Life After Forty

Life After Forty
Episode 6 penyesalan yang selalu terlambat


__ADS_3

Sudah


hampir satu setengah tahun Amanda, Bimo dan Citra ada di Brisbane.  Sama sekali tidak ada kabar dari mereka.  Diam-diam Fauzan merindukan mereka. Ada


perasaan marah kenapa Amanda tidak pernah memberi kabar tentang anak-anaknya,


bagaimana pun anak-anak itu adalah anak kandungnya, dia berhak mengetahui kabar


anaknya.  Tapi di lain pihak dia juga


mencoba intropeksi diri, selama ini memang dia tidak pernah mencari tahu


tentang mereka, rasanya memang aneh kalau tiba-tiba ia menuntut Amanda untuk


memberinya kabar.


            Rasa kangennya terhadap keluarga


memang baru-baru saja hadir.  Ketika ia


merasa hubungannya dengan Elly tidak lagi semenarik dulu.  Elly dirasa semakin banyak menuntut


darinya.  Awalnya Fauzan berharap setelah


setelah cicilan mobil Elly lunas, ia sudah bisa menabung.  Rencananya ia akan memberikan tabungan itu


pada Amanda sebagai kompensasi dulu ia cukup lama melepaskan tanggung


jawab.  Tetapi kenyataannya menabung


hanya sebatas wacana.  Setelah cicilan


mobil lunas, tagihan kartu kreditlah yang sekarang menjadi kendala.  Setiap bulannya Elly selalu meminta dibelikan


banyak barang. Dengan alasan sebagai sekertaris ia harus selalu tampil trendy and chic maka ia meminta


pengertian Fauzan.  Tapi barang-barang


yang diminta Elly sangat mahal, paling tidak di luar dari bayangan Fauzan.  Bayangkan saja, untuk sepasang high heels bisa menghabiskan lima belas


juta rupiah, tas wanita harganya dua puluh lima juta rupiah dan pakaian-pakaian


yang bisa mencapai harga yang sama.  Membeli


barang-barang wanita yang demikian mahal merupakan hal baru bagi Fauzan.  Seingatnya Amanda nggak pernah membeli


barang-barang yang begitu mahal.  Ada sih


barang mahal tapi wujudnya adalah perhiasan, sebagai bentuk investasinya.  Yang dipakai sesekali oleh Amanda ketika


mereka kondangan.


            Dua setengah tahun lebih Fauzan


telah menjalin hubungan dengan Elly.  Sepertinya Elly juga sudah resah dan mulai menyindir Fauzan untuk


dinikahi.  Fauzan pura-pura tidak tahu,


karena memang dia tidak pernah berfikir untuk ke arah yang lebih serius dengan


Elly.  Dari awal memang niatnya hanya


sekedar nakal.  Dan Elly pun tahu hal


itu.  Awalnya Elly sama sekali tidak


keberatan.  ia bilang selama kebutuhannya


tercukupi itu sudah lebih dari cukup.


            Sekarang semuanya berbeda, apalagi


sejak Elly mengetahui bahwa Amanda dan anak-anak tidak ada di Jakarta.  Dia sudah mulai berani tampil.  Sering kali datang ke kantor Fauzan memberi


perhatian dengan membawakan makan siang, atau sekedar meminta untuk pulang


bareng.  Tentu saja Fauzan jengah, karena


menjadi omongan di kantornya.  Terlebih


atasannya sudah mulai curiga dan terang-terangan menegur Fauzan. Karena apa


yang dilakukan Elly sangat tidak etis.  Bagaimanapun Fauzan masih berstatus suami Amanda. Atasan Fauzan pun


cukup bijak dengan berpendapat bahwa kelangsungan rumah tangga yang sehat


berdampak pada kinerjanya di kantor.


            Selain itu, Elly pun berkali-kali


telah main bahkan bermalam di rumah Fauzan.  Sering kali Fauzan melarang karena dia merasa tak enak dengan tetangga,


tapi Elly begitu memaksa, dan seringkali diiringi ancaman.  Fauzan masih belum tahu bagaimana harus


menghadapi Elly, pada akhirnya lebih sering mengalah dan diam.


            Belakangan ini pun, Elly sering kali


membawa Fauzan kepergaulannya.  Terang-terangan memperkenalkan bahwa Fauzan kekasihnya.  Kalau sudah begini Fauzan hanya bisa


tersenyum basa-basi dan memperlihatkan bahwa ia tidak nyaman.  Tapi sepertinya Elly cuek dan berusaha


berbagai cara untuk bisa mewujudkan keinginannya.  Dan sebenarnya Elly telah bersikap lancang,


yang membuat Fauzan marah besar.  Pada


satu hari, Elly membawa Fauzan bertemu dengan teman-temannya di sebuah restoran.  Awalnya tanpa rasa curiga Fauzan bersikap


acuh dan hanya sedikit tersenyum.  Dia


lebih banyak menghabiskan waktu dengan sibuk dengan telepon genggamnya.  Tapi dia agak curiga ketika Elly mengatakan


bahwa Fauzan akan mentraktir mereka semua karena akan menyampaikan berita


gembira.  Saat itulah dia kemudian


memamerkan dua buah cincin berlian yang ia kenakan.  Dengan alasan Fauzan baru saja melamarnya


dengan cara yang sangat romantis, tak tanggung-tanggung Fauzan memberikan dua


cincin berlian sekaligus.  Semua


teman-teman Elly bersorak gembira, mereka langsung mengucapkan selamat kepada


keduanya.


            Tentu saja Fauzan kebingungan. Sejak


kapan ia memberikan cincin berlian itu.  Diantara hebohnya teman-teman Elly yang mengucapkan selamat, Fauzan


memperhatikan cincin yang sedang dipamerkan Elly.  Astaga ternyata itu cincin milik Amanda.  Sepertinya Amanda lupa membawanya ketika ia


meninggalkan rumah.  Kalau tidak salah


cincin itu dibeli Amanda ketika mereka masih di Brisbane tujuh tahun yang


lalu.  Fauzan merasa sangat bersalah pada


Amanda, sudahlah dia sebagai suami tidak lagi bertanggu jawab, sekarang harta


pribadi sang istri pun dicuri selingkuhannya.  Setelah peristiwa itu, Fauzan amat marah.  Dia hanya diam.  Dia tidak suka adu argument dengan Elly.


Karena Elly tidak pernah bisa menyampaikan pendapatnya dengan baik, kalau


terdesak ia akan teriak-teriak histeris dan mengancam yang bukan-bukan.  Dari itu, untuk menghadapi Elly, Fauzan lebih


memilih untuk diam.


            Sudah tiga hari ini Fauzan


menghindari Elly.  Dia sangat berpesan


pada satpam di lantainya apabila Elly datang, tidak boleh diijinkan masuk.  Selain itu dia tidak menanggapi pesan ataupun


telepon dari Elly. Dia benar-benar lelah.


            Siang itu, ketika dia sedang


benar-benar muak dengan Elly.  Tiba-tiba


ia mendapatkan pesan online dari


nomer Australia, tapi dia tidak mengenal nomer itu.


            [Ayah ini Bimo.]  Ternyata itu nomer si sulung.  Fauzan penasaran.  Ternyata Bimo mengirimkan video singkat.  Tentu saja Fauzan penasaran untuk


menontonnya.  Ternyata itu video Citra.


Dalam Video itu terlihat Citra


sedang sibuk menghitung uang logam emas.  Dia menghitung dengan begitu seksama.  Dia pun sesekali melihat kamera dengan wajah yang penuh harap.  “Ada lima puluh mas.” Citra bicara begitu


bersemangat.


“Berarti ada lima puluh dolar.”


Bimo yang sedang melakukan rekaman menjawab.


“Cukup nggak mas?” Citra masih


penuh harap.


Fauzan bahagia melihat rekaman


itu.  Ia penasaran apa yang ingin Citra


lakukan dengan uang itu. Apakah ia ingin beli mainan?  Bonekakah?


“Ya masih kurang banyak.”


“Kurang berapa mas?”


“Kira-kira Sembilan ratus lima


puluh lagi?”


Citra kebingungan.


Fauzan sebagai penonton juga


bingung. Untuk apa mereka membutuhkan seribu dollar.


Wajah Citra pun langsung sedih, dia


pun menangis tersedu-sedu.  “Tiket


pesawat mahal banget ya mas.”


Terlihat tangan Bimo membelai


kepala Citra. “Jangan sedih ya.”


“Tabungan Mas berapa?”


“Masih belum cukup de…”


Citra semakin tersedu-sedu.  “Ade kangen ayah, tapi uangnya nggak cukup


buat beliin tiket pesawat terbangnya.”


Mendengar itu Fauzan langsung


berlinang air mata.  Astaga, anak


bungsunya ingin membelikan tiket pesawat untuknya?  Fauzan benar-benar tidak mampu menahan tangisnya.  Dia sesaat lupa kalau dia sedang di


kantor.  Beruntung dia memiliki ruangan


sendiri hingga tak ada yang melihat kondisinya saat ini.  Untuk pertama kali dalam hidupnya Fauzan


menangis tersedu-sedu.  Dia benar-benar


merasa sangat kacau, tapi tidak tahu harus berbuat apa.  Video singkat itu telah berakhir, tapi tangis


Fauzan masih belum selesai.


Tergerak untuk melakukan video call, tapi ia menyadari bahwa ia


baru saja menangis, khawatir anak-anaknya akan bertanya-tanya, akhirnya


diputuskan ia menghubungi Bimo dengan pesan singkat saja.


[Mas apa kabar? Ayah juga kangen


banget kalian.]


[Ayah mau ke sini nggak?]


Fauzan bingung dengan pertanyaan


itu.  Tentu saja ia mau.  Tapi saat ini sebenarnya ia tidak punya cukup


uang untuk berangkat ke Australia, walaupun penghasilannya sebenarnya besar,


tapi belakangan ini tagihan kartu kreditnya pun sama besarnya. [Ayah mau banget


sayang.]


[Ayah WA ibu ya.]


Fauzan bingung. Apa yang akan ia


sampaikan pada Amanda? ‘Ayah nggak tahu nomer hp Aussi ibu.’


Bimo pun memberikan nomer telepon


genggam Amanda.  Dan percakapan pun


selesai.  Meninggalkan Fauzan yang


kebingungan.  Apa yang harus ia katakan


pada Amanda.  Dia ingin ke Australia tapi


nggak ada biaya gitu?  Hadeuh… mau ke mana


harga dirinya?  Fauzan galau tingkat


berat.  Emosinya begitu meluap-luap,


perang batin antara ingin menghubungi Amanda sekedar mencari jalan keluar,


ingat ya jalan keluar mengingat visa Australianya telah lama habis.  Kangen yang luar biasa terhadap anak-anaknya


terutama si bungsu memaksa Fauzan mengabaikan harga dirinya, dihubunginya


Amanda melalui WA dengan nomer yang diberikan Bimo sebelumnya.


[Manda, ini aku Fauzan.]


Tak lama pesannya pun terjawab. [Hai,


ada apa?]


[Aku kangen anak-anak.  Boleh aku ke Brisbane?]


[Pasport masih berlaku?]


Fauzan langsung membuka lemari


kerjanya, kebetulan passport masih ada di kantor, karena dua minggu yang lalu


ia baru saja tugas ke Singapura.  Ternyata masih berlaku untuk dua tahun ke depan. [Masih.]


[Sebentar, kasih aku dua jam ya.


Sementara nunggu aku kamu bisa minta surat keterangan dari kantormu untuk


keperluan visa, kalau bisa juga dijelaskan sisa cuti kamu, untuk lebih


meyakinkan kalau kamu ke sini cuma untuk liburan dan nengokin anak-anak]


Fauzan bingung.  Tapi nggak lama, dia langsung melangkah ke


ruangan HRD.  Dia minta staff yang ada di


sana untuk dibuatkan surat keterangan yang diminta oleh Amanda.  Staff HR juga menghitung sisa cuti Fauzan


untuk tahun ini.  Fauzan belum pernah


memakai cuti besarnya, dan cuti tahunannya pun masih cukup banyak.  Totalnya Fauzan bisa menggunakan cutinya


kurang lebih dua bulan.  Manajer HR yang


merupakan koleganya langsung bersedia tanda tangan surat keterangan itu sambil


tersenyum.


“Gitu dong, inget anak istri.


Jangan ABG saja yang elo urusin!”


Fauzan hanya tersenyum mendapat


sindiran yang begitu telak.  Paling tidak


teman-teman kantornya masih perhatian dan mendukungnya.


Tak lama, Amanda kembali memberikan


kabar. [Buka email ya, itu dokumen form visa dan bank statement.  Form sudah


aku isiin tinggal kamu isi nomer passport sama tanda tangan saja.]


Fauzan langsung membuka emailnya.


Benar saja, dua dokumen penting itu sudah sampai. ‘Makasih, sudah sampai.’


[Besok kamu ke Kuningan city bawa semua dokumen yang dibutuhkan


ya, jangan lupa passport.]


[Ok.]


[Nanti kalau sudah dapat visa


kabarin ya, kita omongin lagi kapan kamu datangnya.  Aku berharap kamu bisa datang dalam 3 minggu


ini, karena anak-anak akan libur sekolah dan aku masih sibuk banget di kampus.]


Hadeuh kalau ini belum sore,


rasanya ingin hari ini saja ia mengajukan visa.  Fauzan tak sabar menunggu besok pagi.  Tapi dia kaget juga dengan respon Amanda yang begitu cepat.  Dalam tiga minggu, waduh… sepertinya belum


gajian tuh dia nggak tahu bagaimana nanti beli tiket pesawatnya.  Miris memang, senior manajer dengan gaji 50


juta perbulan tidak mampu beli tiket pesawat terbang untuk bisa bertemu dengan


anak dan istrinya.


Berselang satu minggu, sudah ada


kabar dari kedutaan bahwa visa tourist Fauzan


diterima.  Fauzan langsung memberi kabar


pada Amanda. Amanda pun bertanya kapan rencananya ia akan mengunjungi


anak-anaknya dan berapa lama, Fauzan memberi tahukan bahwa ia bisa berangkat


dalam waktu dua minggu ini, sesuai permintaan Amanda. Dan dia bisa ada di sana


hingga dua bulan.


Tak lama kemudian, tanpa Fauzan


minta, Amanda mengirimkan tiket pesawat terbang untuknya.  Fauzan begitu kaget, dia sama sekali tidak

__ADS_1


memintanya, tapi sepertinya Amanda paham apa yang menjadi kekhawatirannya.  Rasa malu itu semakin menjadi-jadi, tapi dia


tak punya pilihan lain, selain menerima tiket itu dan kemudian berterima kasih.


**


Setelah


Sholat Jumat, Fauzan berjalan dengan penuh waspada menenteng koper kecilnya


menuju taksi yang sudah dia pesan, keluar kantor dia berusaha keras agar tidak


bertemu dengan Elly.  Tadinya ia mau


mulai cuti hari ini, tapi ada dokumen yang harus dia periksa dan tanda tangani


sebelum dia cuti, mengingat dia akan cuti lumayan lama, delapan minggu.


            Sudah tiga minggu lebih Fauzan


menghindari Elly, tapi Elly masih saja gencar mencarinya.  Terkadang dia mempermalukan dirinya dengan


berteriak-teriak di depan kantor Fauzan karena satpam melarangnya masuk.  Fauzan sudah benar-benar tidak perduli.  Sudah bagus dia tidak melaporkan Elly ke


polisi karena mencuri berlian milik Amanda.  Fauzan benar-benar tersinggung, dia sudah memberikan semua permintaan


Elly, masih saja barang pribadi Amanda dia ambil.


            Menghela nafas lega, akhirnya Fauzan


berhasil sampai ke Bandara Soekarno-Hatta terminal international tanpa


halangan. Ini hari jumat, rajanya macet, tapi dia berhasil sampai bandara tepat


waktu, masih ada waktu tiga jam sebelum keberangkatannya.  Ia pun melakukan check in, dan buru-buru masuk ke dalam bandara.  Lebih baik dia menghabiskan waktu di dalam


bandara fikirnya, dia masih tidak tenang, kalau-kalau Elly mengetahui dia akan


pergi.  Tidak banyak yang tahu memang


kalau dia akan ke Brisbane.  Hanya bagian


HR, atasan langsung dan satu orang stafnya.  Selain itu, orang kantor hanya tahu bahwa ia sedang tugas ke Thailand.


Harus berbohong sebenarnya membuat dia tidak nyaman, tapi Elly benar-benar


membabi buta.  Untungnya Elly percaya


bahwa Amanda dan anak-anak pergi selama dua tahun ke Jepang bukan


Australia.  Entah kenapa dulu Fauzan


berfikir lebih baik Elly tidak tahu di mana sebenarnya Amanda dan anak-anak


berada.


            Fauzan baru merasa benar-benar lega


ketika pesawat yang dia tumpanginya terbang meninggalkan Jakarta.  Dia benar-benar lelah, hingga baru saja 30


menit pesawat itu di udara, dia telah tertidur.


**


Sabtu


siang, pukul 12 dia baru landing di


Brisbane.  Pesawat yang ditumpanginya


dari Jakarta mendarat di Sydney.  Dia


harus berganti pesawat menuju Brisbane, menghabiskan waktu transit 3 jam dan


penerbangan satu setengah jam ke Brisbane membuat dia baru sampai siang hari.


            Fauzan agak khawatir untuk bisa


sampai ke unit Amanda karena Amanda belum memberikan alamat tempat tinggalnya


pada Fauzan.  Bermaksud akan sms Amanda,


ternyata Amanda telah menantinya di pintu keluar bandara domestik.  Satu setengah tahun tidak bertemu Amanda


terlihat tambah cantik, tapi jauh lebih kurus dari terakhir dia bertemu.


            Fauzan tersenyum pada Amanda. Amanda


pun membalas senyuman itu.  Walaupun


masih saling kaku, tapi tidak ada ketidak-ramahan dalam interaksi itu.  Amanda mengajak Fauzan untuk ke parkiran.  Setelah koper kecil dan keduanya masuk ke


dalam mobil, Amanda pun membawa mobil itu keluar kawasan airport.


            Agak kaget sebenarnya, Amanda


sekarang sudah bisa bawa mobil?  “Kamu


bisa bawa mobil?”


            Amanda tersenyum. “Kepepet.”


            Fauzan tersenyum.  Terlihat memang kalau Amanda baru bisa, dia


mengemudi dengan sangat hati-hati.  Fauzan sangat menghargai itu.


            “Bimo lagi main bola sama


teman-temannya, nggak lama lagi pulang kok.  Citra tadi diajak tetangga main ke taman.  Anak-anak belum tahu kamu datang, aku iseng


mau ngasih kejutan ke mereka.” Amanda memberikan informasi.


            “Maaf aku nggak bawa oleh-oleh


apa-apa untuk kalian.” Fauzan minta maaf. Boro-boro oleh-oleh, untuk berangkat saja


dia harus kucing-kucingan.


            Amanda tersenyum maklum. “Anak-anak


kangen kamu. Bukan oleh-oleh kok.”


Hanya


butuh waktu 20 menit untuk sampai ke tempat tinggal mereka.  Yang letaknya tak jauh dari sekolah


Citra.  Ketika memasuki unitnya, Amanda


mempersilahkan Fauzan untuk masuk.  Ketika di dalam apartemen sederhana itu, Amanda membuka kerudungnya dan


langsung memasak air untuk membuatkan Fauzan minuman hangat.


            Melihat pemandangan itu Fauzan


terdiam.  Dalam hati dia bahagia,


ternyata Amanda tidak menganggapnya sebagai orang asing.  Fauzan hanya duduk memperhatikan Amanda yang


sedang sibuk di dapur.  Hanya beberapa


langkah jaraknya dari tempat ia duduk.  Rambut Amanda tidak lagi hitam legam, tapi dia tetap cantik.


            Amanda kembali tersenyum ketika air


telah masak. “Kamu mau kopi atau teh?”


            “Teh saja deh.” Memang cuaca saat


ini walau siang hari tapi cukup dingin, memang masih winter sih.  Walaupun winter di Brisbane bukan sesuatu


yang perlu antisipasi berlebihan.


            Amanda menyerahkan secangkir teh


hangat ke Fauzan, kemudian duduk di hadapan Fauzan.  Sebenarnya Fauzan berharap Amanda akan duduk


di sebelahnya.


            “Mulai senin depan anak-anak liburan


sekolah dua minggu.  Nanti kamu


jalan-jalan sama anak-anak deh.  Kamu


bawa SIM kan?”


            Fauzan mengangguk.  Dia cukup tahu dengan aturan lalu lintas di


Brisbane mengingat dia pernah tinggal di sini dua tahun saat menemani Amanda S3


di akhir studynya.


            Ketika mereka ngobrol ringan


menanti, terdengar Citra datang mengucap salam, Amanda langsung mengenakan


kerudung instannya karena tetangga pun memasuki ruangan mengantarkan Citra


pulang.


            Sedikit berbasa-basi, Amanda pun


mengenalkan Fauzan kepada mereka.  Keluarga itu memiliki anak sebaya dengan Citra.  Sehingga Amanda sering menitipkan Citra pada


mereka, terutama ketika Citra pulang sekolah dan Bimo belum sampai sementara


Amanda masih di kampus.  Tetangga mereka


juga keluarga Indonesia.  Pasangan suami


istri itu pun tak lama, hanya mengantar Citra pulang dan mereka pun undur diri.


            Seperti yang diduga, Citra kaget


tapi juga amat bahagia melihat Fauzan.  Ia langsung duduk di pangkuan Fauzan, memeluknya erat, dan seperti tidak


putri kecilnya, dia pun sama sekali tidak keberatan dengan Citra yang


bermanja-manja padanya.  Tak lama Bimo


pun pulang, Fauzan memeluk anak sulungnya dengan erat, dan Citra pun masih


dalam gendongannya.  Alhasil terlihat


ketiganya berpelukan erat.


            Amanda hanya tersenyum melihat


pemandangan itu.  Tak lama pun ia bangkit


untuk memasak makan malam mereka.  Seperti berabad-abad lamanya Amanda tidak melihat kebahagiaan


anak-anaknya seperti sekarang.  Dia pun


bahagia melihatnya.  Tak lama, mereka pun


makan malam, semuanya bahagia dengan pertemuan ini tak terkecuali Fauzan.


            Pukul delapan, ketika semuanya telah


selesai.  Amanda pun selesai membersihkan


semua perabotan dapur dan perabotan makan, dia bersiap-siap untuk


istirahat.  Diam-diam Fauzan mengamati


Amanda, di tengah-tengah interaksinya dengan anak-anak.


            “Nanti kamu tidur sama Bimo ya, saya


sudah siapkan tempat tidur kamu.”


            Fauzan mengangguk, sebenarnya ada


sedikit harapan ia bisa tidur dengan Amanda, tapi dia tahu diri kok.


            “Aku tidur sama ayah ya bu.” Pinta


si kecil.


            Amanda bingung.  “Nanti nggak muat de, kalian


sempit-sempitan.”


            “Nggak papa. Malam ini saja.”


            Amanda pun mengangguk maklum.  Dia pun meninggalkan mereka menuju kamarnya.


            Fauzan mengamatinya.  Diperhatikan oleh Bimo.


            “Ibu lelah yah, setiap ada kesempatan,


ibu pasti tidur cepat.” Bimo memberikan keterangan.


            Fauzan pun mengangguk maklum,


pekerjaan rumah tangga itu memang tidak pernah ada habisnya, ditambah lagi Amanda


pun harus bekerja di kampus.


            “Kita ke kamar juga yuk!” Ajak


Fauzan pada kedua anaknya.  Dia juga


sebenarnya lelah, akibat penerbangan panjang ditambah jetlag.


            Bimo dan Citra pun mengangguk,


sambil bergerak ke kamar.  Ternyata kamar


itu cukup luas, ada dua tempat tidur di dalamnya.  Yang satu ukuran single, satunya lagi sedikit lebih besar, walau tidak terlalu


luas.  Melihat itu, sepertinya tempat


tidur itu cukup untuk Fauzan dan Citra. Dimana tempat tidur yang lebih kecil


bisa untuk Bimo.  Dan benar saja, kedua


anak itu langsung naik tempat tidur sesuai perkiraan Fauzan, Bimo di tempat


yang kecil, Citra langsung berharap bisa tidur dengan sang ayah.


            Mereka ngobrol cukup lama, hingga


Citra tertidur.  Banyak sekali yang


diceritakan Bimo, tentang sekolahnya, kehidupan mereka di sini, dan bagaimana


sibuknya sang bunda.  Ah… memang


menyenangkan berada dalam pelukan keluarga, Fauzan baru menyadari apa yang dia


abaikan selama ini.  Akhirnya Bimo dan


Fauzan pun tertidur menjelang tengah malam, dengan senyuman kebahagiaan yang


lama mereka rindukan.


**


Hari


senin, dini hari Fauzan terbangun karena mencium bau makanan yang sedang


dimasak.  Fauzan pun pergi keluar kamar untuk


melihat apa yang terjadi di luar, kalau kalau ada yang terbakar di dapur atau


ada yang belum mematikan kompor listrik.  Tetapi yang didapatinya Amanda sedang sibuk memasak.  Ia tersenyum pada Fauzan yang terbangun.


            “Kok pagi amat sudah bangun?”  Sapa Amanda.


            “Kok kamu pagi amat masaknya?”


            Amanda tersenyum. “Aku harus kerja


makanya nyiapin makanan buat anak-anak dari sekarang.”


            Semua makanan telah siap.  Ada sayur sop, tahu goreng dan ayam


goreng.  Semuanya diletakan Amanda di


atas meja makan.  “Nanti kalau mau makan


tinggal dihangatkan di microwave ya!”  Setelah itu ia pun menyiapkan bekal


untuk dirinya. “Karena anak-anak libur dua minggu kamu jalan-jalan saja sama


anak-anak.  Kunci mobil ada di meja


samping TV.”


            Fauzan bergerak ke meja TV yang


dimaksud Amanda, selain kunci mobil dia juga melihat amplop yang berisi dollar.


“Ini untuk apa?” Dia memperlihatkan amplop itu ke Amanda.


            Amanda melihat sepintas, “Oh,


kayaknya kamu belum sempet nuker dollarkan? Pakai itu saja buat jalan sama


anak-anak.”


            Fauzan bengong. Baru menyadari kalau


dia benar-benar tidak membawa uang sepeserpun ke sini. Karena dia memang pada


saat berangkat dia belum gajian, tapi dalam beberapa hari ini, rekening dia sudah


akan penuh kok. “Aku ada ATM kok.”


            “Sudah pakai itu saja, ratenya jelek kalau ngambil uang pakai


ATM.”  Sambil bicara Amanda


bergerak.  Dia pun meninggalkan Fauzan


sendiri, Amanda mandi dan bersiap-siap untuk kerja.


            Memandang uang yang diberikan


Amanda, Fauzan garuk-garuk kepala, antara malu dan bingung.


            “Yah, kok bengong? Sholat saja yuk!”


Bimo yang baru saja bangun menepuk bahunya mengajaknya untuk bergerak.


**


Fauzan


telah tiga minggu di Brisbane.  Anak-anak


juga sudah mulai kembali sekolah.  Mereka


menghabiskan liburan begitu menyenangkan kemarin.  Memang tidak setiap hari jalan-jalan sih,


tapi mereka telah mengunjungi banyak tempat.  Ke Lone pine, Australian Zoo, Sea


world, Movie world, dan mereka pun mengunjungi banyak pantai.  Sering kali mereka harus bulak-balik


Brisbane-Gold Coast.  Tapi nggak masalah,


dengan kendaraan yang mereka punya, semua jadi mudah.  Tapi dari sekian banyak perjalanan mereka,


Amanda sangat jarang turut serta, ya memang karena ia sibuk kerja dan

__ADS_1


mengerjakan tugasnya sebagai mahasiswa post-doc.  Diam-diam Fauzan kangen dengan Amanda.  Ingin rasanya ia sesekali pergi berduaan saja.  Tapi dia tidak punya alasan yang tepat untuk


itu.


            Ada hal lain yang juga menjadi


perhatian Fauzan setelah dia cukup lama di sini.  Ia heran kenapa Amanda ngoyo untuk


bekerja.  Bayangkan saja, dalam sehari


Amanda bekerja sebagai tenaga pembersih di dua tempat.  Pukul 6-10 pagi ia bekerja di kampus, dan


pukul 6-10 malam ia bekerja di sekolah dasar.  Belum lagi dia pun punya tanggung jawab sebagai mahasiswa post-doc.  Senin sampai jumat, Amanda begitu sibuk pergi


meninggalkan rumah pukul 5.30 pagi, sore hari pulang sebentar dan baru


benar-benar pulang ke rumah jam pukul 10.10 malam.  Fauzan khawatir Amanda akan sakit apabila


terus memaksakan badannya bekerja demikian berat.  Apakah tunjangan hidup dari beasiswanya tidak


cukup untuk menopang hidupnya dan kedua anak-anak mereka?  Fauzan pernah menanyakan hal ini pada Bimo, Bimo


bilang bahwa ibunya begitu ngoyo karena ingin punya tabungan ketika pulang ke


Indonesia nanti, mengingat tabungan mereka telah habis digunakan. Bimo pun juga


pernah menyampaikan, bahwa ia juga ingin bekerja membantu sang ibu, tapi ibunya


melarang dengan alasan, bahwa ia lebih membutuhkan Bimo untuk menjaga Citra.


Mendengar itu ada rasa bersalah di hati Fauzan, istrinya bekerja begitu keras


di saat ia sibuk menyenangkan hati perempuan lain.  Fauzan ingin sekali bicara mengenai ini pada


Amanda, tapi dia ragu dan bingung mencari waktu yang tepat.


            Fauzan membukakan pintu ketika


Amanda hendak masuk, dia baru saja pulang malam itu.


            Amanda agak kaget, karena sebenarnya


ia membawa kunci dan bisa membuka pintu sendiri. “Lho belum tidur?”


            Fauzan hanya membalas senyuman.


            Amanda memasuki ruang tengah, duduk,


membuka kerudungnya, jaketnya dan membuka sepatu kedsnya.


            “Kamu mau makan?’


            Amanda tersenyum. “Mandi dulu.”


            “Ok.”


            Setelah mandi, Amanda kembali ke


ruang tengah untuk makan.  Unit ini


terdiri dari dapur dan ruang tengah yang menyatu.


            Fauzan menyiapkan makanan yang


sebelumnya telah ia hangatkan.


            Amanda sebenarnya terheran-heran


dengan apa yang dilakukan Fauzan untuknya, tapi ia hanya diam.


            “Kamu tahukan aku bisa masak?”


            Sambil makan, Amanda mengangguk.


Kemudian dia menanti apa yang hendak disampaikan Fauzan.


            “Selama aku di sini, mulai besok aku


yang masak ya.” Pinta Fauzan.


            Amanda tersenyum. “Terserah saja


sih, kamu mau masak pagi-pagi?”


            Fauzan mengangguk.


            Masih tersenyum, Amanda mengangguk


setuju, dan kembali melanjutkan makannya.  Fauzan hanya duduk menemaninya.


            “Harus banget ya ngoyo begini?”


Fauzan mencoba ke pokok masalah.


            Amanda cuma tersenyum simpul.  Dia mengerti sih arah pembicaraan Fauzan.


            “Allowancenya


kurang banget ya?”


            “Allowance sih sebenarnya cukup, tapi pas-pasan lah, kalau balik ke Jakarta nggak bisa


bawa apa-apa.”


            “Kalau cuma sekedar pengen punya


tabungan kan nggak perlu harus kerja dua tempat begini.”  Pinta Fauzan.  “Kamu nggak sayang sama badan kamu?”


            Amanda terdiam, sepintas dia


ragu.  Terlihat berusaha keras menahan


ucapannya.


            “Kamu kenapa? Khawatir Bimo nggak


bisa kuliah? Aku pasti tanggung jawab Manda, dia anakku juga.”


            Amanda hanya tersenyum.


            “Aku janji Manda, sepulang kalian


nanti ke Jakarta, aku akan kembali tanggung jawab.  Aku akan biayain semua kehidupan kita


sepoerti dulu.”  Fauzan pun berjanji.  Walaupun dia masih ragu dengan kelangsungan


masa depan mereka.  Tapi ia ingin


menunjukan pada Amanda bahwa kekhilafannya telah berakhir.


            Amanda ragu. Mencob atersenyum


sebelum bicara. “Aku ini sudah diusir, kalau nanti aku pulang ke Jakarta, aku


nggak punya tempat tinggal.  Aku cuma mau


punya tempat tinggal lagi.”


            Mendengar itu Fauzan syok.  Tindakannya dulu memberikan dampak yang besar


buat jalan pikiran Amanda.  Dia


benar-benar dilanda rasa bersalah yang amat besar. Ingin sekali ia minta maaf,


tapi lidahnya nggak bisa bergerak. Benar-benar lumpuh.  Fauzan hanya bisa berusaha keras agar


airmatanya tidak jatuh di hadapan Amanda.  Wajahnya memerah karena begitu menahan emosi.


            Amanda paham bahwa apa yang


diucapkannya barusan membuat Fauzan galau.


            Suasana menjadi sangat kaku.  Amanda berusaha keras menghabiskan makanannya


secepat mungkin.  Dia pun bangun langsung


mencuci piring bekas pakainya.  Dia nggak


sanggup melihat Fauzan yang terpaku.  “Aku


masuk ya, mau tidur.”  Amanda langsung


meninggalkan Fauzan menuju kamarnya.


            “Manda maaf.” Fauzan berucap dalam


tangis pelannya, ketika ia benar-benar sendiri di ruang tengah itu.  Penyesalannya luar biasa dalam yang ia


rasakan.  Tapi bagaimanapun, penyesalan


selalu datang terlambat.


**


Sejak


peristiwa itu, Fauzan benar-benar berusaha keras menepati janjinya.  Ia bangun pagi-pagi, memasak dan menyiapkan


segala kebutuhan anggota rumah tangganya.  Menyiapkan semua bekal untuk Amanda, Bimo dan Citra.  Tidak hanya itu, Fauzan melakukan semua


kegiatan rumah tangga yang bisa dia lakukan mulai mencuci pakaian, membersihkan


lantai, kamar mandi, dia benar-benar ingin mengisi kealpaannya.  Ia ingin memanfaatkan sisa waktu yang ia


punya untuk membahagiakan anak-anaknya, dan meringankan beban Amanda.  Dan setiap malam, dia menunggu Amanda kerja,


menghangatkan makanan untuk Amanda dan menemaninya hingga Amanda benar-benar


selesai dan siap untuk tidur.


            “Man, aku masih halal nggak buat


kamu?”


            Amanda benar-benar kaget dengan


pertanyaan Fauzan.  Dia baru saja bangkit


meninggalkan Fauzan hendak ke kamarnya untuk tidur.  Apakah Fauzan mengajaknya bercinta?  “Aku nggak tahu.  Tapi kalau kamu mau itu, aku benar-benar


cape.”  Amanda meminta pemakluman Fauzan,


karena dia memang benar-benar lelah, seperti biasa dia menutup harinya dengan


kerja malam.


            Fauzan bangkit dari duduknya, dia


memeluk Amanda dari belakang. “Aku nggak minta itu, aku cuma ingin dekat kamu,


melakukan apa yang anak-anak lakukan untuk kamu.” Kala weekend anak-anak memang sering ke kamar Amanda sekedar bercanda


dan memijit Amanda.  Karena mereka sangat


paham Amanda selalu lelah.


            Amanda paham, dia membiarkan Fauzan


mengikutinya memasuki kamarnya.  Sudah


ada Citra yang telah tidur di sana.  Kemudian Amanda berbaring di ranjangnya.  Fauzan duduk di lantai berkarpet persis samping tempat tidur yang memang


cukup rendah.  Fauzan membelai wajah


Amanda, membelai rambut Amanda, dan kemudian dia mengambil tangan Amanda


mendekatkan tangan Amanda menyentuh pipinya, dicium tangan Amanda, dan kemudian


Fauzan memijit tangan Amanda.  Amanda


hanya membiarkan apa yang dilakukan Fauzan, dia hanya tersenyum dan kemudian


tertidur.


            Fauzan masih terus melakukan,


dipandangnya tangan Amanda, tangan inilah yang telah mengisi kealpaannya pada


keluarga ini.  Guman Fauzan dalam hati.  Fauzan sangat bersyukur, sama sekali tidak


ada penolakan dari Amanda.  Tidak pernah


ada dendam yang Amanda perlihatkan untuknya.


**


Sabtu


malam, Amanda minta ijin untuk pergi dengan teman-teman kampusnya. Seorang


dalam timnya telah selesai menjalankan program post-doc nya dan akan kembali ke Venezuela besok pagi.  Jadi hari ini mereka pergi keluar untuk sekedar


melakukan farewell.   Sebenarnya Amanda jarang sekali ikut serta


apabila ada acara seperti ini, karena dia cukup sibuk dengan dua part time job nya, dan kalau akhir pekan


pun rasanya enggan meninggalkan anak-anaknya karena seminggu penuh ia kurang perhatian


pada anak-anak.  Tapi karena Fauzan


sedang ada di tengah-tengah mereka maka Amanda memanfaatkan kesempatan itu,


ditambah lagi teman-temannya sengaja memilih acara itu di hari sabtu, demi


Amanda bisa hadir, mereka sangat tahu kalau hari kerja Amanda benar-benar tak


ada waktu.


            Pukul sebelas malam Amanda pulang


dari acara farewell, dia diantar oleh


Michael kolega di kampusnya.  Sebenarnya


Michael mengantarkan banyak teman pulang, tapi yang dilihat Fauzan melalui


jendela adalah Amanda berdua saja dengan Michael.


            Pulang kencan Man?” Fauzan menggoda


Amanda ketika ia membukakan pintu.


            Amanda agak tersinggung dengan


pertanyaan Fauzan. “Maksudnya?”


            Fauzan tersenyum. Menunjukan dia


nggak papa.


            Amanda duduk di ruang tengah,


melepas high heels nya.


            “Aku nggak masalah lho man kalau ada


laki-laki yang mendekati kamu. Kamu cantik kok.”  Fauzan menekankan.


            Amanda tersenyum sinis.  “Aku ini… diusir sudah, dicerai nggak.”


            Fauzan kaget dengan jawaban Amanda.


“Kamu ingin kita bercerai man?”


            “Aku nggak ngomong gitu.  Aku cuma mau bilang bahwa status aku tuh


nggak jelas. Nggak mungkin untuk aku kencanlah.  Aku bukan penzinah.”


            Fauzan hanya menghela nafas


panjang.  Sindiran keras lagi untuk


dirinya.


            “Kamu butuh kejelasan?”  Fauzan bertanya dengan nada yang begitu


lembut.


            Amanda menggeleng. “Semua terserah


kamu.  Aku juga nggak ngebet-ngebet amat


kok mikirin kencan.  Nggak punya waktu


untuk itu.”


Amanda pun berlalu masuk ke


kamarnya, meninggalkan Fauzan yang sekali lagi hanya bisa diam.


**


Sudah


delapan minggu Fauzan di Brisbane, sudah waktunya dia kembali ke Jakarta.  Terlihat jelas dari dua hari kemarin dia


gusar banget.  Berat rasanya meninggalkan


anak-anaknya dan juga Amanda.  Dia nggak


tahu kapan lagi bisa sedekat ini dengan anak-anaknya.


Amanda faham benar, dia berusaha


menenangkan.  “Tiga bulan lagi, kita


pulang kok.  Kan masih bisa video call juga sama anak-anak, sudah tahu nomer


telepon genggam Bimo dan aku kan?”


Sebenarnya bukan anak-anak yang


Fauzan risaukan, tapi Amanda, akan sulit baginya mencari alasan untuk sekedar


bisa berhubungan dengan Amanda.  Delapan


minggu dia bersama, membuat Fauzan menyadari bahwa dia masih sangat mencintai


Amanda.  Walau dia tidak pernah tahu apa


yang dirasa Amanda untuknya sekarang, paling tidak tidak pernah ada penolakan


atau ketidak ramahan Amanda untuknya.  Itu sudah lebih dari cukup, mengingat kejahatan yang telah ia lakukan


untuk Amanda.


            Adegan di airport pun kembali drama, Fauzan tidak lagi menyembunyikan


airmatanya untuk mereka.  Ia mencium


Citra yang terus saja menangis.  Mencium


dan berpesan pada Bimo untuk menjaga dua perempuannya, dan kali ini ia pun


memberanikan diri mencium kening Amanda ketika Amanda kembali mencium


tangannya. Sumpah ini berat untuk Fauzan.


            Di dalam pesawat, kali ini Fauzan


lebih banyak berfikir.  Kebersamaannya


dengan keluarga kecilnya mengingatkannya kembali bahwa ia punya tanggung jawab


besar.  Fauzan berfikir keras tentang


masa depannya, tentang keputusannya agar bisa adil, tak hanya untuk dirinya dan

__ADS_1


anak-anaknya tapi juga untuk Amanda.


__ADS_2