
"Apa? Kau kira aku akan melakukan hal gila seperti itu karena ibuku telah meninggal, apa kau sehat, Zidan?" Tanya Sena dengan nada sedikit marah pada Duke Muda Verita.
"Ekhem... sepertinya kalian berdua sangat dekat ya." Ucap Luca yang merasa di abaikan oleh Duke Muda Verita dan Sena.
"Ya ampun, maafkan aku Luca, aku lupa bahwa kau dan kakakmu juga ada disini. Benar, Zidan, aku, kakak, Nona L'Oreal, dan Tuan Putri Lea adalah teman masa kecil. Kami sering. menghabiskan waktu bersama waktu itu." Ucap Sena menjelaskan secara singkat.
"Tuan, Nona, saatnya masuk. Upacara pemakaman Nyonya hampir di mulai sebentar lagi." Ucap Lily yang menyuruh mereka berempat untuk segara masuk dan memanggilkan para pelayan untuk menggantikan pakaikan mereka karena bau akibat sinar matahari.
"Baiklah, kami akan segera masuk." Ucap Sena sambil bergegas masuk ke dalam bersama Luca, Alice, Zidan dan Lily yang mengikuti mereka dari belakang.
Setelah mereka masuk kedalam mansion dan berganti pakaian dengan warna hitam mereka berempat langsung berkumpul di aula, dimana mayat Duchess Broglie yang ada di dalam peti mati telah disusun sedemikian rupa oleh kepala pelayan, Philip dan kepala dayang, Lily.
Lalu tidak lama kemudian para bangsawan tingkat atas maupun tingkat menengah ke bawah juga ikut datang saat upacara pemakaman Duchess Broglie.
Disaat prosesi penyerahan bunga Red Spider Lily dan doa, semua orang menangis, bahkan saat Baginda Kaisar Vettel beserta keluarga besarnya datang dan memberikan penghormatan terakhir kepada Duchess Broglie atas jasa dan pengorbanan yang diberikannya untuk kemakmuran dan keamanan Kekaisaran Harvest selama 25 tahun lamanya.
"Semoga Helena De Broglie selalu berada di sisi Dewi Stacia untuk selamanya." Ucap Pendeta Tertinggi yang hadir di Upacara Pemakaman Duchess Broglie.
Sore hari menjelang malam, setelah selesai di doakan peti mati yang berisikan mayat Duchess Broglie kemudian di hanyutkan di Laut Marion tempat dimana mayat semua orang yang telah meninggal di semayamkan disana, setelah di hanyutkan Pasukan Sky Night langsung melepaskan anak panah yang sudah di beri api sebagai tanda bahwa Duchess Broglie telah pergi untuk selama-lamanya.
Air mata semua orang masih tetap mengalir saat melihat bahwa peti mati Duchess Broglie terbakar oleh anak panah yang di beri api di ujungnya.
Setelah semua prosesi pemakaman selesai semua bangsawan yang ada langsung kembali kecuali Baginda Kaisar Vettel beserta keluarganya, Duke Muda Verita, Grand Duchess Yuuki, Keluarga Grand Duke Everest, dan Keluarga Duke Paddington. Mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan tentang permasalahan yang ada di Kekaisaran.
"Baginda, menurut informasi yang saya dapatkan dari mata-mata, yang saya tempatkan di daerah kekuasaan Marquess Glazer ada pemberontakan di daerah perbatasan antara Kota Ufaira dengan Kerajaan Cussons. Dan pemberontakan itu telah berlangsung selama 15 hari lamanya." Ucap Duke Muda Verita memulai percakapan.
"Mhmm... Lalu bagaimana tanggapan Marquess Glazer terhadap pemberontakan itu?" Tanya Baginda Kaisar.
"Tidak ada serangan balasan dari pihak Marquess Glazer. Beliau hanya melihat saja tanpa melakukan apapun, dan korban jiwa yang berjatuhan semakin hari semakin meningkat, Yang Mulia." Ucap Duke Muda Verita menjelaskan.
"Hmm... baiklah kalau begitu Duke Muda Verita, Duke Broglie, dan Grand Duchess Yuuki beserta seluruh pasukannya akan pergi ke Kota Ufaira besok pagi. Lalu sampaikan pesanku pada Marquess Glazer untuk segera datang ke Istana Berkouli." Ucap Baginda Kaisar.
"Besok pagi?! Sayang, apa anda yakin? Bagaimana kalau seminggu lagi? Mereka semua harus mempersiapkan perlengkapan mereka dan lain sebagainya." Ucap Yang Mulia Ratu kepada suaminya.
"Aah... Baiklah tiga hari dari sekarang kalian semua harus berangkat ke Kota Ufaira, ku harap itu cukup untuk kalian." Ucap Baginda Kaisar.
"Baik, Baginda. Terima kasih banyak." Ucap Duke Broglie, Grand Duchess Yuuki, Duke Muda Verita, Grand Duke Everest, dan Duke Paddington bersamaan.
Setelah pertemuan tersebut Keluarga Kekaisaran yaitu Baginda Kaisar, Yang Mulia Ratu, dan Tuan Putri Lea menginap di kediaman Duke Broglie karena hari sudah sangat larut. Sedangkan Yang Mulia Putri Quinella, Pangeran Michael, dan Tuan Putri Ellie kembali ke Istana.
Pagi harinya setelah mereka semua sarapan pagi Duke Broglie, Eugeo, dan Sena mengantarkan Keluarga Kekaisaran keluar sementara itu Count Castina, Coutess Castina, Alice, dan Luca harus ikut dengan Keluarga Kekaisaran untuk membicarakan hal yang berkaitan dengan Alice yang merupakan 'Gadis Suci Bercahaya' yang mana telah di ceritakan di dalam suatu ramalan bahwa akan ada satu anak perempuan yang memiliki rambut berwarna kuning keemasan dan mata berwarna biru langit yang akan menyelamatkan dunia dari kejahatan dan menyinari dunia dari kegelapan.
Setibanya di Istana Kekaisaran, Istana Berkouli...
"Selamat datang Baginda, Yang Mulia Ratu dan Tuan Putri." Ucap Kepala Pelayan Istana Berkouli yang menyambut kedatangan mereka.
"Hhmmm.... Baginda maaf tapi mereka...." Ucap Kepala pelayan yang merasa asing dengan keempat orang yang berdiri tepat di belakang Baginda Kaisar dan keluarga.
"Ah.. oh mereka adalah teman-temanku, perkenalkan mereka adalah keluarga Castina. Dia adalah kepala keluarga Count Castina, Rydin Scoot De Castina, dan di sampingnya adalah Jeremiah Krisan De Castina, lalu kedua anak yang berada di belakang rumah mereka adalah Alice Schubert De Castina dan Luca Arendo De Castina." Ucap Baginda Kaisar memperkenalkan keluarga Count Castina.
"Salam Count Castina, perkenalkan saya adalah kepala pelayan di Istana Berkouli, saya Ayase Chuuya, anak kedua dari Count dan Countess Chuuya." Ucap kepala pelayan tersebut memperkenalkan dirinya.
"Mari, saya antar anda sekalian ke kamar tamu. Grace, tolong pindahkan barang mereka ke kamar tamu segera." Ucap Ayase.
"Baik, kepala pelayan." Ucap Grace sambil membawa barang bawaan Keluarga Count Castina ke kamar tamu.
Sementara barang bawaan Keluarga Count Castina di bawa ke kamar tamu oleh Grace. Ayase mengajak mereka berkeliling, setelah lelah berkeliling mereka pun kembali ke kamar tamu.
__ADS_1
"Hah.... Aku tidak menyangka kalau kita akan tinggal di Istana Kekaisaran sekarang." Ucap Luca yang merasa senang dan gelisah di saat yang bersamaan.
"Kau benar, Luca. Tapi kenapa Baginda Kaisar ingin membawa kita ke Istana Kekaisaran ini ya?" Tanya Alice penasaran.
"Entahlah, bagaimana kalau kita tanyakan saja pada Mama dan Papa?" Ucap Luca sambil melompat dari tempat tidurnya.
"Itu ide yang bagus, ayo kita pergi." Ucap Alice sambil berjalan mengikuti adiknya, Luca.
"Luca."
"Alice." Teriak Tuan Putri Lea menyapa mereka berdua.
"Salam kepada bintang kekaisaran, semoga berkat Dewi Stacia selalu menyertai anda." Ucap Alice dan Luca bersamaan.
"Eeeii, kalian tidak perlu bersikap formal seperti itu denganku. Panggil saja aku 'Lea' seperti saat itu." Ucap Tuan Putri Lea.
"Baiklah, kalau itu yang anda inginkan, Lea." Ucap Luca sambil tersenyum dengan lembutnya.
"Owh, ya... Tadi aku lihat kalian begitu terburu-buru, kalian ingin pergi kemana? Apa aku boleh ikut dengan kalian?" Tanya Tuan Putri Lea sambil memegang tangan Luca.
"Ah, itu saya dan kakak saya ingin bertemu dengan Baginda dan orang tua kami, Tuan Putri." Ucap Luca menjelaskan.
"Bertemu ayahku? Ada apa?" Tanya Tuan Putri Lea sambil memiringkan kepalanya.
"Kami hanya ingin menyapa Yang Mulia saja, Lea." Ucap Luca menjelaskan.
"Hhmmm... Baiklah, ayo ikut aku. Ada yang ingin aku bicarakan dengan ayahku." Ucap Tuan Putri Lea sambil berjalan di depan kakak beradik itu.
Beberapa menit kemudian...
"Ayah." Ucap Tuan Putri Lea sambil mendorong pintu ruang kerja Baginda Kaisar Harvest.
"Oh, maafkan saya Tuan dan Nyonya Castina." Ucap Tuan Putri Lea sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerja Baginda Kaisar.
Tuan dan Nyonya Castina pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda "tidak apa-apa." Kepada Tuan Putri Lea.
"Lea, ada apa kau kemari?" Tanya Baginda Kaisar.
"Luca dan Alice ingin bertemu dengan ayah." Ucap Tuan Putri Lea menjelaskan.
"Dengan ku? Baiklah suruh mereka untuk masuk. Rydin, Mia kalian tetaplah disini, mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh mereka berdua pada kalian juga." Ucap Baginda Kaisar sambil merapihkan meja kerjanya.
"Baik, Baginda." Ucap Tuan dan Nyonya Castina.
"Kami memberi salam kepada Matahari Kekaisaran, semoga berkat dan perlindungan Dewi Stacia selalu bersama anda, Yang Mulia." Ucap Luca dan Alice memberi salam kepada Baginda Kaisar.
"Terima kasih. Aku tahu apa yang ingin kalian tanyakan. Jadi tanpa basa-basi lagi aku akan memberitahu kalian semua, alasan ku membawa kalian ke Istana Kekaisaran ini, 1. Aku tau kalau Alice mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. 2. Kalian adalah teman-teman terdekatku, jadi aku ingin melindungi kalian juga. Dan yang ke 3. Sepertinya Lea, putriku menyukai putra mu, Rydin." Ucap Baginda Kaisar sambil memerhatikan tingkah laku putrinya dari tadi.
"A-ayah!!" Teriak Tuan Putri Lea secara refleks.
"Hahahaha. Bukankah itu benar, Lea? Aku tahu hal itu dengan melihat sikap dan tingkah laku mu dari kemarin." Ucap Baginda Kaisar menggoda putrinya.
"A-apa ayah memata-matai aku dari jauh?" Tanya Tuan Putri Lea sedikit curiga.
"Memata-matai putriku sendiri? Tidak mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu dan kalau ibumu tahu pasti aku akan di marahi habis-habisan olehnya." Ucap Baginda Kaisar tertawa sehingga mencairkan suasana yang sedikit menegangkan tadi.
"Jadi anda sudah tahu mengenai kekuatan Alice, Yang Mulia?" Tanya Count Castina.
__ADS_1
"Ya, saat itu aku melihatnya di buku para utusan dewa, di katakan bahwa 'akan ada seorang anak perempuan dengan mata berwarna biru laut, dan rambut kuning keemasan akan datang dan menyelamat dunia ini dari kegelapan kejahatan yang menyelubungi dengan mengorbankan dirinya.' Awalnya aku tidak percaya itu, tapi setelah mendengar ceritanya langsung darimu dan Alice, aku pun sadar bahwa ramalan itu benar dan akan terjadi dalam beberapa tahun ini." Ucap Baginda Kaisar.
"Tidak, itu tidak mungkin!! Aku tidak akan membiarkan Alice mengorbankan dirinya walaupun itu untuk Kekaisaran ini sekalipun!!" Teriak Countess Castina sambil memeluk erat Alice.
"Tenanglah, Mia. Ramalan itu belum tentu terjadi dalam waktu dekat, dan kalaupun ramalan itu sungguh benar terjadi aku akan melindungi Alice dan semuanya, termasuk keluarga ku sendiri." Ucap Baginda Kaisar mencoba menenangkan Countess Castina.
"Hhaaa... Baiklah kalau begitu. Tolong jaga Alice saat ramalan itu terjadi...." Ucap Countess Castina.
"Baik, aku berjanji, Mia." Ucap Baginda Kaisar yakin.
"Tapi... Kalau terjadi sesuatu pada Alice, aku tidak akan memaafkanmu. Ingat itu, Vettel!!" Ucap Countess Castina sedikit mengancam Baginda Kaisar.
"Baiklah, baiklah, aku janji, Mia." Ucap Baginda Kaisar.
Setelah Baginda Kaisar berjanji seperti untuk melindungi Alice, Countess Castina pun merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Bicara tentang janji, bagaimana kalau kita mengadakan acara pertunangan untuk Lea dan Luca?" Tanya Baginda Kaisar kepada Tuan dan Nyonya Castina.
"A-ayah!" Pinta Tuan Putri Lea yang terkejut saat mendengar apa yang ayahnya ucapkan.
"Itu ide yang bagus, Yang Mulia. Bagaimana kalau kita adakan pertunangan mereka setelah ekspedisi ke Kota Ufaira selesai?" Ucap Count Castina memberi pendapat.
"Hhmmm... itu bukan ide yang buruk. Baiklah silahkan kau tentukan tanggal nya nanti aku akan menanyakan hal itu pada pendeta." Ucap Baginda Kaisar merasa sedikit puas dan lega.
"Baiklah Baginda." Ucap Count Castina.
Dan sementara itu di kediaman Duke Muda Verita, Ada seorang tamu yang datang berkunjung untuk membantu Duke Muda Verita berkemas.
"Zidan, apa kau yakin dengan ini? Aku takut kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu saat kau tiba nanti." Ucap Sena mengkhawatirkan teman masa kecilnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Sena. Grand Duchess Yuuki, Grand Duke Everest, Duke Paddington dan Duke Broglie yang akan menjagaku, terlebih apa kau lupa kalau aku adalah Integrity Knight ke 22 dan jenius ke 6 dalam menggunakan system call." Ucap Zidan menyombongkan dirinya didepan teman masa kecilnya.
"Haha.. baiklah. Aku mencintaimu, Zidan." Ucap Sena sambil tersenyum dan mencium pipi sebelah kanannya dan memeluk tubuhnya.
"Sena? Ya, aku juga mencintaimu. Jaga dirimu dan kesehatanmu, jangan lupa selalu kabari aku." Ucap Zidan sambil memeluk Sena dan berjalan pergi meninggalkannya.
Keesokkan harinya setelah perintah dari Baginda Kaisar untuk melakukan ekspedisi ke Kota Ufaira turun, Duke Muda Verita, Duke Broglie, Grand Duchess Yuuki, Grand Duke Everest dan Duke Paddington pun berangkat dengan pasukannya masing-masing yang berjumlah sekitar 4 pasukan inti dan 2 pasukan bala bantuan.
Saat di dalam perjalanan mereka melihat keadaan yang sangat mengerikan, mayat berserakan dimana-mana, rumah-rumah hangus dan hancur berantakan, dan yang terdengar hanyalah suara tangisan orang-orang yang meratapi mayat keluarganya.
"Astaga, coba kalian lihat itu! Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Bagaimana bisa satu kota menjadi seperti ini? Apa yang Marquess Glazer lakukan setiap harinya?" Tanya Grand Duchess Yuuki yang sedang menaiki kuda kesayangannya sambil merasa kecewa dengan Marquess Glazer.
"Entahlah, tapi apa kalian tahu bahwa Marquess Glazer adalah seorang playboy?" Tanya Duke Muda Verita yang sedang menunggangi kudanya juga.
"Sstt! Hati-hati kalau berbicara. Ya, aku juga tahu hal itu, dan itu juga merupakan hal yang umum di bicarakan di pergaulan kelas atas." Ucap Grand Duchess Yuuki, tapi di saat Grand Duchess Yuuki berbicara seperti itu sebuah bola api besar datang menyerbu mereka berlima beserta pasukannya.
"Awas, ada serangan!!" Teriak salah satu pasukan yang menyadari adanya serang tersebut.
Seketika semua orang langsung menyingkir dan bersiap untuk melakukan perlawanan balik.
"Bersiap pada posisi! Kita kedatangan tamu tidak di kenal." Teriak Duke Muda dan Verita pada seluruh pasukan.
"Jangan lengah, awasi sekitar!" Ucap Grand Duchess Yuuki ikut memperingati seluruh pasukan.
"Disana!" Teriak salah satu prajurit yang melihat adanya segerombolan serigala dan orang-orang yang membawa beberapa senjata.
"Semuanya bersiap untuk bertarung!!" Teriak Duke Broglie pada seluruh pasukan dengan keadaan yang bersemangat.
__ADS_1