Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran

Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran
Chapter 25: Ritual Integrity Knight Synthesis


__ADS_3

"Bagus, sekarang ikuti perkataan ku. System Call:...." Ucap Yang Mulia Putri Quinella dan sambil membelai rambut yang berwarna ungu muda milik Tuan Putri Ellie dan sambil menuntun anaknya mengucapkan sebuah mantra yang berfungsi untuk menghapus inti perlindungan pada diri seseorang/ memanipulasi pikiran seseorang.


"System Call:..." Ucap Tuan Putri Ellie mengikuti dengan perlahan.


"Remove Core Protection." Sambung Yang Mulia Putri Quinella yang masih membelai rambut ungu muda anaknya.


"Remove... Core... Protection." Ucap Tuan Putri Ellie perlahan mengikuti.


Setelah Tuan Putri Ellie mengucapkan mantra penghapusan inti perlindungan diri, keluar cahaya berwarna ungu kehitaman dari tubuhnya yang menandakan bahwa ritual yabg di lakukan oleh Yang Mulia Putri Quinella telah berhasil. Setelah cahaya ungu kehitaman itu hilang, Tuan Putri Ellie pun sadarkan diri dan langsung memberi hormat kepada ibunya layaknya seorang ksatria yang baru saja di angkat secara resmi untuk menjadi seorang ksatria sejati.


"Bagus mulai sekarang kau adalah Integrity Knight Systhensis pertama. Tugas pertamamu adalah mencari kelemahan Lea dan keluarganya, lalu saat kau datang ke pemakaman Duchess Broglie bersikaplah layaknya seperti seorang 'Tuan Putri' kau mengerti?" Tanya Yang Mulia Putri Quinella.


"Baik, saya mengerti, Yang Mulia." Ucap Tuan Putri Ellie yang masih memberi hormat kepada ibunya.


"Baiklah kau boleh kembali ke kamarmu." Pinta Yang Mulia Putri Quinella menyuruh anaknya untuk kembali ke kamarnya.


Setelah Tuan Putri Ellie kembali ke kamarnya, Yang Mulia Putri Quinella merasa sangat senang karena tujuannya untuk mengubah Ellie menjadi Integriry Knight Systhensis telah berhasil dengan sukses.


"Akhirnya, sekarang Ellie menjadi bagian dariku." Ucap Yang Mulia Putri Quinella sambil tertawa jahat.


"Selamat Yang Mulia, anda telah berhasil membuat Tuan Putri Ellie berubah seutuhnya." Ucap dayang pribadi Yang Mulia Putri Quinella sambil tersenyum melihat tuannya senang karena tujuannya sudah maju selangkah.


......................


Sementara itu pagi hari di kediaman Duke Broglie, semua orang sibuk mempersiapkan upacara pemakaman untuk Duchess Broglie yang baru saja meninggal.


"Letakkan bunga Red Spider Lily nya disebelah sana. Susun yang rapih, jangan ada satupun yang terlewatkan!" Ucap Philip yang sibuk mengatur persiapan untuk upacara pemakaman Duchess Broglie.


"Saya tidak menyangka kalau Duchess Broglie akan pergi seperti ini." Ucap Luca yang juga sedang mengawasi persiapan untuk upacara pemakaman Duchess Broglie.


"Iya, saya juga merasa kasihan saat melihat Tuan Duke yang setiap menitnya selalu menatap potret mendiang Nyonya." Ucap Philip dengan nada sedih tanpa mengetahui kalau tepat di sampingnya ada Luca.

__ADS_1


"Astaga, Tuan Luca, anda hampir saja membuat saya kehilangan jantung saya." Ucap Philip terkejut dengan kehadiran Luca yang mendadak muncul.


"Hehehe, maaf Philip. Owh... Iya apa persiapannya sudah selesai? Para tamu sebentar lagi akan segera berdatangan, sebaiknya kau selesaikan dengan cepat. Aku ingin ke taman dulu. Ayo kak." Ucap Luca kepada Alice sambil berjalan pergi menuju taman yang ada di kediaman Broglie.


Setibanya di taman, Luca dan Alice melihat Sena sedang berlatih pedang dengan memancarkan aura yang sangat indah.


"Sena." Ucap Luca dan Alice bersamaan.


"Ya? Apa yang membawa kalian kesini?" Ucap Sena sedikit terengah-engah.


"Tidak ada, kami hanya sedang berjalan-jalan saja. Kau sendiri, apa sedang kau lakukan disini, Sena?" Tanya Luca.


"Memang ada alasan khusus untukku mengatakan apa yang sedang aku lakukan? Ini rumah ku jadi sesuka hatiku ingin melakukan apapun disini, ini tidak ada urusannya denganmu, Luca." Ucap Sena sambil mengelap keringatnya dengan handuk yang dia bawa.


"Dari pada kau bertanya padaku sesuatu yang tidak jelas, lebih baik kau temani aku latihan. Kau juga Alice." Ucap Sena sambil melemparkan dua pedang ke Alice dan Luca.


"Dua lawan satu? Apa kau yakin dengan itu, Sena? Bagaimana kalau kami menyakitimu?" Tanya Alice dan Luca sambil berteriak karena terkejut.


"Te-tentu saja bukan." Ucap Luca dan Alice takut.


"Kalau begitu buktikan sekarang juga." Ucap Sena sambil menodongkan pedangnya ke Luca.


"Baiklah, kalau itu yang kau minta, kami tidak akan segan-segan denganmu." Ucap Luca yang ikut menodongkan balik pedangnya ke Sena.


Bunyi pedang yang di adu kan antara pedang Luca dan Alice dengan pedang Sena terdengar sangat nyaring dan aura yang mengelilingi mereka juga terasa sangat pekat. Mereka pun tidak sadar dengan kehadiran Duke Muda Verita karena asyik dengan duel di antara mereka bertiga yang telah berjalan selama kurang lebih sekitar 2-3jam lamanya. Setelah selesai berduel, mereka bertiga pun langsung mengelap keringat yang membasahi wajah mereka dengan handuk yang telah disediakan oleh para pelayan itu.


"Prok prok prok prok." Suara tepuk tangan yang datang dari arah belakang mereka.


"Kalian bertiga sangat hebat tadi, terutama pria yang berambut putih keperakan dengan warna hitam di sela-sela rambutnya yang berwarna putih keperakan itu." Ucap Duke Muda Verita sambil berjalan kearah mereka bertiga.


"Zidan, kapan kau datang? Aku tidak melihat mu dari tadi. Apa kau bersembunyi di semak-semak di sebelah sana?" Tanya Sena yang keheranan dengan kedatangan Duke Muda Verita yang muncul secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Bersembunyi? Aku? Itu tidak mungkin. Aku baru saja tiba disini, karena aku tidak melihatmu jadi aku bertanya kepada kepala pelayan dan kepala pelayan bilang kalau kau sedang latihan pedang disini. Jadi aku kemari dan tanpa aku sadari aku terpukau dengan kemampuan kalian bertiga terutama dengan pria yang disamping mu itu, Sena." Ucap Duke Verita sambil memuji kemampuan mereka bertiga.


"Ah, anda terlalu memuji saya, Tuan. Saya tidak sehebat yang anda kira, saya masih banyak kekurangannya." Ucap Luca merendahkan hatinya.


"Hahaha, ternyata anda sangat rendah hati, Tuan." Ucap Duke Muda Verita memuji Luca lagi.


"Anda terlalu berlebihan, Tuan." Ucap Luca sedikit malu karena di puji oleh Duke Muda Verita.


"Zidan." Ucap Duke Muda Verita menyebutkan namanya sendiri.


"Ya?" Ucap Luca dan Alice berbarengan.


"Zidan, kau belum memperkenalkan dirimu." Ucap Sena berbisik di telinga Duke Muda Verita.


"Astaga, kau benar. Maaf sebelumnya saya belum sempat memperkenalkan diri. Perkenalkan saya Zaidan Shana De Verita, Duke Muda Verita saat ini. Kalian berdua bisa memanggilku 'Zidan'. Jangan panggil menggunakan gelar, aku tidak mau ada jarak antara aku dengan kalian terlebih lagi kalian berdua adalah temannya Sena dan Eugeo. Jadi panggil saja aku dengan namaku dan jangan menggunakan bahasa formal seperti tadi kepadaku." Ucap Duke Muda Verita kepada Luca dan Alice.


"Baiklah, Zidan." Ucap mereka berdua serempak.


"Tapi, Zidan, apa yang membawamu kemari?" Tanya Sena sambil meletakkan pedangnya ke tempatnya semula.


"Tidak ada, aku hanya mengkhawatirkan kamu saja, Sena. Kamu kan baru saja kehilangan ibumu, aku takut kamu akan marah dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan ibumu." Ucap Duke Muda Verita sambil memegang tangannya Sena.


"Apa? Kau kira aku akan melakukan hal gila seperti itu karena ibuku telah meninggal, apa kau sehat, Zidan?" Tanya Sena dengan nada sedikit marah pada Duke Muda Verita.


"Ekhem... sepertinya kalian berdua sangat dekat ya." Ucap Luca yang merasa di abaikan oleh Duke Muda Verita dan Sena.


"Ya ampun, maafkan aku Luca, aku lupa bahwa kau dan kakakmu juga ada disini. Benar, Zidan, aku, kakak, dan Tuan Putri Lea adalah teman masa kecil. Kami sering. menghabiskan waktu bersama waktu itu." Ucap Sena menjelaskan secara singkat.


"Tuan, Nona, saatnya masuk. Upacara pemakaman Nyonya hampir di mulai sebentar lagi." Ucap Lily yang menyuruh mereka berempat untuk segara masuk dan memanggilkan para pelayan untuk menggantikan pakaikan mereka karena bau akibat sinar matahari.


"Baiklah, kami akan segera masuk." Ucap Sena sambil bergegas masuk ke dalam bersama Luca, Alice, Zidan dan Lily yang mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2