Life After Forty

Life After Forty
Episode 15 Problem vs Happiness


__ADS_3

Amanda


membaca pesan dari Firman bahwa ternyata malam minggu ini Monrue harus mengisi


acara di hotel Darmawangsa.  Monrue akan


manggung di acara gala dinner sebuah perusahaan multi national.  Baiklah kencan nonton malam minggu ini


dibatalkan.  Amanda pun sedikit manyun.


Tapi jadi senyum-senyum sendiri.  Bayangin aja mau jalan sama suami aja harus nanya jadwal sama manajernya.  Seharusnya sih nggak segitunya sih tapi


Monrue itu cenderung cuek terkait jadwal kerjanya makanya kalau ada apa-apa dia


yang harus nanya Firman.


            Di saat Amanda sedang sedikit


mengeluh karena kencannya yang batal, eh ada kejutan manis.  Ternyata Monrue menjemputnya di kampus.  Amanda pun menghampiri Monrue yang sedang


ngobrol dengan beberapa mahasiswanya sambil menantinya keluar ruangan dosen.  Sepertinya para mahasiswa sudah terbiasa


dengan keberadaan Monrue yang sering kali menjemput Amanda, sehingga nggak lagi


seheboh di awal-awal.  Kini pun mereka


lebih berani untuk menyapa Monrue tanpa harus histeris.  Well usia Monrue yang memang cukup matang membuatnya tidak lagi menjadi idola remaja


sih.  Jadi lebih santailah.


            “Sudah lama nunggunya?”  Amanda menyapa dengan tersenyum.


            Monrue membalas senyuman itu.  Hadeuh… makin ganteng deh…bikin meleleh.  Para mahasiswi yang tadi mengerubuti Monrue


pun perlahan meninggalkan mereka, sebelumnya menyapa Amanda dulu.  Monrue tanpa menjawab, mengambil tangan


Amanda untuk digenggam dan membawanya menuju parkiran.


Sebenarnya


malu juga sih di kantor gandengan tangan gini.  Tapi yang gandeng juga suaminya kok, ya sudahlah.


“Firman


bilang, sabtu ini kamu manggung di Darmawangsa ya?” Amanda mencoba konfirmasi


ketika mereka telah memasuki mobil Monrue, mereka sedang mengenakan seatbelt masing masing.


Monrue


mengangguk.


“Ye,


kalau kamu udah tahu, kenapa aku harus nanya Firman?” Amanda kesel.


Monrue


tersenyum. “Aku juga baru nanya dia, setelah kamu WA.”


“Ngerjain


ah.”


Monrue


tersenyum melihat Amanda ngambek.  “Nontonnya sekarang aja yuk!”  Mencoba


menghibur.


Amanda


ragu, dia lelah sebenarnya. “Dimana? Jangan jauh-jauh ya, cape nih!”


“Tadinya


sih mau ngajak ke LOVE (Lotte Avenue).”


“Macet


ah.”


“Ya


udah, Gading aja?”


Amanda


mengangguk. “Aku ngomong sama anak-anak dulu ya.”


“Aku


sudah ngomong kok sama Fauzan.  Dia sudah


di rumah nemenin anak-anak.”


Mendengar


itu Amanda tersenyum berterima kasih.  Monrue sudah mengerti jalan fikirannya ternyata.  Enaknya jalan sama Monrue begini nih, dia


menyiapkannya dengan cukup baik.  Terlihat jelas keinginannya untuk menyenangkan Amanda.


“Makan


dulu ya, kamu lagi pengen Sushi kan?”


Amanda


tersenyum lagi.


CX


9 hitam metalik pun berjalan perlahan meninggalkan kampus sore itu.


“Kamu ikut


dong, please…!”  Monrue begitu memohon Amanda untuk ikut serta


menemaninya ke hotel Darmawangsa.


Amanda


masih dalam posisi merapikan Tuxedo hitam Monrue, kostum yang akan digunakan


Monrue manggung malam ini.


Amanda


ragu untuk menjawab. “Males ah, aku nggak punya kostum.”


Monrue


cemberut. “Aku kan sudah beliin.  Ayo dong!”


Nggak


tega banget sih nolaknya. Amanda kurang percaya diri untuk hadir di acara mewah


itu.  Tapi bingung cari alasannya. “Next time ya, jangan sekarang, aku nggak


siap, belum ke salon nih.”


“Ah

__ADS_1


kamu gitu.  Nggak perlu ke salon, kamu


tuh udah cantik kok.” Monrue begitu kecewa.  Dia pun bermaksud meninggalkan kamar itu.


Amanda


menggenggam tangannya. “Ayo dong jangan marah. Janji deh, next time aku ikut ya, tapi nggak sekarang, aku nggak siap.”


Monrue


mengangguk, tapi dia masih kecewa. “Ini nggak adil! Aku nggak masalah ikut kamu


seminar, ke kampus kamu, tapi kamu selalu nggak mau kalau aku ajak kerja.”


Amanda


belum melepaskan genggaman tangannya.  “Kasih


aku waktu ya, aku hanya belum siap masuk dalam dunia kamu. Dunia kerja kamu


terlalu banyak judgment.”


“Kamu


yang terlalu berlebihan menanggapinya.”


Amanda


tersenyum. “aku hanya belum siap, maaf ya.”


“Aku


jalan ya.”  Diapun pamit.


“Senyum


dulu!”


Monrue


memaksa tersenyum.


Amanda


tersenyum, dia mencium pipi Monrue. “Take


care.”  Memeluknya sejenak.  Jangan ngambek ya…!


“Mana bini


baru lo, katanya mau dikenalin?”  Alex


sesama pengisi acara bertanya pada Monrue.


            “Nggak bisa ikut dia.”  Monrue jadi kesel lagi ditanya begitu.


            “Bini elo dokter?”


            Monrue tersenyum. “Doktor bos, bukan


dokter.”


            “Wuidiiiihhh sama orang pinter nih


sekarang.”  Novita sang pembawa acara


ikut berkomentar.


            “Apaan sih.” Monrue tersenyum.


            “Beda level sama kita ya, makanya


nggak mau ikut ngumpul?” Goda Alex lagi.


kok.  Cuma lagi nggak bisa aja hari ini.”


            “Ngobrolnya apaan Mon, buku-buku ama


jurnal-jurnal gitu ya?”


            “Busyet, nggak segitunya kali.”


            Monrue jadi sedih lagi, kenapa sih Amanda


masih belum mau ikut? Dia kan pengen banget memamerkan istrinya yang cantik dan


cerdas pada semua teman-temannya.  Kalau


belum mau ‘go public’ nggak papalah,


tapi dikenalin ke pergaulannya aja kok nggak mau sih?


Sore hari,


ketika Monrue menemukan Fauzan sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi di


teras rumah Amanda.


            “Lho mas, Kok di luar sendirian?”


            Fauzan tersenyum. “Citra lagi main


sepeda sama temen-temennya di taman, Bimo lagi pergi nonton sama


temen-temennya.”


            Monrue bingung, itu belum menjawab


pertanyaannya. “Terus?”


            “Ah elo masih belom kenal bini lo


ya, mana boleh gue di dalem kalau elo atau anak-anak nggak ada.”


            Monrue mengerti sekarang, Amanda


memang sangat tegas memberikan garis pembatas antara dirinya dengan Fauzan


sejak Amanda menikah dengan Monrue, walaupun hubungan persahabatan Amanda dan


Fauzan tidak berubah.  Tapi Amanda


terlihat bahwa tidak ingin membuat Monrue tidak nyaman.  Monrue tersanjung dengan cara Amanda


menghormatinya.  Tapi ya kasihan juga sih


melihat Fauzan sendirian di luar seperti ini.  Monrue jadi ikut duduk di teras untuk sekedar ngobrol.  “Manda lagi ngapain mas?”


            “kayaknya sih mandi.”


            “Ooo.”


            “Kalian jadi ke Korea?”


            Monrue mengangguk. “Visa dan


semuanya sudah beres sih, tinggal berangkat saja.” Amanda ada undangan seminar


di sana minggu depan.  Amanda mengajaknya


untuk second honeymoon, Monrue pun


menyanggupinya sambil melihat kemungkinan ia akan membuat video clip untuk single terbarunya

__ADS_1


di sana.


            Setiap kali Amanda mendapat undangan


untuk conference di luar negeri


Amanda memang selalu mengajak Monrue, tapi memang tidak selamanya Monrue


bisa.  Perjalanan minggu depan nanti ke


Korea adalah perjalan ketiga mereka setelah menikah yang hanya berdua saja.  Sebelumnya Amanda mengajak Monrue turut serta


ke Belanda, di sana juga Monrue membuat beberapa potongan gambar untuk


dimasukan ke dalam video klip single nya


yang terdahulu.  Setiap perjalanan berdua


mereka memang selalu menyenangkan.  Walaupun harus selalu menghadiri pertemuan besar yang Monrue kurang


terlalu paham karena dianggapnya terlalu academic, tapi justru hal itulah yang membuat Monrue semakin bangga mendampingi


Amanda.  Dia selalu menikmati setiap kali


Amanda harus presentasi di tengah forum besar.  Monrue mengumpamakannya Amanda sedang manggung sama seperti


dirinya.  Hanya dia tidak bernyanyi.


Sayangnya


sampai saat ini Amanda masih belum mengijinkan dirinya untuk mempublikasikan


Amanda di media sosialnya.  Amanda hanya


mengijinkan Monrue me-upload photo dirinya yang sama sekali tidak terlihat


wajahnya.  Penggemar dan media massa


malah semakin gregetan untuk mengetahui siapakah gerangan pendamping Monrue


saat ini.  Monrue pun sebenarnya sangat


ingin memberi tahu public betapa


bangganya ia dengan Amanda walaupun Amanda bukan dari kaum selebriti, tapi ia


pun memiliki jiwa super women.


Bagaimana pun ia harus menghormati keputusan Amanda, maka diurungkannya niat


untuk memamerkan Amanda dalam sosial medianya.


            “Masuk yuk mas!” Ajak Monrue.


            Fauzan sambil membawa cangkir


kopinya dan Monrue pun bangkit untuk menuju ke dalam rumah.


            Di dalam rumah didapatinya Amanda


sedang memasak untuk makan malam.  Monrue


menghampirinya dan mencium pipi Amanda.


            Setengah kaget, Amanda pun menoleh.


“Eh sudah datang?”


            Monrue tersenyum dan memeluknya dari


belakang, membiarkan Amanda terus melanjutkan pekerjaannya.


            Melihat pemandangan itu, Fauzan


sedikit jengah. “Man, aku tidur di kamar Bimo ya.”  Dia pun bergegas naik ke atas.


            Amanda hanya mengangguk.


            Amanda bahagia, dan menikmati segala


sentuhan Monrue untuknya.  Semua berjalan


nyaman dan damai untuk semua.  Sesuai


dengan harapan.


Patah hati


Monrue pun usai sudah.  Setelah berjalan


selama tiga tahun, hubungannya dengan Amanda sangat menyenangkan.  Sama sekali dia tidak menyesal dengan


keputusannya yang banyak orang anggap terburu-buru.  Nyatanya dia bahagia.  Amanda memang bukan dari dunianya, tapi


kehidupannya saling mengisi.  Amanda pun


menepati janjinya untuk membebaskan Monrue, tidak membebaninya dengan tanggung


jawab sebagai seorang suami sebenarnya.  Hubungannya berjalan sangat santai.  Jika Monrue ingin menghabisi malam dengan Amanda di rumah Amanda, maka


Amanda sangat welcome, apabila ia


ingin sendiri dan tinggal di apartmentnya, sama sekali tidak ada complain dari Amanda.  Hanya satu tuntutan Amanda, Monrue harus bisa


setia.  Selebihnya, semua dibuat santai


tanpa beban.  Anak-anak Amanda dan Fauzan


pun sangat baik, mampu menerima Monrue.  Anak-anak Amanda memanggilnya dengan sebutan daddy.  Sedangkan Fauzan, ia benar-benar menjadi


teman baik Monrue.


            Tiga tahun bersama Amanda, Monrue


dan Amanda mengunjungi banyak tempat.  Kalau berdua saja nih, mereka sudah ke Hongkong, Belanda dan nanti akan


Korea, ketiganya nemenin Amanda conference sih, sambil bulan madulah.  Kalau


sama  anak-anak mereka jalan ke Thailand,


Jepang dan New Zaeland.  Nggak cuma


anak-anak Amanda, Monrue pun membawa Sean putra pertamanya. Usia Sean lima


tahun lebih muda dari Bimo, tapi mereka berteman baik kok. Sean juga sayang


dengan Citra.  Sayangnya Amira anak


keduanya nggak pernah bisa ikut.  Yah


itulah ibunya masih melarang Monrue bertemu dengannya.  Dan yang lucunya, bapaknya anak-anak alias


Fauzan juga turut serta.  Amanda sih


sebenarnya nggak ngajak, tapi Fauzan selalu pengen ikut. Walau lucu, tapi ya


sudah lah. Yang penting semua bahagia.


            Bukannya nggak cinta Indonesia lho


jalannya selalu ke luar negeri.  Tapi ya


karena itu, Monrue selebriti, dan Amanda nggak mau go public, jadi ya lebih aman kalau memang jalannya ke luar negeri.

__ADS_1


Ada juga kok mereka travelling ke Bali dan Raja Ampat.  Tiga tahun ini, seru bangetlah.


__ADS_2