
Perjalanan malam mereka di hutan masih berlanjut mereka berjalan bersama pak tua
yang memegang lentera, Lily yang sudah tidak merasakan hawa negatif terus berjalan bersama
guru dan teman sekelas. Sesaat kemudian ia sampai di sebuah gubuk mereka berhenti di depan
sebuah gubuk sederhana di depan ada obor api sebagai penerangan.
"Sekarang aku tidak bisa merasakan tanda-tanda keburukan pada lelaki tua itu," kata Lily pada
dirinya sendiri.
“Kita sudah sampai di bubuk aku ***,” kata lelaki tua itu.
"Kemari ayo masuk di luar dinginkalian bisa sakit," kata lelaki tua itu.
Pak Lubar memasang wajah curiga ke arah lelaki tua yang memegang lentera itu.
"Pak di sini saya hanya butuh jawaban,"ujar Pak lubar.
Tiba-tiba raungan yang mengerikan terdengar sangat keras, sehingga murid-murid pak Lubar
khawatir dan merasa terancam termasuk pada diri Pak Lubar itu sendiri.
"Suara apa itu, heehy anda ingin menjebak saya di sini bersama murid-murid saya," ujar pak
Lubar.
"Hahaha kekeras kepalaan tidak akan membuatmu aman, sebaiknya kalian menerima tawaranku
untuk masuk ke gubukku," kata lelaki tua itu.
"Ok saya akan masuk, bersama dengan murid saya,"ujar Pak Lubar.
"Ayo silahkan masuk."Pak tua membukakan pintu untuk mempersilahkan tamu nya untuk masuk.
Ketika mereka masuk, betapa terkejutnya mereka melihat sebuah kuali yang pernah digunakan
oleh para penyihir pada zaman dahulu, beserta berbagai isi toples seperti daging yang berlendir,
sehingga Pak Lubar berani bertanya tentang orang tua yang memegang lentera itu.
"Siapa anda?" tanya Pak lubar.
Saat itu terdengar jeritan teriakan dari salah satu teman kelas Lily sehingga ia pingsan.
"Aaaaa."Dian teriak melihat kerangka manusia yang terduduk di samping nya.
"Ooh sial."Pak Lubar menghampiri Dian yang tidak sadarkan diri.
"Dian kenapa?" Tanya Pak Lubar kepada murid-murid nya.
"Dian berteriak karena melihat tengkorak manusia,"ucap Mita.
"Tidak usah khawatir ***,kerangka manusia itu sudah ada sejak aku belum menempati gubuk ini
haha,"ujar Pak tua pemegang lentera.
Lelaki tua itu menggantungkan lentera yang dipegangnya di salah satu paku yang
terletak di dinding, lalu menyalakan pohon lilin yang terletak di atas meja dengan sebuah jentikan.Saat menyalakan api teman-teman Lily melihat nya secara terkagum dan tercampur rasa
takut.
“Saya datang ke sini bukan untuk mendengar tawa Anda, tetapi untuk mendengar jawaban ada
dimana murid saya,” kata Pak Lubar.
“Sekarang salah satu murid saya tidak sadarkan diri di tengah hutan,” kata Pak Lubar.
"Lebih baik kamu tidak bersuara, kita akan kedatangan tamu, karena teriakan muridmu semdiri," kata lelaki tua itu.
Dengan ucapan dari pak tua tersebut Pak Lubar memandang nya dia sudah tidak waras lagi, sebab
dia berfikir tidak akan ada seseorang yang kemari karena teriakan dari salah satu murid nya.
"Itu tidak akan mungkin seseorang akan datang,"ujar Pak Lubar.
__ADS_1
"Kamu lihat ke arah jendela,"ujar Pak tua.
Pak Lubar dan murid-muridnya menoleh ke belakang dan melihat seekor binatang yang
mengerikan seperti naga kemudian ditunggangi oleh sosok manusia seperti ksatria, tetapi memiliki
bentuk kaki yang tidak biasa, hanya memiliki tiga jari. Pada saat itu penyihir menggunakan
kekuatannya untuk memanipulasi tamunya agar tubuh mereka transparan serta suara mereka tidak
terdengar satu sama lain.Sementara penyihir tersebut merubah wujud nya menjadi seekor
tikus,Loly yang mulai merasakan ketakutan dia ingin teriak melihat kejadian yang tidak biasa,
Manusia ksatria itu berjalan mengarah gubuk kakek tua.
Pag!
Pintu yang ditendang dengan sangat kuat itu jatuh hingga tubuh Loly tertimpa oleh pintu tersebut
untung nya dari tranparan tubuh pintu itu tidak melukai badanya. Sosok itu masuk mencari
keberadaan suara jeritan manusia saat memasuki sosok ksatria wajahnya terbuka ke kiri dan ke
kanan, terlihat giginya berjajar menyamping dari mulut nya tersebut keluar sehilai pedang yang
terdorong keluar. Melihat kejadian ini Mita jatuh pingsan dan mengeluarkan suara, untungnya
karena kekuatan sang penyihir.
"Arghmm suara yang terdengar ada di sini,"ucap Sosok ksatria.
Sosok itu berjalan menelusuri ruangan, sesekali terdengar suara hantaman pukulan mengenai
lemari.
Brag!
Mereka takut dengan apa yang dilakukan sosok mengerikan itu, di saat sosok itu selesai mencari
pembuat suara jeritan wanita tanpa berlama-lama menemukan bentuk objek ia kemudian
gelombang suara tersebut,untung saja kekuatan yang tereselimuti ada di pada tubuh mereka dari kakek tua itu maka sosok ksatria sulit untuk melacak keberadaan sahababat-sahabat Lily. Sosok
ksatria itupun membalikkan dimensi ada pada diri dia bentuk alam kehidupan manusua sehingga
ia bisa kembali ke hewan tunggangannya.
Di saat keadaan kembali mulai aman penyihir yang bersembunyi di bawah meja tersebut
perwujudan tikus ia mengubah kembali tubuh nya menjadi manusia begitu pun ada pada tamu
rumahnya.
"Sepertinya itu tadik hampir saja dan itu sangat berbahaya,"ujar kakek tua.
"Ya itu hampir membunuh kami semua, sekarang beritahukan ke saya ada dimana murid saya dan
sebenarya apa yang terjadi di hutan ini dan sosok itu apa?"tanya pak Lubar.
Saat itu kakek tua itu menggunakan sihirnya untuk menggerakkan pintu agar bisa kembali ke
keadaan semula.
"Dari mana aku mulai memberitahumu?" Kakek tua itu duduk berhadapan dengan mereka.
"Hmm oke, salah satu dari kalian memiliki keistimewan, yaitu indigo," kata kakek penyihir.
"Ya, benar." Lily menjawab spontan.
"Oke, berikan aku tangan kananmu." Saat itu tongkat dari penyihir mendekati Lily dan Lily
terdiam.
"Kamu pegang tongkatnya," perintah kakek tua itu.
Saat Lily memegang tongkatnya Lily merasa ada energi yang masuk ke tubuhnya sehingga mata
__ADS_1
kanan Lily bersinar ungu orang yang di dekat Lily kaget melihat keajaiban terjadi pada Lily, sontak
mereka pun tertidur ketika usai melihat warna cahaya ungu.
"Apa itu." Ardi melihat kejadian itu seketika ia tertidur.
Lily yang masih dalam keadaan tersadarkan, melihat ke arah teman-temanya dalam keadaan
tertidur.
"Mereka kenapa?"tanya Lily.
"Kamu tidak usah khawatir mereka tidak akan kenapa-kenapa," jawab kakek.
"Dengar *** kamu mirip seperti muridku memiliki mata yang sama dan iblis sedang mencari itu
aku tidak ingin bangsa Orch pengawasan iblis akan mengambil kamu,lalu mengambil kekuatan
jimat ada pada mata kamu begitupun kamu harus menerima ada pada diri kamu,aku tau kamu
mengalami masalah yang sulit selama ini,"ujar kakek tua.
"Aku hanya bisa melindungi kamu untuk sekarang tapi untuk selalu berada di sisi kamu kakek
tidak bisa, seandainya murid ku ada di sisiku maka dia yang akan menjaga kamu tapi semenjak
300 tahun yang lalu aku sudah berpisah dengan muridku,"ujar kakek penyihir.
Tiba-tiba seekor kunang-kunang masuk di ruangan gubuk kediaman penyihir tersebut ternyata
suara dari penyihir tersebut terdengar oleh telinga dari Lisa.
"Hmm lisa muridku,"ucap Kakek penyihir.
"Ka'kamu?"Lily heran dengan kedatangan Lisa.
"Ia ini aku,"jawab Lisa
"Jadi sekarang kamu kembalilah ke perkempingan kamu lalu pulanglah,saya akan mengunakan
kekuatanku untuk mengirim kamu, mengenai hilang nya sahabat kamu berikan kakek sejenak
waktu untuk memulihkan kekuatan,agar bisa mengetahui keberadaan teman kamu yang hilang
akan kuberikan kabar melalui perasaan kamu,"ujar Kakek penyihir.
Saat itu juga kakek penyihir tersebut mengunakan kekuatan dia yang tersisa untuk memindahkan
mereka kembali ke perkempingan. Sesaat kemudian mereka tiba di depan api unggun dalam
keadaan terbaring, mereka terbangun seperti tidak mengingat apa-apa seolah mereka ketiduran di
depan api unggun.
"Duuh pingang aku seperti ingin remuk,"ujar Mily.
"Loh kita di tenda?"tanya Mita.
"Lah ia juga bukanya kita sedang mendengar ucapan dari pria tua,"ujar Loly.
"Hmm banyak hal aneh di hutan ini,”ucap Pak Lubar.
"Lily bukanya kamu tadik di katakan spesial oleh orang itu?"tanya Rian.
"Pria tua itu tidak memberikan jawaban untuk kita terhadap Arga,"Jawab Lily.
"Benar-benar pria tua yang mencurigakan,"ujar Pak Lubar.
Pak Lubar tidak langsung percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh penyihir tua itu ketika
nyawa mereka terselamatkan, Pak Lubar merasa makhluk itu hanya jebakan karena Lily adalah
indigo sehingga nyawa mereka bisa terselamatkan.
"Kalian sudah temukan Arga?" tanya Zaky.
"Belum," Jawab Mily.
__ADS_1
Saat itu suasana mereka semakin mencemaskan dan Pak Lubar mulai khawatir dengan
pekerjaannya, dia tidak bisa bertanggung jawab atas keselamatan murid-muridnya.