Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran

Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran
Chapter 38: Eileen Pearce (2)


__ADS_3

"Aku sudah dengar apa yang telah terjadi di ibukota. Dan aku juga sudah memutuskan untuk mengirimkan surat kepada Raja dari Kerajaan Eileen Pearce saat ini." Jelas Tuan Putri Lea pada teman-temannya.


"Tapi Yang- Fira, bagaimana kita bisa percaya pada Raja dari Kerajaan Eileen Pearce?" Tanya Luca. Lea yang sudah mengetahui hal itu dengan percaya diri mengatakan pada teman-temannya "Tenanglah, Raja Eileen Pearce saat ini tidak akan mengkhianati kita aku janji tentang hal itu. Bahkan aku sudah membicarakan hal ini dengan beliau." Ucap Tuan Putri Lea yang sudah mempersiapkan segalanya.


Luca yang mendengar hal itupun merasa terkejut dan bertanya-tanya 'kapan Lea mempersiapkannya? padahal selama seharian penuh ini dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya bagaimana bisa dia mempersiapkan segalanya?' Sedangkan teman-temannya bingung dengan maksud ucapan Tuan Putri Lea barusan. Merasa puas dengan hal itu Tuan Putri Lea pun langsung menyuruh sepupunya, Putra Mahkota Eileen Pearce saat ini, Rudolf Eugene Laverty Von Eileen Pearce dan ajudan sekaligus sahabat sepupunya, Frederich Gregory Nietzsche De Mikhailovich, Duke Gregory saat ini untuk datang menemui Tuan Putri Lea beserta teman-temannya.


Terkejut dengan kehadiran tamu tidak diundang itu Luca, Ian, Eugeo, Zidan, Terra, Athanasia dan Sena pun mengarahkan pedang mereka pada kedua orang tersebut sambil berteriak tidak setuju. "Yang Mulia, bagaimana bisa anda mengundang seseorang seperti mereka untuk membantu kita?!! Bagaimana kalau mereka mengkhianati kita dan menyerahkan kita pada Putri Quinella??? Apa anda lupa apa yang telah terjadi pada orang tua kami semua? Apa anda lupa sudah berapa banyak korban yang berjatuhan sampai sekarang??" Teriak mereka tidak terima dengan kedatangan tamu tidak diundang itu.


Lea yang sudah menduga hal itu akan terjadi kemudian menjelaskan kepada mereka dengan kepala dingin. "Tenanglah, mereka tidak akan mengkhianati kita. Mereka bahkan bersedia membantu kita untuk mendapatkan kembali hak-hak kita tanpa imbalan sepeserpun. Jadi, percayalah pada mereka, karena kedepannya merekalah yang akan membantu kita." Ucap Tuan Putri Lea.


"Tapi Yang Mulia, bagaimana kalau mereka tiba-tiba mengkhianati kita? bagaimana kalau mereka tiba-tiba saja menyatakan ingin berperang melawan kita dan mengatakan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Putri Quinella untuk menangkap kita?" Tanya Luca. "Lalu kita juga belum tahu pasti dimana lokasi kakak saya berada saat ini. Apakah dia mati atau dia hidup tidak ada satupun dari kita yang mengetahuinya." Sambung Luca sedih.

__ADS_1


"Untuk hal itu memang belum diketahui dengan pasti, tapi kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukannya. Karena hanya dia kunci atas kemenangan kita nanti. Dan aku yakin Alice bersembunyi di suatu tempat di Kerajaan Eileen Pearce." Jelas Tuan Putri Lea. "Benarkah itu Fira? Kau tidak membohongiku kan?" Tanya Luca lirih. Lea yang mendengar hal itupun hanya bisa tersenyum melihat tunangannya mengkhawatirkan kakak angkatnya. "Tentu saja, Luca. Buat apa aku membohongimu seperti itu? Percayalah aku akan menemukan Alice dan mengembalikan dia padamu." Ucapnya.


Luca yang mendengar hal itupun merasa tersentuh akan ucapan Lea yang mengatakan akan menemukannya. Percaya dengan ucapannya Luca pun setuju untuk bekerja sama dengan Kerajaan Eileen Pearce. "Baiklah sepertinya tidak ada jalan lain selain ini. Aku terima tawaran kerja sama ini dengan syarat mereka harus membantu kita untuk menemukan keberadaan Alice." Ucap Luca mengajukan persyaratan pada Putra Mahkota Eileen Pearce tersebut.


"Baiklah, kalau itu yang kau minta aku akan menyetujuinya. Apa ada syarat lainnya yang ingin kalian ajukan pada kami?" Ucap Putra Mahkota Eileen Pearce. Menyerah dengan upaya yang tidak hasilnya Zidan, Terra, Eugeo, Sena, Ian dan Athanasia pun terpaksa menurun senjata mereka dan menyetujui kesepakatan tersebut dengan syarat bahwa Kerajaan Eileen Pearce harus membantu mereka untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari mata dan telinga Kekaisaran Harvest atau sekarang dikenal sebagai Kekaisaran Glade dan harus menyiapkan tempat tinggal untuk mereka tinggali kedepannya. "Baiklah itu bukan syarat yang cukup sulit, dan aku juga sudah memikirkan untuk memasukkan nama kalian dalam keluarga-keluarga ternama di Kerajaan Eileen Pearce." Ucap Putra Mahkota Eileen Pearce.


"Baiklah, karena satu masalah sudah terselesaikan dengan tuntas tanpa masalah, bagaimana kalau kita lanjut ke pembahasan kita selanjutnya mengenai eksekusi mati orang tua kita dan pesta pengumuman Kaisar baru? Dan untuk hal itu aku juga sudah menyiapkan nama samaran yang sempurna untuk kalian, Mulai dari Eugeo namamu mulai sekarang adalah 'Yujin'.." Ucap Tuan Putri Lea yang langsung memberikan nama samaran pada teman-temannya satu per satu. "Untuk Zidan nama samarannya adalah 'Zayn'." Yang terus berlanjut. "Sena 'Sonia'." Terus berlanjut. "Luca 'Luke'." Terus berlanjut."Athanasia 'Eve'." Terus berlanjut."Terraria 'Tia'." Dan terus berlanjut "Ian 'Vincent'." hingga tibalah bagi Ivy yang akan diberi tahu nama samarannya oleh Tuan Putri Lea. "Dan terakhir Ivy nama samaran untukmu adalah 'Vania'." Ucap Tuan Putri Lea.


"Anu... permisi Fira. Kalau boleh kami tahu bagaimana kau bisa membawa orang dari luar Kekaisaran kemari?" Tanya Terraria yang sudah penasaran dari tadi. "Ah, itu kemarin aku mengirimi surat ke Putra Mahkota Rudolf, dan isinya..." Belum selesai Tuan Putri Lea berbicara Putra Mahkota Rudolf sudah menyelak lebih dulu. "Biar aku saja yang menjelaskannya pada mereka, Lea. Jadi saat itu aku sedang melakukan sparing dengan Nie, tapi tiba-tiba saja burung elang pengantar pesan entah milik siapa itu melintas tepat dihadapan ku dan itu terjadi tepat saat aku ingin memperlihatkan skill terbaruku pada Nie. Tapi burung elang sialan itu datang dan menghancurkan semua rencanaku." Rintihnya sedih.


Duke Muda Gregory yang melihat hal itu hanya bisa pasrah dan mengelus dadanya. "Saya?!" Ucap Duke Muda Gregory terkejut. "Tentu saja." Jawab Putra Mahkota Rudolf. "Haah... baiklah kalau begitu. Lalu, Yang Mulia, saya ada satu permintaan untuk anda begitu kita sampai di Kerajaan lusa besok tolong izinkan saya untuk menjaga Tuan Putri Lea di kediaman saya." Ucapnya meminta.

__ADS_1


Rudolf pun bertanya sambil berbisik dan segera merangkul sahabatnya untuk menghilangkan rasa penasarannya yang membuncah begitu mendengar bahwa sahabat karibnya yang dirumorkan tidak menunjukkan seleranya terhadap wanita selain pada buku kini mulai tertarik dengan sepupunya?! "Haaahhhh??!!! Kenapa harus dikediaman Gregory? Bukankah di Istana sudah lebih dari kata cukup dan aman baginya untuk bersembunyi?! Terlebih sepertinya mereka tidak akan melepaskan mu begitu saja, Nie." Ucapnya terheran-heran sambil melihat kearah teman-temannya Tuan Putri Lea.


"Itu... Karena saya yakin, kalau saya bisa melindunginya dan ada perasaan yang mengganjal di hati saya yang saya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat pertama kali saya melihat beliau." Rudolf yang tau pun segera membisikkan sesuatu yang sudah tidak asing lagi ditelinga sahabatnya. "Apa mungkin kau menyukainya?"


Duke Muda Gregory yang mendengar hal itupun langsung tersipu malu wajahnya berubah menjadi merah padam. "I-i-itu tidak mungkin!!" Teriaknya lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah Tuan Putri Lea beserta teman-temannya. Tuan Putri Lea yang melihat wajah Duke Muda Gregory yang berubah menjadi merah padam langsung menghampirinya dan bertanya. "Apanya yang tidak mungkin, tuan? Apa anda baik-baik saja?" Tanyanya. Dan hal itu langsung membuat wajahnya tambah berubah menjadi merah padam yang lebih pekat lagi dan kabur ke kamarnya. Tuan Putri Lea dan teman-temannya yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam seribu bahasa sedangkan Luca yang melihat hal itu merasa cemburu pada Duke Muda Gregory.


"Sial, apa yang terjadi padaku. Tidak biasanya aku bertingkah seperti ini. Aku harus segera kembali ke tempat Putra Mahkota kalau tidak entah hal aneh apa lagi yang akan beliau katakan pada mereka nantinya." Bisiknya dalam hati. Setelah lelah memantapkan hatinya Duke Muda Gregory pun keluar dari kamarnya dan segera menghampiri Putra Mahkota Rudolf dan yang lainnya. Pembicaraan memang sempat terhenti sebentar setelah Duke Muda Gregory kabur begitu saja, tapi tidak kali ini, kini dia kembali dengan rasa percaya diri yang penuh sehingga terlihat begitu elegan dan penuh dengan karisma.


"Maaf, karena ada sedikit masalah dengan diri saya barusan. Jadi, bagaimana kalau kita mulai kembali rapatnya." Setuju dengan ajak Duke Muda Gregory Tuan Putri Lea dan teman-temannya memulai kembali rapat yang sempat tertunda beberapa menit itu. "Jadi... saat itu kami memang sedang melakukan sparing. Lalu tiba-tiba saja seekor burung elang terjatuh tepat didepan kami. Setelah kami selidiki ternyata burung elang tersebut terluka di bagian sayapnya dan secara tidak sengaja kami menemukan sebuah surat yang ditunjukkan untuk Putra Mahkota Rudolf."


"Segera setalah beliau membaca pesan tersebut beliau terlihat begitu cemas dan langsung meminta saya untuk segera mengaktifkan gate di wilayah selatan Kerajaan. Jadi begitulah ceritanya kenapa beliau ada disini saat ini. dan saya yakin Yang Mulia Ratu dan Baginda Raja saat ini sedang cemas bahwa Putra Mahkota satu-satunya menghilangkan dari kamarnya begitu saja." Ucap Duke Muda Gregory menyindir Putra Mahkota Rudolf.

__ADS_1


"Tenanglah, aku sudah meninggalkan pesan untuk mereka. Jadi mereka tidak akan mencari ku untuk beberapa waktu ini." Ucapnya dengan nada penuh percaya diri. Waktu pun berlalu dengan begitu cepat dan malam pun tiba, semua persiapan untuk menghadapi sesuatu yang besar pun hampir selesai mulai dari nama samaran, jubah, pakaian yang tidak begitu mencolok, hingga makanan telah mereka persiapan dengan teliti tanpa tertinggal satupun. Sehingga begitu fajar datang menyingsing mereka hanya perlu mengangkat barang-barang mereka dan meletakkannya di atas kuda-kuda mereka yang telah setia menunggu mereka untuk di tunggangi.


"Baiklah, ayo kita lihat umpan seperti apa yang mereka pasang untuk menangkap kita." Seru Tuan Putri Lea pada semuanya. "Berangkat!! Tujuan kita kali ini adalah alun-alun ibukota dan istana kaisar. Jangan sampai ada yang tertangkap, semuanya harus bersikap seperti biasanya. Untuk undangan pestanya kalian tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkannya untuk kalian semua. Segera setelah semua urusan kita disini selesai, kita akan pergi meninggalkan Kekaisaran Harvest meninggalkan semua yang kita miliki." Ucapnya Tuan Putri Lea memberi semangat pada teman-temannya layaknya seorang Ratu yang memberikan semangat kepada para rakyat dan pasukannya untuk pergi ke garda terdepan dalam suatu pertempuran.


__ADS_2