
"Sial, kalau begini terus cepat atau lambat kita pasti akan tertangkap oleh mereka. Kita harus segara pergi dari sini secepatnya." Batin Grand Duchess Yuuki sambil berdiri secara tiba-tiba dan tidak sengaja menjatuhkan vas bunga kesayangan mendiang Grand Duchess Yuuki sebelumnya, Cordelia Agatha Christie La Yuuki.
"Prrraaaannngggg."
"Siapa itu?!" Teriak Marquess Meligina sambil berjalan menghampiri tempat vas bunga yang pecah itu.
"Gawat, kita sudah ketahuan." Batin Grand Duchess Yuuki sambil mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.
"Yang Mulia, bagaimana sekarang? Apa kita akan menyerangnya?" Tanya Tuan Malevolent berbisik sambil memegang sarung pedangnya.
"Tidak, jangan sekarang. Kita tunggu waktu yang tepat setelah itu kita akan langsung menyerang dalam satu kali serangan." Ucap Grand Duchess Yuuki balas berbisik.
"Baiklah, lalu, apa kita akan lari?" Tanya Tuan Malevolent kembali berbisik.
"Tentu saja, cepat!"
"TUAN MALEVOLENT, CEPAT!!" Teriak Grand Duchess Yuuki.
"Sial!! Kejar mereka! Jangan sampai mereka melarikan diri!!" Teriak Marquess Meligina kesal.
"Yang Mulia, mereka hampir mendekat!" Ucap Tuan Malevolent yang sedang berlari sambil melihat ke arah belakang.
"Sial!! Sepertinya satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan mengalahkannya." Batin Grand Duchess Yuuki kembali.
"Yang Mulia, bagaimana ini?!" Tanya Tuan Malevolent kembali.
"Tidak ada waktu lagi, cepat kita kalah mereka!"
"Menyerang mereka? Tapi jumlah mereka terlalu banyak!" Ucap Tuan Malevolent khawatir.
"Diamlah! Hanya ini satu-satunya jalan untuk kita bisa kabur dari sini tanpa tertangkap oleh mereka. Cepatlah waktu kita tidak banyak!" Tegas Grand Duchess Yuuki.
"Baik, Yang Mulia!"
"Terima lah!!!"
"Hiyaaa!!" Teriak mereka berdua menyerang secara bersamaan.
"Rena, tidak ada gunanya kau melawan sekarang, lebih baik kau patuhi perkataanku maka aku tidak akan membunuh kalian dan aku juga akan selalu menjamin keamanan kalian. Bagaimana? bukankah itu tawaran yang sangat menguntungkan untuk mu?" Ucap Marquess Meligina sambil melawan balik serangan dari Grand Duchess Yuuki.
"Enyahlah!!! Aku tidak akan menerima tawaranmu dan aku tidak akan menyerah!" Teriak Grand Duchess Yuuki sambil terus menyerang Marquess Meligina.
__ADS_1
"Sial, kita kalah telak. Terlebih kita tidak bisa menang hanya dua orang saja yang bertarung, dan sepertinya Tuan Malevolent mengalami luka yang cukup berat." Batin Grand Duchess Yuuki sambil berpikir untuk mencari jalan keluarnya.
"Cih."
"Rencana kita untuk kabur sepertinya sia-sia saja." Ucap batin Grand Duchess Yuuki
"Maafkan aku Tuan Malevolent telah melibatkan mu dalam pelarian hitam ini." Ucap Grand Duchess Yuuki pelan sambil membelakangi punggung Tuan Malevolent.
"Tidak apa, Yang Mulia, saya akan melakukan apapun sampai titik darah penghabisan saya asalkan anda bisa selamat." Ucap Tuan Malevolent sembari memegang luka tusuknya.
"Baiklah, kalau begitu kita akan berjuang mati-matian." Ucap Grand Duchess Yuuki sambil berdiri dan terus bertarung.
Pertarungan pun kian memanas, dan kedua orang itupun kini penuh dengan berbagai luka ditubuhnya.
"Sepertinya kau tidak akan menyerah begitu saja ya? Baiklah aku akan membantumu, Rena." Ucap Marquess Meligina sambil menusukan pedangnya tepat di bagian bawah perutnya.
"Lars, uhuk uhuk, aku tidak menyangka... ternyata kau adalah pria yang tidak berperasaan dan, uhuk uhuk, kau adalah pria paling menjijikkan yang.... pernah kutemui."
"Ayah, Ibu, maafkan aku karena sudah... mengecewakan... kalian. Aku tidak menyangka.... kalau pria yang selama ini... aku cintai ternyata merupakan pria yang paling menjijikkan yang pernah ada di... dunia in-"
"Cih, bahkan disaat terakhirmu kau masih bisa berisik seperti itu? Kau tahu? Saat kau berbicara pun itu sangat memuakkan untuk didengar, dan bahkan burung bisa terbang saat kau baru membuka mulutmu itu, jadi pergilah dengan tenang." Ucap Marquess Meligina sambil menancapkan pedangnya kembali tepat di jantungnya Rena.
"Tenanglah, aku tidak akan membiarkannya mati sendirian. Aku juga akan mengirim mu untuk pergi bersama dengannya. Jadi tolong sampaikan permintaan maaf ku padanya." Ucap Marquess Meligina lagi sambil mengangkat pedangnya
"Ciuh!" Terdengar suara seseorang yang meludah, tidak lain dan tidak bukan orang yang meludah tersebut adalah Tuan Malevolent yang saat itu sedang meludahi wajah tampan yang penuh dengan lumuran darah Marquess Meligina.
"Jangan harap aku akan mengatakan hal itu pada, Yang Mulia Grand Duchess!! Aku bukan pelayanmu ataupun pengawalmu! Aku Jack Malevolent tidak akan pernah memaafkan mu sampai kapanpun itu!!" Teriak dengan penuh emosi.
"Kalian tahu, kalian berdua itu sama-sama berisik." Ucap Marquess Meligina sambil menancapkan pedangnya tepat di paru-paru Tuan Malevolent.
"uhuk." Batuk yang disertai darah keluar dari mulut Tuan Malevolent yang saat itu ditusuk tepat di paru-parunya yang menyebabkan dia meninggal secara perlahan-lahan.
"Sungguh menyebalkan, pada akhirnya mereka tetap saja berisik seperti burung yang berkicau saja."
"Baiklah, sisanya cepat temukan para pelayan yang melarikan diri itu, periksa semua ruangan yang ada dan segara beritahu aku!" Teriaknya kembali.
"Baik Komandan." Jawab para prajurit itu.
Waktu pun terus berjalan layaknya sebuah kereta yang tidak pernah berhenti sekalipun di stasiun manapun dia lewati. Seperti itulah ungkapan yang tepat untuk para prajurit yang terus-menerus mencari keberadaan para pelayan keluarga Yuuki yang menghilang secara tiba-tiba, seperti ada orang dalam yang membantu mereka untuk melarikan diri dari kediaman keluarga Yuuki yang besar ini.
"Komandan, berita buruk. Kami tidak dapat menemukan seorang pelayan pun disekitar sini." Ucap salah seorang dari para prajurit itu.
__ADS_1
"SIAL!!!"
"Baiklah, kalian bakar rumah ini termasuk semua gorong-gorong yang ada disekitarnya. Tidak perlu pedulikan mereka yang telah melarikan diri, pada akhirnya mereka juga akan mati karena tidak kuat menahan panasnya api ini." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Buhahahahaha!!"
"Laksanakan Komandan!" Ucap para prajurit itu yang ikut tertawa juga.
Beberapa menit kemudian, para prajurit yang dipimpin oleh Marquess Meligina pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membakar kediaman Yuuki, seperti rating kayu kering dan minyak yang akan diletakkan di sekitar kediaman tersebut untuk menghilangkan jejak bukti-buktinya.
"Siap untuk Pembakaran!" Teriak Wakil komandan.
"Regu satu sudah siap." Jawab satu diantara para anggota regu satu
"Regu dua juga sudah siap." Jawab satu diantara para anggota regu dua
"Begitupula dengan regu tiga." Jawab satu diantara para anggota regu tiga
"Baik, mulai pembakarannya." Ucap Wakil Komandan
"Baik!" Jawab mereka semua serentak.
Sementara itu di gorong-gorong tepat di bawah alun-alun wilayah kekuasaan Grand Duchess Yuuki. Para pelayan yang berhasil melarikan diri berkat bantuan majikannya sendiri kini bisa terbebas dari rasa ketakutan yang begitu tidak adilnya itu, tapi mereka tidak sadar kalau pihak musuh ingin membakar semua gorong-gorong kediaman begitu pula dengan kediaman Yuuki.
"Kepala pelayan apa masih jauh lagi?" Tanya salah satu dari beberapa pelayan yang ikut kabur.
"Sebentar lagi kita akan sampai, bertahanlah jangan biarkan pengorbanan Yang Mulia dan Tuan Malevolent sia-sia."
"Yang Mulia, saya harap anda baik-baik saja disana." Ucapnya didalam hati.
"Kepala pelayan, maaf, apa api bisa menjalar kemari?" Tanya salah satu diantara para pelayan itu.
"Tentu saja, api bisa menjalar kemari kalau ada orang yang dengan sengaja menumpahkan minyak kesini. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Kepala pelayan yang memimpin jalan keluar tersebut.
"Itu karena saya melihat cahaya yang sangat terang dan saya juga mencium bau minyak tumpah." Jawab pelayan tersebut.
"Sial! Apa kita sudah ketahuan olehnya?"
"Lari!! Cepat kalian semua lari lah!!" Teriak kepala pelayan yang panik saat melihat cahaya api mulai berdatangan.
"Sepertinya kita tidak bisa menghindarinya lagi kali ini."
__ADS_1