
Sebelumnya di Kediaman Broglie.... Louis, Duke Broglie yang sekarang sedang melihat-lihat berkas-berkas dokumen yang telah menumpuk di meja ruang kerjanya, dan tanpa di sadari, Louis pun teringat dengan percakapannya dengan Duke Muda Broglie. Lalu, Louis menyuruh sekretaris sekaligus kepala pelayan nya, Philip Seymour untuk memanggil Sena di kamarnya yang berada di lantai 2 kediaman.
"Philip, suruh Sena kemari, ada yang ingin aku bicara dengannya." Pinta Duke Broglie sambil meletakkan kembali surat undangan tersebut.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Philip yang langsung pergi menuju kamar Sena di lantai dua.
"Tok tok tok." Bunyi ketukan pintu.
"Ya? Siapa?" Tanya Sena pada orang yang telah mengetuk pintu kamarnya.
"Ini saya, Nona, Philip." Jawab Philip.
"Oh, masuklah, ada masalah apa?" Tanya Sena lagi.
"Nona, Yang Mulia menyuruh anda untuk datang ke ruangannya segara." Ucap Philip masuk ke kamarnya Sena dan menyampaikan pesan dari Duke Broglie.
"Ayah memanggilku? Kira-kira ada apa ya?" Tanya Sena pada sekretaris ayahnya.
"Saya tidak tau, Nona. Saya hanya bertugas untuk menyampaikan perintah yang telah disampaikan oleh Yang Mulia pada saya." Ucap Philip menjelaskan.
"Hmm... Baiklah aku akan segara kesana." Ucap Sena pada Philip.
"Baik, Nona, saya akan menunggu di depan." Ucap Philip sambil menunggu di depan pintu.
"Lise, bantu aku ganti pakaian." Ucap Sena pada dayang pribadinya.
"Baik, Nona." Ucap Lise yang sedang membuka ikatan yang ada di gaun Sena.
Beberapa menit kemudian Sena telah selesai berganti pakaian dan langsung pergi menuju ruang kerja ayahnya, Duke Broglie dengan di temani oleh Sekretaris sekaligus kepala pelayan dan dayang nya.
"Tok tok tok." Bunyi ketukan pintu.
"Siapa?" Tanya Duke Broglie pada seseorang yang telah mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Ini, saya, Yang Mulia." Pinta Philip.
"Oh, Masuk." Ucap Duke Broglie menyuruh sekretarisnya untuk masuk sambil menyelesaikan berkas-berkas dokumen yang tersisa 6 lembar lagi.
"Yang Mulia, Nona sena sudah datang dan sekarang beliau ada di depan." Pinta Philip.
__ADS_1
"Suruh dia untuk masuk, dan bilang pada pelayan untuk menyediakan teh dan cemilan." Ucap Duke Broglie yang masih mengurusi 3 lembar dokumen yang tersisa.
"Selamat siang, Yang Mulia, apa anda memanggil saya?" Tanya Sena sambil membungkuk memberi salam.
"Ya, duduklah dulu aku akan segera menyelesaikan ini." Ucap Duke Broglie yang terlihat sedang membaca berkas-berkas dokumen itu yang tersisa 2 lembar lagi dengan teliti.
"Tok tok tok." Bunyi ketukan pintu.
"Masuk." Ucap Duke Broglie menyuruh seseorang untuk yang mengetuk pintu ruang kerjanya untuk masuk.
"Yang Mulia, ini teh dan kudapan yang anda minta." Ucap seorang pelayan datang sambil mendorong gerobak makan.
"Letakkan di meja sebelah sana, dan segara keluar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan anakku." Ucap Duke Broglie yang masih mengerjakan berkas-berkas dokumen yang tersisa 1 lagi.
Setelah Louis berbicara seperti itu pelayan tersebut itu pun langsung pergi dengan membungkukkan dirinya sebagai tanda hormat.
"Baiklah, Sena, aku tau kau dan Duke Muda Verita berhubungan baik sejak masih dalam kecil, tapi ada aku ingin hubungan yang pasti karena ini menyangkut kepentingan keluarga kita." Ucap Duke Broglie memulai pembicaraan.
"Zidan? Kenapa kita tiba-tiba membicarakan dia, Yah?" Tanya Sena bingung.
"Aku berniat untuk menikahkan mu dengan Duke Muda Verita 2 tahun lagi, tapi sebelum itu aku ingin kau dan Zidan melakukan pertunangan dulu, itu berfungsi sebagai pengikat hubungan kalian berdua." Ucap Duke Broglie yang tanpa tau perasaan anak perempuan satu-satunya.
"A-a-ap-ap-apaaaa?!!!!! A-aku d-d-d-d-dan Zidan melakukan p-p-pe-pertu-pertunangan??!!! Apa Ayah yakin dengan ucapan ayah itu?" Tanya Sena kelagapan karena terkejut setelah mendengarkan apa yang ayahnya kata kan dan wajahnya pun ikut memerah.
"Eemm... K-kalau kau tidak suka itu aku akan bicara pada Duke Muda Verita untuk membatalkan rencananya itu." Ucap Duke Broglie masih di landa kebingungan akibat wajah anaknya yang tiba-tiba berubah jadi merah padam.
"Hah? Ti-tidak! Aku tidak masalah dengan pertunangan itu. A-aku... Aku..." Ucap Sena gugup.
"Ya? 'Aku' apa?" Tanya Duke Broglie penasaran.
"Aku... Sebenarnya aku juga me-menyukai Zi-Zi-Zidan." Ucap Sena dengan nada pelan sehingga ayahnya, Duke Broglie tidak bisa mendengar kata dengan jelas apa yang di katakan oleh anak perempuannya dan seketika itu juga wajah Sena langsung berubah menjadi warna merah yang padam lagi.
"Apa? Aku tidak bisa mendengar apa saja yang kau bicarakan, suaramu terlalu kecil anakku." Ucap Duke Broglie sambil menempelkan tangannya di telinganya untuk menangkap ucapan anaknya.
"A-aku bilang, a-aku juga me-menyukai Zi-Zi-Zidan." Ucap Sena yang masih gugup dengan nada yang sedikit tegas.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu aku akan mengirimkan surat ke Kediaman Verita saat ini juga." Ucap Duke Broglie yang senang karena anaknya setuju untuk melakukan pertunangan dengan Duke Muda Verita dan langsung menyuruh anaknya untuk kembali ke kamarnya.
"Kalau begitu kau boleh kembali sekarang, Sena. Aku akan memberitahu ibumu saat makan malam nanti." Ucap Duke Broglie.
__ADS_1
"Ta-tapi kan Keluarga Count Castina juga ikut makan bersama kita di ruang makan, Yah, aku takut nanti akan ada rumor mengenai pernikahanku dengan Zidan, lalu nanti Zidan merasa tidak nyaman dan memutuskan hubungannya denganku bagaimana? Aku tidak mau hal itu terjadi, Yah." Ucap Sena sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Tidak apa. Hal itu tidak akan terjadi sebelum kau bertunangan dengannya terlebih dahulu." Ucap Duke Broglie berusaha meyakinkan anaknya untuk bersikap sedikit terbuka.
"Baiklah, kalau ayah bilang seperti itu lakukan saja, aku akan mengikuti semua prosesnya dari awal sampai akhir." Ucap Sena sambil berdiri dan pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.
Di saat yang bersamaan... Duchess Broglie pun terbangun dari tidur panjangnya dengan sendirinya yang oleh akibat racun bunga wisteria yang di ciptakan oleh Tuan Putri Ellie untuk membunuhnya saat di sedang berpergian menuju wilayah kekuasaan orang tuanya.
"A...a...air.." Ucap Duchess Broglie pelan.
"Air..." Ucap Duchess Broglie lagi dengan suara pelannya.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Suara batuk Duchess Broglie yang terdengar sangat kering itu pun di dengar oleh para pelayan yang sedang istirahat menunggu Duchess sadar dari tidur panjangnya.
"Prank..." Suara nampan jatuh karena mendengar suara batuk Duchess Broglie.
"Astaga, Nyonya akhirnya anda sadar."
"Cepat panggilkan Tuan Duke dan dokter, sekalian bawakan air untuk Nyonya minum." Ucap Anne panik.
"Ti...tidak. Jangan... pang...gil Lou..is." Ucap Duchess Broglie dengan nada pelan dan lemah.
"Baik, Nyonya kami tidak akan panggil, Tuan Duke." Ucap pelayan lainnya.
"Uhuk.... Uhuk... Uhuk...." Suara batuk Duchess terdengar semakin kering.
"Air! Mana Airnya! Cepat bawakan air untuk Nyonya." Ucap para pelayan panik lagi.
"Ini, disini airnya." Ucap pelayan yang bertugas untuk mengambil air untuk Duchess Broglie minum.
"Ini airnya, Nyonya. Silahkan minum perlahan." Ucap pelayan itu sambil membantu Duchess Broglie minum air.
"Te...terima ka...sih." Ucap Duchess Broglie yang masih terbaring lemas di kasurnya.
"A...aku mau ke...keluar. Bawa... aku... keluar..." Ucap Duchess Broglie berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Tidak, Nyonya, anda harus banyak-banyak beristirahat. Tubuh anda masih lemas." Ucap Anne yang menahan Duchess Broglie untuk tidak bangun dari tempat tidurnya.
"A...aku.. aku harus ke...luar. Wa...waktuku su...sudah tidak ban...yak lagi..." Ucap Duchess Broglie yang tetap bersih kekeuh ingin keluar.
__ADS_1
"Apa maksud anda 'waktu anda tidak banyak' Nyonya?" Tanya Anne yang berdiri di sampingnya.
"Ha...hanya... sebentar saja.... ku... ku mohon...." Ucap Duchess Broglie sambil memegang tangan pelayan itu dan terperosok jatuh ke lantai kamarnya yang dingin.