
Setiap manusia pasti memiliki rasa ego terlepas dari besar dan kecil nya ego itu sendiri namun yang jadi permasalahan mampukah kita mengikis ego kita agar tidak berdampak kepada orang lain yang lebih fatal lagi akibat nya.
Namun seperti nya ke egoan Achida Do Feng sangat lah tinggi sehingga karena keegoan nya mengakibat kan banyak orang yang terluka dan di rugi kan atas sikap nya, Kini yang menanggung semua itu adalah kedua anak nya.
Kali ini Zhang dan Lie lie mau tidak mau menahan rasa malu yang teramat sangat kepada Teky Khozima putra dari Hazimura Khozima orang yang harus meregang nyawa di tangan Achida Do Feng yang hanya mengikuti ego semata.
Pertikaian di rumah Achida sangat sengit antara anggota Teky dan anggota Achida yang saat ini tidak hanya terluka tapi juga ada yang meregang nyawa terkena pukulan dan tendangan dari anggota Teky.
Sedangkan saat ini posisi Achida, Lie lie, Zhang dan Bibi Rose sedang berada di rumah sakit dan berharap Achida terselamatkan sebab bagaimana pun juga Teky masih membutuhkan tanda tangan Achida untuk menyerahkan semua aset yang telah di rebut dari Hazimaru.
" Jangan sampai Ayah kalian mati begitu saja, Sebab keponakan ku masih membutuh kan tangan nya untuk tanda tangan,"
Ucap Bibi Rose sambil memarkirkan mobil nya.
" Sungguh baik Teky kepada orang yang sudah menghabisi nyawa Ayah nya,"
Ucap Zhang dengan pandangan tertuju kepada Achida yang sedang pingsan.
" Apa yang kamu lakukan Kak bila hal itu terjadi pada mu?"
Tanya Lie lie sambil melirik ke arah Zhang.
" Aku akan mencincang nya!"
Jawab Zhang dengan nada geram.
" Tapi yang di butuh kan keponakan ku bukan tubuh dan nyawa nya tapi hanya tangan dan hati nya saja,"
Imbuh Bibi Rose diiringi senyum sinis.
Kemudian mereka bertiga pun membawa Achida yang sudah berlumuran darah masuk kedalam rumah sakit agar mendapatkan perawatan dari medis, Sedangkan di rumah Achida semua anggota nya sudah bertekuk lutut kepada Teky.
" Teky apa rencana mu selanjut nya?"
Tanya A Feng dengan nada serius.
" Aku akan menyiksa nya tapi tidak akan aku lenyap kan dia,"
Jawab Teky diiringi senyum sinis.
" Bagus itu juga harapan ku, Agar dia merasakan apa yang sudah di rasakan orang yg sudah di siksa nya,"
Ucap A Feng sambil duduk di belakang Teky.
Sedangkan Zau Pan dan Paman Haruko sedang sibuk membongkar lemari es di dapur dan entah apa yang sedang di cari oleh mereka berdua di sana, Namun seperti nya mereka berdua sedang mencari makanan untuk mengganjal perut mereka berdua.
" Paman apakah sudah menemukan?"
Tanya Zau Pan sambil jongkok membongkar laci.
" Sedari tadi aku hanya menemukan sayur, tomat dan paprika,"
Jawab Paman Haruko dengan fokus mencari sesuatu.
" Apakah makanan orang kaya hanya seperti itu saja, Tapi bila makanan mereka hanya seperti itu tidak mungkin kan itu si bodoh Achida cacingan?"
Tanya Zau Pan sambil sesekali menoleh ke arah Paman Haruko yang berada di belakang nya.
" Hey ... Zau Pan apa hubungan nya makan paprika dan cacingan, Jangan-jangan diri mu sedang menyindir ku,"
Ucap Paman Haruko dengan tatapan sinis kepada Zau Pan.
" Maka nya banyak makan sayur Paman agar tidak cacingan seperti Achida Do Feng,"
Jawab Zau Pan sambil menahan senyum sambil melirik ke arah Paman Haruko.
" Berani kamu mengatai ku cacingan Zau Pan, Dasar anak tidak berguna, Anak kurang ajar, Kemari jangan lari kamu!"
Ucap Paman Haruko sambil melempar paprika ke arah Zau Pan yang berlari menjauh.
__ADS_1
Saat itu Teky hanya tersenyum melihat ulah mereka berdua yang bila berjumpa selalu saja bertengkar namun saat lama tidak bertemu saling merindukan satu dengan yang lain nya, Di sisi lain ada Lie lie, Zhang dan Bibi Rose sedang menunggu Achida yang sedang mendapat kan perawatan medis.
Dan ternyata di rumah sakit yang sama ada pembunuh bayaran suruhan Achida yang berniat untuk membawa lari Achida dari rumah sakit setelah mendapat kan perawatan medis, Namun ternyata sebelum niat nya terwujud pembunuh bayaran itu sudah bertemu Zhang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Untuk apa dia di sini, Aku pikir sudah di tebas kepala nya dengan Teky atau anak buah nya."
Ucap Zhang dengan lirih sambil memperhatikan gerak gerik nya.
Saat itu orang bayaran Achida berjalan mengendap-endap dan sesekali menoleh ke arah belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat nya masuk ke dalam ruang rawat tempat Achida sedang mendapat perawatan.
" JANGAN BERGERAK, LEKAS SELESAIKAN TUGAS KALIAN SEBELUM KEPALA KALIAN SEMUA AKU PISAHKAN DARI TUBUH KALIAN!"
Teriak lelaki bertubuh kekar sambil mengacungkan samurai ke arah para medis.
Seketika timbul lah kepanikan di dalam ruangan dan saat itu Zhang mengintip dari pintu untuk memastikan apa yang terjadi di dalam ruangan, Lalu Zhang segera membuka pintu tersebut dan memanggil lelaki bertubuh kekar tersebut agar tidak membuat kegaduhan di ruangan pasien.
" HAY ... OTAK UDANG APAKAH KAMU BUTA ATAU TIDAK SADAR SAAT INI DIRI MU SEDANG BERADA DI MANA?"
Teriak Zhang dengan nada bertanya.
" Anak durhaka, Akhir nya muncul juga kamu di hadapan ku!"
Jawab lelaki itu dengan nada gusar.
" Jangan hanya mulut besar bisa mu, Kalau masih memiliki nyali lawan aku!"
Bentak Zhang sambil melangkah mundur keluar ruangan.
" DASAR BEDEBAH!"
Teriak lelaki itu sambil berlari mengejar Zhang.
Kemudian mereka berdua mulai lah bertarung dengan senjata masing-masing, Lelaki itu menggunakan samurai sedangkan Zhang menggunakan tiang infus yang di temukan di sisi lorong.
" Dasar anak durhaka tidak tahu balas budi, Maka aku akan memberi mu pelajaran agar kamu tahu balas budi kepada orang tua mu!"
Ucap lelaki itu dengan nada geram dan tatapan sinis.
Jawab Zhang yang mulai maju menyerang lelaki kekar itu dengan tiang infus.
Perkelahian antara mereka berdua baru saja di mulai dan hal itu pasti nya membuat takut para pasien dan para medis yang berada di sana, Sedangkan beberapa saat kemudian Achida tersadar dan mendengar keributan di luar ruangan tempat nya di rawat.
Saat itu Achida memaksa untuk keluar ruangan untuk melihat apa yang terjadi meski saat itu para medis sudah melarang sebab pasti nya hal tersebut sangat berbahaya untuk keselamatan Achida yang baru saja siuman.
" Awas aku mau melihat ada apa itu, Berikan aku jalan!"
Bentak Achida kepada para medis yang berdiri di dekat pintu.
" Tuan jangan ini bahaya, Ada yang sedang berkelahi lebih baik anda beristirahat agar lekas membaik,"
Jawab salah satu suster yang menahan tubuh Achida.
" Siapa kamu orang miskin berani melarang ku, MINGGIR JANGAN HALANGI LANGKAH KU!"
Bentak Achida dengan nada gusar dan mendorong tubuh suster hingga terjatuh ke lantai.
Tidak lama kemudian Achida sudah berdiri di pintu sebuah ruang rawat inap dan di situ Achida menyaksikan Zhang putra nya di serang dengan membabi buta dengan orang bayaran nya, Namun yang di lakukan Achida sangat lah tidak masuk akal sama sekali.
Achida terlihat sangat senang melihat Zhang di hajar oleh orang bayaran nya tersebut, Bukan nya Achida memisahkan atau menghentikan serangan yang di lakukan oleh lelaki kekar itu kepada Zhang namun Achida malah berteriak agar lelaki itu menghabisi Zhang.
" XAUNG GHU JANGAN LEPASKAN ANAK DURHAKA ITU, CINCANG SAJA SAMPAI HALUS!"
Teriak Achida sambil terkekeh menyaksikan Zhang semakin terpojok.
Sedangkan di ruang tunggu ada Lie lie dan Bibi Rose yang sedang bingung melihat banyak orang sedang berlarian di hadapan nya dan sesekali terdengar ada yang mengatakan bahwa di ujung lorong ada yang sedang berkelahi.
Sejenak Lie lie dan Bibi Rose saling pandang dan berfikir siapa yang sedang berkelahi apakah Teky sudah berada di rumah sakit ini lalu ada yang menyinggung nya sehingga berkelahi di ujung lorong atau kah orang lain yang sedang berkelahi, Kamudian mereka berdua pun memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi dan siapa yang berkelahi.
" Ada apa mengapa orang berlarian?"
__ADS_1
Tanya Bibi Rose dengan tatapan bingung.
" Kata nya di ujung lorong ada yang berkelahi Bibi, Tapi siapa yang berkelahi di rumah sakit? "
Jawab Lie lie sambil memandang ke arah Bibi Rose.
" TEKY!"
Ucap mereka berdua bersamaan sambil saling tunjuk.
Kemudian mereka berdua beranjak dari duduk nya dan segera berjalan ke ujung lorong untuk memastikan apakah benar Teky yang sedang berkelahi dan berkelahi dengan siapa sebenarnya, Posisi di balik pintu pembatas lorong sangat banyak orang melihat kejadian tersebut tanpa ada yang berani melerai nya dan mereka berdua kesulitan untuk mencapai pintu.
" Bibi bagaimana ini, Penuh sekali bagaimana cara kita sampai di pintu itu?"
Tanya Lie lie dengan tatapan ke orang yang berkerumun di depan nya.
" Sabar tunggu sebentar,"
Jawab Bibi Rose sambil sedikit menjauh dari Lie lie.
" Apa yang sedang Bibi lakukan?"
Tanya Lie lie dengan tatapan bingung melihat Bibi Rose.
Ternyata saat itu Bibi Rose sedang memasuk kan beberapa selimut rumah sakit kedalam baju nya agar terlihat seperti orang sedang hamil dan akan segera melahirkan lalu Bibi Rose duduk di kursi roda sambil memegang kain pel yang basah di tangan nya.
" Lekas dorong agar bisa melewati kerumunan itu,"
Perintah Bibi Rose dengan tatapan serius.
" Apakah Bibi yakin?"
Tanya Lie lie dengan tatapan bingung.
Saat itu Bibi Rose hanya menjawab dengan mengangguk tanda bahwa diri nya sangat yakin dengan apa yang di lakukan saat ini, Tidak butuh waktu lama Lie lie pun segera mendorong kursi roda di hadapan nya dengan penuh keyakinan.
" AWAS ORANG HAMIL MAU MELAHIRKAN, TOLONG BERI JALAN!"
Teriak Bibi Rose sambil memutarkan kain pel basah yang di pegang nya di atas kepala.
Alhasil yang tidak segera mengindar maka wajah nya terkena kain pel basah yang sengaja di putar di atas kepala Bibi Rose, Sedangkan Lie lie dengan ke kuatan penuh mendorong kursi roda agar segera tiba di balik pintu dan melihat siapa yang berkelahi saat itu.
Namu sial nya seperti nya Lie lie terlalu bersemangat mendorong kursi roda tersebut sehingga setelah menerobos pintu itu Lie lie masih saja berlari sambil berteriak untuk meminta tolong bagai mana menghentikan kursi roda tersebut.
" BIBI MANA REM NYA, KURSI RODA NYA TIDAK MAU BERHENTI!"
Teriak Lie lie dengan panik sambil masih mendorong kursi roda.
" LIE LIE KAKI MU YANG DI GUNAKAN MENGEREM, SEGERA HENTIKAN LARI MU!"
Teriak Bibi Rose yang mulai panik sebab kursi roda melaju sangat cepat di lorong yang jalan nya menurun.
" Sedang apa mereka berdua mengganggu ku saja!"
Ucap Achida lirih sambil memperhatikan Lie lie dan Bibi Rose yang sedang panik.
Sedangkan di ujung lorong Zhang sudah babak belur di hajar oleh Xaung Ghu pembunuh bayaran dan bila Lie lie dan Bibi Rose terlambat sedikit saja maka nyawa Zhang akan melayang di tangan Xaung Ghu atas perintah Achida.
Namun saat itu waktu nya sangat tepat dari arah belakang Xaung Ghu datang lah Lie lie dan Bibi Rose dengan wajah panik sebab mereka berdua melihat ada jendela yang terbuka di ujung lorong dan efek dari ulah mereka berdua adalah terjun dari lantai lima ke bawah melalui jendela yang terbuka.
Namun dengan sigap Bibi Rose segera mengaitkan kain pel yang basah itu ke sebuah besi yang tertempel di tembok lalu menarik tubuh nya dan Lie lie hingga terjatuh ke lantai sedangkan kursi roda yang di gunakan Bibi Rose terus berjalan menabrak Xaung Ghu dari belakang dengan keras.
Bisa di pasti kan yang terjadi Xaung Ghu terjatuh dan terduduk di kursi roda yang menabrak nya sangat keras bahkan samurai yang di pegang oleh Xaung Ghu terlempar keluar melalui jendela, Sedangkan Zhang sudah babak belur dan tergeletak di lantai.
Tanpa butuh waktu lama Bibi Rose bangkit dari lantai dan menghampiri Xaung Ghu untuk menghajar nya sedangkan Lie lie masih meringis kesakitan sambil memegang pinggang nya yang terbentur tembok dan besi pembatas.
Lalu apakah Bibi Rose mampu membekuk Xaung Ghu yang berniat menghabisi Zhang atas perintah Achida dan bagaimana nasib dari Achida apakah bisa meloloskan diri dari Bibi Rose dan Lie lie putri kandung nya sendiri dan apa yang akan di lakukan oleh Teky bila Achida bisa meloloskan diri saat ini?
Jangan pernah beranjak dari kisah ini dan temukan jawaban nya hanya di LIFE STORY TEKY KHOZIMA dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.
__ADS_1