
Hari rabu tanggal 17/8/2016
Pukul 8:00
Seorang suster masuk ke dalam ruagan kamar Lily untuk melepaskan alat impus di lengan tangan
Lily,usai melepas impus Suster itu mendekat ke arah Lily untuk menyampaikan sesuatu.
"Selamat beraktifitas kembali, Dokter hari ini tidak masuk untuk menemani kamu ngobrol tentang
kesehatan kamu, yang terpenting aku ingin menyampaikan ke kamu yaitu istirahat selama tiga
hari di rumah,"ucap Suster.
"Aku masih bisa mendengar,"ucap Lily.
"Iya kamu masih bisa mendengar hanya sedekat ini menangkap suara, itu sangat beruntung hanya
kamu akan memakai sebuah alat yang sudah di beli oleh ayah kamu kemarin melalui dokter,”ucap
Suster.
"Permisi pak saya ingin melihat alat pendengar yang di berikan oleh dokter kemarin,"ucap Suster.
"Ow alat pendengar ya sebentar suster."Ayah Lily mencari tas bawaanya.
Saat ayah Lily sudah menemukan alat tersebut di dalam tas ayah Lily pun memberikanya ke suster.
"Suster ini dia alatnya,"ucap ayah Lily.
"Ini dia alat yang akan kamu pakai."Suster menaruhnya di atas tangan Lily.
Lily hanya terduduk tidak berkata apa-apa.
"Alat ini kamu bisa pakai seletah 3 hari berada di rumah, pesan dari dokter kamu tidak boleh pergi
kemana-mana di masa pemulihan,yang dokter khawatirkan terhadap kamu ketika kamu mendapat
gelombang suara keras dari luar sana seperti kebisingan suara melalui klakson kendaraan, atau hal
apapun itu bisa menyebabkan pendengaran kamu bisa menurun berujung fatal,"ucap suster muda.
Lily yang sudah mengetahui kondisi pendengaranya iapun sedikt termenung.
Waktu sekolah 8:20
Di ruangan kelas teman-teman Lily sedang mengobrol dalam keadan tidak ada tanda-tanda dari
guru mereka yang masuk.
"Dui kembalikan pulpen aku."Dian mengejar Dui.
"Huff Dui!,"Dian marah.
Dui kabur keluar kelas, saat Dui berada di luar kelas iapun masuk kembali dalam ruangan dengan
memasang wajah yang kaku tau-taunya ia tidak sengaja menabrak seorang guru BK.
"Guru BK,guru BK,"ucapan serentak.
"Sini pulpen aku kembaliin,"ucap Dian.
Dui melempar pulpen mengarah ke Dian.Saat Dui melempar ke bangku cewek di sebeleh kirinya
di bangku depan guru BK memperhatikanya lalu menundukan kembali kepala membuka absen.
"Ekhem siapa yang tadik melempar pulpen?"Guru Bk bertanya.
"Dui pak pulpen saya di ambil tadik,"ucap Dian.
"Dui naik kesini,"guru Bk memanggil.
Sontak suasana dalam kelas menjadi hening.
"Ia pak?"Dui menundukkan kepala.
"Kamu kenapa lempar-lempar pulpen seperti itu, saat guru kamu di dalam ruangan kelas?"guru
Bk bertanya.
__ADS_1
"Tadik saya mengembalikan pulpen Dian pak,"ucap Dui.
"Mesti dengan cara melempar begitu?"Guru Bk kembali bertanya.
"Tidak pak,"jawab Dui.
"Kamu ini berdiri di depan sini menghadap ke teman kamu, baik murit – murit aku sekalian hari
ini kita memasuki mata pelajaran BK yaitu mengenal diri dan perkembangan kepribadian.”Guru
BK menulis di papan tulis.
"Ok baik anak-anak sebelum saya memberikan materi langsung kepada kalian alangkah baiknya
saya akan mengecek jumlah kalian dalam kelas ini,"ucap Guru Bk.
Saat itu guru Bk melihat ke arah daftar hadir siswa, sekaligus melihat ke arah siswa, di saat guru
Bk tersebut melihat ke arah siswa ia mulai menemukan hal ganjil berupa 3 siswi yang sedang tidak
ada di dalam ruangan kelas IPS.
"Lily mana?"Guru Bk bertanya.
"Masih di rumah sakit pak,"Rian menyahut.
"Ok, Loly dan Mily?" Guru Bk bertanya.
"Mungkin terlambat masuk pak,"Rian menyahut.
"Aduu, bukanya dia jerah kemarin masuk ke ruangan Bk malah di ulang lagi perbuatan buruk dia,
betul-betul itu anak sudah buat masalah kemarin, malah terlambat masuk kedalam kelas lagi,"ucap
guru Bk.
"Pelajaran hari ini di tunda sebelum kedua teman kalian masuk ke dalam ruangan kelas ini, saya
tidak mau di antara teman kelas kalian kecuali Lily masih berada di luar kelas sementara kalian
belajar dalam kelas,"ucap Guru Bk.
"Untuk mempercepat pembelajaran kalian, untuk apa orang tua kalian membelikan handphone
cepat hubungi kedua teman kalian itu," ucap Guru Bk.
"Mita coba kamu hubungi teman dekat kamu itu, tanyain dimana mereka,"ucap Ardi.
“Punya teman masa gak peka pelajaran sendiri,”ucap Amanda.
“Iii sok amat kamu Amanda awas saja kamu,”ucap Mita.
“Malah ngobrol buruan.”Ardi kembali berucap yang terjongkok di dekat Mita.
"Iya,iya sabar."Mita mengangkat handphone.
Handphone Mily berdiring di dalam tas
Triing...tring.
"Tolong."Mulut Mily di perban.
"Mily ksmu nggak usah masuk ke dalam kelas hari ini, mendingan kita mendapatkan wajah awet
mudah memakai tumbal,"ucap Loly.
"Loly!" Ucap Mily.
Saat itu Loly membuka perban di mulut Mily.
"Awww, Haah,haah lu kenapa si Loly jadi aneh kayak gini?" Mily terheran.
"Kenapa aku?, hahaha karenaaku tau sebuah cara untuk mendapatkan wajah yang awet mudah
untuk mengalahkan Lily supaya Rian menjadi milik aku,"ucap Loly.
Di saat mendengar ucapan Loly, Mily makin tidak percaya dengan kelakuan sahabat dekatnya.
Mily melihat ke arah Loly kedua mata dia berwarna merah.
__ADS_1
“Kamu bukan Loly, Loly gak gini,"ucap Mily.
Loly yang masih berseragam sekolah membalik badan dan menghampiri Mily lagi dan
mengarahkan pisau ke arah pipih Mily dengan menempelkanya.
Pantulan wajah Mily terlihat melalui pisau.
"Dari kejadian kematian sahabat kelas aku bernama Mily, di situ aku merasa sedih mendingar nya
di waktu aku membuka grub WA,"ucap Lily dewasa.
"Kamu masih simpan rasa sedih orang seperti mereka?"Seseroang bertanya.
"Ya kenapa tidak, walaupun mereka pernah menyakiti aku setidaknya aku berharap orang seperti
mereka berubah,"jawab Lily.
Lily menjatuhkan abu rokok ke dalam asbak.
"Aku sedikit ingin bertanya kematian teman kamu apa yang kamu tau di saat kamu sudah
mengetahui jika salah 1 di antara teman kelas kamu mati?"seseorang bertanya.
"Kematian temang ok itu di tusuk area sasaran jantung dan aku tau melalui sahabat ghaib aku
bernama Lisa, ya itu sudah sedikit kasih tau tentang dia, bagiku Lisa istimewah buatku,"ucap
Lily.
"Hmm, jadi kematian teman kamu bernama Mily di sebabkan tusukan, jadi menurut aku menurut
berita di masa lalu melalui media tv hampir sama denga seseorang bernama Anson kemudian asalkan kamu tau pria itu suruhan dari ayah kamu semenjak kamu tulis seperti ini sekarang akibat
dari teman kelas kamu sendiri bernama Loly,”ucap seseorang.
Lily mengisap rokok kembali.
“Aku juga tidak terlalu sedikit tau perihal pria itu bernama Anson yang aku tau hanya melalu
teman kelas aku dulu pada waktu SMA bernama Dian katanya si itu tetangganya, kemudian ia
beritahukan ke aku informasi itu melalui video dari sesorang memakai sosial media, kalau soalan
dia suruhan ayah aku, itu belum aku tau dan aku akan cari tau sendiri,”ucap Lily dewasa.
Waktu kematian.
"Loly jangan!" Jerit Mily.
Di saat kematian Mily di tanganya, Loly pun tersadar dan melihat darah berada di tanganya saat
itu Lisa memperhatikan mereka berdua yang telah terjadi, Loly di penuhi rasa bersalah dan
pertanyaan ada pada diri dia yaitu pertanyaan kenapa?.
"Hiks Mily,Mily!!" Loly menjerit sedih.
"Tidak! aku akan membunuh diri aku sendiri, aku gak bisa melihat ini membunuh teman sendiri
Mily! , apa ia aku pernah membunuh seseorang lagi?"Loly bertanya.
Di saat itu Loly makin terpuruk dari apa yang ia lakukan secara tidak sadar.
"Tidaaak mendingan aku mati."Loly mencabut pisau.
Loly ingin melayang kan pisau ke arah diri dia, saat itu seorang nenek menghentikan tindakan dari
Loly.
"Kamu kenapa *** seperti itu untuk melukai diri kamu,"ucap seorang nenek.
"Hiks, aku gak mau hidup lagi,"ucap Loly.
“Ini karena kamu, akan ku bunuh kau,”Loly marah.
Loly bangkit dari jongkoknya lalu mengarah ke nenek tua itu, tindakan yang dilakukan oleh Loly
sia – sia yang dimana Loly di buat jatuh pingsan memakai sihir nenek tua itu.
__ADS_1
“Hihihi begitu mudah melakukan keburukan terhadap gadis seperti mu,”ucap nenek tua.