
Sudah
hampir satu setengah tahun Amanda, Bimo dan Citra ada di Brisbane. Sama sekali tidak ada kabar dari mereka. Diam-diam Fauzan merindukan mereka. Ada
perasaan marah kenapa Amanda tidak pernah memberi kabar tentang anak-anaknya,
bagaimana pun anak-anak itu adalah anak kandungnya, dia berhak mengetahui kabar
anaknya. Tapi di lain pihak dia juga
mencoba intropeksi diri, selama ini memang dia tidak pernah mencari tahu
tentang mereka, rasanya memang aneh kalau tiba-tiba ia menuntut Amanda untuk
memberinya kabar.
Rasa kangennya terhadap keluarga
memang baru-baru saja hadir. Ketika ia
merasa hubungannya dengan Elly tidak lagi semenarik dulu. Elly dirasa semakin banyak menuntut
darinya. Awalnya Fauzan berharap setelah
setelah cicilan mobil Elly lunas, ia sudah bisa menabung. Rencananya ia akan memberikan tabungan itu
pada Amanda sebagai kompensasi dulu ia cukup lama melepaskan tanggung
jawab. Tetapi kenyataannya menabung
hanya sebatas wacana. Setelah cicilan
mobil lunas, tagihan kartu kreditlah yang sekarang menjadi kendala. Setiap bulannya Elly selalu meminta dibelikan
banyak barang. Dengan alasan sebagai sekertaris ia harus selalu tampil trendy and chic maka ia meminta
pengertian Fauzan. Tapi barang-barang
yang diminta Elly sangat mahal, paling tidak di luar dari bayangan Fauzan. Bayangkan saja, untuk sepasang high heels bisa menghabiskan lima belas
juta rupiah, tas wanita harganya dua puluh lima juta rupiah dan pakaian-pakaian
yang bisa mencapai harga yang sama. Membeli
barang-barang wanita yang demikian mahal merupakan hal baru bagi Fauzan. Seingatnya Amanda nggak pernah membeli
barang-barang yang begitu mahal. Ada sih
barang mahal tapi wujudnya adalah perhiasan, sebagai bentuk investasinya. Yang dipakai sesekali oleh Amanda ketika
mereka kondangan.
Dua setengah tahun lebih Fauzan
telah menjalin hubungan dengan Elly. Sepertinya Elly juga sudah resah dan mulai menyindir Fauzan untuk
dinikahi. Fauzan pura-pura tidak tahu,
karena memang dia tidak pernah berfikir untuk ke arah yang lebih serius dengan
Elly. Dari awal memang niatnya hanya
sekedar nakal. Dan Elly pun tahu hal
itu. Awalnya Elly sama sekali tidak
keberatan. ia bilang selama kebutuhannya
tercukupi itu sudah lebih dari cukup.
Sekarang semuanya berbeda, apalagi
sejak Elly mengetahui bahwa Amanda dan anak-anak tidak ada di Jakarta. Dia sudah mulai berani tampil. Sering kali datang ke kantor Fauzan memberi
perhatian dengan membawakan makan siang, atau sekedar meminta untuk pulang
bareng. Tentu saja Fauzan jengah, karena
menjadi omongan di kantornya. Terlebih
atasannya sudah mulai curiga dan terang-terangan menegur Fauzan. Karena apa
yang dilakukan Elly sangat tidak etis. Bagaimanapun Fauzan masih berstatus suami Amanda. Atasan Fauzan pun
cukup bijak dengan berpendapat bahwa kelangsungan rumah tangga yang sehat
berdampak pada kinerjanya di kantor.
Selain itu, Elly pun berkali-kali
telah main bahkan bermalam di rumah Fauzan. Sering kali Fauzan melarang karena dia merasa tak enak dengan tetangga,
tapi Elly begitu memaksa, dan seringkali diiringi ancaman. Fauzan masih belum tahu bagaimana harus
menghadapi Elly, pada akhirnya lebih sering mengalah dan diam.
Belakangan ini pun, Elly sering kali
membawa Fauzan kepergaulannya. Terang-terangan memperkenalkan bahwa Fauzan kekasihnya. Kalau sudah begini Fauzan hanya bisa
tersenyum basa-basi dan memperlihatkan bahwa ia tidak nyaman. Tapi sepertinya Elly cuek dan berusaha
berbagai cara untuk bisa mewujudkan keinginannya. Dan sebenarnya Elly telah bersikap lancang,
yang membuat Fauzan marah besar. Pada
satu hari, Elly membawa Fauzan bertemu dengan teman-temannya di sebuah restoran. Awalnya tanpa rasa curiga Fauzan bersikap
acuh dan hanya sedikit tersenyum. Dia
lebih banyak menghabiskan waktu dengan sibuk dengan telepon genggamnya. Tapi dia agak curiga ketika Elly mengatakan
bahwa Fauzan akan mentraktir mereka semua karena akan menyampaikan berita
gembira. Saat itulah dia kemudian
memamerkan dua buah cincin berlian yang ia kenakan. Dengan alasan Fauzan baru saja melamarnya
dengan cara yang sangat romantis, tak tanggung-tanggung Fauzan memberikan dua
cincin berlian sekaligus. Semua
teman-teman Elly bersorak gembira, mereka langsung mengucapkan selamat kepada
keduanya.
Tentu saja Fauzan kebingungan. Sejak
kapan ia memberikan cincin berlian itu. Diantara hebohnya teman-teman Elly yang mengucapkan selamat, Fauzan
memperhatikan cincin yang sedang dipamerkan Elly. Astaga ternyata itu cincin milik Amanda. Sepertinya Amanda lupa membawanya ketika ia
meninggalkan rumah. Kalau tidak salah
cincin itu dibeli Amanda ketika mereka masih di Brisbane tujuh tahun yang
lalu. Fauzan merasa sangat bersalah pada
Amanda, sudahlah dia sebagai suami tidak lagi bertanggu jawab, sekarang harta
pribadi sang istri pun dicuri selingkuhannya. Setelah peristiwa itu, Fauzan amat marah. Dia hanya diam. Dia tidak suka adu argument dengan Elly.
Karena Elly tidak pernah bisa menyampaikan pendapatnya dengan baik, kalau
terdesak ia akan teriak-teriak histeris dan mengancam yang bukan-bukan. Dari itu, untuk menghadapi Elly, Fauzan lebih
memilih untuk diam.
Sudah tiga hari ini Fauzan
menghindari Elly. Dia sangat berpesan
pada satpam di lantainya apabila Elly datang, tidak boleh diijinkan masuk. Selain itu dia tidak menanggapi pesan ataupun
telepon dari Elly. Dia benar-benar lelah.
Siang itu, ketika dia sedang
benar-benar muak dengan Elly. Tiba-tiba
ia mendapatkan pesan online dari
nomer Australia, tapi dia tidak mengenal nomer itu.
[Ayah ini Bimo.] Ternyata itu nomer si sulung. Fauzan penasaran. Ternyata Bimo mengirimkan video singkat. Tentu saja Fauzan penasaran untuk
menontonnya. Ternyata itu video Citra.
Dalam Video itu terlihat Citra
sedang sibuk menghitung uang logam emas. Dia menghitung dengan begitu seksama. Dia pun sesekali melihat kamera dengan wajah yang penuh harap. “Ada lima puluh mas.” Citra bicara begitu
bersemangat.
“Berarti ada lima puluh dolar.”
Bimo yang sedang melakukan rekaman menjawab.
“Cukup nggak mas?” Citra masih
penuh harap.
Fauzan bahagia melihat rekaman
itu. Ia penasaran apa yang ingin Citra
lakukan dengan uang itu. Apakah ia ingin beli mainan? Bonekakah?
“Ya masih kurang banyak.”
“Kurang berapa mas?”
“Kira-kira Sembilan ratus lima
puluh lagi?”
Citra kebingungan.
Fauzan sebagai penonton juga
bingung. Untuk apa mereka membutuhkan seribu dollar.
Wajah Citra pun langsung sedih, dia
pun menangis tersedu-sedu. “Tiket
pesawat mahal banget ya mas.”
Terlihat tangan Bimo membelai
kepala Citra. “Jangan sedih ya.”
“Tabungan Mas berapa?”
“Masih belum cukup de…”
Citra semakin tersedu-sedu. “Ade kangen ayah, tapi uangnya nggak cukup
buat beliin tiket pesawat terbangnya.”
Mendengar itu Fauzan langsung
berlinang air mata. Astaga, anak
bungsunya ingin membelikan tiket pesawat untuknya? Fauzan benar-benar tidak mampu menahan tangisnya. Dia sesaat lupa kalau dia sedang di
kantor. Beruntung dia memiliki ruangan
sendiri hingga tak ada yang melihat kondisinya saat ini. Untuk pertama kali dalam hidupnya Fauzan
menangis tersedu-sedu. Dia benar-benar
merasa sangat kacau, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Video singkat itu telah berakhir, tapi tangis
Fauzan masih belum selesai.
Tergerak untuk melakukan video call, tapi ia menyadari bahwa ia
baru saja menangis, khawatir anak-anaknya akan bertanya-tanya, akhirnya
diputuskan ia menghubungi Bimo dengan pesan singkat saja.
[Mas apa kabar? Ayah juga kangen
banget kalian.]
[Ayah mau ke sini nggak?]
Fauzan bingung dengan pertanyaan
itu. Tentu saja ia mau. Tapi saat ini sebenarnya ia tidak punya cukup
uang untuk berangkat ke Australia, walaupun penghasilannya sebenarnya besar,
tapi belakangan ini tagihan kartu kreditnya pun sama besarnya. [Ayah mau banget
sayang.]
[Ayah WA ibu ya.]
Fauzan bingung. Apa yang akan ia
sampaikan pada Amanda? ‘Ayah nggak tahu nomer hp Aussi ibu.’
Bimo pun memberikan nomer telepon
genggam Amanda. Dan percakapan pun
selesai. Meninggalkan Fauzan yang
kebingungan. Apa yang harus ia katakan
pada Amanda. Dia ingin ke Australia tapi
nggak ada biaya gitu? Hadeuh… mau ke mana
harga dirinya? Fauzan galau tingkat
berat. Emosinya begitu meluap-luap,
perang batin antara ingin menghubungi Amanda sekedar mencari jalan keluar,
ingat ya jalan keluar mengingat visa Australianya telah lama habis. Kangen yang luar biasa terhadap anak-anaknya
terutama si bungsu memaksa Fauzan mengabaikan harga dirinya, dihubunginya
Amanda melalui WA dengan nomer yang diberikan Bimo sebelumnya.
[Manda, ini aku Fauzan.]
Tak lama pesannya pun terjawab. [Hai,
ada apa?]
[Aku kangen anak-anak. Boleh aku ke Brisbane?]
[Pasport masih berlaku?]
Fauzan langsung membuka lemari
kerjanya, kebetulan passport masih ada di kantor, karena dua minggu yang lalu
ia baru saja tugas ke Singapura. Ternyata masih berlaku untuk dua tahun ke depan. [Masih.]
[Sebentar, kasih aku dua jam ya.
Sementara nunggu aku kamu bisa minta surat keterangan dari kantormu untuk
keperluan visa, kalau bisa juga dijelaskan sisa cuti kamu, untuk lebih
meyakinkan kalau kamu ke sini cuma untuk liburan dan nengokin anak-anak]
Fauzan bingung. Tapi nggak lama, dia langsung melangkah ke
ruangan HRD. Dia minta staff yang ada di
sana untuk dibuatkan surat keterangan yang diminta oleh Amanda. Staff HR juga menghitung sisa cuti Fauzan
untuk tahun ini. Fauzan belum pernah
memakai cuti besarnya, dan cuti tahunannya pun masih cukup banyak. Totalnya Fauzan bisa menggunakan cutinya
kurang lebih dua bulan. Manajer HR yang
merupakan koleganya langsung bersedia tanda tangan surat keterangan itu sambil
tersenyum.
“Gitu dong, inget anak istri.
Jangan ABG saja yang elo urusin!”
Fauzan hanya tersenyum mendapat
sindiran yang begitu telak. Paling tidak
teman-teman kantornya masih perhatian dan mendukungnya.
Tak lama, Amanda kembali memberikan
kabar. [Buka email ya, itu dokumen form visa dan bank statement. Form sudah
aku isiin tinggal kamu isi nomer passport sama tanda tangan saja.]
Fauzan langsung membuka emailnya.
Benar saja, dua dokumen penting itu sudah sampai. ‘Makasih, sudah sampai.’
[Besok kamu ke Kuningan city bawa semua dokumen yang dibutuhkan
ya, jangan lupa passport.]
[Ok.]
[Nanti kalau sudah dapat visa
kabarin ya, kita omongin lagi kapan kamu datangnya. Aku berharap kamu bisa datang dalam 3 minggu
ini, karena anak-anak akan libur sekolah dan aku masih sibuk banget di kampus.]
Hadeuh kalau ini belum sore,
rasanya ingin hari ini saja ia mengajukan visa. Fauzan tak sabar menunggu besok pagi. Tapi dia kaget juga dengan respon Amanda yang begitu cepat. Dalam tiga minggu, waduh… sepertinya belum
gajian tuh dia nggak tahu bagaimana nanti beli tiket pesawatnya. Miris memang, senior manajer dengan gaji 50
juta perbulan tidak mampu beli tiket pesawat terbang untuk bisa bertemu dengan
anak dan istrinya.
Berselang satu minggu, sudah ada
kabar dari kedutaan bahwa visa tourist Fauzan
diterima. Fauzan langsung memberi kabar
pada Amanda. Amanda pun bertanya kapan rencananya ia akan mengunjungi
anak-anaknya dan berapa lama, Fauzan memberi tahukan bahwa ia bisa berangkat
dalam waktu dua minggu ini, sesuai permintaan Amanda. Dan dia bisa ada di sana
hingga dua bulan.
Tak lama kemudian, tanpa Fauzan
minta, Amanda mengirimkan tiket pesawat terbang untuknya. Fauzan begitu kaget, dia sama sekali tidak
__ADS_1
memintanya, tapi sepertinya Amanda paham apa yang menjadi kekhawatirannya. Rasa malu itu semakin menjadi-jadi, tapi dia
tak punya pilihan lain, selain menerima tiket itu dan kemudian berterima kasih.
**
Setelah
Sholat Jumat, Fauzan berjalan dengan penuh waspada menenteng koper kecilnya
menuju taksi yang sudah dia pesan, keluar kantor dia berusaha keras agar tidak
bertemu dengan Elly. Tadinya ia mau
mulai cuti hari ini, tapi ada dokumen yang harus dia periksa dan tanda tangani
sebelum dia cuti, mengingat dia akan cuti lumayan lama, delapan minggu.
Sudah tiga minggu lebih Fauzan
menghindari Elly, tapi Elly masih saja gencar mencarinya. Terkadang dia mempermalukan dirinya dengan
berteriak-teriak di depan kantor Fauzan karena satpam melarangnya masuk. Fauzan sudah benar-benar tidak perduli. Sudah bagus dia tidak melaporkan Elly ke
polisi karena mencuri berlian milik Amanda. Fauzan benar-benar tersinggung, dia sudah memberikan semua permintaan
Elly, masih saja barang pribadi Amanda dia ambil.
Menghela nafas lega, akhirnya Fauzan
berhasil sampai ke Bandara Soekarno-Hatta terminal international tanpa
halangan. Ini hari jumat, rajanya macet, tapi dia berhasil sampai bandara tepat
waktu, masih ada waktu tiga jam sebelum keberangkatannya. Ia pun melakukan check in, dan buru-buru masuk ke dalam bandara. Lebih baik dia menghabiskan waktu di dalam
bandara fikirnya, dia masih tidak tenang, kalau-kalau Elly mengetahui dia akan
pergi. Tidak banyak yang tahu memang
kalau dia akan ke Brisbane. Hanya bagian
HR, atasan langsung dan satu orang stafnya. Selain itu, orang kantor hanya tahu bahwa ia sedang tugas ke Thailand.
Harus berbohong sebenarnya membuat dia tidak nyaman, tapi Elly benar-benar
membabi buta. Untungnya Elly percaya
bahwa Amanda dan anak-anak pergi selama dua tahun ke Jepang bukan
Australia. Entah kenapa dulu Fauzan
berfikir lebih baik Elly tidak tahu di mana sebenarnya Amanda dan anak-anak
berada.
Fauzan baru merasa benar-benar lega
ketika pesawat yang dia tumpanginya terbang meninggalkan Jakarta. Dia benar-benar lelah, hingga baru saja 30
menit pesawat itu di udara, dia telah tertidur.
**
Sabtu
siang, pukul 12 dia baru landing di
Brisbane. Pesawat yang ditumpanginya
dari Jakarta mendarat di Sydney. Dia
harus berganti pesawat menuju Brisbane, menghabiskan waktu transit 3 jam dan
penerbangan satu setengah jam ke Brisbane membuat dia baru sampai siang hari.
Fauzan agak khawatir untuk bisa
sampai ke unit Amanda karena Amanda belum memberikan alamat tempat tinggalnya
pada Fauzan. Bermaksud akan sms Amanda,
ternyata Amanda telah menantinya di pintu keluar bandara domestik. Satu setengah tahun tidak bertemu Amanda
terlihat tambah cantik, tapi jauh lebih kurus dari terakhir dia bertemu.
Fauzan tersenyum pada Amanda. Amanda
pun membalas senyuman itu. Walaupun
masih saling kaku, tapi tidak ada ketidak-ramahan dalam interaksi itu. Amanda mengajak Fauzan untuk ke parkiran. Setelah koper kecil dan keduanya masuk ke
dalam mobil, Amanda pun membawa mobil itu keluar kawasan airport.
Agak kaget sebenarnya, Amanda
sekarang sudah bisa bawa mobil? “Kamu
bisa bawa mobil?”
Amanda tersenyum. “Kepepet.”
Fauzan tersenyum. Terlihat memang kalau Amanda baru bisa, dia
mengemudi dengan sangat hati-hati. Fauzan sangat menghargai itu.
“Bimo lagi main bola sama
teman-temannya, nggak lama lagi pulang kok. Citra tadi diajak tetangga main ke taman. Anak-anak belum tahu kamu datang, aku iseng
mau ngasih kejutan ke mereka.” Amanda memberikan informasi.
“Maaf aku nggak bawa oleh-oleh
apa-apa untuk kalian.” Fauzan minta maaf. Boro-boro oleh-oleh, untuk berangkat saja
dia harus kucing-kucingan.
Amanda tersenyum maklum. “Anak-anak
kangen kamu. Bukan oleh-oleh kok.”
Hanya
butuh waktu 20 menit untuk sampai ke tempat tinggal mereka. Yang letaknya tak jauh dari sekolah
Citra. Ketika memasuki unitnya, Amanda
mempersilahkan Fauzan untuk masuk. Ketika di dalam apartemen sederhana itu, Amanda membuka kerudungnya dan
langsung memasak air untuk membuatkan Fauzan minuman hangat.
Melihat pemandangan itu Fauzan
terdiam. Dalam hati dia bahagia,
ternyata Amanda tidak menganggapnya sebagai orang asing. Fauzan hanya duduk memperhatikan Amanda yang
sedang sibuk di dapur. Hanya beberapa
langkah jaraknya dari tempat ia duduk. Rambut Amanda tidak lagi hitam legam, tapi dia tetap cantik.
Amanda kembali tersenyum ketika air
telah masak. “Kamu mau kopi atau teh?”
“Teh saja deh.” Memang cuaca saat
ini walau siang hari tapi cukup dingin, memang masih winter sih. Walaupun winter di Brisbane bukan sesuatu
yang perlu antisipasi berlebihan.
Amanda menyerahkan secangkir teh
hangat ke Fauzan, kemudian duduk di hadapan Fauzan. Sebenarnya Fauzan berharap Amanda akan duduk
di sebelahnya.
“Mulai senin depan anak-anak liburan
sekolah dua minggu. Nanti kamu
jalan-jalan sama anak-anak deh. Kamu
bawa SIM kan?”
Fauzan mengangguk. Dia cukup tahu dengan aturan lalu lintas di
Brisbane mengingat dia pernah tinggal di sini dua tahun saat menemani Amanda S3
di akhir studynya.
Ketika mereka ngobrol ringan
menanti, terdengar Citra datang mengucap salam, Amanda langsung mengenakan
kerudung instannya karena tetangga pun memasuki ruangan mengantarkan Citra
pulang.
Sedikit berbasa-basi, Amanda pun
mengenalkan Fauzan kepada mereka. Keluarga itu memiliki anak sebaya dengan Citra. Sehingga Amanda sering menitipkan Citra pada
mereka, terutama ketika Citra pulang sekolah dan Bimo belum sampai sementara
Amanda masih di kampus. Tetangga mereka
juga keluarga Indonesia. Pasangan suami
istri itu pun tak lama, hanya mengantar Citra pulang dan mereka pun undur diri.
Seperti yang diduga, Citra kaget
tapi juga amat bahagia melihat Fauzan. Ia langsung duduk di pangkuan Fauzan, memeluknya erat, dan seperti tidak
putri kecilnya, dia pun sama sekali tidak keberatan dengan Citra yang
bermanja-manja padanya. Tak lama Bimo
pun pulang, Fauzan memeluk anak sulungnya dengan erat, dan Citra pun masih
dalam gendongannya. Alhasil terlihat
ketiganya berpelukan erat.
Amanda hanya tersenyum melihat
pemandangan itu. Tak lama pun ia bangkit
untuk memasak makan malam mereka. Seperti berabad-abad lamanya Amanda tidak melihat kebahagiaan
anak-anaknya seperti sekarang. Dia pun
bahagia melihatnya. Tak lama, mereka pun
makan malam, semuanya bahagia dengan pertemuan ini tak terkecuali Fauzan.
Pukul delapan, ketika semuanya telah
selesai. Amanda pun selesai membersihkan
semua perabotan dapur dan perabotan makan, dia bersiap-siap untuk
istirahat. Diam-diam Fauzan mengamati
Amanda, di tengah-tengah interaksinya dengan anak-anak.
“Nanti kamu tidur sama Bimo ya, saya
sudah siapkan tempat tidur kamu.”
Fauzan mengangguk, sebenarnya ada
sedikit harapan ia bisa tidur dengan Amanda, tapi dia tahu diri kok.
“Aku tidur sama ayah ya bu.” Pinta
si kecil.
Amanda bingung. “Nanti nggak muat de, kalian
sempit-sempitan.”
“Nggak papa. Malam ini saja.”
Amanda pun mengangguk maklum. Dia pun meninggalkan mereka menuju kamarnya.
Fauzan mengamatinya. Diperhatikan oleh Bimo.
“Ibu lelah yah, setiap ada kesempatan,
ibu pasti tidur cepat.” Bimo memberikan keterangan.
Fauzan pun mengangguk maklum,
pekerjaan rumah tangga itu memang tidak pernah ada habisnya, ditambah lagi Amanda
pun harus bekerja di kampus.
“Kita ke kamar juga yuk!” Ajak
Fauzan pada kedua anaknya. Dia juga
sebenarnya lelah, akibat penerbangan panjang ditambah jetlag.
Bimo dan Citra pun mengangguk,
sambil bergerak ke kamar. Ternyata kamar
itu cukup luas, ada dua tempat tidur di dalamnya. Yang satu ukuran single, satunya lagi sedikit lebih besar, walau tidak terlalu
luas. Melihat itu, sepertinya tempat
tidur itu cukup untuk Fauzan dan Citra. Dimana tempat tidur yang lebih kecil
bisa untuk Bimo. Dan benar saja, kedua
anak itu langsung naik tempat tidur sesuai perkiraan Fauzan, Bimo di tempat
yang kecil, Citra langsung berharap bisa tidur dengan sang ayah.
Mereka ngobrol cukup lama, hingga
Citra tertidur. Banyak sekali yang
diceritakan Bimo, tentang sekolahnya, kehidupan mereka di sini, dan bagaimana
sibuknya sang bunda. Ah… memang
menyenangkan berada dalam pelukan keluarga, Fauzan baru menyadari apa yang dia
abaikan selama ini. Akhirnya Bimo dan
Fauzan pun tertidur menjelang tengah malam, dengan senyuman kebahagiaan yang
lama mereka rindukan.
**
Hari
senin, dini hari Fauzan terbangun karena mencium bau makanan yang sedang
dimasak. Fauzan pun pergi keluar kamar untuk
melihat apa yang terjadi di luar, kalau kalau ada yang terbakar di dapur atau
ada yang belum mematikan kompor listrik. Tetapi yang didapatinya Amanda sedang sibuk memasak. Ia tersenyum pada Fauzan yang terbangun.
“Kok pagi amat sudah bangun?” Sapa Amanda.
“Kok kamu pagi amat masaknya?”
Amanda tersenyum. “Aku harus kerja
makanya nyiapin makanan buat anak-anak dari sekarang.”
Semua makanan telah siap. Ada sayur sop, tahu goreng dan ayam
goreng. Semuanya diletakan Amanda di
atas meja makan. “Nanti kalau mau makan
tinggal dihangatkan di microwave ya!” Setelah itu ia pun menyiapkan bekal
untuk dirinya. “Karena anak-anak libur dua minggu kamu jalan-jalan saja sama
anak-anak. Kunci mobil ada di meja
samping TV.”
Fauzan bergerak ke meja TV yang
dimaksud Amanda, selain kunci mobil dia juga melihat amplop yang berisi dollar.
“Ini untuk apa?” Dia memperlihatkan amplop itu ke Amanda.
Amanda melihat sepintas, “Oh,
kayaknya kamu belum sempet nuker dollarkan? Pakai itu saja buat jalan sama
anak-anak.”
Fauzan bengong. Baru menyadari kalau
dia benar-benar tidak membawa uang sepeserpun ke sini. Karena dia memang pada
saat berangkat dia belum gajian, tapi dalam beberapa hari ini, rekening dia sudah
akan penuh kok. “Aku ada ATM kok.”
“Sudah pakai itu saja, ratenya jelek kalau ngambil uang pakai
ATM.” Sambil bicara Amanda
bergerak. Dia pun meninggalkan Fauzan
sendiri, Amanda mandi dan bersiap-siap untuk kerja.
Memandang uang yang diberikan
Amanda, Fauzan garuk-garuk kepala, antara malu dan bingung.
“Yah, kok bengong? Sholat saja yuk!”
Bimo yang baru saja bangun menepuk bahunya mengajaknya untuk bergerak.
**
Fauzan
telah tiga minggu di Brisbane. Anak-anak
juga sudah mulai kembali sekolah. Mereka
menghabiskan liburan begitu menyenangkan kemarin. Memang tidak setiap hari jalan-jalan sih,
tapi mereka telah mengunjungi banyak tempat. Ke Lone pine, Australian Zoo, Sea
world, Movie world, dan mereka pun mengunjungi banyak pantai. Sering kali mereka harus bulak-balik
Brisbane-Gold Coast. Tapi nggak masalah,
dengan kendaraan yang mereka punya, semua jadi mudah. Tapi dari sekian banyak perjalanan mereka,
Amanda sangat jarang turut serta, ya memang karena ia sibuk kerja dan
__ADS_1
mengerjakan tugasnya sebagai mahasiswa post-doc. Diam-diam Fauzan kangen dengan Amanda. Ingin rasanya ia sesekali pergi berduaan saja. Tapi dia tidak punya alasan yang tepat untuk
itu.
Ada hal lain yang juga menjadi
perhatian Fauzan setelah dia cukup lama di sini. Ia heran kenapa Amanda ngoyo untuk
bekerja. Bayangkan saja, dalam sehari
Amanda bekerja sebagai tenaga pembersih di dua tempat. Pukul 6-10 pagi ia bekerja di kampus, dan
pukul 6-10 malam ia bekerja di sekolah dasar. Belum lagi dia pun punya tanggung jawab sebagai mahasiswa post-doc. Senin sampai jumat, Amanda begitu sibuk pergi
meninggalkan rumah pukul 5.30 pagi, sore hari pulang sebentar dan baru
benar-benar pulang ke rumah jam pukul 10.10 malam. Fauzan khawatir Amanda akan sakit apabila
terus memaksakan badannya bekerja demikian berat. Apakah tunjangan hidup dari beasiswanya tidak
cukup untuk menopang hidupnya dan kedua anak-anak mereka? Fauzan pernah menanyakan hal ini pada Bimo, Bimo
bilang bahwa ibunya begitu ngoyo karena ingin punya tabungan ketika pulang ke
Indonesia nanti, mengingat tabungan mereka telah habis digunakan. Bimo pun juga
pernah menyampaikan, bahwa ia juga ingin bekerja membantu sang ibu, tapi ibunya
melarang dengan alasan, bahwa ia lebih membutuhkan Bimo untuk menjaga Citra.
Mendengar itu ada rasa bersalah di hati Fauzan, istrinya bekerja begitu keras
di saat ia sibuk menyenangkan hati perempuan lain. Fauzan ingin sekali bicara mengenai ini pada
Amanda, tapi dia ragu dan bingung mencari waktu yang tepat.
Fauzan membukakan pintu ketika
Amanda hendak masuk, dia baru saja pulang malam itu.
Amanda agak kaget, karena sebenarnya
ia membawa kunci dan bisa membuka pintu sendiri. “Lho belum tidur?”
Fauzan hanya membalas senyuman.
Amanda memasuki ruang tengah, duduk,
membuka kerudungnya, jaketnya dan membuka sepatu kedsnya.
“Kamu mau makan?’
Amanda tersenyum. “Mandi dulu.”
“Ok.”
Setelah mandi, Amanda kembali ke
ruang tengah untuk makan. Unit ini
terdiri dari dapur dan ruang tengah yang menyatu.
Fauzan menyiapkan makanan yang
sebelumnya telah ia hangatkan.
Amanda sebenarnya terheran-heran
dengan apa yang dilakukan Fauzan untuknya, tapi ia hanya diam.
“Kamu tahukan aku bisa masak?”
Sambil makan, Amanda mengangguk.
Kemudian dia menanti apa yang hendak disampaikan Fauzan.
“Selama aku di sini, mulai besok aku
yang masak ya.” Pinta Fauzan.
Amanda tersenyum. “Terserah saja
sih, kamu mau masak pagi-pagi?”
Fauzan mengangguk.
Masih tersenyum, Amanda mengangguk
setuju, dan kembali melanjutkan makannya. Fauzan hanya duduk menemaninya.
“Harus banget ya ngoyo begini?”
Fauzan mencoba ke pokok masalah.
Amanda cuma tersenyum simpul. Dia mengerti sih arah pembicaraan Fauzan.
“Allowancenya
kurang banget ya?”
“Allowance sih sebenarnya cukup, tapi pas-pasan lah, kalau balik ke Jakarta nggak bisa
bawa apa-apa.”
“Kalau cuma sekedar pengen punya
tabungan kan nggak perlu harus kerja dua tempat begini.” Pinta Fauzan. “Kamu nggak sayang sama badan kamu?”
Amanda terdiam, sepintas dia
ragu. Terlihat berusaha keras menahan
ucapannya.
“Kamu kenapa? Khawatir Bimo nggak
bisa kuliah? Aku pasti tanggung jawab Manda, dia anakku juga.”
Amanda hanya tersenyum.
“Aku janji Manda, sepulang kalian
nanti ke Jakarta, aku akan kembali tanggung jawab. Aku akan biayain semua kehidupan kita
sepoerti dulu.” Fauzan pun berjanji. Walaupun dia masih ragu dengan kelangsungan
masa depan mereka. Tapi ia ingin
menunjukan pada Amanda bahwa kekhilafannya telah berakhir.
Amanda ragu. Mencob atersenyum
sebelum bicara. “Aku ini sudah diusir, kalau nanti aku pulang ke Jakarta, aku
nggak punya tempat tinggal. Aku cuma mau
punya tempat tinggal lagi.”
Mendengar itu Fauzan syok. Tindakannya dulu memberikan dampak yang besar
buat jalan pikiran Amanda. Dia
benar-benar dilanda rasa bersalah yang amat besar. Ingin sekali ia minta maaf,
tapi lidahnya nggak bisa bergerak. Benar-benar lumpuh. Fauzan hanya bisa berusaha keras agar
airmatanya tidak jatuh di hadapan Amanda. Wajahnya memerah karena begitu menahan emosi.
Amanda paham bahwa apa yang
diucapkannya barusan membuat Fauzan galau.
Suasana menjadi sangat kaku. Amanda berusaha keras menghabiskan makanannya
secepat mungkin. Dia pun bangun langsung
mencuci piring bekas pakainya. Dia nggak
sanggup melihat Fauzan yang terpaku. “Aku
masuk ya, mau tidur.” Amanda langsung
meninggalkan Fauzan menuju kamarnya.
“Manda maaf.” Fauzan berucap dalam
tangis pelannya, ketika ia benar-benar sendiri di ruang tengah itu. Penyesalannya luar biasa dalam yang ia
rasakan. Tapi bagaimanapun, penyesalan
selalu datang terlambat.
**
Sejak
peristiwa itu, Fauzan benar-benar berusaha keras menepati janjinya. Ia bangun pagi-pagi, memasak dan menyiapkan
segala kebutuhan anggota rumah tangganya. Menyiapkan semua bekal untuk Amanda, Bimo dan Citra. Tidak hanya itu, Fauzan melakukan semua
kegiatan rumah tangga yang bisa dia lakukan mulai mencuci pakaian, membersihkan
lantai, kamar mandi, dia benar-benar ingin mengisi kealpaannya. Ia ingin memanfaatkan sisa waktu yang ia
punya untuk membahagiakan anak-anaknya, dan meringankan beban Amanda. Dan setiap malam, dia menunggu Amanda kerja,
menghangatkan makanan untuk Amanda dan menemaninya hingga Amanda benar-benar
selesai dan siap untuk tidur.
“Man, aku masih halal nggak buat
kamu?”
Amanda benar-benar kaget dengan
pertanyaan Fauzan. Dia baru saja bangkit
meninggalkan Fauzan hendak ke kamarnya untuk tidur. Apakah Fauzan mengajaknya bercinta? “Aku nggak tahu. Tapi kalau kamu mau itu, aku benar-benar
cape.” Amanda meminta pemakluman Fauzan,
karena dia memang benar-benar lelah, seperti biasa dia menutup harinya dengan
kerja malam.
Fauzan bangkit dari duduknya, dia
memeluk Amanda dari belakang. “Aku nggak minta itu, aku cuma ingin dekat kamu,
melakukan apa yang anak-anak lakukan untuk kamu.” Kala weekend anak-anak memang sering ke kamar Amanda sekedar bercanda
dan memijit Amanda. Karena mereka sangat
paham Amanda selalu lelah.
Amanda paham, dia membiarkan Fauzan
mengikutinya memasuki kamarnya. Sudah
ada Citra yang telah tidur di sana. Kemudian Amanda berbaring di ranjangnya. Fauzan duduk di lantai berkarpet persis samping tempat tidur yang memang
cukup rendah. Fauzan membelai wajah
Amanda, membelai rambut Amanda, dan kemudian dia mengambil tangan Amanda
mendekatkan tangan Amanda menyentuh pipinya, dicium tangan Amanda, dan kemudian
Fauzan memijit tangan Amanda. Amanda
hanya membiarkan apa yang dilakukan Fauzan, dia hanya tersenyum dan kemudian
tertidur.
Fauzan masih terus melakukan,
dipandangnya tangan Amanda, tangan inilah yang telah mengisi kealpaannya pada
keluarga ini. Guman Fauzan dalam hati. Fauzan sangat bersyukur, sama sekali tidak
ada penolakan dari Amanda. Tidak pernah
ada dendam yang Amanda perlihatkan untuknya.
**
Sabtu
malam, Amanda minta ijin untuk pergi dengan teman-teman kampusnya. Seorang
dalam timnya telah selesai menjalankan program post-doc nya dan akan kembali ke Venezuela besok pagi. Jadi hari ini mereka pergi keluar untuk sekedar
melakukan farewell. Sebenarnya Amanda jarang sekali ikut serta
apabila ada acara seperti ini, karena dia cukup sibuk dengan dua part time job nya, dan kalau akhir pekan
pun rasanya enggan meninggalkan anak-anaknya karena seminggu penuh ia kurang perhatian
pada anak-anak. Tapi karena Fauzan
sedang ada di tengah-tengah mereka maka Amanda memanfaatkan kesempatan itu,
ditambah lagi teman-temannya sengaja memilih acara itu di hari sabtu, demi
Amanda bisa hadir, mereka sangat tahu kalau hari kerja Amanda benar-benar tak
ada waktu.
Pukul sebelas malam Amanda pulang
dari acara farewell, dia diantar oleh
Michael kolega di kampusnya. Sebenarnya
Michael mengantarkan banyak teman pulang, tapi yang dilihat Fauzan melalui
jendela adalah Amanda berdua saja dengan Michael.
Pulang kencan Man?” Fauzan menggoda
Amanda ketika ia membukakan pintu.
Amanda agak tersinggung dengan
pertanyaan Fauzan. “Maksudnya?”
Fauzan tersenyum. Menunjukan dia
nggak papa.
Amanda duduk di ruang tengah,
melepas high heels nya.
“Aku nggak masalah lho man kalau ada
laki-laki yang mendekati kamu. Kamu cantik kok.” Fauzan menekankan.
Amanda tersenyum sinis. “Aku ini… diusir sudah, dicerai nggak.”
Fauzan kaget dengan jawaban Amanda.
“Kamu ingin kita bercerai man?”
“Aku nggak ngomong gitu. Aku cuma mau bilang bahwa status aku tuh
nggak jelas. Nggak mungkin untuk aku kencanlah. Aku bukan penzinah.”
Fauzan hanya menghela nafas
panjang. Sindiran keras lagi untuk
dirinya.
“Kamu butuh kejelasan?” Fauzan bertanya dengan nada yang begitu
lembut.
Amanda menggeleng. “Semua terserah
kamu. Aku juga nggak ngebet-ngebet amat
kok mikirin kencan. Nggak punya waktu
untuk itu.”
Amanda pun berlalu masuk ke
kamarnya, meninggalkan Fauzan yang sekali lagi hanya bisa diam.
**
Sudah
delapan minggu Fauzan di Brisbane, sudah waktunya dia kembali ke Jakarta. Terlihat jelas dari dua hari kemarin dia
gusar banget. Berat rasanya meninggalkan
anak-anaknya dan juga Amanda. Dia nggak
tahu kapan lagi bisa sedekat ini dengan anak-anaknya.
Amanda faham benar, dia berusaha
menenangkan. “Tiga bulan lagi, kita
pulang kok. Kan masih bisa video call juga sama anak-anak, sudah tahu nomer
telepon genggam Bimo dan aku kan?”
Sebenarnya bukan anak-anak yang
Fauzan risaukan, tapi Amanda, akan sulit baginya mencari alasan untuk sekedar
bisa berhubungan dengan Amanda. Delapan
minggu dia bersama, membuat Fauzan menyadari bahwa dia masih sangat mencintai
Amanda. Walau dia tidak pernah tahu apa
yang dirasa Amanda untuknya sekarang, paling tidak tidak pernah ada penolakan
atau ketidak ramahan Amanda untuknya. Itu sudah lebih dari cukup, mengingat kejahatan yang telah ia lakukan
untuk Amanda.
Adegan di airport pun kembali drama, Fauzan tidak lagi menyembunyikan
airmatanya untuk mereka. Ia mencium
Citra yang terus saja menangis. Mencium
dan berpesan pada Bimo untuk menjaga dua perempuannya, dan kali ini ia pun
memberanikan diri mencium kening Amanda ketika Amanda kembali mencium
tangannya. Sumpah ini berat untuk Fauzan.
Di dalam pesawat, kali ini Fauzan
lebih banyak berfikir. Kebersamaannya
dengan keluarga kecilnya mengingatkannya kembali bahwa ia punya tanggung jawab
besar. Fauzan berfikir keras tentang
masa depannya, tentang keputusannya agar bisa adil, tak hanya untuk dirinya dan
__ADS_1
anak-anaknya tapi juga untuk Amanda.