Lin Suer

Lin Suer
Pacar


__ADS_3

Keenan melotot dan tersenyum, Suer pernah melihat senyum itu sebelumnya saat pertama kali bersama Lin Dong. Suer melotot sadar bila posisinya kini sedang tidak menguntungkan.


"Keenan maaf, tapi kita baru saja bertemu dan tidak mungkin langsung pacaran kan?" Suer berusaha menjelaskan dan mencari celah agar bisa lepas dari kekangan pria itu.


"Lantas bila aku sudah mengenali kamu sejak dulu atau aku baru mengenali mu sekarang apa bedanya? Suer, aku ingin bersamamu di masa depan bukan berapa lama di belakang." Suer menelan ludahnya mendengar itu.


"Tapi masa depan yang kamu pikirkan itu, aku harus selesaikan study ku dulu baru masa depan semacam itu." Suer menangkap wajah kekecewaan dalam mata Keenan.


"Aku takut..." Keenan kehilangan akal dirinya memeluk Suer dan menyembunyikan wajahnya di antara rambut Suer yang sedikit basah. Suer bisa merasakan bagaimana lemahnya pria itu, Sama seperti Lin Dong dulu namun di Negara ini sungguh tidak aman baginya bila haru berhubungan dengan pria di tambah di tempat ini ada sahabat kakaknya yang tingkat kekuasaannya luar biasa.


"Aku tidak akan kemana mana, aku hanya mau belajar." Suer menepuk punggung Keenan dan mengelusnya lembut.


"Aku mohon jangan dekati pria lain." Keenan berbisik berharap agar Suer dapat memenuhi keinginannya itu.


"Tidak Keenan, Sekarang aku hanya mau belajar itu saja." Keenan melepaskan pelukannya dan menatap mata Suer dalam dalam.


"Kamu berjanji?" Suer mengangguk mendapatkan pertanyaan itu, akhirnya Keenan bernafas lega dan mengecup kening Suer.


Pagi itu Suer di antar Keenan ke kampusnya dirinya masuk pukul sembilan pagi dan keluar pukul tiga sore, di sore itu perut Suer sudah berdemo dan hendak mengobrak abrik pikirannya.


"Hai Suer.." Terlihat Dinda di depan gerbang kampus, Suer menyuipitkan matanya melihat bagaimana Dinda nampak agak lain.

__ADS_1


"Hai Din, aku datang ke pentas tapi sekarang perut udah demo bisa kasih waktu buat makan dulu gak?" Dinda tertawa mendengar itu.


"Ofcors kak, Ayo kita makan. Aku ada rekomendasi tempat makan paling keren disini. Jangan ngaku anak kampus kalo gak pernah nyoba makan di sini." Dinda menekan beberapa kata dan seakan tempat itu amat luar biasa.


"Kenapa? Enak banget ya?" Tanya Suer kian penasaran.


"Salah, yang benar itu murah banget.." Suer tersenyum dan mengangguk.


"Okedeh" Suer dan Dinda akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat ramai di kunjungi orang nampak plang di atas Suer membaca Pemadam Kelaparan Suer terkekeh melihat plang yang begitu unik itu, nampak tempat itu yang menjejal manusia dan ngantri pesan makanan, sistem makanan yang perasmanan membuat setiap orang dapat dengan mudah mengambil makanan yang mereka inginkan.


"Kita duduk disana." Dinda menunjuk sudut ruangan yang kosong, Suer dan Dinda yang sudah siap dengan makanannya akhirnya duduk di tempat itu. Sedari tadi Suer benar benar terheran heran melihat porsi makan Dinda yang luar biasa, piring itu penuh dengan makanan bahkan melumer dan hampir tumpah.


"Dinda, serius itu mau habis?" Suer bertanya dengan agak ragu. Dinda mengangguk mengiyakan dan mulai melahap satu demi satu makanannya, Suer-pun begitu makanan disana cukup lumayan di lidah Suer sehingga keduanya menghabiskan makanan mereka masing masing.


"Resiko piara anak konda dalam perut sekalinya makan ya begini" Suer tertawa mendengar itu dan akhirnya merekapun menyudahi makan mereka dan bayar masing masing.


Suer dan Dinda kembali ke kosan mereka karena acara akan di mulai kembali nanti jam tujuh malam, Suer terkejut saat melihat beberapa orang tengah mengobrak abrik kamarnya begitupun Dinda yang nampak kebingungan. Suer mendekat dan nampak seseorang yang di kenali keduanya tengah menyuruh ini itu.


"Kenapa barang barangku?" Suer terdiam dan melihat kamarnya yang sudah berubah, lukisan yang selalu dirinya gulung terpasang beberapa barang nampak menghiasi kamar itu kursi yang artistik dan bunga bunga mewangi, buku buku Suerpun tertata dengan rapi.


"Huh, ke orang lain aja baik. Ke adek sendiri boro boro kaya gitu." Dinda berceloteh sehingga pria yang di kenal mereka berbalik.

__ADS_1


"Tempat tinggal pacar harus nyaman dong, lo de minta aja sama si Remi." Keenan tersenyum bangga.


"Remi sahabat gue kuplak, asal aja kalo ngomong." Dinda terdiam sejenak. "Bentar what? Pacar? Lo sama Suer?" Dinda terbelalak apa apaan ini pikir Dida.


"Ah ya gue rasa kurang tepat mungkin suami, hahaha.. Suami yang kata lo tadi pagi tu de. Itu gue!" Suer dan Dinda terbelalak. Suer benar benar ingin menangis mendengar itu meski ingatan Keenan tidak ada namun apa yang di katakan Keenan itu memang benar.


"Wait! Suer, Serius?" Suer menelan ludahnya kemudian mengangguk. Keenan tertawa kegirangan dan berjingkrak memeluk Suer.


"Tuh apa gue bilang." Dinda menganga tak percaya dan kalut begitu saja, kepala Dinda terasa nyeri menyaksikan kelakuan dua mahluk aneh itu.


"Gue merasa ada di planet lain berada sama orang orang aneh kaya kalian gue sarapan di kerubuni alien." Celoteh Dinda dan masuk ke kamarnya.


Suer menangkap rasa nyaman dalam pelukan Keenan, Suer menengadah dan tak sengaja mata mereka malah beradu. Susah payah Suer memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya. Keenan terkekeh dan mengecup kepala Suer.


Keenan menyelesaikan pekerjaannya di sana dan membawa Suer masuk ke dalam kosan yang kini sudah di tinggali Suer itu, Suer tersenyum.


"Terimakasih " bisik Suer dan Keenan akhirnya diam dan memeluk kembali Suer.


"Sama sama" bisik Kenan mengelus kepala Suer.


Suer dan Keenan akhirnya terpaku merasakan dentuman dada mereka yang berdebyut menyenangkan, Suer mulai mempersiapkan diri untuk menonton pertunjukan malam itu, Suer mewarnai rambutnya menjadi hitam karena saat di kampus tadi dirinya seakan jadi mahluk paling berbeda di antara semua orang di sana, mereka berambut hitam dan banyak yang mengenakan hijab, memang tidak ada yang menyinggungnya bahkan beberapa di antara mereka berdecak kagum akan rambutnya namun malah Suer yang merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Keenan menunggu di luar tepatnya masih di kamar Suer di atas kasur Suer dan tertidur karena lama menunggu Suer yang berada di kamar mandi, pukul lima sore Suer berhasil menghitamkan rambutnya dan mulai memilih baju yang akan di kenakannya, Suer menangkap sebuah pakaian yang dia rasa cocok dan kembali ke kamar mandi. Suer berdandan cukup lumayan lama hingga jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam dan Keenan masih tertidur, Suer menyentuh pipi Keenan hinga pria itu membuka matanya.


Bersambung...


__ADS_2