
Hari minggu 14/8/2016
Matahari telah menerangi wilayah dalam hutan, mereka menyusun rencana untuk menlanjutkan
pencarian Arga.
"Jadi rencana kita apa pak untuk bisa menemukan Arga,"ucap Rian
"Sekarang rencana nya kita akan tetap mencarinya, hanya saja nanti kita akan berpencar,"ujar pak
Lubar.
"Kita akan berangkat setelah kita membereskan tenda pagi ini,"ujar pak Lubar.
"Sekarang lakukan melipat tenda,"perintah pak Lubar.
"Baik Pak." Suara serentak siswa.
Saat itu mereka membereskan tenda mereka masing-masing. Bily yang keliatan sedih merapikan
barang-barang milik pribadi Arga berupa topi,serta komik, lalu di masukkan ke dalam tas milik
Arga.
"Semoga kamu baik-baik saja,"ujar Bily.
Beberapa saat kemudian
Semua tenda sudah di bereskan mereka menghadap ke pak Lubar.
"Semua sudah beres ayo kita lanjutkan mencari kawan kalian,"ucap pak Lubar.
Dalam perjalanan mula-mula mereka menuju ke tempat pertama kali melihat cahaya lampion di
malam hari, pak Lubar membagi menjadi 2 kelompok untuk mencari Arga, kemudian pak Lubar
mengeluarkan walkie talky di dalam tas tendanya.
"Kita sudah sampai di tempat ini kembali melihat cahaya lampion dan sekarang saya akan
membagi kalian menjadi 2 kelompok.Kelompok pertama yang ikut dengan saya,
Bily,Lily,Mily,Ardi,"ujar pak Lubar.
"Lalu kemudian kelompok ke dua, Rian,Zaky,Dian,Mita,Loly, untuk bertangung jawab
komunikasi dengan saya ialah Rian,"ujar pak Lubar.
"Gunakan alat komunikasi jarak jauh ini sebaik-baik nya hemat daya dan matikan di saat tidak di
butuhkan, bila ada sesuatu atau bahaya kalian bersembunyi lalu komunikasikan langsung dengan
saya, mengerti?"ujar pak Lubar.
"Mengerti pak,"jawab Rian
"Ok sekarang sudah pukul 7:00, saya akan pergi bersama teman-teman kamu ke gubuk yang
semalaman untuk mencari keberadaan kakek tua itu,sambil mencari tau keberadaan Arga,sementara kelompok kamu lurus ikut jalan ini kamu tau yang mesti kamu lakukan itu
apa?"tanya pak Lubar.
“Tau pak mencari Arga sampai ketemu,” Jawab Rian.
“Bagus, titik balik kita di jam 14: 00 siang, di tempat ini kita berkumpul semoga kalian baik – baik
saja, Rian ini tanggungjawab kamu kepada teman – teman kamu, sekarang kita membaca do’a lalu
kita berangkat,” ujar Pak Lubar.
Di saat mereka usai membaca do’a dan ingin berangkat Dian yang memegang kantong plastik
berwarna hitam mengeluarkan sebuah makanan kaleng.
“Tunggu!” ucap Dian.
“Semalaman aku ingin membagikan ini kepada kalian, ya karena aku terlanjur masak sup, jadi
daging kaleng ini aku simpan buat bekal makan pagi,”ucap Dian.
“ Kamu baik sekali, terimakasih,” ucap Pak Lubar.
“Makanan sudah dibagikan oleh teman kalian jadi ketika kalian ada waktu untuk istirahat
sempatkan diri untuk serapan, sekarang kita berangkat,” ucap pak Lubar.
Saat itu mereka melangkahkan kaki menjelajahi hutan untuk mencari keberadaan Arga. Dalam
perjalanan rombongan Rian berjalan lurus, sejauh mereka mencapai titik ujung jalan, rombongan
Pak Lubar kembali lagi ke gubuk yang mereka kunjungi semalaman untuk bertemu kakek tua yang
di anggap misterius bagi mereka, sesaat kemudian mereka telah sampai kembali, alangkah terkejut
nya yang apa mereka lihat di hadapanya gubuk kakek tua itu hancur berkeping – keping serpihan
kayu maupun atap menjadi berhamburan, pohon di sekitarnya ada di antaranya ada yang gugur
daunya, ada yang hangus terbakar.
“ Apa yang telah sudah terjadi disini?” Pak Lubar bertanya – tanya.
“Kakek itu?” Mily bertanya – tanya.
“Kalian tunggu disini, saya akan memeriksa tempat ini,”ucap pak Lubar.
Pak Lubar memerintahkan muritnya untuk menunggu sementara Pak Lubar berjalan menelusuri
di sekitar puin – puing bangunan gubuk yang telah hancur, Pak lubar yang sedang berjalan tak
sengaja ia nunduk melihat cairan seperti darah berwarnah hijau di sebuah serpihan batang kayu
tanpa sepengetahuan Pak Lubar ia menyentuhnya, Pak Lubar mendekatkan tanganya di hadapan
matanya.
“Apa ini,” Pak Lubar bertanya – tanya.
Pak lubar mengesek – gesekan cairan itu di kempat jarinya sehingga cairan itu menyerap ke dalam
pori – pori jari pak lubar lalu menjadi berwarna hijau seperti seseorang memegang tinta pulpen.
“Oh tidak,”keluh nya.
Pak Lubar merasakan ke lima jarinya menjadi mati rasa, dari jauh murit – murit nya
memperhatikan pak Lubar mengeluarkan kaos tangan dari saku celana nya sambil menahan
ketidak nyamanan ada di jari tangan sebelah kirinya pak Lubar memasang kaos tangan itu, saat itu
Pak Lubar kembali di hadapan muritnya.
“ Baik anak – anak bapa sudah mengecek wilayah ini bapa rasa tanda – tanda dari orang tua itu
tidak ada. Masih ada tempat yang belum saya cek disini yaitu di belakang gubuk ini semenjak kita
berada di sini pada malam hari saya melihat ada sebuah jalan di belakang gubuk jadi kalian tetap
ikut intruksi dari jangan ikut,”ucap pak Lubar.
Saat itu Pak Lubar kembali berjalan melewati puing – puing bangunan gubuk yang telah hancur
__ADS_1
berkeping – keping.
“Haaah aku bosan menunggu,” ucap Ardi.
“Baru kali ini aku kesini,” ucap Bily.
“Semalaman kita kesini, sebelum berada di tempat ini kita bertemu seorang kakek tua,”ucap Mily.
“ Maksud kamu ada kakek tua di hutan ini?” Bily bertanya – tanya.
“Ahh aku capek tidak ngapa – ngapain mendingan.”Ardi berdiri dari jongkokanya.
Ardi membersihkan telapak tanganya.
“Aku kepengen mengecek sekitar juga,”ucap Ardi.
“Heeeh jangan kemana – mana dulu sebelum pak Lubar kembali nanti kena marah lo,”ucap Mily.
“Pak Lubar masih belum pergi kemana – kemana tu sana.” Ardi menunjuk ke depan yang dimana
pak Lubar sedang memperhatikan di bawah telapak kakinya.
“Haah terzerah kamu,”ucap Mily.
Saat itu Mily dan Bily kembali melanjutkan pembicaraan mereka, sementara Lily hanya bisa
menyimak.
“Kamu bilang barusan ada kakek tua di hutan ini, kakek itu tinggal di gubuk ini?” Bily bertanya.
“Ia kakek itu tinggal di gubuk ini, eh aku rasa si kakek tua itu bukan manusia biasa, kemudian
kakek tua itu mengatakan kepada Lily spesial,” ucap Mily.
“Hah?, bukan manusia biasa bagaimana maksudnya?” Bily bertanya.
Saat itu pembicaraan mereka terpotong akibat Ardi memanggil.
“Hey guys kemari,” Ardi memanggil.
“Arghh kita di panggil, sebentar kita lanjutin bahasnya,” ucap Mily.
“ Aku mulai merinding di hutan ini,”ucap Bily.
Ardi berada di salah satu tempat puing hancurnya gubuk tersebut seperti dinding kayu yang
dimana ada cairan yang sama berwarnah hijau di tanah. Ardi menunduk sambil bertanya – tanya
dan ingin memegang nya.
“Kenapa?” Mily bertanya.
“Sini – sini lihat ada cairan berwarna hijau tapi cairan apa ini?” Ardi bertanya – tanya.
Di saat Ardi ingin memegang untung saja pak Lubar berbalik badan ingin memanggil mereka
berempat.
“Mereka sedang apa, atau jangan – jangan.” Dengan sigap Pak Lubar berlari menghampiri mereka
berempat.
“Jangan di sentuh,”perintah Pak Lubar.
Saat itu mereka berempat kembali berdiri sambil melihat ke arah guru mereka.
“Coba perlihatkan tangan kamu,”ucap pak Lubar.
“ Aku gak megang pak,”ucap Mily.
“Sama Pak Aku gak megang juga, tapi cuman dikit,”ucap Bily.
“Apa?” Pak Lubar bertanya – tanya.
Mily menyiku pinggang Bily.
“Ardi coba perlihatkan tangan kamu,”Perintah pak Lubar.
Ardi mengangkat tanganya untuk memperlihatkan ke mereka berempat.
“Sama Pak aku juga gak megang,”Ardi menjawab.
“Apa kalian tau cairan itu berbahaya?” Pak Lubar bertanya.
“Tidak Pak.”Ucap ketiga muritnya.
“Baguslah kalian tidak menyentunya dan kemudian sempat – sempatnya kalian ingin jadi bahan
bercanda hal seperti ini, cairan itu berbahaya ketika kalian memegang nya seumur hidup kalian
tidak bisa berbuat apa – apa lagi,” ucap pak Lubar.
“Maaf Pak,”ucap Mereka berempat.
“Adu-du kepalaku seperti mendengar kebisikan suara,” ucap Lily,
Saat itu Lily terjatuh terlungkuk di tanah sambil memegang kepala menahan sakit yang ia rasakan.
Mily yang melihat Lily bertanya ke Lily,
“Eh kamu kena Lily?” Mily bertanya.
Lily yang sedang di tanya oleh Mily tidak meresponya, dalam penglihatan batin Lily melihat
sebuah istana yang mengerikan yaitu istana iblis, lalu salah satu dari prajurit istana keluar dari
wilayah istana sambil menungangi seekor naga.
“Tadik itu apa? Lily bertanya – tanya.
“ Kamu kenapa si?” Mily bertanya.
“Haah,haah, Aku barusan melihat sesosok yang semalaman itu, mendatangi gubuk ini dia keluar
dari sebuah kastil,” ucap Lily.
Seketika kepala Lily kembali terasa sakit, sesosok yang mendatangi mereka semalaman berbalik
arah ketika mereka tiba kembali di api ungun setelah merasakan tekanan udara berasal dari gubuk
kakek tua.
“Aaaa aku tidak tau kenapa kepalaku tiba – tiba sakit banget,”ucap Lily
“Tunggu kalian masih ingatkan kita di dalam gubuk ini, dan cuman aku yang bisa kasi tau terhadap
kalian, pada waktu itu kalian tertidur,”ucap Lily.
“Sesosok monster itu yang sudah menghancurkan gubuk ini, hanya sampai situ yang aku bisa
tau,haah,haah cairan itu darah dia, tidak mungkinkan itu darah manusia,” ucap Lily.
“Darah?” Pak Lubar merasa heran.
“Ya bisa jadi dan sejak awal melihat ini bapa juga sudah merasakan ada yang tidak beres disini,
dan apa yang kamu katakan bisa jadi itu penyebabnya,” ucap Pak Lubar.
Pak lubar menyadari zona berbahaya tanpa sepengetahuan muritnya pak lubar ingin mengeluarkan
pistol di belakang sakunya, akan tetapi tangan yang mati rasa membuat pistol EAGLE berwarna
__ADS_1
silver terjatuh di tanah sampai – sampai muritnya terdiam melihatnya.
“Ardi tolong ambilkan dan kamu mengompanya,”Perintah pak Lubar.
Tretek!
“ Ini pak, ehm tapi pak tangan bapa kenapa?Ardi bertanya.
“Tidak usah kalian tau,”ucap Pak Lubar.
“Kali ini kalian tetap disini paham, sementara saya akan pergi mengikuti jejak darah ini,”Perintah
pak Lubar.
Pak Lubar mengikuti cairan berwarnah hijau itu dengan naluri kewaspadaan.
“Argh kamu jangan bercanda saat – saat seperti ini pura – pura sakit seperti itu,”ucap Mily.
“Aku tidak bercanda, itu yang terjadi di diri aku,”Jawab Lily.
“Ok kalian jangan berisik aku mau nyusul pak Lubar,”ucap Ardi.
Saat itu Ardi meninggalkan 3 teman sekelasnya untuk mengikuti pak Lubar dengan berlari, saat
itu juga Mily menyusul Ardi dan tidak ingin bersama Lily sehingga mereka berdua di tinggal di
tempat belakang gubuk kake tua yang telah hancur. Pak Lubar yang tadik nya sedikit berlari sambil
memegang pistol kini ia berjalan mengikuti jejak cairan berwarna hijau itu, sampai akhirnya pak
Lubar berhenti sebab terkejut melihat sesosok yang semalaman yang mendatangi mereka, Pak
Lubar ambil posisi bersembunyi di belakang pohon, pak Lubar memantaunya.
“Seperti yang dikatakan Lily ada benarnya, jika aku melihatnya dia sedang terluka area
perut,”ucap Batin pak Lubar.
Pak Lubar masih memantau nya di balik pohon.
“Apa jangan – jangan sesosok monster itu yang sudah mencuri Arga?”ucap Batin pak Lubar
bertanya.
Pak Lubar tidak menyadari kalau kedua muritnya ikut di belakang nya sehingga dapat masalah.
“ Dia lagi ngapain? Mily bertanya.
“Hah?, kenapa kamu ada sini dan Ardi juga ada sini?” Pak Lubar bertanya – tanya.
“Bapa sudah kasi tau kekalian berempat untuk tetap tunggu, Bily dan Lilty mana?” Pak Lubar
bertanya.
“Mereka masi ada disana pak,”ucap Mily.
“Argh kamu juga kenapa ikut – ikutan,”ucap Ardi.
“Argh lebih baik kalian berdua diam, jangan sampai membuat saya tambah marah kepada
kalian,”ucap Pak Lubar.
Dari suara yang mereka buat dengan kebisikan, sesosok monster kesatria itu mendapatkan sinyal
gelombang suara yang bernada kecil, dengan jarak yang dekat, sesosok itu menyadari kehadiran
mereka bertiga, lalu ia berdiri.
“Sebaiknya kalian berdua balik!,”Bentak pak Lubar.
Pada waktu muritnya ingin balik sesosok monster kesatria itu menghadang mereka, Pak Lubar
kembali ingin fokus kedepan betapa terkejutnya ketika sesosok itu sudah tidak ada di hadapanya.
“Mampus sesosok monster itu menghilang gawat.
“Aku menemukan mu gadis muda, akan kubawa kamu di hadapan lusifer sebagai bahan
sesembahan untuk ku,”ucap sesosok monster kesatria.
“To’tolong.”Mily terasa sesak di angkat oleh sesosok kesatria itu dengan cara leher di cekik
begitupun ada di diri Ardi.
Pak Lubar mendengarkan suara minta tolong itu, pak Lubar membalik badan dan melihat kedua
muritnya dalam keadaan di angkat leher kecekik.
“Sial.” Pak Lubar mengarahkan Pistolnya mengarahkan ketubuh sesosok monster kesatria itu yang
membelakangi pak Lubar.
Pada waktu pelepasan tembakan sesosok itu menghindar, untuk meringankan gerakan
menghindarnya sesosok itu melempar keduanya secara acak sehingga mereka berdua menabrak
batang pohon.
“ Jangan, hadapi aku makhluk jelek.”Pak Lubar bersikap siaga.
“Fokus,fokus,fokus,”ucap Batin Pak Lubar.
Pak Lubar menoleh kedepan yang dimana sesosok itu menghilangkan tubuhnya.
“Dia menghilang, tenang,tenang,”ucap Pak Lubar.
Sesosok kesatria itu mengoreskan pipi pak lubar memakai pedang yang ia pegang.
Sreet!
Pipi pak Lubar tergores lalu keluar darah.
“Haah,haah,hah,”pak lubar berdesis.
Saat itu sesosok kesatria itu kembali di hadapan pak Lubar ingin menusuk dadahnya, sementara
pak Lubar yang berusaha tenang dan sikap naluri membunuhnya maka ia tidak sengaja menembak
kepala sesosok monster kesatria itu.
Pak Lubar menarik nafas yang panjang dan menghembuskanya.
“Huuf,huff aku mendapatkanmu.”Pak lubar melepaskan tembakan yang kedua kalinya.
Peluru melaju melayang dengan cepat, sesosok monster yang sudah mengeluarkan pedang nya itu
terkena tembakan area kepala sementara ujung runcing pedang nya sudah sejengkal area jantung
pak Lubar. Sesosok itu terjatuh lalu ia gemetar seperti seekor ayam yang telah habis diris area
leher, pada waktu itu sesosok itu mati dengan wajah yang terbuka kesamping terlihat giginya
tersusun menyamping begitupun lidah nya menjulur keluar di susul cairan berwarna hijau yang
keluar dari area mulutnya. Pak Lubar membuka mata dengan perlahan, pandangan pak Lubar
memudar akibat kelelahan dan rasa sakit ada pada tanganya.
“Hah haha aku berhasil,”ucap Pak Lubar.
Pak Lubar terduduk di tanah sambil tangan kirinya di pangkuanya sementara tangan sebelah
__ADS_1
kananya berada di belakang badanya sebagai sandaran tubuh.