
Sekejap mereka terdiam dalam keheningan hingga sebuah ketokan pintu kembali membuat mereka berempat sadar dan kembali ke dunia nyata.
Suer membuka pintu, Keenan meminta Albert dan Dinda bersembunyi. Dan benar saja yang mereka takutkan orang yang kini berada di ambang pintu itu adalah Shelitz. Suer ragu membuka pintu pada awalnya namun bila dirinya menunda itu akan menimbulkan kecurigaan pada pihak musuh dan musuh akan menjadi waspada.
"Suer? Bukankah ini kamar Albert?" Suer tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa apa. Dengan santai Suer berusaha menanggapi Shelitz sewajarnya, dia tidak ingin bila Shelitz mengetahui apa yang sudah terjadi beberapa saat yang lalu.
"Ya ampun kak Shelitz, semalam Kak Albert mengatakan kurang enak badan jadi dia pulang duluan. Sedangkan kamar ini aku yang tempati, bersama Keenan." Mata Shelitz melotot saat tiba tiba melihat sosok Keenan.
"Ke..Keenan?" Shelitz nampak terbata bata, sudah lama Shelitz memiliki rasa pada Keenan namun pria itu tetap dingin dan saat mereka akan bertemu dulu berempat Shelitz amat sangat bersemangat, bahkan Shelitz melakukan persiapan matang untuk menggoda pangeran es itu.
"Kenapa mengganggu istirahat kami? Pergi sana!" Keenan berucap dengan nada dingin dan kejam membuat Shelitz sedikit meremas dadanya. Selalu hal seperti itu yang dirinya dapatkan dari pria yang nampak begitu mirip dengan cinta pertamanya dulu yaitu Lin Dong. Sebagai manusia yang sudah berumur ribuan tahun Shelitz merasa tidak takut menghadapi Suer, namun melihat sikap Keenan yang begitu dingin dan angkuh membuatnya sulit mencari celah yang tepat untuk menggoda pria itu.
"Sayang, bisakah kita lebih sopan pada calon kakak iparmu itu?" Sekan mengerti kondisi yang ada, Suer berusaha memperpanas suasana dengan bergelayut manja di leher Keenan. Keenan tersenyum seolah meremehkan keberadaan Shelitz yang kini tengah menonton mereka di ambang pintu.
"Ah ya, kakak iparku hanya satu dan itu hanya Albert." Keenan dan Suer berciuman dan berkecup manja membuat Shelitz buang muka dan pergi.
"Kamu cukup kejam sayang." Suer mencubit hidung Keenan sedangkan Keenan hanya menjawab ucapan Suer dengan mengecup kening isterinya itu.
Suer kembali menutup pintu dan akhirnya Albert dan Dinda keluar dari tempat persembunyiannya yaitu lemari.
__ADS_1
"Kak, apa kita harus melanggar hukum alam. Dan pernikahan kita." Suer, Keenan, Albert dan Dinda terdiam mendengar penuturan Suer.
"Ya, tidak ada pilihan lain." Keenan menatap tajam pada dua mahluk yang baru saja bergelut itu.
"Kak, aku sudah berjanji akan melupakan malam ini dan akan pergi dari hadapan Om Al, aku tidak ingin mengganggu hubungannya dengan kak Shelitz." Dinda mencoba memberikan solusi namun di mata mereka ber tiga apa yang dikatakan Dinda bukanlah sebuah solusi melainkan bunuh diri.
Albert tidak bisa mengorbankan gadis baik seperti Dinda, sedangkan Suer tidak bisa membiarkan sahabat baiknya itu menderita, untuk Keenan sudah jelas dirinya tidak akan rela bila adiknya terluka.
"Kalian harus menikah! Dinda, camkan baik baik ini bukan pilihan tapi ini kepastian." Dinda melotot tak percaya. Namun Albert mengangguk mengiyakan.
"Om! Kita mana boleh menikah, Ki.." Albert menyela ucapan Dinda.
"Aku gak bisa Om! Kak Shelitz itu wanita baik, aku tidak mungkin melakukan ini." Air mata mulai berderai di upuk mata Dinda.
"Dinda, percayalah. Kamu mungkin belum tahu tentang hubungan sebenarnya antara Kak Albert dan Shelitz namun yang jelas hubungan mereka tidak seperti yang kamu bayangkan Dinda." Dinda terdiam berusaha meresapi setiap kata yang di ucapkan oleh Suer hingga sebuah kesimpulan kecil dia dapati dalam kepalanya.
"Apakah kalian sejenis terikat kontrak?" Pertanyaan itu keluar dengan sendirinya.
"Tidak, ini lebih sedikit berbeda. Bila ikatan kontrak seharusnya saling menguntungkan dua belah pihak. Namun ini agak lain sedikit." Suer yang memang seorang yang lemah lembut berusaha menjelaskan dengan caranya. Suer berusaha menjelaskan secara rinci apa yang terjadi dan apa yang tengah mereka rencanakan.
__ADS_1
"Jadi kak Shelitz?" Suer tersenyum akhirnya Dinda mulai mengerti sedikit demi sedikit.
"Tapi.. apa sekarang kalian sedang berusaha membodohiku? atau sedang berusaha menghiburku?" Dinda menatap tajam ke arah Suer namun yang nampak dari mata itu hanya sebuah kebenaran saja dan tak nampak sedikitpun sebuah kebohongan yang bisa dirinya lihat.
"Mungkin terdengar aneh, tapi itu nyata." Dinda menganga tak percaya dirinya yang seorang psikolog merasa terbawa oleh orang orang gila yang sedang berusaha membuatnya ikut gila.
"Aku, aku coba percaya. Tapi apa selanjutnya?" Keenan yang sudah merasa tidak tahan akhirnya buka suara dengan nadanya yang kasar dan dingin.
"Apa perlu aku beri tahu lagi hah? Sekarang kalian harus menikah bodoh!" Suer merasakan amarah suaminya yang mulai menggeluncah.
Kata kata kasar yang biasanya keluar dari mulut Keenan sebagai cendaan namun kini Dinda dan Suer bisa merasakan bila kata kata itu sebuah hal yang berasal dari hati Keenan dan sedang berbaur dengan amarah yang melonjak lonjak.
"Kita lakukan pernikahan di bawah saja, di bagian dasar istana Lin." Keenan mengangguk setuju karena di sanalah takdir mereka bermula dan di sana pula mereka akan menyatukan tekad mereka untuk menentang dunia.
Keenan dan Suer berangkat lebih dulu yang di susul kemudian oleh Albert dan Dinda yang mengenakan kulit sintetis dan berusaha menyamar menjadi orang lain. Mereka akhirnya sampai di sebuah Istana megah dengan gambar dan lukisan naga di mana mana. Namun di bagian dalam nampak lukisan lukisan Kura-kura hitam dan patung macan putih. Di bagian singgasana nampak dua buah singgasana dengan lambang Naga dan burung Phoenix.
Suer dan Keenan yang sekan pulang ke rumah mereka merasakan damai luar biasa sedangkan nampak Dinda yang terkagum kagum memandangi istana besar nan mewah itu. Singgasana yang di lapisi emas masih terlihat nyata dan seperti tak ada berubah sedikitpun. Lukisan lukisan yang seperti sudah ribuan tahun itupun tergantung dengan indahnya mempercantik sekeliling Istana Lin.
Suer membuka sebuah ruangan bawah tanah dan di sana nampak seorang pria tengah memasang dupa dan berdoa sebuah air terjun kecil dan bunga sakura nampak tumbuh di bagian dasar sana. Dua buah patung emas nampak tengah bersanding dengan cantiknya dan lukisan lukisan dinding yang memperlihatkan sejarah peradabanpun bisa membuat mata siapapun yang melihatnya tersihir dan benar benar terpana menatap keelokan yang berada di upuk mata itu.
__ADS_1
Bersambung...