah


sekali bekerja dengan sang sutradara tersebut. “Mas, mau ke mana?”


            Derry duduk di hadapan Monrue.


“Brisbane.” Jawabnya singkat.  Dia lupa


kalau Amanda sedari tadi di sampingnya hanya bingung berdiri. “Eh.. lupa, duduk


Man, Mon, ini Amanda, Novelis.”


            Amanda memberi tangannya untuk


dijabat Monrue, diapun tersenyum ramah.


            Monrue menerima jabatan tangan itu,


dan tersenyum hangat.  Tanpa bicara


bahasa tubuhnya mempersilahkan Amanda untuk duduk di depannya.


            Amanda pun duduk. “Kita pernah


bertemu, mas Monrue, lebih tepatnya dua tahun yang lalu saya nonton konser mas


Monrue di Brisbane.”


            “Oh ya, pantes kok kayaknya pernah


lihat.” Monroe basa-basi.


            “Nggak inget juga nggak papa mas,


mana perhatian dengan segitu banyak penonton.” Amanda pun menggoda basa-basi


Monroe.


            Monrue tertawa malu. “Eh bener lho,


biasanya perempuan secantik mbak Amanda ini, nggak mudah saya lupakan.” Monrue


sedikit merayu dalam candanya.


            “Amanda saja mas, Nggak usah pakai


mbak.”


            “Ya kalau gitu, jangan panggil gue


mas...” Pinta Monrue.


            Mereka tersenyum.


            “Mau ke mana?”  Tanya Derry pada Monrue.


            Monrue menggeleng. “Nggak tahu.”


            Amanda dan Derry bingung.


            “Lagi suntuk gue, pengen kabur tapi


nggak tahu ke mana.”


            “Punya Visa Australia?” Tiba-tiba


Amanda bertanya.


            Derry bingung, Monrue juga.


            “Hm… ada sih, masih ada setahun


kayaknya, kan dua tahun yang lalu itu baru bikin.”


            “Ya sudah, ikut kita saja yuk!  Tiba-tiba Pak Handi, produser kita nggak bisa


ikut. Saya sudah terlanjur pesen apartment tiga kamar.”


            Derry masih bingung, tapi paham sih


maksud Amanda, memang sayang satu kamar yang sudah dipesan, karena tiba-tiba


sang produser nggak bisa ikut mereka.


            Monrue kebingungan, tapi boleh juga


idenya.


            Derry langsung menyerahkan tiketnya,


“Mumpung kita belum check in nih,


sana ke travel itu, siapa tahu masih bisa beli tiket. Samain saja


penerbangannya sama kita!”


            Monrue pun mengikuti saran


keduanya.  Dan ternyata dia berhasil


mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang sama dengan keduanya. Alhasil,


berangkatlah mereka bertiga ke Brisbane.


“Jadi Novel


elo mau dibikin film?” Tanya Monrue ketika mereka sudah ada di udara.


            Amanda mengangguk. “Begitulah


rencananya.”


            “Berarti novel elo laku dong?”


            Amanda hanya tersenyum.


            “Settingnya


di Brisbane gitu?”


            Amanda mengangguk lagi.


“Jakarta-Brisbane sih.”


            Monrue mengangguk mengerti.  “Eh ngomong-ngomong, kok bisa punya ide sih


ngajak gue ikutan, elo kan nggak kenal gue?”


            Amanda tersenyum.  “Well, seharusnya kan kita berangkat bertiga, the


last minute pak Handi nggak bisa, ya sebenernya canggung saja kalau cuma


berdua.  Makanya ngeliat elo hilang akal


gitu gue ajak saja.  Toh sebenarnya gue


sama nggak kenalnya kok dengan Elo dan mas Derry.”


            Monrue heran. “Oh belum kenal Mas


Derry?”


            “Baru dikenalin sama Pak Handi tadi


di Airport, terus pak Handi langsung


meninggalkan kita setelah ngasih tiket dan uang transport untuk di sana.”


            “Oooo…” Monrue paham. “Beneran mas,


elo nggak kenal Amanda sebelumnya?” Monrue konfirmasi ke orang yang duduk di


sebelah kirinya, Amanda ada di sebelah kanannya.


            Derry mengangguk.


            Hm… perjalanan yang aneh, pikir


Monrue.  Tapi entah kenapa kok rasanya ia


percaya-percaya saja kalau perjalanan ini akan membuatnya nyaman.


            Mereka tiba ke esokan pagi di


Sydney, mereka akan transit sebentar.  Ketika di airport Sydney ternyata ada beberapa orang Indonesia yang


mengenal Monrue, mereka banyak yang menyapa dan meminta photo bersama.  Monrue menanggapinya dengan ramah, walaupun


sebenarnya dia agak jetlag.  Tapi sepertinya dia sudah sangat mengerti


resiko kerjanya.  Amanda hanya


memperhatikannya sambil tersenyum, angin apa yang membuatnya tiba-tiba mengajak


artis ikut serta dalam perjalanan kerjanya kali ini.  Nggak lama di Sydney hanya satu setengah jam,


mereka pun kemudian harus terbang lagi menuju Brisbane.


            Sesampainya di Brisbane, Amanda


langsung mengambil perannya.  Walaupun


mungkin mas Derry dan Monrue pernah beberapa kali ke Brisbane tapi dia yakin


mereka tidak mengenal Brisbane, seperti dirinya.  Selain itu, kedatangannya Derry ke sini untuk


diperkenalkan kondisi lokasi oleh Amanda, sehingga ketika mereka harus syuting


nanti, Amanda tidak perlu ikut lagi.  Yang pertama Amanda lakukan adalah menyewa mobil untuk mereka selama dua


minggu.


            “Mas Derry apa Monrue yang akan bawa


mobil di sini?”  Tanya Amanda.


            Derry dan Monrue saling


berpandangan.


            “Gue saja deh, gue nggak


ngapa-ngapain kan di sini, ya gue jadi supir saja deh.” Monrue menawarkan diri.


            Ih lucu banget disupirin


selebriti.  Amanda geli sendiri. “Ya sudah


pinjem SIM nya dong untuk di data.”


            “SIM Indonesia?” Monrue bertanya sambil


mengambilnya dari dompet.


            Amanda mengangguk. “Heeh, nggak papa


kok, asal masih berlaku.”


            Monrue menyerahkan SIMnya yang


kemudian di bawa Amanda ke loket rental mobil.


            Derry dan Monrue hanya duduk saja


melihat Amanda sibuk bulak-balik ke loket dan kembali ke mereka.


            Setelah urusan administrasi selesai,


dan bagasi mereka juga sudah ada di tangan, Amanda mengajak mereka bangkit


menuju tempat rental mobil menyimpan mobil mereka.  “Kita akan diantar bus, untuk ngambil mobilnya.”  Amanda memberikan keterangan.


            Derry dan Monrue mengangguk sambil


bangkit untuk bergerak.


            Ketika mereka keluar dari airport.


            “Anjrit, dingin ternyata.”  Mendadak Monrue kedinginan.


            Derry dan Amanda baru sadar, kalau


sedari tadi Monrue memang hanya menggunakan rompi yang sama sekali tidak tebal.


            “Eh ya inikan winter.” Amanda bingung, Monrue kedinginan. Tapi Amanda baru sadar,


kalau Monrue kan memang tidak siap untuk ke Bribane.


            Derry juga baru ngeh. “Elo bawa


jaket nggak?”


            “Lupa.” Monrue baru sadar, bahkan di


kopernya pun dia memang tidak siap jaket.


            “Ya sudah, abis ini kita ke DFO[1]deh.”


            “Sementara ini, elo pakai jaket gue


deh.” Derry kebetulan memang memakai dua jaket, dia memberikannya satu pada


Monrue.


            “Elo kedinginan dong mas?” Monrue merasa


bersalah.


            “Jangan lama-lama, DFO nggak jauh


kan Man?”


            Amanda menggeleng, “Masih sekitaran airport kok.  Setelah ambil mobil kita langsung ke sana.”


            Mereka pun bergerak cepat.  Proses administrasi peminjaman mobil juga


nggak lama kok.  Petugas menjelaskan


peraturannya dan kapan mereka harus mengembalikan.  Selain itu juga petugasnya meminjamkan GPS


untuk mereka.  Lumayan jadi nggak perlu pakai map yang ada di HP jadinya.  Setelahnya mereka langsung bergerak ke DFO


untuk menemani Monrue membeli jaket.


            Sambil menunggu Monrue memilih


jaket, Amanda window-shopping berhenti di satu toko jam dan perhiasan.  Ada perhiasan yang cukup menyita perhatiannya.  Dia jatuh cinta dengan sebuah cincin berlian


yang menurutnya simple dan cantik.  Karena ini DFO harganya juga harga diskon.  Tidak terlalu mahal, Amanda berjanji pada


dirinya sendiri, menjelang pulang nanti dia akan kembali ke sini untuk membeli


cincin itu.  Ia jadi tersenyum ingat


ketika dengan wajah yang begitu bersalah, Fauzan minta maaf karena dia harus


kehilangan dua cincinnya.  Ya sudahlah,


InshaAllah kalau dia ikhlas akan ada penggantinya.  Pikirnya dalam hati.


            Monroe membutuhkan dua jam untuk


mendapatkan jaket yang diinginkan.  Ketika kembali bertemu Amanda yang menjaga koper Monrue dan mas Derry.


Tangan Monrue begitu penuh dengan kantong belanjaan.  Di belakangnya, ternyata Mas Derry juga ikut membawa


beberapa belanjaan.


            “Beli jaketnya banyak amat?” Amanda


heran.

__ADS_1


            Monrue jadi nyengir, “Nggak cuma


jaket, gue jadi banyak belanja ini, murah-murah.” Kelihatan sih, dia juga beli


sepatu olah raga, dan nggak cuma satu jaket yang dia beli.


            “Mas Derry belanja juga?”


            Derry senyum malu-malu, “Iya, abis


lebih murah dari Jakarta.”


            “Ya sudah yuk, jalan!” Ajak Amanda


pada keduanya.


            “Kamu nggak belanja?”


            “Ntar saja pas mau pulang.  Kalau sekarang mah, malah ribet berat.”


            Derry dan Monrue jadi saling


pandang. Iya ya, kenapa nggak nanti saja pas mau balik ke Jakarta? Ah mereka sudah


terbawa nafsu.  Alhasil mereka pun


kerepotan menuju parkiran dengan banyaknya belanjaan dan koper mereka.


            Amanda menyewa sebuah mobil yang


tidak besar untuk mereka.  Cuma bertiga


juga sih, jadi Amanda menyewa mobil yang paling murah.  Tapi dengan adanya tambahan belanjaan para


bapak-bapak ini, mobil menjadi penuh sesak karena bagasinya cuma bisa menampung


tiga koper mereka dan beberapa jinjing belanjaan.  Sisanya harus duduk manis di samping Amanda.


            Hanya butuh tiga puluh menit (itu


juga dengan sedikit nyasar cari pintu masuk) untuk sampai ke apartment sewaan


mereka di Toowong.  Sudah cukup sore


ketika mereka sampai di sana.  Tanpa


mereka sadari mereka belum makan sejak siang. Alhasil mereka cukup lapar


deh.  Akhirnya mereka sepakat untuk jalan


kaki ke mall terdekat untuk makan setelah mereka memasuki barang-barang mereka


ke apartmen sewaan itu.


            Amanda mengajak mereka untuk makan


di Nandos di Toowong.


            “Ini makanan dari mana? “ Derry agak


kebingungan dengan rasa ayam bakar Nandos, rasanya asem-asem sedikit pedas


gimana gitu.


            Amanda memang memesan dengan saus hot.


            “Makanan Portugal tapi asal restoran


ini Afrika Selatan, atau sebaliknya ya? Lupa.” Amanda berusaha mengingat sambil


memberikan keterangan. “Tapi restoran ini justru berkembang di Australia dan


New Zaeland.”


            Derry dan Monrue manggut-manggut


menyimak.


            “Setelah ini kita ke Supermarket


sebentar ya, cari cemilan, karena kita makannya nanggung nih.  Takutnya ntar malem laper, males keluar


lagi.”


            Sekali lagi Derry dan Monrue cuma


manggut-manggut setuju.


            Sesuai rencana mereka pun memasuki


restoran setelah makan.  Derry dan Monrue


hanya mengikuti Amanda yang dengan cekatan belanja groceries.  Tak lupa ia juga


memasukan mie instans produk Indonesia.  Selain itu juga ia membeli roti, margarine, sedikit beras, sayuran, buah


dan ayam halal.  Sesekali Derry dan


Monrue memasukan cemilan seperti keripik kentang, coklat dan minuman ringan.


            Setelah membayar di kasir, para


laki-laki mulai mengangkut belanjaan itu dari kasir, dan ternyata banyak dan


berat.


            “Tahu gitu bawa mobil tadi.” Derry


dan Monrue ngedumel sambil membawa belanjaan itu.  Merekakan harus berjalan kaki kurang lebih


dua kilometer ke apartemen.


            Amanda cuma nyengir, nggak ada


maksud ngerjain sih.


            Sesampai di apartmen, Amanda


langsung menata belanjaan mereka di dapur, pada laki-laki itu hanya duduk di ruang


tengah sambil menonton TV, mereka lelah karena berjalan kaki dengan membawa


beban yang lumayan.  Hingga, menyerahkan


penataan pada Amanda.  Tadi sebenarnya


Amanda menawarkan untuk membawa sebagian barang, tapi para lelaki itu


menolak.  Amanda nggak enak dengan Derry,


dia yang paling senior di antara mereka bertiga.


            Setelahnya mereka ngobrol ringan,


dan membicarakan rencana besok.  Amanda


mengabarkan bahwa ia telah menghubungi ketua UQISA[2]  sehingga mereka bisa ketemu dengannya di


kampus besok siang.  Maka rencana besok,


mereka akan seharian ada di kampus UQ untuk survey lokasi dan membicarakan


kemungkinan pengurusan perijinan syuting di kampus itu.


            Setelah ngobrol ringan, akhirnya


mereka memutuskan untuk ke kamar masing-masing untuk tidur.  Mereka cukup lelah dengan perjalanan panjang


sejak kemarin.  Untuk itu, mereka


memutuskan untuk tidur lebih cepat.  Ketiganya mudah sekali untuk akrab satu sama lain, walaupun mereka baru


saling mengenal kurang dari 48 jam.


Baru


setelah masuk ke kamar, Amanda melepas kerudungnya dan mencoba menghubungi


Jakarta, untuk mengabarkan keadaannya di Brisbane.  Fauzan akan menginap selama dua minggu untuk


menjaga kedua anak mereka selama Amanda ke Brisbane.


Keesokan


paginya Amanda telah masak untuk makan pagi mereka.  Monrue baru saja memasuki apartmen itu


setelah ia lari pagi ketika makanan telah dihidangkan di meja makan.  Amanda memang hanya memasak makanan yang


sederhana, karena bahan makanannya juga yang tersedia di supermarket saja.  Ia hanya memasak nasi dan membuat sup ayam.


            “Wow, sudah ada makanan nih.”  Monrue menghampiri meja makan memperhatikan


hasil karya Amanda.


            “Jangan ragukan the power of emak-emak ya.” Amanda bercanda.


            “Oh elo sudah punya anak?”


            “Jangan salah, anak pertama gue sudah


kuliah. Anak gue dua nih gini-gini.”


            Monrue heran. “Umur elo berapa?”


            Amanda tersenyum. “41”


            “Oh elo lebih tua dari gue?”


            “Well, sudah seribu orang sih yang


kaget, elo bukan orang yang pertama kok.” Amanda bercanda, dia pura-pura GR.


            “Divorce.”  Amanda menjawab dengan pelan kali ini. Nggak


enak banget ngomongin status.


            Monrue hanya mengangguk.  Dia tidak bertanya lagi, langsung ke kamarnya


untuk bersiap mandi.


Setelah


sarapan bersama, mereka pun bersiap untuk berangkat ke kampus UQ, sebelumnya


Amanda telah me-download applikasi


untuk membayar parkir di UQ, mengingat besar kemungkinan mereka akan bulak-balik


ke UQ dalam beberapa hari ini.  Ketika


sampai di kampus yang dimaksud, mereka memarkirkan mobil mereka di area parkir


dekat dengan sungai.  Amanda memang sengaja


mengajak mereka memarkir di sana untuk bisa berjalan kaki melewati danau UQ,


karena bisa jadi itu spot yang bagus untuk syuting nanti.


            Benar adanya, Derry senang dengan


pemandangan indah di danau UQ, dia mengamati spot-spot yang menurutnya


menarik.  Derry berkali-kali berhenti


untuk mengambil video dan photo dengan kameranya.  Mereka pun jadi ikut berhenti.  Sesekali Monrue juga ikut mengabadikan tempat


itu dengan telepon genggamnya.  Melihat


Monrue yang sibuk selfie, Amanda menawarkan diri untuk menjadi photographer-nya.  Dengan senang hati Monrue menerima tawaran


itu.  Cukup lama mereka habiskan waktu di UQ Lake, padahal Amanda sudah


berkali-kali memberi tahu bahwa akan ada spot bagus yang mereka harus


kunjungi.  Tapi sepertinya kedua


laki-laki itu begitu sibuk.  Setelah


kedua laki-laki itu puas mengabadikan lokasi danau, barulah mereka bersedia


untuk beranjak menuju lokasi selanjutnya.  Amanda mengajak mereka menuju great


court, taman luas, yang dikelilingi oleh gedung tua mirip benteng, keduanya


pun kembali takjub kembali sibuk dengan mengabadikan wilayah itu.  Amanda pun kembali menjadi photographer bagi Monrue.  Kalau Derry langsung sibuk dengan spot-spot


untuk kerjanya sehingga selera sudut photo antara Monrue dan Derry tentu saja


banyak berbeda.


            “Ini kampus elo? Keren banget


ya.”  Monrue akhirnya bertanya juga


ketika ia telah puas mengabadikan dirinya di banyak pose.


            Amanda mengangguk dan tersenyum.


            “Oh elo S1 di sini?”


            Amanda menggeleng. “Tiga” jawabnya


singkat.


            “Ha, jauh-jauh ke sini elo cuma


ngambil D3?”


            Amanda bingung dengan komentar


Monrue, dia cuma bisa tersenyum dan berlalu.


            Mendengar itu Derry tertawa dan dia


langsung menghampiri Monrue dan merangkulnya. “S3 mon, S3 bukan D3.” Jawabnya terkekeh.


            “Ha, ada orang yang sekolah sebanyak


itu?” dia bingung.


Amanda


dan Derry hanya tersenyum mendengar komentar Monrue, mereka pun berjalan ke coffee shop yang ada di sudut taman itu.


“S1


elo di Indonesia?” Monrue penasaran.


Amanda


mengangguk. “Semarang” jawabnya singkat.


“S2?”


Mulai seperti Intrograsi.


“Amsterdam.”


“S3


baru di sini?”


Amanda


mengangguk “S3 dan post doc di sini.”


“Astaga


apa menulis novel harus segitu lamanya kuliah?”


Ketiganya


duduk di coffee shop, yang berada di


luar ruangan.


“Gue


ini dosen.  Menulis novel cuma bonus.”


Amanda menjelaskan.


“Ya


ampun, kok nggak ngomong dari dulu.” Terjawab sudah misteri kenapa harus


sekolah lama banget.


Derry


dan Amanda cuma bisa tertawa dengan komentar Monrue.


“Tadi


tuh gue hampir merasa jadi manusia paling bodoh sedunia lho.  Nggak tahunya memang tuntutan kerja elo ya,


makanya sampe segitunya sekolah.”


“Ya


sudah,” Amanda bangkit mencoba mengalihkan pembicaraan. “Pada mau kopi apa nih,


biar gue yang pesen.”


“Saya Latte Man.” Mas Derry sepertinya


males gerak.


“Gue


nemenin elo deh.” Monrue pun bergerak menemani Amanda.


Amanda


dan Monrue pun bergerak untuk memesan kopi. Nggak lama kemudian mereka sudah


kembali duduk santai di pelataran café di bawah pohon rindang.  Mereka ada di


sana memang ada maksudnya, mereka sedang menunggu Arifin presiden UQISA.  Nggak lama kok, akhirnya Arifin datang.  Dia adalah mahasiswa master, masih muda


usianya masih dua puluh lima.  Awalnya


Arifin agak canggung bertemu dengan tiga orang yang sudah senior itu, tapi


Amanda sangat ramah dan santai membuat Arifin jadi nyaman ada di tengah-tengah


mereka.


Tujuan


mereka mengundang Arifin untuk meminta gambaran waktu yang tepat dan prosedur


perijinan agar bisa syuting di kampus.  Anak muda itu menyarankan untuk melakukan syuting di waktu seperti


sekarang ini, saat libur semester, jadi memang tidak banyak mahasiswa ada di


kampus.  Hanya mereka yang sedang menulis


thesis atau ikut semester pendek.  Arifin


juga menyarankan mereka ke student

__ADS_1


service untuk mengetahui prosedur perijinan.


            Dalam pertemuan itu Monrue terus


menerus memperhatikan Amanda, bagaimana Amanda bisa ngobrol dengan Arifin tanpa


merasakan adanya jarak di antara mereka, padahal jelas gap usia mereka jauh banget.  Tapi Amanda mampu membuat suasana nyaman untuk semua.


            Akhirnya disepakati Arifin bersedia


menemani mereka ke student service,


melangkah lah mereka berempat ke tempat yang dimaksud.  Beruntung, ternyata pihak yang berwenang


bersedia menemui mereka tanpa sebelumnya membuat janji.  Memang lagi kosong saja.  Pada intinya Michael, lelaki berkulit putih


dengan usia separuh baya tidak keberatan dengan pembuatan film di kampus itu,


tetapi memang banyak hal yang harus dipatuhi, seperti, tidak menggunakan toa


dengan suara besar bila dekat kelas atau kantor,  tidak ada keramaian yang berlebihan.  Sebaiknya pengambilan gambar di hari libur,


dan apabila harus ada syuting dalam perpustakaan atau ruangan belajar hanya


menggunakan kamera kecil sehingga tidak mengganggu aktivitas.  Beliau pun menyatakan kesediaannya pihak


kampus menyediakan ruangan untuk syuting apabila diperlukan, jika hanya ruangan


itu tidak sedang digunakan.


            Intinya adalah bisa dilaksanakan


syuting di kampus itu, tapi mereka berharap surat permohonannya diberikan


jauh-jauh hari.  Setelah mendapat


tanggapan positif mereka pun minta diri.  Pihak kampus pun mengijinkan apabila mereka juga ingin melihat-lihat


lokasi sejauh itu open access,


seperti perpustakaan dan study room selama tidak mengganggu.


            Sekali lagi, dalam pertemuan itu,


Monrue hanya memperhatikan Amanda bagaimana proses lobby dilakukan oleh


Amanda.  Bagaimana suasana menjadi cair


dengan candaan ringan Amanda pada Michael dan bagaimana Amanda menghargai


mereka semua termasuk Arifin dengan baik.  Sekali lagi Monrue cukup kagum dengan ke flexible-an Amanda.


            Setelah hampir dua jam menemani


rombongan, akhirnya Arifin minta diri, dia bermaksud kembali mengerjakan


thesisnya di perpustakaan.  Setelah


berpisah Amanda pun mengajak keduanya untuk ke Multifaith untuk sholat sesaat.  Setelahnya, Amanda minta ijin sebentar, ia ingin bertemu sebentar dengan


supervisornya.  Akhirnya Derry dan Monrue


menantinya di kantin kampus.  Derry dan


Monrue nongkrong di kantin dengan sekedar menikmati makanan kecil dan minuman


ringan.  Mereka pun menikmati suasana


kampus sore hari.  Amanda cukup lama


meninggalkan mereka hampir satu jam.  Tapi nggak papa sih, suasananya cukup nyaman kok untuk nongkrong.  Nggak terlalu ramai juga sore itu.  Ya mungkin karena libur ya.


            Ketika Amanda kembali, dia melihat


Derry dan Monrue masih ngobrol ringan.  Di hadapan mereka ada sisa kentang goreng dan minuman soda.


            “Maap ya, jamuran ya nunggu gue?”


            “Nggak kok.”


            “Ya sudah, jalan lagi? Mau ke mana


sekarang?”


            “Hm… Masih kenyang ya kalau makan,


mau jalan saja?”


            Mereka pun bergerak.  Akhirnya diputuskan mereka bersantai sejenak


di south bank.  Kota dengan pemandangan pinggir sungai.  Mereka jalan sekedar berphoto-photo di


tulisan besar Brisbane, dan duduk-duduk untuk sekedar ngobrol akrab.


            “Man, kayaknya besok kita nggak usah


keluar dulu ya, kita perbaiki skrip dulu.” Pinta mas Derry.


            “Oh gitu?”


            “Saya mau nambahin spot-spot yang


tadi saya lihat.  Mumpung masih ingat.”


            “Siap.”


            Malam itu pun ditutup dengan makan


malam di restoran sekitar city, dan ketika pulang ke apartmen mereka sudah


cukup lelah.


Keesokan


harinya sesuai rencana semalam, Derry dan Amanda sibuk di ruang tengah untuk


memperbaiki skrip film mereka.  Lama-lama


Monrue bosan karena tidak melakukan apa-apa.  Tiba-tiba dia punya ide.


            “Man, elo bawa novel elo nggak? Gue


mau baca dong.”


            Amanda bingung.  Bawa nggak ya?


            Derry langsung bangkit.  Dia ke kamar sebentar dan keluar dengan novel


Amanda di tangannya.  Langsung ia


serahkan ke Monrue, paham sih Monrue pasti bosan.


            Monrue menerimanya dan langsung


membacanya.


            Tenang,


Derry dan Amanda bisa bekerja dengan tenang, Monrue tidak lagi rewel.  Mereka benar-benar fokus, mereka hanya


berhenti sesaat untuk sholat dan makan, selebihnya benar-benar dihabiskan


dengan memperbaiki skrip tersebut.  Setelah mendapatkan novel Monrue pun juga fokus, dia membawa ke mana-mana


novel itu.  Bosan di ruang tengah dia


pergi ke teras dengan novel di tangannya. Makan pun sambil membaca, Derry dan


Amanda pun sampai senyum-senyum melihat Monrue yang begitu fokus membaca.


            Satu hari setelahnya Derry dan


Amanda pun masih sibuk memperbaiki skrip.  Tapi hanya setengah hari, bertepatan dengan Monrue yang selesai membaca


novel Amanda.


            “Novel elo seru.” Komentarnya


singkat. “Gue ikut emosi bacanya.”


            Amanda hanya tersenyum mendengar pujian


itu.


            Hari-hari selanjutnya diwarnai


dengan kondisi yang sama, satu hari penuh kunjungan ke lokasi, keesokan harinya


mereka memperbaiki skrip.  Dan untuk


membuat Monrue nggak rewel di saat Derry dan Amanda bekerja, Amanda memberikan


novelnya untuk dibaca.  Amanda baru ingat


kalau dia menyimpan soft copy novel-novelnya


di laptopnya, jadi Amanda mengcopy novel itu dan ditransfer ke tablet Monrue.


            Setelah sepuluh hari bekerja,


akhirnya mereka sepakat untuk selesai.  Tapi memang mereka harus mengunjungi beberapa pantai, masih dalam rangka


mencari lokasi syuting.  Di sepakati


mereka akan ke Byron bay, Surfer


paradise, Sunshine coast and Redclift.  Besok mereka akan ke Byron bay dan Surfer Paradise karena satu arah.  Maka, mereka sepakat


untuk tidur cepat malam ini.


            Tengah malam, Monrue terbangun untuk


ke kamar mandi.  Dia bangkit dengan malas


dan memang masih mengambang.  Berjalan


pelan bagai orang mabuk di menuju toilet.  Tapi kemudian wajahnya mengeluarkan expresi yang sangat kaget ketika memandang


sesuatu di luar dugaannya.  Seketika


Monrue seakan terbangun.  Dia terpaku di


depan toilet.


            Amanda yang baru keluar dari toilet


bingung dengan Monrue yang sedang terpana memandangnya.  Setelah beberapa detik dia baru sadar kalau


dia tidak mengenakan kerudung.  Pantes


Monrue bengong gitu.


            “Eh, apes ya, maap ya.” Amanda


nyengir.


            “Nggak kok, anugrah.” Monrue jujur


dan terpana.


            Amanda salah tingkah dia ngacir ke


kamarnya. “Dasar lo.”


Keesokan


paginya setelah sarapan, semua telah siap untuk ke pantai.  Amanda pun telah menyiapkan bekal cemilan,


minuman ringan dan air putih untuk perjalanan.  Dia pun meminta Monrue membawanya ke mobil.


            Monrue menghampirinya untuk


menjalankan apa yang diminta Amanda, tapi ketika ia mendekati Amanda ternyata


ada yang disampaikan sepintas. “Elo cantik.”  Kemudian pergi meninggalkan Amanda yang bingung.


            Sepertinya yang dimaksud Monrue apa


yang dilihatnya semalam.  Mendengar itu


Amanda tersenyum.  Yah mau gimana lagi, sudah


kejadian, dia hanya berjanji kalau dia harus lebih hati-hati.


            Australia memang surganya


pantai.  Yang pastinya jauh dari


kotor.  Ada pantai yang kualitas


interntional seperti Surfer Paradise,


ada juga pantai kualitas lokal seperti Sunshine


coast.  Semua pantai yang ada


pastinya terjaga dan bersih. Di pantai-pantai yang mereka kunjungi mereka lebih


seperti jalan-jalan dari pada bekerja.  Mereka amat menikmati kondisi pantai yang memang tidak terlalu


ramai.  Mereka bertiga ngobrol banyak hal


sambil berjalan di pinggir pantai.  Satu


sama lain makin saling akrab.  Tidak


hanya pekerjaan dan ngobrol ringan, mereka pun sering kali melakukan pembicaraan


berat dan kadang-kadang juga curhat dengan hidup mereka masing-masing.


            Monrue sama sekali tidak menyesal


dengan perjalanannya kali ini.  Spontanitas yang melahirkan ketenangan dalam hidupnya.  Suasana keakraban seperti ini yang ia


butuhkan saat ini.  Sepertinya ia tidak


lagi merasakan gundah gulana. Kangen anaknya pasti, tapi dia berusaha bisa


melanjutkan hidupnya.  Bahkan dia bisa


lho curhat dengan Derry dan Amanda.  Saat


ini sih sebenarnya Monrue cuma butuh didengar, jadi Amanda dan Derry hanya


sesekali menanggapi curahan hatinya, tanpa menggurui.  Hanya sebagai teman baik saja.  Monrue pun sangat menghargai itu.  Derry dan Amanda sudah seperti sahabat baru


baginya.  Merasa sangat nyaman bersama


mereka.  Sedikit banyak, mereka jadi


saling mengenal satu sama lain.  Benar-benar kerja yang menyenangkan perjalanan kali ini.


Setelah


tiga hari bulak-balik ke pantai saat winter gini, akhirnya Mas Derry nyerah. ia masuk angin, makanya hari selanjutnya


hanya dihabiskan di apartmen.  Amanda


agak panik sih melihat Mas Derry nggak enak badan, lusa mereka akan menempuh


perjalanan jauh untuk kembali ke Jakarta, jangan sampai sakitnya Mas Derry


berkepanjangan.  Akhirnya ia membawa


mobil sewaan untuk ke apotik mencari obat atau vitamin memulihkan kondisi Mas


Derry, tidak ingin mengganggu Monrue karena sepertinya kondisi Monrue juga


tidak fit.


Ketika


ia kembali ke apartmen dilihatnya Monrue sedang memijit Mas Derry, Amanda pun


memberikan pil jamu Indonesia yang dibelinya di toko Indonesia untuk masuk


angin.  Ia juga memberikan mas Derry


vitamin untuk meningkatkan daya tahan.  Mas Derry pun ke kamar untuk tidur. Nggak sengaja menyentuh Monrue,


ternyata badan Monrue pun panas.  Waduh


ada dua pasien.  Amanda kebingungan.  Dia pun memberikan obat yang sama untuk


Monrue.  Tapi sebelumnya, Amanda


membuatkan teh hangat untuk Monrue.


Kondisi


Monrue memang lebih baik dari Mas Derry.  Sambil menikmati teh hangatnya, Monrue ngobrol-ngobrol dengan


Amanda.  Banyak yang mereka


obrolkan.  Karena Monrue terus menerus


mendesah karena badannya yang nggak nyaman, akhirnya Amanda nggak tega, secara


spontan ia pun memijit kepala Monrue.  Monrue pun sepertinya merasa nyaman, dia berbaring di samping Amanda


yang terus memijit kepalanya dan pada akhirnya tertidur di sofa panjang.   Amanda pun ke kamar Monrue untuk mengambil


selimut dan menyelimuti Monrue.  Sepertinya panas badannya sudah mulai turun sih.  Cuma hangat, nggak panas kok.


Besar


harapan Amanda mereka lebih baik ke esokan paginya.  Alhamdulilah, ternyata para laki-laki itu memang hanya perlu istirahat sejenak.  Mereka terlihat cukup fit pagi itu.  Amanda kembali memasak sup untuk sarapan pagi


mereka dan memaksa mereka tetap minum vitamin untuk meningkatkan daya tahan


mereka.  Para lelaki itu pun hanya


menurut atas permintaan Amanda.  Cukup


beryukur karena Amanda perhatian pada mereka.


 


 


 


 


 


 


[1]


 direct


factory outlate


 


 


[2]


 organisasi mahasiswa Indonesia di UQ

__ADS_1


__ADS_2