
Saat senja tiba nampak di bawah jendela sebuah kuda namun jarak antara tanah dan Suer saat itu sangat jauh. Suer menatap seprai yang cukup panjang. Suer nekad dirinya membuat tali dari kain dan saat matahari turun dirinya juga turun dengan koper dan barang barangnya. Suer mulai sampai pada kuda namun Sial seorang pengawal nampak melihatnya.
Dibelakang pengawal itu nampak orang yang di kenali Suer dan memukul pengawal itu.
"Lin San?" Nampak San tersenyum dan memberi aba aba pada kuda itu untuk membawa Suer pergi.
Suer akhirnya pergi dari sana. Selayaknya kuda yang sudah terlatih Suer di bawa ke sebuah kemp militer.
Suer terperanjak saat melihat seseorang keluar dari dalam tenda mata mereka beradu dan senyum merekah di antara keduanya.
"Suer.." lirih pria itu dan menatap kuda yang di kenalinya.
"San..?" Suer terdiam dan langsung mengangguk setelah pelukan hangat mereka.
"Ya.." jawab Suer sedikit lemah sehingga terdengar mendayu.
"Kita akan menyerang pagi ini. Perintahkan para pengawal untuk bersiap" tegas Lin Dong seseorang yang mendengarkan itu sontak bergegas dan mulai mengusung rencana.
Suer benar benar hampa malam itu dan mungkin malam terakhir dirinya bisa melihat Lin Dong. Karena dalam sejarah Lin Dong akan meninggal dalam peperangan ini dan akan meninggal selamanya. Tidak ada lagi kesempatan untu Suer bisa bersama pria itu lagi.
Lin Dong nampak sibuk dengan persiapannya Suer yang tidak kuat menahan beban hatinya memeluk Lin Dong dari belakang.
"Kenapa?" Lin Dong bertanya merasa sesuatu yang basah menyentuh kulitnya.
"Aku merindukanmu" lirih Suer bahkan kata kata itu terdengar seperti bisikan. Lin Dong berbalik memeluk isterinya yang tengah menatapnya pilu kali ini.
"Aku juga. Suer aku berjanji bila di kehidupan mendatang aku bisa menemui mu akan aku lakukan segala cara untuk mendapatkan kamu Suer" mendengar itu Suer kian menangis.
"Ak..u aku akan menunggumu suamiku" lagi lagi rasa pilu Suer membuat Lin Dong merasa kian aneh seakan Suer tengah menyembunyikan sesuatu.
"Katakanlah ada apa? Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu" Suer terdiam namun jujur sat bibirnya akan berucap dirinya tidak tahan untuk bersuara. Suer menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Suer?" Suer mengangkat wajah menatap pria yang kini tengah memandangnya intens.
Suer kembali tak mampu bersuara hingga angin masuk ke tenda tersebut dan air mata Suer kembali menetes.
"Suer aku mencintaimu" Lin Dong menyentuh pipi Suer sangat lembut.
Air mata Suer kembali merembes dan jatuh. Lin Dong benar benar merasa khawatir melihat bibir Suer yang kini nampak sedikit terbuka Lin Dong akhirnya memberanikan diri menempelkan bibir mereka merasakan degupan jantung mereka. Saat itu Suer dan Lin Dong benar benar hanyut ke muara keabadian. Kehangatan itu akan segera berakhir pikir Suer namun dirinya kembali berpikir bagaimana cara dia menyelamatkan prianya itu.
"Suamiku bisakah kita kembali ke istana sekarang?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Suer. Namun jawaban yang sudah di ramalkan Suer benar Lin Dong menggeleng.
"Medan perang ini adalah untuk memberi keamanan bagi rakyat ku. Isteriku bagaimana aku bisa menjadi Kaisar bila aku tidak mampu melindungi para rakyat di belakang sana?" Suer terdiam perang memang sudah menjadi kewajiban Lin Dong saat itu.
Hayat memang sudah di gariskan Usia sudah di tetapkan Suer sudah buntu perasaanya kini benar benar remuk.
"Suer apakah hari ini aku akan meninggal?" Tanya Lin Dong sontak air mata kembali jatuh dan anggukan pembenaran di berikan Suer.
Lin Dong kini faham mengapa Suer bisa bersikap seperti itu.
Mereka melewatkan malam itu berdua dan bersama mereka bersumpah untuk bertemu kembali. Pagi menguak dengan tarian tarian burung dan kegaduhan yang luar biasa perang tak terelakkan lagi. Saat itu Suer masih berada di tenda menatap barisan paling depan terlihat Lin Dong.
Suer menghembuskan nafasnya kasar inilah pilihan Lin Dong dan ini pula pilihan Suer.
Nampak seseorang dengan pasukan maha besar datang namun menatap Lin Dong yang tak gentar membuat Suer faham. Suer menatap di kandang kuda San sudah di sana. San mulai berjajar di samping Lin Dong dengan panah dan busur.
Suer tidak nyaman akan hal itu dan was was yang semula datang kini kembali menguasainya.
"Hei Kaisar Lin kau tahu nyawamu kini ada di tanganku. Menyerah lah!" Teriak pria di seberang yang tengah memimpin pasukannya.
"Jangan bermimpi di siang hari" jawab Lin Dong tegas.
"Hahaha pasukanku tidak perlu ikut membunuh mu kaisar" teriak pria itu lagi dan seseorang yang tidak di sangka menodongkan anak panahnya di hadapan Lin Dong bersamaan dengan itu Suer dayang dan melindungi tubuh suaminya dengan tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Dasar penghianat!" Teriak Suer membuat seluruh orang terkejut.
San terpaku menodongkan senjatanya.
"San?" Lin Dong bertanya dan menatap tidak percaya.
Orang yang sangat dekat dan sudah menjadi bagian dari hidupnya kini berada di depannya. Menentangnya dan akan membunuhnya.
"Kak kamu terlalu polos untuk menjadi kaisar" kata itu meluncur dengan entengnya.
"Kenapa San?" Lagi lagi alasan yang dimintai Lin Dong.
"Karena aku ingin tahta mu aku ingin kekuasaan mu. Dan aku ingin Isteri mu" Suer terpaku melotot dengan apa yang di ucapkan oleh San.
"Dasar pecundang! Sampai maupun aku tidak akan pernah sudi bersama penghianat sepertimu!" Teriak lagi Suer.
"Suer menyingkirlah aku tidak ingin melukaimu" pinta San. Namun Suer tidak beralih dirinya tetap melindungi Lin Dong.
Sedangkan Lin Dong tang masih belum percaya akan penghianatan adiknya kembali bersuara.
"San bila kau ingin tahta dan kekuasaan ambillah aku serahkan padamu. pimpinanlah mereka semua" Lin Dong menunjuk pasukan yang kini berada di belakangnya "Aku hanya ingin kau menjadi pemimpin yang bijaksana dan menyayangi rakyat mu. San kembalilah!" Lin Dong berucap dengan halus berusaha agar San Luluh.
"Dan Suer. Apa kau akan menyerahkannya padaku?" Lin Dong tercekat mendengar itu. Jelas itu adalah yang mustahil Lin Dong lakukan.
Sebuah anak panah tiba tiba melayang dari arah samping membuat Suer terkejut dan anak panah itu akhirnya sampai di dada Suer.
"SUEEER!" Teriak San dan Lin Dong.
"Penghalangmu sudah aku singkirkan sekarang bunuh kaisar!" Seseorang kembali berteriak di depan sana membuat San menurunkan anak panahnya menatap Lin Dong yang tengah menangis memangku tubuh isterinya yang kini berlumuran darah.
Bersambung...
__ADS_1