Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran

Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran
Chapter 39: Eileen Pearce (3) End Season 1


__ADS_3

Pagi harinya. Istana Berkouli, Kamar Ratu Implora....


Disaat orang tersebut sedang memuji penampilannya melalui pantulan cermin seseorang dengan pangkat yang lebih rendah dari orang tersebut datang dan mengatakan kalau semuanya telah siap.


"Yang Mulia, semua persiapan sudah selesai." Ucap kepala pelayan istana tertunduk.


"Baiklah, ayo jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama." Ucapnya Sambil berjalan pelan dengan penuh keanggunan, Ratu Implora pun meninggalkan kamarnya diiringi oleh para dayang yang mengikutinya dibelakang.


Beberapa menit berjalan menelusuri koridor istana yang cerah, tepat di depannya 2 sosok yang menurutnya sudah tidak asing lagi baginya hingga sang Ratu pun berlari pelan menghampirinya. "Michael! Ellie!" Ucapnya tidak sabaran setelah dua hari tidak bertemu dengan kedua manusia tersebut.


"Yang Mulia, pelan-pelan." Ucap seorang dayang yang mengikuti dari belakang.


Mendengar suara yang tidak asing lagi baginya kedua manusia tersebut berbalik dan melihat bahwa seorang wanita muda dan cantik berlari pelan ke arahnya. "Yang Mulia, harap perhatikan langkah anda." Ucap pria tersebut. "Ibu! Ibu terlihat begitu cantik hari ini!" Puji sang anak.


"Hahaha, Kau juga begitu cantik Ellie. Ayo, sudah waktunya." Ucapnya sambil berjalan mendahului kedua manusia tersebut. Waktu pun terus berjalan tidak terasa hari eksekusi mati telah tiba. Ratu dan Kaisar Implora serta Tuan Putri Ellie memasuki kereta kuda dan berjalan menuju alun-alun ibukota dimana eksekusi mati akan dilaksanakan.


Setibanya mereka ditempat tujuan mereka bertiga pun disambut oleh para rakyatnya dan disusul oleh para bangsawan yang berdatangan serta para tahanan yang mana merupakan Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Ratu terdahulu serta para bawahannya yang dituduh berkhianat oleh Ratu Implora. Tanpa basa-basi ataupun sambutan hangat untuk menghibur para rakyatnya yang menghadiri eksekusi mati itu, Ratu Implora langsung menyuruh algojo yang bertugas untuk memenggal kepala para tahanan untuk segera melakukan tugasnya dimulai dari Kaisar serta Ratu terdahulu dan para bawahannya yang setia mengikutinya dari awal hingga akhir hayatnya.

__ADS_1


Rakyat yang melihatnya hanya bisa berbisik-bisik dan mengatakan sesuatu tanpa mengetahui hal sebenarnya "Bunuh Kaisar Dan Ratu terdahulu!" Ucap para rakyat marah. "Bunuh mereka semua! Bunuh semua para keturunannya yang tersisa jangan biarkan mereka menindas dan memeras kita!" Ratu Implora yang melihat hal itu merasa senang "Para rakyatku yang kucinta, kalian akan hidup damai dalam perlindunganku, kalian tidak akan ditindas ataupun diperas lagi seperti dulu. Sekarang kalian telah bebas. Kalian bebas melakukan apapun yang kalian inginkan." Ucap Ratu Implora puas setelah melontarkan kata-kata manis untuk menarik dukungan para rakyat. "Kalau begitu, ayo kita mulai eksekusi matinya."


Didalam kerumunan manusia yang memadati alun-alun ibukota Kekaisaran. Ratu dan Kaisar Implora beserta Putrinya yang seumuran dengan Tuan Putri Lea tidak mengetahui fakta bahwa Tuan Putri Lea yang telah mereka singkirkan dengan susah payah datang dengan menyamar bersama dengan teman-temannya dan menyaksikan dengan sedih hukuman mati yang dijatuhkan kepada orangtuanya dan pergi begitu saja karena sudah tidak sanggup melihat penderitaan orang tua mereka. Ratu dan Kaisar Implora serta Tuan Putri Ellie yang mengetahui dan melihat ada Tuan Putri Lea dan teman-temannya yang pergi meninggalkan alun-alun ibukota sebelum waktunya segera mengutus beberapa orang prajurit bayangan untuk mengikuti mereka dan memastikan identitas mereka.


"Ikuti mereka jangan sampai ketahuan, kalau benar itu Tuan Putri Lea dan yang lainnya jangan ragu untuk membunuhnya!" Bisiknya ditelinga prajurit bayangan itu. "Baik, Yang Mulia." Ucapnya tidak lama setelah mengatakan itu prajurit bayangan itupun pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun layaknya seorang ninja sungguhan.


Sementara itu jauh dari hiruk-pikuk ibukota Kekaisaran, Tuan Putri Lea beserta teman-temannya telah tiba di daerah perbatasan antara Kekaisaran Harvest dan Kerajaan Eileen Pearce menggunakan kereta kuda pengangkut barang supaya tidak menarik perhatian sekitarnya. "Pada akhirnya kita harus meninggalkan Kekaisaran juga." Ucap Luca sedih.


"Benar. Sungguh sangat disayangkan, padahal banyak kenangan kita disini. Andai saja keluarga kita tidak dituduh sebagai pengkhianat oleh mereka mungkin saja kita masih bisa menikmati kehidupan kita seperti sebelumnya." Sahut Tuan Putri Lea sendu.


Terpacu oleh ucapan Putra Mahkota Rudolf, Tuan Putri Lea pun memberikan semangat yang berkobar-kobar kepada semua temannya. "Apa yang dikatakan oleh Rudolf ada benarnya, sudah waktunya bagi mereka mengetahui siapa pemilik takhta yang sebenarnya, segera setelah kita memperkuat diri kita, kita akan mengambil kembali semua yang dulu menjadi milik kita. Kita perlihatkan pada mereka bahwa kita tidak akan menyerah begitu saja." Ucapnya bersemangat.


Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit. Seiring berjalannya waktu kemampuan dan kekuatan mereka meningkat dengan begitu pesat, hanya dengan mengandalkan segala yang ada di sekitar mereka, mereka pun berhasil melewati berbagai macam rintangan yang menghalangi jalan mereka. Mulai dari penyerangan yang dilakukan oleh Yang Mulia Putri Quinella dan antek-anteknya hingga menyaksikan eksekusi mati orang tuanya, walaupun hati, mental dan batin mereka harus jatuh bangun, mereka tidak menyerah begitu saja pada musuh-musuh mereka. Bahkan mereka harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya dan dari satu kereta ke kereta kuda lainnya untuk menghindari kejaran Yang Mulia Putri Quinella, hingga tibalah mereka di tempat tujuan mereka yaitu ibukota Kerajaan Eileen Pearce, Aero Eternal City.


"Selamat datang di Kerajaan Eileen Pearce, tempat dimana seluruh budaya datang dan keluar. Tempat yang harmonis dan gembira. Tempat yang cocok bagi siapa saja yang ingin menetap disini." Ucap Putra Mahkota Rudolf pada teman-teman barunya. "Sebentar lagi kita akan tiba di Istana Matahari, aku sudah memberitahu orangtuaku bahwa ada tamu yang sangat penting akan datang kemari." Sambungnya.


Tidak percaya dengan ucapan sepupunya, Tuan Putri pun bertanya "Benarkah begitu?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan Putri. Anda tenang saja karena kami sudah mempersiapkan segalanya. Sambutan untuk kalian akan kami diadakan semeriah mungkin, jadi kami harap tempat ini cocok untuk kalian bersembunyi selama beberapa tahun ke depan." Sahut Duke Muda Gregory.


"Aahh... Jangan. Kami tidak ingin menarik begitu banyak perhatian orang, cukup adakan seminim mungkin agar tidak ada yang mengetahui kedatangan kami. Kami hanya ingin hidup dengan damai disini." Ucap Tuan Putri Lea.


"Astaga. Saya minta maaf, sebagai ajudan Yang Mulia Putra Mahkota kami lupa bahwa anda sekalian sedang hidup bersembunyi. Baiklah, kalau itu yang anda inginkan, maka kami tidak akan memaksa anda, Tuan Putri. Kami harap anda merasa nyaman ditempat ini, dan semoga kita bisa menjalin kerjasama yang baik, Tuan Putri." Jawab Duke Muda Gregory.


"Ya, kami harap juga begitu." Ucap Tuan Putri Lea.


"Tuan Putri, bukan Lea. aku sebagai sepupumu hanya bisa mengatakan hal ini semoga apa yang ingin kau ingin dapat terwujud, dengan begitu kau tidak perlu lagi hidup dalam persembunyian seperti ini. Begitu juga dengan yang lainnya, semoga kalian bisa menemukan cara untuk mengembalikan hak-hak kalian. Aku akan mendukung apapun keputusanmu Lea." Ucap Putra Mahkota Rudolf memberikan semangat kepada Tuan Putri Lea dan teman-temannya.


"Lea, kau tidak perlu takut, karena aku akan selalu ada di sampingmu dan melindungi mu dari segala macam bahaya yang ada. Ingatlah bahwa kita sudah terikat oleh janji. Jadi tidak akan ada yang akan memisahkan kita." Sambung Luca sambil menggenggam tangan Lea.


"Kami juga tidak akan pernah meninggalkan anda, Tuan Putri. Kami akan terus berjuang bersama anda." Sahut mereka semua dengan diselingi oleh tawa yang merekah di wajah mereka dan suara kereta kuda yang terus berjalan melewati berbagai macam jalan untuk sampai di Kerajaan Eileen Pearce.


Perjalanan mereka memang masih panjang tapi jiwa pejuang mereka tidak akan pernah padam. Walaupun mereka harus menghadapi badai, ombak dan lain sebagainya. Mereka tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.


Sampai disini dulu perjumpaan kita, Terus ikuti cerita Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran di episode selanjutnya. Saya Nur Salsabila penulis Lima Sekawan: Pertarungan Memperebutkan Takhta Kekaisaran mengucapkan selamat tinggal, sampai jumpa di tahun depan. Minal aidzin walfaizin mohon maaf lahir dan batin πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ terima kasih sudah membacaπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2