Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran

Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran
Chapter 37: Eileen Pearce (1)


__ADS_3

"Sudah, tidak apa Ian. Itu bukan salahmu juga. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu karena sudah mengatakannya kurang jelas." Ucap Terraria ikut menunduk.


"Baiklah, anggap permintaan maafnya sudah selesai. Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan kita, jangan biarkan Tuan Putri Lea menunggu kita terlalu lama." Ucap Duke Muda Verita sambil melanjutkan perjalanannya.


Perjalanan yang sangat panjang dan memakan waktu lebih banyak membuat Ian merasakan sakit di pinggangnya, melihat hal itu Athanasia khawatir dan memberhentikan langkah kakinya dan spontan Ian pun juga ikut berhenti "Kakak, apa kakak baik-baik saja?" Ucapnya.


Ian yang tahu bahwa adiknya sedang mengkhawatirkan dirinya mencoba untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja serta memaksakan dirinya untuk memperlihatkan kepada adiknya bahwa dia bisa beraktivitas seperti biasanya.


Melihat hal itu Athanasia tahu bahwa kakaknya sedang mencoba untuk menghiburnya tapi hal itu tidak berhasil untuknya adiknya yang mendapatkan julukan 'Putri Sedingin Es'. "Uhhh... Baik apanya?! Kakak saja tidak bisa merenggangkan tubuh kakak dengan benar, apa itu yang dinamakan dengan 'baik-baik saja' kak? Jangan mencoba untuk menghiburku dengan mengatakan bahwa 'kakak, baik-baik saja' kak. Orang biasa yang melihat pun akan tahu kalau kakak merasa sangat kesakitan."


Mendengar hal itu seakan-akan Ian merasakan seperti sedang ditusuk menggunakan pedang oleh adiknya sendiri. "Kau sangat kejam, Athaya." Jawabnya sedih. Athanasia yang mendengar hal itupun hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku kakaknya yang terlihat seperti anak anjing itu.


Merasa bahwa ada yang mengganjal Duke Muda Verita pun langsung melihat kebelakang, dan benar dugaannya bahwa kedua kakak beradik itu tidak ada dibelakangnya. Karena khawatir Zidan dan Terraria pun mencari mereka dan berkat bantuan dari sinar bulan akhirnya mereka pun menemukan mereka yang mana saat itu mereka sedang berbicara di bawah pohon akasia.


Merasa kesal Zidan pun angkat bicara. "Apa yang kalian lakukan disini? Cepatlah sebentar lagi kita akan sampai!" Katanya. Mendengar ucapan Zidan yang seperti itu Athanasia hanya bisa kesel. "Apa yang kau maksud, hah?! Apa kau tidak lihat kalau kakakku sedang kesakitan akibat kau yang menyikutnya tanpa mengetahui apakah ada bekas luka disana atau tidak?!" Bentaknya sebagai bentuk pembelaan untuk kakaknya.


Melihat perdebatan terjadi diantara teman-temannya, Terraria pun berusaha untuk memisahkan mereka. "Cukup, kalian berdua! Ian sedang terluka tidak ada gunanya berdebat disaat seperti ini, sebaiknya kita cari tempat penginapan yang tidak begitu jauh disini lalu kita obati luka Ian dan begitu fajar tiba kita akan bergerak." Mendengar hal itu Athanasia dan Zidan pun memutuskan untuk menghentikan perdebatan yang tidak ada gunanya itu dan setuju untuk mencari penginapan terdekat.


"Disana, penginapan itu tidak terlalu jauh dari sini dan letaknya juga tidak begitu jauh dari Theodore Roosevelt, kita bisa beristirahat disana sambil mengobati luka kakakmu, dan begitu pagi tiba kita akan langsung berpindah menggunakan batu teleportasi." Ucap Duke Muda Verita sambil menunjuk sebuah penginapan tua yang tidak jauh dari mereka.


"Ide yang bagus." Ucap Terraria.


"Baiklah ayo kita bawa Ian kesana, kalau terlalu lama lukanya dibiarkan begitu saja ian bisa terkena infeksi lalu berujung pada kematian." Jelasnya.


Setibanya di penginapan tua itu mereka pun melakukan reservasi pada pemilik penginapan tua itu. Dan tidak lama kemudian mereka berempat dikejutkan oleh Eugeo yang saat itu sedang menuruni anak tangga penginapan untuk meminta makanan untuk adiknya kepada salah satu pelayan disana. Sontak hal itu membuat mereka terkejut dan secara tidak langsung membuat mereka berteriak berbarengan "Wouh!! Eugeo?! Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya. Mendengar suara yang tidak asing lagi baginya, Eugeo pun menoleh kebelakang dan terkejut melihat keadaan mereka yang sangat memprihatinkan "Kalian?! Apa yang kalian lakukan disini? Lalu apa yang terjadi pada Ian?"


"Eugeo apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya ada di Theodore Roosevelt bersama Tuan Putri Lea??" Tanya Terraria dengan nada lantang sehingga para pelanggan disana menengok ke arahnya.


"Sstt!! Kecilkan suaramu, Terra. Banyak mata yang melihat dan telinga yang mendengar di sini. Apa kau lupa kalau kita ini termasuk buronan yang sedang dicari-cari?" Ucap Eugeo pada keempat temannya. "Maaf." Ucap mereka meminta maaf.

__ADS_1


"Tidak masalah, jadi apa yang terjadi pada kalian? Bagaimana bisa Ian jadi seperti ini??" Tanya Eugeo yang dari memperhatikan keadaan Eugeo yang tidak baik. "Ceritanya panjang, akan kami ceritakan nanti bagaimana kalau kita ke kamarmu terlebih dahulu? Lukaku harus segera diobati." Tanya Ian merintih kesakitan. "Hahaha maaf maaf, ayo kita pindah, kebetulan sekali kamarku ada di lantai 3 penginapan ini. Ayo." Ajak Eugeo.


Setibanya di lantai tiga penginapan Zidan yang merasa ada yang mengganjal hatinya mulai merasakan kekhawatiran yang tidak biasa sehingga menanyakan keberadaan Sena pada Eugeo secara tiba-tiba "Ngomong-ngomong dimana Sena, aku tidak melihatnya dari tadi? Apa dia bersamamu, Eugeo?"


"Benar, sejak kita tiba disini Sena sama sekali tidak terlihat. tidak terjadi sesuatu yang buruk dan menimpanya kan?" Sambung Athanasia.


Mendengar hal itu Eugeo pun hanya bisa terdiam mengingat kembali bagaimana keadaan adiknya yang saat ini sedang terbaring lemas di ranjang penginapan tua. Merasa heran Zidan pun menanyakan hal itu sekali lagi diikuti oleh Terraria, Athanasia, dan Ian yang ikut penasaran. Kalah oleh rasa penasaran mereka Eugeo pun mulai bicara dengan nada yang sangat sedih "Ya, Sena.... saat ini dia sedang terbaring lemas di kasurnya." Ucapnya lirih.


Mengetahui hal itu Zidan pun panik tidak karuan "Tidak mungkin... Apa Sena baik-baik saja?" Tanyanya. "Ya, dia baik-baik saja hanya ada beberapa luka dan memar saja dibadannya, tapi saat ini dia masih belum sadarkan diri. Mungkin dia terlalu memaksakan dirinya saat bertarung." Jawab Eugeo. "Syukurlah kalau kau bilang begitu." Jawab Zidan lega.


"Nah kita sudah sampai, ini kamarku dan disampingnya adalah kamar Sena." Ucap Eugeo sambil menunjuk ke arah kanan kamarnya. "Kalian lihat saat ini Sena sedang tertidur setelah meminum obatnya." Ucap Eugeo sambil memperlihatkan keadaan Sena pada keempat temannya dari celah pintu yang terbuka sedikit.


"Syukurlah, tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Kalau dilihat dari kondisinya saat ini, sepertinya dia telah menghabiskan seluruh tenaganya untuk bertarung dengan seseorang yang dia kenal." Tanya Zidan. "Ya, di dunia ini tidak ada yang namanya kepercayaan kalau sudah menyangkut tentang kekuasaan. Seperti yang kalian tahu keluarga kami juga diserang oleh mereka bahkan keluarga kami dituduh melakukan pengkhianatan terhadap Kekaisaran oleh Yang Mulia Pangeran Michael."


"Saat itu kami kira bahwa kami akan baik-baik saja kalau kami mengatakan yang sebenarnya pada mereka bahwa kami tidak melakukan pengkhianatan apapun terhadap Kekaisaran ini, tapi siapa yang menyangka kepala pelayan kami Lilian York- Bukan Lilian Ashley Lawson Bates ternyata bersekongkol dengan Yang Mulia Putri Quinella dan Yang Mulia Pangeran Michael hanya untuk sebuah kekuasaan saja."


"Keluarga Viscount Lawson Bates sudah sejak lama seperti itu. Demi mendapatkan kekuasaan mereka rela menjual kepercayaan dan loyalitas mereka kepada orang lain. Hal itu bukan lagi hal yang baru terjadi di Kekaisaran ini, tapi kita yang sangat menjunjung tinggi loyalitas dan kepercayaan kita terhadap Kekaisaran sudah seharusnya kita menyelesaikan hal itu." Jawab Terra yang sudah mengetahui hal itu sejak lama.


"Zidan, tenanglah, sekarang Sena baik-baik saja, apa kau lupa kalau Sena itu sangat berbakat dalam system call dan seni pedang? Bahkan dia sampai dijuluki sih 'genius dari laut timur' jadi dia tidak akan kalah begitu saja." Ucap Eugeo memuji adiknya.


Setelah mendengar hal itu hati Zidan yang tadinya dipenuhi oleh amarah pada keluarga Lawson Bates dan Yang Mulia Pangeran Michael perlahan reda.


"Baiklah kembali ke topik awal kita, apa yang membuat kalian datang kemari?" Tanya Eugeo. "Ya, seperti yang kau lihat, saat ini Ian sedang terluka jadi kami mau tidak mau harus mencari tempat bermalam untuk mengobatinya, dan kebetulan penginapan ini begitu tidak jauh dari kami berada. Sehingga kami memilih kemari untuk bermalam sekalian mengobati lukanya tapi siapa yang mengira kalau kita akan bertemu di sini." Jelas Athanasia.


"Kau benar." Ucap Eugeo sembari membantu Ian duduk di kasurnya, sementara Terraria mencoba untuk mengobati luka di punggung Ian yang terbuka. "Andai saja kami tidak cepat menemukan penginapan ini, entah bagaimana kami bisa menolongnya. Mungkin kalau kami telat sedikit saja bisa-bisa nyawa Ian akan terancam." fokusnya.


"Yang Terra katakan benar. Maaf kalau kami membuatmu terkejut, Eugeo. Kami tidak bermaksud seperti itu." Ucap Ian yang masih mencoba untuk menahan rasa sakitnya. Dengan perasaan iba Eugeo pun segera memapah Ian ke tempat tidurnya. "Tidak. Tidak apa Ian, lagipula aku sama sekali tidak terkejut. Kalau begitu aku permisi dulu, aku ingin melihat keadaan Sena." Ucap Ian sambil pergi ke kamar sebelah. "Ya, beritahu kami kalau Sena sudah sadar ya." Pinta Athanasia. "Tentu."


Begitu Eugeo keluar dari kamarnya, salah satu dari beberapa orang tersebut dari lantai yang sama dengannya tidak sengaja menyenggol Eugeo. "Astaga, maafkan. Saya tidak sengaja." Ucap orang itu. "Tidak apa, sayalah yang tidak memperhatikan jalan. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya Eugeo sambil meneruskan langkah kakinya. Belum dia mulai melangkah orang-orang yang tadi menyenggolnya tiba-tiba saja mengatakan beberapa hal yang mengejutkan baginya. Eugeo pun terpaku dengan kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh orang tersebut, tapi itu tidak menghalanginya untuk melihat keadaan adiknya yang masih terbaring lemas di kamarnya.

__ADS_1


Setelah kembali dari kamar Sena terlihat sangat jelas kalau dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya


Terkejut melihat wajah Eugeo yang pucat Athanasia, Zidan, Terra, dan Ian pun menghampiri Eugeo yang saat itu berdiri di depan pintu kamarnya dan berkata. "Eugeo, ada apa? Apa Sena baik-baik saja?" Terkejut mendengar hal itu lamunan Eugeo hilang begitu saja. "Ya? Owh... Sena baik-baik saja, dia masih tidur. Hahaha." Ucap Eugeo asal bicara.


"Syukurlah, tapi ada apa dengan wajahmu itu? Kau seperti habis melihat monster saja." Tanya Athanasia penasaran. "Itu... saat aku ingin ke kamarnya Sena aku tidak sengaja menabrak mereka..." Jelasnya. Belum selesai Eugeo bicara Ian dan Athanasia sudah bicara lebih dulu. "Apa kau diancam olehnya?" Ucap Athanasia dilanjutkan oleh kakaknya. "Apa dia bilang dia akan meminta ganti rugi padamu?" Eugeo yang mendengar itupun merasa bingung "Apa yang kalian bicarakan?? Apa kalian kira aku orang yang mudah digertak?"


"Ugh... maafkan kami. Kalau begitu apa yang terjadi setelahnya?" Ucap Athanasia. "Ya, Setelah itu salah satu dari mereka mengatakan sesuatu yang aneh. Seperti.... rumor yang mengatakan bahwa akan diadakan eksekusi mati didepan umum untuk para orang tua kita, pesta dansa, dan.... pengumuman pengangkatan Kaisar baru. Itu semua akan dilakukan dua hari dari sekarang hingga malam tiba." Ucap Ian lirih.


Mendengar hal itu mereka semua pun tertegun hingga mereka tidak sadar dengan kedatangan Sena tepat di belakang Eugeo secara tiba-tiba. "Eksekusi mati?? Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu pada orang yang telah mereka bunuh dengan keji?!!" Ucap Sena. "Sena, apa yang kau lakukan disini? seharusnya kau tidur saja di kamarmu. Lihat lukamu masih belum sembuh, bagaimana kalau lukamu terbuka nanti?" Ucap Eugeo panik.


"Aku baik-baik saja kak. Kakak tidak perlu khawatir." Ucap Sena dengan nada tenang dan anggun. Eugeo yang mendengar hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya sambil mengelus dadanya "Haah... Baiklah kalau kau bilang begitu." "Jadi, apa itu benar? Apa Tuan Putri sudah mengetahui tentang rumor itu?" Tanyanya. "Dilihat dari kecepatan rumor ini tersebar aku yakin beliau pasti sudah mengetahuinya."


Suasana di kamar itu perlahan-lahan semakin suram bagaikan langit tanpa bulan dan bintang yang menyiraninya, bagaikan jalan tanpa lampu, dan bagaikan matahari tanpa cahayanya. Zidan pun berusaha untuk mencairkan suasana suram itu dengan mengatakan "Saat fajar tiba, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Sepertinya Tuan Putri sudah menunggu kita terlalu lama. Ada banyak hal yang harus kita diskusikan tentang hal ini dan hal lainnya bersama beliau." Ucapnya.


Waktu terus berjalan dan fajar pun tiba, mereka segera mengemasi barang-barang mereka dan bersiap untuk meninggalkan penginapan itu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju Theodore Roosevelt tanpa hambatan sedikitpun.


Sementara itu di Theodore Roosevelt....


"Fira, mereka telah datang." Teriak Ivy yang saat itu sedang menjemur pakaian mereka. Tuan Putri Lea yang mendengar hal itu segera bergegas menuju halaman Theodore Roosevelt. "Akhirnya... Akhirnya mereka datang juga. Terima kasih ya Dewi." Ucapnya sambil menangis melihat kedatangan teman-temannya.


Beberapa menit setelah mereka tiba di Theodore Roosevelt, mereka segera disuguhi dengan berbagai macam makanan dan minuman oleh Ivy. "Jadi, Bagaimana kabar anda Tuan Putri? Semoga anda baik-baik saja." Ucap Zidan memulai percakapan.


"Aku baik-baik saja, terlebih aku ingin mengatakan satu hal ini pada kalian. Tolong jangan panggil aku 'Fira' saja. Ah, lalu aku juga sudah menyiapkan nama samaran untuk kalian semua." Ucap Tuan Putri Lea. "Tiba-tiba? Ada apa memangnya Tuan- maksud saya Fira." Ucap Eugeo bingung.


Luca saat itu yang ikut berkumpul dengan mereka merasa tidak dianggap hingga dia mulia angkat suara dan mengingatkan mereka. "Ekhem. Sepertinya kalian lupa kalau aku ada disini ya?" Ucapnya sambil menikmati makanan yang ada didepan matanya. Terkejut dengan ucapan Luca, Zidan yang saat itu duduk di antara Lea dan Sena pun tersadar bahwa di telah secara tidak sengaja mengabaikan satu temannya. "Tidak, kami sama sekali tidak lupa denganmu, Luca." Ucapnya. Luca yang melihat bahwa Zidan berbohong padanya mulai memancing dia untuk mengatakan yang sebenarnya. "Lalu kenapa kalian mengabaikan ku tadi?" Tanyanya balik.


Zidan yang mengetahui hal itu terpaksa mengatakan yang sejujurnya. "Kami tahu bahwa kau baik-baik saja tanpa harus menanyakan hal itu padamu, Luca." Jelasnya. Luca yang keheranan pun bertanya kembali. "Benarkah?" Ucapnya kembali. "Ya."


Lea yang berada disitu merasa pusing dengan percakapan ambigu itupun memotong percakapannya secara sepihak.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. kita lanjut pembahasan kita." Zidan dan Luca yang saat itu masih berdebat karena masalah sepele langsung terdiam begitu Lea berbicara.


"Aku sudah dengar apa yang telah terjadi di ibukota. Dan aku juga sudah memutuskan untuk mengirimkan surat kepada Raja dari Kerajaan Eileen Pearce saat ini." Jelas Tuan Putri Lea pada teman-temannya.


__ADS_2